Dunia Islam · Hikmah

NUZUL AL-QUR’AN

OLEH:

ACHMAD KOSWARA

BAB I

PENDAHULUAN

Al-Qur’an sebagai hudan lin naas (petunjuk bagi seluruh umat manusia) dan rahmatan lil ‘aalamiin (Rahmat bagi segenap alam) adalah kitab suci yang diturunkan Allah Swt kepada Rasulullah Muhammad Saw untuk disampaikan kepada umat manusia.

Agama Islam atau agama Tauhid yang kita anut dan juga dianut oleh banyak manusia di hampir seluruh Negara di atas dunia ini, merupakan way of live yang memberikan arahan dan jaminan kebahagiaan hidup bagi para pemeluknya tidak hanya di dunia tapi juga di akhirat nanti. Salah satu hal yang bisa menentramkan hati para pemeluk agama Islam adalah adanya sebuah kitab yang bernama al-Qur’an, kitab ini menjadi esensial bagi umat Islam karena berfungsi memberi petunjuk ke jalan yang sebaik-baiknya. Allah Swt berfirman:

إِنَّ هَذَا الْقُرْءَانَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ

Artinya :

“Sesungguhnya al-Qur’an ini memberi petunjuk menuju jalan yang sebaik-baiknya” (QS.Al-Israa [17] : 9)

Al-Qur’an bagi umat Islam memberikan petunjuk dalam persoalan-persoalan yang berhubungan dengan; Akidah, Syari’ah, dan Akhlak dengan jalan meletakkan dasar-dasar yang merupakan prinsip mengenai permasalahan-permasalahan tersebut. Allah Swt menugaskan Rasul untuk memberikan keterangan yang lengkap mengenai dasar-dasar itu;

وَأَنزَلْنَآ إِلَيْكَ الذِّكْرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَانُزِّلَ إِلَيْهِمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ

Artinya :

“Dan kami telah turunkan kepadamu az-Zikr (Al-Qur’an), untuk kamu terangkan kepada manusia apa-apa yang diturunkan kepada mereka dan agar mereka berpikir” (QS.An-Nahl [16] : 44)

Disamping keterangan yang diberikan oleh Rasulullah Saw, Allah Swt memerintahkan pula kepada umat manusia seluruhnya agar memperhatikan dan mempelajari al-Qur’an, dengan firman-Nya:

أَفَلاَ يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْءَانَ أَمْ عَلَى قُلُوبٍ أَقْفَالُهَآ

“Maka tidakkah mereka menghayati al-Qur’an, ataukah hati mereka sudah terkunci?” (QS.Muhammad [47] : 24)

Mempelajari al-Qur’an adalah kewajiban. Ada beberapa prinsip dasar untuk memahaminya, khusus dari segi hubungan al-Qur’an dengan kehidupan, al-Qur’an dengan ilmu pengetahuan, atau al-Qur’an dengan perkembangan zaman yang begitu pesat ini, dimana seluruh aspek sendi-sendi kehidupan manusia mengalami perubahan yang luar biasa dan al-Qur’an menjadi bagian terpenting untuk menjadi penyeimbangnya.

Al-Qur’an yang ada sekarang ini, tidak diturunkan Alloh Swt secara sekaligus melainkan berangsur-angsur atau melalui tahapan-tahapan yang telah diatur Allah Swt sedemikian rupa kepada seorang Rasul terbaik pilihan-Nya yang telah dipersiapkan secara matang dan sempurna dan diberikan dengan berbagai cara. Mulai cara yang biasa hingga yang terberat yang pernah dirasakan oleh Rasulullah Muhammad Saw.

Sebagai seorang Muslim khususnya dan umat Islam umumnya, sangatlah penting bagi kita untuk mengetahui secara sadar sejarah turunnya al-Qur’an karena pepatah mengatakan “Orang bijak itu adalah orang yang mau belajar dari sejarahnya” mengapa sejarah turunnya al-Qur’an mesti kita ungkap? Jawabannya tentu agar bisa menambah ilmu plus memunculkan keteguhan iman kita kepada kitab Allah Swt dan bisa tetap pada ajaran Islam. Apabila kita tidak mengetahui sejarah, maka bisa jadi kecendrungan mengulangi sejarah masa lalu ketika terjadi pemalsuan al-Qur’an pada masa-masa awal Islam tidak mustahil akan terjadi.

