Pendidikan · Uncategorized

Konsep Pendidikan Ibnu Taimiyah

Konsep Pendidikan Ibnu Taimiyah

A. Kelahiran Ibnu Taimiyah beserta Jenjang Pendidikan

Ibnu Taimiah lahir pada masa pemerintah Al-Muluk Azh-Zhahir Bibrus yang ketika itu telah menguasai Mesir dan Syiria. Ketika Bibrus meninggal dunia,Ibnu Taimiah masih remaja, berusia 15 tahun.  Al-Muluk Azh-Zhahir adalah seorang raja muslim terkuat pertama setelah Shalahudin. Ia begitu getol terhadap urusan-urusan perjuangan. Ia menghancurkan musuh-musuh Islam yang beruntung. Mengenai orang ini, Ibnu Katsir telah mengatakan:

“Al-Muluk Azh-Zhahir ra adalah seorang raja yang penuh kewaspadaan dan  keberanian. Dia tidak pernah lelah terhadap musuh, baik siang maupun malam. Dia akan slalu menumpas habis setiap musuh Islam dengan segala kekutannya. Pada waktu itu Allah SWT berkenan memberikan pertolongan dan kemenangan terhadap Islam dan umatnya sekaligus memporak-porandakan musuh-musuhnya dari Eropa, Tatar dan kaum musyrikin. Allah SWT juga menghancurkan para penipu dan menghapuskan orang-orang fasik di negeri itu. Al-Muluk Azh-Zhahir tidak pernah melihat suatu kerusakan, kecuali dia akan berusaha keras untuk menghilangkannya.

Wilayah kekuasaannya  luas dan roda pemerintahannya berjalan dengan sangat mantap sehingga meluaslah kekuasaannya itu sampai sungai Efrat di sebelah timur dan akhir batas Sudan di bagian selatan. Mesir menjadi pusat pemerintahannya sedangkan Kairo tempat tinggal pemimpin yang mengendalikan dinamika ilmu pengetahuan, politik dan kebudayaan bagi dunia Islam pada masa itu. Hal itu berkat kemurahan Al-Muluk Az-zhahir dan pengangkatannya terhadap seorang khalifah dari kalangan Bani Abbas di situ. Al-Muluk Azh-Zhahir sangat berminat terhadap pembangunan sekolah-sekolah dalam jumlah yang sangat besar di Kairo, sehingga dapat menjadi tumpuan para peminat ilmu dari berbagai kawasan yang jauh.

Keadaan tempat lahirnya negeri yang terletak di antara Sungai Dajlah dan Efrat itu terbagi manjadi dua bagian :

  1. bagian selatan Irak Arab yang didalamnya mencakup Bagdad dan Basrah.
  2. Bagian utara dalam kebudayaan Arab Kuno disebut perkampungan Bakar dan perkampungan Madhar.

Keluarga Ibnu Taimiyah yang sejak dahulu telah dikenal dengan nama itu berasal dari Hiran yang terkenal dengan keilmuan dan agamanya. Keluarga itu, sejak diketahui sejarahnya, adalah penganut aqidah dan mazhab Hanbali. Di kampong itu mazhab Hanbali begitu kuat mengakar. Para ulamanya senantiasa sibuk mengajar, memberi fatwa, dan menulis.

Kakek Ibnu taimiyah yang bernama Abul Barakat Majduddin termasuk salah seorang imam mazhab Hanbali dan pembesar ulamanya. Bahkan sebagian ahli ilmu menyebutkan sebagai Mujtahid Mutlak. Al-Hafizh Adz-Dzahabi, seorang ahli biografi para tokoh, dalam bukunya An-Nubala’berkata :

”Majduddin bin Taimiyah lahir sekitar tahun 651 Hijriah. Mula-mula belajar ilmu kepada pamannya Al-Khatib Al-Wa’izh Asy-Syahir Fakhruddin bin Taimiyah. Kemudian dia berguru kepada para ahli hadits dan ulama Hiran serta Bagdad. Dia menguras habis ilmu mereka dan mendalami fiqh, sehingga dia menjadi pakar di bidang fiqh.

Saat dia sampai di Bagdad pada tahun 651 H, dalam perjalanannya untuk menunaikan haji, para ulama Bagdad sangat terkagum-kagum melihat kejeniusan dan kedalaman pengtahuannya.

Imam Adz-Dzahabi berkata :

”Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah sendiri telah bercerita kepadaku bahwa Syaikh Ibnu Maliki mengatakan, sesungguhnya Allah SWT telah melembutkan pemahaman kepada Majduddin Ibnu Taimiyah sebagaimana telah melunakan besi bagi Dawud as.’’Ibnu Taimiyah juga berkata :’’sesungguhnya kakekku (Majduddin) mempunyai suatu keistimewaan. Bahwa suatu ketika seorang ulama bertanya kepadanya tentang suatu masalah ilmiah. Kakekku berkata kepadanya bahwa jawaban masalah itu ada enam puluh cara. Kemudian ia mengetengahkannya satu persatu. Ulama itu berkata’’cukup engkau mengulanginya.’’Sungguh dia tercengang-cengan dengan kecerdasannya itu. Ibnu Taimiyah juga berkata,’’Sesungguhnya dia memang orang yang istimewa pada zamannya dalam menukil matan dan menghafal beberapa mazhab tanpa sedikit pun merasakan kesulitan dalam hal itu.’’Dia meninggal dunia pada tahun 652 H.

Salah satu peninggalannya yang termasyhur adalah kitab Muntaqiyul Akhbar yang menjadi referensi banyak ulama di setiap masa. Dalam penulisan kitab itu mengumpulkan hadits-hadits yang memuat soal Fiqh yang dijadikan dalil dan rujukan bagi ahli mazhab. Pada akhir hayatnya dia meminta seorang ulama mujtahid besar dari Yaman, yakni Al-‘Allamah Muhammad bin Ali Asy-Syaukani (wafat tahun 1255H) untuk mensyarahi kitab tersebut. Permintaannya itu dia kabulkan. Kemudian ia mensyarahinya menjadi delapan jilid tebal dengan judul Nailul Authar. Dia tergolong sebagai buku yang berbobot di bidang ilmu pengetahuan dan pengajaran kerena buku itu memang sangat analitis dan sistematis serta dijaminn oleh luasnya wawasan penulis dan kejelian hatinya.

Adapun ayah Ibnu Taimiyah adalah Syaikh Syihabuddin Abdul Halim bin Taimiyah. Dia seorang ulama ahli hadits dan ahli fiqih Hambali sekaligus seorang pengajar dan pemberi fatwa. Setelah berpindah dari Hiran ke Damsyiq, dia aktif mengajar di perguruan Al-Amwl yang dikenal sebagai markas para ulama dan guru besar. Tidak setiap ulama atau guru dapat mengajar di perguruan ini. Di perguruan ini seorang pengajar dituntut harus  mampu berbicara dan mampu membahas materi diluar kepala, tanpa harus membuka buku di tengah-tengah mengajar. Tentu saja ini harus didukung dengan daya ingat dan hafalan yang kuat. Demikianlah, dia menekuni kerja ini sampai tua. Dia tinggal di Darul Hadits dan meninggal pada tahun 682 H. Dikebumikan dipemakaman kaum sufi ra.

