Dunia Islam · Pendidikan

PENGERTIAN DAN FUNGSI AL QUR’AN

oleh :

ELA SUHAELA

BAB I

PENDAHULUAN

Bacalah dengan nama Tuhanmu. ”Inilah kalimat pertama Al-Quran yang diwahyukan kepada Muhammad. Kalimat itu diwahyukan kepadanya pada saat dia menyendiri dan melakukan perenungan di sebuah gua di luar kota Makkah pada 610 M. saat itu dia berusia empat puluh tahun; dia dikenal bukan sebagai penyair atau ahli beretorika sebagaimana umumnya tokoh-tokoh sezaman atau pernah melibatkan diri dalam permbahasan tentang agama. Dia merasakan pengalaman hidup-mati saat menerima wahyu luar biasa ini, saat didekati oleh sesosok malaikat yang memerintahkannya: ”bacalah!” ketika dia menjelaskan bahwa dia tidak bisa membaca, sang malaikat mendekapnya dengan kuat dan mengulangi perintah itu sebanyak dua kali. Setelah itu, barulah malaikat itu membacakan kepadanya dua baris aya pertama al-Quran di mana konsep”membaca”,”belajar/memahami”dan”pena”disebutkan sebanyak enam kali (QS. Al’alaq [96]: 1-5).

Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan, dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah, yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam[1], dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.

Al-Quran tidak dimulai secara kronologis seperti halnya Kitab Perjanjian Lama, atau secara genealogis seperti Kitab Perjanjian Baru, tetapi-sebagaimana sering dikemukakakan oleh para penulis Muslim modern pemerhati masalah pendidikan-berbicara langsung soal membaca, mengajar, memahami dan menulis.[2] Bagian awal al-Quran juga tidak menyerupai bagian awal karya-karya sastra Arab yang pernah dikenal sebelumnya. Kecuali setelah turunnya wahyu pertama di gua Hira, Muhammad tidak dikanal orang sebagai pernah menyusun sepotong syair atau menyampaikan sepenggal pidato. Al Qur’an justru menggunakan kernyataan ini untuk menyangkal pendapat orang-orang kafir:

Katakanlah :”Jikalau Allah menghendaki, niscaya aku tidak akan membacakannya kepadamu, dan Allah tidak (pula) memberitahukannya kepadamu. Sesungguhnya aku telah tinggal bersamamu beberapa lama sebelumnya[3]. Maka, apakah kamu tidak memikirkannya? (QS. Yunus [10]:16).”

Dan kamu tidak pernah membaca sebuah kitab sebelumnya (al-Quran) sesuatu kitabpun, dan tidak (pernah) menulis suatu Kitab dengan tangan kananmu. Andaikata (kamu pernah membaca atau menulis), benar-benar ragulah orang yang mengingkari(mu). Sebenarnya al-Quran itu adalah ayat-ayat yang nyata di dalam dada orang-orang yang diberi ilmu. Dan tidak ada yang mengingkari ayat-ayat Kami kecuali orang-orang yang zalim. (QS. Al ankabut [29]:48)”

BAB II

PENGERTIAN DAN FUNGSI AL-QURAN

(Etimologi,Terminology, Keberadaan dan Kedudukan Al-Qur’an serta

Pokok-Pokok Kandungannya)

  1. Pengertian Al- Qur’an

Al-Qur’an adalah wahyu dan mu’jizat terbesar yang diberikan Allah kepada Rasullullah, SWT. Al-Qur’an mempunyai dua pengertian yaitu arti menurut bahasa adalah bacaan atau yang dibaca kata Al-Qur’an  (                 ) adalah bentuk masdar dari fi’il qoro’a (               )  yang diartikan dengan isim maf’ul, yaitu                     (yang dibaca /bacaan).

Pengertian diatas dapat ditemui dalam (QS Al Qiyaamah [75]:17-18)

Sesungguhnya atas tanggungan kamilah mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya. Apabila Kami telah selesai membacakannya Maka ikutilah bacaannya itu.”