Wacana tentang sejarah al-Qur’an seperti; bagaimana al-Qur’an diturunkan? Bagaimana para Ulama menjaga al-Qur’an dari masa ke masa? Menurut hemat penulis ini perlu diketahui oleh umat Islam. Tidak hanya bagaimana sejarah turunnya al-Qur’an ini? Apa yang bisa kita ambil dari sejarah turunnya al-Qur’an? Dan masih banyak lagi hal-hal lain yang harus kita ketahui tentang al-Qur’an kitab suci yang agung ini.

BAB II

PEMBAHASAN

DEFINISI NUZUL AL-QUR’AN DAN AL-QUR’AN

Nuzulul Qur’an yang secara harfiah berarti turunnya Al Qur’an (kitab suci agama Islam) sedangkan menurut istilah adalah penurunan wahyu Allah pertama kepada Nabi dan Rasul terakhir yakni Nabi Muhammad SAW.
Al-Qur’an (ejaan KBBI: Alquran, dalam bahasa Arab قُرْآن) adalah kitab suci agama Islam. Umat Islam memercayai bahwa Al-Qur’an merupakan puncak dan penutup wahyu Allah yang diperuntukkan bagi manusia, yang disampaikan kepada Nabi Muhammad SAW melalui perantaraan Malak Jibril.
Ditinjau dari segi kebahasaan (etimologi), Al-Qur’an adalah bentuk masdar dari kata kerja iqro yang berarti bacaan. “Qur’an” menurut pendapat yang paling kuat seperti yang dikemukakan Dr. Subhi Al-Salih, berarti “bacaan”, asal kata “qara’a”. kata al-Qur’an itu berbentuk masdar dengan arti sism maf’ul yaitu “maqru” (dibaca). Karena al-Qur’an bukan saja harus dibaca oleh manusia, tetapi juga karena pada kenyataannya selalu dibaca oleh orang-orang yang mencintainya. Baik pada waktu shalat maupun di luar shalat[1]. Di dalam al-Qur’an sendiri ada pemakaian kata “Qur’an” dalam arti demikian sebagaimana terdapat dalam ayat 17, 18 surat [75] al-Qiyamah :

إِنَّ عَلَيْنَا جَمْعَهُ وَقُرْءَانَهُ  فَإِذَا قَرَأْنَاهُ فَاتَّبِعْ قُرْءَانَهُ

Artinya :

“Sesungguhnya kami akan mengumpulkannya (di dadamu) dan membacakannya. Apabila kami telah selesai membacanya maka ikutilah bacaannya”

 SEJARAH TURUNNYA AL-QUR’AN

Al-Qur’an diturunkan dalam waktu 22 tahun 2 bulan dan 22 hari, yaitu: mulai dari malam 17 Ramadhan tahun 41 dari kelahiran nabi sampai 9 Dzulhijjah Haji wada’ tahun 63 dari kelahiran nabi atau tahun 10 H.[2]

Al-Qur’an diturunkan kepada Rasulullah Muhammad Saw selama hampir 23 tahun[3] secara berangsur-angsur. Penjelasan tentang turunnya secara berangsur-angsur terdapat dalam firman Allah Swt:

وَقُرْءَانًا فَرَقْنَاهُ لِتَقْرَأَهُ عَلَى النَّاسِ عَلَى مُكْثٍ وَنَزَّلْنَاهُ تَنزِيلاً

Artinya :

“Dan Qur’an itu telah kami turunkan dengan berangsur-angsur agar kamu membacakannya perlahan-lahan kepada manusia dan kami menurunkannya bagian-demi bagian” (QS.al-Israa’ [17]:106).

            Maksudnya: kami telah menjadikan turunnya al-Qur’an itu secara berangsur agar kamu membacakannya kepada manusia secara perlahan dan teliti dan kami menurunkannya bagian demi bagian sesuai dengan peristiwa-peristiwa dan kejadian-kejadian.

