Uncategorized

KERANGKA KONSEPTUAL PEMBAHARUAN PENDIDIKAN ISLAM

KERANGKA KONSEPTUAL PEMBAHARUAN PENDIDIKAN ISLAM

A. Posisi Pendidikan Islam dalam Sisdiknas

Dalam kehidupan suatu negara pendidikan memegang peranan penting untuk menjamin kelangsungan hidup negara dan bangsa, karena pendidikan merupakan wahana peningkatan dan pengembangan kualita sumber daya manusia serta sekaligus sebagai factor penentu keberhasilan pembangunan. Hal ini diakui bahwa “keberhasilan suatu bangsa sangat ditentukan oleh keberhasilan dalam memperbaiki dan memperbaharui sektor pendidikan”. Artinya keberhasilan tersebut akan menentukan keberhasilan bangsa ini dalam menghadapi tantangan zaman di masa depan. Demikian halnya dengan kurang baiknya implementasi pendidikan Islam di sekolah serta beratnya kurikulum pengajaran, ternyata disebabkan oleh tidak dipetakannya secara jelas apa yang menjadi kebutuhan peserta didik dalam kehidupan sehari-hari sebagai anggota masyarakat. Hal ini berkaitan dengan ketidak jelasan visi, misi, tujuan dan strategi pendidikan Islam yang diterapkan. Ketidak jelasan visi dan tujuan pendidikan Islam, ternyata berkolerasi dengan ketidak jelasan konsep tentang system pendidikan Islam sebagai sub system pendidikan nasional. Berdasarkan hal-hal di atas, maka tidak dapat dipungkiri, bahwa pendidikan Islam di Indonesia cukup mendapat berbagai tantangan, baik secara konseptual-teoritis maupun dalam tataran operasional-praktis. Dengan diberlakukannya Undang-Undang RI Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional ada harapan tersendiri, sebab secara konseptual Undang-Undang ini merupakan titik balik pencerahan, pemberdayaan dan kejayan pendidikan di Indonesia termasuk pendidikan Islam. Hal ini karena substansi Undang-undang tersebut secara eksplisit menyebut peran dan pendidikan agama (Islam), baik sebagai proses maupun sebagai lembaga. Untuk menghadapi tantangan-tantangan dalam pendidikan Islam dan sekaligus mencari solusi terbaik dalam menghidupkan dan mengembangkan serta memberdayakan system pendidikan Islam, baik sebagai proses maupun sebagai lembaga diperlukan konsep-konsep baru yang strategis, sehingga pada gilirannya dapat dikembangkan menjadi teori-teori yang teruji dan dapat dioperasionalkan di lapangan. Selain harus mampu membuat konsep yang mengandung nilai-nilai dasar dan strategis, proaktif dan antisipatif terhadap perkembangan di masa mendatang, juga harus mampu mempertahankan nilai-nilai dasar yang benar dan diyakini untuk terus dipelihara dan dikembangkan, apalagi dalm kehidupan modern dan dunia global sekarang ini. Upaya yang dilakukan dalam rangka menata ulang system pendidikan Islam sekaligus sebagai konsekuensi berlakunya Undang-Undang tersebut, adalah dengan merubah paradigma lama ke paradigma baru, dengan merumuskan kembali konsep-konsep strategis, dan sekaligus mengembangkan visi, misi dan tujuan pendidikan Islam serta menyusun strateginya guna melakukan aksi yang lebih nyata. B. Kerangka Konseptual Reformulasi Sistem Pendidikan Islam Secara konseptual, pendidikan Islam dapat dipahami dalam beberapa pengertian, yakni : 1. Pendidikan yang dipahami dan dikembangkan dari ajaran dan nilai-nilai yang terkandung dalam al-quran dan as-Sunnah. 