Uncategorized

Menjembatani Langit dan Bumi

Kebijakan-kebijakan pemerintah yang melakukan divestasi Indosat, privatisasi asset-asset negara, menaikkan harga-harga BBM, Tarif Dasar Listik (TDL), Telepon yang menyebabkan kenaikan di berbagai sektor lainnya. Semakin menegaskan jarak antara pemerintah dengan rakyat yang jelas-jelas menolak semua kebijakan tersebut. Rakyat berpikir, semua kebijakan pemerintah itu tak satupun yang didasari atas kepentingan jangka panjang, atas kepentingan dan kemaslahatan orang banyak, melainkan kepentingan sesaat yang semakin memburukkan keadaan rakyat sudah terperosok selama sekian tahun sejak krisis ekonomi melanda negeri ini.

Kebijakan pemerintah dan harapan rakyat ibarat langit dan bumi. Yang pada kenyataannya, selama malaikat pesuruh Allah belum meniupkan sangkakala pertanda hari akhir, tidak akan pernah langit menyatu dengan bumi. Namun jika secara fisik keduanya tidak bisa bertemu, bukankah masih ada harapan kesenyawaan itu tercipta ketika hati dan pikiran orang-orang yang dilangit menjemput yang di bumi? Jika terlalu berat bagi yang dibumi untuk menghusung hati ke atas, bukankah lebih ringan bagi yang berada diatas untuk turun?

Penguasa yang cerdas selalu peduli terhadap pola pikir rakyat yang diperintahnya. Itulah salah satu kunci keberhasilan suatu kepemimpinan yang paling mendasar. Saat ini, pemerintah mempunyai pola pikirnya sendiri, sementara masyarakat juga memiliki pola pikirnya sendiri. Memaksakan pola pikir yang satu terhadap yang lain tentulah hanya akan melahirkan konflik. Selanjutnya, sudah pasti akan muncul berbagai praktek kekerasan yang timbul akibat tumbuhnya benih-benih perlawanan, ketidaksukaan dan perbedaan.

Maraknya aksi-aksi mahasiswa dan berbagai elemen masyarakat akhir-akhir ini, awalnya hanya sekedar ‘pemaksaan’ pola pikir pemerintah yang tidak sejalan dengan kepentingan rakyatnya. Pemaksaan yang dilanjutkan dengan sikap tegas dan represif kekuatan kekuasaan terhadap siapapun yang tidak sejalan, sesungguhnya merupakan potret awal keruntuhan. Teori manapun yang pernah kita pelajari berkenaan dengan perubahan mengajarkan, tidak akan pernah suatu perubahan (progresif) tercipta tanpa adanya kesatuan antara orang-orang yang di depan dengan mereka yang memberikan kepercayaan penuh kepada yang di depan. Membangun sebuah peradaban baru, perlu kesatuan yang utuh antara orang-orang berpendidikan, intelektual yang dipercaya sebagai pemimpin suatu bangsa, dengan anggota masyarakat dari bangsa itu sendiri (Ali Syari’ati).

Masalahnya kemudian, ada kesenjangan hubungan, tidak adanya kontak dari hati ke hati antara langit dan bumi. Sekali lagi, untuk sementara langit memang takkan pernah menjumpai langit, tapi sejauh apapun jarak itu bukankah tetap bisa tersatukan ketika hati dan pikiran keduanya duduk menyatu dalam satu kepentingan, dalam satu tujuan selayaknya orang-orang terdahulu di negeri ini melakukannya saat merumuskan bentuk dan kelahiran bangsa, ketika bahu membahu membidani perjuangan memerdekakan negeri bernama Indonesia ini.

Semestinya setiap penguasa belajar dari sejarah, bahwa kejatuhan yang pernah dialami oleh hampir semua pemimpin adalah saat langkahnya tak lagi seiring dengan orang-orang yang dipimpinnya. Begitu juga dengan negeri ini, mendiang Presiden Pertama RI, Soekarno sangat menyadari artinya rakyat bagi sebuah bangsa, pemahaman yang teramat mendalam dari Soekarno itu tercermin dari pidatonya pada tahun 1957: “Dulu itu kita semua adalah ‘rakyati’, dulu itu kita semua adalah ‘volks’. Api pergerakan kita dulu itu kita ambil dari dapur apinya rakyat. Segala pikiran dan angan-angan kita dulu itu kita tujukan kepada kepentingan rakyat. Tujuan pergerakan kita dulu itu adalah satu masyarakat adil dan makmur bagi rakyat.”

Kalaulah Allah begitu teramat sering menjumpai hamba-hamba-Nya di bumi, melihat langsung dari dekat setiap bulir air mata ummat yang menetes di sepanjang malam. Begitu juga dengan para malaikat (makhluk langit lainnya) yang penuh kearifan menghampiri anak-anak Adam dan melaporkan kepada Tuhan setiap aduan, keluhan atau bahkan jeritan ketidakberdayaan manusia menjalani hidup. Kalaulah para Nabi dan Rasul Allah memberikan teladan bagaimana menyentuh hati rakyat, mengangkat yang jatuh, menggandeng yang lemah dan bahkan mengutamakan kepentingan rakyat diatas semua kepentingan diri dan keluarganya. Jika pemimpin-pemimpin di negeri ini masih menjadikan Allah sebagai sesembahan mereka, masih percaya adanya malaikat-malaikat yang senantiasa hadir bersamanya, dan menempatkan Rasul sebagai teladan hidup, semestinya mereka mau turun ke bumi.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s