Kelahiran Ibnu Taimiyah dan perpindahan Hiran ke Damsyiq. Taqiyyuddin bin Taimiyah lahir pada hari senin, 10 Rabi’ul Awal 661 H dalam lingkungan keluarga yang terkenal agamis. Ayahnya memberi nama’’Abil Abbas”. Namun akhirnya terkenal dengan nama Ibnu Taimiyah. Nama itulah yang akhirnya terkenal di kalangan orang banyak sehingga nama aslinya terkalahkan. Masa ketika Ibnu Taimiyah hidup penuh dengan kekacauan dan kebengisan Tatar. Seluruh dunia Islam, merasa ketakutan dan kebengisan terhadap kebrutalan tentara Tatar. Hanya saja kawasan Irak dan Jazirah memiliki kisah tersendiri. Ketika Ibnu Taimiyah mendekati usia tujuh tahun, tentara Tatar hendak mengarahkan serangan ke Hiran. Keluarga Ibnu Taimiyah menyelamatkan diri dan meninggalkan kota itu dengan membawa apa-apa yang mereka punya, yakni pusaka ilmu pengetahuan dan keutamaan, serta keilmuan dan kesucian sebagai keluarga para ulama nan besar.

Boleh jadi Irak Pusat serangan dan kebrutalan Tatar. Maka mereka tidak berniat lagi untuk kembali ketempat itu. Karena Syiria merupakan negeri terdekat yang tidak terjangkau oleh kerusakan dan huru-hara itu dikuasai oleh raja-raja Mesir, maka keluarga Ibnu Taimiyah bermaksud hendak menuju kesana dan menjadikan Damsyiq sebagai tempat untuk menghindari fitnah dan kebrutalan Tatar.

Meskipun keadaan kacau mereka tidak lupa membawa serta memindahkan perpustakaannya yang amat berharga sebagai satu-satunya warisan ilmiah. Mereka tidak ingin berpisah dengan perpustakaan itu walaupun harus menanggung kepayahan dan kesulitan sebagai resikonya. Maka keluarga itu dilindungi oleh Allah SWT selama dalam perjalanan menuju Damsyiq.

Ketika keluarga ulama itu tiba di Damsyiq, langsung kabarnya tersebar dikalangan khalayak ramai. Para peminat ilmu itu ditempat itu memang telah mengenal nama Abil Barakat bin Taimiyah dengan segala prilakunya. Tidak berbedanya dengan halnya Abdul Hambali bin Taimiyah, juga dikenal dengan keilmuan dan keutamaannya dikalangan mereka. Dalam usianya masih muda dan kecil Ibnu Taimiyah telah selesai menghafal Al-Qur’an. Kemudian dia menyibukkan diri dengan mempelajari Fiqh, hadits, dan ilmu-ilmu Arabi. Dalam usianya yang masih muda dia sering menghadiri majelis pengajaran dan ceramah di samping ayahnya dan para ulama pada masa itu. Bahkan dia juga menyertai, mereka dalam diskusi ilmiah yang menyebabkan kejeniusannya dan kecermelangan hatinya makin nampak. Keluarga Ibnu Taimiyah telah terkenal intelek, banyak hafalan, dan jenius.

Ibnu Taimiyah mulai menapak jenjang pendidikan dengan penuh serius dan rajin. Para ahli sejarah mencatat bahwa Ibnu Taimiyah di masa kecil tidak begitu tertarik kepada segala permainan dan senda gurau sebagaimana anak kecil lainnya. Dia tak pernah menyia-nyiakan waktu untuk itu, tetapi dia pergunakan untuk menelaah soal-soal kehidupan sosial kemasyarakatan. Disamping itu mengamati setiap gejala yang terjadi maupun perangai manusia. Setiap karya Ibnu Taimiyah menunjukkan dengan jelas sekali bahwa dia memiliki wawasan yang luas dan pengetahuan yang mendalam tentang kehidupan dan masyarakat. Namun demikian dia tidak mengasingkan diri dari khalayak ramai dan terkungkung oleh kegiatan ilmiah.

Ibnu Taimiyah mempelajari berbagai disiplin ilmu, kemampuan berbahasa Arab semakin menonjol. Dia menguasai ilmu nahwu (tata bahasa Arab) dengan amat sempurna. Dia telah mengkaji seluruh isi Al-kitab, yakni sebuah buku nahwu karya Imam Sibawaih. Dengan dia telah menyatakan tidak sependapat dengannya dalam beberapa masalah. Dia bongkar segi-segi kelemahan dan kesalahan pengarangnya. Kemampuannya berbahasa Arab dengan tata bahasa yang benar telah dia buktikan dalam kegiatan keilmiahannya. Dia selalu memakainya dengan diskusi maupun setiap tulisan-tulisannya. Dia telah hafal sebagian besar kata mutiara maupun syair-syair bahasa Arab. Dia juga mengetahui prikehidupan jahiliyah dan orang-orang Arab kuno, disamping menguasai sejarah dan kerajaan-kerajaan Islam. Bahkan kemampuannya dalam berbagai bidang telah menambah banyak perbendaharaan yang dapat diambil oleh generasi muda.

Ibnu Taimiyah mempelajari kaligrafi, ilmu hisab dan ilmu olah raga. Dia belajar dengan penuh kegigihan dari para gurunya berbagai jenis ilmu agama seperti ilmu fiqh, ushul fiqh, fara’idh, hadits dan tafsir. Fiqh Hambali dia dapat dari bapaknya yang kebetulan gurunya sekaligud dibidang ini. Dia mendengarkan hadits, menghafal, dan menulisnya seperti kebiasaan yang berlaku pada saat itu. Kitab hadits yang pertama dia hafal adalah Al-Majma’Bainash Shahihain karya Al-Hamidi. Di samping itu dia juga belajar dari ulama-ulama Syam, mangambil dan merawikan hadits dari mereka.

Ibnu Abdul Hadi berkata:

“guru-guru dimana Ibnu Taimiyah belajar dari mereka lebih dari dua ratus orang. Di antaranya yang teristimewa adalah Ibnu Abdid Daim Al-Muqaddasi dan para tokoh setingkat dengannya. Dia belajar Musnad Imam Ahmad dan kitab-kitab Shahih enam secara berulang-ulang.

Ilmu tafsir adalah disiplin ilmu yang paling disukai oleh Ibnu Taimiyah. Minatnya terhadap ilmu yang satu ini nampak lebih tinggi. Dia sendiri mengaku mempelajari kitab-kitab lebih dari seratus kitab tafsir. Disiplin ilmu pengetahuan ini memang pantas sekalinya dengannya karena Allah SWT  telah memberinya berbagai Ilmu Al-Qur’an, merenungkannya makna-maknanya serta mengkajinya dengan penuh cermat. Bahkan dia tidak cukup hanya dengan mempelajari Al-Qur’an saja. Tetapi senantiasa memohon kepada Allah swt agar diberi nikmat kefahaman terhadap Al-Qur’an dan kelapangan dada untuk menerimanya. Tentang kerakusannya terhadap ilmu Al-Qur’an, dia sendiri mengatakan:

“Untik mengkaji satu ayat saja, aku menelaah sekitar seratus tafsir. Aku memohon kepahaman kepada Allah SWT dan aku berkata : “wahai Dzat yang telah mangajar kepada anak Adam dan Ibrahim, ajarilah aku’’. Kemudian aku pergi ke beberapa mesjid yang terpencil, aku sujud di atas tanah dan memohon kepada Allah SWT,’’Wahai Dzat yang telah mengajar Ibrahim, pahamkanlah aku.’’