2. Pendidikan Islam dapat dipahami sebagai upaya mendirikan agama Islam dan nilai-nilainya, agar menjadi way of life seseorang. Pemahaman pendidikan Islam di Indonesia, tidak jauh berbeda dengan pemahaman pendidikan pada umumnya. Pemikiran pendidikan Islam di Indonesia, tidak lepas dari pemikiran system pendidikan nasional, sebab pendidikan Islam merupakan sub system pendidikan nasional. Hal ini berarti pengelolaan, mutu, kurikulum, pengadaan tenaga, meliputi penyelenggaraan pendidikan nasional juga berlaku untuk pengembangan pendidikan Islam di Indonesia. Tentunya pengintegrasian pendidikan Islam sebagai sub system pendidikan nasional menuntut berbagai penyesuaian dalam arti positif. Pada dasarnya pendidikan Islam dalam berbagai tingkatannya, mempunyai kedudukan yang penting dalam system pendidikan nasional. Kedudukan itu semakin mantap setelah diberlakukannya Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang system pendidikan nasional. Upaya pencarian konsep baru yang strategis dan responsive dalam dunia pendidikan Islam, tidak menutup kemungkinan melalui kombinasi antara pandangan Islam dengan pemikiran pendidikan modern sepanjang memiliki relevansi kuat dalam merekonstruksi pemikiran pendidikan Islam. Adapun langkah-langkah yang ditempuh dalam pembaharuan pendidikan Islam, dan sekaligus sebagai konsekuensi berlakunya undang-undang No. 20 tahun 2003 secara mendasar, antara lain : 1. Perlu adanya pemikiran kembali tentang konsep pendidikan Islam yang ideal, yaitu pendidikan yang integralistik, humanistic, pragmatic dan berakar pada budaya yang kuat. 2. Adanyan kejelasan cita-cita dengan langkah yang jelas di dalam mewujudkan cita-cita. 3. Memberdayakan kelembagaan dengan menata kembali sistemnya. 4. Perbaikan manajemen. 5. Peningkatan mutu sumber daya manusia. Berdasarkan alasan-alasan dan langkah-langkah di atas, maka secara konseptual pendidikan Islam diarahkan pada pentingnya penggabungan antara ilmu fardu ain dengan ilmu fardu kifayah. BAB II MEMAHAMI KEMBALI PENDIDKAN ISLAM A. Konsep Manusia dan Pendidikan dalam perspektif Islam 1. Proses Kejadian Manusia dan Nilai-Nilai Pendidikan Proses kejadian manusia sudah terakses dalam alquran melalui ayat-ayatnya secara detail, dari yang paling sederhana sampai sempurna menjadi manusia. Hal ini dapat ditemukan dalam ayat-ayat yang berbicara tentang proses kejadian manusia, antara lain : al-Hijr ayat 28-29, al-Hajj ayat 5, al-Mu’minun ayat 12-14, al-Sajdah ayat 7-9, dan masih banyak ayat yang lain. Adapun proses kejadian manusia diciptakan oleh Allah SWT. Sebagaiman ayat-ayat di atas, bahwa manusia diciptakan oleh Allah berasal dari tanah yang dibentuk, kemudian disempurnakan melalui hembusan ruh, sehingga menjadi manusia sempurna. Berdasarkan uraian tentang proses kejadian manusia tersebut, pada dasarnya mengandung nilai-nilai pendidikan yang secara konseptual dapat dikembangkan dalam proses pendidikan Islam. 2. Potensi-Potensi Dasar Manusia Sebagaimana dijelaskan di atas, manusia adalah makhluk yang terdiri dari dua elemen, antara jasadi/materi dan ruhani/immateri yang menyatu jadi satu. Untuk mengaktualisasikan elemen-elemen tersebut, Allah SWT melengkapi dengan alat-alat potensial dan potensi dasar atau fitrah manusia yang harus ditumbuh-kembangkan dalam kehidupan nyata di dunia ini melalui proses pendidikan. Alat-alat potensial tersebut, pada dasarnya untuk merenungkan, memahami dan mempelajari adanya tanda-tanda kebesaran Allah, aksentuasinya pada pencarian dan perolehan ilmu pengetahuan, untuk kesempurnaan hidup manusia dan sekaligus sebagai bentuk pertanggungjawaban eksistensinya di hadapan Allah. Dalam rangka mengaktualisasikan alat-alat potensial tersebut, manusia diberi bekal oleh Allah berupa kemampuan dasar/fitrah. Makna fitrah manusia adalah sesuatu kekuatan atau kemampuan yanh menetap pada diri manusia sejak awal kejadiannya sebagai sifat kodrati, dan potensi itu merupakan ciptaan Allah. Berbagai alat potensi dan potensi dasar atau fitrah manusia tersebut harus ditumbuh-kembangkan secara optimal dan terpadu melalui proses pendidikan sepanjang hayatnya, sehingga dapat berfungsi dengan baik dalam diri manusia, dan ini merupakan kerja monumental pendidikan Islam. Sebab pelaksanaan pendidikan pada dasarnya selalu dinamis sesuai dengan dinamika manusia dan masyarakatnya. Dunia pendidikan senantiasa dipengaruhi oleh perkembangan aliran-aliran seperti :  Aliran Empirisme, aliran empirisme lebih mementingkan peranan pengalaman yang diperoleh dari lingkungan, sedangkan kemampuan dasar yang dibawa anak sejak lahir dianggap tidak menentukan. Dalam konteks pendidikan, pandangan ini terpusat pada peran pendidik untuk memberikan pengalaman-pengalamannya dan menganggap anak sebagai makhluk pasif yang dapat dimanipulasi.  