            Untuk mengkaji bagaimana al-Qur’an turun ada baiknya kita lihat ilustrasi berikut ini :

Proses Nuzul Al Quran

Wahyu pertama yang diturunkan Allah Swt kepada Nabi Muhammad Saw adalah surat Al-Alaq [96] ayat 1 – 5 yang berbunyi:

 

اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ {1} خَلَقَ الإِنسَانَ مِنْ عَلَقٍ {2} اقْرَأْ وَرَبُّكَ اْلأَكْرَمُ {3} الَّذِي عَلَّمَ ابِالْقَلَمِ {4} عَلَّمَ اْلإِنسَانَ مَالَمْ يَعْلَمْ {5}

Artinya :

“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan, Dia Telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam, Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya”.

Menurut riwayat, saat menerima wahyu tersebut Nabi Muhammad Saw sedang berada di Gua Hira’, tiba-tiba terdengarlah suara dari langit, beliau mengadah tampaklah Malak Jibril a.s. Ketika itulah Malak Jibril menyampaikan wahyu Allah kepada beliau yang berbunyi seperti yang telah dijelaskan diatas.

Sesudah wahyu ini Allah Swt menurunkan wahyu berikutnya, yakni surat al-Mudatsir [74] ayat:1-5 :

يَاأَيُّهَا الْمُدَّثِّرُ {1} قُمْ فَأَنذِرْ {2} وَرَبَّكَ فَكَبِّرْ {3} وَثِيَابَكَ فَطَهِّرْ {4} وَالرُّجْزَ فَاهْجُرْ {5}

Artinya :

“Wahai orang yang berkemul (berselimut)! Bangunlah. Lalu berilah peringatan! Dan agungkanlah Tuhanmu, dan bersihkanlah pakaianmu, dan tinggalkanlah segala (perbuatan) yang keji”

Setelah menerima wahyu itu maka Rasulullah kembali ke rumah dalam keadaan gemetar, sehingga minta diselimuti oleh istrinya Siti Khadijah.
Itulah wahyu yang kedua diturunkan olah Allah Swt kepada nabi Muhammad Saw dan itulah pula penobatan beliau sebagai Rasulullah. Atau utusan Allah kepada seluruh umat manusia, untuk menyampaikan risalah-risalahNya.

Dalam hal ini menarik untuk kita simak catatan dari Prof.DR.T.M.Hasbi Ash-Shiddieqy dalam bukunya sejarah dan pengantar ilmu al-Qur’an/tafsir setelah memaparkan pendapat para ahli ilmu berkaitan dua wahyu diatas, sebagai berikut: “Dengan turun ayat tersebut (al-Alaq) jadilah Muhammad Saw sebagai Nabi atau Muhammad mencapai derajat Nubuwah (Kenabian atau memperoleh wahyu dari Allah Swt dengan tidak mendapat tugas menyampaikan kepada ummat). Barulah setelah turun ayat berikutnya (al-Mudatsir) Muhammad Saw mencapai derajat Risalah (Muhammad menjadi Rasulullah)”

Penyampaian al-Qur’an secara keseluruhan memakan waktu kurang lebih 23 tahun. Waktu nabi tinggal di Mekkah (Sebelum Hijriyah) yaitu: 12 tahun 5 bulan 13 hari. Yaitu dari 17 Ramadhan tahun 41 hingga awal Rabiul awaal tahun 54 dari kelahiran nabi. Dan 9 tahun 9 bulan 9 hari waktu Nabi sudah hijrah ke Madinah. Yakni dari permulaan Rabiul awal tahun 54 hingga 9 Dzulhijjah tahun 63 dari kelahiran nabi atau tahun 10 hijriah[4] Wahyu Illahi yang diturunkan sebelum hijrah disebut Surat Makiyyah, surat dan ayatnya pendek-pendek dan gaya bahasanya singkat padat (ijaz), Karena sasaran yang pertama dan utama pada periode Mekkah ini adalah orang-orang Arab asli yang sudah faham benar akan bahasa Arab. Wahyu Illahi yang diturunkan sesudah hijrah disebut surat Madaniyah. Surat dan ayatnya panjang-panjang dan gaya bahasanya panjang lebar dan lebih jelas (ithnab), karena sasarannya bukan hanya orang Arab asli, melainkan juga non Arab dari berbagai bangsa yang telah mulai banyak masuk Islam dan mereka kurang menguasai bahasa Arab.

