Tagged: kurikulum

AQIDAH AKHLAK DAN PEMBELAJARAN DI SMK

BAB I

PENDAHULUAN 

Aqidah dan akhlak dalam ajaran islam merupakan pangkal utama dalam menumbuhkan keyakinan manusia kepada Tuahnnya dan mengatur tata kehidupan di dunia, serta sebagai bekal di akhirat kelak. Dalam pembelajaran pada tingkat sekolah, aqidah akhlak merupakan dasar pengetahuan kognitif yang sarat dengan pembentukan dan pengembangan kearah afeksi siswa. Dalam hal ini siswa tidak dijejali pengetahuan belaka, tetapi bagaimana siswa mampu meyakini dan menerapkannya dalam kehidupan.

Menurut Ahmad Tafsir [1] persoalan bangsa ini hanya masalah akhlak sebanarnya, pendidikan di Indonesia kebanyakan hanya berkisar pada pengetahuan kognitif saja (pinter Matematika, IPA, Bahasa Inggris) sedangkan akhlaknya tidak begitu diperhatikan. Memang ada yang memperhatikan tetapi hanya sedikit.

Kemudian dalam kesempatan lain; beliau juga mengemukakan; salah satu ketidak berhasilan pendidikan, karena tujuan yang tidak jelas. [2] Tujuan utama dalam pendidikan agar lebih diarahkan kepada pembentukan akhlak mulia. Apapun materi dan pembelajarannya penanaman akhlak hendaknya menjadi nomor satu. Aqidah yang mengakar menjadi pondasi dan akhlak yang mendasar menjadi prestasi.

Dengan anggapan tersebut penulis berkeyakinan, pembelajaran aqidah akhlak, harus diatur sedemikian rupa untuk dapat menghasilkan produk yang baik. Produk yang baik bukan hanya secara pengatahuan saja akan tetapi secara aplikasi dilapangan juga baik.

Untuk menumbuhkan keyakinan pada setiap siswa, semestinya harus didahului dengan pengetahuan siswa tentang materi yang akan diajarkan. Pertanyaannya adalah, bagaimana siswa yakin akan sesuatu kalau mereka tidak mengetahui tentang sesuatu itu? Dasar pengetahuan inilah yang mesti dipupuk pada benak dan diri siswa, agar tumbuh kesadaran betapa pentingnya keyakinan kepada Allah sebagai Tuhannya. Keasadaran itu akan berimbas pada keteraturan hidup secara individual maupun kelompok. Dengan kata lain keyakinan – melalui akidah – seseorang dapat dibimbing kearah pembentukan akhlaq al-karimah dalam menjalankan roda kehidupan.

Berangkat dari asumsi yang sangat mendasar tersebut, dalam makalah ini penulis masuk ke tataran kajian model pembelajaran akidah akhlak, analitik, kritik dan solusi. Dengan permasalahan; Bagaimana kajian model pembelajaran yang cocok untuk pembelajaran aqidah akhlak di tungkat SMK? Bagimana keberadaan materi, Standar Kompetensi (SK), Kompetensi Dasar (KD) , dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dibuat? Bagaimana solusi yang diberikan untuk kemajuan pada masa yang akan datang. Untuk menjawab semua masalah tersebut akan penulis paparkan dalam keterbatasan makalah ini.

BAB II

AQIDAH AKHLAK DAN PEMBELAJARAN DI SMK

  1. Kajian Model Pembelajaran

Materi dan model pembelajaran dirancang dan disesuaikan dengan perkembangan peserta didik. Mulai dari siswa sekolah dasar sampai dengan siswa sekolah menengah atas harus dapat dibedakan, baik isi atau pendalaman materinya. Dalam hal ini materi Aqidah Akhlak [3] diberikan pada siswa Sekolah Dasar sampai siswa sekolah Menengah Pertama (SMP) dan siswa Sekolah Menengah Atas (SMA) serta siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK).

Dengan keadaan yang demikian maka perlu kiranya materi pembelajaran Aqidah Akhlak dibahas secara lugas, kolaboratif dan menarik serta didesain dalam bentuk yang baik. Memang materi Aqidah Akhlak begitu menarik jika disajikan, namun akan bergantung kepada pembawaan gurunya. Untuk lebih menarik lagi, maka guru diharuskan memiliki rancangan model pembalajaran yang mumpuni dan dapat menarik perhatian seluruh siswa.

Bahkan tidak hanya itu, siswa dibawa kearah pentingnya penguatan aqidah dan pembentukan akhlak yang mulia bagi makhluk sosial seperti manusia. Kemudian para siswa mampu menjauhi hal-hal yang tidak diinginkan seperti; dekademsi moral, pergaulan bebas, perzinahan, prostitusi dan penyakit-penyakit yang menimpa manusia sebagai makhluk yang berbudi luhur. Maka materi pembelajaran Aqidah Akhlak itu tidak sekedar memberikan pengetahuan kognitif saja, akan tetapi lebih mengarah kepada perenungan dan perubahan sikap. Permasalahan yang menimpa manusia pada tataran dekadensi moral, baik bagi dirinya, keluarganya maupun orang lain hendaknya diperbaiki melalui kesadaran yang mendalam ketimbang sekedar pengetahuan kognitif. Siswa akan penuh dengan pertanyaan bagaimana kalau manusia memiliki akhlak yang mulia dan  bagaimana kalau manusia tidak memiliki akhlak yang mulia yang diatur oleh agama.

Kejadian yang diluar batas kewajaran yang menimpa usia dini, remaja dan bahkan orang tua semestinya dapat diminimalisir bahkan dihilangkan dengan pemberian pengetahuan afeksi yang kental dengan nilai keagamaan. Rancangan atau design pembelajaran yang dimaksud penulis, kiranya dapat mengarah kesana – kearah penguatan aqidah dan perbaikan akhlak – dengan harapan siswa menjauhi perbuatan yang merusak moral tersebut.

Kengerian yang menimpa sebagian orang, dalam dekadensi moral telah terbukti dengan data hasil penelitian, yang dikutip oleh  Syamsu Yusuf LN. Hal ini sengaja penulis kemukakan sebagai ‘ibrah betapa pentingnya pembelajaran aqidah akhlak yang dirancang dengan baik untuk mengubah perilaku negative.

Khusus mengenai dekadensi moral dalam kaitannya denga  perzinahan (free sex) dikalangan remaja (di Negara-negara barat), Majalah Time (Pikiran Rakyat, 29 Januari 1995) memberikan tentang gejala aborsi (pengguguran kandungan) sebagai berikut : [4]

No.

Negara

Remaja Yang melakukan Aborsi

1

2

3

4

5

Perancis

Inggris

Kanada

Swedia

Belanda

180 dari 450

175 dari 450

180 dari 450

210 dari 320

50 dari 150

Dadang Hawari (Hikmah, Minggu 2 Oktober 1994) mengemukakan tentang kehidupan remaja Amerika dalam “free sex”, penyakit kelamin dan hamil diluar nikah sebagai berikut : [5]

Free Sex

Sakit Kelamin

Hamil

Prostitusi

7 dari 19 wanita

8 dari 10 pria

2,5 – 5 juta

1 dari 10

125.000

200.000

Di Indonesia beberapa penelitian serupa telah juga dilakukan, yang hasilnya adlah sebagai berikut : [6]

Peneliti

Responden

%

DR. Sarlito WS

Majalah Editor

800 remaja

100 remaja

80

40

Data ini diambil oleh para peneliti sekitar tahun 1994-1995, bagaimana tahun 2010 mungkin harus ada penelitian ulang. Data bisa lebih meningkat dari yang ada. Atau mungkin juga menurun – harus dibuktikan.

Sekali lagi gambaran ini penulis kemukakan untuk menegaskan bahwa pembelajaran Aqidah Akhlak di tingkat Sekolah Menengah hendaknya bukan sekedar pengetahuan kognitif saja, tetapi lebih mengarah kepada aplikasi dan kesadaran individu dan kelompok agar dapat menghindari perbuatan negative.       Pembelajarannya dirancang kedalam model yang menuntut siswa untuk berfikir kreatif positif dengan menekankan kepada psikologi sosial kemasyarakatan. Karena masalah Aqidah Akhlak menyangkut juga masalah individual dan sosial maka, model pembelajaran ini penulis arahkan kepada Model Pembelajaran Kooperatif (Cooperative Larning).

Model Pembelajaran Kooperatif (Cooperative learning) didasari atas falsafah; (1) manusia sebagai makhluk sosial, (2) gotong royong, (3) kerjasama merupakan kebutuhan penting bagi kehidupan manusia. [7] Karena model pembelajaran kooperatif didalamnya terdapat kerja sama, gotong royong sebagai sifat sosial manusia, maka diharapkan ada saling mengisi dan curhat antara satu siswa dengan siswa yang lain, sekalipun masalah pribadi. Tingkat sosial seseorang dapat teruji dengan baik, manakala mampu bekerja sama aktif dalam pembelajaran.

Mendesain model pembelajaran memang tidak semudah yang dibayangkan, “…yang pasti bahwa metode pengajaran adalah sebuah hasil ijtihad yang sifatnya dinamis dan dapat berkembang setiap saat sesuai dengan situasi dan kondisi yang sesungguhnya”. [8]  Namun yang pasti dalam hal ini diperlukan kelihaian guru sebagai pasilitator dalam pembelajaran. Rasa sosial siswa perlu ditumbuh suburkan dengan penuh tanggungjawab.

“Salah satu pengembangan tanggungjawab sosial ini tampak melalui kompetensi dan kepiawaian guru dalam mengelola kelas, membangun tim belajar dalam kelas dan menciptakan suasana pembelajaran bersama yang saling mendukung proses belajar. Guru mesti mampu mempercayai anak didik. Mereka memiliki kemampuan lebih untuk menjadi tutor dari rekan mereka, membuat kelompok belajar dan mendiskusikan bersma-sama persoalan yang dihadapi. Dengan demikian, guru bersama dengan para siswa berusaha mengembangkan tanggungjawab sosial dalam lingkungan akademis disekolah. Sikap terbuka dan dialogis merupakan syarat mutlak bagi pengembangan rasa tanggungjawab sosial ini”. [9]

Model Pembelajaran Kooperatif (cooperative learning) dalam materi Aqidah Akhlak diaharapkan akan mampu menjawab persoalan sosial kemasyarakatan, sekaligus mencegah perlakuan individu yang bersifat negative yang menimpa manusia masa kini.

Selanjutnya apa yang dimaksud dengan pembelajaran kooperatif itu? Yatim Riyanto bahwa; “Pembelajaran kooperatif adalah model pembelajaran yang dirancang untuk membelajarkan kecakapan akademik (academic skill), sekaligus keterampilan sosial (social skill) termasuk interpersonal skill”. [10]

Selanjutnya Abuddin Nata menyebutkan bahwa; “Model pembelajaran cooperative learning adalah model pembalajaran yang terjadi sebagai akibat dari adanya pendekatan pembelajaran yang bersifat kelompok”. [11]

Menurut Kokom Komalasari, yang dikutif dari Slavin (1984) “Pembelajaran kooperatif adalah suatu strategi pembelajaran dimana siswa belajar dan bekerja dalam kelompok-kelompok kecil secara kolaboratif yang anggotanya terdiri dari 2 sampai 5 orang, dengan struktur kelompoknya yang bersifat heterogen. Keberhasilan belajar dari kelompok tergantung pada kemampuan dan aktifitas anggota kelompok, baik secara individual maupun kelompok”. [12]

Model pembelajaran kooperatif ini akan penulis aplikasikan dalam pembelajaran Akhlak. Untuk lebih konkritnya langkah-langkah dalam penerapan model pembelajaran kooperatif adalah berikut ini :

Langkah-langkah pembelajaran kooperatif. [13]

Fase

Tingkah Laku Guru

Fase 1

Menyampaikan tujuan dan motivasi siswa

Guru menyampaikan semua tujuan pelajaran yang ingin dicapai pada pelajaran tersebut dan memotivasi siswa belajar

Fase 2

Menyajikan informasi

Guru menyajikan informasi kepada siswa dengan jalan demonstrasi atau lewat bahan bacaan

Fase 3

Mengorganisasikan siswa kedalam kelompok kooperatif

Guru menjelaskan kepada siswa bagaimana caranya membentuk kelompok belajar dan membantu setiap kelompok agar melakukan transisi secara efisien

Fase 4

Membimbing kelompok bekerja dan belajar

Guru membimbing kelompok-kelompok belajar pada saat mereka mengerjakan tugas

Fase 5

Evaluasi

Guru mengevaluasi hasil belajar tentang materi yang telah dipelajari atau masing-masing kelompok mempresentasikan hasil kerjanya

Fase 6

Memberikan penghargaan

Guru mencari cara-cara untuk menghargai baik upaya maupun hasil belajar individu dan kelompok

Dalam pembelajaran kooperatif, sebenarnya tidak hanya langkah-langkah yang dibicarakan, tetapi ada metode pembantu secara spesipik mengarah kepada pelaksanaan penyajian materi pelajaran. Namun ada yang menyebutnya dengan variasi pembelajaran kooperatif. Untuk sekedar pengetahuan metode pembantu tersebut penulis kemukakan berikut ini : [14]

1.      Student Teams Achievement Division (STAD)

2.      Tim Ahli (Jigsaw)

3.      Investigasi kelompok (Group Investigation)

4.      Think Pair Share (TPS)

5.      Numbered Head Together (NHT)

6.      Team Games Tournament (TGT)

Masih dalam model pembelajaran kooperatif dengan dasar konstruktivism, yaitu; Pembelajaran kontekstual atau Contextual Teaching and Learning yang sering dikenal dengan istilah CTL. CTL merupakan konsep yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata dan mendorong peserta didik membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat. [15]

Selanjutnya Agus menyebutkan, ada 7 komponen pembelajaran kontekstual yaitu konstruktivisme, inkuiri, bertanya (questioning), masyarakat belajar (learning community), pemodelan (modelling), refleksi, dan penilaian autentik.

Atas dasar itu, saran pokok dalam penyusunan program pembelajaran berbasis kontekstual adalah sebagai beriku : [16]

  1. Nyatakan kegiatan utama pembelajarannya, yaitu sebuah pernyataan kegiatan siswa yang merupakan gabungan antara kompetensi dasar, materi pokok, dan indikator pencapaian hasil belajar
  2. Nyatakan tujuan umum pembelajarannya
  3. Rincilah media untuk mendukung kegiatan itu
  4. Buatlah scenario tahap demi tahap kegiatan siswa
  5. Nyatakan authentic assesment-nya yaitu dengan data apa siswa dapat diamati partisipasinya dalam pembelajaran.

Model CTL ini penulis aplikasikan dalam materi pembelajaran aqidah. Sebab untuk sebuah keyakinan dan kesadaran diri, siswa dituntut untuk menyaksikan data yang nyata dihadapannya. Misalkan dengan dengan adanya pahala berupa kebaikan dalam hidup yang diperoleh selama ini. Atau dengan bentuk ujian yang Allah berikan kepada dirinya. Seperti sakit, kekuarangan rizki, kemiskinan, dan lain-lain.

  1. Analisis Dan Kritik

Pembelajaran Aqidah Akhlaq di tingkat SMK ini penulis akan menyajikan empat hal yang kiranya perlu dianalisa. Empat hal tersebut antara lain : SK-KD , silabus, RPP dan materi pelajaran aqidah-akhlak SMK dari kelas X sampai kelas XII.

1.      Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar mata pelajaran Aqidah-Akhlak tingkat SMK  [17]

Kelas X, Semester 1

STANDAR KOMPETENSI

KOMPETENSI DASAR

3.       Keimanan kepada Allah melalui pemahaman sifat-sifatNya dalam Asmaul Husna 3.1  Menyebutkan 10 sifat Allah  dalam Asmaul  Husna

3.2  Menjelaskan arti  10 sifat Allah dalam Asmaul  Husna

3.3  Menampilkan perilaku yang mencerminkan keimanan terhadap 10 sifat Allah dalam Asmaul  Husna

4.    Membiasakan perilaku terpuji 4.1   Menyebutkan pengertian perilaku  husnuzhan.

4.2   Menyebutkan contoh-contoh  perilaku husnuzhan terhadap Allah, diri sendiri dan sesama manusia

4.3  Membiasakan perilaku husnuzhan dalam kehidupan sehari-hari

Kelas X, Semester 2

STANDAR KOMPETENSI

KOMPETENSI DASAR

8. Meningkatkan keimanan kepada Malaikat. 8.1  Menjelaskan tanda-tanda beriman kepada Malaikat

8.2  Menampilkan contoh-contoh perilaku beriman kepada Malaikat

8.3  Menampilkan perilaku sebagai cerminan beriman kepada Malaikat dalam kehidupan sehari-hari

9.    Membiasakan perilaku terpuji 9.1   Menjelaskan pengertian adab dalam berpakaian, berhias, perjalanan, bertamu dan atau menerima tamu.

9.2   Menampilkan contoh-contoh adab dalam berpakaian, berhias, perjalanan, bertamu atau menerima tamu.

9.3  Mempraktikkan adab dalam berpakaian, berhias, perjalanan, bertamu dan atau menerima tamu dalam kehidupan sehari-hari

10.   Menghindari perilaku tercela 10.1Menjelaskan pengertian hasud riya dan aniaya.

10.2Menampilkan contoh-contoh perilaku hasud riya dan aniaya.

10.3Menghindari perilaku hasud    riya dan aniaya dalam kehidupan sehari-hari

Kelas XI, Semester 1

STANDAR KOMPETENSI

KOMPETENSI DASAR

3. Meningkatkan keimanan kepada Rasul-

rasul Allah.

3.1  Menjelaskan tanda-tanda beriman kepada Rasul-rasul Allah

3.2  Menunjukkan contoh-contoh perilaku beriman kepada Rasul-rasul Allah

3.3. Menampilkan perilaku yang mencerminkan  keimanan kepada Rasul-rasul Allah dalam kehidupan sehari-hari

9.       Membiasakan berperilaku terpuji 4.1  Menjelaskan pengertian  taubat dan raja`.

4.2  Menampilkan contoh-contoh perilaku taubat dan raja`.

4.3  Membiasakan perilaku bertaubat dan  raja` dalam kehidupan sehari hari

Kelas XI Semester 2

STANDAR KOMPETENSI

KOMPETENSI DASAR

           8. Meningkatkan keimanan kepada Kitab-

kitab Allah.

8.1   Menampilkan perilaku yang mencerminkan keimanan terhadap Kitab-kitab Allah

8.2   Menerapkan hikmah beriman kepada Kitab-kitab  Allah

9.       Membiasakan perilaku terpuji 9.1   Menjelaskan pengertian dan maksud  menghargai karya orang lain.

9.2   Menampilkan contoh  perilaku menghargai karya orang lain.

9.3   Membiasakan perilaku menghargai karya orang lain dalam kehidupan sehari-hari

10.   Menghindari perilaku tercela 10.1Menjelaskan pengertian Dosa besar.

10.2Menyebutkan contoh perbuatan dosa besar.