Aliran Nativisme, pada dasarnya suatu keberhasilan disebabkan oleh adanya kemampuan yang berasal dari dalam diri yang berupa kecerdasan atau kemauan keras dalam berusaha mengembangkan bakat yang telah ada dalam dirinya. Pandangan ini menempatkan manusia sebagai makhluk aktif yang mempunyai kemauan bebas dalam mengembangkan potensi dirinya.  Aliran Naturalisme, pandangan ini menekankan bahwa perkembangan potensi anak harus secara alami, artinya tanpa ada rekayasa dari luar dalam perkembangan potensi anak.  Aliran Konvergensi, menurutnya potensi yang dibawa pada wakyu lahir tidak akan berkembang dengan baik tanpa adanya dukungan lingkungan yang sesuai dengan perkembangan potensi tersebut. Karena itu proses pendidikan lebih diarahkan pada penciptaan lingkungan yang dapat memotivasi minat dan bakat yang dimiliki oleh anak. Pendidikan Islam harus diorientasikan pada perwujudan suasana belajar dan proses pembelajaran yang harmonis, dinamis, dialogis, bermakna, dan penuh dengan nuansa-nuansa Islami, agar peserta didik mampu mengembangkan pootensi-potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri,kepribadian, kecerdasan, berakhlak mulia, serta keterampilan yang tinggi dalam menjalankan tugas dan fungsi hidupnya di muka bumi. 3. Tugas Hidup Manusia dan Fungsi Pendidikan Manusia dibekali berbagai alat potensial dan potensi dasar atau fitrah oleh Allah, pada dasarnya sebagai alat untuk menjalankan aktivitas hidupnya. Karena tujuan utama Allah menciptakan manusia adalah untuk beribadah. Tugas hidup manusia pada intinya ada dua macam, yaitu sebagai’abdullah dan khalifatullah. Secara konseptual, tugas manusia sebagai khalifah di muka bumi antara lain mewujudkan kemakmuran di muka bumi, mewujudkan keselamatan dan kebahagiaan hidup di muka bumi, dengan metode beriman dan beramal saleh, serta bekerjasama dan menegakan kebenaran dan kesabaran. Semua ini merupakan pelaksanaan pengabdian kepada Allah (‘abdullah). B. Konsep Dasar Pendidikan Islam 1. Pengertian Pendidikan Islam Pendidikan Islam adalah “usaha sadar dan terencana untuk mewukudkan suasana belajar dan proses pembelajaran yang Islami, agara peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya sesuai dengan nilai-nilai Islam untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. 2. Landasan Dasar Pendidikan Islam  Alquran dan Sunnah.  Pemikiran Islam.  Nilai-Nilai Sosial Kemasyarakatan 3. Prinsip-Prinsip Dasar Pendidikan Islam  Prinsip berwawasan semesta.  Prinsip demokrasi.  Prinsip uswatun hasanah.  Prinsip keterpaduan yang sistematik dan multi makna.  Prinsip pembudayaan dan pemberdayaan peserta didik.  Prinsip menjunjung tinggi hak asasi manusia. 4. Tujuan Pendidikan Islam Menurut Abuddin Nata tujuan pendidikan Islam Yaitu:  Mengarahkan manusia agar menjadi khalifah Allah dengan sebaik-baiknya.  Mengarahkan manusia agar seluruh tugas kekhalifahannya dilaksanakan dalam rangka beribadah kepada Allah.  Mengarahkan manusia agar berakhlak mulia.  Membina dan mengarahkan potensi akal, jiwa dan jasmaninya.  