Pendidikan

isi dan Karakter “make your dream come true”

Visi dan Karakter “make your dream come true”

Sebaik-baik manusia adalah siapa yang paling banyak bermanfaat bagi orang lain. (hadist Nabi Muhammad SAW)

 

Perjalanan dimulai dari satu langkah untuk mencapai sebuah tujuan. Visi berupa impian besar yang akan dituju itulah tujuan yang akan dicapai. Visi akan memotivasi dan mengarahkan letih dan jauhnya perjalanan pada manisnya tujuan. Tanpa visi yang jelas Anda akan berputar-putar tidak karuan yang tidak terarah. Beranilah bermimpi, beranilah dengan visi Anda dan wujudkanlah. Hanya dengan itu semua jerih payah Anda terbayarkan.

Membekali generasi mendatang dengan ilmu bermanfaat, pendidikan berkualitas, visi yang besar, iman dan akhlak mulia akan membuatnya menjadi generasi unggul, yang siap untuk meneruskan estafet kepemimpinan masa depan. Dunia terus berubah dan senantiasa memunculkan hal-hal baru untuk dipelajari dan dikuasai, tanpa bekal cukup sepertinya roda zaman akan tanpa ampun menggilas dengan keperkasaannya. Generasi mendatang haruslah cerdas, mandiri, berkarakter, siap berkembang dan siap menerima perubahan yang senantiasa terjadi. Visi dan motivasi yang besar yang Anda berikan akan senantiasa hidup dan menginspirasi mereka.

Menurut Mendiknas M. Nuh dalam seminar nasional “Pendidikan Karakter Bangsa” dalam rangkaian acara rapat pimpinan Program Pasca Sarjana (PPS) Lembaga Pendidik dan Tenaga Kependidikan (LPTK) se-Indonesia di Universitas Negeri Medan (Unimed) mengatakan pendidikan karakter harus dimulai sejak SD, karena jika karakter tidak terbentuk sejak dini maka akan susah untuk merubah karakter seseorang sehingga pendidikan karakter di SD mendapat porsi 60% agar lebih mudah diajarkan dan melekat dijiwa anak-anak itu hingga kelak ia dewasa. Dari sini kita bisa menganalisa bahwa pendidikan di SD sangat strategis dan besar pengaruhnya terhadap karakter seseorang atau karena karakter sangat besar pengaruhnya terhadap kesuksesan seseorang berarti pendidikan SD sangat berpengaruh pada karir atau masa depan orang tersebut. Mengapa bukan TK, bukankah itu lebih dini? Pendidikan TK (Taman Kanak-Kanak) atau sejenisnya menurut Mendiknas tidak mendapat porsi yang besar untuk pendidikan karakter karena TK bukan merupakan sekolah tetapi taman bermain. “TK itu taman bermain untuk merangsang kreativitas anak, bukan tempat belajar. Jadi jika ada guru TK yang memberikan tugas atau PR maka itu guru kurang kerjaan dan tak paham tugasnya,” katanya. (dikutip dari berita Antara tgl 15 Mei 2010). Sejumlah kalangan berdebat bahwa pendidikan TK dan sejenisnya juga merupakan pendidikan karakter yang efektif, bedanya model pembelajarannya lebih banyak menggunakan pola permainan dengan tetap memasukan aspek nilai-nilai tertentu.

Linda dan Richard Eyre dalam bukunya Mengajarkan Nilai kepada Anak-Anak, Jakarta, Gramedia 1999 menyatakan moralitas untuk anak lebih banyak diajarkan lebih dulu lima tahun sebelum di sekolah dasar, dan orang tua selama empat belas atau lima belas tahun pertama hidup anak-anak mereka, mempunyai potensi untuk secara drastis mempengaruhi anak-anak (baik melalui contoh maupun konsep) dibanding orang lain. Linda dan Richard Eyre meyakini bahwa anak-anak boleh saja tumbuh dan akhirnya mengembangkan nilai-nilai yang berbeda dari yang dianut dan diajarkan orang tua mereka. Tapi anak-anak itu pasti dengan sadar selalu menggunakan nilai-nilai anutan dan ajaran orang tua mereka sebagai pembanding atau titik tolak.