Sedangkan pengertian yang kedua adalah pengertian menurut syar’i (istilah) ialah nama untuk kalamullah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW, yang ditulis dalam bentuk mushaf.

Secara lengkap Dr. Bakri Syaikh Anin mengartikan Al-Qur’an adalah kalam Allah sebagai mu’jizat yang diturunkan kepada penutup para Nabi dan rasul (Nabi Muhammad S.A.W) dengan perantaraan Al-Amin (Jibril as.), ditulis dalam mashahif, terpelihara dalam dada manusia, disampaikan secara mutawatir, bacaannya diberi nilai ibadah dimulai dengan surah Al-Fatihah, dan diakhiri dengan surah An-Nas[4].

  1. Secara harfiah Al-Quran adalah bacaan yang sempurna. Ini adalah sebuah nama pilihan dari Allah yang sangat tepat, tidak ada satupun bacaan yang sempurna sejak manusia mengenalnya sampai hari Kiamat. Nama Al-Quran merupakan kitab Allah yang Maha Sempurna.

Tidak ada satu kitab apapun, yang dapat dihapal kecuali Al-Quran sekalipun oleh orang buta, bahkan sampai hapal 30 zuz.

Dalam menjalani hidup ini ketika kita ingin sempurna sebagai manusia, maka tidak ada pilihan lain kecuali kita harus membaca, memahami Al- Quran, karena Al-Quran adalah kitab yang paling sempurna. Sudah sejauhmaanakah kita mencintai Allah dan Al-Quran?

Tanda cinta itu adalah : sering membaca suratnya (Al Qur’an), senang bertemu (Allah), selalu ingat”Dzikrullah”, ta’at , berani berkorban.

Sudahkah mengatakan cinta kepada Allah, dengan konsep”Tanda Cinta”diatas? pertolongan Allah akan datang kepada umat nya ketika menggunakan akal dan kalbu, piker dan dzikir, Iman dan ilmu, seperti yang dikatakan oleh M. Quraish Shihab (Wawasan Al-Quran)”Akal tanpa kalbu menjadikan manusia seperti rabat, pikir tanpa dzikir menjadikan manusia seperti setan, Iman tanpa Ilmu bagaikan pelita ditangan bayi, sedangkan ilmu tanpa iman bagaikan pelita ditangan pencuri“[5].

  1. Nama lain dari Al-Qur’an adalah Al-Kitab atau Kitabullah, Kitabullah ini dijelaskan dalam ( Al Baqarah [2]:2)

Kitab (AlQuran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa.”

Al-furqon (pembeda) antara yang hak dan yang bathil, ini dijelaskan dalam (QS. Al-Furqon [25]:1)

Maha suci Allah yang telah menurunkan Al Furqaan (Al Quran) kepada hamba-Nya, agar Dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam.

  1. Al-Quran diistilahkan pula dengan nama Adz-dzikr (Peringatan), yaitu peringatan untuk orang- orang yang beriman. (QS. An-Nahl [16]:44)

Keterangan-keterangan (mukjizat) dan kitab-kitab. dan Kami turunkan kepadamu Al Quran, agar kamu menerangkan pada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka[6] dan supaya mereka memikirkan.”

Al-Quran Al-Karim adalah kitab yang oleh Rasulullah SAW, dikatakan sebagai ”Ma’dubatullah“/Hidangan ilahi. Hidangan ini tentunya bukan sembarang  hidangan, hidangan ini membantu manusia untuk memperdalam pemahaman dan penghayatan tentang Islam dan merupakan pelita bagi umat Islam dalam menghadapi berbagai persoalan hidup.

Al-Quran merupakan mu’jizat terbesar yang masih ada sampai saat ini, bahkan sampai hari qiamat. Allah menantang manusia dan jin untuk membuatnya  seperti yang difirmankan dalam (QS. Al-Isra [17]:88).