Pada masa itu ilmu kalam yang dikibarkan oleh para penganut Al-Asy’ari memiliki pengaruh yang amat kuat terutama di Mesir dan Damsyiq. Sultan Salahuddin sendiri adalah seorang penganut Asy’ari. Sejak kecil dia senantiasa berpegang teguh memegang ajaran Quthbiddin Abi Al Ma’Ali Al-Asy’ari, penulis Ilmu’Aqaid. Di samping itu dia juga mengajarkannya kepada anak-anak dan keluarganya. Dia dan para khalifahnya di kalangan Bani Ayyub, sempat menekankan pada khalayak ramai agar berpegang teguh pada Aqidah Asy’ariyah. Dengan demikian, penganut Asy’ariyah mendapat perlindungan dari pemerintah pada masa Sultan Shalahuddin dan para penggantinya dari kalangan raja-raja Mesir. Sementara itu, pihak pengikut Hambali agak menyerang para pengikut Asy’ari, selalu mendasarkan pandangan mereka dengan pembuktian akal dan logika. Sedangkan pengikut Hambali berpegang dalam makna zhahir dari nash ayat maupun hadits. Terkadang nampak dalam mendalami ilmu kalamdan sama sekali tidak tertarik kepada ilmu logika. Mereka telah menduga bahwa orang-orang yang mendasarkan pemikirannya dengan logika tidak dapat mendalami ilmu tersebut. Ibnu Taimiyah menolak anggapan tersebut.

Pemuda yang gesit dan cerdas itu justru berusaha keras untuk mendalami ilmu kalam dan sekaligus menekuni ilmu-ilmu logika. Ia mengkaji dan mempelajari ilmu itu, sehingga menemukan titik kelemahan serta kesalahan pengarang dan tokohnya dari para ilmuwan Yunani. Selanjutnya ia menyanggah ilmu tersebut dan menulis beberapa buku yang sulit dibantah lagi. Jelaslah bahwa Ibnu Taimiyah tidak sekedar taklid kepada para pendahulunya dalam menggali Al-Qur’an dan As-Sunnah serta menetapkan ketinggian dan kebenaran agama.

Dia memberantas berbagai kesesatan ilmu maupun amalan dan menebasnya dengan pedang ilmiah. Kehadirannya pada masa itu sebagai orang yang berpengetahuan luas dan memiliki pemikiran yang cemerlang.dia juga mempelajari  peperangan dengan pedagang yang telah dilancarkan oleh musuh-musuh Islam di kalangan Yahudi, Nasrani para Filsof maupun ahli kebatinan. Dan dia juga mempelajari ilmu yang membuat para lawannya tunduk dan harus mengakui kelebihan dan kecerdasannya. Lawannya yang terkenal ‘’Al-Allamah Kamaluddin Az-Zamlikani berkata ‘’Sesungguhnya Allah telah melunakkan ilmu baginya (Ibnu Taimiyah) sebagaimana Dia telah melunakkan besi bagi Nabi Daud a.s. manakala Ibnu Taimiyah ditanya mengenai suatu ilmu, maka orang yang menilai dan mendengar akan mengira bahwa dia tidak mengetahui melainkan satu disiplin ilmu tersebut, dan menganggap pula bahwa  tidak ada yang mengira seorang pun yang dapat mengetahuinya sebagaimana dia.

Ketika Ibnu Taimiyah mendekati usia yang 22tahun, orang tuanya yang mulia Abdul Halim Ibnu Taimiyah meninggal dunia yakni pada tahun 682 H. hal demikian mengakibatkan kekosongan di tempat pengajaran di Darul Hadits Asy-Syukriyyah, akan tetapi hal itu tak berlangsung lama, pada tanggal 2 Muharram 683, kegiatan mengajar itu dilanjutkan oleh putranya yang cerdik. Dia mulai menyampaikan pelajarannya yang pertama, Ibnu Taimiyah ketika itu berusia 22 tahun. Namun dia telah memulai jenjang pengajarannya yang pertam dihadapannya pembesar ulama Damsyiq, mereka yang hadir di antaranya Syaikh Tajuddin An-Naja Al-Hambali dari kalangan Syafi’iyyah, Syaikh Zainuddin An-Naza Al-Hambali dari kalangan ulama Hanafi, dan lain-lainnya. Pengajaran yang pertama yang dilakukan Ibnu Taimiyah telah meninggalkan pengaruh yang mendalam para jiwa pembesar ulama tersebut. Hal itu menjadikan mereka mengetahui keluasan ilmu, kecerdasan, kemampuan, kefasihan dan keberanian seorang ulama muda, Ibnu Taimiyah.

Ibnu Katsir, salah seorang murid Ibnu Taimiyah, mencatat beberapa kejadian di sekitar tahun 683 H tentang pendidikan Ibnu Taimiyah itu sebagai berikut :

“merupakan suatu pelajaran yang amat besar yang telah dituliskan oleh Syaikh Tajduddin Al-Fazari,dengan tangannya sendiri karena dipandang banyak faedah dan kebaikan oleh para hadirin sungguh para hadirin mengakui kebrilian seorang yang relatif masih sangat muda Ibnu Taimiyah. “Syaikh Taqiyuddin itu pula pada hari jum’at, 10 Safar, setelah shalat Jum’at akan duduk di atas mimbar pada Universitas Al-Amwi  untuk menyajikan materi tafsir Al-Qur’an. Dia memulai pelajaran tafsir dari awal dan diikuti oleh banyak peminat dari berbagai ahli disiplin ilmu serta setingkat keagamaan, kezuhudan, dan ibadah. Tentu saja nama Ibnu Taimiyah kemudian melambung tinggi diberbagai penjuru negeri.

Perjalanan Ibnu Taimiyah menunaikan ibadah Haji pada tahun 692 H. bersama rombongan dari Syam (Damsyiq), kebetulan saat itu ia menjadi amir (pemimpin) mereka. Namun di Ma’an mereka diserang angin kencang yang amat dahsyat sehingga menyebabkan banyak yang tewas, kendaraan mereka sempat terbawa angin sorban-sorban melayang di atas kepala. Mereka sibuk menyelamatkan diri.

Ketika Ibnu Taimiyah sibuk dengan kegiatan belajar mangajarnya, dan perhatian orang kepadanya semakin besar, baik dari kalangan awam maupun para tokoh, maka pada tahun 698 H, untuk  pertama kalinya dihadapkan tantangan besar yang sangat mengelitikan kepribadiannya dan kenyakinannya.

Sebuah dari cuplikan dari kisah sehingga orang Damsyiq telah mengahap Ibnu Taimiyah, mereka meminta fatwa kepadanya tentang pembuktian ulama mengenai sifat-sifat Allah swt yang tersebut dalam ayat ‘ Tuhan yang maha pemurah, yang bersemayam di Atas Arsyi (Thaha;5)dan “Dia berkehendak (menciptakan) langit” (Al-Baqarah:29)maupun ayat-ayat lain yang serupa juga tentang pembuktian mereka mengenai hadits-hadits “Sesungguhnya hati-hati anak Adam itu di antara dua jari-jari Ar-Rahman’’. Hadits yang kedua ‘’Yang Maha Perkasa meletakkan kaki-Nya dalam api’’.

Ataupun mengenai hadits-hadits lain yang serupa dengannya di samping itu, mereka juga menanyakan pendapat ulama Ahlus Sunnah mengenai sifat-sifat Allah swt.

