Dunia Islam · Hikmah · Pendidikan

Hafalan Al-Qur’an Melalui Metode Talaqi Di MI An-Najiyah Bandung

BAB I

PENDAHULUAN

 A.      Latar Belakang

Al-Qur’an adalah wahyu Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw melalui perantara malaikat Jibril sebagai pedoman dan petunjuk bagi seluruh umat manusia. Tidak ada keraguan di dalamnya dan petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa. Sehingga tidak akan tersesat selama berpegang teguh kepada al kitab ini sebagaimana sabda Rasulullah saw.

“Aku tinggalkan untuk kalian dua perkara. Kalian tidak akan sesat selama berpegangan dengannya, yaitu Kitabullah (Al Qur’an) dan sunnah Rasulullah Saw.” (HR. Muslim)[1]

Barangsiapa yang berpedoman dan mengamalkan isi Al Qur’an maka Allah akan meninggikan derajatnya, tapi barangsiapa yang tidak beriman kepada Al Qur’an maka Allah akan menghinakannya dan merendahkan derajatnya. Sabda Rasulullah Saw.:

“Sesungguhnya Allah, dengan kitab ini (Al Qur’an) meninggikan derajat kaum-kaum dan menjatuhkan derajat kaum yang lain.” (HR. Muslim)[2]

Kitab ini juga sebagai sarana umat muslim untuk berdialog dengan Allah Swt., sebagaimana disabdakan Nabi Muhammad Saw.:

“Apabila seorang ingin berdialog dengan Robbnya maka hendaklah dia membaca Al Qur’an.” (HR. Ad-Dailami dan Al-Baihaqi)[3]

Untuk bisa membaca dan mempelajari Al-Quran tentunya diperlukan cara atau metode yang baik. Pada saat ini telah banyak metode atau cara membaca, mempelajari dan menghafal Al-qur’an salah satu diantaranya yang pernah digunakan oleh Rasulullah Saw. untuk mengajarkan Al-Quran kepada para sahabat jaman dulu adalah dengan metode talaqqi.

Metode talaqqi banyak digunakan juga oleh para pengajar pada jaman sekarang ini, sebagaimana yang diterapkan di MI An-Najiyah Bandung. Untuk mempelajari lebih lengkap tentang metode ini akan dibahas pada bab berikutnya.

B.      Perumusan masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, permasalahan yang akan dibahas pada makalah ini antara lain:

  1. Bagaimana implementasi hafalan Al-Quran di MI An-Najiyah Bandung
  2. Bagaimana penerapan metode talaqqi di MI An-Najiyah Bandung
  3. Bagaimana kompetensi guru pengajar Al-Quran di MI An-Najiyah Bandung

C.    Tujuan penelitian

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui:

  1. Implementasi hafalan Al-Quran di MI An-Najiyah Bandung
  2. Penerapan metode talaqqi di MI An-Najiyah Bandung
  3. Kompetensi guru pengajar Al-Quran di MI An-Najiyah Bandung

D.      Pengumpulan Data

Dalam menyusun makalah ini, peneliti mengumpulkan data dengan metode wawancara dengan santri dan guru yang mengajar, melakukan observasi untuk melihat langsung kegiatan hafalan Al-Quran di MI An-Najiyah Bandung. Selain itu peneliti mengkaji dari berbagai pustaka baik buku maupun internet yang berhubungan dengan materi yang diteliti.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A.     Pemahaman Al-Quran

Al-Quran merupakan petunjuk dan pedoman hidup bagi umat manusia terutama umat Islam, merupakan mu’jizat terbesar yang diturunkan Allah Swt kepada Nabi Muhammad Saw. yang di dalamnya terkandung petunjuk yang berkaitan dengan akidah, akhlak, muamalah, syari’ah, sejarah dan lain sebagainya. Oleh karena itu, kita sebagai umat muslim dituntut untuk bisa mempelajari dan memahami hal-hal yang terkandung di dalamnya.

Keutamaan mempelajari dan memahami Al-Quran sangat banyak, diantaranya Rasulullah Saw. bersabda:

“Orang yang pandai membaca Al Qur’an akan bersama malaikat yang mulia lagi berbakti, dan yang membaca tetapi sulit dan terbata-bata maka dia mendapat dua pahala. (HR. Bukhari dan Muslim)[4]

Dari hadis  tersebut dapat diambil pemahaman bahwa kemulyaan orang yang membaca Al-Quran itu seperti para malaikat dalam hal tinggi derajatnya dan mulia kedudukannya. Kemudian orang yang sulit dan terbata-bata dalam membaca dan mempelajarinya akan mendapatkan dua pahala yaitu satu dari bacaannya dan satu lagi dari usahanya.

