Dunia Islam · Hikmah · Pendidikan · Psikologi Belajar · Uncategorized

Sensori Motori Stage (Jean Peaget)

BAB I

PENDAHULUAN

A.        Latar Belakang Masalah

Dalam proses pertumbuhan dan perkembangan, seorang anak melewati berbagai tahap perkembangan yang harus dilaluinya. Tahapan tersebut dapat dibagi ke dalam berbagai kelompok tergantung kepada para ahli yang menyatakan teoeri-teori tersebut. Jean Piaget, merancang model yang mendeskripsikan bagaimana manusia memahami dunianya dengan mengumpulkan dan mengorganisasikan informasi.

Menurut Piaget seperti yang dikutip Woolfolk (2009) perkembangan kognitif dipengaruhi oleh  maturasi (kematangan), aktivitas dan transmisi sosial. Maturasi atau kematangan berkaitan dengan perubahan biologis yang terprogram secara genetik.Aktivitas berkaitan dengan kemampuan untuk menangani lingkungan dan belajar darinya.Transmisi sosial berkaitan dengan interaksi dengan orang-orang di sekitar dan belajar darinya.[1]

Selama penelitian, Piaget semakin yakin akan adanya perbedaan antara proses pemikiran anak dengan orang dewasa. Ia yakin bahwa anak bukan merupakan suatu tiruan (replika) dari orang dewasa. Anak bukan hanya berpikir kurang efisien dari orang dewasa, melainkan berpikir secara berbeda dengan orang dewasa.

Itulah sebabnya mengapa Piaget yakin bahwa ada tahap perkembangan kognitif yang berbeda dari anak sampai menjadi dewasa.Piaget juga mencoba menemukan sebab-musabab perkembangan kognitif.

B.         Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah tersebut , maka penulis dapat merumuskan masalah sebagai berikut:

1.      Biografi Jean Piaget

2.      Bagaimanakah Konsep Teori Perkembangan Kognitif menurut  Jean Piaget?

3.      Bagaimanakah tahap dalam perkembangan sensorimotor?

4.      Bagaimanakah Aplikasi perkembangan sensorimotor dalam  pembelajaran PAI?


 

BAB II

PEMBAHASAN

 

  1. Biografi Jean Piaget

Jean Piaget lahir di Neuchatel, Swiss , yang berbahasa Perancis pada 9 Agustus 1896 dan meninggal 16 September 1980 pada umur 84 tahun. Dia adalah seorang filsuf, ilmuwan, dan psikolog perkembangan Swiss, yang terkenal karena hasil penelitiannya tentang anak-anak dan teori perkembangan kognitifnya.

  1. Konsep Dalam Teori Perkembangan JeanPiaget

Ada beberapa konsep yang perlu dimengerti agar lebih mudah memahami teori perkembangan kognitif atau teori perkembangan Piaget, yaitu;

1)     Intelegensi.

Piaget mengartikan intelegensi secara lebih luas, juga tidak mendefinisikan secara ketat.Ia memberikan definisi umum yang lebih mengungkap orientasi biologis. Menurutnya, intelegensi adalah suatu bentuk ekuilibrium kearah mana semua struktur yang menghasilkan persepsi, kebiasaan, dan mekanisme sensiomotor diarahkan.

2)     Organisasi.

Organisasi adalah suatu tendensi yang umum untuk semua bentuk kehidupan guna mengintegrasikan struktur, baik yang psikis ataupun fisiologis dalam suatu sistem yang lebih tinggi.

3)      Skema.

Skema adalah suatu struktur mental seseorang dimana ia secara intelektual beradaptasi dengan lingkungan sekitarnya. Skema akan beradaptasi dan berubah selama perkembangan kognitif seseorang.

4)     Asimilasi.

Asimilasi adalah proses kognitif dimana seseorang mengintegrasikan persepsi, konsep atau pengalaman baru kedalam skema atau pola yang sudah ada dalam pikirannya.

5)     Akomodasi.

Akomodasi adalah pembentukan skema baru atau mengubah skema lama sehingga cocok dengan rangsangan yang baru, atau memodifikasi skema yang ada sehingga cocok dengan rangsangan yang ada.

6)     Ekuilibrasi.