Syaikhul Islam menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka dengan sangat rinci dan jelas. Dia juga mengetengahkan pendapat para sahabat dan Tabi’in, imam-imam Mujtahid, para ahli ilmu kalam dan ulama-ulama terdahulu, seperti Imam Abdul Hasan Al-Asy’ari, Al-Qadhi Abubakar Al-Baqilani, dan Imam Haramain. Beliau berargumentasi dengan ucapan dan tulisan mereka. Bahkan dia menegaskan bahwa mereka adalah para ulama yang beranggapan bahwa mempercayai sifat-sifat Allah swt merupakan kewajiban agama. Mereka juga mengakui kebenaran sifat-sifat itu memang sesuai dengan keagungan dan ketinggian Dzat Allah swt.’’Tidak ada sesuatu yang menyerupai-Nya’’. Adalah jelas bahwa Allah swt suci dari keserupaan dan bentuk. Suci pula dari keadaan dan kekosongan. Jadi, sifat-sifat tersebut tidak bisa disamakan dengan sifat-sifat yang dimiliki oleh makhluk. Mereka juga tidak memungkiri maupun menamfikan sifat-sifat tersebut karena terlalu mensucikan. Mereka tidak pula me-nakwilkannya dengan takwil-an yang jauh dari kebenaran dan membiarkannya semata-mata sebagai kinayah maupun majaz.

Sebagaimana mereka beriman kepada Dzat Allah, dan sifat-sifat Nya ada tujuh : hayat (hidup), ilmur (mengetahui), qudrah(berkuasa), sama’(mendenger), bashar (melihat), kalam (berbicara), dan Iradah (berkehendak). Mereka juga beriman terhadap hakikat sifat tersebut yang memang sesuai dengan kebesaran dan keagungan Tuhan, sebagaimana mereka beriman terhadap lafazh-lafazh yang telah di-nash-kan seperti al-Wajh (wajah), al-yad (tangan), al-ghadhab (murka), ar-ridha (suka), fissama’ (di langit), ‘alal’arsy (di atas ‘Arsy) dan Faud (di atas), sebagai hakikat tanpa ada takwil maupun majaz. Mereka menetapkan kebenaran-kebenaran sifat tersebut dengan sesuatu yang sesuai dengan Dzat Allah Yang Maha suci, tidak ada sesuatu yang menyamai-Nya, yang tidak dapat dibatasi dan tidak pula disamakan.

Sesungguhnya mazhab dan pandangan para ulama Ahlu Sunnah tidak mengenal perbedaan dua macam sifat tersebut. Seperti halnya percaya kepada sifat hayat (hidup), Ilmu (mengetahui), Qudrah (berkuasa) dan lain-lainnya tidak mengharuskan bahwa yang dimaksudkan adalah kehidupan makhluk dan sesuatu yang baru dan lemah. Tidak pula seperti pengetahuannya terbatas maupun kekuasaannya yang naqish (kurang). Ini bukan berarti bahwa sekelompok orang yang mempercayai hakikat sifat-sifat tersebut lantas dinamakan al-mujassimah.

Ketika kaum muslimin mendengarkan kehadiran tentara Mesir dan Sultan Mesir di samping mendengar kaum tentara Tatar, maka hal itu membuat sangat gembira dan kedudukan mereka hilang seketika. Kemudian mereka bercita-cita untuk menghilangkan kerusakan yang telah tersebar di kalangan umat jahil dan penguasa yang rusak. Ibnu Taimiyah maju ke depan untuk memerangi kerusakan itu. Adapun wakil penguasa di Syam, Syaifuddin Qibjeq, dialah orang yang bertanggung jawab terhadap munculnya kedai-kedai arak dimana-mana dan tersebarnya peminum-peminum arak di kalangan penduduk pada masa pemerintahannya yang sangat singkat itu. Dia memang mengeruk keuntungan yang sangat besar dari kedai-kedai arak tersebut.

Ketika itu tidak ada seorang pun yang berani tampil untuk memberantas kerusakan tersebut. Bahkan di Damsyiq tidak ada, baik di kalangan hakim maupun pejabat lainnya. Maka Ibnu Taimiyah dengan segenap muridnya dan pendukungnya, berkeliling keseluruh negeri mengadakan operasi untuk memberantas kebejatan tersebut. Manakala ia melihat kedai-kedai mereka atau guci-guci tuak  dan menemukkan para peminumnya. Maka mereka akan menumpahkan dan memecahkan tuak serta menghajar peminumnya. Banyak kelompok jahat yang berhasil mereka bekuk. Tentu saja membuat penduduk menjadi lega.

Pada tahun 699 H tentara Tatar telah masuk Damsyiq. Mereka beraksi membuat kerusakan dan pembunuhan. Saat itu ada sekelompok orang-orang yang tinggal di gunung-gunung. Mereka dari kalangan pengikut Masehi, aliran Bathiniyah, dan aliran Isma’illiyah. Mereka suka terhadap kedatangan pasukan Tatar. Bahkan mereka turut membantunya dan menyakiti kaum muslimin. Ketika tentara kaum muslim terpukul mundur dan melewati perkampungan mereka, maka kelompok orang tidak mau membiarkan saja. Mereka juga menghajar kaum muslimin,merampas harta, pedang dan kuda. Bahkan banyak juga yang membunuh kaum muslimin, memang kelompok ini tidak dalam pengawasan pasukan. Mereka tidak mematuhi hukum-hukum agama, bahkan mereka tidak memeluk agama yang benar serta tidak mengharamkan apa-apa yang telah diharamkan oleh Allah swt dan Rasul Nya.

Keadaan di Damsyiq telah pulih kembali mendung kegelapan telah berarak pergi, maka Ibnu Taimiyah berpikir untuk mendidik mereka, orang-orang yang rusak, dan memperbaiki prilaku maupun kondisi mereka.

Salah satu bentuk upaya itu, wakil Sultan, Jamaluddin Aqusy Al-Afarm, dengan beberapa personil tentara Damsyiq pergi ke pegunungan Al-Jarad dan Kasarwan. Ibnu Taimiyah tidak mau ketinggalan. Dia disertai orang-orang dari kawasan Mutatawi’ah dan hawaranah telah bersiap untuk menyertai perjalanan Jamaluddin Aqusy, guna menemui penduduk yang tinggal di kawasan pegunungan tersebut.

Bila mereka telah sampai di tujuan, maka pimpinan penduduk tersebut datang kepada Syaikh Taqiyuddin Ibnu Taimiyah untuk meminta maaf atas prilaku mereka. Pertemuan itu banyak menjelaskan keadaan mereka. Pertemuan itu banyak sekali manfaatnya dan sangat menolong mereka. Mereka berjanji akan mengembalikan dan menyerahkan harta  ke Baitul Maal. Misi wakil Sultan dan Ibnu Taimiyah telah berhasil dan memuaskan.

Pada awal tahun 700 H terbawa berita ke Damsyiq bahwa tentara  Tatar akan kembali datang ke negeri Syam. Orang-orang pun menjadi ramai dengan hati mereka dan pikiran yang panik. Kemudian mereka berlarian ada yang ke Mesir, ada juga ke negeri lain. Untuk mencari perlindungan yang dapat menyelamatkan mereka dari kekejaman dan kebrutalan tentara Tatar, semua barang dan peralatan mereka membawa benda-benda simpanan dijual dengan harga sangat murah. Ongkos naik khimar dan transportasi ke tempat lain praktis melonjak naik. Persewaan onta dan khimar antara lima ratus dan seribu dirh am.

Dalam situasi demikian, Syaikh Ibnu Taimiyah dengan gigih mengadakan pertemuan-pertemuan besar di mesjid-mesjid jami’ untuk memberikan nasihat dan berbagai wejangan, yang intinya membakar semangat   untuk berjuang. Dia melarang untuk melarikan diri dan mencela sikap yang demikian itu. Bahkan dia menganjurkan agar kaum muslimin bersedia menginfakkan harta mereka demi membela kehormatan, negara, dan harta mereka.