Dalam hadis lain juga Rasulullah Saw. menjelaskan:

“Barangsiapa membaca satu huruf dari Al Qur’an maka baginya satu pahala dan satu pahala diganjar sepuluh kali lipat.” (HR. Tirmidzi) [5]

Al-Quran bukan sekedar harus dipelajari, tetapi Al-Quran juga harus diajarkan kepada orang lain yang belum mampu untuk membaca dan mempelajari Al-Quran, Sabda Rasulullah Saw.:

“Sebaik-baik kamu ialah yang mempelajari Al Qur’an dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari)[6]

Suatu metode sangat di butuhkan di dalam menekuni segala disipilin ilmu, sehingga dalam masalah yang terkait dengan menghafal Al-Qur’an juga perlu adanya metodologi menghafalkannya, agar para penghafal bisa menyelesaikan hafalan dengan waktu yang cepat atau sesuai dengan target dan bisa terbentuk suatu hafalan yang bagus, tentunya hal ini bisa terwujud dengan kedisiplinan dan komitmen seseorang dengan waktu dan konsep yang telah ada.

Barang siapa yang mempelajari dan memahami Al-quran, maka akan diberikan rahmat oleh Allah Swt. Dengan dipermudah dalam mempelajari dan memahaminya. Sebagaimana firman Allah Swt. Dalam surat Al-Qomar ayat 17, 22, 32 dan 40

وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْآنَ لِلِذِّكْرِ فَهَلْ مِنْ مُدَّكِرٍ.

Artinya: Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al Qur’an untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran?

Menghafal Al-Qur’an adalah marhalah setelah mampu membaca dan perlu kita sadari bersama bahwa tingkatan menghafal adalah belum finish, walau kadang ada fenomena yang muncul di sebagian masyarakat kita bahwa kalau sudah hafal Al-Qur’an berarti sudah segalanya, dengan hanya bisa hafal belumlah cukup, karena kita tidak hanya di tuntuk sekedar bisa membaca dan hafal Al-Qur’an, tetapi lebih dari pada itu kita dituntut juga untuk bisa memahami dan mengamalkan isinya dalam kehidupan ini. Namun demikian peran menghafal Al-Qur’an sangat penting untuk menjadi motivasi menuju pada tahapan-tahapan berikutnya.

B.      Metode Talaqqi dalam menghafal Al-Quran

Talaqqi berasal daripada kalimah laqia yang berarti berjumpa. Yang dimaksudkan berjumpa adalah bertemu antara murid dengan guru.[7] Talaqqi adalah model pembelajaran pertama yang dicontohkan Rasulullah bersama Para Sahabat Beliau.[8]

Talaqqi adalah salah satu metode untuk mengetahui sesuatu atau bisa di katakan talaqqi merupakan salah satu metode pembelajaran zaman dulu yang ada hingga saat ini. Talaqqi adalah salah satu metode mengajar peninggalan Nabi Muhammad SAW yang terus menerus dilakukan oleh orang-orang setelah Nabi SAW, para sahabat, tabi’in, hingga para ulama bahkan pada zaman sekarang terutama untuk daerah Arab seperti Mekkah, Madinah dan Mesir.

Sudah menjadi hal yang Masyhur di kalangan mahasiswa Al- Azhar Mesir terutama tentang cara belajar dengan cara talaqqi, yaitu cara pertemuan guru dan murid secara face to face, dari situ para mahasiswa mengambil pelajaran di samping belajar di universitas masing-masing. Disini kita tidak  membahas lebih dalam tentang apa itu talaqqi tetapi kita akan sejenak memutar ulang tentang sejarah pengajaran Rasulullah kepada sahabat yang banyak beliau melalui melalui metode talaqqi.

