Uncategorized

PERNIKAHAN

PERNIKAHAN

Allah berfirman Dalam Al Quran Surah 30 ayat 21:

“Diantara tanda-tanda keangungan Allah, ialah Dia ciptakan bagimu, dari jenis-jenismu sendiri, pasangan-pasangannya. Supaya kamu hidup tentram bersamanya, dan Allah jadikan bagimu cinta dan kasih sayang. Sesungguhnya dalam hal itu ada tanda-tanda bagi orang-orang yang mau berfikir”. [QS 30 : 21]

Ayat ini ditempatkan Allah pada rangkaian ayat tentang tanda-tanda kebesaran Allah di alam semesta. Tentang tegaknya langit, terhamparnya bumi, gemuruh halilintar dann keajaiban penciptaan manusia. Dengan ayat ini Dia ingin mengajarkan kepada kita betapa Dia dengan sengaja menciptakan kekasih yang menjadi pasangan hidup manusia yang bersedia berdiri dengan setia disamping kita, yang mau mendengar bukan saja kata-kata yang diucapkan, melainkan juga jeritan hati yang tidak terungkapkan, yang mau menerima perasaan tanpa pura-pura, prasangka dan pamrih, yang mampu meniupkan kedamaian, mengobati luka, menopang tubuh lemah dan memperkuat hati.

Allah menetapkan suatu ikatan suci, yaitu Akad Nikah, agar hubungan antara pecinta dan kekasihnya itu menyuburkan ketentraman, cinta dan kasih sayang. Dengan dua kalimat yang sederhana ?Ijab dan Qabul? terjadilah perubahan besar: yang haram menjadi halal, yang maksiat menjadi ibadat, kekejian menjadi kesucian, dan kebebasan menjadi tanggung jawab.

Maka nafsu pun berubah menjadi cinta dan kasih sayang. Begitu besarnya perubahan ini sehingga Al Qur?an menyebut Akad Nikah sebagai Mitsaqon Ghalidon [perjanjian yang berat].

Hanya 3 kali kata ini disebut dalam Al Qur’an. Pertama, ketika Allah membuat perjanjian dengan Nabi dan Rasul Ulul ?Azmi [QS 33 : 7]. Kedua, ketika Allah mengangkat bukit Tsur diatas kepala Bani Israil dan menyuruh mereka bersumpah setia di hadapan Allah [QS 4 : 154].   Dan Ketiga, ketika Allah menyatakan hubungan pernikahan [QS 4 : 21].

Peristiwa Akad Nikah bukanlah peristiwa kecil di hadapan Allah. Akad Nikah tidak saja disaksikan oleh kedua orang tuanya, saudara dan sahabat-sahabat tetapi juga disaksikan oleh para malaikat di langit yang tinggi dan terutama sekali disaksikan oleh Allah Rabbul Izzati [Penguasa Alam Semesta]. Maka apabila kamu sia-siakan perjanjian ini, ikatan yang sudah terbuhul, janji yang terpatri, kamu bukan hanya harus bertanggung jawab kepada mereka yang hadir, tetapi juga dihadapan Allah Rabbul Alamin.

PENGERTIAN NIKAH

Menurut bahasa, nikah atau “nakaha”-yankihu” berarti kawin. Sedangkan menurut Istilah: Aqod yg menghalalkan pergaulan serta membatasi hak dan kewajiban serta menolong antara seorang laki-laki dan perempuan yang antara keduanya bukan mahrom (Fiqh Islam, H Sulaiman Rashid p 355)

Sunah Nikah

“Wahai para pemuda, barangsiapa yg mampu diantara kamu serta berkeinginan hendak kawin maka hendaklah ia kawin, karena sesungguhnya perkawinan itu dapt menundukkan pandangan (terhadap yg tidak halal dilihatnya) dan lebih bisa menjaga kemaluannya. Barangsiapa yg belum mampu hendaklah ia shoum (berpuasa) saja, sesungguhnya itulah jalan keluar yang terbaik” (HR. Bukhari-Muslim)

“Empat macam diantara sunnah-sunnah para Rasul yaitu : berkasih sayang, memakai wewangian, bersiwak dan menikah” (HR. Tirmidzi)

Pernikahan itu menjadi sangat dianjurkan bagi orang yang mampu dan takut akan tergoda kemaksiatan. Kemudian menjadi makruh bagi orang yang tidak mampu memberi nafkah, tapi memiliki keinginan untuk menikah. Namun pernikahan itu menjadi haram dilaksanakan untuk tujuan dan niat yang buruk dan menyakiti pasangannya.