Daripada biaya yang dikeluarkan untuk melarikan diri, lebih baik dikeluarkan di jalan Allah swt. Berjuang menghadapi Tatar adalah suatu kewajiban, secara berangsur-angsur keadaan mereka berubah, mereka kini memilih tetap tinggal dan berjuang.

Para ulama menyetujui Aqidah Al-Wasithiyah pada tanggal 8 rajab  Ibnu Taimiyah membaca risalah tentang aqidah. Para ulama membahas dan mengajukan pertanyaan mengenai hal itu kapada Ibnu Taimiyah. Akhirnya, mereka menyatakan bahwa aqidah Ahlus Sunnah. Maka Syaikh kembali ke rumah dengan terhormat. Bahkan masyarakat umum menyambutnya di sepanjang perjalanannya sebagaimana mereka melahirkan rasa cinta pada saat itu.

Kemuliaan akhlak Ibnu Taimiyah dan mengajarkan memberikan faedah. Setelah keluar dari penjara Syaikh Ibnu Taimiyah sibuk mengajar dan memberikan nasihat dia mulai membentuk majelis-majelis dan memeberikan ceramah baik rutin maupun tidak. Pemberian ceramah berlangsung enam bulan baik kalangan khusus maupun orang awam mereka merasa banyak mendapatkan masukan ilmu dan agama. Orang pun mulai melihat keikhlasan, keilmuan, dan kecerdasannya yang langka.

Pada tanggal 9 jumadil akhir 728 H. atas nama pemerintah, semua alat baca dan tulis dikeluarkan dari ruangan Syaikh. Pada awal bulan Rajab, semua alat dan berkas dari penjara dikirimkan ke perpustakaan Al-Adiyah Al-Kubra. Kurang lebih enam puluh jilid kitab dan empat belas buku tulis yang dipergunakan Syaikh untuk membaca dan mengarang buku.

Menulis dan mengarang dengan arang. Syaikh tidak mau tinggal diam dengan semua itu, ia tidak mau menyerah kepada keputusan pihak pemerintah. Ketika dijauhkan dengan alat-alat tulis, dia mulai menulis dengan arang pada kertas yang dipungut dari sana-sini. Bahkan ditemukan beberapa surat dan bukunya yang ditulis dengan arang dan tetap terpelihara. Dalam kondisi darurat dan sangat terjepit itu, dia tampak bersyukur dan rela dengan takdir Allah swt. Dia mengira hal itu merupakan suatu bentuk perjuangan pula. Dia tidak boleh lemah dalam kondisi macam apapun juga. Dalam sebuah risalahnya dia mengatakan :

‘’Aku dan segala puji bagi Allah, dalam suatu perjuangan besar di jalan-Nya. Bahkan, perjuanganku kali ini juga seperti perjuanganku menghadapi Qazan, Jabaliyah, Jahmiyah dan Ittihadiyah maupun lain-lainnya. Ini merupakan kenikmatan besar dari Allah swt yang dilimpahkan kepada kita semua. Akan tetapi, kebanyakan orang tidak mengetahui.’’

Ketundukan di hadapan takdir Allah, besarnya rasa memuji dan bersyukur. Dalam surat lain Syaikh nampak sekali betapa patuh di hadapan kekuasaan Allah  swt dan dia menerimanya dengan patuh rela dan syukur. Dia menyatakan :’’ semua telah ditentukan oleh Allah swt pasti mengandung kebaikan, rahmat, dan hikmah. Sesungguhnya Tuhanku Maha Mengetahui  terhadap segala sesuatu yang dikehendaki-Nya. Dia Maha Kuat, Maha Mulia, Maha Mengetahui dan Maha Bijaksana. Tidak ada seorang pun akan mendapatkan bahaya melainkan akibat dosanya sendiri. Setiap kebaikan yang engkau datang dari Allah swt, sedangkan keburukan yang datang darimu adalah dari kesalahan dirimu sendiri. Oleh karena itu, wajiblah bersyukur bagi orang menghendakinya tambahan nikmat. Seseorang  haruslah selalu bersyukur atas nikmat Allah di setiap keadaan serta memohon ampun atas segala dosanya. Sesungguhnya istighfar (memohon ampun) itu akan menjauhkan azab. Allah tidak akan memutuskan sesuatu bagi seseorang melainkan demi kebaikan untuknya. Jika dia mendaparkan kemakmuran, bersyukur dan jika ditimpa kesulitan bersabar, maka semua itu baik baginya.’’

Dengan demikian, justru akan semakin nampak kebenaran pendapatnya. Diyakini bahwa sebenarnya dia tidak mempunyai kesalahan suatu apapun. Hanya saja, dia tidak mau tunduk kepada raja dalam masalah syari’at (agama). Dia tetap gigih mempertahankan sesuatu yang dianggapnya benar. Memang itu terlalu berani. Dan itu sesuai dengan keimanan dan ketauhidannya  dia juga mengatakan :

‘’Agaknya mereka itu terlalu terpancang kepada perintah sebagian makhluk. Padahal, jika memang perintah itu bertentangan dengan perintah Allah dan rasul-Nya, tidak perlu didengar. Bahkan, jika kita tidak mengikutinya dalam sesuatu yang bertentangan dengan perintah Allah dan Rasul-Nya. Ini telah terjadi kesepakatan segenap kaum muslimin.

Hari-hari terakhir Syaikh. Sesungguhnya ketika Syaikh telah menghatamkan delapan puluh kitab, dia memulai membaca Al-Qur’an lagi. Dan Syaikh meninggalkan aku dan duduk mempelajari Al-Qur’an bersama dengan Syaikh Abdullah bin Muhib dan Abdullah Az-Zar’i. Keduanya adalah bersaudara. Sama-sama shalih dan takwa. Syaikh sangat kagum terhadap bacaan keduanya. Hampir-hampir Syaikh menghabiskan masanya untuk belajar bersamanya.

Begitu wakil Damsyiq mendengar kesakitan Syaikh, langsung hendak menjenguknya. Dia minta izin untuk masuk, lalu diizinkan setelah masuk dia meminta maaf  kepada Syaikh karena dia pernah menyakiti Syaikh kemudian Syaikh menjawabnya:

‘’sesungguhnya aku telah menghalalkanmu dan semua orang memusuhiku. Karena mereka tidak tahu bahwa aku dalam kebenaran. Aku juga memaafkan Sultan An-Nashir, yang telah memenjarakanku. Saya yakin dia melakukannya bukan atas kemauan sendiri. Pendeknya. Aku telah memaafkan semua orang yang memusuhiku kecuali orang yang memusuhi Allah dan Rasul-Nya.’’

Sakit itu berlangsung hampir tiga minggu, hingga akhir ajalnya datang menjemputnya, pada malam 22 Dzul Qaidah 728 H. dia  meninggal dunia dalam usia 67 tahun. Setiap orang di dunia akan mati. Dan kekal wajah Tuhanmu yang memiliki keagungan dan kemuliaan.’’

Seorang Muadzin Qal’ah segera naik menara. Dengan suara terpatah-patah dia mengumumkan kematian Syaikh. Tentu saja semua orang digemparkan berita itu banyak orang berziarah. Sebagimana mereka mencium kepala Syaikh dan ubun-ubunnya yang telah lama menyentuh dan menyembah Tuhan. Orang-orang banyak membaca Al-Qur’an sebelum dimandikan. Para wanita dibolehkan menziarahi setelah kaum laki-laki. Lalu dimandikan hanya orang-orang mendekat.