Ekuilibrasi adalah keseimbangan antara asimilasi dan akomodasi sedangkan diskuilibrasi adalah keadaan dimana tidak seimbangnya antara proses asimilasi dan akomodasi, ekuilibrasi dapat membuat seseorang menyatukan pengalaman luar dengan struktur dalamnya.[2]

  1. Tahap Perkembangan Kognitif

Istilah “cognitive”  berasal dari kata cognition yang pandangannya knowing, berarti mengetahui. Dalam arti luas, cognition ialah perolehan, penataan, dan penggunaan pengetahuan ( Neisser, 1976). Dalam pandangan selanjutnya istilah kognitif  menjadi popular sebagai salah satu domain atau wilayah ranah psikologis manusia yang meliputi setiap prilaku mental  yang berhubungan dengan pemahaman, pertimbangan, pengolahan informasi, pemecahan masalah, kesengajaan dan keyakinan. Ranah kejiwaan  yang berpusat di otak ini juga berhubungan dengan konasi (kehendak) dan afeksi (perasaan) yang bertalian dengan ranah Rasa ( Chaplin, 1972).[3]

Menurut Piaget, tahap perkembangan intelektual anak secara kronologis terjadi 4 tahap. Urutan tahap-tahap ini tetap bagi setiap orang, akan tetapi usia kronologis memasuki setiap tahap bervariasi pada setiap anak.

Keempat tahap dimaksud adalah sebagai berikut:

1)     Sensori-Motorik (O-2 Tahun)

2)     Pra-Operasional (2-7 Tahun)

3)     Operasional Konkret (7-11 Tahun)

4)     Operasional Formal (11-15 Tahun)

Dari beberapa tahap perkembangan kognitif tersebut maka dalam makalah ini penulis hanya membatasi pada bahasan Sensorimotor saja. Karena tahap perkembangan selanjutnya akan di bahas oleh pemakalah yang lain.

Tahap sensorimotor : umur 0–2 tahun.

(Ciri pokok perkembangan nya, anak mengalami dunianya melalui gerak dan inderanya serta mempelajari permanensi obyek).Tahap ini disebut tahap sensorimotor oleh Piaget.Pada tahap sensorimotor, intelegensi anak lebih didasarkan pada tindakan inderawi anak terhadapt lingkungannya, seperti melihat, meraba, menjamak, mendengar, membau dan lain-lain.

Pada tahap sensorimotor, gagasan anak mengenai suatu benda berkembang dari periode “belum mempunyai gagasan” menjadi “ sudah mempunyai gagasan”. Gagasan mengenai benda sangat berkaitan dengan konsep anak tentang ruang dan waktu yang juga belum terakomodasi dengan baik.Struktur ruang dan waktu belum jelas dan masih terpotong-potong, belum dapat disistematisir dan diurutkan dengan logis.

Menurut Piaget, mekanisme perkembangan sensorimotor ini menggunakan proses asimilasi dan akomodasi. Tahap-tahap perkembangan kognitif anak dikembangkan dengan perlahan-lahan melalui proses asimilasi dan akomodasi terhadap skema-skema anak karena adanya masukan, rangsangan, atau kontak dengan pengalaman dan situasi yang baru.

Piaget membagi tahap sensorimotor dalam enam periode, yaitu:

Periode 1 : Refleks (umur 0 – 1 bulan)

Periode paling awal tahap sensorimotor adalah periode refleks.Ini berkembang sejak bayi lahir sampai sekitar berumur 1 bulan.Pada periode ini anak sudah ada rasa, dan sentuhan. Contohnya jika bayi pipis dan BAB

Periode 2 : Kebiasaan (umur 1 – 4 bulan)

Pada periode perkembangan ini, bayi mulai membentuk kebiasan-kebiasaan dibuat dengan mencoba-coba dan mengulang-ngulang suatu tindakan.Refleks-refleks yang dibuat diasimilasikan dengan skema yang telah dimiliki dan menjadi semacam kebiasaan, terlebih dari refleks tersebut mengasilkan sesuatu. Pada periode ini, seorang bayi mulai membedakan benda-benda di dekatnya, Ia mulai mengatakan diferensiasi akan macam-macam benda yang dipegangnya. Pada periode ini pula, koordinasi tindakan bayi mulai berkembang dengan penggunaan mata dan telinga.Bayi mulai mengikuti benda yang bergerak dengan matanya.Ia juga mulai menggerakkan kepala kesumber suara yang ia dengar. Suara dan penglihatan bekerja bersama.

