Dunia Islam · filsafat · Hikmah

Teologi Al-Khawarij

BAB I

PENDAHULUAN

 A.     Latar Belakang Masalah

Dalam sejarah perkembangan Islam sejak dahulu kala telah terjadi perpecahan yang merupakan satu perwujudan dari sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

Akan terpecah umat ini menjadi 73 golongan semuanya di neraka kecuali satu, lalu ditanyakan: siapakah mereka wahai Rasulullah? Beliaumenjawab: Merekaadalahjama`ah (HSR AtTirmidzy) danjugasatubuktiakankebenaranrisalahkenabianRasulullahshallallahu ‘alaihiwasallam.

Khawarijmerupakansatukelompok yang besardarikelompok-kelompoksempalan yang menyimpangdari Islam dalampermasalahanaqidahdanmerekatergambarkansebagaisatugerakanrevolusiberdarahdalamsejarah Islam yang cukupbanyakmenyibukkannegeri-negeri Islam dalam tempo waktu yang lama untukmemadamkannya, kemudianmerekapunsempatberhasilmenebarkekuasaanpolitikmerekapadawilayah-wilayah yang luasdarinegeri-negeri Islam di timurdanbarat, khususnya di Omaan, Hadromaut, Zanzibar (Tanzania) dansekitarnyadariwilayahAfrikadanMaghrib Arab (Maroko, Aljazair, Tunis danLibia) dansampaisekarangmerekamasihmemilikitsaqafah yang terwakiliolehsekte Al Ibadhiyah yang tersebar di wilayah-wilayahtersebut, sampaimasihmemilikisatukesultananyaitukesultananOmaan.

Kemudiantidakdiragukankembali, bahwasebagianpemikirandanaqidahmereka -Khususnya Al Azaariqah yang berhubungandenganpengkafiranpelakukemaksiatan- sampaisaatinimasihberkembangdantampakjelassertamerekamasihmemilikipengikut yang menampakkankekerasandankefanatikanmereka,sehinggamembuatpembahasantentangmerekainimenjadipentingdalamrangkamenjelaskanpemikiran-pemikiranmereka yang menyimpangkepadaumatdanmenyelamatkanmerekadariperangkapdankesesatankelompokini, akantetapipentinguntukdiketahuibahwahampir-hampirhilangsemuareferensidarimerekakecualireferensisekte Al Ibadhiyah, sehinggadalampembahasaninisayamerujukkepadatulisan-tulisanparaulamaahliSunnahwalJama`ahseputarmereka.

B.        Rumusan Masalah

Dalam rumusan masalah ini penulis membatasi pembahasan yaitu:

  1. Membahas Apa yang pengertian Al-Khawarij.
  2. Membahas bagaimana Sejarah Munculnya Al-Khawarij.
  3. Membahas apa ajaran pokok Al-Khawarij
  4. Membahas bagaimana keberadaan sekte-sekte dan ajarannya masing-masing?


 

BAB II

AL-KHAWARIJ

A.        Pengertian

Ada banyak arti dari kata Khawarij yang dimunculkan, diantaranya :

  1. Bentuk jamak dari kharij (orang yang keluar) : Orang-orang yang keluar dari barisan Ali ibn Abi Thalib.
  2. Nama Khawarij terambil dari al-Quran, 4:100 :

ayat itu memberikan pengertian bahwa  “keluar dari rumah untuk berjuang di jalan Allah”.  Kaum Khawarij memandang diri mereka sebagai orang-orang yang keluar dari rumah semata-mata untuk berjuang di jalan Allah swt.