Syaikh dishalatkan di Qal’ah. Yang pertama menshalatkan adalah Syaikh Muhammad bin Tamam. Usai dishalati, jenazah dikeluarkan. Seluruh jalan antara Qal’ah dan mesjid penuh dengan manusia. Sehingga jenazah tiba pukul empat sore diletakkan di mesjid. Para pejabat turun tangan mereka menjaga mengingat selalu ramai berdesak-desakan. Bahkan keadaan itu makin bertambah lagi sambil berteriak keras’’Inilah jenazah Imamus Sunnah’’. Banyaknya manusia mengeluarkakan  gemuruh suara.

Dishalatkan lagi setelah shalat dzuhur di mesjid jami Al-Amwi. Kemudian jenazah dikuburkan di Ash-Shufiyyah (makam orang-orang sufi) dikebumikan disebelah saudaranya Syarafuddin Abdullah. Jenazah dikebumikan sebelum ashar. Shalat ghaib untuk Ibnu Taimiyah dilakukan di hampir seluruh wilayah Islam, baik dibelahan utara maupun timur.

B. Keistimewaan Ibnu Taimiyah yang Menonjol

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah memiliki berbagai ilmu Islam yang ada pada masanya. Dia sangat menguasai ilmu tafsir dan hadits. Keahliannya di berbagai bidang ilmu menunjukkan daya ingat dan kecerdasannya yang langka. Pada masa itu, ilmu-ilmu Islam sudah amat luas. Bahkan telah meluas pula naqliyah, yang sepertinya tidaklah mungkin seseorang dapat menguasai semuanya dan berani berbicara berbagai macam masalah di depan para tokoh. Dia tidak akan berani berbeda pendapat dengan orang alim sebelumnya mengenai suatu masalah, kecuali dia memang memiliki daya ingat serta kecerdasan yang beriliant. Kekuatan pikir dan daya ingat yang Allah swt berikan pada Ibnu Taimiyah memungkinkan dia untuk menguasai berbagai bidang ilmu : tafsir, hadits, fiqh, mantiq, teologi, sejarah, atsar, rijal(rawi), bahasa dan nahwu.  Dia telah mempelajari berbagai macam buku ilmiah serta dapat mengingatnya dengan sangat sempurna. Apalagi seluruh hidupnya memang dia pergunakan untuk sibuk dalam kegiatan keilmuannya dan menyusun atau menulis buku-buku.

Kemampuan mengingat dan kecerdasan Syaikh yang luar biasa itu telah diakui oleh para ulama yang hidup pada masanya. Mereka, bahkan ulama-ulama kemudian, telah sepakat mengacungkan jempol terhadap hafalan, kecepatan memahami, dan kecerdasan Syaikh. Kawan sekelasnya sendiri Ilmuddin Al-Barzali, mengatakan,’’hampir setiap apa yang dia dengar, pasti dia hafal. Dia memang amat cerdas dan banyak hafalannya.’’

Al-Hafizh Adz-Dzahabi, salah seorang ulama rijalul-hadits dan tarikh (sejarah), mengatakan pula,’’Aku tidak melihat orang yang sanggup menyodorkan matan-matan hadits melebihi dia, sunnah bagaikan di depan kedua mata dan di ujung lidahnya.’’

Banyak saksi atas kekuatan ingatan dan hafalan Ibnu Taimiyah terhadap matan-matan hadits. Seseorang yang hidup semasa dengannya berkata :’’setiap hadits yang diketahui oleh Ibnu Taimiyah, maka bukanlah hadits.’’ Diakui menghafal berbagai macam hadits adalah sesuatu yang amat sulit. Akan tetapi kemampuan keilmuan dan ingatannya dibidang hadits dan hukum mengangkatnya menjadi Hafizh Akbar (orang yang banyak menghafal hadits) pada masanya.

Ibnu Taimiyah mendalami semua ilmu Islam maupun bidang-bidang yang ada  pada zamannya. Penguasaannya terhadap berbagai bidang ilmu itu didukung oleh daya ingat, kecerdasan, dan sikap keilmuan yang diwarisi dari orang tuanya, disamping usahanya yang gigih dalam belajar serta karena mendapatkan taufik dari Allah swt.

Kemandirian dan keberanian dalam berpikir. Keberanian dan keperkasaan Ibnu Taimiyah menentang bahaya maut  membuat orang-orang semasanya geleng-geleng kepala. Meski tentara maupun komandan Turki sekalipun. Keberanian itu dia tampakkan ketika menghadapi pasukan Mongolia dan bertempur dengan mereka. Qibjeq sendiri, seseorang panglima tentara Turki kanamaan, dibuat tercengang oleh keberanian Syaikh yang tidak tertanding dalam rangka mempertahankan ilmu.

Para pembaca dari kalangan cendikiawan mengakui bahwa Ibnu Taimiyah seringkali mengetengahkan gebrakan-gebrakan baru dalam beberapa masalah yang kemudian mengundang polemik di kalangan cendikiawan pada masa itu. Banyak pula orang yang sependapat dengan pemikiran-pemikirannya itu. Akan tetapi keberaniannya dalam melontarkan pendapat lewat tulisan-tulisan maupun ceramah-ceramahnya sering membuat orang mengangkat alis. Bukan saja berupa penjelasan soal tauhid, tetapi juga larangannya terhadap isthighatsah (meminta pertolongan) kepada selain Allah, pemberantasan Bid’ah dan kemungkinan yang telah mengakar pada zamannya. Kemudian dia menyerang dengan pena dan lidahnya terhadap faham Wihdatul Wujud serta teori Hulul dan Ittihad, di samping membuka kedok kalangan ahli tasawuf dan ahli Bid’ah yang mencoba memasukkan ajaran-ajaran yang tidak benar.

Sungguh dia sangat berani meneriakkan berbagai masalah yang dilihatnya sebagai suatu kebenaran. Baik yang berkaitan dengan pembahasan-pembahasan ilmu kalam maupub mazhab-mazhab fiqhiyah. Penyampaian yang tegas untuk menyatakan aqidah dan pendapat-pendapatnya serta kepedihan yang harus dia pikul demi hal itu saja menunjukkan keberaniannya, akan tetapi juga kebesaran dan jiwa kepemimpinan yang dimilikinya.

Mengenai keberanian dan keteguhan Syaikh di bidang ilmu agama, Al-Hafizh Adz-Dzahabi menyebutkan sebagai berikut :

‘’ia melontarkan beberapa statemen yang dibekukan oleh para pakar terdahulu atau yang terkemudian. Mereka merasa segan, tetapi dia berani melontarkannya. Oleh karena itu, beberapa ulama Mesir dan Syam (Syiria) mengajaknya berdiskusi dan menulis artikel sanggahan untuknya. Tetapi ia merasa gentar dan tidak mundur selangkah pun. Bahkan, ia mengatakan bahwa kebenaran yang terasa pahit yang telah digalinya dengan segenap kesungguhan dan ketajaman pemikirannya yang bersumber dari hadits dan berbagai pendapat ulama. Ia justru menunjukkan sikap wara’ dan kesempurnaan pemikirannya, serta rasa takutnya kepada Allah swt. Akhirnya Allahlah yang menyelamatkan.

Tidak diragukan lagi Ibnu Taimiyah punya kelebihan ilmu yang mendalam sebagaimana yang diakuinya oleh orang-orang yang semasa dengannya. Namun kelebihan utama membuat ia populer di antara teman-teman semasanya. Bahkan membuatnya diabadikan dalam sejarah, adalah bukan saja kedalaman ilmunya, tetapi kemandiriannya dalam berpikir, keberaniannya dalam membahas dan membuktikan, serta penyampaiannya yang amat berbobot. Dalam mempelajari berbagai bidang ilmu, dia melebihi kawan-kawannya. Akan tetapi dia memiliki cara yang sulit untuk diikuti dan cepat mencapai kedudukan tersebut. Ibnu Taimiyah ia mempelajari kitab kapunyaan Imam Sibawaih dengan sangat jeli. Ketika Abu Hiyan menyinggung masalah nahwu berdasarkan riwayat Sibawaih, Ibnu Taimiyah justru menjawabnya ‘’sesungguhnya dia bukan Nabi di bidang nahwu. Bahkan dia ada didelapan puluh empat dalam kitab.