Di lihat dari sistem mengajarnya,maka ada dua macam kategori talaqqi. Pertama, seorang guru membaca atau menyampaikan ilmunya di depan murid-muridnya sedang para murid menyimaknya, yang mungkin di akhiri dengan pertanyaan-pertanyaan. Kedua, murid membaca di depan guru lalu guru membenarkan jika ada kesalahan dalam bacaan murid. Di zaman Nabi sendiri talaqqi kedua hanya bisa digunakan dalam membaca Al-Quran, yaitu para sahabat membaca Al-Quran didepan Nabi SAW lalu Nabi mendengarkan dan membenarkannya jika ada kesalahan karena pada waktu itu belum ada bacaan dan para sahabat hanya fokus pada menghafal Al-Quran dan belum mengerti membaca dan menulis, sedangkan dalam metode pembelajaran, Nabi SAW lebih menggunakan metode talaqqi yang pertama, yaitu Nabi SAW menyampaikan didepan para sahabat sedang para sahabat mendengarkannya.[9]

Ada beberapa kelebihan dari metode talaqqi, yang dalam hal ini sudah dilalui oleh Rasulullah SAW dalam mendidik sahabatnya. Kita akan bahas beberapa point penting  tentang kelebihan talaqqi yang tentunya berdasarkan apa yang terjadi di zaman Rasulullah.[10]

  1. Talaqqi  memudahkan pengajar mengawasi murid dan membimbing mereka secara langsung. Dari Abdullah ibnu Mas’ud Ra berkata : “Lelaki dari golongan kami apabila mempelajari sepuluh ayat maka tidak akan melewatinya sampai dia mengetahui maknanya dan mengamalkannya. Dan dari Abu abdirrahman assilmi : “ Menceritakan kepada kami orang-orang yang membacakan kepada kami Al- Quran bahwasanya mereka membaca Al-Quran bersama Nabi SAW dan apabila mereka mempelajari sepuluh ayat maka tidak melewatinya sampai mereka mengamalkan apa yang ada didalamnya.

Dari sini kita bisa melihat salah satu kelebihan dari talaqqi, Rasulullah dalam mengajari para sahabat, beliau mengajarkan Al- Quran dengan cara pertemuan secara langsung dan menyampaikannya pada hari-hari tertentu, dan Rasulullah sangat teliti tentang perkembangan sahabat melalui pertemuan itu. Berbeda dengan cara belajar sekarang seperti melalui media internet, yang seorang guru tidak secara langsung bertemu murid, sehingga guru hanya mentitik beratkan pada tugas dan IQ murid, dan selebihnya guru tidak mengetahui tentang kepribadian murid-muridnya, tetapi Islam terutama cara mengajar Rasulullah berbeda, karna Rasulullah mengerti bahwa karakter itu penting di samping ilmu yang tinggi.

Kita juga tidak boleh melupakan bahwa Al-Quran juga di sampaikan kepada Nabi yang salah satunya melalui jalur talaqqi dari Malaikat Jibril, bahkan setiap tahun Nabi mengulang hafalan Al-Quran yang telah di turunkan kepada beliau di depan Malaikat Jibril.

Ini lah metode Nabi Muhammad SAW dalam mengajar, Nabi Muhammad dengan metode ini lebih leluasa mengawasi perkembangan para sahabat, tidak hanya para sahabat tapi Nabi juga mengajari para shahabiyah tentang agama Islam dengan pertemuan pada hari- hari tertentu, dalam sebuah hadits, dari abu sa’iid berkata : Kaum wanita berkata kepada Nabi SAW : “ Para laki-laki telah mengalahkan kami, maka jadikan lah untuk kami hari darimu, maka Nabi SAW menjanjikan kepada mereka di salah satu hari dimana mereka akan bertemu, lalu Nabi menasehati dan memerintah mereka di hari itu. (HR. Bukhori)

  1. Talaqqi memudahkan pengajar memilih cara yang tepat dalam menyampaikan ilmu, karna dengan bertemu langsung antara guru dan murid, membuat guru lebih mudah mengenali kepribadian murid.
  2. Keberadaan talaqqi merupakan bagian penting dalam penyebaran agama Islam, karna ada bagian yang tidak bisa di miliki oleh metode-metode pengajaran lainnya seperti saling mengerti antara guru dan murid, dll.

Metode itu akan lebih maksimal jika di dukung oleh beberapa hal sebagai berikut:[11]

  1. Niat Ikhlas;
  2. Memiliki cita-cita yang tinggi untuk menjadi penghafal Al-Quran;
  3. Memiliki cinta yang mendalam terhadap Al-Qur’an;
  4. Adanya pembimbing/guru yang menjadi kerektor dalam bacaan dan hafalan;
  5. Adanya kesinambungan di dalam proses menghafal Al-Qur’an (istiqomah);
  6. Harus memiliki kesabaran;
  7. Menggunakan satu mushhaf untuk menghafal Al-Qura’an;
  8. Membiasakan wirid harian dengan Al-Qur’an;
  9. Membiasakan menjaga wudlu sehari-hari;
  10. Membiasakan untuk melaksanakan solat sunat hajat dua roka’at sebelum menghafal Al-Qur’an;
  11. Mengadakan evaluasi hafalan secara intensif;
  12. Membiasakan membaca dengan tartil;
  13. Memperbanyak doa kepada Allah;
  14. Memilih waktu dan tempat/lingkungan yang tepat yang bisa mendukung proses menghafal Al-Qur’an;
  15. Membiasakan untuk sering ikut majlis Al-Qur’an.