  1. Al-Muhakkimah. Nama ini berasal dari semboyan mereka yang terkenal “la hukma illa li Allah” (tiada hukum kecuali hukum Allah) atau “la hakama illa Allah” (tidak ada perbuatan hukum kecuali Allah). Berdasakan alasan inilah mereka menolak keputusan Ali untuk ikut melakukan arbitrasi (tahkim), dan yang berhak memutuskan adalah Allah.
  2. Syurah, yang berasal dari bahasa Arab yasyri (menjual). Penamaan ini didasarkan al-Quran, 2:207 :

Golongan ini memang menganggap diri mereka sebagai orang-orang yang berkorban demi mencapai keridlaan Allah swt.

  1. Haruriyah, berasal dari kata Harura, tempat mereka berkumpul setelah meninggalkan barisan Ali. Tempatinikemudiandijadikanpusatkegiatanmereka.
  2. Al-Mariqah, berasal dari kalimat maraqa yang artinya “anak panah keluar dari busurnya.” Nama yang dialamatkan kepada mereka, karena mereka dianggap telah keluar dari agama itu diberikan oleh lawan-lawan mereka.[1]

B.        Sejarah Munculnya Al-Khawarij

Kelompok Khawarij merupakan aliran teologi pertama yang muncul dalam dunia Islam, yakni abad I H/8 M pada masa pemerintahan Ali ibn Abi Thalib. Kemunculannya dilatarbelakangi oleh pertikaian politik antara Ali dengan Muawiyah ibn Abi Sufyan, yang pada waktu itu maenjabat sebagai gubernur Syam (sekarang : Suriah). Muawiyah menolak memberikan baiat kepada Ali yang terpilih sebagai khalifah sehingga Ali mengerahkan bala tentara untuk menggempur Muawiyah. Muawiyah juga mengumpulkan pasukan untuk menghadapi Ali. Kedua pasukan itu lalu bertemu di suatu tempat bernama Siffin. Pertempuran yang dinilai dahsyat dan tergolong besar terjadi antara kedua belah pihak, buktinya dengan banyak korban. Di pihak Ali, 25.000 orang gugur, sementara di pihak Muawiyah 45.000 personel tewas.

Dalam pertarungan ini pihak Ali memperlihatkan akan memperoleh kemenangan dan berhasil mendesak pasukan Muawiyah. Amr ibn As yang ikut berperang di pihak Muawiyah mengusulkan kepada Muawiyah agar memerintahkan pasukannya mengangkat mushaf (kumpulan lembaran) al-Quran dengan ujung tombak sebagai isyarat minta damai. Pada mulanya, Ali tidak mau menerima tawaran damai Muawiyah tersebut. Tetapi, karena desakan sebagian pengikutnya, terutama para qurra’ (pembaca) dan huffadz (penghafal), diputuskan untuk mengadakan arbitrasi (tahkim). Sebagai hakam atau penengah, diangkat dua orang, yaitu Abu Musa al-Asy’ari yang dikenal lurus mewakili kelompok Ali dan Amr ibn As yang licik menjadi delegasi golongan Muawiyah. Keputusan Ali menerima arbitrasi sebagai jalan penyelesaian sengketa tentang khilafah dengan Muawiyah ternyata tidak didukung oleh semua pengikutnya. Mereka yang tidak setuju dengan sikap Ali keluar dari barisan, lalu mengangkat Abdullah ibn Wahab al-Rasidi sebagai pemimpin mereka yang baru. Kelompok ini kemudian memisahkan diri ke Harura, suatu desa dekat Kufah. Mereka inilah yang dikenal dengan sebutan golongan Khawarij.[2]