Proses penyampaian Al Qur’an kepada nabi Muhammad SAW sebagai wahyu ini disampaikan oleh Malak Jibril dalam berbagai cara dan keadaan, diantaranya :

 1. Malak Jibril memasukkan wahyu itu ke dalam hati Nabi Muhammad SAW. tanpa memperlihatkan wujud aslinya. Rasulullah tiba-tiba saja merasakan wahyu itu telah berada di dalam hatinya.

 2. Suatu ketika, Malak Jibril juga pernah menampakkan dirinya sebagai seorang laki-laki dan mengucapkan kata-kata di hadapan Nabi SAW. Itulah salah satu metode lain yang digunakan Malak Jibril untuk menyampaikan Al Qur’an kepada Nabi Muhammad SAW.

 3. Yang selanjutnya, wahyu juga turun kepada Nabi Muhammad saw. Seperti bunyi gemerincing lonceng. Menurut Rasulullah, cara inilah yang paling berat dirasakan, sampai-sampai beliau mencucurkan keringat meskipun wahyu itu turun di musim yang sangat dingin. Kadang-kadang unta beliau terpaksa berhenti dan duduk karena merasa amat berat, bila wahyu itu turun ketika beliau sedang mengendarai unta. Diriwayatkan oleh Zaid bin Tsabit: “Aku adalah penulis wahyu yang diturunkan kepada Rasulullah. Aku lihat Rasulullah ketika turunnya wahyu itu seakan-akan diserang oleh demam yang keras dan keringatnya bercucuran seperti permata. Kemudian setelah selesai turunnya wahyu, barulah beliau kembali seperti biasa”.

 4. Cara yang lain adalah Malak Jibril turun membawa wahyu kepada Nabi Muhammad SAW dengan menampakkan wujudnya yang asli tidak berupa seorang laki-laki seperti keadaan no. c diatas, tetapi benar -benar seperti rupanya yang asli. Hal ini tersebut dalam Al Qur’an surat An-Najm [53] ayat 13 dan 14 :

وَلَقَدْ رَءَاهُ نَزْلَةً أُخْرَى  عِندَ سِدْرَةِ الْمُنْتَهَى

Artinya:

“Dan sesungguhnya Muhammad telah melihatnya pada kali yang lain (kedua). Ketika ia berada di Sidratulmuntaha. ”

 

  1. PENGUMPULAN DAN PERIODE TURUNNYA AL-QUR’AN

Kodifikasi (Pengumpulan) al-Qur’an

Kodifikasi atau pengumpulan Al-Qur’an sudah dimulai sejak zaman Rasulullah SAW, bahkan sejak Al-Qur’an diturunkan. Setiap kali menerima wahyu, Nabi SAW membacakannya dihadapan para sahabat karena ia memang diperintahkan untuk mengajarkan Al-Qur’an kepada mereka. Disamping menyuruh mereka untuk menghafalkan ayat-ayat yang diajarkannya, Nabi SAW juga memerintahkan para sahabat untuk menuliskannya di atas pelepah-pelepah kurma, lempengan-lempengan batu, dan kepingan-kepingan tulang.

Setelah ayat-ayat yang diturunkan cukup satu surat, Nabi SAW memberi nama surat tersebut untuk membedakannya dari yang lain. Nabi SAW juga memberi petunjuk tentang penempatan surat di dalam Al-Qur’an. Penyusunan ayat-ayat dan penempatannya di dalam susunan Al-Qur’an juga dilakukan berdasarkan petunjuk Nabi SAW. Cara pengumpulan Al -Qur’an yang dilakukan di masa Nabi SAW tersebut berlangsung sampai Al-Qur’an sempurna diturunkan dalam masa kurang lebih 22 tahun 2 bulan 22 hari.