Manfaat menghafal Al-Qur’an, disini penulis akan menyebutkan beberapa hal saja, di antarnya:[12]

  1. Mempermudah seseorang untuk memasuki marhalah selanjutnya yaitu memahami isi kandungannya, orang yang hafal Al-Qur’an akan merasa lebih mudah di dalam mengingat-ingat isi kandungannya;
  2. Memudahkan seseorang untuk berdzikir pada Allah, karena orang yang hafal Al-Qur’an tidak terlalu bergantung pada mushaf ketika akan membacanya, sehingga bisa sambil jalan , berbaring dan lain sebagainya dalam membaca Al-Qur’an;
  3. Menambah rasa cinta terhadap Al-Qur’an.

BAB III

KAJIAN EMPIRIS

 

A.        Kondisi Objek Penelitan

  1. Profil Madrasah Ibtidaiyah An-Najiyah Bandung
Nama Madrasah : Madrasah Ibtidaiyah (SD Islam) Plus An-Najiyah
Alamat : Jl. Utsman Bin Affan No. 90 Perumahan Griya Cempaka Arum, Gedebage, Bandung.
Visi : Terwujudnya generasi bermanhaj salaf yang beraqidah lurus berakhlaq mulia dan berwawasan sains dan teknologi.
Misi : Membentuk generasi yang memiliki manhaj yang benar sesuai dengan pemahaman Ahlussunnah wal Jama’ah. Menyelenggarakan sistem pendidikan yang kondusif terhadap pribadi yang beraqidah lurus, berakhlak mulia. Mengembangkan sistem pendidikan yang berorientasi pada terciptanya generasi yang memiliki pemahaman syar’i dan kompetensi di bidang sains dan teknologi.

Pendidikan adalah tahap yang sangat penting dalam rangkaian pembelajaran seorang anak. Pengalaman persekolahan dan pembelajaran yang berkesan, bermakna dan menggembirakan dapat membekali mereka dengan kecakapan, keyakinan diri dan sikap yang positif untuk memasuki tahap pendidikan dasar dalam rangkaian pendidikan sepanjang hayat.

Madrasah Ibtidaiyah (SD Islam) Plus An-Najiyah didirikan untuk berupaya menjadi salah satu lembaga pendidikan yang berkualitas dan mampu memenuhi harapan tersebut. Insya Allah

  1. Target
  • Hafal 1 Juz Al-Qur’an per tahun
  • Hafal dan terbiasa melaksanakan praktek ibadah sehari-hari
  • Menguasai pelajaran sesuai Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP)
  • Trampil menggunakan komputer (MS Windows dan MS Office)
  • Menguasai kosa kata dan percakapan sederhana dalam bahasa arab dan inggris
  • Hafal hadits Arba’in An Nawawy
  1. Kurikulum

Madrasah Ibtidaiyah (SD Islam) Plus An-Najiyah menggunakan kurikulum yang merupakan modifikasi dari 6 (enam) komponen, yaitu ;

  • Diniyah (Agama Islam)
  • Bahasa
  • Perkembangan kognitif
  • Perkembangan Sosio-emosi
  • Perkembangan Fisikal
  • Perkembangan Kreatifitas dan Estetika

B.      Penerapan Metode Talaqqi di MI (SD Islam) Plus An-Najiyah Bandung

1.      Sekilas program tahfidz Al-Quran di Madrasah Ibtidaiyah An-Najiyah

Madrasah Ibtida’iyah (MI) adalah satu jenjang pendidikan di Ma’had An-Najiyah Al-Islami. Salah satu program yang menjadi unggulan pada jenjang ini adalah program Tahfidzul Qur’an. Setiap siswa setidaknya mengikuti 3 kegiatan dalam pembelajaran Tahfidzul Qur’an, yaitu:

  1. Manjil, yaitu hafalan lama yang telah dihafal oleh murid
  2. Sabaq, yaitu hafalan baru yang sedang dihafal oleh murid
  3. Sabqi, yaitu hafalan kemarin yang sudah dihafal oleh murid

Penjelasan dari 3 komponen tersebut adalah disetiap harinya dalam menambah hafalan, maka wajib disertakan pula hafalan kita yang kemarin di setiap talah selesai 1 juz maka wajib mengulanginya ketika memasuki juz berikutnya.