Periode 3 : Reproduksi kejadian yang menarik (umur 4 – 8 bulan)

Pada periode ini, seorang bayi mulai menjamah dan memanipulasi objek apapun yang ada di sekitarnya (Piaget dan Inhelder 1969).Tingkah laku bayi semakin berorientasi pada objek dan kejadian di luar tubuhnya sendiri.Ia menunjukkan koordinasi antara penglihatan dan rasa jamah. Pada periode ini, seorang bayi juga menciptakan kembali kejadian-kejadian yang menarik baginya.Ia mencoba menghadirkan dan mengulang kembali peristiwa yang menyenangkan diri (reaksi sirkuler sekunder). Piaget mengamati bahwa bila seorang anak dihadapkan pada sebuah benda yang dikenal, seringkali hanya menunjukkan reaksi singkat dan tidak mau memperhatikan agak lama. Oleh Piaget, ini diartikan sebagai suatu “pengertiaan” akan arti benda itu seakan ia mengetahuinya.

Contoh Menggunakan jari-jarinya untuk memasukkan makanan kedalam mulutnya, mengenali namanya dan mengoceh saat bermain

Periode 4 : Koordinasi Skemata (umur 8 – 12 bulan)

Pada periode ini, seorang bayi mulai membedakan antara sarana dan hasil tindakannya.Ia sudah mulai menggunakan sarana untuk mencapai suatu hasil. Sarana-sarana yang digunakan untuk mencapai tujuan atau hasil diperoleh dari koordinasi skema-skema yang telah ia ketahui.

Contohnya ia dapat menuangkan air dari sebuah wadah yang ada ditangannya, menirukan suara binatang yang kita buat dan membalas lambaian tangan

Periode 5 : Eksperimen (umur 12 – 18 bulan)

Pada perode ini mulainya anak memperkembangkan cara-cara baru untuk mencapai tujuan dengan cara mencoba-coba (eksperimen) bila dihadapkan pada suatu persoalan yang tidak dipecahkan dengan skema yang ada, anak akan mulai mecoba-coba dengan Trial and Error untuk menemukan cara yang baru guna memecahkan persoalan tersebut atau dengan kata lain ia mencoba mengembangkan skema yang baru. Pada periode ini, anak lebih mengamati benda-benda disekitarnya dan mengamati bagaimana benda-benda di sekitarnya bertingkah laku Menurut Piaget, tingkah anak ini menjadi intelegensi sewaktu ia menemukan kemampuan untuk memecahkan persoalan yang baru. Pada periode ini pula, konsep anak akan benda mulai maju dan lengkap. Tentang keruangan anak mulai mempertimbangkan organisasi perpindahan benda-benda secara menyeluruh bila benda-benda itu dapat dilihat secara serentak.

Contoh: Menyortir dan menyusun Balok berdasarkan ukuran dan warna.

Periode Refresentasi (umur 18 – 24 bulan)

Periode ini adalah periode terakhir pada tahap intelegensi sensorimotor.Seorang anak sudah mulai dapat menemukan cara-cara baru yang tidak hanya berdasarkan rabaan fisis dan eksternal, tetap juga dengan koordinasi internal dalam gambarannya. Pada periode ini, anak berpindah dari periode intelegensi sensori motor ke intelegensi refresentatif. Secara mental, seorang anak mulai dapat menggambarkan suatu benda dan kejadian, dan dapat menyelesaikan suatu persoalan dengan gambaran tersebut.Konsep benda pada tahap ini sudah maju, refresentasi ini membiarkan anak untuk mencari dan menemukan objek-objek yang tersembunyi. Sedangkan konsep keruangan, anak mulai sadar akan gerakan suatu benda sehingga dapat mencarinya secara masuk akal bila benda itu tidak kelihatan lagi.

Contoh: Bermain pasir, Petak umpet

Karakteristik anak yang berada pada tahap ini adalah sebagai berikut:

a)     Berfikir melalui perbuatan (gerak)

b)     Perkembangan fisik yang dapat diamati adalah gerak-gerak refleks sampai ia dapat berjalan dan bicara.

c)      Belajar mengkoordinasi akal dan geraknya.

d)     Cenderung intuitif egosentris, tidak rasional dan tidak logis.[4]

Coba bayangkan, sejak umur 0-2 tahun saja anak sudah ’sepintar’ itu.Apalagijika Ia diberikan stimulasi yang sangat baik dari orang tuanya (dan juga orang-orang disekitarnya) hingga ia berusia lebih besar lagi.[5]

  1. Aplikasi perkembangan sensorimotor pada pembelajaran PAI

Pada tahap sensorimotor Pendidikan Agama  sudah dapat diajarkan pada anak, ia lebih banyak bersama dan berinteraksi dilingkungan keluarga terutama orang tuanya, oleh karena itu setiap orang tua hendaknya menyadari bahwa pendidikan agama  bukanlah sekedar mengajarkan pengetahuan agama dan melatih keterampilan anak dalam melaksanakan ibadah, karena agama menyangkut manusia seutuhnya.