Untuk menjaga kemurnian Al-Qur’an, setiap tahun Malak Jibril datang kepada Nabi SAW untuk memeriksa bacaannya. Malak Jibril mengontrol bacaan Nabi SAW dengan cara menyuruhnya mengulangi bacaan ayat-ayat yang telah diwahyukan. Kemudian Nabi SAW sendiri juga melakukan hal yang sama dengan mengontrol bacaan sahabat -sahabatnya. Dengan demikian terpeliharalah Al- Qur’an dari kesalahan dan kekeliruan.

Para Hafidz dan Juru Tulis Al-Qur’an Pada masa Rasulullah SAW sudah banyak sahabat yang menjadi hafidz (penghafal Al-Qur’an), baik hafal sebagian saja atau seluruhnya. Di antara yang menghafal seluruh isinya adalah Abu Bakar as-Siddiq, Umar bin Khattab, Usman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Talhah, Sa’ad, Huzaifah, Abu Hurairah, Abdullah bin Mas’ud, Abdullah bin Umar bin Khatab, Abdullah bin Abbas, Amr bin As, Mu’awiyah bin Abu Sofyan, Abdullah bin Zubair, Aisyah binti Abu Bakar, Hafsah binti Umar, Ummu Salamah, Ubay bin Ka’b, Mu’az bin Jabal, Zaid bin Tsabit, Abu Darda, dan Anas bin Malik.

Adapun sahabat-sahabat yang menjadi juru tulis wahyu antara lain adalah Abu Bakar as-Siddiq, Umar bin Khattab, Usman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Amir bin Fuhairah, Zaid bin Tsabit, Ubay bin Ka’b, Mu’awiyah bin Abu Sofyan, Zubair bin Awwam, Khalid bin Walid, dan Amr bin As. Tulisan ayat-ayat Al- Qur’an yang ditulis oleh mereka disimpan di rumah Rasulullah, mereka juga menulis untuk disimpan sendiri. Saat itu tulisan-tulisan tersebut belum terkumpul dalam satu mushaf seperti yang dijumpai sekarang. Pengumpulan Al-Qur’an menjadi satu mushaf baru dilakukan pada masa kekhalifahan Umar bin Khattab, setelah Rasulullah SAW wafat.

 

  1. Periode Turunnya Al-Qur’an

Periode pertama dinamakan Periode Mekah. Turunnya Al Qur’an pada periode pertama ini terjadi ketika Nabi SAW. bermukim di Mekah (610 – 622 M) sebelum Nabi Muhammad SAW melakukan hijrah. Ayat-ayat yang diturunkan pada masa itu, kemudian disebut dengan ayat-ayat Makiyah, yang berjumlah 4.726 ayat dan terdiri atas 89 surat atau 19/30 dari Al-Qur’an.

 Ciri-ciri ayat Makiyah yaitu:

  1. Surat dan ayat-ayatnya pendek-pendek
  2. Diawali dengan yâ ayyuhan-nâs (wahai manusia)
  3. Kebanyakan mengandung masalah tauhid, iman kepada Allah SWT masalah surga dan neraka, dan masalah-masalah yang menyangkut kehidupan akhirat (ukhrawi) dan juga tentang pembinaan akhlak.
  4. Gaya bahasanya singkat padat (ijaz), karena sasaran yang pertama dan utama adalah orang-orang arab asli yang sudah faham benar dengan bahasa arab.

Periode yang kedua adalah Periode Madinah. Sebuah periode yang terjadi pada masa setelah Nabi Muhammad SAW hijrah ke Madinah (622 –632M). Ayat-ayat yang turun dalam periode ini kemudian dinamakan ayat–ayat Madaniyah, meliputi 1.510 ayat dan mencakup 25 surat atau 11/30 dari Al- Qur’an.

Ciri-ciri ayat Madaniyah:

  1. Ayat-ayatnya panjang
  2. Diawali dengan yâ ayyuhalladzîna âmanû (wahai orang -orang yang beriman)
  3. Kebanyakan tentang norma/hukum-hukum agama (syariat), orang-orang yang berhijrah (muhajirin) dan kaum penolong (anshar), kaum munafik, serta ahli kitab
  4. Gaya bahasanya panjang lebar dan jelas (ithnab), karena sasarannya bukan hanya orang arab, melainkan juga non arab dari berbagai bangsa yang telah mulai banyak masuk islam.