10.3Menghindari perbuatan dosa besar dalam kehidupan sehari-hari

Kelas XII, Semester 1

STANDAR KOMPETENSI

KOMPETENSI DASAR

3. Meningkatkan keimanan kepada hari akhir. 3.1   Menampilkan perilaku yang mencerminkan keimanan terhadap Hari Akhir

3.2   Menerapkan hikmah beriman kepada Hari Akhir

4. Membiasakan perilaku terpuji 4.1   Menjelaskan pengertian adil, ridha, dan amal shaleh

4.2.  Menampilkan contoh perilaku adil, ridha, dan amal shaleh

4.3   Membiasakan perilaku adil, ridha, dan amal shaleh dalam kehidupan sehari-hari

Kelas XII Semester 2

STANDAR KOMPETENSI

KOMPETENSI DASAR   

        8. Meningkatkan keimanan kepada Qadha’ dan Qadar. 8.1   Menjelaskan tanda-tanda keimanan kepada qadha’ dan qadar

8.2   Menerapkan hikmah beriman kepada qadha’ dan qadar

9.       Membiasakan perilaku terpuji 9.1   Menjelaskan pengertian dan maksud persatuan dan kerukunan.

9.2   Menampilkan contoh perilaku  persatuan dan kerukunan.

9.3   Membiasakan perilaku persatuan dan kerukunan dalam kehidupan sehari-hari

10.   Menghindari perilaku tercela 10.1 Menjelaskan pengertian  isyrof, tabzir, ghibah, dan fitnah.

10.2 Menjelaskan contoh  perilaku  isyrof, tabzir, ghibah, dan fitnah.

10.3 Menghindari perilaku isyraf, tabzir, ghibah, dan fitnah dalam kehidupan sehari-hari

Berdasarkan analisa penulis bahwa materi pembelajaran di SMK dengan yang ada di SMA tidak jauh berbeda, baik dari kedalaman materi atau dari SK dan KD yang disediakan dalam kurikulum. Pembahasannya tidak mencerminkan perbedaan yang mendasar didunia SMA pada umumnya dengan dunia kerja yang diperuntukkan untuk siswa SMK. Meskipun secara kasar, apa yang dilakukan siswa SMA bisa juga dilakukan oleh siswa SMK. Begitupun sebaliknya.

SK dan KD untuk aqidah tetap saja membahas rukun iman yang enam. Sebenarnya materi ini telah dibahas juga pada tingkat SMP dengan runutan yang sama yaitu

1.      Pada semester I pembahasan Iman kepada Alloh

2.      Pada semester II pembahasan Iman kepada Malaikat Alloh

3.      Pada semester III pembahasan Iman kepada Kitab Alloh

4.      Pada semester IV pembahasan Iman kepada Rasul Alloh

5.      Pada semester V pembahasan Iman kepada Hari Kiamat Alloh

6.      Pada semester VI pembahasan Iman kepada Qodla dan Qadar Alloh

Urutan rukun iman itu penulis kemukakan sesuai dengan yang tertera dalam al-Qur’an dan hadits Nabi SAW.

Urutan dalam al-Qur’an adalah : [18]

Rasul telah beriman kepada Al Quran yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (mereka mengatakan): “Kami tidak membeda-bedakan antara seseorangpun (dengan yang lain) dari rasul-rasul-Nya”, dan mereka mengatakan: “Kami dengar dan Kami taat.” (mereka berdoa): “Ampunilah Kami Ya Tuhan Kami dan kepada Engkaulah tempat kembali.” (QS. Al-Baqarah : 285)

Urutan dalam al-Hadits adalah : [19]

كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يوم بارزا للناس فأتاه رجل فقال: يا رسول الله! ما الإيمان؟ قال “أن تؤمن بالله وملائكته وكتابه ولقائه ورسله وتؤمن بالبعث الآخر”

Adalah Rasulullah SAW. ketika suatu hari beliau keluar untuk menemui manusia, maka datang seorang laki-laki menemui Rasulullah SAW., laki-laki itu berkata; ya Rasulullah, apakah iman itu? Rasul berkata: Engkau beriman kepada Allah, Malaikat-Nya, Kitab-kitabnya, dan bertemu dengan Rasulnya, dan engkau beriman kepada hari kebangkitan (Hari Akhir) (HR. Muslim)

Sedangkan dalam SK-KD untuk tingkat SMK urutannya adalah :

  1. Meningkatkan keimanan kepada Alloh
  2. Meningkatkan keimanan kepada Malaikat semester II
  3. Meningkatkan keimanan kepada Rasul-rasul Allah semester III
  4. Meningkatkan keimanan kepada Kitab-kitab Alloh semester IV
  5. Meningkatkan keimanan kepada Hari Akhir semester V
  6. Meningkatkan keimanan kepada Qadla dan qadar Alloh semester VI

Terdapat penempatan urutan yang kurang tepat dalam materi aqidah, yaitu nomor empat (meningkatkan keimanan kepada Rasul) ditempatkan pada nomor tiga. Sedangkan nomor tiga (meningkatkan keimanan kepada kitab Allah) ditempatkan pada nomor empat. Kalau menurut hadits diatas seharusnya disesuaikan dengan urutan yang ada dalam al-Qur’an dan al-Hadits.

Sedangkan SK-KD untuk materi perilaku terpuji ada pengulangan pada semester dua tiap tingkatan kelas. Jadi pada semester I satu kali dan semester II satu kali. Untuk perilaku tercela hanya satu kali pada setiap semester II untuk masing-masing tingkatan kelas. Mungkin perimbangannya adalah lebih mengutamakan perilaku terpuji ketimbang membahas perilaku tercela.

  1. Silabus dan RPP

Secara prinsip penulis tidak terlalu mempermasalahkan penulisan silabus dan RPP. Karena menurut pendapat penulis seluruh silabus dan RPP adalah baik asal sesuai dengan ketentuan yang berlaku dalam pembuatannya. Oleh karenanya penulis cenderung memberikan contoh dan solusi pembuatan silabus dan RPP yang dianggap sedikit lebih mendekati aturan yang ditentukan dan disesuaikan dengan model yang dibuat. Aturan ini juga sesuai dengan Permendiknas nomor 41 tahun 2006.

  1. Solusi dan Aplikasi Model dalam RPP

Menyangkut masalah materi, hendaknya ada kerunutan pembahasan yang kontinu antara isi dengan penjelasan. Pembahasan materi pada tingkat SMK hendaknya diaplikasikan kedunia kerja. SMK merupakan sekolah kejuruan, yang sejak semester pertama sudah dipersiapkan kearah dunia kerja. Memang setiap guru yang mengajar pada SMK sudah barang tentu akan selalu mengidentikan SMK dengan dunika kerja, namun ada baiknya setiap penulis buku yang digunakan di SMK juga harus membantu kearah dunia kerja.

Kalau pembahasan kedalaman materi sama dengan SMA, penulis kira tidak ada yang aneh dari materi tersebut. Tetapi coba kita lihat tulisan pada buku daras SMK judulnya jelas “Memahami Pendidikan Agama Islam SMK untuk kelas X, Semester 1 dan 2 Semua bidang keahlian”. Pada buku daras SMA judulnya jelas ““Memahami Pendidikan Agama Islam SMA untuk kelas X, Semester 1 dan 2”. [20] Akhirnya pada gilirannya membeli buku untuk pelajaran PAI di SMA sama saja akan terpakai di SMK. Padahal yang diinginkan adalah bagaimana meramu materi di dunia SMK yang seluruh siswanya akan terjung langsung kedalam dunia kerja.

Menyangkut solusi dan aplikasi RPP kedalam model pembelajaran yang dirancang, akan lebih mengacu pada peraturan pemerintah nomor 41 tahun 2006. Sebagaimana disebutkan di atas bahwa penulis akan menggunakan model pembelajaran kooperatif dalam materi akhlaq. Sedangkan dalam materi aqidah akan digunakan model pembelajaran konstekstual.

Untuk lebih jelasnya penulis sajikan RPP yang disesuaikan dengan Permen Nomor 41 tahun 2006, dan model pembelajaran yang dikaji.

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

Mata Pelajaran              : PAI (Pendidikan Agama Islam)

Bidang                          : Akhlak

Kelas/ Semester           : XII / I

Waktu                            : 2 x 45

Standar Kompetensi    : 4.Membiasakan perilaku terpuji

Kompetensi dasar        :4.2 Menampilkan contoh perilaku adil, rida

                                            dan amal saleh

Indikator              :  1. Menampilkan contoh perilaku adil

                                2. Menampilkan contoh perilaku rida

3. Menampilkan contoh perilaku amal saleh

A.   Tujuan Pembelajaran

Melalui diskusi informasi peserta didik diharapkan:

* Dapat menampilkan berbagai macam contoh prilaku adil

* Dapat menampilkan berbagai macam contoh perilaku rida

* Dapat menampilkan berbagai macam contoh perilaku amal saleh

B.   Materi Pokok

      Menampilkan contoh perilaku adil, rida dan amal saleh

1.    Adil

Salah satu contoh dari  prilaku adil yaitu seorang pengauasa yang adil senantiasa melaksanakan tugas sesuai dengan fungsi dan           kedudukannya.

2. Rido

Salah satu contoh dari  prilaku rida yaitu ketika seseorang divonis           penyakit yang tidak bisa disembuhkan menurut dokter. Tetapi ia           menghadapinya dengan penuh keridaan, dan yakin bahwa Allah            menciptakan suatu penyakit pasti dengan obatnya, hanya saja           obatnya itu belum diketahui oleh karena keterbatasan ilmu manusia.

3. Amal saleh

Dilihat dari bentuknya contoh amal saleh ada dua macam, yaitu amal batiniah dan  amal lahiriah.

a.    Contoh amal batiniah

-       Beriman, yaitu meyakini dengan sepenuh hati akan keesaan Allah SWT, para malaikat, kitab-kitab Allah, hari akhir, serta qada dan qadar.

-       Bersabar, yaitu kuat dan tenang hati dalam menghadapi segala          Cobaan.

-       Berniat, yaitu mementukan maksud atau tujuan dilakukannya       Suatu perbuatan.

-       Bertawakal, yaitu berserah diri kepada kehendak Allah SWT.

-       Ikhlas, yaitu ketulusan hati untuk menerima segala ketetapan        Allah SWT.

b.    Contoh amal lahiriah

- Contoh amaliah lahiriah yang berupa ucapan:

1. nasihat menasihati yang baik

2. Ucapan yang baik

3. Membaca al-Qur’an

- ­Amal lahiriah yang berupa perbuatan

1. Mendirikan Shalat dan menunaikan Zakat

2.Tolong menolong dalam kebaikan

3. Berjual beli yang halal

C.   Strategi dan Metode Pembelajaran

Model                    : Cooperatif Learning/Contruktivisme

Strategi                  : Tipe =JIGSAW

Pendekatan           : Ketrampilan proses

Metode                  : Diskusi – informasi

D.   Kegiatan Pembelajaran

Fase

Kegiatan

Waktu

I

TATAP MUKA

Pendahuluan

Apersepsi:

Pengertian adil, rida , dan amal saleh.

Motivasi :

Buatlah masing-masing contoh dari pengertian adil, rida, dan amal saleh.

Guru menyampaikan tujuan pembelajaran.

5’

II

Kegiatan inti

Eksplorasi

Pembentukan kelompok Heterogen dalam prestasi, gender, etnis, dan agama.

Setiap anggota kelompok diberi tugas yang berbeda (nomor berbeda) sesuai kesepakatan dalam kelompok

Setiap anggota kelompok diberi materi yang berbeda sesuai penugasan dalam kelompoknya.

10’

III

IV

V

Elaborasi

Dalam diskusi kelompok yang dituntun dengan woksheet Anggota kelompok yang berasal dari kelompok yang berbeda tetapi memiliki no. yang sama akan berkumpul menjadi lelompok baru (kelompok ahli/ekspert)

Pembentukan kelompok ekspert.

Diskusi dalam kelompok ekspert dengan pembahasan :

Kelompok ekspert 1 :  Contoh perilaku adil.

Kelompok ekspert 2 :  Contoh perilaku rida.

Kelompok ekspert 3 :  Contoh perilaku amal saleh batiniah.

Kelompok ekspert 4 :  Contoh Perilaku amal saleh lahiriah.

Guru  berkeliling memberi bimbingan pada setiap kelompok ahli.

Setelah selesai berdiskusi dalam tim ahli anggota kelompok kembali pada kelompok asal sambil membawa materi hasil diskusi.

Dalam kelompok kecil/kelompok asal tiap anggota kelompok menjelaskan materi hasil diskusi dalam tim ahli secara bergantian.

Guru memberikan bimbingan pada tiap kelompok.

Konfirmasi

Tiap kelompok mempresentasikan hasil diskusi kelompok kecil secara bergantian dengan bimbingan pendidik.

Guru memotivasi setiap anggota kelompok agar mau berbicara dan berperan aktif.

20’

  15’

15’

Penutup

Guru memberikan penguatan-penguatan pada materi yang dibahas.

Guru dan peserta didik membuat kesimpulan.

Guru memberikan refleksi

Guru memberikan Kuis.

Penugasan Terstruktur (PT)

Memberikan tugas membiasakan berperilaku adil, rida, dan amal saleh dalam kehidupan sehari-hari.

Menunjukan contoh kegiatan adil, rida, amal saleh, yang suka dilakukan dalam kehidupan sehari-hari oleh siswa.

25’

E.    Penilaian Authentic Assessment

Jenis Penlaian :

  • Penilaian kognitif (terlampir)
  • Penilaian afektif

F.    Alat / Bahan / Sumber belajar

  • Al-Qur’an dan terjemahn
  • A. Wahid Sy., “Memahami Pendidikan Agama Islam SMK untuk kelas XII, Semester 1 dan 2 Semua bidang keahlian” (Bandung: Armico. 2007)
  • Khuslan Haudhi dan Abdurrohim Sa’id, Integrasi budi pekerti dalam pendidikan Agama Islam 3 Untuk kelas XII SMA, (Solo: Tiga Serangkai Pustaka Mandiri.2007)

Lembar kerja siswa

Menampilkan contoh perilaku adil, rida, dan amal saleh

                                    Mata pelaajaran          : PAI

Kelas/semester          : XII/I

Waktu                         : 2 X 45 menit

Petunjuk Belajar :

a)    Baca secara cermat sebelum anda mengerjakan tugas

b)    Bekerja secara kelompok

berkumpullah anda sesuai dengan nomor pada kelompok untuk

membahas materi 1,2, 3, dan 4.

Kelompok ekspert 1   :  Contoh perilaku adil.

Kelompok ekspert 2   :  Contoh perilaku rida.

Kelompok ekspert 3   :  Contoh perilaku amal saleh batiniah

Kelompok ekspert 4   :  Contoh perilaku amal saleh lahiriah

c)    Setelah selesai diskusi pada tim ekspert kembali pada kelompok asal untuk mendiskusikan materi dalam tim ekspert

d)  Konsultasikan pada Guru  bila anda mengalami kesulitan

e)  Bacalah buku dan literatur sebanyak-banyaknya untuk

memperdalam pemahaman siswa

Kompetensi Dasar yang akan dicapai:

4.2. Menampilkan perilaku adil, rida, dan amal saleh.

Informasi

Contoh amal saleh ada dua macam yaitu amal batiniah dan amal Lahiriah

Langkah kerja

Pembelajaran bisa dilakukan/dikerjakan di dalam kelas atau perpustakaan.

- Tim ekspert 1

Pelajari dan telaah mengenai berbagai contoh perilaku adil kemudian jawab pertanyaan berikut:

  1. prilaku yang bagai mana yang mencerminkan contoh perilaku adil?
  2. Buatlah beberapa contoh prilaku tersebut!

- Tim ekspert 2

Pelajari dan telaah mengenai berbagai contoh perilaku rida  kemudian jawab pertanyaan berikut:

  1. Perilaku yang bagai mana yang mencerminkan contoh perilaku rida?
  2. Buatlah beberapa contoh perilaku tersebut?

- Tim ekspert 3

Pelajari dan telaah mengenai berbagai macam contoh perilaku amal saleh batiniah kemudian jawab pertanyaan berikut:

  1. Perilaku yang bagai mana yang mencerminkan contoh perilaku amal saleh batiniah?
  2. Butlah beberapa  contoh perilaku tersebut!

- Tim ekspert 4

Pelajari dan telaah mengenai berbagai macam contoh perilaku amal saleh lahiriah kemudian jawab pertanyaan berikut

  1. Perilaku yang bagai mana yang mencerminkan contoh perilaku amal saleh lahiriah?
  2. Butlah beberapa contoh perilaku tersebut!

Langkah kerja

-       Bekerjalah dalam tim ekspert sesuai dengan nomornya

-       Diskusikan materi yang dipelajari dalam kelompok ekspert dan jawab pertanyaan yang diberikan

-       Kembali ke kelompok asal sambil membawa/mempresentasikan hasil diskusi dalam kelompok ekspert

-       Kerjakan soal yang disediakan dalam kelompok

-       Diskusikan dalam kelompok secara keseluruhan

-       Kumpulkan hasil jawaban

Soal kuis

  1. Seorang hakim memutuskan putusan bukan berdasarkan keputusan yang benar akan tetapi berat sebelah dikarnakan adanya uang pelicin. sikap tersebut bertentangan dengan akhlak terpuji apa?
  2. Ketika ditimpa musibah sebagai  seorang muslim kita harus bersikap bagaimana?
  3. Dilihat dari bentuknya, Ada berapa macam amal saleh itu?


PENILAIAN/AUTENTIC ASESSMENT

A.    Kognitif

No

Nama

No Soal

Skor

Ket

1

2

3

4

5

Ket : Aspek yang dinilai                                                   Skor

1.    Siswa dapat memberikan contoh perilaku adil       :  25

2.    Siswa dapat memberikan contoh perilaku rida       :  25

3.    Siswa dapat memberikan contoh perilaku amal

Saleh  batiniah                                             :  25

4.    Siswa dapat memberikan contoh perilaku amal

Saleh lahiriah                                                       :  25

Jumlah              :100

B.    Afektif

No

Nama Siswa

Aspek Afektif yang dinilai

Jumlah

Kerja-sama

Membaca  referensi

Menghargai pendapat org lain

Semangat/ motivasi

Minat

Mengetahui                                                     Bandung,  Januari 2010

Kepala Sekolah                                               Guru Mata Pelajaran PAI

Asep Gema Nurohmat, SH., MM                   Drs.  S  A  L  I  M  I

NIP. 19640616 200701 1 004                    NIP. 19660517 200501 1 001

Rencana Pelaksanaan Pembelajaran

(RPP)

Nomor                                                 :  03

Status sekolah/Satuan pendidikan      : SMK Karya Budi

Bidang                                                            : Akidah

Mata Pelajaran                                    : Pendidikan Agama Islam (PAI)

Kelas/Semester                                    : XII/I

Pertemuan ke                                      : 5

Alokasi Waktu                                    : 2×45 menit (1×pertemuan)

Standar Kompetensi   : 3. Meningkatkan keimanan kepada hari akhir

Kompetensi Dasar       : 3.1 Menampilkan perilaku yang mencerminkan keimanan

kepada hari akhir

Indikator                     : 1. Menjelaskan pengertian iman kepada hari akhir

2. Menjelaskan perbedaan antara kiamat sugra dan

kiamat kubra

3. Menjelaskan hari kiamat menurut teori alam

4. Menjelaskan fase-fase kehidupan setelah hari

kiamat

5. Menjelaskan tentang surga dan neraka

I. Tujuan Pembelajaran

Melalui pembelajaran langsung dengan pengamatan kepada visualisasi slide diharapkan siswa dapat :

  1. Menjelaskan pengertian iman kepada hari akhir
  2. Menjelaskan perbedaan antara kiamat sugra dan kiamat kubra
  3. Menjelaskan hari kiamat menurut teori alam
  4. Menjelaskan fase-fase kehidupan setelah hari kiamat

II. Materi Pembelajaran

  1. Pengertian Hari Akhir

Iman Kepada Hari Akhir: mempercayai bahwa seluruh alam semesta ini dan segala isinya pada suatu saat nanti akan mengalami kehancuran dan mengakui bahwa setelah kehidupan di dunia ini ada kehidupan yang kekal abadi.

Hari Akhir disebut juga dengan Hari Kiamat.

o  Kiamat terbagi dua; kiamat sugra dan kiamat kubra.

o  Kiamat sugra adalah kiamat kecil, yaitu berakhirnya kehidupan masing-  masing makhluk.

o  Kiamat kubra adalah kiamat besar, yaitu musnahnya alam semseta serta segala isinya secara serempak atau berakhirnya seluruh kehidupan mahkluk alam ini secara  serempak.