Mengarahkan manusia agar dapat mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat. 5 Komponen-Komponen Pendidikan Islam Menurut Muhaimin komponen pendidikan Islam yaitu: tujuan pendidikan Islam, materi pendidikan Islam, pendidik dan peserta didik, metode pendidikan Islam dan lingkungan pendidikan. BAB III PROSPEK PENDIDIKAN ISLAM DI INDONESIA A. Refleksi Pendidikan Islam di Indonesia Refleksi diartikan sebagai gambarab atau cerminan. Maka refleksi pendidikan Islam di Indonesia adalah sebagai gambaran atau cerminan tentang kondisi perkembangan pendidikan Islam di Indonesia. Pada dasarnya keberadaan pendidikan Islam di Indonesia telah mengambil yang sangat strategis dalam perjalanan bangsa Indonesia. Peran utama yang dimainkannya adalah untuk mengembangkan keseluruhan aspek dalam diri anak didik secara berimbang, baik aspek intelektual, imajinasi dan keilmiahan, cultural, dan kepribadian. Refleksi pendidikan Islam di Indonesia, dapat dikaji dari empat periode yaitu : 1. Periode Pra-Kemerdekaan Reflektif atas pengalaman sejarah menunjukan bahwa orientasi pendidikan Islam telah mengalami perubahan mendasar dri masa ke masa. Jauh sebelum masuknya peradaban dengan system pendidikan barat, telah ada pendidikan dengan model pesantren tradisional, dan model pendidikan ini mengakar kuat di tengah masyarakat. Keberadaan pendidikan Islam di Indonesia berada dalam tatanan yang kuat untuk mendukung kekuatan bangsa. Karena di lembaga tersebut selain diberikan pengetahuan agama juga diberikan pengetahuan umum. Refleksi ini jelas, bahwa pendidikan Islam pasca pra-kemerdekaan menunjukan adanya gelombang pasang (mengalami perkembangan), sebab pendidikan Islam mampu menyumbang sejumlah besar kader cendikiawan bagi perjuangan bangsa Indonesia. Ini sebagai bukti keberadaan pendidikan Islam dalam menerapkan system keterpaduan dan keseimbangan, antara keimanan, keilmuan dan kesalehan. Disamping itu telah menyadarkan umat Islam tentang perlunya melakukan pembaharuan pendidikan Islam. 2. Periode Orde Lama Pada masa ini, orientasi pendidikan Islam lebih diarahkan pada upaya memperbaharui dan memperbanyak lembaga pendidikan Islam. Penyelenggaraan system pendidikan nasional termasuk di dalamnya pendidikan Islam diatur melalui Undang-undang No.4 tahun 1950 tentang dasar-dasar pendidikan dan pengajaran di sekolah, yang memberikan kesempatan untuk masuknya pengajaran agama di sekolah-sekolah, di samping mengakui sekolah agama. Namun demikain, realisasi Undang-undang no. 4 tahun 1950, makin lama makin jauh dari sifatnya yang nasional dan demokratis, bahka lembaga-lembaga pendidikan praktis menjadi pusat-pusat penyelenggaraan doktrin-doktrin pemerintah, tidak lagi berorientasi kepada kepentingan anak didik tetapi sepenuhnya berorientasa pada kekuasaan 3. Periode Orde Baru Pada awalnya umat Islam berharap kepada pemerintahan Orde Baru agar lebih memperhatikan nasib pendidikan Islam. Ada beberapa karakteristik dalam pemerintahan Orde Baru yang kurang kondusif bagi pengembangan pendidikan Islam. Dalam hal ini ada empat karakteristik yang nampak, yaitu :  Pemerintahan yang kuat dan dominan.  Pemerintahan yang dipimpin serta didukung oleh kekuatan militer.  Pemerintahan dilengkapi aparat keamanan yang refresif serta aparat politik-ideologis.  Mendapat dukungan dari kapitalis internasional. Karakteristik demikian pada akhirnya menjadikan masyarakat sangat tumpul dan lemah baik dalam bidang social, ekonomi, politik, budaya, keamanan, bahkan di bidang pendidikan. Masyarakat tidak memiliki nilai bergaining yang cukup di hadapan pemerintah, disamping itu masyarakat seakan dikebiri dalam berbagai aktivitasnya. Program yang dicanangkan oleh pemerintahan Orde Baru dalam bidang pendidikan pada dasarnya sangat bagus yaitu masalah pemerataan, peningkatan kualitas, efektifitas dan efesiensi, dan relevansi pendidikan dengan pembangunan nasional. Namun demikian, realisasi kebijakan tersebut mengarah pada tujuan, yakni memperkuat hegemoni pamerintahan Orde Baru di hadapan masyarakat, dengan cara menggiring pendidikan kepada satu system sentralistik, upaya depolitisasi masyarakat, dan mengarahkan pendidikan pada penguatan kekuasaan pemerintah. Implikasinya menjadikan system pendidikan nasional tidak dapat berkembang, termasuk system pendidikan Islam. 