Adapun ayat yang terakhir turun kepada Nabi Muhammad SAW, terdapat perbedaan pendapat dikalangan ulama. Manna Al-Qathan menyebutkan ada 9 pendapat namun berdasarkan pendapat yang mu’tabar sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Nasa’i dari Ibnu Abas dan Said bin Jubair adalah surat al-Baqarah [2] ayat 281 sebagai berikut :

وَاتَّقُوا يَوْمًا تُرْجَعُونَ فِيهِ إِلَى اللهِ ثُمَّ تُوَفَّى كُلُّ نَفْسٍ مَّاكَسَبَتْ وَهُمْ لاَيُظْلَمُونَ

Artinya:

Dan peliharalah dirimu dari (azab yang terjadi pada) hari yang pada waktu itu kamu semua dikembalikan kepada Allah. Kemudian masing-masing diri diberi balasan yang Sempurna terhadap apa yang Telah dikerjakannya, sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya (dirugikan).

 Adapun mengenai surat al-Maidah [5] ayat 3, yaitu:

 الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ اْلإِسْلاَمَ دِينًا

Artinya:

Pada hari ini telah kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu

Ayat tersebut turun pada tanggal 9 Dzulhijjah tahun 10 hijriyah, bertepatan dengan bulan Maret 632 M, yaitu ketika Nabi sedang melaksanakan wukuf di padang Arafah, waktu beliau melaksanakan haji. Ibadah haji ini bagi beliau disebut dengan Haji Wada, karena merupakan ibadah haji yang penghabisan. Ayat ini pada lahirnya menunjukan kesempurnaan kewajiban dan hukum tetapi bukan merupakan ayat yang terakhir turun, karena setelah menerima ayat tersebut Rasulullah masih hidup selama 81 hari.

Mengomentari perbedaan pendapat ini Qadi Abu Bakar Al-Baqilani dalam kitab Al-intishar menyebutkan bahwa pendapat-pendapat tersebut sama sekali tidak disandarkan kepada Nabi, tetapi lebih cenderung sebagai hasil ijtihad masing-masing. Mungkin masing-masing memberitahukan mengenai apa yang terakhir kali didengarnya dari Nabi, lalu dikiranya ayat itulah yang terakhir diturunkan.

  1. HIKMAH DI TURUNKANNYA AL-QUR’AN

 Al Qur’an diturunkan secara berangsur-angsur bukanlah tanpa sebab, tetapi merupakan perhitungan Allah Swt untuk ditafakuri umat manusia, adapun dari berbagai literature yang penulis baca, kiranya dapat diambil beberapa hikmah yang bisa kita jadikan bahan bahan perenungan sebagai penguat keimanan kita, diantaranya :

 1. Untuk meneguhkan hati Nabi dalam melaksanakan tugasnya, karena banyak sekali hambatan dan tantangan yang dihadapi Nabi dalam mengemban tugas tersebut. Juga untuk menghibur beliau pada saat menghadapi kesulitan, kesedihan atau perlawanan dari orang kafir. Setiap kali Nabi sedih (sesuai dengan fitrahnya sebagai manusia), ayat-ayat penghiburpun datang berulang kali sehingga beliau berketetapan hati untuk melanjutkan dakwah dan merasa tentram dengan pertolongan Allah. Dengan hikmah yang demikian Allah menjawab pertanyaan orang-orang kafir musyrikin yang telah menayakan mengapa Al Qur’an tidak diturunkan sekaligus. sebagaimana tersebut dalam Al Qur’an surat Al Furqaan [25] ayat ke 32, yaitu:

 وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لَوْلاَ نُزِّلَ عَلَيْهِ الْقُرْءَانُ جُمْلَةً وَاحِدَةً كَذَلِكَ لِنُثَبِّتَ بِهِ فُؤَادَكَ وَرَتَّلْنَاهُ تَرْتِيلاً

Artinya :

Berkatalah orang-orang yang kafir: “Mengapa Al Quran itu tidak diturunkan kepadanya sekali turun saja?”; demikianlah supaya kami perkuat hatimu dengannya dan kami membacanya secara tartil (teratur dan benar).