  1. Tanda-Tanda Kiamat

Tanda-tanda Hari Kiamat diterangkan dalam hadits Rasulullah saw yang diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah, al-Bukhari, Muslim, al-Tirmidzi sbb:

No.

Tanda-Tanda Kecil

No.

Tanda-Tanda Besar

1.

Budak dikawini oleh tuannya

1.

Matahari terbut dari barat

2.

Ilmu agama dianggap sudah tidak penting

2.

Munculnya binatang ajaib yang bisa berbicara

3.

Tersebarnya perzinahan krn memperoleh izin dari penguasa

3.

Rusaknya Ka’bah

4.

Minuman keras merajalela

4.

Lenyapnya al-Qur’an

5.

Jumlah wanita lebih banyak daripada laki-laki (50:1)

5.

Seluruh manusia menjadi kafir

6.

Ada dua golongan besar yang saling membunuh, tetapi sama mengaku dirinya memperjuangkan agama Islam

6.

Keluarnya bangsa Ya’juz Ma’juz. Ya’juz Ma’juz adalah kaum yang gemar membuat kerusakan di muka bumi. Menurut Hamka, YM adalah segala gerak yang telah dan hendak merusak dunia ini, dan bisa ditafsirkan sebagai pikiran jahat, maksud buruk, dan ideologi yang menyesatkan yang dianut oleh sebagian manusia.

7.

Lahirnya dajjal (tukang dusta)

8.

Banyak terjadi gempa bumi

9.

Fitnah muncul di mana-mana

10.

Pembunuhan merajalela

11.

Banyak manusia yang menginginkan dirinya mati
  1. Kiamat menurut Teori Ala

1)  Menurut Ilmu Geologi; bumi ini terdiri dari semacam gas panas (nebula) yang karakternya berkembang dan mendesak keluar. Suatu saat tekanan itu akan lebih kuat sehingga terjadi gempa dan letusan gunung. Jika tekanan atmosfir dari luar makin kuat maka bumi akan hancur dan isinya berhamburan.

2)      Menurut Ilmu Astronomi; planet-planet beredar di angkasa mengelilingi matahari. Peredaran itu tidak berbenturan satu sama lain karena adanya daya tarik menarik yang seimbang. Daya tersebut tidak selamnya seimbang, daya itu makin lama makin habis. Seandainya tidak ada keseimbangan lagi,bumi akan meluncur dengan kekuatan yang dahsyat menumbruk matahari. Hancurlah bumi itu.

3)      Menurut Ilmu Fisika; matahari diperkirakan 150 x 106 KM jauhnya dari bumi. Sinar matahari akan sampai ke bumi dalam waktu 8 menit 20 detik. Para ahli fisika menghitung energi matahari yang dipancarkan = 5,7 x 1027 kalori per menit dan mampu menyala selama 50 milyar tahun. Waktu menyala matahari juga terbatas, dan pada suatu hari nanti matahari tidak akan bersinar lagi.

  1. Kehidupan Setelah Hari Kiamat

1.      Yaumu al-Ba’ats (hari Kebangkitan dari Kubur), yaitu bangkitnya seluruh manusia dari kuburnya

2.      Yaumu al-Hasyr (harti Berkumpulnya Manusia), manusia digiring ke suatu tempat lapang yang bernama Mahsyar.

3.      Yaumu al-Hisab (hari Perhitungan) dan Yaumu al-Mizan (hari Penimbangan); setelah manusia berkumpul di padang Mahsyar, manusia akan dihisab, dihitung, dan ditimbang amal perbuatannya.

4.      Yaumu al-Jaza’ atau Yaumu al-Fashl; setelah dihisab, manusia diberi balasan atas amalnya dan diputuskan.

5.      Surga dan neraka; setelah mendapat Keputusan dari Allah di mana tempat mereka selanjutnya, manusia segera dibawa ke surga atau neraka.

  1. Fungsi Iman Kepada Harti Akhir

1.      Mendorong untuk beramal shaleh

2.      Harapan mendapatkan keadilan hakiki akan menjadi kenyataan

3.      Pandangan hidup menjadi optimis

4.      Bertindak dengan penuh tangggung jawab.

III. Strategi dan Metode Pembelajaran

Model                    : Contekstual Teaching Learning

Strategi                  : Visualisasi slide

Pendekatan           : Ketrampilan tindakan, sikap, dan resitasi

Metode                  : Diskusi – informasi

IV. Kegiatan Pembelajaran  

      Langkah-Langkah:

1.      Kegiatan Pendahuluan (±10 menit)

a.    Guru mengkondisikan siswa untuk belajar, kesiapan diri, kerapian pakaian, tataletak kursi dan alat-alat tulis

b.    Guru memberi salam dan memulai pelajaran dengan mengucapkan basmalah dan berdoa bersama.

c.    Mengontrol kehadiran siswa dengan menanyakan yang tidak hadir dengan alasannya

d.   Mengkondisikan siswa untuk belajar dengan pendekatan individual ketika menerapkan pembelajaran kontekstual

e.    Melakukan appersepsi; Bagaimana keadaan kalian setelah meyakini etos kerja berdasaarkan QS. Al-Mujadilah : 11 didunia ini untuk membekali diri di akhirat kelak?

f.     Memancing pikiran siswa tentang tujuan hidup didunia dan keyakinan diri akan adanya hari kiamat sesuai indikator pencapaian

g.    Guru menjelaskan secara singkat materi yang akan dipelajari dengan kompetensi dasarnya.

h.    Guru menjelaskan secara singkat langkah-langkah pembelajaran yang akan dilaksanakan.

  1. Kegiatan Inti (±70 menit)

a)      Guru memberikan informasi, bahwa hari ini akan melaksanakan diskusi kelompok seputar materi meningkatkan keimanan kepada hari akhir (pengertian iman kepada hari akhir, perbedaan antara kiamat sugra dan kubra, hari kiamat menurut teori, fase kehidupan setelah hari kiamat)

b)       Guru memberikan arahan cara-cara membentuk kelompok diskusi; terdiri dari 4-5 orang, dipilih secara acak (heterogen), duduk dalam meja kelompok masing-masing

c)   Guru menyodorkan materi pada masing-masing kelompok untuk didiskusikan dari mulai (bagaimana orang yang tidak yakin akan kiamat?, dan bagaimana kalau kiamat itu benar-benar ada?)

d)       Masing-masing kelompok melaksanakan diskusinya seputar hari akhir dengan bimbingan guru

e)        Guru mempasilitasi kelompok yang mendpat kesulitan dalam diskusi

f)         Guru memeriksa hasil diskusi kelompok siswa

g)        Masing-masing kelompok mempresentasikan hasil diskusinya dengan durasi waktu 5 menit, yang kemudian dinilai dan dievaluasi oleh guru secara kelompok

h) Guru memberikan penghargaan kepada kelompok terbaik dalam diskusi, dengan mengapresiakannya melalui aplous (tepuk tangan) dan penilaian kulitatif terbaik

3. Kegiatan Akhir (± 10 menit)

a.       Guru menyimpulkan materi pembelajran dari hasil diskusi siswa

b.      Mengadakan post tes untuk menilai keberhasilan belajar dalam diskusi siswa

c.       Guru menutup pelajaran dengan membaca doa, hamdallah, dan mengucapkan salam.

V. Penilaian

a.    Tes tulis dilakukan dengan menggunakan latihan pada buku Integrasi Budi Pekerti dalam Pendidikan Agama Islam 3 halaman 34–36. (soal terlampir)

b.    Tes Sikap

No.

Indikator ke

Pernyataan

SS

S

TS

STS

1.

 1

dari KD

1

Orang yang tidak mempercayai akan adanya hari akhir biasanya tidak takut berbuat dosa, seolah-olah dunia tidak akan berakhir.

2.

2

dari KD

1

Kiamat sugra adalah kiamat besar seperti kematian dan kiamat kubra adalah kiamat kecil seperti hancurnya bumi ini.

3.

3

dari KD

          1

Tanda-tanda kiamat telah muncul saat ini, seperti adanya tsunami dan gempa bumi

4.

4

dari KD

          1

Setelah mati manusia akan dibangkitkan kembali untuk menjalani kehidupan berikutnya.

5.

 5

dari KD

          1

Orang yang tidak suka beribadah kepada Allah dan dzalim terhadap diri dan orang lain adalah orang yang tidak percaya akan adanya hari pembalasan, surga, dan neraka

6.

 1

dari KD

          2

Seorang yang beriman kepada hari akhir senantiasa menjadi pendorong bagi mukmin yang lain untuk mengerjakan perbuatan baik dan menjauhi larangan-larangan Allah SWT.

7.

 2

dari KD

2

Tanda-tanda orang yang beriman kepada hari akhir adalah orang yang suka berzina dan mabuk-mabukan.

8.

 3

dari KD

2

Orang yang percaya/beriman pada hari akhir akan hati-hati dalam bertindak.

Keterangan:

SS = Sangat setuju

S = Setuju

TS = Tidak setuju

STS = Sangat tidak setuju

c.    Teknik Penilaian/Penskoran

1)      Untuk penilaian tes sikap; Soal no.1 sampai no.8 diberi skor 5, maka 5×8=40

2)      Untuk penilaian soal latihan yang terdapat dalam buku Integrasi Budi Pekerti dalam Pendidikan Agama Islam 3 hal :34-36 dengan ketentuan: Soal no.1 sampai 20  diberi skor 3, maka 3×20=60

3)      Maka skor keseluruhan untuk tes skala sikap dan tes tulis skor maksimalnya adalah =100

Skorperolehan siswa

Nilai     =                                                   X 10

Skor ideal

VI. Sumber/Bahan/Alat

1.      Al-Qur’an dan terjemahnya

2.      Buku Integrasi Budi Pekerti dalam Pendidikan Agama Islam 3 milik  pemerintah kabupaten Bandung , terbitan Tiga Serangkai tahun 2007

3.      Buku akidah akhlak

4.      Ensiklopedi Islam

5.      laptop, infokus, video dan slide untuk visualisasi

6.      lembaran tes sikap

VII. Evaluasi dan perbaikan            

…………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………… ………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………

Catatan: (Kepala Sekolah/Pengawas/Observer)

…………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………

…………………………………………………………………………………

Mengetahui                                                      Bandung, 17 Agustus 2010

Kepala Sekolah                                                            Guru Mata Pelajaran PAI

            Asep Gema Nurohmat, SH., MM                   Drs.  S  A  L  I  M  I              

NIP. 19640616 200701 1 004                        NIP. 19660517 200501 1 001

BAB III

PENUTUP

A.    Simpulan

Dari uraian diatas penulis dapat menyimpulkan bahwa guru harus mampu membuat desain pembelajaran dengan baik sesuai dengan kebutuhan siswa. Tidak semua materi yang disajikan dapat cocok dengan seluruh desin pembalajaran. Materi pembelajaran aqidah akhlaq hendaknya diberikan bukan sekedar pengetahuan belaka, tetapi harus lebih menitik beratkan kepada aplikasi dalam kehidupan nyata. Salah satu model yang dapat menyajikan pembelajaran aqidah akhlaq dengan terurai adalah Model Pembelajaran Kooperatif dan model pembelajaran Contextual Learning and Teaching (CTL). Pada penyajiannya siswa dituntut untuk mengkaji secara mendalam tentang manfaat aqidah akhlaq dan bahaya akibat ketidak yakinannya serta dekadensi moral yang keluar dari koridoe akhlak al-karimah. Kemudian materi yang dibahas akan terasa lebih baik dari segi kemajuannya ketimbang model pembelajaran konvensional atau tradisional.

B.     Saran

Perlu pembahasan yang lebih jelas dan luas dari model pembelajaran kooperatif dan Contextual Learning and Teaching (CTL). Praktek dilapangan sangat dianjurkan untuk mengetahui data outentik tentang keberhasilan dan kelemahan model pembelajaran kooperatif dan CTL, baik dari segi nilai akademik (prestasi siswa) maupun dari kecakapan hidup (life skill). Setiap guru hendaknya membuat model pembelajaran yang baik. Namun bukan hanya model yang baik saja, tetapi sangat dibutuhkan  kepiawaian dalam menyajikannya.

DAFTAR PUSTAKA

Abuzar, Afrizal. 2006. Silabus Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam SMA-SMK Depdiknas: Dirjendikdasmen.

Al-Qur’an dan terjemahnya pada Qur’an Inn-World

Haludhi, Khuslan. dan abdurrohim Sa’id, 2007. Memahami Pendidikan Agama Islam SMA untuk kelas X, Semester 1 dan 2,  Bandung: Armico.

Koesoema A, Doni. 2009. Pendidik Karakter di Zaman Kabalinger Jakarta: Gramedia Widiasarana Indonesia.

Komalasari, Kokom. 2010. Pembelajaran Kontekstual Konsep dan aplikasi. Bandung: Refika Aditama.

Muslim, Al-Imam. Shahih Muslim, Kumpulan hadits Shahih, Syarah Al-Minhaj Al-Nawawi

Nata, Abuddin. 2009. Perspektif Islam Tentang Strategi Pembelajaran Jakarta: Kencana Prenada Media Group.

Riyanto, Yatim. 2009. Paradigma Baru Pembelajaran, Sebagai Referensi Bagi Pendidik Dalam Implementasi Pembelajaran Yang Efektif dan Berkualitas. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.

Silabus Pendidikan Agama Islam untuk SMA dan SMK KTSP tahun 2006

Suprijono, Agus. 2010. Cooperative Learning Teori dan Aplikasi PAIKEM, Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Tafsir, Ahmad. Pada Perkuliahan Filsafat Pendidikan Islami, Sabtu, 20 Maret 2010 dan Sabtu, 27 Maret 2010di kelas PAI – K – B, program Pascasarjana Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung, tahun akademik 2009-2010

Trianto, 2010. Mendesain Model Pembelajaran Inovatif – Progresif  Jakarta: Kencana Prenada Media Group.

Wahid Sy, A.2007. Memahami Pendidikan Agama Islam SMK untuk kelas X, Semester 1 dan 2 Semua bidang keahlian, Bandung: Armico.

Yusuf LN., Syamsu. 2003. Psikologi Belajar Agama (Persepektif Pendidikan Agama Islam). Bandung: Pustaka Bani Quraisy.


[1] Ahmad Tafsir, Pada Perkuliahan Filsafat Pendidikan Islami, Sabtu, 20 Maret 2010 di kelas PAI – K – B, program Pascasarjana Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung, tahun akademik 2009-2010

[2] Ahmad Tafsir, Pada Perkuliahan Filsafat Pendidikan Islami, Sabtu, 27 Maret 2010 di kelas PAI – K – B, program Pascasarjana Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung, tahun akademik  2009-2010

[3] Afrizal Abuzar, Silabus Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam SMA-SMK (Depdiknas: Dirjendikdasmen. 2006), 53

[4] Syamsu Yusuf LN, Psikologi Belajar Agama (Persepektif Pendidikan Agama Islam) (Bandung: Pustaka Bani Quraisy. 2003), 3

[5] Syamsu Yusuf LN, Psikologi Belajar Agama, 3

[6] Syamsu Yusuf LN, Psikologi Belajar Agama, 4

[7] Yatim Riyanto, Paradigma Baru Pembelajaran, Sebagai Referensi Bagi Pendidik Dalam Implementasi Pembelajaran Yang Efektif dan Berkualitas, (Jakarta: Kencana Prenada Media Group. 2009) ed.1 cet.1, 269

[8] Abuddin Nata, Perspektif Islam Tentang Strategi Pembelajaran (Jakarta: Kencana Prenada Media Group. 2009) cet. Ke 1, 198

[9] Doni Koesoema A, Pendidik Karakter di Zaman Kabalinger (Jakarta: Gramedia Widiasarana Indonesia. 2009), 159

[10] Yatim Riyanto, Paradigma Baru Pembelajaran, 271

[11] Abuddin Nata, Perspektif Islam Tentang  Strategi Pembelajaran, 257

[12] Kokom Komalasari, Pembelajaran Kontekstual Konsep dan aplikasi (Bandung: Refika Aditama. 2010) cet. Ke 1, 62

[13] Trianto, Mendesain Model Pembelajaran Inovatif – Progresif (Jakarta: Kencana Prenada Media Group. 2010) cet. Ke 3, 66 – 67. Fase ini dapat dibaca juga pada buku Agus Suprijono, Cooperative Learning Teori dan Aplikasi PAIKEM, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar. 2010) cet. Ke III, 65

[14] Variasi metode pembelajaran kooperaif ini dapat dibaca secara lengkap pada: (Kokom Komalasari, 2010. Hlm. 62-69), (Trianto, 2010. Hlm. 67-83), (Agus Suprijono, 2009. Hlm. 89-101),

[15] Agus Suprijono, Cooperative Learning Teori dan Aplikasi PAIKEM, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar. 2010) cet. Ke III, 79-80

[16] Yatim Riyanto, Paradigma Baru Pembelajaran, 179-180

[17] Silabus Pendidikan Agama Islam untuk SMA dan SMK KTSP tahun 2006

[18] Al-Qur’an dan terjemahnya pada Qur’an Inn-World, QS. Al-Baqarah : 285

[19] Al-Imam Muslim, Shahih Muslim, Kumpulan hadits Shahih, Syarah Al-Minhaj Al-Nawawi, hadits ke 5

[20] A. Wahid Sy, “Memahami Pendidikan Agama Islam SMK untuk kelas X, Semester 1 dan 2 Semua bidang keahlian” (Bandung: Armico. 2007) hal judul. Dan “Memahami Pendidikan Agama Islam SMA untuk kelas X, Semester 1 dan 2” (Bandung: Armico. 2007) hal. Judul

Evaluasi Pembelajaran

1. Pengertian Evaluasi Pembelajaran
Secara harfiah kata evaluasi berasal dari bahasa Inggris evaluation, dalam bahasa Arab:al-Taqdir / Penilaian. Menurut istilah evaluasi berarti kegiatan yang terencana untuk mengetahui keadaan suatu objek dengan menggunakan instrument dan hasilnya dibandingkan dengan tolak ukur tertentu guna memperoleh kesimpulan. Evaluasi pendidikan dan pengajaran adalah proses kegiatan untuk mendapatkan informasi data mengenai hasil belajar mengajar yang dialami siswa dan mengolah atau menafsirkannya menjadi nilai berupa data kualitatif atau kuantitatif sesuai dengan standar tertentu. Menurut Suharsimi Arikunto (2004 : 1) evaluasi adalah kegiatan untuk mengumpulkan informasi tentang bekerjanya sesuatu, yang selanjutnya informasi tersebut digunakan untuk menentukan alternatif yang tepat dalam mengambil keputusan. Fungsi utama evaluasi dalam hal ini adalah menyediakan informasi-informasi yang berguna bagi pihak decision maker untuk menentukan kebijakan yang akan diambil berdasarkan evaluasi yang telah dilakukan.
Menurut Worthen dan Sanders (1979 : 1) evaluasi adalah mencari sesuatu yang berharga (worth). Sesuatu yang berharga tersebut dapat berupa informasi tentang suatu program, produksi serta alternatif prosedur tertentu. Karenanya evaluasi bukan merupakan hal baru dalam kehidupan manusia sebab hal tersebut senantiasa mengiringi kehidupan seseorang. Seorang manusia yang telah mengerjakan suatu hal, pasti akan menilai apakah yang dilakukannya tersebut telah sesuai dengan keinginannya semula.
Sedangkan menurut Viviane dan Gilbert de Lansheere (1984) menyatakan bahwa evaluasi adalah proses penentuan apakah materi dan metode pembelajaran telah sesuai dengan tujuan yang diharapkan. Penentuannya bisa dilakukan salah satunya dengan cara pemberian tes kepada pembelajar. Terlihat disana bahwa acuan tes adalah tujuan pembelajaran.
Pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Pembelajaran merupakan bantuan yang diberikan pendidik agar dapat terjadi proses pemerolehan ilmu dan pengetahuan, penguasaan kemahiran dan tabiat, serta pembentukan sikap dan kepercayaan pada peserta didik. Dengan kata lain, pembelajaran adalah proses untuk membantu peserta didik agar dapat belajar dengan baik.
Pembelajaran juga merupakan proses komunikatif-interaktif antara sumber belajar, guru, dan siswa yaitu saling bertukar informasi. “Pembelajaran adalah suatu kombinasi yang tersusun meliputi unsur-unsur manusiawi, material, fasilitas, perlengkapan dan prosedur yang saling mempengaruhi mencapai tujuan pembelajaran “.(Oemar Hamalik,1995:57) Menurut Standar Proses pada Permendiknas Nomor 41 Tahun 2007, tujuan pembelajaran menggambarkan proses dan hasil belajara yang diharapkan dicapai oleh peserta didik sesuai dengan kompetensi dasar. Ini berarti kemampuan yang dirumuskan dalam tujuan pembelajaran mencakup kemampuan yang akan dicapai siswa selama proses belajar dan hasil akhir belajar pada suatu KD.
Menurut Erman (2003:2) menyatakan bahwa evaluasi pembelajaran juga dapat diartikan sebagai penentuan kesesuaian antara tampilan siswa dengan tujuan pembelajaran. Dalam hal ini yang dievaluasi adalah karakteristik siswa dengan menggunakan suatu tolak ukur tertentu. Karakteristik-karakteristik tersebut dalam ruang lingkup kegiatan belajar-mengajar adalah tampilan siswa dalam bidang kognitif (pengetahuan dan intelektual), afektif (sikap, minat, dan motivasi), dan psikomotor (ketrampilan, gerak, dan tindakan). Tampilan tersebut dapat dievaluasi secara lisan, tertulis, mapupun perbuatan.
Dengan demikian mengevaluasi di sini adalah menentukan apakah tampilan siswa telah sesuai dengan tujuan instruksional yang telah dirumuskan atau belum. Apabila lebih lanjut kita kaji pengertian evaluasi dalam pembelajaran, maka akan diperoleh pengertian yang tidak jauh berbeda dengan pengertian evaluasi secara umum. Pengertian evaluasi pembelajaran adalah proses untuk menentukan nilai pembelajaran yang dilaksanakan, dengan melalui kegiatan pengukuran dan penilaian pembelajaran. Pengukuran yang dimaksud di sini adalah proses membandingkan tingkat keberhasilan pembelajaran dengan ukuran keberhasilan pembelajaran yang telah ditentukan secara kuantitatif, sedangkan penilaian yang dimaksud di sini adalah proses pembuatan keputusan nilai keberhasilan pembelajaran secara kualitatif.