Contoh: pagi ini murid sedang menghafal surat Al-Qolam (sabaq), setelah selesai dilanjutkan dengan mengulang surat Al-Mulk yang kemarin sudah dihafalkan oleh murid (sabqi), kemudian murid harus muraja’ah 1 juz kebelakang yatu juz 30 (manjil), atau bisa juga dengan cara murid menyetor hafalan lama (manjil), kemudian menyetor hafalan kemarin (sabqi), setelah itu baru menyetor hafalan baru (sabaq).

2.     Tata Tertib Pengajaran Tahfidz Qur’an

  1. Mengikhlaskan niat hanya untuk mengharap pahala dari Allah Ta’ala.
  2. Kegiatan dilaksanakan di masjid (untuk Ikhwan) dan ruang kelas/mushalla (untuk Akhwat).
  3. Untuk yang di masjid:

–            Murid datang tepat waktu.

–            Berwudhu kemudian berdo’a sebelum masuk masjid dan shalat dua rakaat dengan tertib.

–            Mengambil mushaf Al-Quran dengan menunaikan adab-adabnya.

–            Berkumpul di halaqahnya masing-masing dan duduk dengan rapih.

–            Tidak diperkenankan membawa sesuatu yang tidak ada kaitannya dengan kegiatan pengajaran tahfidz.

–            Selama pembelajaran berlangsung, murid tidak diperkenankan makan dan minum, bercanda atau mengganggu temannya, bermain-main dan ngobrol.

–            Murid harus menghormati dan mematuhi perintah guru pembimbingnya.

–            Murid tidak diperkenankan meninggalkan halaqahnya tanpa  seizin guru pembimbingnya atau yang menggantikannya.

–            Berdo’alah dengan tenang untuk menutup kegiatan.

–            Sesuai kegiatan, murid harus meletakkan mushaf Al-Qur’an pada tempatnya dengan rapi dan jangan sekali-kali meletakannya di sembarang tempat.

3.     Petunjuk Pembimbing

  1. Pembimbing memegang 1 kelompok tahfizh yang terdiri dari 10 siswa
  2. Pembimbing dan siswa hadir tepat waktu pada jam dan tempat yang telah ditentukan
  3. Waktu maksimal tahfidz 90 menit, setiap siswa mendapatkan giliran membaca dan menyetorkan hafalan, kurang lebih 9 menit.
  4. Pembimbing memberikan tanda dengan pensil pada mushaf siswa apabila terjadi kesalahan.
  5. Pembimbing mencatat kegiatan membaca, hafalan dan perilaku siswa pada buku catatan prestasi qiraah tahfidz dan buku penghubung, pembimbing dan orang tua memberikan paraf pada kolom yang telah disediakan.
  6. Pembimbing mengisi rekap hafalan mingguan siswa sesuai kelompoknya masing-masing, dan mengumpulkan kembali map rekap hafalan mingguan setiap hari Rabu ke koordinator tahfidz.

4.    Kriteria penilaian tahsin/tilawan

  1. Baik (B) : Bacaan lancar sesuai tajwid dan makhroj yang benar, tanpa kesalahan atau minimal 1 kali kesalahan.
  2. Cukup (C) : Bacaan kurang lancar dengan tetap memperhatikan kaidah tajwid dan makhroj yang benar, terjadi 1 -2 kali kesalahan.
  3. Ulang (U) : Bacaan belum lancar tanpa memperhatikan kaidah tajwid dan makhroj yang benar, terjadi lebih dari 3 kesalahan.

5.     Kriteria penilaian tahfidz

  1. Baik (B) : Hafalan lancar sesuai tajwid dan makhroj yang benar, tanpa kesalahan atau minimal 1 kali kesalahan.
  2. Cukup (C) : Hafalan kurang lancar dengan tetap memperhatikan kaidah tajwid dan makhroj yang benar, terjadi 1 -2 kali kesalahan.
  3. Ulang (U) : Hafalan belum lancar tanpa memperhatikan kaidah tajwid dan makhroj yang benar, terjadi lebih dari 3 kesalahan.