“Katakanlah: ”Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa Al Quran ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengan Dia, Sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain”.

Bahasanya begitu mempesona, redaksinya begitu teliti, dan mutiara pesan-pesannya yang demikian agung, membuat kita  yang membacanya begitu kagum, walaupun sebagian nalar mereka menolaknya, tetapi mereka tidak bisa memungkirinya akan keindahan bahasanya.

Fungsi Al-Quran adalah sebagai ”Hudan” ditujukan kepada seluruh umat manusia yang memfungsikan Al-Qur’an sebagai Hudan dengan baik hanyal orang yang bertaqwa, seperti firman Allah (QS. Al-Baqarah [2]:1-2)

Alif laam miin[7]. Kitab[8] (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa[9].”

Banyak masyarakat dewasa ini mengagumi Al-Quran tetapi hanya sebatas dalam pesona bacaan, ketika dilantunkan dengan suara merdu. Jadi seolah-olah kitab suci ini dituturunkan untuk dibaca, bahkan anehnya orang yang membacanya dengan suara merdu diberi hadiah (MTQ) tetapi orang yang menerangkan bahkan orang yang mengamalkan Al-Quran dibenci, dicaci bahkan adapula yang masuk jeruji besi.

Al-Quran menjelaskan bahwa di hari kemudian nanti, Rasulullah SAW akan mengadu kepada Allah SWT dan beliau berkata, Q.S Al-Furqan 25:30

Berkatalah Rasul: ”Ya Tuhanku, Sesungguhnya kaumku menjadikan Al Quran itu sesuatu yang tidak diacuhkan”.

Menurut Ibnu Al Qoyim banyak hal yang dicakup oleh kata           __________  (Mahjura), antara lain :

  1. Tidak tekun mendengarkannya.
  2. Tidak mengindahkan halal dan haramnya walaupun dipercaya dan dibaca
  3. Tidak menjadikan rujukan dalam menetapkan hukum menyangkut ushuludin (prinsip-prinsip ajaran agama) dan rinciannya
  4. Tidak berupaya memelihara dan memahami apa yang dikehendaki oleh Allah yang menurunkannya
  5. Tidak menjadikan sebagai obat bagi semua penyakit kejiwaan[10]

 

  1. Kedudukan Al-Quran
  2. Sebagai pelajaran dan penerangan. Firman Allah SWT, ”Al-Quran itu tidak lain adalah pelajaran dan kitab yang memberi penerangan” (QS. Yaa-siin: 69)

Kami tidak mengajarkan syair kepadanya (Muhammad) dan bersyair itu tidaklah layak baginya. Al Quran itu tidak lain hanyalah pelajaran dan kitab yang memberi penerangan.

  1. Sebagai pembenar kitab-kitab suci sebelumnya, yakni Taurat,Zabur, dan Injil. Firman Allah SWT,” dan apa yang telah kami wahyukan kepada mu (Muhammad) adalah kitab (Al-Quran) itulah yang benar, membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya” S Al- Fathir:31

Dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu Yaitu Al kitab (Al Quran) Itulah yang benar, dengan membenarkan Kitab-Kitab yang sebelumnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha mengetahui lagi Maha melihat (keadaan) hamba-hamba-Nya.

  1. Sebagai pembimbing yang lurus. Firman Allah SWT. ”Segala puji bagi Allah yang telah menurunkan kepada hamba-Nya Al-Quran dan Dia tidak mengadakan pembengkokan (penyimpangan) didalamna, melainkan sebagai bimbingan yang lurus (QS. Al-Kahfi : 1-2)

Segala puji bagi Allah yang telah menurunkan kepada hamba-Nya Al kitab (Al-Quran) dan Dia tidak Mengadakan kebengkokan di dalamnya; Sebagai bimbingan yang lurus, untuk memperingatkan siksaan yang sangat pedih dari sisi Allah dan memberi berita gembira kepada orang-orang yang beriman, yang mengerjakan amal saleh, bahwa mereka akan mendapat pembalasan yang baik.”