Kecaman Kaum yang Membenci Pernikahan

“Nikah adalah sunnahku, barangsiapa yg membenci sunnahku (nikah), maka dia bukan termasuk dariku (HR Bukhari)

Rukun Nikah

1. Shighot aqad :  – perkataan dr pihak wali perempuan…..

“Saya nikahkan   engkau….

2. Wali: bapak dari calon istri atau paman, saudara kandung laki-laki

3. Saksi

a) 2 orang saksi

b) 2 orang laki-laki yang adil

Syarat Saksi: Islam, baligh, Berakal, adil dan merdeka

4. Mahar

Mahar atau mas kawin atau apa yg diberikan pada   calon istri untuk menghalalkan pergaulannya

“ Berikan mahar kepada perempua n (yg kamu nikahi) sebagai pemberian dengan kerelaan”

Persiapan Pernikahan

Pernikahan bagian dari proses yang akan dijalani sebagian besar orang. Menikah perlu persiapan dan kesiapan. Kematangan suami dan istri dibutuhkan, sudah dianggap orang dewasa dan tidak perlu takut dan juga tidak terlalu berani tanpa persiapan.

Bekal Mental:

– Berusaha menjadi pribadi sholeh/hah

– Siap menanggung segala tanggung  jawab & risiko

– Motivasi & niat yg ikhlas

Bekal Ilmiah

– Mengetahui ttg Fiqh Nikah (hukum-hukum nikah dan thaharah

– Pemahaman umum tentang nikah (Kesehatan Reproduksi)

– Penyelesaian permasalahan kembali kpd Al’quran & As Sunnah

– Bekal Ketrampilan & skill

– Bekal maisyah (nafkah) bagi suami:

tidak begitu penting bekerja tetap tapi tetap untuk bekerja & berusaha

“Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak (menikah) dari hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. JIKA MEREKA MISKIN ALLAH AKAN MENGKAYAKAN MEREKA DENGAN KARUNIANYA. Dan Allah Maha Luas (pemberianNya) dan Maha Mengetahui.” (An Nuur 32)

– pengaturan keseimbangan penghasilan dan pengeluaran (jangan sampai besar pasak daripada tiang)

Karakter Pemuda/i Sholeh/hah (kriteria pokok)

1. Aqidah yg lurus

2. Sangat taat kpd Allah dan RasulNya

– Menjaga ibadahnya

3. Memelihara akhlak & kebiasaan spt Rasul Saw

4. Menjaga waktu (disipilin waktu)

5. Kuat fisiknya

6. Tertib dlm urusannya

7. Wawasan berfikir yg luas

8. Bermanfaat bagi sesama

9. Mandiri, tidak bergantung orang lain

10.Bersungguh-sungguh dalam tiap urusannya

Karakter Pemuda Sholeh (kriteria  penting lainnya)

1. Memiliki sensitivitas sosial & urusan umat

2. Agenda amal ma’ruf nahi mungkar

3. Terlibat dalam kegiatan yg kemanusiaan,  da’wah dan sosial

4. Memiliki agenda upaya perbaikan diri & selalu menambah pengetahuannya

5. Sudah mulai ada upaya pendewasaan diri

6. Akhirat menjadi orientasi amal

7.  Birrul walidain (taat kpd ke2 orang tua)

8. Tidak permisivisme & konsumerisme

9. Tidak berfoya-foya

Karakter Pemudi Sholehah

1. Menutup aurat yg rapi

– Busana tdk terlalu tipis

– Busana tdk ketat

– Busana tdk menyerupai busana laki-laki, orang kafir

2. Tdk memakai parfum yg merangsang dan tidak berhias yg berlebihan

3. Tidak pamer (kecantikan, kekayaan, dll)

4. Mengetahui peran dasar perempuan (reproduksi) sbg Ibu

Tujuan pernikahan

– Utk menunaikan perintah Allah Swt

– Utk mendapatkan keturunan

– Utk meningkatkan ketaqwaan

– Utk mendptkan mawaddah warohmah

Manfaat pernikahan

– Sbg usaha utk menjaga diri agar   terhindar dr maksiat & dosa

– Menjalin persatuan umat

– Menyusun kekuatan Islam

– Terpenuhinya rasa aman, tentram dan bahagia

– Pertumbuhan masyarakat

– Menjamin perkembangan manusia di muka bumi

– Semangat berkarya tambah lebih besar

Konsekuensi Pernikahan

-Bertanggungjawab atas keamanan dan kesejahteraan keluarga (mencukupi tersedianya kebutuhan pangan, sandang, papan, pendidikan, sosial, keimanan)