 2. Agar lebih mudah difahami dan dilaksanakan. Sebab memahami dan melaksanakan tuntutan Al-Qur’an secara berangsur-angsur akan lebih mudah, sebaliknya orang tidak akan melaksanakan suruhan, dan larangan sekiranya suruhan dan larangan itu diturunkan sekaligus banyak.

 3. Di antara ayat-ayat itu (dalam arti tertentu) ada yang nasikh (Penghapusan) dan ada yang mansukh (dihapus), sesuai dengan permasalahan pada waktu itu. Ini tidak dapat dilakukan sekiranya Al Qur’an diturunkan sekaligus.

  1. Turunnya sesuatu ayat sesuai dengan peristiwa-peristiwa yang terjadi akan lebih mengesankan dan lebih berpengaruh di hati.
  1. Memudahkan Nabi dalam penghafalan. Mendiktekannya kepada para penulis wahyu dan mengajarkannya kepada umatnya.
  1. Di antara ayat-ayat ada yang merupakan jawaban dari pada pertanyaan-pertanyaan yang diajukan kepada Nabi atau penolakan suatu pendapat yang berkembang atau perbuatan yang dilakukan ada keselarasan dengan peristiwa yang terjadi, sehingga ajaran Al-Qur’an lebih berkesan dan berpengaruh dalam jiwa yang menerimanya .
  1. Untuk memberi kesempatan sebaik-baiknya kepada umat Islam untuk meninggalkan sikap mental dan tradisi sebelum Islam yang negatif secara berangsur-angsur, dengan menghayati dan melaksanakan ajaran Al-Qur’an dan ajaran Nabi. Sekiranya ayat-ayat Al-Qur’an (terutama yang menyangkut hukum) diturunkan sekaligus tentu akan mendapatkan perlawanan hebat.
  1. Sebagai bukti nyata bahwa Al-Qur’an diturunkan dari sisi Yang Maha Bijaksana, sebagaimana firmannya dalam surat Hud [11] ayat 1 :

الر كِتَابٌ أُحْكِمَتْ ءايَاتُهُ ثُمَّ فُصِّلَتْ مِن لَّدُنْ حَكِيمٍ خَبِيرٍ

Artinya:

Alif laam raa, (Inilah) suatu Kitab yang ayat-ayatNya disusun dengan rapi serta dijelaskan secara terperinci, yang diturunkan dari sisi (Allah) yang Maha Bijaksana lagi Maha tahu.

 

BAB III

PENUTUP

 

Al Qur’an ialah kalam Allah SWT yang merupakan mukjizat yang diturunkan (diwahyukan) kepada Nabi Muhammad dan yang ditulis di mushaf dan diriwayatkan dengan mutawatir serta membacanya adalah ibadah. Dari sejarah diturunkannya Al-Qur’an, dapat diambil kesimpulan bahwa Al-Quran mempunyai tiga tujuan pokok :

  1. Petunjuk akidah dan kepercayaan yang harus dianut oleh manusia yang tersimpul dalam keimanan akan keesaan Tuhan dan kepercayaan akan kepastian adanya hari pembalasan.
  2. Petunjuk mengenai akhlak yang murni dengan jalan menerangkan norma-norma keagamaan dan susila yang harus diikuti oleh manusia dalam kehidupannya secara individual atau kolektif.
  3. Petunjuk mengenal syariat dan hukum dengan jalan menerangkan dasar-dasar hukum yang harus diikuti oleh manusia dalam hubungannya dengan Tuhan dan sesamanya. Atau dengan kata lain yang lebih singkat, “Al-Quran adalah petunjuk bagi seluruh manusia ke jalan yang harus ditempuh demi kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat.”