2. Evaluasi Pembelajaran Menurut KTSP
KTSP adalah kurikulum operasional yang disusun dan dilaksanakan oleh masing-masing satuan pendidikan. Adapun landasan dalam KTSP adalah UU No.20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, PP No. 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, Permendiknas No. 22/2006 tentang Standar Isi, Permendiknas No. 23/2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan, Permendiknas No. 24/2006 dan No. 6/2007 tentang pelaksanaan Permendiknas No. 22 dan 23/2006.
a. Acuan Operasional KTSP
• Peningkatan iman dan takwa serta akhlak mulia
• Peningkatan potensi, kecerdasan, dan minat sesuai dengan tingkat perkembangan dan kemampuan peserta didik
• Keragaman potensi dan karakteristik daerah dan lingkungan
• Tuntutan pembangunan daerah dan nasional
• Tuntutan dunia kerja
• Perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni
Berikut di bawah ini alur pelaksanaan evaluasi dalam KTSP, sebagai berikut:

b. Prinsip-prinsip Penilaian
Sebagaimana yang dikutip dalam http://www.scribd.com/doc/4163440/Sistem-Penilaian-KTSP prinsip-prinsip penilaian dalam KTSP sebagai berikut:
a. Valid
Penililalian Berbasis Kelas (PBK) harus mengukur obyek yang seharusnya diukur dengan menggunakan jenis alat ukur yang tepat atau sahih (valid). Ada kesesuaian antara alat ukur dengan fungsi pengukuran dan sasaran pengukuran. Apabila alat ukur tidak memiliki kesahihan yang dapat dipertanggungjawabkan, maka data yang masuk salah sehingga kesimpulan yang ditarik juga besar kemungkinan menjadi salah.
b. Adil dan Objektif
PBK harus mempertimbangkan rasa keadilan dan obyektivitas siswa, tanpa membeda-bedakan jenis kelamin, latar belakang budaya, dan berbagai hal yang memberikan kontribusi pada pembelajaran. Sebab ketidakadilan dalam penilaian, dapat menyebabkan menurunnya motivasi belajar siswa, karena merasa dianaktirikan.
c. Terbuka
PBK hendaknya dilakukan secara terbuka bagi berbagai kalangan (stakeholders) baik langsung maupun tidak langsung, sehingga keputusan tentang keberhasilan siswa jelas bagi pihak-pihak yang berkepentingan, tanpa ada rekayasa atau sembunyi-sembunyi yang dapat merugikan semua pihak.
d. Bermakna
PBK diharapkan mempunyai makna yang signifikan bagi semua pihak. Untuk itu, PBK hendaknya mudah dipahami dan dapat ditindaklanjuti oleh pihak-pihak yang berkepentingan. Hasil penilaian hendaknya mencerminkan gambaran yang utuh tentang prestasi siswa yang mengandung informasi keunggulan dan kelemahan, minat dan tingkat penguasaan siswa dalam pencapaian kompetensi yang telah ditetapkan.
e. Menyeluruh
PBK harus dilakukan secara menyeluruh, yang mencakup aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik serta berdasarkan pada strategi dan prosedur penilaian dengan berbagai bukti hasil belajar siswa yang dapat dipertanggungjawabkan kepada semua pihak.
f. Berkesinambungan
PBK harus dilakukan secara terus-menerus atau berkesinambungan dari waktu ke waktu, untuk mengetahui secara menyeluruh perkembangan siswa, sehingga kegiatan dan unjuk kerja siswa dapat dipantau melalui penilaian.
c. Tujuan Evaluasi KTSP
Tujuan khususnya, antara lain agar peserta Evaluasi KTSP dapat: (a) memahami dan menerapkan kebijakan umum pengembangan pendidikan lanjutan pertama termasuk implikasi PP 19 tahun 2005; (b) meningkatkan pemahaman dan keterampilan tentang konsep dasar KBK dan pengembangan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP); (c) meningkatkan pemahaman tentang kebijakan pengembangan kurikulum dalam rangka implementasi Standar Isi dan Standar Kompetensi Lulusan berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional 22, 23 dan 24 tahun 2006; (d) meningkatkan pemahaman dan keterampilan dalam mengembangkan Penilaian Berbasis Kelas, ketuntasan belajar, model rapor, dan evaluasi program; (e) meningkatkan pemahaman dan keterampilan dalam merancang pengembangan Mulok dan Pengembangan Diri; (f) meningkatkan pemahaman peserta tentang pengembangan model pembelajaran IPA dan IPS terpadu; (g) meningkatkan pemahaman peserta dalam mengembangkan Pembelajaran Kontekstual dan Pendidikan Teknologi Dasar; (h) meningkatkan pemahaman peserta tentang konsep manajemen dan jaringan kurukulum, serta supervisi kurikulum; (i) mengimplementasikan kurikulum yang berlaku dalam kegiatan belajar mengajar yang efektif; dan (j) mengkomunikasikan hasil Evaluasi KTSP kepada teman sejawat di daerah.

3. Evaluasi Pembelajaran PAI Menurut KTSP
Penilaian berbasis kelas harus memperlihatkan tiga ranah yaitu: pengetahuan (kognitif), sikap (afektif), dan keterampilan (psikomotorik) Ketiga ranah ini sebaikanya dinilai proposional sesuai dengan sifat mata pelajaran yang bersangkutan. Sebagai contoh pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam (Al-Quran, Aqidah-Akhlaq, fiqh, dan tarikh) penilaiannya harus menyeluruh pada segenap aspek kognitif, afektif dan psikomotorik,dengan mempertimbangkan tingkat perkembangan siswa serta bobot setiap aspek dari setiap materi. Misalnya kognitif meliputi seluruh mata pelajaran, aspek afektif sangat dominan pada materi pembelajaran akhlak, PPkn, seni. Aspek psikomotorik sangat dominan pada mata pelajaran fiqh, membaca Al Quran, olahraga, dan sejenisnya. Begitu juga halnya dengan mata pelajaran yang lain, pada dasarnya ketiga aspek tersebut harus dinilai.
Penilaiannya tidak saja merupakan kegiatan tes formal, melainkan juga:
1) Perhatian terhadap siswa ketika duduk, berbicara, dan bersikap pada waktu belajar atau berkomunikasi dengan guru dan sesama teman;
2) Pengamatan ketika siswa berada di ruang kelas, di tempat ibadah dan ketika mereka bermain;
3) Mengamati siswa membaca Al-Qur an dengan tartil (pada setiap awal jam pelajaran selama 5 – 10 menit)
Oleh karena itu menurut penulis dalam KTSP siswa sangat diberikan kesempatan untuk mampu mengembangkan potensi yang dimiliki oleh siswa tersebut ataupun dengan kata lain siswa itu sebagai pusat pembelajar.

DAFTAR PUSTAKA
Anas Sudijono. 1995. Pengantar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2009/09/17/indikator-pencapaian-kompetensi-dan-tujuan-pembelajaran-dalam-ktsp/

http://dokumens.multiply.com/journal/item/34

http://evaluasipendidikan.blogspot.com/2008/03/evaluasi-program-sebuah-pengantar.html

http://franciscusti.blogspot.com/2008/06/pembelajaran-merupakan-proses.html

http://gurulia.wordpress.com/2009/03/25/pengertian-pembelajaran/

http://gurupkn.wordpress.com/2008/01/17/evaluasi-pembelajaran/

http://ktiptk.blogspirit.com/archive/2009/01/26/evaluasi-pembelajaran.html

http://pelangi-pendidikan.blogspot.com/2007/07/evaluasi-ktsp.html

http://www.apfi-pppsi.com/cadence21/pedagog21-3.htm

http://www.slideshare.net/NASuprawoto/pedoman-penyusunan-ktsp-presentation

http://id.wikipedia.org/wiki/Pembelajaran

http://id.wikipedia.org/wiki/Kurikulum_Tingkat_Satuan_Pendidikan

Jangan Paksa Diri demi Kurikulum 2013

  • Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Mohammad Nuh mengikuti rapat kerja dengan Komisi X di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (30/5/2013). Rapat membahas perubahan anggaran kurikulum 2013 yang akan diimplementasikan pada pertengahan Juli mendatang. | KOMPAS/HENDRA A SETYAWAN

BANDUNG, KOMPAS.com — Sekolah atau daerah tidak boleh memaksakan pelaksanaan Kurikulum 2013 secara mandiri tahun ini jika justru membebani murid atau orangtua murid, terutama dalam hal pengadaan buku. Sebelum mandiri, guru perlu dilatih dulu. Buku pun sudah harus tersedia gratis.

Hal itu ditegaskan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Mohammad Nuh seusai menghadiri grand launching Universitas Telkom, Sabtu (31/8), di Bandung, Jawa Barat. ”Tidak boleh membebani murid. Itu sangat dilarang,” ujarnya.

Sebelum memutuskan melaksanakan Kurikulum 2013 secara mandiri, sekolah yang tak termasuk sasaran pelaksana tahun ini diimbau menyiapkan diri secara matang untuk tahun depan. Jika masih ingin melaksanakan mandiri, Nuh menegaskan ada dua syarat utama: guru harus dilatih dan buku tersedia gratis.

”Kalau dua syarat ini tak dapat dipenuhi, jangan dipaksakan. Saya menyambut baik ada niatan ikut melaksanakan kurikulum. Mau saja lumayan,” katanya.

Sebelumnya, saat rapat kerja Implementasi Kurikulum 2013 di SMAN Husni Thamrin Jakarta, Sabtu pagi, Kepala Dinas Pendidikan DKI Jakarta Taufik Yudi Mulyanto mengatakan, DKI Jakarta secara resmi telah membatalkan rencana pelaksanaan Kurikulum 2013 secara mandiri khusus di jenjang SD dan SMP. Untuk SMA, rencana pelaksanaan mandiri tetap berjalan. Kebijakan ini sudah dipublikasikan ke sekolah-sekolah.

Alasan pembatalan, ujar Taufik, semata masalah alokasi anggaran pengadaan buku. Ia khawatir dana bantuan operasional sekolah (BOS) tak mencukupi sehingga dikhawatirkan sekolah memungut biaya dari murid. Dana tak cukup untuk membiayai pelatihan guru dan pengadaan buku. Rencana pengadaan buku secara digital juga tidak efektif karena hanya 50 persen sekolah yang memiliki infrastruktur teknologi informasi yang baik.

”Ini untuk mengantisipasi pungutan yang bisa dilakukan sekolah. Larangan ini tidak berlaku untuk SMA karena BOS untuk SMA lebih besar, Rp 1 juta per tahun,” kata Taufik.

Menurut Nuh, tak masalah jika ada daerah atau sekolah yang kemudian membatalkan kesanggupannya untuk implementasi mandiri. Untuk kasus DKI Jakarta, pemerintah setempat sudah menyatakan tak sanggup karena Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) tak mencukupi jika digunakan untuk pelatihan guru dan pengadaan buku.

”Tidak apa-apa kalau tidak bisa. Yang penting tetap menyiapkan diri untuk penerapan tahun depan, seperti melatih guru. Ini jalan yang dipilih DKI Jakarta. Masih banyak yang bisa jalan mandiri, seperti Kutai, Kalimantan Timur, dan sekolah swasta,” kata Nuh.
Tanggung bersama

Pada tahap pertama tahun ini, pelaksanaan Kurikulum 2013 dilakukan bertahap dan terbatas di sekitar 6.400 sekolah. Namun, mulai tahun depan semua sekolah harus menyelenggarakan Kurikulum 2013. Skema pembiayaannya dibahas di DPR.

Ada tiga pilihan skema pembayaran. Pertama, semua biaya didanai Kemdikbud. Kedua, kombinasi anggaran Kemdikbud dengan sebagian dana transfer daerah yang setiap tahun sekitar Rp 10 triliun. Ketiga, memanfaatkan kombinasi pusat, dana alokasi khusus, dan BOS. Atau keempat, memanfaatkan APBD masing-masing daerah.

”Yang jelas, pemerintah pusat tak akan lepas tangan. Pelatihan guru tetap dilakukan pusat. Yang kira-kira bisa dibagi dengan daerah itu bagian pengadaan buku,” kata Nuh. (LUK)

Masalah Pendidikan di Indonesia

Pendidikan memiliki tugas untuk menyiapkan sumber daya manusia untuk pembangunan dari suatu bangsa tersebut. Setiap langkah dalam pembangunan selalu diupayakan beriringan dengan tuntutan kamajuan zaman. Perkembangan zaman yang selalu selalu berubah dan memunculkan berbagai permasalahan baru yang sebelumnya tidak pernah kita pikirkan sebelumnya.
Indonesia adalah negara memiliki beraneka ragam dalam kebudayanya dan Indonesia juga dikenal sebagai negara yang kaya raya akan sumberdaya alamnya, namun untuk sumber daya manusianya dalam hal pendidikan masih sangat rendah. Hal tersebut telah diakui oleh banyak orang di dunia, bahkan oleh warga masyarakat Indonesia itu sendiri. Pendidikan yang ada di Indonesia merupakan salah satu negara yang kurang maju di dunia di di bidang pendidikan ini.
Hal tersebut di karenakan adanya masalah pendidikan di Indonesia yang belum dapat ditangani dengan tuntas. Adapaun masalah pendidikan di Indonesia ialah :
1. Rendahnya sarana dan prasarana
Telah kita ketahui sebelumnya dari berita-berita baik di media massa cetak atau pun elektronik, bahwa sudah banyak berita tentang sekolah-sekolah yang roboh, atau sekolah yang telah rusak karena bangunanya sudah usang, lapuk dan keropos yang sudah tidak layak namun tidak memperoleh bantuan dari pemerintah setempat. Ini merupakan salah satu bukti bahwa betapa rendahnya sarana dan prasarana yang di miliki oleh Indonesia.
2. Kurangnya pemerataan pendidikan di Indonesia
Bagi sebagian orang khususnya orang-orang yang tinggal di kota besar, pendidikan merupakan hal yang biasa saja, namun jika kita tengok ke daerah-daerah terpencil dan tempat-tempat kumuh, pendidikan merupakan suatu hal yang mewah dan sangat di dambakan. Hal tersebut di karenakan Negara lebih memfokuskan pendidikan di wilayah-wilayah pokok yang lebih potensial. Hal tersesebutlah yang membuat pemerataan pendidikan yang ada di Indonesia menjadi kurang.
3. Mahalnya biaya pendidikan
Mahalnya biaya pendidikan mulai dari tingkat dasar sampai perguruan tinggi adalah masalah yang paling utama dalam pendidikan yang ada di Indonesia. Hal inilah yang membuat banyak anak-anak yang putus sekolah di kalangan masyarakat Indonesia yang kurang mampu.

Konsep Pendidikan dalam Islam

PENDAHULUAN

          Saat peristiwa perang antara Jepang dan USA, wilayah Hirosima dan Nagasaki di jatuhi bom atom dengan daya ledak yang sangat dahsyat. Ribuan nyawa terenggut anak-anak, remaja, dewasa dan orang tua, laki-laki ataupun perempuan menjadi korban akibat perang tersebut. Yang menjadi fenomena saat itu ialah pemerintah mengambil kebijakan mencari para guru yang dilatih untuk menjadi tenaga pendidik agar Jepang mampu bangkit kembali. Akhirnya sejarah telah mencatat akan kemajuan Jepang saat ini, hal ini menjadi bukti bahwa dunia pendidikan amat berpengaruh dalam membentuk peradaban manusia.
 
