Pendidikan

PENDIDIKAN KARAKTER Geng-Geng Motor Mencuat karena Budi Pekerti Luntur

PENDIDIKAN KARAKTER
Geng-Geng Motor Mencuat
karena Budi Pekerti Luntur

Pendidikan karakter belakangan ini kembali santer didengungkan. Sebab, dari pendidikan inilah diharapkan bakal lahir manusia Indonesia seutuhnya. Utuh dalam arti bukan saja memiliki kecerdasan dan kepandaian, melainkan juga berwatak dan berbudi pekerti luhur.

Sayang, dalam perjalanannya, harapan itu belum sepenuhnya bisa terpenuhi. Justru sebaliknya, beragam peristiwa memprihatinkan kini masih menggerus kalangan generasi muda. Kondisi tersebut memberi gambaran, betapa watak dan budi pekerti luhur ternyata sudah menjauh atau luntur dari hati sanubari mereka.

Tindak kekerasan dianggap sudah menjadi perkara lumrah. Di beberapa kota besar bahkan mencuat geng-geng sepeda motor yang semua anggotanya adalah kawula muda dan perilakunya sangat meresahkan masyarakat. Tindak tanduk mereka cenderung destruktif dan menjurus ke arah kriminal.

“Kondisi sosial maupun kultur masyarakat kita sudah sangat memprihatinkan. Untuk itu, sudah saatnya pendidikan karakter dilaksanakan apabila kita menginginkan lahirnya generasi muda yang berwatak dan berbudi luhur,” tutur mantan Koordinator DPD asal Jawa Tengah, Dr Sudharto, MA, saat menghadiri peluncuran Sekolah Berbasis Pendidikan Karakter Bangsa SMP 2 Purnama Cilacap baru-baru ini.

Sudharto yang juga mantan Kakanwil Depdikbud Jateng, mantan Ketua PGRI Jateng, dan saat ini Ketua PD Ikatan Purnakaryawan Pendidikan dan Kebudayaan (IPPK) Jawa Tengah menjelaskan, pendidikan karakter menjadi sangat penting. Sebab, pada kenyataannya, kurikulum yang dipakai dunia pendidikan belum berbasis pada pendidikan karakter.

Malah, sekarang tampak bermunculan gejala-gejala privatisasi pendidikan, dengan makin tingginya biaya pendidikan, sehingga tidak terjangkau oleh masyarakat berpenghasilan rendah (miskin). Padahal, mereka juga memiliki anak yang butuh pendidikan. Menurut Sudharto, sesuai UU Dasar 45, pemerintah berkewajiban mencerdaskan kehidupan bangsa.

Selain itu, dia mengingatkan bahwa pelaksanaan pendidikan karakter memerlukan proses panjang, berkesinambungan, berdimensi integritas sekaligus kuratif. Pendidikan karakter tidak bisa diharapkan tercapai dalam jangka pendek. Namun yang penting, dalam proses pelaksanaannya, pendidikan karakter harus dipahami benar oleh para guru. Guru jangan hanya sekadar melaksanakan tugas saja. Akan tetapi, guru harus bisa menjadi panutan.

“Yang perlu dipahami, pendidikan karakter di sekolah ada dua arah pengembangan, yakni kemampuan intelektual dan kemampuan moral,” ujarnya.

Sudharto menyampaikan, agar pendidikan karakter di sekolah dapat tercapai baik, hendaknya diperhatikan beberapa hal, seperti menetapkan visi pendidikan karakter, menetapkan misi pendidikan karakter, menetapkan progam pendidikan karakter, serta melakukan kegiatan operasional dan menciptakan lingkungan sekolah yang kondusif. Khusus dalam menetapkan visi pendidikan karakter, jangan melupakan nilai-nilai budaya daerah, supaya kelak para siswa tidak lupa akan budaya daerahnya sendiri yang adiluhung.

 

Melupakan Pancasila

Sementara itu, Ketua Yayasan Purnama, Djarot, seusai peluncuran Sekolah Berbasis Pendidikan Karakter Bangsa SMP 2 Purnama Cilacap mengemukakan, saat ini hanya ada satu karakter bangsa yakni Pancasila. Jika sekarang dirasa pendidikan kurang bisa menghasilkan peserta didik yang berkarakter, itu dikarenakan bangsa sudah banyak yang melupakan Pancasila.

“Jadi, sebenarnya, kalau Pancasila yang sudah ditetapkan sebagai ideologi negara dan falsafah hidup bangsa tetap kita pegang teguh dalam kehidupan sehari-hari, niscaya keadaan tidak akan karut-marut,” tuturnya.

Untuk itulah Djarot menegaskan, hendaknya Pancasila benar-benar dihayati. Bukan hanya sekadar diucapkan dalam setiap upacara saja.

Dia mengingatkan, melalui pendidikan karakter yang dilaksanakan di SMP 2 Purnama Cilacap, diharapkan benar-benar bisa lahir peserta didik yang memiliki karakter sebagaimana diharapkan bangsa dan negara.

Salah satu tokoh pendidik yang juga masyarakat Cilacap, Fathul Aminudin Aziz, menyampaikan, sudah seharusnya setiap satuan pendidikan mampu membentuk karakter bangsa dengan cara menanamkan rasa cinta Tanah Air, menanamkan rasa untuk menghormati orangtua dan guru, menanamkan rasa cinta pada lingkungan, dan menanamkan etos kerja. Guru jangan hanya sekadar menonjolkan aspek kemampuan intelektualitas saja (cognitive), tetapi meninggalkan nilai-nilai etika (affective domain).

“Guru sebaiknya melakukan internalisasi nilai pendidikan yang berwawasan karakter bangsa dengan memasukkan muatan lokal pada satuan pendidikan.

Selain itu, harus ada tolok ukur yang jelas dengan memasukkan unsur agama pada nilai ujian nasional. Yang lebih penting, dapat menumbuhkan citra diri bagi bangsa dan masyarakat serta juga dapat menumbuhkan jiwa entrepreneur,” ujarnya. (Pudyo Saptono)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s