Seiring perjalanan waktu, kaum Khawarij di Harura berhasil menyusun kekuatan dan memperoleh banyak pengikut, sehingga mereka berani menyatakan pembangkangan terhadap Ali. Menurut keyakinan mereka, Ali dan Muawiyah serta semua yang menyetujui arbitrasi dianggap telah menyimpang dari ajaran Islam. Oleh karenanya, mereka harus ditentang dan dijatuhkan. Untuk menumpas kaum Khawarij tersebut, Ali menyiapkan sepasukan tentara dan kemudian kedua pasukan itu bertempur di sebuah tempat yang bernama Nahrawan. Pertempuran ini berakhir dengan kemenangan tentara Ali dan hampir seluruh kekuatan Khawarij dapat dimusnahkan. Menurut Abdul Karim Syahristani, tidak sampai sepuluh orang kaum Khawarij yang selamat dari peperangan ini. Lainnya tumbang dalam medan perang, termasuk pemimpin mereka Abdullah ibn Wahab al-Rasibi. Akan tetapi, kekalahan total di Nahrawan tidak membuat kaum Khawarij patah semangat, malah justru membangkitkan semangat jihad mereka untuk menjatuhkan Ali. Akhirnya salah seorang di antara mereka yang bernama Abdurrahman ibn Muljam berhasil membunuh Ali saat beliau keluar rumah hendak melaksanakan shalat Subuh pada 17 Ramadlan 40 H/24 Januari 661 M. Rencana pembunuhan yang dirancang oleh kaum Khawarij tidak saja Ali, tetapi juga terhadap Muawiyah yang akan dilakukan oleh al-Barak dan Amr ibn As yang akan dilaksanakan oleh Umar ibn Bakir. Amr ibn As akan dibunuh karena dinilai sebagai delegasi Muawiyah dalam arbitrasi yang menipu. Tetapi pembunuhan terencana terhadap keduanya tidak berhasil.

C.       Ajaran Pokok Al-Khawarij

Dimasa Jayanya, dalam aliran ini timbul beberapa perpecahan-perpecahan, tetapi dalam garis pokoknya tetap pada persamaan pendirian, yaitu:

  1. Bahwa : Ali, Usman dan orang-orang yang turut dalam peperangan Jamal, dan orang-orang yang setuju adanya perundingan antara Ali dan Muawiyah, semua dihukum orang-orang ”kafir”.
  2. Bahwa : setiap umat Muhammad yang terus-menerus mebuat dosa besar, hingga matinya belum taubat, orang itu dihukum kafir dan akan kekal di neraka. Di samping itu ada golongan yang menyebut dirinya golongan Najadat, mereka tidak menghukumkan yang demikian : kafir total, hanya kafir terhadap nikmat Tuhan saja.
  3. Bahwa : boleh keluar dan tidak mematuhi aturan-aturan kepala negara bila ternyata kepala negara itu seorang yang zalim atau khianat.[3]
  4. Khalifah harus dipilih rakyat serta tidak harus dari keturunan Nabi Muhammad SAW dan tidak mesti keturunan Quraisy. Jadi, seorang muslim dari golongan manapun bisa menjadi kholifah asalkan mampu memimpin dengan benar .[4]

Pada mulanya golongan khawarij sesuai dan mengakui dasar pokok itu. Tetapi setelah adanya perpecahan-perpecahan menjadi golongan-golongan yang banyak sekali, tiap-tiap golongan menambahi dan melampaui pokok-pokok ajaran itu.

BAB III

SEKTE-SEKTE DALAM KHAWARIJ DAN AJARAN MASING-MASING

A.         Sekte-sekte dalam Al-Khawarij

Mengenai jumlah sekte Khawarij, para ulama berbeda pendapat. Yakni:

  1. Abu Musa al-Asy’ari menyebutkan lebih dari dua puluh sekte.
  2. al-Baghdadi (ahli ushul fiqh) berpendapat ada dua puluh sekte.
  3. Syahrastani mengatakan delapan belas sekte.[5]

Ada ulama yang hanya menghitung sekte-sekte yang utama, seperti Mustafa al-Syak’ah (seorang ahli ilmu kalam) menyebut delapan sekte, yaitu :

  1. Al-Muhakkimah
  2. Al-Azariqah
  3. Al-Najdat
  4. Al-Baihasiyah
  5. Al-Ajaridah
  6. Al-Sa’alibah
  7. Al-Ibadiyah
  8. Al-Sufriyah