  1. Sebagai pedoman bagi manusia, petunjuk dan rahmat bagi yang meyakininya. Firman Allah SWT”Al-Quran ini adalah pedoman bagi manusia, petunjuk dan rahmat bagi kaum yang meyakininya” (QS. Al-Jatsiyah: 20)

Al Quran ini adalah pedoman bagi manusia, petunjuk dan rahmat bagi kaum yang meyakini.

 

  1. Isi Pokok Al Qur’an

Setiap muslim tenu menyadari, bahwa Al Qur’an  adalah Kitab Suci yang merupakan pedoman hidup, dan dasar setiap langkah hidup. Al Qur’an bukan sekedar mengatur hubungan manusia dengan Rabb-nya, tetapi juga mengatur hubungan manusia dengan manusia dan alam sekitarnya. Pendeknya, Al Qur’an mengatur dan memimpin semua segi kehidupan manusia demi kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat. Perhatikan firman Allah.

dan Tiadalah binatang-binatang yang ada di bumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan umat (juga) seperti kamu. Tiadalah Kami alpakan sesuatupun dalam Al-Kitab[11], kemudian kepada Tuhanlah mereka dihimpunkan.

 Al Qur’an sebagai sumber hukum tidak semua syariatnya mesti dijelaskan dengan mendetail. Hal ini karena selain Al Qur’an masih ada sumber hukum yang kedua, yakni Al Hadits yang merupakan penjelasan Al Qur’an. Selain itu, manusia juga diberi kesempatan dan dituntut untuk berijtihad dengan menggunakan aklanya dalam rangka mengatur hidupnya di dunia ini sesuai dengan perkembangan situasi zaman. Itulah fleksiilitas ajaran Islam sebagai ajaran yang bersifat universal dan abadi. Namun demikian, perlu diingat bahwa setiap gerak langkah manusia senantiasa harus tetap memegang dua sumber hukum utama tersebut agar selamat dan tak tersesat.

Nabi Muhammad bersabda :

“Kutinggalkan untuk kamu dua perkara, tidaklah kamu akan tersesat selama-lamanya, selama kamu masih berpegang kepada keduanya, yaitu Kitabullah (Al Qur’an) dan Sunnah Rasul-Nya.” (Al Hadits)

Seseorang dikatakan berpegang teguh kepada Al Qur’an dan Al Hadits, apabila dia mengimani dan mengamalkan apa yang menjadi ajaran keduanya. Inilah yang menunjukkan setiap muslim dituntut untuk tidak hanya sekedar membaca Al Qur’an dengan fasih. Lebih dari itu dia harus memahami, menghayati, dan mengamalkan isinya dalam perilaku hidupnya. Pada langkah selanjutnya dia wajib menyebarluaskan kepada orang lain sebagai tugas kemanusiaan yang tinggi, yaitu berdakwah.

Al Qur’an mecakup dan menyempurnakan pokok-pokok ajaran dari kitab-kitab Allah S.W.T., yang terdahulu (Taurat, Injil dan Zabur) sebagian ulama mengatakan bahwa Al Qur’an mengandung 3 pokok ajaran yaitu (a) Keimanan; (b) akhlak dan Budi Pekerti; dan (c) aturan hidup sehari-hari antar manusia. Sebagian ulama yang lain berpendapat bahwa Al Qur’an berisi dua peraturan pokok (a) Peraturan yang mengatur hubungan manusia dengan Allah SWT., (b) Peraturan yang mengatur hubungan manusia dengan sesamanya dan dengan alam sekitar[12].