Adapun Ibnu Taimiyah tetap menggerak bendera, menyanggah mantiq (logika) dan filsafat Yunani. Dalam keadaan apapun dia nampak tidak terpengaruh olehnya. Bahkan dia menentang habis terhadap setiap masalah teori logika dan filsafat. Seperti termuat dalam bukunya Ar-Radd’ala Al-Manthiqin. Di situlah ia mencabuti setiap asas logika dan filsafat Yunani. Hampir setiap sisinya dia sering dengan panah-panahnya yang amat tajam.

Sesungguhnya telah lama pembahasan dan pengkajian terhadap bidang fiqh dan hadits. Namun terbatas pada hal-hal tertentu. Dan tidak ada seorang pun berani melampauinya. Kandungan ada dua macam ilmu itu juga telah lama berkembang, maka Ibnu Taimiyah datang. Dia mengetengahkan pandangan dalam banyak masalah fiqhiyah, yang telah dianggap sebagai sesuatu paten dan tidak memerlukan pemikiran atau pengkajian baru. Pengkajian dan pembahasan itu dia kemukakan pada kalangan ulama dengan penuh berani. Tentu saja hal itu mengusik kevakuman  pemikiran dan merangsang daya ilmiyah serta membuka  pemikiran dan pengajaran baru. Akhirnya Syaikh mengeluarkan fatwa atas dasar Al-Qur’an, As-Sunnah, dan Atsar para sahabat. Al-Hafizh Adz-Dzahabi yang nampaknya selalu memperhatikan kehidupan Ibnu Taimiyah

Keistimewaan lain yang dia miliki dia telah mengabdikan dirinya untuk agama. Selama dia hidup tak pernah menyibukkan diri untuk yang lainnya. Banyak kawan yang lain para pembesar yang mukhlis, masih menyibukkan diri dengan urusan-urusan pemerintah untuk mendapatkan keuntungan-keuntungan dunia atau gaji. Ibnu Taimiyah tidak pernah tertarik dengan semua itu. Baginya tiada urusan lain tetapi mengurusi ilmu agama, memberi fatwa, mengajar, memberi nasihat, memberi petunjuk, menyusun buku, dan membuktikan suatu masalah. Ketekunan dibidang agama dan keputusannya meninggalkan kegiatan dunia, diungkapkan oleh kawan semasanya sebagai berikut :

‘’dia tidak pernah berkumpul dengan orang dalam berjual beli, bermuamalah, berdagang, bercocok tanam, atau buruh. Dia juga tidak suka menjadi nadhir suatu harta wakaf, dia tidak menerima sumbangan untuk dirinya dari Sultan, amir, atau pedagang. Dia tidak pernah menyimpan dinar atau dirham, barang-barang atau makanan. Apa yang dia miliki dia wariskan adalah ilmu, meniru Sayidil Mursalin saw. Dia mengat akan mengatakan : ‘’ulama adalah pewaris para nabi. Sesungguhnya para nabi tidak mewariskan dinar atau dirham. Tetapi hanya mewariskan ilmu. Siapa yang mengambilnya maka dia telah mendapatkan suatu keuntungan yang besar.

Kesibukan pemikiran dan ketekunan terhadap ilmu dan agama yang menghiasi hidupnya (yang membuat sering keluar masuk penjara), membuat tidak tertarik menikah. Dia menempuh kehidupannya dengan membujang, karena sibuk mencari ilmu dan berjuang.

Terkadang dia sibuk memberikan fatwa kepada orang yang sibuk melanyani keinginan mereka hingga shalat dzuhur dengan berjamaah.

Demikian pula sepanjang hari, setelah shalat maghrib, dia mengajar hingga shalat isya’ dilanjutkan dengan kesibukan ilmu hingga larut malam. Di sela-sela itu, hari-harinya dia gunakan untuk berdzikir kepada Allah, memuji dan memohon ampun kepada-Nya.

Kesibukan berhidmat dengan ilmu, mengajar, dan memberi fatwa adalah makanan dan pakaian sehari-hari. Oleh karena itu, Sirajuddin bin Abi Hafesh berkata : ‘’sesungguhnya ilmu telah bercampur dengan darah dan dagingnya menyatu dengan seluruh tubuhny. Dia tidak meminjam ilmu, tetapi ilmu menjadi syi’ar baginya.

Keikhlasan dan ke-wara’-annya terbukti dengan dia memaafkan semua orang yang memusuhinya serta mengumumkannya dengan jelas.

‘’Aku halalkan setiap orang Islam yang menyakiti aku’’. Bahkan keikhlasan dan ke-wara’annya itu dapat kita ukur dengan melihat bahwa ia memaafkan orang-orang yang paling gigih memusuhinya. Yakni Qadhi Ibnu Makhluf, sekembalinya Sultan An-Nashir. Dia menganggap tidak pernah mempunyai masalah dengannya. Bahkan dia sempat melontarkan pujian kepada Qadhi serta segenap pegawai pemerintah dan ulamanya lewat sultan An-Nashir. Dengan demikian jelaslah bahwa setiap perbedaan pendapatnya adalah semata-mata berasaskan ilmu dari agama, tidak dicampuri oleh semangat nafsu dan permusuhan. Sungguh dia telah meninggalkan perbendaharaan ilmu dan karya-karya besar yang ahli ilmu. Dengan ketekunan dan keikhlasan dia menempuh kehidupan yang penuh pergolakan selama 67 tahun. Karena pengaruhnya yang sedemikian besar bagi kehidupan umat Islam, patut dia disebut sebagai pakar pembaharuan dalam sejarah Islam.

C. Keistimewaan Buku-Buku Ibnu Taimiyah

Adalah nampak jelas bahwa buku-buku Ibnu Taimiyah  memiliki beberapa ciri yang menonjol dibanding buku-buku para penulis lain di zamannya. Meski telah berumur beberapa abad ditempa oleh berbagai perkembangan dalam dunia ilmu dan pola pikir, buku-buku itu masih senantiasa berpengaruh kuat dari generasi ke generasi. Bukan saja disambut hangat pada zaman modern yang penuh dengan kemajuan seperti sekarang ini lebih dari itu yng mengagumkan. Ada empat keistimewaan yang menonjol dalam karya-karya tersebut :

Pertama, setiap orang yang membaca buku-buku Ibnu Taimiyah akan memiliki kesan bahwa penulisnya adalah seorang yang memahami tujuan-tujuan syari’at dan memiliki ruh agama. Dia menguasai berbagai sisi dan ushul (dasar) agama. Sehingga dia senantiasa mendasarkan setiap pembahasannya mengenai berbagai hal dengan alasan-alasan yang tiap pembahasannya mengenai berbagai hal dengan alasan-alasan yang tegas, kuat, menyakinkan, dan memuaskan. Dia lebih memberatkan ushul (dasar-dasar agama) daripada furu’ (cabang-cabang agama). Dalam setiap pembahasan dia memakai bahasa yang memberikan kesan kepada pembaca bahwa memang itulah tabi’at dan ruh agama yang sesuai dengan kehendak syari’at Muhammad secara sepontan dan pasti. Kelebihannya semasanya adalah penguasaannya terhadap kehendak-kehendak syari’at dan ruh agama serta penjelasannya yang detail. Apalagi dalam pembahasan mengenai akidah, ilmu kalam, maupun fiqh.