            Sejarah umat Islam juga telah mencatat berkembangnya dunia pendidikan yang mengembangkan proses intelektualitas dan kreativitas dalam ilmu pengetahuan. Pada masa dinasti Umayah umat Islam mengalami kemajuan yang luar biasa, adanya Perpustakaan, berkembangnya Ilmu pengetahuan dibidang kedokteran, filsafat, matematika, aljabar menjadi fakta bahwa saat itu Islam amat mendukung akan kemajuan dibidang pendidikan. Artinya ajaran Islam mendorong kepada umatnya untuk pintar
 
Setelah runtuhnya dinasti Umayah samapi saat ini dunia pendidikan Islam bisa dibilang mengalami masa surut. Pendidikan selama ini ternyata masih saja dianggap tabu oleh sebagian besar masyarakat Islam, khususnya diIndonesia. Kini tren-tren pendidikan ala barat masih menjadi barometer unggulan disetiap unsur-unsur pendidikan. Pendidikan Islam sekarang mulai ketinggalan zaman (katanya), tidak dianggap lagi dan tidak sesuai lagi dunia yang serba moderen ini. Oleh karena itu saat ini perlu adanya reformulasi dalam dunia pendidikan Islam, hal ini untuk mengembangkan kembali peradaban umat Islam dengan berkembangnya dunia pendidikan Islam.
1.      Definisi Pendidikan Islam
Bilamana pendidikan kita artikan sebagai latihan mental, moral dan fisik (jasmaniyah) yang menghasilkan manusia berbudaya tinggi untuk melaksanakan tugas kewajiban dan tanggung jawab dalam masyarakat selaku hamba Allah, maka pendidikan berarti menumbuhkan personalitas (kepribadian) serta menanamkan rasa tanggung jawab. Usaha kependidikan bagi manusia menyerupai makanan yang berfungsi memberikan vitamin bagi pertumbuhan.
Berdasarkan pandangan diatas, maka pendidikan Islam adalah system yang dapat memberikan kemampuan seseorang untuk memimpin kehidupannya sesuai dengan cita-cita Islam, karena nilai-nilai Islam telah menjiwai dan mewarnai corak kepribadiannya.
Pengertian pendidikan Islam dengan sendirinya adalah suatu system kependidikan yang mencakup seluruh aspek kehidupan yang dibutuhkan oleh hamba Allah. Oleh karena itu Islam mempedomani seluruh aspek kehidupan manusia muslim baik duniawi maupun ukhrowi.
Mengingat luasnya jangkauan yang harus digarap oleh pendidikan Islam, maka pendidikan Islam tidak menganut system tertutup melainkan terbuka terhadap tuntutan kesejahteraan umat manusia, baik tuntutan dibidang ilmu pengetahuan dan teknologi maupun tuntutan pemenuhan kebutuhan hidup rohaniah. Kebutuhan itu semakin meluas sejalan dengan meluasnya tuntutan hidup manusia itu sendiri.
Oleh karena itu, ditinjau dari aspek pengalamannya pendidikan Islam berwatak akomodatif kepada tuntutan kemajuan zaman yang ruang lingkupnya berada didalam kerangka acuan norma-norma kehidupan Islam. Hal demikian akan nampak jelas dalam teorisasi pendidikan Islam yang dikembangkan. Ilmu pendidikan Islam adalah studi tentang system dan proses kependidikan yang berdasarkan Islam untuk mencapai produk atau tujuan, baik studi secara teoritis maupun praktis.
Ada pula yang berpendapat bahwa pendidikan Islam adalah pendidikan yang berdasarkan Al-Qur’an, Hadits dan akal. Penggunaan dasar ini haruslah berurutan, al-qur’an terlebih dahulu dijadikan sebagai sumber dari segala sumber, bila tidak ada atau tidak jelas didalam al-qur’an maka harus dicari dalam hadits, bila tidak juga jelas atau tidak ada didalam hadits barulah digunakan akal (pemikiran), tetapi temuan akal itu tidak boleh bertentangan dengan jiwa al-qur’an dan atau hadits.
2.   ASAS PENDIDIKAN ISLAM
Dalam konteks individu, pendidikan termasuk salah satu kebutuhan asasi manusia. Sebab, ia menjadi jalan yang lazim untuk memperoleh pengetahuan atau ilmu. Sedangkan ilmu akan menjadi unsur utama penopang kehidupannya. Oleh karena itu, Islam tidak saja mewajibkan manusia untuk menuntut ilmu, bahkan memberi dorongan serta arahan agar dengan ilmu itu manusia dapat menemukan kebenaran hakiki dan mendayungkan ilmunya diatas jalan kebenaran. Rosulullah SAW bersabda, “Tuntutlah oleh kalian akan ilmu pengetahuan, sesungguhnya menuntut ilmu adalah pendekatan diri kepada Allah SWT, dan mengajarkannya kepada orang yang tidak mengetahuinya adalah shodaqoh. Sesungguhnya ilmu itu akan menempatkan pemiliknya pada kedududkan tinggi lagi mulia. Ilmu adalah keindahan bagi ahlinya di dunia dan akhirat. (HR. ar-Rabi’)
Makna hadits tersebut sejalan dengan firman Allah SWT : “Allah niscaya mengangkat derajat orang-orang yang beriman dan mereka yang berilmu pengetahuan bertingkat derajat. Demi Allah maha mengetahui terhadap apa yang kamu lakukan. (Qs. Al-Mujadalah 11)
Aqidah menjadi dasar kurikulum (mata ajaran dan metode ajaran) yang berlaku dalam pendidikan Islam. Aqidah Islam berkonsekuensi ketaatan pada syari’at Islam. Ini berarti tujuan, pelaksanaan dan evaluasi pelaksanaan kurikulum harus terkait dengan ketaatan pada syari’at. Pendidikan dianggap tidak berhasil apabila tidak menghasilkan keterikatan pada syari’at Islam peserta didik, walaupun mungkin membuat peserta didik menguasai ilmu pendidikan.
Aqidah Islam menjadi asas dari ilmu pengetahuan. Ini bukan berarti semua ilmu pengetahuan yang dikembangkan harus bersumber pada aqidah Islam, karena memang tidak semua ilmu pengetahuan lahir dari aqidah Islam. Yang dimaksud adalah aqidah Islam harus dijadikan standar penilaian. Ilmu pengetahuan yang bertentangan dengan aqidah Islam tidak boleh dikembangkan dan diajarkan kecuali untuk dijelaskan kesalahannya.
3.   TUJUAN PENDIDIKAN ISLAM
            Tujuan akhir pendidikan Islam pada hakikatnya adalah realisasi dan cita-cita ajaran Islam itu sendiri, yang membawa misi bagi kesejahteraan umat manusia sebagai hamba Allah lahir dan batin, dunia dan akhirat.
            Adapun rumusan-rumusan tujuan akhir pendidikan Islam telah disusun oleh para ulama dan ahli pendidikan Islam dari golongan dan mazhab dalam Islam, misalnya sebagai berikut :
a.       Rumusan yang ditetapkan dalam kongres sedunia tentang pendidikan Islam.
Bahwa pendidikan Islam mempunyai tujuan yang luas dan dalam, seluas dan sedalam kebutuhan hidup manusia sebagai makhluk individual dan makhluk sosial yang meng hamba kepada Khaliknya yang dijiwai oleh nilai-nilai ajaran agamanya.
Oleh karena itu pendidikan Islam bertujuan untuk menumbuhkan pola kepribadian manusia yang bulat melalui latihan kejiwaan, kecerdasan otak, penalaran, perasaan dan indera. Pendidikan ini harus melayani pertumbuhan manusia dalam semua aspek spiritual, intelektual, imajinasi, jasmaniyah, ilmiah maupun bahasanya baik perorangan maupun kelompok.
Jadi tujuan akhir dari pendidikan Islam itu terletak dalam realisasi sikap penyerahan diri sepenuhnya kepada Allah SWT, baik perorangan, masyarakat maupun sebagai umat manusia keseluruhan.
b.      Rumusan hasil keputusan seminar pendidikan Islam se-Indonesia tanggal 7 s.d 11 Mei 1960, di Cipayung, Bogor.
Bahwa tujuan pendidikan Islam adalah menanamkan taqwa dan akhlak serta menegakan kebenaran dalam rangka membentuk manusia yang berpribadi dan berbudi luhur menurut ajaran Islam.
Tujuan tersebut ditetapkan berdasarkan atas pengertian bahwa Pendidikan Islam adalah bimbingan terhadap pertumbuhan rohani dan jasmani menurut ajaran Islam dengan hikmah mengarahkan, mengjarkan, melatih, mengasuh dan mengawasi berlakunya semua ajaran Islam.
c.       Rumusan tentang pendidikan Islam menurut Prof. Dr. Omar Muhammad Al Taumi Al Syaebani.
Bahwa tujuan pendidikan Islam ialah perubahan yang diingini yang diusahkan dalam proses pendidikan atau usaha pendidikan untuk mencapainya, baik pada tingkah laku individu dari kehidupan pribadinya atau kehidupan masyarakatserta pada alam sekitar dimana individu itu hidup atau pada proses pendidikan itu sendiri dan proses pengajaran sebagai suatu kegiatan asasi dan sebagai proporsi diantara profesi asasi dalam masyarakat.
            Mengingat tujuan pendidikan yang begitu luas, maka tujuan tersebut dibedakan dalam beberapa bidang menurut tugas dan fungsi manusia secara filosifis sebagai berikut :
1). Tujuan individual yang menyangkut individu, melalui proses belajar dalam rangka mempersiapkan dirinya dalam kehidupan dunia dan akhirat.
2). Tujuan sosial yang berhubungan dengan kehidupan masyarakat sebagai keseluruhan, dan dan dengan tingkah laku masyarakat umumnya serta dengan perubahan-perubahan yang diinginkan pada pertumbuhan pribadi, pengalaman dan kemajuan hidup.
3). Tujuan profesional yang menyangkut pengajaran sebagai ilmu, seni dan profesi serta sebagai suatu kegiatan dalam masyarakat.
            Oleh karena tujuan pendidikan pada hakikatnya merupakan cita-cita mewujudkan nilai-nilai, maka fisafat pendidikanlah yang memberi dasar dan corak serta arah tujuan pendidikan pendidikan itu sendiri. Dalam rangkaian proses penyampaiannya, filsafat pendidikan berfungsi sebagai korektor terhadap kesalahan atau penyimpangan-penyimpangan yang terjadi, sehingga memungkinkan proses tersebut dapat berfungsi kembali dalam jalur tujuannya.
4.   METODOLOGI PENDIDIKAN ISLAM
Metodologi pendidikan Islam adalah suatu ilmu pengetahuan tentang metode yang dipergunakan dalam pekerjaan mendidik. Sebagai suatu ilmu, metodologi merupakan bagian dari perangkat disiplin keilmuan yang menjadi induknya. Hampir semua ilmu pengetahuan mempunyai metodologi tersendiri. Oleh karena itu ilmu pendidikan sebagai salah satu disiplin ilmu juga memiliki metodologi yaitu metodologi pendidikan.
Adapun metodologi yang dipakai dalan pendidikan Islam adalah :
1). Metode mendidik secara kelompok disebut “metode mutual education”.
Dengan cara berkelompok inilah maka proses mengetahui dan memahami ilmu pengetahuan lebih efektif, oleh karena satu sama lain dapat saling bertanya dan saling mengoreksi bila satu sama lain melakukan kesalahan.
2). Metode pendidikan dengan menggunakan cara Instruksional yaitu yang bersifat mengajar tentang ciri-ciri sesuatu (orang yang beriman) dalam bersikap dan bertingkah laku agar mereka dapat mengetahui bagai mana seharusnya mereka bersikap dan berbuat sehari-hari.
3). Metode mendidik dengan bercerita yaitu dengan cara mengisahkan peristiwa sejarah hidup manusia masa lampau yang menyangkut ketaatan atau kemungkaran dalam hidup terhadap perintah Allah SWT. Insyaallah dimasa dewasanya cerita demikian tetap berpengaruh dalam jiwanya.
4). Metode bimbingan dan penyuluhan. Dengan metode ini manusia akan mampu mengatasi segala bentuk kesulitan hidup yang dialami atas dasar iman dan taqwa kepada Allah SWT. Dalam melaksanakan metode ini diperlukan suatu pendekatan melalui sikap yang lemah lembut dan lunak hati dengan gaya menuntun atau membimbing  kearah kebenaran.
5). Metode yang cukup besar pengaruhnya dalam mendidik adalah metode pemberian contoh dan teladan. Allah telah menunjukan bahwa contoh keteladanan dari kehidupan nabi Muhammad adalah banyak mengandung nilai paedagogis bagi manusia.
6). Metode diskusi. Melalui metode ini manusia didik dengan tujuan lebih memantapkan pengertian dan sikap pengetahuan mereka terhadap sesuatu masalah.
7). Metode soal-jawab. Para ahli pikir banyak mempergunakan metode soal-jawab karena metode ini termasuk yang paling tua dalam dunia pendidikan atau pengajaran disamping metode yang lain. Dengan metode soal-jawab pengertian dan pengaruh anak didik dapat lebih dimanfaatkan, sehingga segala bentuk kesalah pahaman, kelemahan daya tangkap terhadap pelajaran dapat dihindari.
8). Metode targhieb dan tarhieb yaitu cara memberikan pelajaran dengan memberi dorongan (motivasi) untuk memperoleh kegembiraan bila mendapatkan sukses dalam kebaikan, sedang bila tidak sukses karena tidak mau mengikuti petunjuk yang benar akan mendapat kesusahan.
9). Metode taubat dan ampunan yaitu cara membangkitkan jiwa dan rasa frustasi kapada kesegaran hidup dan optimisme dalam belajar seseorang, dengan memberikan kesempatan bertaubat dari kesalahan atau kekeliruan yang telah lampau yang diikuti dengan pengampunan atas dosa dan kesalahan.
            Dengan demikian, metode pendidikan Islam yang dikehendaki oleh umat Islam itu pada hakikatnya adalah “ methode of education through the teaching of Islam” (metode pendidikan melalui ajaran islam).  Dan masih banyak lagi metode-metode yang lain yang lebil dapat kita pertimbangkan untuk dipergunakan dalam mendidik subyek didik.

5. KONSEP PENDIDIKAN ISLAM

Jika makna pendidikan Islam telah terdistorsi oleh konsep-konsep dari Barat, maka konsepnya sudah tentu bergeser dari konsep dasar pendidikan Islam. Konsep pendidikan Islam mestinya tidak menghasilkan SDM yang memiliki sifat zulmjahl dan junun. Artinya produk pendidikan Islam tidak akan mengambil sesuatu yang bukan haknya, atau meletakkan sesuatu bukan pada tempatnya (zalim), tidak menempuh cara yang salah dalam mencapai tujuan (jahil) dan tidak salah dalam menentukan tujuan hidup.
Oleh sebab itu pendidikan Islam harus di-reorientasikan pada konsep dasarnya, yaitu merujuk kepada pandangan hidup Islam, yang dimulai dengan konsep manusia. Karena konsep manusia adalah sentral maka harus dikembalikan kepada konsep dasar manusia yang disebut fitrah. Artinya pendidikan harus diartikan sebagai upaya mengembangkan individu sesuai dengan fitrahnya. Seperti yang tertuang dalam al-A’raf, 172 manusia di alam ruh telah bersyahadah bahwa Allah adalah Tuhannya. Inilah sebenarnya yang dimaksud hadith Nabi bahwa “manusia dilahirkan dalam keadaan fitrah..”
Fitrah tidak hanya terdapat pada diri manusia, tapi juga pada alam semesta. Pada keduanya Allah meletakkan ayat-ayat. Namun karena fitrah manusia tidak cukup untuk memahami ayat-ayat kauniyyah, Allah menurunkan al-Qur’an sebagai bekal memahami ayat-ayat pada keduanyaPada ketiga realitas tersebut (diri, alam dan kalam Allah yakni al-Qur’an) terdapat ayat-ayat yang saling berkaitan dan tidak bertentangan. Oleh sebab itu jika manusia dengan fitrahnya melihat ayat-ayat kauniyyah melalui ayat-ayat qauliyyah, maka ia akan memperoleh hikmah.
Agar konsep dan praktek pendidikan Islam tidak salah arah, perlu disusun sesuai dengan fitrah manusia, fitrah alam semesta dan fitrah munazzalah, yaitu al-Qur’anJika proses pendidikan itu berjalan sesuai dengan fitrah, maka ia akan menghasilkan rasa berkeadilan dan sikap adil. Adil dalam Islam berarti meletakkan segala sesuatu pada tempat dan maqamnya. Artinya, pendidikan Islam harus mengandug unsur iman, ilmu dan amal agar anak didik dapat memilih yang baik dari yang jahat, jalan yang lurus dari yang sesat, yang benar (haqq) dari yang salah (batil).
Pendidikan Islam tidak hanya menekankan pada aspek kognitif (ta’lim) dan meninggalkan aspek afektif (amal dan akhlaq). Pendidikan yang terlalu intelektualistis juga bertentangan dengan fitrah. Al-Qur’an mensyaratkan agar fikir didahului oleh zikir (Ali Imran191). Fikir yang tidak berdasarkan pada zikir hanya akan menghasilkan cendekiawan yang luas ilmunya tapi tidak saleh amalnya. Ilmu saja tanpa amal, menurut Imam al-Ghazzali adalah gila dan amal tanpa ilmu itu sombong. Dalam pendidikan Islam keimanan harus ditanamkan dengan ilmu, ilmu harus berdimensi iman, dan amal mesti berdasarkan ilmu. Begitulah, pendidikan Islam yang sesuai dengan fitrahnya, yaitu pendidikan yang beradab.
KESIMPULAN
1. Pendidikan Islam harus di-reorientasikan pada konsep dasarnya, yaitu merujuk kepada pandangan hidup Islam, yang dimulai dengan konsep manusia. Karena konsep manusia adalah sentral maka harus dikembalikan kepada konsep dasar manusia yang disebut fitrah.
2. Pendidikan Islam yang merupakan upaya sadar, terstruktur, terprogram dan sistematis yang bertujuan untuk membentuk manusia yang: (1) memiliki kepribadian Islam, (2) menguasai tsaqofah Islam, (3) menguasai ilmu pengetahuan (iptek) dan (4) memiliki ketrampilan yang memadai.
3. Seseorang yang bersikap dan bertingkah laku (bernafsiyyah) Islami adalah seseorang yang mampu mengendalikan semua dorongan pada dirinya agar tidak bertentangan dengan ketentuan Islam.
4. Pendidikan Islam tidak hanya menekankan pada aspek kognitif (ta’lim) dan meninggalkan aspek afektif (amal dan akhlaq). Pendidikan yang terlalu intelektualistis juga bertentangan dengan fitrah. Al-Qur’an mensyaratkan agar fikir didahului oleh zikir.
5. Menurut Imam al-Ghazzali adalah gila dan amal tanpa ilmu itu sombong. Dalam pendidikan Islam keimanan harus ditanamkan dengan ilmu, ilmu harus berdimensi iman, dan amal mesti berdasarkan ilmu.
6. Mengusai iptek dimaksudkan agar umat Islam dapat menjalankan fungsinya sebagai khalifah Allah SWT dengan baik dan optimal di muka bumi ini.
DAFTAR PUSTAKA
  1. Tafsir, Ahmad, Dr.; 2004. “Ilmu Pendidikan Dalam perspektif Islam”. Bandung: Remaja Rosdakarya.
  2. Arifin, H.M, Prof, M.Ed.;1993. “Ilmu Pendidikan Islam”.Jakarta: Bumi Aksara.
  3. Arifin, H.M, Prof, M.Ed.; 1976. “Hubungan timbal balik pendidikan agama”. Jakarta. Bulan Bintang.

Pengertian Pendidikan Menurut Para Ahli Definisi, Tujuan, Unsur, Jalur, Faktor

 

 

Pengertian Pendidikan Menurut Para Ahli, Definisi – Pendidikan secara umum adalah segala upaya yang direncanakan untuk mempengaruhi orang lain baik individu, kelompok, atau masyarakat sehingga mereka melakukan apa yang diharapkan oleh pelaku pendidikan. (Soekidjo Notoatmodjo. 2003 : 16)
Definisi pendidikan – Pendidikan adalah proses pengubahan sikap dan tatalaku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan, proses, cara, perbuatan mendidik.  (Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional. 2002 : 263)

Artikel ini berjudul (Pengertian Pendidikan Menurut Para Ahli Definisi, Tujuan, Unsur, Jalur, Faktor)

Pendidikan adalah  usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan  proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. (UU RI No.  20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, pasal 1)

Unsur-unsur Pendidikan 

1.  Input
Sasaran pendidikan, yaitu : individu, kelompok, masyarakat
2.  Pendidik
Yaitu pelaku pendidikan
3.  Proses
Yaitu upaya yang direncanakan untuk mempengaruhi orang lain
4.  Output
Yaitu melakukan apa yang diharapkan / perilaku (Soekidjo Notoatmodjo. 2003 : 16)
  1. Menanamkan pengetahuan / pengertian, pendapat dan konsep-konsep
  2. Mengubah sikap dan persepsi
  3. Menanamkan tingkah laku / kebiasaan yang baru  (Soekidjo Notoatmodjo. 2003 : 68)
Jalur Pendidikan 
Menurut UU RI No. 20 Tahun 2003, jalur pendidikan dibagi menjadi :
1.  Jalur Formal
a.  Pendidikan Dasar
Pendidikan dasar berbentuk  Sekolah Dasar (SD) dan Madrasah Ibtidaiyah atau bentuk lain yang sederajat serta Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Madrasah Tsanawiyah (MTs) atau bentuk lain yang sederajat

b.  Pendidikan Menengah
Pendidikan menengah terdiri  atas pendidikan menengah umum dan pendidikan menengah jurusan, seperti : SMA, MA, SMK, MAK atau bentuk lain yang sederajat

c.  Pendidikan Tinggi
Pendidikan tinggi dapat berbentuk akademi, politeknik, sekolah tinggi, institut dan universitas

2.  Jalur Nonformal
3.  Jalur Informal
Pengertian Pendidikan Menurut Para Ahli
Faktor Yang Mempengaruhi Pendidikan 
Faktor yang mempengaruhi pendidikan menurut Hasbullah (2001) adalah sebagai berikut :

1.  Ideologi
Semua manusia dilahirkan ke dunia mempunyai hak yang sama khususnya hak untuk mendapatkan pendidikan dan peningkatan pengetahuan dan pendidikan.

