Hikmah · Pendidikan · Tips · Uncategorized

Pingpong Tanggung Jawab Proyek Soal UN

JAKARTA, KOMPAS.com — Benang kusut terlambatnya naskah soal Ujian Nasional 2013 di 11 provinsi belum juga terurai. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan serta percetakan yang berkewajiban menyelesaikan pendistribusian di 11 provinsi justru saling lempar tanggung jawab.

Direktur PT Ghalia Indonesia Printing Hamzah Lukman mengatakan bahwa pengerjaan naskah soal UN pada tahun ini cukup menyulitkan lantaran adanya 30 variasi paket soal. Belum lagi masalah durasi waktu pencetakan soal yang diberikan oleh pihak Kemdikbud dinilai terlalu singkat.

“Kami hanya dapat waktu 25 hari, padahal idealnya sekitar 60 hari kerja soal sebanyak itu dapat diselesaikan,” kata Hamzah seusai jumpa pers UN 2013 di Kemdikbud, Jakarta, Minggu (14/4/2013).

Hamzah juga mengakui bahwa kapasitas gudang yang dimiliki percetakannya tidak cukup besar untuk menampung jutaan eksemplar soal yang selesai dicetak.

“Pekerja kami sampai kesusahan untuk pindah tempat karena soalnya cukup banyak,” kata Hamzah.

Penjelasan dari Hamzah ini lalu menimbulkan pertanyaan, mengapa perusahaan dengan integritas dan kemampuan produksi seperti ini dapat terpilih dalam jajaran pemenang tender? Apalagi, nilai tender yang ditawarkan oleh PT Ghalia Indonesia Printing paling mahal di antara peserta tender yang lain. NIlainya mencapai Rp 22,5 miliar.

Terbaik dari yang ada

Inspektur IV Inspektorat Jenderal Kemdikbud Amin Priyatna menjelaskan, perusahaan ini bisa memenangi tender karena layanan yang ditawarkan sesuai dengan kriteria yang dibutuhkan. Perusahaan lain dengan nilai tender yang jauh lebih murah, lanjutnya, tidak memenuhi sejumlah kriteria sehingga tidak lolos tender.

“Dari sisi tempat dan alat kami lihat memadai. Tetapi memang masalah teknis. Kami selalu bilang untuk perbaiki manajemen pengerjaan, khususnya manajemen orang,” ungkap Amin saat jumpa pers evaluasi UN, Senin (15/4/2013).

Hal ini dibenarkan oleh anggota Badan Standar Nasional Pendidikan, Teuku Ramli Zakaria, yang menemukan bahwa perusahaan tersebut minim pekerja dan mengerjakan pencetakan untuk 11 provinsi secara langsung bukan dibagi satu provinsi lebih dahulu.

“Pekerjanya hanya sekitar 65 orang dan soal untuk 11 provinsi langsung dicetak semua. Akhirnya untuk mempercepat dari Kemdikbud minta tolong 200 mahasiswa IPB untuk bantu,” ungkap Ramli.

Sementara terkait dengan keluhan durasi waktu dan keterlambatan penyerahan dummy naskah soal UN oleh Kemdikbud ke percetakan dibantah oleh Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kemdikbud Khairil Anwar Notodiputro, menurut dia, penyerahan naskah soal UN keenam percetakan yang menang tender ini dilakukan secara bersamaan.

“Naskah soal disampaikan secara bersamaan kepada percetakan. Nyatanya kelima percetakan lain dapat selesai sesuai jadwal,” tutur Khairil.

Sudah tercium H-10

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Mohammad Nuh tak ketinggalan angkat bicara setelah meminta maaf atas penundaan pelaksanaan UN pada tahun ini. Ia menegaskan bahwa untuk ikut tender perusahaan tersebut harusnya sudah mengukur kemampuan untuk mengerjakan naskah soal UN yang berbeda dari tahun sebelumnya ini.

“Jumlah provinsinya memang lebih banyak, tetapi jumlah eksemplarnya merata. Kalau dibilang karena variasi soal yang beragam, yang lain bisa selesai kok,” jelas Nuh.

Indikasi keterlambatan, lanjutnya, sudah tercium sejak H-10 pelaksanaan UN. Mantan Rektor Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) ini mengatakan, kementerian sudah melakukan pemantauan dan memacu perusahaan tersebut agar dapat menyelesaikan tanggung jawabnya tepat waktu.

Kementerian juga melihat tak kunjung ada peningkatan kinerja sehingga menambah tenaga kerja dengan memperbantukan sekitar 200 mahasiswa IPB.

“Visitasi dilakukan. Tetapi sekali lagi kendala teknis dan tidak ada yang meminta atau menyengaja kejadian ini,” jelas Nuh.

Setelah ini, jika para pejabat mau menegakkan aturan, kejadian ini akan berakibat pada pemberian sanksi kepada PT Ghalia Indonesia Printing. Namun, akibat yang lebih besar ditanggung oleh anak-anak bangsa peserta UN. Hanya akibat keteledoran koordinasi para pelaku proyek UN.

Sumber: http://edukasi.kompas.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s