Kelengkapan dan kesempurnaan isi Al Qur’an ini diakui juga oleh para pakar Barat diantaranya oleh Edward Gibbon. Seorang ahli sejarah Inggris (1737-1794) ini mengatakan : “Al Qur’an sebuah kitab agama, yang membahas tentang masalah-masalah kemajuan, kenegaraan, perniagaan, peradilan dan undang-undang, kemiliteran dalam Islam.” Isi Al Qur’an sangat lengkap mulai dari urusan ibadah, ketauhidan, sampai soal pekerjaan sehari-hari, mulai dari masalah sehari-hari sampai masalah jasmani, mulai dari pembicaraan tentang hak-hak dan kewajiban segalanya umat sampai kepada pembicaraan tentang akhlak dan perangai serta hukum siksa di dunia?, karena itu umat besar perbedaan antara Al Qur’an dengan Bibel.

Bibel tidak mengandung aturan yang bertahan dengan keduniaan yang ada hanyalah cerita-verita unutk kesucian diri. Bibel tidak dapat mendekati Al Qur’an, karena Al Qur’an itu tidak hanya menerangkan amalan keagamaan tetapi juga mengupas asas-asas politik kenegaraan. Al Qur’an lah yang menjadi sumber peraturan negara, sumber undang-undang dasar, memutuskan suatu perkara yang berhubungan dengan kehartaan maupun kejiwaan[13].

Al Quran memiliki 3 Aspek[14] : (1) Aqidah; (2) Syariah; dan (3) Akhlak. Pencapaian ketiga tujuan pokok ini di usahakan oleh Al Qur’an melalui empat cara perintah melalui empat cara;

  1. Perintah memperhatikan alam raya
  2. Perintah mengamati pertumbuhan dan perkembangan manusia;
  3. Kisah-kisah; dan
  4. Janji serta ancaman duniawi dan ukhrowi[15].

Sedangkan munurut Quraish Syihab, mengatakan ada aspek yang ada di dalam Al Qur’an :

  1. Ketelitian dan keindahan dan redaksinya
  2. Syariat-syariat islam.
  3. Pemberitaan hal gaib masa lalu dan masa datang yang di ungkapkannya.

Secara kuantitatif, persoalan keimanan menempati bagian terbesar Al Qur’an. Persoalan moral datang berikutnya, disusul ritual, dan kemudian aturan-aturan hukum. Jadi, Al Qur’an seluruhnya berisi kurang lebih 6200 ayat. Dari jumlah itu, hanya 100 ayat yang membahas persoalan peribadatan. Urusan-urusan pribadi mengambil tujuh puluh ayat, hukum perdata tujuh puluh, hukum pidana tiga puluh, persoalan peradilan dan kesaksian dua puluh ayat[16].

Al Qur’an berbeda dengan buku acuan hukum yang membahas setiap subjek dalam bab terpisah. Sebaliknya Al Qur’an mungkin saja membahas persoalan keimanan, moral, ritual dan peraturan hukum secara sekaligus dalam satu surah yang sama. Ini memberikan kepada ajaran-ajarannya kekuatan dan daya persuasi yang lebih besar, karena semuanya dilandasi oleh keimanan kepada Allah dan keimanan kepada hari akhirat. Dengan demikian, ajaran hukum memiliki nilai sakral di dunia ini maupun di akhirat kelak.