Abu Zahrah (ahli fiqh, ushul fiqh dan kalam) menerangkan empat sekte saja, yaitu:

  1. Al-Najdat
  2. Al-Sufriyah
  3. Al-Ajaridah
  4. Al-Ibadiyah

Harun Nasution (ahli filsafat Islam dan mantan rektor IAIN Syarif Hidayatullah, Jakarta) dalam bukunya Teologi Islam mengatakan ada enam sekte penting, yaitu:

  1. Al-Muhakkimah
  2. Al-Azariqah
  3. Al-Najdat
  4. Al-Ajaridah
  5. Al-Ibadiyah
  6. Al-Sufriyah

B.        AjaranPokokMasing-masingSekte

Paham dan ajaran pokok dari setiap sekte Khawarij yang penting adalah sebagai berikut :

  1. Al-Muhakkimah di pandang sebagai golongan Khawarij asli karena terdiri dari  pengikut-pengikut yang kemudian membangkang. Nama tersebut berasal dari semboyan mereka yang terkenal “la hukma illa li Allah” (tiada hukum kecuali hukum Allah) yang merujuk kepada al-Quran, al-Quran, 6:57 :Mereka menolak arbitrasi karena dianggap bertentangan dengan perintah Allah swt. dalam al-Quran, 49:9 :yang menyuruh memerangi kelompok pembangkang sampai mereka kembali ke jalan Allah swt. Selanjutnya, dalam paham sekte ini Ali, Muawiyah dan semua orang yang menyetujui arbitrasi dituduh telah kafir mereka telah menyimpang dari ajaran Islam, seperti tercantum dalam al-Quran, 5:44. Kemudian mereka juga menganggap kafir orang-orang yang berbuat dosa besar, seperti membunuh tanpa alasan yang sah dan berzina.
  2. Al-Azariqah. Sekte ini lahir sekitar tahun 60 H (akhir abad ke 7 M) di daerah perbatasan Irak dan Iran. Nama al-Azariqah dinisbatkan kepada pemimpin sekte ini, Nafi’ ibn Azrak al-Hanafi al-Hanzali. Sebagai khalifah, Nafi’ digelari Amir al-Mukminin. Menurut al-Baghdadi, pendukungnya berjumlah lebih dari 20 ribu orang. Berbeda dengan al-Muhakkimah, al-Azariqah membawa paham yang lebih ekstrim. Paham mereka antara lain ialah bahwa setiap orang Islam yang menolak ajaran al-Azariqah dianggap musyrik. Pengikut al-Azariqah, yang tidak sudi berhijrah ke dalam wilayah mereka, juga dianggap musyrik. Menurut mereka, semua orang yang musyrik boleh ditawan atau dibunuh, termasuk anak dan istri mereka. Berdasarkan prinsip ini, pengikut al-Azariqah banyak melakukan pembunuhan terhadap sesama umat Islam yang berada di luar daerah mereka. Mereka memandang daerah mereka sebagai wilayah Islam (dar al-Islam), di luar daerah itu dinilai sebagai kawasan kafir (dar al-kufr).
  3. Al-Najdat. Sekte ini adalah kelompok yang dipimpin oleh Najdah ibn Amir al-Hanafi, penguasa daerah Yamamah dan Bahrein. Lahirnya kelompok ini sebagai reaksi terhadap pendapat Nafi’, pemimpin al-Azariqah, yang mereka pandang terlalu ekstrim. Pendapat itu ialah tentang pemusyrikan terhadap pengikut al-Azariqah yang tidak hijrah ke wilayah kelompok itu dan tentang kewenangan membunuh anak-istri yang musyrik. Pengikut al-NajdatmemandangNafi’ danpengikutnyatelahkafir.