Bahwa pendidikan harus meliputi aspek kognitif, afektif dan psikomotorik sehingga peserta didik mendapatkan kemampuan yang komprehensif. Apabila paradigmanya telah seperti ini tentu karakter akan terbangun dengan baik pada anak. Kenyataannya masih sering terjadi kerancuan antara karakter, kebiasaan (habit) dan perilaku (behavior). Bedanya karakter terbentuk karena adanya unsur kesadaran, penghayatan nilai dan pengorganisasian nilai sehingga pada akhirnya terjadi karakterisasi diri. Sama perilakunya, tetapi kebiasaan yang muncul semata karena pembiasaan, anak melakukannya tanpa memiliki perasaan positif terhadapnya. Sedangkan jika berawal dari kesadaran dan berlanjut dengan penghayatan nilai, perilaku tersebut menjadi perilaku yang diharapkan (expected behavior) oleh anak itu sendiri. Ketika menjadi kebiasaan, ia memperkuat perasaan positif anak untuk berperilaku serupa, lagi dan lagi. Kementrian Pendidikan Nasional Indonesia telah menuliskan panduan pendidikan karakter yang bisa Anda gunakan sebagai referensi. Untuk mengunduh (download) dan membacanya, silahkan klik disini.

Disatu sisi, kenyataan dilapangan dan persoalan serius lainnya yang perlu kita cermati untuk dicarikan solusi bersama adalah dalam hal pembangunan manusia Indonesia. Dalam indeks pembangunan manusia, Indonesia masih tertinggal dari negara-negara lain di tingkat ASEAN. Human Development Index yang dikeluarkan oleh UNDP (United Nations Development Program) pada 2005 menempatkan Indonesia jauh di bawah Singapura (urutan ke-25), Malaysia (ke-61), Thailand (ke-73), bahkan Vietnam (ke-108). Indonesia menduduki peringkat ke-110. Di sisi lain Indonesia juga mengalami masalah pelik tentang kemiskinan. Data dari Biro Pusat Statistik tahun 2005 menyatakan bahwa 18 juta keluarga di Indonesia masuk sebagai kategori miskin. Artinya bila satu keluarga berjumlah tiga orang, berarti jumlah penduduk miskin mencapai sekitar 54 juta jiwa atau 21 persen dari 250 juta total penduduk Indonesia.

Ilmu pengetahuan dan teknologi terus berkembang, penelitian-penelitian baru di semua bidang terus berjalan dan memunculkan temuan-temuan baru. Tentu kita tidak ingin melihat generasi mendatang kita hanya duduk di pinggir, rendah diri dan hanya sekedar penonton yang tidak mengerti, tidak diperhitungkan dan tidak terlibat mewarnai kehidupan mendatang. Kita ingin generasi yang kita didik menjadi bintang utama di panggung pentas peradaban. Ilmu bermanfaat, pendidikan berkualitas dan visi besar yang Anda berikan akan menyumbang kontribusi sangat besar terhadap peradaban yang unggul, yang akan kita ciptakan bersama.

Visi yang ambisius umumnya akan memberi daya dorong yang kuat dan daya jelajah yang jauh. Bill Gates dengan Microsoft-nya memiliiki visi dengan menghadirkan PC di setiap meja di seluruh dunia. Larry Page dan Sergey Brin dengan Google-nya memiliki visi menghadirkan informasi terlengkap, tercepat dan paling relevan yang mudah diakses oleh siapa saja di seluruh dunia. Mike Lazaridis pendiri RIM Blackberry memiliki visi untuk membuat informasi terhubung dimana saja dan kapan saja dengan perangkat mobile Blackberry-nya. Steve Jobs dengan Apple Computernya memiliki visi untuk memproduksi produk yang berkualitas, paling mutakhir, paling inovatif dan menjadi pioneer meskipun sebanding dengan harga yang dibayarkan, sehingga bisa diaplikasikan pada rentang waktu cukup lama. Malaysia memiliki visi untuk bisa mengalahkan kemajuan Singapura, sedangkan Singapura memiliki visi menjadi negara paling inovatif di dunia.

Menyaksikan generasi penerus kita menjadi manusia-manusia bermanfaat yang berperan penting dalam memajukan peradaban dunia tentu membanggakan, menjadi amal ibadah Anda dan akan lebih abadi, daripada sekedar menulis nama Anda di batu nisan kelak.

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s