– Mengutamakan kepentingan keluarga drpd kepentingan pribadi

– Ikhlas menerima kehadiran anak dg segala kerepotannya

– Siap menjadi pendidik generasi

– Siap & ikhlas utk memimpin & dipimpin

– Siap memberi teladan baik

– Qonaa’ah dgn realita kondisi keluarga

Sabar menerima ujian

– Siap utk bekerjasama dg pasangan

– Siap utk mengalah & bernegosiasi dg pasangan maupun  dg anak

Cara Memilih Calon Istri/Suami

Mengutamakan dien

“ Rasulullah Saw bersabda” Wanita dinikahi karena 4 hal, karena hartanya, keturunannya, kecantikannya dan diennya. Maka nikahilah wanita atas dasar diennya niscaya kamu beruntung (HR Bukhari Muslim)

Cara Memilih Calon Istri/Suami

– Sebaiknya bukan dari keluarga/kerabat dekat

– Banyak kemungkinan terjadi mutasi gen—penyakit kongenital/kecacatan muncul

– Memperluas ikatan keluarga

-Mengutamakan kesamaan visi & pandangan hidup

-Mengutamakan yg sehat

– Mengutamakan yg memiliki sifat & kasih sayang

– Tidak perlu penjajakan dulu (pacaran)

– Perlu ta’aruf  utk mengenal pasangan & calon kedua keluarga besar

-Meminta pendapat orang lain yg lebih berpengalaman

– Mendengar pendapat2 & masukan dari teman, dan keluarga

– Sholat istikharoh dlm penetapan final calon istri atau suami

KASIH SAYANG

Sesungguhnya, apabila seorang suami memandang isterinya (dengan kasih & sayang) dan isterinya juga memandang suaminya (dengan kasih & sayang), maka Allah akan memandang keduanya dengan pandangan kasih & sayang. Dan apabila seorang suami memegangi jemari isterinya (dengan kasih & sayang) maka berjatuhanlah dosa-dosa dari segala jemari keduanya” (HR. Abu Sa’id)

KEPEMIMPINAN RUMAH TANGGA

Laki-laki adalah pemimpin di tengah keluarganya, dan ia harus mempertanggung jawabkan kepemimpinannya. Wanita adalah pemimpin di rumah suaminya dan ia harus mempertanggung jawabkan kepemimpinannya. [HR Bukhori dan Muslim]

ISTRI YANG BAIK

Istri yang paling baik adalah yang membahagiakanmu, saat kamu memandangnya, yang mematuhimu kala kamu menyuruhnya, dan memelihara kehormatan dirinya dan dirimu bila kamu tidak ada disisinya. Setelah Rasulullah SAW meninggal dunia, ada beberapa orang sahabat menemui Aisyah memintanya agar menceritakan perilaku Rasulullah. Aisyah sesaat tidak menjawab permintaan itu. Air matanya berderai, kemudian dengan nafas panjang ia berkata: “Kaana Kullu Amrihi Ajaba” [Aah? semua perilakunya indah].

Seorang isteri boleh memberi apa saja yang ia miliki. Tetapi, bagi seorang suami, tidak ada pemberian isteri yang paling membahagiakan selain hati yang selalu siap berbagi kesenangan dan penderitaan. Di luar rumah, sang suami boleh jadi diguncangkan oleh berbagai kesulitan, ia menemukan wajah-wajah tegar, mata-mata tajam, ucapan-ucapan kasar, dan pergumulan hidup yang berat. Ia ingin ketika pulang ke rumah, disitu ditemukan wajah yang ceria, mata yang sejuk, ucapan yang lembut dam berlindung dalam keteduhan kasih sayang sang isteri [seperti cerita puteri salju-nya Anderson]. Ia ingin mencairkan seluruh beban jiwanya dengan kehangatan air mata yang terbit dari samudera kasih sayang sang isteri.

KEMULIAAN WANITA SEBAGAI IBU

Rasulullah bersabda bahwa surga terletak dibawah kaki kaum Ibu. Maka apakah rumah tangga yang dibangun hari ini akan menjadi surga atau neraka, tergantung pada sang ibu rumah tangga. Rumah tangga akan menjadi surga apabila disitu dihiaskan kesabaran, kesetiaan dan kesucian.

