Berkah Ramadhan · Dunia Islam · Hikmah

Menangkap hakikat puasa bersama Alquran

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana yang telah diwajibkan atas orang-orang  sebelum kamu supaya kamu bertaqwa. (QS. al-Baqarah ayat 183).

Pertanyaan yang paling banyak diajukan oleh orang khususnya yang berkaitan tentang prihal puasa adalah pergeseran semangat dalam beribadah. Biasanya pada awal-awal bulan Ramadhan masjid-masjid penuh sesak dan bahkan sampai melimpah. Adapun tujuan yang selalu dikemukakan adalah untuk mengikuti shalat tarawih.

Ironisnya, semangat ini tidak pernah bertahan lama dan semakin ke ujung Ramadhan maka semakin menciut pula jumlah orang-orang yang datang ke masjid. Hal ini menggambarkan tentang cepatnya rasa jenuh dalam mengabdikan diri kepada Tuhan karena hanya terobsesi dengan janji-janji Tuhan, padahal janji tersebut tidak datang dengan sendirinya kecuali dengan memenuhi syarat terlebih dahulu.

Di dalam Alquran dengan tegas disebutkan “sempurnakanlah janjimu kepada-Ku dan setelah itu akan Kusempurnakan pula janji-Ku kepadamu”. Statement ini menunjukkan bahwa janji yang dikemukakan oleh Tuhan tidak akan turun dengan sendirinya kecuali jika manusia memenuhi janjinya terlebih dahulu.

Salah satu janji Tuhan adalah mengabulkan doa orang-orang yang mengerjakan ibadah puasa. Janji ini tidak berlaku secara otomatis kecuali jika manusia memenuhi janjinya terlebih dahulu,  yaitu menjadikan dirinya sebagai orang-orang yang memiliki iman. Jika janji ini telah dipenuhi oleh manusia maka secara otomatis pula Tuhan akan memenuhi janji-Nya.

Memaknai Iman Sebagai Syarat Puasa
Menarik sekali ketika Allah hanya mengajak orang-orang yang beriman (allazina amanu) untuk mengerjakan ibadah puasa. Ajakan yang secara khusus ini menunjukkan bahwa hakikat puasa hanya dapat ditangkap oleh orang-orang yang beriman. Oleh karena itu, panggilan yang ditujukan kepada kelompok tertentu ini  dapat dipahami sebagai prasyarat untuk mendapatkan tujuan puasa yaitu taqwa.

Adapun orang-orang yang tidak beriman tidak diajak oleh Tuhan mengerjakan puasa karena mereka tidak akan mampu menangkap hakikat puasa. Hal ini sudah disinyalir oleh Rasulullah dalam salah satu makna haditsnya yaitu “berapa banyak orang-orang yang mengerjakan ibadah puasa tetapi tidak mendapatkan nilai apa-apa kecuali hanya sekadar lapar dan haus saja”.

Salah satu indikator tentang keberadaan iman ini dapat dilihat dari sikap (respon) ketika menghadapi datangnya Ramadhan. Bila puasa tahun ini diprediksi jatuh pada tanggal 1 Agustus maka orang-orang yang beriman merasakan bahwa tanggal tersebut terlalu lama. Sekiranya bisa ditawar maka mereka menginginkan jauh hari sebelum tanggal tersebut karena mereka sudah lama sekali merindukan kehadiran bulan Ramadhan.Sebaliknya berbeda halnya dengan orang-orang yang tidak beriman dimana tanggal tersebut terlalu cepat datangnya. Sekiranya bisa ditawar maka mereka ingin agar tanggal tersebut ditangguhkan karena merasakan bahwa puasa Ramadhan pada tahun yang lalu belum hilang keletihannya dan tiba-tiba sudah datang bulan Ramadhan tahun berikutnya.

Kedua sikap yang sangat kontras ini sudah pasti dipengaruhi oleh nilai-nilai iman yang terdapat di dalam hati. Orang-orang yang beriman menganggap bahwa puasa adalah suatu kebutuhan bagi mereka, sedangkan orang-orang yang tidak beriman maka mereka menganggap bahwa puasa adalah merupakan beban yang seharusnya dihindarkan. Oleh karena itu, tepat sekali jika Tuhan hanya mengajak orang-orang yang beriman saja untuk melakukannya. Fokus ajakan Tuhan kepada orang-orang yang beriman untuk mengerjakan puasa dapat dipahami dari dua hal.

Pertama, tingkat iman (allazina amanu) harus dicari oleh manusia dengan cara membersihkan dirinya dari berbagai macam dosa dan kesalahan. Pada tingkat ini, manusia harus berupaya secara maksimal untuk memperoleh derajat iman. Oleh karena itu, upaya untuk mendapatkannya harus dilakukan jauh-jauh hari sebelum masuk bulan Ramadhan.
Kedua, dapat dipahami sebagai anugerah dari Tuhan yang diberikan-Nya kepada orang-orang yang ikut ambil bagian dari puasa Ramadhan. Dengan kata lain, siapa saja yang bertekad untuk mengikuti puasa Ramadhan maka secara otomatis Tuhan memberikan predikat iman kepadanya. Oleh karena itu, predikat iman ini harus dijaga dengan baik agar mendapatkan puasa yang berkualitas.

Iman dalam tataran ini tidak hanya sebatas menghafal bahwa Tuhan itu ada demikian juga malaikat, rasul-rasul, kitab-kitab dan hari kemudian. Akan tetapi yang dimaksud dengan iman disini adalah pensucian diri dari berbagai macam dosa dan kesalahan supaya dapat mendekati Tuhan karena pada bulan Ramadhan Tuhan turun mendekati manusia.

Pendekatan yang dilakukan oleh Tuhan ini akan memberikan kontribusi bagi orang-orang yang beriman sehingga segala perintah Tuhan (termasuk puasa Ramadhan) dirasakan sebagai kebutuhan. Berbeda dengan orang-orang yang tidak beriman maka pendekatan yang dilakukan oleh Tuhan tidak akan memberikan kontribusi kepada mereka sehingga setiap perintah Tuhan selalu mereka anggap sebagai beban yang menyulitkan.

Ketika iman dijadikan oleh Tuhan sebagai prasyarat maka janji-janji yang disebutkan-Nya pada bulan puasa Ramadhan hanya didapat jika prasyarat ini sudah dipenuhi dengan baik dan benar. Adapun salah satu janji yang dikemukakan oleh Tuhan adalah memperkenankan segala doa  pada bulan Ramadhan, demikian juga pelipatgandaan pahala amal ibadah dan “bonus” pahala pada malam lailatul qadar.

Sekiranya janji-janji Tuhan ini belum didapatkan oleh orang-orang yang melakukan puasa berarti prasyarat yang ditetapkan oleh Tuhan belum terpenuhi dengan baik. Dengan demikian, yang paling penting dipikirkan oleh manusia ketika menyongsong kehadiran bulan puasa Ramadhan adalah memenuhi prasyarat yang ditetapkan oleh Tuhan bukan dengan melakukan hal-hal yang hanya bersifat tradisi.

Kesimpulan
Keimanan adalah syarat untuk mendapatkan puasa yang berkualitas dan dengan syarat iman inilah yang dapat mengantarkan seseorang untuk meraih tujuan puasa yaitu taqwa. Jika demikian, maka puasa adalah sebagai sarana untuk meraih predikat taqwa karena jenjang ini tidak akan didapat tanpa melalui syarat iman terlebih dahulu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s