4. Periode Reformasi Pada era reformasi, system pendidikan nasional masih diatur dalam Undang-undang No.2 tahun 1989, yang semua pihak menilainya sudah tidak sesuai dengan otonomi daerah. Disahkannya dan diberlakukannya Undang-undang No.20 tahun 2003 tentang sisdiknas, oleh beberapa pengamat dianggap sebagai titik awal kebangkitan pendidikan nasional, termasuk pendidikan Islam di dalamnya. B. Hambatan dan Peluang Pendidikan Islam 1. Hambatan Peluang Pendidikan Islam Kelemahan atau hambatan yang dihadapi dunia pendidikan Islam adalah terletak pada kelemahan intelektualitas muslim dalam menterjemahkan pendidikan Islam secara sempit, doctrinal, dan dikotomis, yakni orientasinya lebih pada aspek kehidupan ukhrawi, sementara aspek kehidupan duniawi dipisahkan. Selain kelemahan dan hambatan diatas ada juga permasalahan lain yang dihadapi pendidikan Islam di Indonesia yaitu :  Persoalan penduduk.  Persoalan wawasan.  Persoalan dana.  Persoalan membangun pendidikan Islam secara terpadu 2. Peluang-Peluang Pendidikan Islam  Islam adalah kebenaran, sehingga agama Islam siap untuk memberikan kontribusi nyata dalam komponen-komponen nilai yang dibutuhkan secara nasional.  Pancasila sebagai asas tunggal, secara filosofis merupakan bagian dari filsafat Islam.  Sistem pendidikan Islam di Indonesia tidak menghadapi dominasi system pendidikan nasional, karena ajaran Islam secara filosofis tidak pernah bertentangan dengan pandangan hidup bangsa.  Masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang penduduknya mayoritas beragama Islam, sehingga merupakan asset dalam menyadarkan dan mengembangkan pendidikan Islam.  Semakin meningkatnya tuntutan masyarakat akan pendidikan yang semakin merata dan bermutu . C. Implikasi Undang-Undang No.20 Tahun 2003 terhadap Pendidikan Islam Dengan diberlakukan Undang-undang No.20 tahun 2003, secara eksplisit menjadikan posisi pendidikan agama, termasuk pendidikan Islam, sebagai bagian integral dari system pendidikan nasional semakin mantap dan kokoh. Sedanglkan secara implicit menunjukan adanya pengakuan bangsa terhadap sumbangan besar pendidikan agama (Islam) dalam upaya mendidik dan mencerdaskan kehidupan bangsa. 1. Dasar dan Fungsi Tujuan Pendidikan Islam Secara konseptual dasar pendidikan mengandung nilai-nilai yang amat ideal dan luhur dan seluruh bangsa menerimanya. Sedangkan hakekat fungsi pendidikan nasional yakni “mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa”. Dimana bangsa yang cerdas adalah bangsa yang memiliki kemampuan dalam menguasai berbagai aspek kehidupan, baik aspek ekonomi, social, politik, hokum,ilmu pengetahuan dan teknologi, maupun aspek agama. Selain itu, memiliki watak kepribadian yang luhur, patriotis, nasionalis serta watak bekerja keras dalam mehadapi hidup, memiliki peradaban yang humanis religius, serta kewibawaan yang tinggi, sehingga bangsa-bangsa lain tidak memperlakukan dan mengintervensi bangsa Indonesia sekehendaknya. Selanjutnya tujuan pendidikan Islam yaitu “untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga yang demokratis serta bertanggung jawab”. 2. Prinsip Penyelenggaraan Pendidikan  Holistik.  Terbuka.  Akomodatif. Prinsip-prinsip tersebut terletak pada penyelenggaraan pendidikan yang demokratis, keadilan, desentralisasi, dan menjunjung tinggi hak asasi manusia. Implikasi terhadap pendidikan Islam adalah menuntut agar dalam penyelenggaraan satuan pendidikan Islam diletakan pada prinsip berwawasan semesta, demokrasi, keterpaduan yang sistematik, pembudayaan dan pemberdayaan, dan uswatun hasanah. Prinsip-prinsip inilah yang akan melahirkan paradigma baru dalam pendidikan Islam. 