2.  Sosial Ekonomi
Semakin tinggi tingkat sosial ekonomi memungkinkan seseorang mencapai tingkat pendidikan yang lebih tinggi.

3.  Sosial Budaya
Masih banyak orang tua yang kurang menyadari akan pentingnya pendidikan formal bagi anak-anaknya.

4.  Perkembangan IPTEK
Perkembangan IPTEK menuntut untuk selalu memperbaharui pengetahuan dan keterampilan agar tidak kalah dengan negara maju.
5.  Psikologi
Konseptual pendidikan merupakan alat untuk mengembangkan kepribadian individu agar lebih bernilai.

Daftar Pustaka – Pengertian Pendidikan Menurut Para Ahli Definisi, Tujuan, Unsur, Jalur, Faktor

Soekidjo Notoatmodjo. (2003). Pendidikan dan Perilaku Kesehatan. Jakarta : PT Rineka Cipta.

Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional. (2002).  Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta : Balai Pustaka.

_______.Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional. Internet available from http://www.geocities,com/frans_98/uu/uu_20_03.htm. Accesed on April 10th 2008

Pendidikan Agama Islam > Pengertian, Tujuan, Ruang Lingkup

 

1.    Pendidikan Agama Islam

1.1    Pengertian dan Tujuan Pendidikan Agama Islam

a)    Pengertian Pendidikan Agama Islam

Pengertian pendidikan itu bermacam-macam, hal ini disebabkan karena perbedaan falsafah hidup yang dianut dan sudut pandang yang memberikan rumusan tentang pendidikan itu.
Menurut Sahertian (2000 : 1) mengatakan bahwa pendidikan adalah “usaha sadar yang dengan sengaja dirancangkan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.”

Sedangkan Ihsan mengatakan bahwa pendidikan merupakan usaha manusia untuk menumbuhkan dan mengembangkan potensi-potensi pembawaan baik jasmani maupun rohani sesuai dengan nilai-nilai yang ada di dalam masyarakat dan kebudayaan. Atau dengan kata lain bahwa pendidikan dapat diartikan sebagai suatu hasil peradaban bangsa yang dikembangkan atas dasar pandangan hidup bangsa itu sendiri (nilai dan norma masyarakat) yang berfungsi sebagai filsafat pendidikannya atau sebagai cita-cita dan pernyataan tujuan pendidikannya (Ihsan, 1996 : 1)

Sedangkan Pendidikan Agama Islam berarti “usaha-usaha secara sistematis dan pragmatis dalam membantu anak didik agar mereka hidup sesuai dengan ajaran Islam”. (Zuhairani, 1983 : 27)

Syariat islam tidak akan dihayati dan diamalkan orang kalau hanya diajarkan saja, tetapi harus dididik melalui proses pendidikan nabi sesuai ajaran Islam dengan berbagai metode dan pendekatan dari satu segi kita lihat bahwa pendidikan islam itu lebih banyak ditujukan kepada perbaikan sikap mental yang akan terwujud dalam amal perbuatan baik bagi keperluan diri sendiri maupun orang lain. Dari segi lainnya, pendidikan islam tidak bersifat teoritis saja, tetapi juga praktis. Ajaran islam tidak memisahkan antara iman dan amal shaleh. Oleh karena itu, pendidikan islam adalah sekaligus pendidikan iman dan pendidikan amal dan juga karena ajaran islam berisi tentang ajaran sikap dan tingkah laku pribadi masyarakat menuju kesejahteraan hidup perorangan dan bersama, maka pendidikan islam adalah pendidikan individu dan pendidikan masyarakat. Semula yang bertugas mendidik adalah para Nabi dan Rasul selanjutnya para ulama, dan cerdik pandailah sebagai penerus tugas, dan kewajiban mereka (Drajat, 1992 : 25-28).
Pendidikan agama dapat didefenisikan sebagai upaya untuk mengaktualkan sifat-sifat kesempurnaan yang telah dianugerahkan oleh Allah Swt kepada manusia, upaya tersebut dilaksanakan tanpa pamrih apapun kecuali untuk semata-mata beribadah kepada Allah (Bawani, 1993 : 65).

Ahli lain juga menyebutkan bahwa pendidikan agama adalah sebagai proses penyampaian informasi dalam rangka pembentukan insan yang beriman dan bertakwa agar manusia menyadari kedudukannya, tugas dan fungsinya di dunia dengan selalu memelihara hubungannya dengan Allah, dirinya sendiri, masyarakat dan alam sekitarnya serta tanggung jawab kepada Tuhan Yang Maha Esa (termasuk dirinya sendiri dan lingkungan hidupnya) (Ali, 1995 : 139)

Para ahli pendidikan islam telah mencoba memformutasi pengertian pendidikan Islam, di antara batasan yang sangat variatif tersebut adalah :

  1. Al-Syaibany mengemukakan bahwa pendidikan agama islam adalah proses mengubah tingkah laku individu peserta didik pada kehidupan pribadi, masyarakat dan alam sekitarnya. Proses tersebut dilakukan dengan cara pendidikan dan pengajaran sebagai sesuatu aktivitas asasi dan profesi di antara sekian banyak profesi asasi dalam masyarakat.
  2. Muhammad fadhil al-Jamaly mendefenisikan pendidikan Islam sebagai upaya pengembangan, mendorong serta mengajak peserta didik hidup lebih dinamis dengan berdasarkan nilai-nilai yang tinggi dan kehidupan yang mulia. Dengan proses tersebut, diharapkan akan terbentuk pribadi peserta didik yang lebih sempurnah, baik yang berkaitan dengan potensi akal, perasaan maupun perbuatanya.
  3. Ahmad D. Marimba mengemukakan bahwa pendidikan islam adalah bimbingan atau pimpinan secara sadar oleh pendidik terhadap perkembangan jasmani dan rohani peserta didik menuju terbentuknya kepribadian yang utama (insan kamil)
  4. Ahmad Tafsir mendefenisikan pendidikan islam sebagai bimbingan yang diberikan oleh seseorang agar ia berkembang secara maksimal sesuai dengan ajaran Islam (Tafsir, 2005 : 45)
Dari batasan di atas, penulis dapat menyimpulkan bahwa pendidikan Islam adalah suatu sistem yang memungkinkan seseorang (peserta didik) agar dapat mengarahkan kehidupannya sesuai dengan ideologis atau gaya pandang umat islam selama hidup di dunia.
Adapun pengertian lain pendidikan agama islam secara alamiah adalah manusia tumbuh dan berkembang sejak dalam kandungan sampai meninggal, mengalami proses tahap demi tahap. Demikian pula kejadian alam semesta ini diciptakan Tuhan melalui proses setingkat demi setingkat, pola perkembangan manusia dan kejadian alam semesta yang berproses demikian adalah berlangsung di atas hukum alam yang ditetapkan oleh Allah sebagai “sunnatullah”
Pendidikan sebagai usaha membina dan mengembangkan pribadi manusia dari aspek-aspek rohaniah dan jasmani juga harus berlangsung secara bertahap oleh karena suatu kematangan yang bertitik akhir pada optimalisasi perkembangan dan pertumbuhan dapat tercapai bilamana berlangsung melalui proses demi proses ke arah tujuan akhir perkembangan atau pertumbuhannya.
Berdasarkan uraian di atas, maka penulis dapat menyimpulkan bahwa pendidikan agama Islam adalah usaha sadar atau kegiatan yang disengaja dilakukan untuk membimbing sekaligus mengarahkan anak didik menuju terbentuknya pribadi yang utama (insan kamil) berdasarkan nilai-nilai etika islam dengan tetap memelihara hubungan baik terhadap Allah Swt (HablumminAllah) sesama manusia (hablumminannas), dirinya sendiri dan alam sekitarnya.

b)    Tujuan Pendidikan Agama Islam

Sebelum peneliti mengemukakan tujuan Pendidikan Agama tersebut terlebih dahulu akan mengemukakan tujuan pendidikan secara umum. Tujuan pendidikan merupakan faktor yang sangat penting, karena merupakan arah yang hendak dituju oleh pendidikan itu. Demikian pula halnya dengan Pendidikan Agama Islam, yang tercakup mata pelajaran akhlak mulia dimaksudkan untuk membentuk peserta didik menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa serta berakhlak mulia. Akhlak mulia mencakup etika, budi pekerti, atau moral sebagai perwujudan dari pendidikan agama.
Tujuan pendidikan secara formal diartikan sebagai rumusan kualifikasi, pengetahuan, kemampuan dan sikap yang harus dimiliki oleh anak didik setelah selesai suatu pelajaran di sekolah, karena tujuan berfungsi mengarahkan, mengontrol dan memudahkan evaluasi suatu aktivitas sebab tujuan pendidikan itu adalah identik dengan tujuan hidup manusia.
Dari uraian di atas tujuan Pendidikan Agama peneliti sesuaikan dengan tujuan Pendidikan Agama di lembaga-lembaga pendidikan formal dan peneliti membagi tujuan Pendidikan Agama itu menjadi dua bagian dengan uraian sebagai berikut :
1)    Tujuan Umum
Tujuan umum Pendidikan Agama Islam adalah untuk mencapai kwalitas yang disebutkan oleh al-Qur’an dan hadits sedangkan fungsi pendidikan nasional adalah mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Untuk mengemban fungsi tersebut pemerintah menyelenggarakan suatu sistem pendidikan nasional yang tercantum dalam Undang-Undang dasar No. 20 Tahun 2003
Dari tujuan umum pendidikan di atas berarti Pendidikan Agama bertugas untuk membimbing dan mengarahkan anak didik supaya menjadi muslim yang beriman teguh sebagai refleksi dari keimanan yang telah dibina oleh penanaman pengetahuan agama yang harus dicerminkan dengan akhlak yang mulia sebagai sasaran akhir dari Pendidikan Agama itu.
Menurut Abdul Fattah Jalal tujuan umum pendidikan  Islam adalah terwujudnya manusia sebagai hambah Allah, ia mengatakan bahwa tujuan ini akan mewujudkan tujuan-tujuan khusus. Dengan mengutip surat at-Takwir ayat 27. Jalal menyatakan bahwa tujuan itu adalah untuk semua manusia. Jadi menurut Islam, pendidikan haruslah menjadikan seluruh manusia menjadi manusia yang menghambakan diri kepada Allah atau dengan kata lain beribadah kepada Allah.
Islam menghendaki agar manusia dididik supaya ia mampu merealisasikan tujuan hidupnya sebagaimana yang telah digariskan oleh Allah. Tujuan hidup manusia itu menurut Allah adalah beribadah kepada Allah, ini diketahui dari surat al-Dzariyat ayat 56 yang berbunyi :

Artinya : “Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia kecuali supaya mereka beribadah kepada-Ku” (Q.S al-Dzariyat, 56)

2)    Tujuan Khusus
Tujuan khusus Pendidikan Agama adalah tujuan yang disesuaikan dengan pertumbuhan dan perkembangan anak sesuai dengan jenjang pendidikan yang dilaluinya, sehingga setiap tujuan Pendidikan Agama pada setiap jenjang sekolah mempunyai tujuan yang berbeda-beda, seperti tujuan Pendidikan Agama di sekolah dasar berbeda dengan tujuan Pendidikan Agama di SMP, SMA dan berbeda pula dengan tujuan Pendidikan Agama di perguruan tinggi.
Tujuan khusus pendidikan seperti di SLTP adalah untuk meningkatkan kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut serta meningkatkan tata cara membaca al-Qur’an dan tajwid sampai kepada tata cara menerapkan hukum bacaan mad dan wakaf. Membiasakan perilaku terpuji seperti qanaah dan tasawuh dan menjawukan diri dari perilaku tercela seperti ananiah, hasad, ghadab dan namimah serta memahami dan meneladani tata cara mandi wajib dan shalat-shalat wajib maupun shalat sunat (Riyanto, 2006 : 160).
Sedangkan tujuan lain untuk menjadikan anak didik agar menjadi pemeluk agama yang aktif dan menjadi masyarakat atau warga negara yang baik dimana keduanya itu terpadu untuk mewujudkan apa yang dicita-citakan merupakan suatu hakekat, sehingga setiap pemeluk agama yang aktif secara otomatis akan menjadi warga negara yang baik, terciptalah warga negara yang pancasilis dengan sila Ketuhanan Yang Maha Esa
1.2     Ruang Lingkup Ajaran Islam
Ruang lingkup ajaran islam meliputi tiga bidang yaitu aqidah, syari’ah dan akhlak
a.    Aqidah
Aqidah arti bahasanya ikatan atau sangkutan. Bentuk jamaknya ialah aqa’id. Arti aqidah menurut istilah ialah keyakinan hidup atau lebih khas lagi iman. Sesuai dengan maknanya ini yang disebut aqidah ialah bidang keimanan dalam islam dengan meliputi semua hal yang harus diyakini oleh seorang muslim/mukmin. Terutama sekali yang termasuk bidang aqidah ialah rukun iman yang enam, yaitu iman kepada Allah, kepada malaikat-malaikat-Nya, kepada kitab-kitab-Nya, kepada Rasul-rasul-Nya, kepada hari Akhir dan kepada qada’dan qadar.
b.    Syari’ah
Syari’ah arti bahasanya jalan, sedang arti istilahnya ialah peraturan Allah yang mengatur hubungan manusia dengan tiga pihak Tuhan, sesama manusia dan alam seluruhnya, peraturan Allah yang mengatur hubungan manusia dengan tuhan disebut ibadah, dan yang mengatur hubungan manusia dengan sesama manusia dan alam seluruhnya disebut Muamalah. Rukun Islam yang lima yaitu syahadat, shalat, zakat, puasa dan haji termasuk ibadah, yaitu ibadah dalam artinya yang khusus yang materi dan tata caranya telah ditentukan secara parmanen dan rinci dalam al-Qur’an dan sunnah Rasululah Saw.
Selanjutnya muamalah dapat dirinci lagi, sehingga terdiri dari
  • Munakahat (perkawinan), termasuk di dalamnya soal harta waris (faraidh) dan wasiat
  • Tijarah (hukum niaga) termasuk di dalamnya soal sewa-menyewa, utang-piutang, wakaf.
  • Hudud dan jinayat keduanya merupakan hukum pidana islam
Hudud ialah hukum bagi tindak kejahatan zina, tuduhan zina, merampok, mencuri dan minum-minuman keras. Sedangkan jinayat adalah hukum bagi tindakan kejahatan pembunuhan, melukai orang, memotong anggota, dan menghilangkan manfaat badan, dalam tinayat berlaku qishas yaitu “hukum balas”
  •  Khilafat (pemerintahan/politik islam)
  • Jihad (perang), termasuk juga soal ghanimah (harta rampasan perang) dan tawanan).
  • Akhlak/etika
Akhlak adalah berasal dari bahasa Arab jamat dari “khuluq” yang artinya perangai atau tabiat. Sesuai dengan arti bahasa ini, maka akhlak adalah bagian ajaran islam yang mengatur tingkahlaku perangai manusia. Ibnu Maskawaih mendefenisikan akhlak dengan “keadaan jiwa seseorang yang mendorongnya melakukan perbuatan-perbuatan tanpa melalui pertimbangan fikiran”.
Akhlak ini meliputi akhlak manusia kepada tuhan, kepada nabi/rasul, kepada diri sendiri, kepada keluarga, kepada tetangga, kepada sesama muslim, kepada non muslim.
Dalam Islam selain akhlak dikenal juga istilah etika. Etika adalah suatu ilmu yang menjelaskan arti baik dan buruk, menerangkan apa yang seharusnya dilakukan oleh manusia kepada lainnya, menyatakan tujuan yang harus dituju oleh manusia di dalam perbuatan mereka dan menunjukkan jalan untuk melakukan apa yang harus diperbuat (Amin, 1975 : 3)
Jadi, etika adalah perbuatan baik yang timbul dari orang yang melakukannya  dengan sengaja dan berdasarkan kesadarannya sendiri serta dalam melakukan perbuatan itu dia tau bahwa itu termasuk perbuatan baik atau buruk.
Etika harus dibiasakan sejak dini, seperti anak kecil ketika makan dan minum dibiasakan bagaimana etika makan atau etika minum, pembiasaan etika makan dan minum sejak kecil akan berdampak setelah dewasa. Sama halnya dengan etika berpakaian, anak perempuan dibiasakan menggunakan berpakaian berciri  khas perempuan seperti jilbab sedangkan laki-laki memakai kopya dan sebagainya. Islam sangat memperhatikan etika berpakai sebagaimana yang tercantum dalam surat al-Ahsab di atas.