Isi Al Qur’an terbagi ke dalam surah, atau bagian, yang secara konvensional diterjemahkan ke dalam bahasa inggris menjadi “chapter” (bab). Ini merupakan penerjemahkan yang tak membantu, mengingat sebuah surah bisa saja berisi tidak lebih  dari satu baris. Misalnya Surah 108 dan Surah 112. Sementara itu Surah 2, adalah surat terpanjang dalam Al Qur’an yang menempati 40 halaman Al Qur’an. Setiap surah berisikan sejumlah ayat yang dalam  bahasa Arab dikenal sebagai âyah (tanda kekuasaan dari Allah). Semuanya ada 114 surah. Kecuali Surat 9, semuanya dimulai dengan “penyebutan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang”. Beberapa surat berisi ayat-ayat Madaniyah dan Makkiyah sekaligus. Bagian judul setiap surah umumnya memuat nomor urut, nama, penggolongan ke dalam kelompok surat Madaniyah, Makkiyah atau campuran, dan ayat mana saja yang termasuk ke dalam kedua periode itu. Urutan ayat dalam setiap surah ditetapkan oleh Nabi, yang diyakini bertindak atas petunjuk langsung dari Malaikat pembawa wahyu. Sarjana-sarjana Barat dan bahkan sebagian sarjana Muslim pada masa-masa lampau-berpadangan bahwa orang-orang yang melakukan kompilasi atas ayat Al Qur’an setelah wafatnya Nabi itulah yang menetapkan urutan surah berdasarkan perbedaan panjangnya. Namun, bukti terkuat menunjukkan bahwa semua ini dilakukan oleh Nabi selama bertahun-tahun membacanya menurut urutan yang berlaku sekarang ini. Para sahabat, yang meneladani Nabi dan isi kandungan Al Qur’an tidak mungkin mengubah segala sesuatu yang mereka peroleh dari Nabi, demikian pula firman Allah yang tidak boleh diubah dengan cara apapun[17].

BAB III

KESIMPULAN

Al Qur’an menurut bahasa.             –                –             , sedangkan menurut istilah kitab Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad melalui malaikat Jibril yang diturunkan secara berangsur-angsur selama 23 tahun.

Kedudukan Al Quran adalah sebagai pelajaran dan penerangan, sebagai pembenar kitab-kitab suci sebelumnya, sebagai pembimbing yang lurus, dan sebagai pedoman bagi manusia.

Adapun isi pokok Al Qur’an adalah masalah akidah, akhlak, syariat, hukum yang mengatur hubungan manusia dengan tuhannya dan manusia dengan sesama serta alam sekitar. Membicarakan hal-hal yang gaib serta kejadian masa yang lalu dan yang akan datang.

Intinya adalah semua masalah yang mengatur kehidupan manusia makluk Allah lainnya semuanya diatur dan di bahas secara global didalam Al Qur’an.

BAB IV

PENUTUP

Demikian yang dapat kami paparkan mengenai materi yang menjadi pokok bahasan dalam makalah ini, tentunya masih banyak kekurangan dan kelemahannya, karena terbatasnya pengetahuan dan kurangnya rujukan atau referensi yang ada hubungannya dengan judul makalah ini.

Penulis banyak berharap para pembaca yang budiman memberikan kritik dan saran yang membangun kepada penulis demi sempurnanya makalah ini dan penulisan makalah di kesempatan- kesempatan berikutnya.

Semoga makalah ini berguna bagi penulis pada khususnya juga para pembaca yang budiman pada umumnya.

DAFTAR PUSTAKA

  1. Quraisy Shihab, Prof. Dr., Wawasan Al Quran

______________________, Membumikan Al Quran

______________________, Lentera Hati

______________________, Tafsir Al Misbah

  1. Maisna, Prof. Dr. Ma., Al Qur’an Hadits

Syamsul Rijal Hamid, Buku Pintar Agama Islam

Choiruddin Hadhiri, Mu’jizat Al Qur’an

  1. Abdul Halim, Memahami Al Qur’an

Mahmud Saltut, Al Qur’an Nur Karim

Amin Bakri Syaikh. Dr. At Ta’biat Al Fanny Dar Al Syura Bairut 1980

Syamsudin Adz D Zahabi 75 Dosa Besar Cetakan III

A Concise History of Islamic Legislation (dalam bahasa Arab) oleh A. Khallaf, Kuwait: 1968 hlm. 28-29.

Muhammad al-Zifzaf, al-Ta’rif bi’l-qur’an wa’l’hadits, Kuwait: 1979, hlm. 99-105.