3. Hak dan Kewajiban “Setiap warga negara mempunyai hak yang sama untuk memperoleh pendidikan yang bermutu” dan “Setiap warga negara bertanggung jawab terhadap keberlangsungan penyelengaraan pendidikan”. Ditetapkannya hak dan kewajiban warga negara tersebut, dalm rangka mengantisipasi, mengatasi, dan menuntaskan adanya kesenjangan memperoleh pendidikan yang bermutu. Untuk itu warga negara dilibatkan secara langsung dalam penyelengaraan pendidikan. Impilasinya terhadap pendidikan Islam, adalah menuntut agar pendidikan Islam ke depan dapat meningkatan pemerataan, mutu dan relavansi pendidikan, serta manajemen pendidikan bagi warga negara dalam memperoleh pendidikan. 4. Peserta Didik Setiap peserta didik pada setiap satuan pendidikan berhak:”mendapatkan pendidikan agama sesuai dengan agama yang dianutnya dan diajarkan oleh pendidik yang seagama” dan “mendapat pelayanan pendidikan sesuai dengan bakat, minat, dan kemampuannya”. 5. Bentuk Penyelengaraan Pendidikan “Jalur pendidikan terdiri atas pendidikan formal, nonformal, dan informal yang dapat saling melengkapi dan memperkaya” dan “diselenggarakan dengan system terbuka melalui tatap muka dan/atau melalui jarak jauh. 6. Standar Nasional Pendidikan “Standar nasional pendidikan terdiri atas perubahan kualitatif. Seperti pembaharuan kurikulum, pengembangan metode-metode mengajar, penyediaan sarana dan prasarana hanya akan berarti apabila melibatkan pendidik dan tenaga kependidikan. Selain perlu diimbangi dengan peningkatan gaji, sehingga pendidik dan tenaga kependidikan tidak perlu melakukan aktivitas-aktivitas lain. 1. Sarana dan Prasarana Pendidikan “Setiap satuan pendidikan formal dan nonformal menyediakan sarana dan prasarana yang memenuhi keperluan pendidikan sesuai dengan pertumbuhan dan perkembangan potensi fisik, kecerdasan intelektual, social, emosional, dan kejiwaan peserta didik”. Pendayagunaan sarana dan prasarana tidak hanya secara fungsional membuat lembaga pendidikan Islam bersifat efektif, efisien, melainkan lebih dari itu memunculkan citra di mat publik sebagai lembaga pendidikan yang bergengsi. 2. Pendanaan Pendidikan “Sumber pendanaan pendidikan ditentukan berdasarkan prinsip keadilan, kecukupan dan berkelanjutan, dan pemerintah, pemerintah daerah serta masyarakat mengerahkan sumber daya yang ada sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku”. Implikasinya terhadap pendidikan Islam adalah, menuntut adanya kemandirian dalam penyelenggaraan satuan pendidikan Islam, terutama dalam pembiayaan pendidikan. Untuk itulah perlu dikembangkan laboratorium fungsi ganda dalam satuan pendidikan Islam, antara peningkatan mutu akademik dan pengembangan usaha bisnis. 3. Kurikulum “Pengembangan kurikulum dilakukan dengan mengacu standar nasional pendidikan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional, dengan prinsip diversifikasi sesuai dengan satuan pendidikan, potensi daerah dan peserta didik”. Pengembangan kurikulum dalam rangka membekali peserta didik dengan berbagai kemampuan yang sesuai dengan tuntutan zaman. 4. Pendidik dan Tenaga Kependidikan “Pendidik dan tenaga kependidikan berkewajiban: Menciptakan suasana pendidikan yang bermakna, menyenangkan, kreatif, dinamis, dan dialogis; Mempunyai komitmen secara professional untuk meningkatkan mutu pendidikan; dan memberi teladan dan menjaga nama baik lembaga, profesi, dan kedudukan sesuai dengan kepercayaan yang diberikan kepadanya”. Pendidik dan tenaga kependidikan merupakan kunci dalam peningkatan mutu pendidikan dan mereka berada di titik sentral dari setiap usaha reformasi pendidikan yang diarahkan pada perubahan-perubahan kualitatif. 