1.3    Pentingnya Pendidikan Agama Bagi Kehidupan

Agama sangatlah penting dalam kehidupan manusia. Demikian pentingnya agama dalam kehidupan manusia, sehingga diakui atau tidak sesungguhnya manusia sangatlah membutuhkan agama dan sangat dibutuhkanya agama oleh manusia. Tidak saja di massa premitif dulu sewaktu ilmu pengetahuan belum berkembang tetapi juga di zaman modern sekarang sewaktu ilmu dan teknologi telah demikian maju.
Berikut ini sebagian dari bukti-bukti mengapa agama itu sangat penting dalam kehidupan manusia.
a.    Agama merupakan sumber moral
Manusia sangatlah memerlukan akhlaq atau moral, karena moral sangatlah penting dalam kehidupan. Moral adalah mustika hidup yang membedakan manusia dari hewan. Manusia tanpa moral pada hakekatnya adalah binatang dan manusia yang membinatang ini sangatlah berbahaya, ia akan lebih jahat dan lebih buas dari pada binatang buas sendiri.
Tanpa moral kehidupan akan kacau balau, tidak saja kehidupan perseorangan tetapi juga kehidupan masyarakat dan negara, sebab soal baik buruk atau halal haram tidak lagi dipedulikan orang. Dan kalau halal haram tidak lagi dihiraukan. Ini namanya sudah maehiavellisme. Machiavellisme adalah doktrin machiavelli “tujuan menghalalkan cara kalau betul ini yang terjadi, biasa saja  kemudian bangsa dan negara hancur binasa.
Ahmad Syauqi, 1868 – 1932 seorang penyair Arab mengatakan “bahwa keberadaan suatu bangsa ditentukan oleh akhlak, jika akhlak telah lenyap, akan lenyap pulalah bangsa itu”.
Dalam kehidupan seringkali moral melebihi peranan ilmu, sebab ilmu adakalanya merugikan. “kemajuan ilmu dan teknologi mendorong manusia kepada kebiadapan”
Demikian dikatakan oleh Prof. Dr. Alexis Carrel seorang sarjana Amerika penerima hadiah nobel 1948 “moral dapat digali dan diperoleh dalam agama, karena agama adalah sumber moral paling teguh. Nabi Muhammad Saw di utus tidak lain juga untuk membawa misi moral, yaitu untuk menyempurnakan akhlak yang mulia”
W.M. Dixo dalam “The Human Situation” menulis “ Agama betul atau salah dengan ajarannya percaya kepada Tuhan dan kehidupan akherat yang akan datang, adalah dalam keseluruhannya kalau tidak satu-satunya peling sedikit kita boleh percaya, merupakan dasar yang paling kecil bagi moral”.
Dari tulisan W.M. Dixon di atas ini dapat diketahui bahwa agama merupakan sumber dan dasar (paling kuat) bagi moral, karena agama menganjurkan kepercayaan kepada Tuhan dan kehidupan akherat. Pendapat Dixon ini memang betul. Kalau orang betul beriman bahwa Tuhan itu ada dan Tuhan yang ada itu maha mengetahui kepada tiap orang sesuai dengan amal yang dikerjakannya, maka keimanan seperti ini merupakan sumber yang tidak kering-keringnya bagi moral. Itulah sebabnya ditegaskan oleh Rasulullah Saw.  Yang artinya : ”Orang mukmin yang paling sempurna imanya ialah orang mukmin yang paling baik akhlaqnya” (Riwayat Tirmizi)
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa pentingnya agama dalam kehidupan disebabkan oleh sangat diperlukannya moral oleh manusia, karena agama bersumber dari agama. Dan agama menjadi sumber moral, karena agama menganjurkan iman kepada Tuhan dan kehidupan akherat, dan selain itu karena adanya perintah dan larangan dalam agama.
b.    Agama merupakan petunjuk kebenaran
Salah satu hal yang ingin diketahui oleh manusia ialah apa yang bernama kebenaran. Masalah ini masalah besar, dan menjadi tanda tanya besar bagi manusia sejak zaman dahulu kala. Apa kebenaran itu, dan dimana dapat diperoleh manusia dengan akal, dengan ilmu dan dengan filsafatnya ingin mengetahui dan mencapainya dan yang menjadi tujuan ilmu dan filsafat tidak lain juga untuk mencari jawaban atas tanda tanya besar itu, yaitu masalah kebenaran.
Tetapi dapat disayangkan, sebagaimana telah disebutkan dalam uraian terdahulu, sebegitu jauh usaha ilmu dan filsafat untuk mencapai kemampuan ilmu dan filsafat hanyalah sampai kepada kebenaran relatif atau nisbi, padahal kebenaran relatif atau nisbi bukanlah kebenaran yang sesungguhnya. Kebenaran yang sesungguhnya ialah kebenaran mutlak dan universal, yaitu kebenaran yang sungguh-sungguh benar, absolut dan berlaku untuk semua orang.
Tampakya sampai kapanpun masalah kebenaran akan tetap merupakan misteri bagi manusia, kalau saja manusia hanya mengandalkan alat yang bernama akal, atau ilmu atau juga filsafat (Demoikritas, 2004 : 360-460)
Kebenaran itu dalam sekali letaknya tidak terjangkau semuanya oleh manusia. Penganut-penganut sufisme, yaitu aliran baru dalam filsafat Yunani yang timbul pada pertengahan abad ke-5 menegaskan pula”. Kebenaran yang sebenar-benarnya tidak tercapai oleh manusia.
Kemudian Bertrand Rossel seorang Failosuf Inggris termasyur juga berkata “apa yang tidak sanggup dikerjakan oleh ahli ilmu pengetahuan, ialah menentukan kebajikan (haq dan bathil). Segala sesuatu yang berkenaan dengan nilai-nilai adalah di luar bidang ilmu pengetahuan. Hal ini sesuai dengan firman Allah yang artinya “Sesungguhnya telah kami turunkan al-Kitab kepadamu dengan membawa kebenaran agar kamu memberi kepastian hukum di antara manusia dengan apa yang telah ditunjukkan oleh Allah kepadamu” (an-Nisa’, 105)
c.    Agama merupakan sumber informasi tentang masalah metafisika
Prof Arnoid Toynbee memperkuat pernyataan yang demikian ini. Menurut ahli sejarah Inggris kenamaan ini tabir rahasia alam semesta juga ingin di singkap oleh manusia. Dalam bukunya “An Historian’s Aproach to religion” dia menulis, “ Tidak ada satu jiwapun akan melalui hidup ini tanpa mendapat tantantangan-rangsangan untuk memikirkan rahasia alam semesta”.
Ibnu Kholdum dalam kitab Muqaddimah-nya menulis “akal ada sebuah timbangan yang tepat, yang catatannya pasti dan bisa dipercaya. Tetapi mempergunakan akal untuk menimbang hakekat dari soal-soal yang berkaitan dengan keesaan Tuhan, atau hidup sesudah mati, atau sifat-sifat Tuhan atau soal-soal lain yang luar lingkungan akal, adalah sebagai mencoba mempergunakan timbangan tukang emas untuk menimbang gunung, ini tidak berarti bahwa timbangannya itu sendiri yang kurang tepat. Soalnya ialah karena akal mempunyai batas-batas yang membatasinya.
Berhubungan dengan itu persoalan yang menyangkut metafisika masih gelap bagi manusia dan belum mendapat penyelesaian semua tanda tanya tentang itu tidak terjawab oleh akal.
d.    Agama memberikan bimbingan rohani bagi manusia, baik dikala suka maupun di kala duka
Hidup manusia di dunia yang pana ini kadang-kadang suka tapi kadang-kadang juga duka. Maklumlah dunia bukanlah surga, tetapi juga bukan neraka. Jika dunia itu surga, tentulah hanya kegembiraan yang ada, dan jika dunia itu neraka tentulah hanya penderitaan yang terjadi. Kenyataan yang menunjukan bahwa kehidupan dunia adalah rangkaian dari suka dan duka yang silih berganti.
Firman Allah Swt yang artinya : “Setiap jiwa pasti akan merasakan kematian, dan engkau kami coba dengan yang buruk dan dengan yang baik sebagai ujian” (al-Ambiya, 35).
Dalam masyarakat dapat dilihat seringkali orang salah mengambil sikap menghadapi cobaan suka dan duka ini. Misalnya dikala suka, orang mabuk kepayang da lupa daratan. Bermacam karunia Tuhan yang ada padanya tidak mengantarkan dia kepada kebaikan tetapi malah membuat manusia jahat. (Shaleh, 2005: 45)
Berdasarkan uraian di atas penulis dapat menyimpulkan bahwa sikap yang salah juga sering dilakukan orang sewaktu di rundung duka. Misalnya orang hanyut dalam himpitan kesedihan yang berkepanjangan. Dari sikap yang keliru seperti itu dapat timbul gangguan kejiwaan seperti lesu, murung, malas, kurang gairah hidup, putus asa dan merasa tidak berguna bagi orang lain. Pendidikan Agama Islam
Daftar Pustaka
Zuhaerini, 1983. Metodik Khusus Pendidikan Agama. Surabaya : Usaha Nasional.
Drajat, Zakiah, 1992. Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta : Bumi Aksara
Tafsir, Ahmad, 2005. Ilmu Pendidikan Dalam Persfektif Islam, Bandung : PT. Remaja Rosdakarya
Riyanto, Yatim. 2006. Pengembangan Kurikulum dan Seputar Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), IKAPI : Universiti Press.
Shaleh, Abdul, Rahman, 2005.  Pendidikan Agama dan Pembangunan Untuk Bangsa.Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada.

Uji Publik Kurikulum 2013: Penyederhanaan, Tematik-Integratif

Pengembangan Kurikulum 2013 dilakukan dalam empat tahap. Pertama, penyusunan kurikulum di lingkungan internal Kemdikbud dengan melibatkan sejumlah pakar dari berbagai disiplin ilmu dan praktisi pendidikan. Kedua, pemaparan desain Kurikulum 2013 di depan Wakil Presiden selaku Ketua Komite Pendidikan yang telah dilaksanakan pada 13 November 2012 serta di depan Komisi X DPR RI pada 22 November 2012. Ketiga, pelaksanaan uji publik guna mendapatkan tanggapan dari berbagai elemen masyarakat. Salah satu cara yang ditempuh selain melalui saluran daring (on-line) pada laman http://kurikulum2013.kemdikbud.go.id , juga melalui media massa cetak. Tahap keempat, dilakukan penyempurnaan untuk selanjutnya ditetapkan menjadi Kurikulum 2013.

Inti dari Kurikulum 2013, adalah ada pada upaya penyederhanaan, dan tematik-integratif. Kurikulum 2013 disiapkan untuk mencetak generasi yang siap di dalam menghadapi masa depan. Karena itu kurikulum disusun untuk mengantisipasi perkembangan masa depan.

Titik beratnya, bertujuan untuk mendorong peserta didik atau siswa, mampu lebih baik dalam melakukan observasi, bertanya, bernalar, dan mengkomunikasikan (mempresentasikan), apa yang mereka peroleh atau mereka ketahui setelah menerima materi pembelajaran. Adapun obyek yang menjadi pembelajaran dalam penataan dan penyempurnaan kurikulum 2013 menekankan pada fenomena alam, sosial, seni, dan budaya.

Melalui pendekatan itu diharapkan siswa kita memiliki kompetensi sikap, ketrampilan, dan pengetahuan jauh lebih baik. Mereka akan lebih kreatif, inovatif, dan lebih produktif, sehingga nantinya mereka bisa sukses dalam menghadapi berbagai persoalan dan tantangan di zamannya, memasuki masa depan yang lebih baik.

Pelaksanaan penyusunan kurikulum 2013 adalah bagian dari melanjutkan pengembangan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) yang telah dirintis pada tahun 2004 dengan mencakup kompetensi sikap, pengetahuan, dan keterampilan secara terpadu, sebagaimana amanat UU 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pada penjelasan pasal 35, di mana kompetensi lulusan merupakan kualifikasi kemampuan lulusan yang mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan sesuai dengan standar nasional yang telah disepakati. Paparan ini merupakan bagian dari uji publik Kurikulum 2013, yang diharapkan dapat menjaring pendapat dan masukan dari masyarakat.

 

Menambah Jam Pelajaran

Strategi pengembangan pendidikan dapat dilakukan pada upaya meningkatkan capaian pendidikan melalui pembelajaran siswa aktif berbasis kompetensi; efektivitas pembelajaran melalui kurikulum, dan peningkatan kompetensi dan profesionalitas guru; serta lama tinggal di sekolah dalam arti penambahan jam pelajaran.

gambar1

skema1

Skema 1. menyajikan tentang Strategi Peningkatan Efektivitas Pembelajaran. Sedang gambar 1. menggambarkan tentang strategi meningkatkan capaian pendidikan, yang digambarkan melalui sumbu x (efektivitas pembelajaran melalui kurikulum, dan peningkatan kompetensi dan prefesionalitas guru), y (pembelajaran siswa aktif berbasis kompetensi) dan z (lama tinggal di sekolah dalam arti penambahan jam pelajaran).

Rasionalitas penambahan jam pelajaran dapat dijelaskan bahwa perubahan proses pembelajaran (dari siswa diberi tahu menjadi siswa mencari tahu) dan proses penilaian (dari berbasis output menjadi berbasis proses dan output) memerlukan penambahan jam pelajaran. Di banyak negara, seperti AS dan Korea Selatan, akhirakhir ini ada kecenderungan dilakukan menambah jam pelajaran. Diketahui juga bahwa perbandingan dengan negara-negara lain menunjukkan jam pelajaran di Indonesia relatif lebih singkat. Bagaimana dengan pembelajaran di Finlandia yang relatif singkat. Jawabnya, di negara yang tingkat pendidikannya berada di peringkat satu dunia, singkatnya pembelajaran didukung dengan pembelajaran tutorial yang baik.

Penyusunan kurikulum 2013 yang menitikberatkan pada penyederhanaan, tematik-integratif mengacu pada kurikulum 2006 di mana ada beberapa permasalahan di antaranya; (i) konten kurikulum yang masih terlalu padat, ini ditunjukkan dengan banyaknya mata pelajaran dan banyak materi yang keluasan dan tingkat kesukarannya melampaui tingkat perkembangan usia anak; (ii) belum sepenuhnya berbasis kompetensi sesuai dengan tuntutan fungsi dan tujuan pendidikan nasional; (iii) kompetensi belum menggambarkan secara holistik domain sikap, keterampilan, dan pengetahuan; beberapa kompetensi yang dibutuhkan sesuai dengan perkembangan kebutuhan (misalnya pendidikan karakter, metodologi pembelajaran aktif, keseimbangan soft skills dan hard skills, kewirausahaan) belum terakomodasi di dalam kurikulum; (iv) belum peka dan tanggap terhadap perubahan sosial yang terjadi pada tingkat lokal, nasional, maupun global; (v) standar proses pembelajaran belum menggambarkan urutan pembelajaran yang rinci sehingga membuka peluang penafsiran yang beraneka ragam dan berujung pada pembelajaran yang berpusat pada guru; (vi) standar penilaian belum mengarahkan pada penilaian berbasis kompetensi (proses dan hasil) dan belum secara tegas menuntut adanya remediasi secara berkala; dan (vii) dengan KTSP memerlukan dokumen kurikulum yang lebih rinci agar tidak menimbulkan multi tafsir.

skema2

skema3

Skema 2 menggambarkan tentang kesenjangan kurikulum yang ada pada konsep kurikulum saat ini dengan konsep ideal. Kurikulum 2013 mengarah ke konsep ideal. Sedang skema 3 menjelaskan alasan terhadap pengembangan kurikulum 2013

Sumber: http://www.kemdiknas.go.id

Pembelajaran Teks dalam Kurikulum 2013

Oleh: Mahsun
Kepala Badan Pegembangan dan Pembinaan Bahasa Kemdikbud

Dari sudut pandang teori semiotika sosial, teks merupakan suatu proses sosial yang berorientasi pada suatu tujuan sosial. Tujuan sosial yang hendak dicapai memiliki ranah-ranah pemunculan yang disebut konteks situasi. Sementara itu, proses sosial akan berlangsung jika terdapat sarana komunikasi yang disebut bahasa. Dengan kata lain, proses sosial akan merefleksikan diri menjadi bahasa dalam konteks situasi tertentu sesuai tujuan proses sosial yang hendak dicapai. Bahasa yang muncul berdasarkan konteks situasi inilah yang menghasilkan register atau bahasa sebagai teks.

Oleh karena konteks situasi pemakaian bahasa itu sangat beragam, maka akan beragam pula jenis teks. Selanjutnya, proses sosial yang berlangsung selalu memiliki muatan nilai-nilai atau norma-norma kultural. Nilai-nilai atau norma-norma kultural yang direalisasikan dalam suatu proses sosial itulah yang disebut genre. Satu genre dapat muncul dalam berbagai jenis teks. Misalnya genre cerita, di antaranya, dapat muncul dalam bentuk teks: cerita ulang, anekdot, eksemplum, dan naratif, dengan struktur teks (struktur berpikir) yang berbeda; tidak berstruktur tunggal seperti dipahami dalam kurikulum bahasa Indonesia pada KTSP, yang semua jenis teks berstruktur: pembuka, isi, dan penutup (periksa KD BI, kelas XI, semester 2, butir: 12.2).

Pada jenis teks cerita ulang (recount) unsur utamanya berupa peristiwa yang di dalamnya menyangkut siapa, mengalami apa, pada waktu lampau, dengan struktur: orientasi (pengenalan pelaku, tempat, dan waktu) diikuti rekaman kejadian; pada teks anekdot, peristiwa yang terdapat pada teks cerita ulang harus menimbulkan krisis. Partisipan yang terlibat bereaksi pada peristiwa itu, sehingga teksnya berstruktur: orientasi, krisis, lalu diikuti reaksi. Berbeda dengan eksemplum, pada jenis teks ini peristiwa yang terdapat pada teks cerita ulang maupun anekdot memunculkan insiden, dan dari insiden itu muncul interpretasi (perenungan). Dengan demikian, teks jenis ini berstruktur: orientasi, insiden, lalu diikuti interpretasi. Adapun jenis teks naratif, peristiwa yang diceritakan harus memunculkan konflik antartokoh atau konflik pelaku dengan dirinya sendiri atau dengan lingkungannya. Oleh karena itu, teks naratif berstruktur: orientasi, komplikasi, dan resolusi. Setiap struktur teks dalam masing-masing jenis teks memiliki perangkat-perangkat kebahasaan yang digunakan untuk mengekspresikan pikiran yang dikehendaki dan secara terpadu diorientasikan pada pencapaian tujuan sosial teks secara menyeluruh. Untuk itu, pembicaraan ihwal satuan leksikal, gramatikal (tata bahasa) dalam pembelajaran berbasis teks harus berupa pembicaraan tentang satuan kebahasaan yang berhubungan dengan struktur berpikir yang menjadi tujuan sosial teks, bukan dalam bentuk serpihan-serpihan.

Dalam teori genre, terdapat dua konteks yang melatarbelakangi kehadiran suatu teks, yaitu konteks budaya (yang di dalamnya ada nilai dan norma kultural yang akan mewejawantahkan diri melalui proses sosial) dan konteks situasi yang di dalamnya terdapat: pesan yang hendak dikomunikasikan (medan/field), pelaku yang dituju (pelibat/tenor), dan format bahasa yang digunakan untuk menyampaikan pesan itu (sarana/mode). Hadirnya konteks budaya dalam teks dapat ditunjukkan, misalnya pada teks laporan dan teks deskripsi. Kedua teks ini sama-sama dikelompokkan ke dalam genre faktual, tetapi memiliki struktur teks dan nilai/norma yang melatarbelakangi berbeda. Teks laporan berstruktur: klasifikasi umum lalu diikuti deskripsi bagian, sedangkan teks deskripsi bersruktur: deskripsi umum diikuti deskripsi bagian-bagian. Satuan leksikogramatikal yang terdapat pada teks laporan harus mendukung nilai-nilai objektif, faktual bukan opini serta bersifat generik, sedangkan pada teks deskripsi satuan leksikogramatika yang merupakan opini ataupun tanggapan yang bersifat subjektif masih dapat dimunculkan dan lebih bersifat spesifik. Itu sebabnya, dalam pembelajaran bahasa berbasis teks tidak boleh dilihat bahasa secara parsial, melainkan secara utuh. Pembelajaran bahasa berbasis teks bukanlah belajar keping-keping atau serpih-serpih tentang bahasa yang cenderung bertujuan menghafal.

Pilihan pada pembelajaran bahasa berbasis teks membawa implikasi metodologis pada pembelajaran yang bertahap. Mulai dari kegiatan guru membangun konteks, dilanjutkan dengan kegiatan pemodelan, membangun teks secara bersama-sama, sampai pada membangun teks secara mandiri. Hal ini dilakukan karena teks merupakan satuan bahasa yang mengandung pikiran dengan struktur yang lengkap. Guru harus benar-benar meyakini bahwa pada akhirnya siswa mampu menyajikan teks secara mandiri.

Kehadiran konteks budaya, selain konteks situasi yang melatarbelakangi lahirnya suatu teks menunjukkan adanya kesejajaran antara pembelajaran berbasis teks (konsep bahasa) dengan filosofi pengembangan Kurikulum 2013, khusunya yang terkait dengan rumusan kebutuhan kompetensi peserta didik dalam bentuk kompetensi inti (KI) atas domein sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Kompetensi inti yang menyangkut sikap, baik sikap spiritual (KI: A) maupun sikap sosial (KI: B) terkait dengan konsep kebahasaan tentang nilai, norma kultural, serta konteks sosial yang menjadi dasar terbentuknya register (bahasa sebagai teks); kompetensi inti yang menyangkut pengetahuan (KI: C) dan keterampilan (KI: D) terkait langsung dengan konsep kebahasaan yang berhubungan dengan proses sosial (genre) dan register (bahasa sebagai teks). Selain itu, antarkompetensi dasar (KD) yang dikelompokkan berdasarkan KI tersebut memiliki hubungan pendasaran satu sama lain. Ketercapaian KD dalam kelompok KI: A dan B ditentukan oleh ketercapaian KD dalam kelompok KI: C dan D. KD dalam kelompok KI: A dan B bukan untuk diajarkan melainkan implikasi dari ketercapaian KD dalam kelompok KI: C dan D. Oleh karena itu pula, mengkritisi keberadaan KD-KD dalam Kurikulum 2013, termasuk tentang Kurikulum Bahasa Indonesia secara lepas, berdiri sendiri mengakibatkan munculnya tanggapan yang menyesatkan. Jika rumusan KD tentang sikap dihubungkan dengan KD tentang pengetahuan dan keterampilan, tentu pernyataannya tentang tidak logisnya rumusan KD, dalam Kurikulum 2013, seperti dinyatakan Acep (Kompas, 18 Maret 2013), tidak akan muncul.