Paham al-Najdat yang terpenting adalah bahwa orang Islam yang tidak sepaham dengan mereka dianggap kafir, dan kekal dalam neraka. Sementara pengikut al-Najdat tidak akan kekal dalam neraka walaupun melakukan dosa besar. Selanjutnya, menurut mereka, dosa kecil jika dilakukan secara kontinyu akan meningkat menjadi dosa besar. Paham lain yang di bawa adalah menyembunyikan identitas keimanan demi keselamatan (taqiyah); dalam hal ini seseorang diperbolehkan mengucapkan kata-kata atau tindakan yang bertentangan dengan keyakinan. Dalam perkembangannya, sekte ini mengalami perpecahan. Beberapa tokoh penting dari sekte ini, seperti Abu Fudaik dan Rasyid al-Tawil, membentuk kelompok oposisi terhadap al-Najdat yang berakhir dengan terbunuhnya Najdat pada tahun 69 H/688 M.

  1. Al-Ajaridah. Pemimpin sekte ini adalah Abdul Karim ibn Ajarrad. Dibandingkan dengan al-Azariqah, pandangan-pandangan kaum al-Ajaridah jauh lebih moderet. Mereka berpendapat bahwa tidak wajib berhijrah ke wilayah mereka seperti yang diajarkan Nafi’, tidak boleh merampas harta dalam peperangan kecuali harta orang yang mati terbuuh dan tidak dianggap musyrik anak-anak yang masih kecil. Bagi mereka, al-Quran sebagai kitab suci tidak layak memuat cerita-cerita percintaan, seperti yang terkandung dalam surah Yusuf. Oleh karena itu, surah Yusuf dipandang bukan bagian dari al-Quran.
  2. Al-Ibadiyah. Sekte ini dimunculkan oleh Abdullah ibn Ibad al-Murri al-Tamimi pada tahun 686. Doktrin mereka yang terpenting antara lain bahwa orang Islam yang berdosa besar tidak dapat dikatakan mukmin, melainkan muwahid (orang yang dimaksud adalah kafir nikmat, yaitu tidak membuat pelakunya keluar dari agama Islam). Selanjutnya, yang dipandang sebagai daerah dar al-kufr hanyalah markas pemerintahan dan itulah yang harus diperangi. Selain daerah itu, disebut dar al-tauhid (wilayah orang-orang Islam), tidak bolah diperangi. Tentang harta yang boleh dirampas dalam perang, mereka hanya menetapkan kuda dan alat perang. Kelompok ini dianggap sebagai golongan yang paling moderat dalam Khawarij.
  3. Al-Sufriyah. Sekteinimembawapaham yang miripdenganpaham al-Azariqah,  hanyalebihlunak. Nama al—Sufriyahberasaldarinamapemimpinmereka, ZiadibnAsfar. Pendapatnya yang pentingadalahistilahkufrataukafir (mengandungduaarti, yaitukufr al-ni’mah ‘mengingkarinikmatTuhan’ dankufr bi Allah ‘mengingkariTuhan’). Untukartipetama, kafirtidakberartikeluardari Islam. Tentangtaqiyah, merekahanyamembolehkandalambentukperkataan, tidakbolehberupatindakan, kecualibagiwanita Islam yang diperbolehkanmenikahdenganlelakikafirbilaterancamkeamanandirinya.


BAB III

PENUTUP

A.        KESIMPULAN

Secara etimologis kata Khawarij, خوارجberasal dari bahasa Arab, yaitu Kharaja yang berarti keluar, muncul, timbul, atau memberontak. Ini yang mendasari Syahrastani untuk menyebut khawarij terhadap orang yang memberontak imam yang sah. Berdasarkan pengertian etimologi ini pula, khawarij berarti setiap muslim yang ingin keluar dari kesatuan umat Islam.

Adapun yang dimaksud khawarij dalam terminologi ilmu kalam adalah suatu sekte/kelompok/aliran pengikut Ali bin Abi Tholib yang keluar meninggalkan barisan karena ketidaksepakatan terhadap keputusan Ali yang menerima arbitrase (tahkim), dalam perang Shiffin pada tahun 37 H/648 M, dengan kelompok Bughot (pemberontak) Mu’awiyah bin Abi Sufyan perihal persengketaan Khilafah.