[1] Maksudnya: Allah mengajar manusia dengan perantaraan tulis baca.

[2] Misalnya S. Quthb, Fi zhilal al-Qur’an, Kairo: 1985, vol 6, hlm. 399.

[3] Maksudnya: sebelum Al Quran diturunkan.

[4] Amin,Bakri  Syaikh, Dr. At-Ta’biat Al-Fanny fi Al Qu’ran, Dar Al-Syuruq, Beirut, 1980

[5] Quraisy Shihab Mu’jizat Al Qur’an

[6] Yakni: perintah-perintah, larangan-larangan, aturan dan lain-lain yang terdapat dalam Al Quran.

[7] Ialah huruf-huruf abjad yang terletak pada permulaan sebagian dari surat-surat Al Quran seperti: Alif laam miim, Alif laam raa, Alif laam miim shaad dan sebagainya. diantara Ahli-ahli tafsir ada yang menyerahkan pengertiannya kepada Allah karena dipandang Termasuk ayat-ayat mutasyaabihaat, dan ada pula yang menafsirkannya. golongan yang menafsirkannya ada yang memandangnya sebagai nama surat, dan ada pula yang berpendapat bahwa huruf-huruf abjad itu gunanya untuk menarik perhatian Para Pendengar supaya memperhatikan Al Quran itu, dan untuk mengisyaratkan bahwa Al Quran itu diturunkan dari Allah dalam bahasa Arab yang tersusun dari huruf-huruf abjad. kalau mereka tidak percaya bahwa Al Quran diturunkan dari Allah dan hanya buatan Muhammad s.a.w. semata-mata, Maka cobalah mereka buat semacam Al Quran itu.

[8] Tuhan menamakan Al Quran dengan Al kitab yang di sini berarti yang ditulis, sebagai isyarat bahwa Al Quran diperintahkan untuk ditulis.

[9] Takwa Yaitu memelihara diri dari siksaan Allah dengan mengikuti segala perintah-perintah-Nya; dan menjauhi segala larangan-larangan-Nya; tidak cukup diartikan dengan takut saja

[10] M.Quraisy Shihab Tafsir  Al Misbah

[11] Sebahagian mufassirin menafsirkan Al-Kitab itu dengan Lauhul mahfudz dengan arti bahwa nasib semua makhluk itu sudah dituliskan (ditetapkan) dalam Lauhul mahfudz. dan ada pula yang menafsirkannya dengan Al-Quran dengan arti: dalam Al-Quran itu telah ada pokok-pokok agama, norma-norma, hukum-hukum, hikmah-hikmah dan pimpinan untuk kebahagiaan manusia di dunia dan akhirat, dan kebahagiaan makhluk pada umumnya.

[12] Syamsudin Adz D Zahabi 75 Dosa Besar Cetakan III

[13] Zakaria Hasyim “Pendapat Cendikiawan dan Filosof Barat tentang IslamZakaria Hasyim “Pendapat Cendikiawan dan Filosof Barat tentang Islam

[14] Menurut Mahmud Saltut

[15] Quraish Syihab : membumikan Al Qur’an

[16] A Concise History of Islamic Legislation (dalam bahasa Arab) oleh A. Khallaf, Kuwait: 1968 hl. 28-29.

[17] Muhammad al-Zifzaf, al-Ta’rif bi’l-qur’an wa’l’hadits, Kuwait: 1979, hlm. 99-105.

2 thoughts on “PENGERTIAN DAN FUNGSI AL QUR’AN

  1. Reblogged this on ROHIS SMAN 27 BANDUNG and commented:
    Al-Qur’an adalah wahyu Allah yang diturunkan kepada nabi Muhammad saw. yang mempunyai fungsi tertentu untuk menjadi peunjuk bagi seluruh manusia dalam menempuh kehidupan di dunia untuk mendapatkan kebahagiaan baik di dunia maupun di akhirat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s