Pokok ajaran dalam isi kandungan Al-Quran yaitu:

  1. Tauhid – Keimanan terhadap Allah SWT
  2. Ibadah – Pengabdian terhadap Allah SWT
  3. Akhlak – Sikap dan perilaku terhadap Allah SWT, sesama manusia dan makhluk lain
  4. Hukum – Mengatur manusia
  5. Hubungan Masyarakat – Mengatur tata cara kehidupan manusia
  6. Janji Dan Ancaman – Reward dan punishment bagi manusia
  7. Sejarah – Teledan dari kejadian di masa lampau

Keistimewaan dan keutamaan Al-Quran dibandingkan dengan kitab lain yaitu:

  1. Memberi petunjuk lengkap disertai hukumnya untuk kesejahteraan manusia segala zaman, tempat dan bangsa.
  2. Susunan ayat yang mengagumkan dan mempengaruhi jiwa pendengarnya.
  3. Dapat digunakan sebagai dasar pedoman kehidupan manusia.
  4. Menghilangkan ketidak bebasan berfikir yang melemahkan daya upaya dan kreatifitas manusia (memutus rantai taqlid).
  5. Memberi penjelasan ilmu pengetahuan untuk merangsang perkembangannya.
  6. Memuliakan akal sebagai dasar memahami urusan manusia dan hukum-hukumNya.
  7. Menghilangkan perbedaan antar manusia dari sisi kelas dan fisik serta membedakan manusia hanya dari takwanya kepada Allah SWT.

Penting bagi kita untuk mengetahui sejarah turunnya Al Qur`an, agar menambah keteguhan iman kita kepada kitab Allah SWT dan tetap pada Ajaran Islam. Apabila kita tidak mengetahui sejarah, maka kecenderungan akan mengulangi sejarah seperti masa lalu ketika terjadinya pemalsuan al -Qur’an pada masa-masa awal Islam.

Pemalsuan terhadap Al-Quran bukan tidak mungkin terjadi lagi, mengingat bebasnya dan maraknya ajaran-ajaran yang menyimpang. Wacana tentang sejarah Al-Quran yang telah di jelaskan dalam makalah ini, seperti bagaimana Al-Qur’an diturunkan, apa yang dapat kita ambil pelajaran dari sejarah turunnya Al -Qur’an, dan apa hikmah dari diturunkannya Al-Qur’an tersebut haruslah di pahami oleh kita semua agar Al-Qur’an ini terpelihara dengan baik.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Manna Khaliil al-Qattan, Studi Ilmu-ilmu Qur’an: Litera AntarNusa, 2004.

T.M. Hasbi Ash-Shiddieqy, Sejarah dan pengantar ilmu al-Qur’an/Tafsir: Bandung : Bulan bintang – 1980

Abdul Aziz, Qur’an – Hadis, Semarang : CV. Wicaksana, 1994.

Quraish Shihab, Membumikan Al Qur’an “Fungsi dan Peranan Wahyu dalam Kehidupan Masyarakat, Bandung : Mizan, 1996.

Hidayah Hayati, Sejarah Turunnya Al Qur’an, artikel diambil dari

http://hidayahhayati.blogspot.com/2010/01/sejarah-turunnya-al-quran.html,2010.

Rosihon Anwar, Ulumul Qur’an untuk IAIN, STAIN, PTAIS: Bandung, 2000

[1] Quraish Shihab, Membumikan Al Qur’an “Fungsi dan Peranan Wahyu dalam Kehidupan Masyarakat, Bandung : Mizan, 1996. hlm. 37.

[2] Hudhari Bik, Tarikh At-Tasyri’ al-Islami, Terj. Muhammad Zuhri, Rajamurah al-Qanaah 1980, hlm. 5-6.

[3] Sebagian ulama memperkirakan lamanya al-Qur’an dituurunkan itu duapuluh tahun. Sebagian yang lain memperkirakannya selama duapuluh lima tahun. Hal itu dikarenakan perbedaan mereka dalam memperkirakan lamanya rasulullah Saw tinggal di Mekkah setelah ia diutus Allah Swt: Apakah tigabelas tahun atau sepuluh tahun atau limabelas tahun? Namun mereka sepakat bahwa ia tinggal di Madinah sesudah hijrah itu selama sepuluh tahun. Yang benar adalah pendapat pertama. Lihat al-Itqaan, jilid 1, hlm: 39.

[4] Prof.DR.T.M.Hasbi Ash-Shiddieqy, Sejarah dan pengantar ilmu al-qur’an/Tafsir, Bulan bintang 1980, hlm. 65-66.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s