5. Pengelolaan Pendidikan “Pengelolaan satuan pendidikan anak usia dini, dasar dan pendidikan menengah dilaksanakan berdasarkan standar pelayanan minimal dengan prinsip manajemen berbasis sekolah/madrasah, yang dalam pelaksanaan didasarkan pada prinsip otonomi, akuntabilitas, jaminan mutu, dan evaluasi transparan”. Rencana strategi pokok dalam mewujudkan akuntabilitas lembaga pendidika Islam di Indonesia ke depan, antara lain: 1. Strategi mengatasi dampak krisis moral bangsa  Menciptakan suasana lingkungan belajar yang kondusif, harmonis serta penuh dengan nuansa-nuansa Islam.  Penegakan disiplin dalm beribadah, bekerja, belajar dan berpakaian rapih.  Penambahan jam belajar pendidikan agama.  Pengembangan dakwah Islami dalam masyarakat. 2. Strategi peningkatan mutu dan relevansi pendidikan Islam  Pengembangan kurikulum pendidikan Islam yang terpadu antara aspek ke-Islaman, dan keilmuan.  Pengintegrasian ketrampilan generic dalam kurikulum.  Pengembangan proses pembelajaran yang terpadu.  Peningkatan relevansi pendidikan dengan kebutuhan dunia kerja.  Pengembangan keteladanan dalam pendidikan. 3. Strategi pengembangan system manajemen Pendidikan Islam  Peningkatan profesionalitas pengelola yang sidiq, tabligh, amanah, dan fatonah.  Peningkatan layanan pendidikan afektif dan efesien, terbuka, adil dan merata.  Pengembangn system Informasi manajemen.  Penyediaan dan pendayagunaan alat-alat teknologi.  Pemberdayaan personel pendidikan yang didukung oleh tenaga pendidikan dan pendidik yang jujur, kreatif, bersih, ikhlas, dan berwibawa. 4. Strategi pembinaan profesionalisme dan peningkatan kesejahteraan pendidik dan tenaga kependidikan  Pemberian kesempatan yang luas bagi pendidik untuk meningkatkan profesionalismenya melalui studi lanjut dan pelatihan-pelatihan.  Pemberian perlindungan hokum dan rasa aman bagi pendidik dalam menjalankan tugas.  Meningkatkan kesejahteraan pendidik baik material maupun spiritual.  Perekrutan pendidik yang berkualitas. 5. Strategi pemerataan kesempatan dan perluasan pendidikan Islam  Penyediaan bantuan/beasiswa bagi peserta yang kurang mampu.  Membuat penetapan standar kelulusan sekolah.  Pengembangan pendidikan berkelanjutan.  Peningkatan partisipasi orang tua, masyarakat, dan pemerintah dalam membangun pendidikan Islam. 4. Strategi pengadaan dan pendayagunaan sarana dan prasarana pendidikan Islam  Penyediaan buku-buku pelajaran bagi setiap peserta didik.  Pengadaan dan melengkapi kebutuhan ruang dan peralatan laboratorium, perpustakaan dan alat-alat teknologi.  Penyediaan dana pemeliharaan yang memadai.  Pengembangan lingkungan sekolah. 5. Strategi pemberdayaan lembaga pendidikan Islam  Pengembangan system organisasi kelembagaan pendidikan yang efektif dan efisien.  Pemberdayaan selurh komponen pendidikan.  Pengembangan usaha bisnis di luar akademik.  Peningkatan mutu dan sarana prasarana lembaga pendidikan Islam.  Pengembangan jaringan kemitraan. BAB IV MENGEMBANGKAN PENDIDIKAN ISLAM A. Paradigma Pengembangan Pendidikan Islam di Indonesia Paradigma baru pendidikan Islam lebih diarahkan pada penyelenggaraan satuan pendidikan Islam dengan menitik beratkan pada prinsip pendidikan Islam berwawasan semesta. Pendidikan Islam lebih diarahkan pada paradigma berwawasan semesta, agar dimensi kemanusiaan dan dimensi ketuhanan tetap ada pada diri manusia secara bersama, saling berkait dan tak terpisahkan satu sama lainnya. B. Strategi Pembaharuan Sistem pendidikan Islam Indonesia  Membangun kerangka filosofis dan teoritis pendidikan Islam.  