Kedua, buku –bukunya terasa hidup. Buku-buku itu tidak tertulis di perpustakaan atau di sebuah pulau yang jauh dari manusia. Ia ditulis dengan hiruk pikuk kehidupan sehingga orang membacanya menangkap gejala sosial yang diketengahkan oleh penulis.

Buku-bukunya mengisyaratkan kecenderungan, kecintaan dan keberanian, tampaklah bahwa penulis mempunyai pemikiran yang tajam serta hati yang pekadan dan dinamis. Gaya bahasa tafsirnya menandakan betapa Syaikh sangat akrab dengan kehidupan. Dia mengangkat ayat-ayat Al-Qur’an ke atas kehidupan manusia yang terjadi disekelilingnya, kemudian dia melemparkan pandangan-pandangannya. Para ulama berbagai kalangan mengakui bahwa jari-jari Syaikh berbuih keemasan dalam mengungkapkan ayat dan berbagai kenyataan. Hal itu dibuktikan oleh pengaruh karya-karyanya itu lebih dikagumi daripada karya-karya lainnya yang adakalanya memang tidak memiliki kelebihan serupa.

Ketiga, buku-buku Syaikh Ibnu Taimiyah cukup padat dan berbobot. Puluhan buku dan ratusan artikel menunjukkan bahwa tulisan-tulisannya Syaikh mengandung banyak ilmu pengetahuan sehingga pembaca tidak perlu cari referensi lain..

Pemikiran-pemikiran selalu didasarkan pada alasan-alasan ilmiah. Secara tidak sadar pembaca tenggelam ke dalam berbagai pendapat dan bukti yang tidak dapat disanggah lagi.

Keempat, ciri lain dalam buku Ibnu Taimiyah yang membedakan buku fiqh maupun teologi lainnya. Bahwa ia tidak terasa kering. Buku-buku selalu tampil dengan bahasa yang enak, tegas indah, dan secara tidak sengaja berbau retorik.

Penemuan baru dalam diri Ibnu Taimiyah dimata umum dikenal sebagai ahli ilmu kalam, fuqaha, muhaddits besar. Lebih dari itu orang banyak mengetahuinya dari buku-buku mengakui bahwa dia memang seorang ulama besar, berilmu luas, memiliki hujah yang kuat, dan berperangai mulia. Orang-orang mengenal dari buku-buku para sejarahwan atau murid-murid yang kemudian mungkin memandangnya tidak lebih dari seorang muhaddits  yang kering hanya mengetahui ilmu-ilmu zhahir.

Adapun yang disebutkan oleh Al-Hafizh bin Al-Jauziyah dalam Madarijus Salikin tentang perilaku dan pendapat-pendapatnya adalah jauh dari itu. Demikian pula apa yang disebutkan oleh Al-Alamah Adz-Dzahabi dan orang-orang seumpamanya mengenai kehidupan, akhlak, kepribadian, kebiasaan, perangai, kesibukan, dan amalan-amalannya. Semuanya menunjukkan dengan jelas bahwa Ibnu Taimiyah salah seorang yang berhak masuk dalam deratan orang-orang ahli ma’rifat dan sebagai kekasih Allah dalam umat ini.

Bahwa bukti yang menunjukkan bahwa dia memang mendapatkan kedudukan itu serta berhasil meraih suatu puncak yang tidak mudah kecuali dengan latihan-latihan ruhani yang sangat  berat, mujahadah yang panjang, tarbiyah dari kalangan tertentu di bidangnya selalu berdzikir dan muraqabah (mendekatkan diri kepada Allah) itulah yang oleh para ahli tasawuf modern dikatakan ‘’bersama dengan Allah.’’itu merupakan karunia Allah berikan kepada siapa yang dikehendaki-Nya.

Analisis dari fungsi kedua Islah dan tajdid

Adapun fungsi kedua Islah dan tajdid yang dicanangkan oleh Ibnu Taimiyah, beliau memperlakukan filsafat, logika, dan ilmu kalam dengan penuh kritik terinci. Beliau menegaskan keutamaan uslub-uslub Al-Kitab dar, As-Sunnah di atas ilmu pengetahuan ini dikuatkan dengan hujah. Agar kita dapat memprediksikan sejauhmana pentingnya ilmu ini, kita harus mengenal terlebih dahulu unsur-unsur yang difungsikan untuk memasukkan filsafat  dan logika sebagai kekuatan luhur dalam dunia Islam Perlu pula kita kenal hal-hal lain sebagai kontrol terhadap ide-ide serta perumpamaan yang dianggap penting oleh Ibnu Taimiyah.

Analisis pengaruh dominasi filsafat Yunani terhadap dunia Islam

Tidak disangsikan lagi bahwa perluasan buku-buku tentang filsafat dan logika Yunani yang sudah bermula sejak masa Khalifah Al-Mansyur tahun 136 H merupakan kepentingan yang mendesak. Pada waktu itu buku-buku tersebut benar-benar sudah ditelaah oleh orang-orang Mu’tazilah dan diambil manfaanya. Sejak saat itulah istilah-istilah filsafat Yunani masuk ke buku-buku mereka. Sebenarnya ilmu-ilmu pengetahuan dari Yunani itu telah masuk dan tersebar luas sejak masa Khalifah Al-Makmun. Ilmu-ilmu tersebut memperhatikan serta pengawas dari kerajaan. Beliaulah orang-orang yang paling optimis atas ilmu ini. Bahkan sebagian besar mereka memastikannya. Sha’id Al-Andalusiy dalam kitabnya menyebutkannya. Bahwa dia mendapat buku-buku karya para filsof Yunani dari raja Rum. Raja-raja tersebut mengirimkan buku-buku karya Plato, Aristoteles, Hipocrates, galenos, Euchiledes, dan Peoleme kepadanya sebagai hadiah.

Di antara kejahatan bagi dunia Islam, para filsof Yunani tidak mendapat bagian kecuali orang yang tidak mengetahui semua itu mengkaji agama-agama samawi dan hakikat kebenarannya. Dia sebagai motivator gerakan Maddiah (gerakan yang mengatakan bahwa tak ada maujud kecuali benda). Dia juga termasuk tokoh pendukung hal tersebut. Berikut uraian secara rinci.

Analisis masa taklid kepada filsafat.

Pada mulanya para filsof di dunia Islam tidak menerima filsafat dan logika Aristoteles karena latar belakangnya. Apa saja yang dibawanya mereka lihat dengan kritik dan tahkik (berdasarkan penelitian). Sebagian besar mereka dituntut menyusun sebuah buku untuk menjawab hal tersebut. Mereka memetik pembahasan filsafat dan logika dengan penuh kritikan. Secara terang-terangan dan dengan segala hujahnya mereka bermaksud mereka melemahkan, bahkan mengebiri ilmu-ilmu tersebut. Pada waktu itu orang Mu’tazilah yang pertama kali membawa bendera mengenai hal tersebut. Mereka menyebutkan para filsof secara sistematis, terutama Abu Ali Al-Juba’i. Muncullah pada abad III, Hasan Ibnu Musa An-Naubukhti.

Iklan

6 thoughts on “Konsep Pendidikan Ibnu Taimiyah

  1. artikelnya sangat bagus dan memberikan informasi yang berharga tentang sosok murobbi bernama Ibnu taimiyyah yang tentu semangat dan pemikiranya merupakan bentuk konstribusi bagi ummat ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s