Suami Harus Memuliakan Kaum Ibu

Rasulullah SAW adalah manusia paling mulia. Dan Aisyah, ia bercerita bagaimana Rasulullah SAW memuliakannya: ?Di rumah, kata Aisyah, ?Rasulullah melayani keperluan  isterinya, memasak, menyapu lantai, memerah sesu dan memebrsihkan pakaian. Dia memanggil isterinya dengan gelaran yang baik?. Setelah Rasulullah SAW meninggal dunia, ada bebarapa orang sahabat menemui Aisyah, memintanya agar menceritakan perilaku Rasulullah SAW. Aisyah sesaat tidak menjawab pertanyaan itu. Air matanya berderai kemudian dengan naafas panjang ia berkata: ?Kaana Kullu Amrihi Ajaba?? [Ah?semua perilakunya indah]. Ketika didesak untuk menceritakan perilaku Rasul yang paling mempesona, Aisyah kemudian menceritakan bagaimana Rasul yang mulia di tengah malam bangun dan meminta ijin kepada Aisyah untuk shalat malam? Ijinkan aku beribadah kepada Rabb-ku? ujar Rasulullah SAW kepada Aisyah. ?Yang paling baik diantara kamu adalah yang paling baik dan lembut terhadap keluarganya?. (HR Bukhari)

Saat di Padang Arafah, saat haji wada? Rasulullah menyampaikan khotbah perpisahannya & perhatikan apa yang diwasiatkannya pada waktu itu, ?Wahai manusia, takutlah kepada Allah dalam urusan wanita, Sesungguhnya kamu telah mengambil mereka sebagai isteri dengan amanat Allah. Dia halal-kan kehormatan mereka dengan kalimat-Nya. Sesungguhnya kamu mempunyai hak atas isterimu, dan isterimupun berhak atas kamu. Ketahuilah aku wasiatkan kepada kalian untuk berbuat baik terhadap isteri kalian. Mereka adalah penolong kalian. Mereka tidak memilih apa-apa untuk dirinya dan kamupun tidak memilih apa-apa dari diri mereka selain dari itu. Jika mereka patuh kepadamu, janganlah kamu berbuat aniaya kepada mereka?. [HR. Muslim dan Turmudzi]

Mulianya Ibu di Hadapan Allah

Bila seorang wanita meninggal dunia, dan suaminya ridho sekali dengan tingkah lakunya semasa hidupnya, maka wanita itu masuk surga?. [HR. Turmudzi dan Ibnu Majah]

KETEGUHAN DALAM BADAI

Suatu saat, kelak bila perahu rumah tangga bertubrukan dengan kerikil tajam, bila impian remaja menjadi kenyataan yang pahit, bila bukit-bukit harapan diguncangkan gempa cobaan, tetaplah teguh disamping sang suami, tetaplah tersenyum walau langit semakin mendung. Hal ini disebabkan oleh kesalahan diri suami atau istri sendiri.

Seorang suami juga sering melakukan ‘Al-bagyu’ Al-bagyu’ adalah berbuat sewenang-wenang, berbuat dzalim/aniaya terhadap orang lain. Al-bagyu yang paling dimurkai Allah adalah berbuat dzalim kepada isteri sendiri, yaitu menelantarkan isteri, menyakiti hatinya, merampas kehangatan cintanya, merendahkan kehormatannya, mengabaikan dalam mengambil keputusan, dan mencabut haknya untuk memperoleh kebahagiaan hidup bersama-sama. Karena itulah Rasulullah mengukur tinggi rendahnya martabat seorang laki-laki dari cara ia bergaul dengan isterinya, Nabi yang mulia bersabda: ?Tidak akan memuliakan wanita kecualli laki-laki yang mulia, dan tidak akan merendahkan wanita kecuali laki-laki yang rendah pula?.

Dari pihak istri,menuntut agar suaminya membahagiakan mereka. Jarang terpikir oleh mereka bagaimana membahagiakan suami. Padahal cinta dan kasih sayang akan tumbuh dan subur dalam suasana ?memberi? bukan ?mengambil?. Cinta adalah ?sharing? saling membagi. Cinta tidak akan diperoleh kalau yang ditebarkan adalah kebencian. Kasih sayang tidak akan dapat diraih bila yang disuburkan adalah dendam dan  kekecewaan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s