Dalam garis pokoknya, Al-Khawarij berada pada persamaan pendirian, yaitu:

  1. Bahwa : Ali, Usman dan orang-orang yang turut dalam peperangan Jamal, dan orang-orang yang setuju adanya perundingan antara Ali dan Muawiyah, semua dihukum orang-orang ”kafir”.
  2. Bahwa : setiap umat Muhammad yang terus-menerus mebuat dosa besar, hingga matinya belum taubat, orang itu dihukum kafir dan akan kekal di neraka. Di samping itu ada golongan yang menyebut dirinya golongan Najadat, mereka tidak menghukumkan yang demikian : kafir total, hanya kafir terhadap nikmat Tuhan saja.
  3. Bahwa : boleh keluar dan tidak mematuhi aturan-aturan kepala negara bila ternyata kepala negara itu seorang yang zalim atau khianat.
  4. Khalifah harus dipilih rakyat serta tidak harus dari keturunan Nabi Muhammad SAW dan tidak mesti keturunan Quraisy. Jadi, seorang muslim dari golongan manapun bisa menjadi kholifah asalkan mampu memimpin dengan benar.

Adapun sekte-sekte yang muncul pada aliran Al-Khawarij secara garis besar adalah Al-Muhakkimah, Al-Azariqah, Al-Najdat, Al-Ajaridah, Al-Ibadiyah, Al-Sufriyah.

B.        SARAN-SARAN

Padahakikatnyasemuaalirantersebuttidaklahkeluardari Islam, tetapitetap Islam.Dengandemikiantiapumat Islam bebasmemilihsalahsatualirandarialiran-aliranteologitersebut, yaitumana yang sesuaidenganjiwadanpendapatnya.Hal initidakubahnya pula dengankebebasantiap orang Islam memilihmadzabfikihmana yang sesuaidenganjiwadankecenderungannya.DisinilahhikmahsabdaNabi Muhammad SAW: “perbedaanpahamdikalanganumatkumembawarahmat”. MemangrahmatbesarlahkalaukaumterpelajarmenjumpaidalamIslamaliran-aliran yang sesuaidenganjiwadanpembawaannya, dankalau pula kaumawammemperolehdalamnyaaliran-aliran yang dapatmengisikebutuhanrohaninya.


 

DAFTAR PUSTAKA

A. Nasir, Salihun. PengantarIlmuKalam. Jakarta :Rajawali Pers. 1991.

A. Hanafi. Pengantar Theology Islam. Jakarta : Pustaka Al Husna. 1989.

A.Hasjmy. Sejarah Kebudayaan Islam. Jakarta : Bulan Bintang. 1979.

Harun Nasution. Teologi Islam, Aliran-Aliran Sejarah Analisa Perbandingan. Jakarta : UI Press. 1986.

http://madarikyahya.wordpress.com

M. Taib Thahir Abdul Mu’in. Ilmu Kalam. Jakarta : Widjaya. 1986.

Rosihon Anwar dan Abdul Rozak. IlmuKalamUntuk IAIN, STAIN, PTAIS.Bandung :PustakaSetia. 2001.

Syamsul Rijal Hamid. Buku Pintar Agama Islam: Edisi Senior. Bogor: Penebar Salam. 2002.


[1]Teologi Islam. Aliran-AliranSejarahAnalisaPerbandingan.(selanjutnyadisebutTeologi Islam), HarunNasution. Jajarta , 1986. Hal. 11

[2]Ibid

[3]IlmuKalam, M. TaibThahirAbdulMu’in, Jakarta, 1986. Hal . 98

[4]Buku Pintar Agama Islam: Edisi Senior.Hamid, Syamsul Rijal, Bogor, 2002.

[5]Teologi Islam, 13

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s