Agar agama itu tumbuh dalam jiwa anak dan dapat difahami natinya, maka harus ditanamkan semenjak kelahiran bayi , Seperti memperdengarkan adzan dan iqamah saat kelahiran anak. Kemudian anak pada umumnya mulai pandai berbicara  pada umur 2 tahun, meskipun pada dasarnya bayi yang berumur 1 tahun pun sudah dapat diajak berinteraksi dengan bahasa isyarat. Oleh karena itu, dianjurkan ketika anak mulai panadai bercakap, diajarkan kata-kata yang baik dan benar, sebagaimana dalam suatu riwayat al-hakim bahwa Rasulullah SAW bersabda yang artinya “ Bacakanlah pada anak-anakmu kalimat pertama dengan “laailaahaillallaah”. kemudian membiasakan membaca hamdalah, makan dengan tangan kanan dan sebagainya. Karena pada tahap ini anak mengandalkan reflex bawaannya untuk mengeksplorasi dunianya. Dengan membiasakan membaca hamdalah dan sebagainya diharapkan ketika dewasa nanti sang anak akan selalu melakukannya karena sudah menjadi kebiasaan  sejak kecil.[6]

BAB III

KESIMPULAN

 

Ada beberapa konsep yang perlu dimengerti agar lebih mudah memahami teori perkembangan kognitif atau teori perkembangan Piaget, yaitu; Intelegensi, Organisasi, skema,Asimilasi, Akomodasi,  Ekuilibrasi.

Istilah “cognitive”  berasal dari kata cognition yang pandangannya knowing, berarti mengetahui. Dalam arti luas, cognition ialah perolehan, penataan, dan penggunaan pengetahuan ( Neisser, 1976). Dalam pandangan selanjutnya istilah kognitif  menjadi popular sebagai salah satu domain atau wilayah ranah psikologis manusia yang meliputi setiap prilaku mental  yang berhubungan dengan pemahaman, pertimbangan, pengolahan informasi, pemecahan masalah, kesengajaan dan keyakinan. Ranah kejiwaan  yang berpusat di otak ini juga berhubungan dengan konasi (kehendak) dan afeksi (perasaan) yang bertalian dengan ranah Rasa ( Chaplin, 1972).

Menurut Piaget, tahap perkembangan intelektual anak secara kronologis terjadi 4 tahap. Urutan tahap-tahap ini tetap bagi setiap orang, akan tetapi usia kronologis memasuki setiap tahap bervariasi pada setiap anak. Keempat tahap dimaksud adalah sebagai berikut:

1)     Sensori-Motorik (O-2 Tahun)

2)     Pra-Operasional (2-7 Tahun)

3)     Operasional Konkret (7-11 Tahun)

4)     Operasional Formal (11-15 Tahun).

DAFTAR PUSTAKA

  1. Arif Armai, Ilmu dan Metodologi Pendidikan Islam, Jakarta Ciputat Pers. 2002
  2. Hergenhahn BR dan Matthew Olson, Theories of Learning 7th Ed. Jakarta: Kencana. 2008
  3. Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan dengan pendekatan baru, remaja Rosdakarya, Bandung . 2013
  4. Papalia, Diane et.al, Human development (Psikologi perkembangan). Jakarta: Kencana. 2008
  5. http://bkpemula.wordpress.com/2012/11/14/
  6. http://pai-umy.blogspot.com/2011/05/pakar-psikologi-swiss-terkenal-yaitu.html

 


[1]Anita Woolfolk. 2009, Educational Psychology. Edisi Bahasa Indonesia. (Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

[2] Paul Suparno, 2001.Teori Perkembangan Kognitif Jean Piaget. Yogyakarta: Penerbit Kanisius

[3] Muhibbin Syah, 2013 Psikologi Pendidikan dengan pendekatan baru, remaja Rosdakarya, Bandung

[4]Papalia, Diane et.al. 2008. Human development (Psikologi perkembangan). Jakarta: Kencana

[5]Hergenhahn BR dan Matthew Olson. 2008. Theories of Learning 7th Ed. Jakarta: Kencana.

[6] Arif Armai, 2002. Ilmu dan Metodologi Pendidikan Islam, Jakarta Ciputat Pers.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s