Membangun system pendidikan Islam yang diproyeksikan melalui laboratorium fungsi ganda, yakni peningkatan mutu akademik dan pengembangan usaha bisnis. C. Konsep Pendidikan Islam Berwawasan Semesta Konsep pendidikan Islam adalah pendidikan yang berwawasan semesta, berwawasan kehidupan multi dimensional, yang meliputi wawasan tentang Tuhan, manusia dan alam secara integrative. Reformulasi konsep pendidikan Islam di Indonesia dengan paradigma pendidikan berwawasan semesta, adalah perlu adanya langkah-langkah dalam membangun kerangka filosofis-teoritis pendidikan Islam, dan membangun system pendidikan Islam yang diproyeksikan melalui laboratorium fungsi ganda. 1. Membangun Kerangka Filosofis dan Teoritis Pendidikan Islam Membangun kerangka filosofis dan teoritis pendidikan harus memandang secara proporsional, bahwa hakekat manusia memiliki dua dimensi antara dimensi imaniah (positif), dan dimensi kafiriah (negatif) dalam pandangan hidupnya, baik yang berhubungan dengan Allah , manusia dan alam. 2. Membangun system pendidikan Islam a. Membangun muatan (content) system pendidikan Islam Upaya membangun system pendidikan Islam yang perlu mendapat prioritas adalah bangunan muatan (content) pendidikan, bukan metodologinya. Hal ini bukan berarti metodologi pengajaran itu tidak penting, namun yang perlu diprioritaskan adalah bangunan aspek muatan. Ada tiga aspek aspek muatan (content) yang membangun system pendidikan Islam , yaitu:  Aspek Ke-Islaman  Aspek keilmuan.  Aspek life skill. b. Pengembangan laboratorium fungsi ganda  Peningkatan mutu akademik  Penajaman visi dan misi pendidikan Islam  Mempertegas tujuan pendidikan Islam  Kurikulum dan materi ajar pendidikan Islam Dalam rangka meningkatkan mutu akademik, dan terwujudnya akuntabilitas lembaga pendidikan Islam yang mandiri menuju keunggulan, konvigurasi kurikulum harus memiliki relevansi atau keterkaitan fungsional antara mata pelajran satu terhadap yang lain dalam satu kesatuan rencana pembelajaran yang utuh. Disamping itu setiap satuan mata pelajaran harus memiliki relevansi dengan kebutuhan hidup peserta didik dalam memasuku jenjang kehidupan yang lebih luas, yakni jenjang kehidupan masyarakat. DAFTAR ISI BAB I KERANGKA KONSEPTUAL PEMBAHARUAN PENDIDIKAN ISLAM A. Posisi pendidikan Islam dalam Sisdiknas B. Kerangka Konseptual Reformulasi Sistem Pendidikan Islam BAB II KERANGKA MEMAHAMI KEMBALI PENDIDIKAN ISLAM B. Konsep Manusia dan Pendidikan dalam Perspektif Islam 1. Proses Kejadian Manusia dan Nilai-Nilai Pendidikan 2. Potensi-Potensi Dasar Manusia 3. Tugas Hidup Manusia dan fungsi Pendidikan C. Konsep Dasar Pendidikan Islan 1. Pengertian Pendidikan Islam 2. Landasan Dasar Pendidikan Islam 3. Prinsip-Prinsip Dasar Pendidikan Islam 4. Tujuan Pendidikan Islam 5. Komponen-Komponen Pendidikan Islam BAB III PROSPEK PENDIDIKAN ISLAM DI INDONESIA A. Refleksi Pendidikan Islam di Indonesia 1. Periode Pra-Kemerdekaan 2. Periode Orde Lama 3. Periode Orde Baru 4. Periode Reformasi B. Hambatan dan Peluang Pendidikan Islam 1. Hambatan Pendidikan Islam 2. Peluang-Peluang Pendidikan Islam C. Implikasi UU No.20 Tahun 2003 Terhadap Pendidikan Islam 1. Dasar, Fungsi dan Tujuan Pendidikan 2. Prinsip Penyelenggaraan Pendidikan 3. Hak dan Kewajiban 4. Peserta didik 5. Bentuk Penyelenggaraan Pendidikan 6. Standar Nasional Pendidikan 7. Kurikulum 8. Pendidik dan Tenaga Kependidikan 9. Sarana dan Prasarana Pendidikan 10. Pendanaan Pendidikan 11. Pengelolaan Pendidikan BAB IV MENGEMBANGKAN PENDIDIKAN ISLAM A. Paradigma Pengembangan Pendidikan Islam di Indonesia B. Strategi Pembaharuan Sistem Pendidikan Islam Indonesia C. Konsep Pendidikan Islam 1. Membangun Kerangka Filosofis dan Teoritis Pendidikan Islam 2. Membangun Sistem Pendidikan Islam a. Membangun Muatan (content) Sistem b. Pengembangan Laboratorim Fungsi Ganda DAFTAR PUSTAKA Abu Bakar, Usman dan Surohim, 2005, Fungsi Ganda Lembaga Pendidikan Islam, Yogyakarta: Safiria Insania Press

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s