MI An-Najiyah mempunyai target dalam menghafal Al-Quran adalah 1 Juz per tahun. Maka untuk mencapai target tersebut MI An-Najiah menggunakan metode talaqqi dalam pembelajaran hafalan Al-Qur’an. Sebagaimana yang telah dibahas pada bab sebelumnya bahwa metode talaqqi adalah suatu metode dimana murid langsung membaca Al-Quran berhadapan dengan gurunya sehingga dapat langsung dikoreksi apabila ada bacaan yang salah.

Untuk pembelajaran Al-Quran di MI An-Najiah dilaksanakan empat hari dalam seminggu yaitu hari Senin, Selasa, Kamis dan Jumat masing-masing selama 2 jam pelajaran kali 45 menit yaitu dari jam 07.50 – 09.20 WIB. Selain itu ada kegiatan kelasikal yaitu seluruh murid dengan dibimbing oleh seorang guru bersama-sama menghafal Al-Quran dan mengulang hafalan sebelumnya yang dilaksanakan pada hari Senin jam 15.30 WIB.[13]

Target harian menghafal Al-Quran sebanyak tiga baris, ini berarti dalam satu minggu kurang lebih satu halaman, dan dalam jangka satu bulan murid harus mampu menghafal 2,5 halaman atau lebih, maka tidak menutup kemungkinan dalam satu tahun ada murid yang bisa menghafal Al-Quran lebih dari satu juz.[14]

Dari hasil wawancara dengan salah satu murid MI An-Najiyah kelas VI yang  bernama Ghazi Fahri, dia sudah hafal Al-Quran sebanyak 4 juz dalam jangka waktu lima setengah tahun, yaitu dari sejak kelas 1 MI sampai pertengahan kelas VI MI, menurut dia ada juga temannya yang sudah menghafal 8 juz.

Dalam kegiatan bimbingan Al-Quran di MI (SD Islam) Plus An-Najiyah dari kelas III – VI dibagi kedalam beberapa halaqah, yaitu 8 halaqah putra yang bertempat di masjid dan 9 halaqah putri yang bertempat di ruang kelas, setiap kelompok halaqah terdiri dari maksimal 10 orang murid dengan 1 orang guru pembimbing.

C.     Kompetensi Guru Pembimbing

Berikut bio data pendamping Al-Quran di MI (SD Islam) Plus An-Najiyah Bandung:

Nama                           : Agung Hidayatullah

TTL                             : Semarang, 7 September 1982

Alamat                        : Blok M3 No 110 Komp. Cempaka Arum,

Gedebage Bandung

Jabatan                        : Guru Pembelajaran Al-Quran

Pendidikan Formal      : S1 UNISBA Tahun 2004

Pendidikan Khusus     : Al Imarat selama 2 tahun 2004-2005

IUA (International University Africa) Sudan selama 1 tahun

No. HP                        : 081802132539

Untuk peningkatan kompetensi pengajar Al-Quran di MI (SD Islam) Plus An-Najiyah diadakan pelatihan setiap hari Sabtu jam 15.30 – 17.00 Wib, dengan instruktur dari TARQI materinya bimbingan pembelajaran Al-quran metode Imam Syafi’i.

DAFTAR PUSTAKA

 

http://www.anneahira.com, diakses pada hari Jumat  tanggal 15 November 2013,          jam 09.00

http://shibghatulla.blogspot.com, diakses pada hari Jumat  tanggal 15 November 2013, jam 09.00

http://akademiilmuanzaman.wordpress.com, diakses pada hari Jumat tanggal 15 November 2013, jam 09.00

http://jundumuhammad.wordpress.com, diakses pada hari Jumat tanggal 15 November 2013, jam 09.00

Kementerian Agama RI. 2010. Al-Quran dan Terjemahnya. Jakarta : PT. Tehazed

Muhammad Faiz Almath. 1100 Hadits Terpilih (Sinar Ajaran Muhammad) – Gema Insani Press


[1] 1100 Hadits Terpilih (Sinar Ajaran Muhammad) – Dr. Muhammad Faiz Almath – Gema Insani Press

[2] Ibid.

[3] Ibid

[4] Ibid.

[5] Ibid.

[6] Ibid.

[10] Ibid.

[12] Ibid.

[13] Hasil wawancara dengan Ust. Agung, salah satu penanggung jawab dan pengajar Al-Quran di MI An-Najiyah pada hari Jumat, 15 November 2013 jam 09.00 WIB

[14] Ibid.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s