Begitu pula jika, KD tentang pengetahuan yang dikritisi itu dihubungkan dengan KD tentang keterampilan, maka pernyataan bahwa Kurikulum 2013 hanya akan menghasilkan siswa penghafal, seperti dinyatakan Bambang (Kompas, 20 Maret 2013) tidak akan lahir. Selanjutnya, jika dibandingkan antara KD yang dirumuskan dalam Kurikulum 2013 dengan KD dalam KTSP, maka terdapat beberapa persamaan dan perbedaan yang mendasar. Persamaannya, kedua kurikulum itu menampilkan teks sebagai butir-butir KD. Sebagai contoh, dalam KTSP (2006) untuk kelas I, dan kelas IV semester 1, ditemukan KD 2.3: “Mendeskripsikan benda-benda di sekitar dan fungsi anggota tubuh dengan kalimat sederhana” dan KD 4.2: “Menulis petunjuk untuk melakukan sesuatu atau penjelasan tentang cara membuat sesuatu”. Bandingkan rumusan KD itu dengan KD dalam Kurikulum 2013 kelas 1 SD pada aspek pengetahuan: (a) KD3.1:“Mengenal Teks deskriptif tentang anggota tubuh dan panca indera …”; (b) KD 3.2: “Mengenal teks petunjuk/arahan tentang perawatan tubuh serta pemeliharaan kesehatan dan …”. Baik pada KTSP maupun pada Kurikulum 2013 teks disajikan sebagai butir-butir yang dicantumkan sebagai KD, tidak seperti yang dinyatakan Bambang. Hanya saja, pada Kurikulum 2013 dibedakan antara KD yang berhubungan dengan aspek pengetahuan, kerampilan, dan sikap. Adapun perbedaannya, KD pada KTSP masih banyak yang disusun berdasarkan pandangan linguistik struktural, misalnya: rumusan KD kelas I semester 1 berikut. KD 3.1: “Membaca nyaring suku kata, kata dengan lafal yang tepat” dan KD 3.2: “Membaca nyaring kalimat sederhana dengan lafal dan intonasi yang tepat”. Kedua rumusan KD ini mencerminkan pembelajaran kompetensi berbahasa yang bersifat struktural, dari kemampuan melafalkan unsur bahasa yang terkecil: suku kata, meningkat ke pelafalan kata, dan diteruskan ke pelafalan kalimat, bahkan sampai ke teks (cermati KD kelas II, semester 2, butir 7.1: “Membaca nyaring teks (15-20 kalimat) dengan memperhatikan lafal dan intonasi yang tepat”. Dengan mencermati KD-KD-nya, maka penyusunan kurikulum bahasa Indonesia pada KTSP dapat dikatakan dilakukan dengan setengah berlandaskan pendekatan struktural dan setengahnya lagi berlandaskan pada pendekatan teks. Bahkan masih terdapat pencampuradukan antara konsep teks dengan paragrap. Cermati KD Kelas X, semester 1: 4.2: “Menulis hasil observasi dalam bentuk paragrap deskriptif”. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa kurikulum bahasa Indonesia sejak Kurikulum 1994 sampai KTSP yang didengung-dengungkan berbasis kontekstual adalah tidak sepenuhnya benar. Berbeda jauh dengan Kurikulum 2013 yang sepenuhnya berbasisi teks. ***

Sumber: http://www.kemdiknas.go.id

Metode Pendidikan dan Pengajaran Nabi Muhammad saw dalam Proses Belajar Mengajar

Abstrak : Nabi Muhammad saw adalah sosok pribadi yang agung dan mulia, dalam mendidik dan mengajar peserta didik, beliau lebih mengedepankan rasa kasih sayang, dan mempermudah setiap pembahasan yang ada. Dan Nabi Muhammad saw adalah seoarang teladan bagi peserta didiknya. Metode-metode belajar yang beliau terapkan disesuaikan dengan kondisi dan situasi, serta keadaan jiwa peserta didik, sehingga materi-materi yang beliau sampaikan dapat diterima dengan baik oleh peserta didik. Nabi Muhammad saw tidak memisahkan antara ilmu pengetahuan dengan ilmu agama, tetapi beliau mengolaborasikannya, sehingga tercipta generasi yang berilmu dan berakhlak mulia yang menjadi tujuan pendidikan Islam.

 

Pendahuluan

 

Perubahan keadaan manusia dan dunia yang telah diwujudkan oleh Nabi Muhammad saw menjadi objek studi dan penelitian dari para cendekiawan dan para pakar yang memiliki perhatian khusus dalam membangun peradaban dan sejarah bangsa-bangsa sepanjang masa. Mereka bukan hanya dari orang-orang Islam yang memang sedari awal telah menyadari pentingnya mengkaji pribadi sukses dan mulia sang Nabinya, tetapi juga berasal dari para pemeluk agama lain dari semua jenis aliran pemikiran dan kewarganegaraan di muka bumi. Mereka mengakui bahwa capain dari pendidikan dan pengajaran Nabi Muhammad saw merupakan fakta perubahan terbesar yang dicapai dalam sejarah peradaban manusia.

Dengan melihat keberhasilan Nabi Muhammad saw sebagai seorang pendidik dan pengajar yang sukses, seharusnya umat Muslim khususnya umat Muslim di Indonesia dapat menjadikan Nabi Muhammad saw sebagai guru besar dalam membangun kualitas pendidikan. Sehingga dengan berpedoman pada ajaran Nabi Muhammad saw yang telah terbukti hasil gemilangnya dalam kancah pendidikan, diharapkan dapat melahirkan sebuah generasi yang berilmu, berintelektual dan berakhlak, dan bermoral Islami.

Dengan melihat kenyataan pada kondisi pendidikan di Indonesia baik dari segi sistem pendidikan, kualitas para pendidik, proses belajar mengajar, dan hasil dari proses pendidikan itu sendiri masih banyak menimbulkan masalah. Misalnya masih banyak guru yang kurang profesional dalam mendidik dan mengajar, tidak meratanya pendidikan, tujuan pendidikan yang lebih mementingkan kecerdasan rasio, dan lain sebagainya. Sehingga perlu dikaji ulang tentang proses pelaksanaan pendidikan tersebut agar tercapai tujuan pendidikan itu.

Dengan sarana dan prasarana yang seadanya, dibandingkan dengan keadaan sekarang ini, dan kondisi lingkungan yang kurang mendukung, Nabi Muhammad saw dapat menciptakan generasi yang berilmu dan berakhlak, yang mampu membangun peradaban yang gemilang. Lalu, bagaimanakah Nabi Muhammad saw dapat menjadi pembuka gerbang menuju cahaya kejayaan dan meninggalkan masa-masa Jahiliyah (kebodohan)?

Sekali lagi, marilah kita menengok keberhasilan Nabi Muhammad saw dalam menciptakan generasi-generasi yang berkualitas baik dari segi keilmuan dan kualitas akhlak, dimana hal tersebut adalah yang menjadi tujuan utama pendidikan.

 

A. Kepribadian Nabi Muhammad saw

Nabi Muhammad saw, dalam melaksanakan tugasnya selaku utusan Allah dan sebagai pimpinan bangsa, beliau tidak hanya berada di depan untuk memberikan contoh, namun juga di tengah untuk memberikan semangat dan dari belakang untuk memberikan dorongan. Itu semua merupakan keteladanan Rasulullah untuk kita ikuti dan kita aplikasikan dalam setiap segi kehidupan.

Dalam Surat Al-Anbiya’ ayat 107 Allah SWT menegaskan bahwa kedatangan Nabi Muhammad saw sebagai Rasulullah adalah rahmat bagi seluruh alam. “Dan tiadalah Kami mengutus engkau, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.”(Q.S. Al-Anbiya’ 21:107). Kedatangan Nabi adalah rahmat bagi umat manusia, hewan, tumbuh-tumbuhan, dan makhluk-makhluk lainnya. Rasulullah membawa ajaran tentang persamaan, persatuan dan kemuliaan umat manusia, bagaimana tatacara hubungan manusia sesama manusia, hubungan sesama pemeluk agama, dan hubungan antar agama. Rasulullah mengajarkan tentang persaudaraan, perdamaian, keadilan, tolong-menolong, tata hidup berkeluarga, bertetangga, dan bermasyarakat, dan lain sebagainya. Rasulullah melarang manusia berbuat sewenang-wenang, sekalipun terhadap binatang. Rasulullah juga mengajarkan kepada umat manusia untuk memanfaatkan lingkungan hidup dan menjaga kelestariannya. Dalam peperangan sekalipun, tentatara Islam dilarang merusak tanaman-tanaman dan tumbuh-tumbuhan.

Akhlak Rasulullah dapat sertifikat langsung dari Allah SWT. “Sesungguhnya engkau benar-benar memiliki akhlak yang agung.” (Q.S.Al-Qalam 68:4). Tatkala ‘Aisyah ra, isteri Nabi, ditanya bagaimana akhlak Nabi, beliau menjawab:”Akhlak Nabi adalah Al Qur’an”. Rasulullahpun menjelaskan bahwa kedatangannya adalah untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.(H.R. Baihaqi). Dalam hadits lain Rasulullah menyatakan: “Seorang mukmin menjadi mulia karena agamanya, mempunyai kepribadian karena akalnya, dan menjadi terhormat karena akhlaknya.” (HR.Hakim). Malah Rasulullah mengatakan: “Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya.”(HR.Tirmidzi). Akhlak utama dan mulia itu adalah akhlak Rasulullah saw. Ahmad Muhammad Al-Hufi telah menulis sebuah buku tentang bagaimana akhlak Nabi. Karena tidak semuanya bisa diungkap, Al-Hufi menamai bukunya dengan Min Akhlaq an-,abi (Sebagian dari Akhlak Nabi). Di antara akhlak Nabi yang diuraikan oleh Al-Hufi adalah berani, pemurah, adil, iffah, benar, amanah, sabar, lapang hati, pemaaf, kasih sayang, mengutamakan perdamaian, zuhud, malu, rendah hati, musyawarah, lemah lembut, jujur, tidak suka mencari-cari cacat orang lain, sabar, tidak angkuh, santun, tidak mudah mabuk pujian, kebaikan pergaulan, dan cinta bekerja. Dan beliau selalu berusaha melupakan hal-hal yang tidak berkenan di hatinya dan tidak pernah berputus asa dalam berusaha. Salah satu karekter Rasulullah yang paling menonjol adalah kemenangan atau keberhasilan tidak menjadikan beliau bangga. Tentu, semua akhlak Rasulullah tersebut menjadi tauladan bagi kehidupan kita.

 

B. Metode pendidikan dan pengajaran Nabi Muhammad saw dalam proses belajar mengajar

Salah satu faktor penting dalam sistem pendidikan adalah metode pendidikan yang dipergunakan oleh seorang pendidik dalam menyampaikan (mentransfer) ilmu pengetahuan kepada peserta didik. Perlu ditekankan dalam hal ini, bahwa tidak ada satu pun metode yang paling tepat untuk diterapkan dalam sebuah proses belajar mengajar karena sebuah metode pendidikan dan pengajaran bergantung pada situasi dan kondisi dari proses belajar mengajar tersebut. Sehingga terkadang seorang pendidik harus menerapkan sebuah metode pendidikan dan pengajaran tertentu pada situasi dan kondisi tertentu, dan menggunakan sebuah metode yang lain dalam situasi dan kondisi yang lain pula. Namun, tak jarang pula terjadi atau sangat dibutuhkan kolaborasi (gabungan) dari beberapa metode untuk diterapkan bersama dalam proses belajar mengajar.

Sebaik apapun tujuan pendidikan, jika tidak didukung oleh metode yang tepat, tujuan tersebut sangat sulit untuk dapat tercapai dengan baik. Sebuah metode akan mempengaruhi sampai tidaknya suatu informasi secara lengkap atau tidak. Bahkan sering disebutkan cara atau metode kadang lebih penting daripada materi itu sendiri. Oleh sebab itu pemilihan metode pendidikan harus dilakukan secara cermat, disesuaikan dengan berbagai faktor terkait, sehingga hasil pendidikan dapat memuaskan. (Anwar, 2003: 42)

Beberapa hal yang harus ada dalam metode pendidikan, yaitu:

1. Melaksanakan aktivitas pembelajaran dengan penuh kesadaran dan tanggungjawab

2. Aktivitas tersebut memiliki cara yang baik dan tujuan tertentu

3. Tujuan harus dicapai secara efektif

Agar proses pembelajaran tidak menyimpang dari tujuan pendidikan Islam, seorang pendidik dalam meggunakan metodenya harus berpegang kepada prinsip-prinsip yang mampu mengarahkan dan kepada tujuan tersebut. Dengan berpegang kepada prinsip-prinsip tersebut, seorang pendidik diharapkan mampu menerapkan metode yang tepat dan cocok sesuai dengan kebutuhannya.

Dengan berlandaskan kepada ayat-ayat Al-Qur’an dan Al-Hadits, M. Arifin menetapkan sembilan prinsip yang harus dipedomani dalam menggunakan metode pendidikan Islam, kesembilan prinsip tersebut adalah prinsip memberikan suasana kegembiraan, prinsip memberikan layanan dengan lemah lembut, prinsip kebermaknaan, prinsip prasyarat, prinsip komunikasi terbuka, prinsip pemberian pengetahuan baru, prinsip memberikan model prilaku yang baik, prinsip pengamalan secara aktif, dan prinsip kasih saying.

Dalam pindidikan dan pengajaran Nabi Muhammad saw, sehingga menghasilkan generasi yang memiliki kecerdasan rasio, kecerdasan fisik, kecerdasan emosi, dan kecerdasan spiritual, tak lepas dari metode-metode yang diterapkan beliau pada proses belajar mengajar. Berikut adalah tujuh metode yang merupakan rangkuman dari berbagai macam metode pendidikan dan pembelajaran yang diterapakan oleh Nabi Muhammad sawvdalam proses belajar mengajar.

 

1. Metode Keteladanan

Menurut Harun, salah satu tokoh pendidikan Islam Indonesia, kualitas para pendidik Islam setidaknya memiliki empat kriteria sebagai seorang pendidik, diantaranya:

a. Sanggup member contoh keteladanan yang baik

b. Menguasai ilmu-ilmu pengetahuan

c. Menguasai pengetahuan tentang agama

d. Menguasai pengetahuan umum

Sebagai seorang guru (pendidik dan pengajar) harus dapat memberikan keteladanan yang baik kepada peserta didiknya. Dalam tercapainya kualitas yang baik dalam pengajaran harus didasarkan pada akhlak dan tingkah laku dari seorang guru. Dasar kaedah ini adalah bahwa pengajaran yang dilakukan melalui keteladanan yang didapatkan oleh peserta didik dari gurunya lebih baik dari pada sekadar menyampaikan pemikiran melalui lisan kepada peserta didiknya. Begitu pula bila seorang guru yang hanya memberikan nasehat-nasehat berupa akhlak yang mulia, tetapi tingkah laku guru tersebut sangat berlawan dengan yang disampaikannya, dapat menimbulkan kegagalan dalam memberikan keteladanan terhadap peserta didik. Sehingga untuk dapat dijadikan sebagai sebuah keteladan, seorang guru harus dapat memberikan pemikiran-pemikiran berupa nasehat-nasehat akhlak serta mampu untuk mengaplikasikannya pada kepribadiannya.

Melirik pada kata-kata berikut, “Nabi Muhammad saw sebagai seorang pribadi adalah contoh terbaik bagaimana Al-Qur’an berjalan, bagaimana Al-Qur’an hidup dan dihidupkan dalam kehidupan keseharian” diharapkan seorang pendidik dan pengajar mencontoh dari pribadi agung, Nabi Muhammad saw, yang merupakan cerminan akhlak dari Al-Qur’an yang mulia. Sehingga setiap peserta didik memeiliki sosok teladan yang baik dan pantas untuk ditiru, yaitu gurunya sendiri, yang akan lebih terkesan (menyentuh jiwa) pada jiwa peserta didik.

Dalam setiap penyampain materi-materi ilmu pengetahuan perlu dihiasi dengan nilai-nilai akhlak. Dengan seorang guru yang menjadi teladan bagi peserta didiknya dan perhatian seorang guru dalam mendidik ahklak peserta didiknya maka generasi yang terbentuk yaitu selain menguasai bidang-bidang tertentu dalam ilmu pengetahuan, memiliki nilai-nilai akhlak (moralitas yang baik) pula.

Perlu untuk ditekankan bahwa belajar dan mengajar dalam kaca mata Rasulullah adalah mengubah prilaku dan mendidik jiwa dan kepribadian manusia. Sehingga peserta didik memilki tingkat kecerdasan emosi yang tinggi.

Sebagai seorang guru (pendidik dan pengajar) untuk menstransfer ilmu-ilmu pengetahuan, sepatutnya memiliki modal dasar yaitu berupa ilmu pengetahuan yang akan diajarkan kepada peserta didik. Hal ini adalah sebuah poin yang amat penting dalam kelancaran sebuah proses belajar mengajar dan merupakan salah satu faktor yang menentukan tercapainya tujuan pendidikan itu. Bila seorang guru tidak menguasai bahan yang akan diajarkan, tidak mempunyai pemahaman tentang sebuah ilmu pengetahuan, maka dikawatirkan akan terjadi pembodohan (kesalahan pentransferan ilmu pengetahuan) kepada peserta didik. Efeknya, peserta didik mendapat ilmu pengetahuan yang salah (tidak sesuai dengan fakta atau kebenaran).

Bahwasnya Nabi Muhammad saw mengecam pada seseorang yang memberikan atau memberitakan sesuatau yang tidak benar, yang tidak secara pasti ia ketahui tentang kebenarannya. Oleh karena pentingnya faktor ini, maka diaharapkan, bahkan diharuskan setiap guru untuk mempelajari (belajar) ilmu-ilmu pengetahuan yang kelak akan ditransfer (diajarkan) kepada peserta didik. Sehingga terciptalah generasi yang berilmu yang akan tetap mewariskan dan terus mengembangkan ilmu pengetahuan pada setiap generasi. Sehingga terbentuk generasi yang memiliki tingkat kecerdasan rasio yang tinggi.

Ilmu agama adalah sebuah kebutuhan bagi setiap individu. Agama Islam ditujukan pada setiap insan, mengenalkan kepadanya siapa Tuhan mereka, apa hakekat hidup mereka, apa dosa dan pahala itu, dan lain sebagainya. Dengan dimilikinya (memahami) ilmu agama maka akan terciptalah ketenangan batin pada diri seorang pribadi tersebut. Sehingga ilmu agama tidak dapat dipisahkan dari setiap penyampaian ilmu pengetahuan. Jadi seorang guru harus paham terhadap ilmu agama Islam. Sehingga diharapkan akan dapat memberikan efek positif terhadap peserta didik yang berupa pengetahuan ilmu agama yang dapat diaplikasikan dengan amal berbuatan yang baik dan benar. Dalam hal ini, maka diharapkan tercipta generasi yang memiliki kecerdasan spiritual yang tinggi.

Pada zaman sekarang, dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan tekhnologi, sangat cepat dalam pencarian dan penyebaran informasi, sehingga sebuah informasi itu dapat diakses oleh siapaun dengan cepat dan mudah. Oleh sebab itu, maka seorang guru harus senantiasa menambah wawasannya dengan senantiasa menguasai dan menambah wawasan tentang ilmu pengetahuan dan tekhnologi.

Jadi, menjadi seorang guru adalah seseorang yang menjadi keteladanan bagi setiap peserta didiknya, baik dari segi akhlaknya dan keilmuannya.

 

2. Metode Pentahapan dan Pengulangan

Dalam menyampaikan ilmu-ilmu pengetahuan kepada peserta didik, Nabi Muhammad saw tidak serta merta langsung memberikan semua bahan materi yang ada. Namun, beliau memberikan (menstransfer) ilmu tersebut melalui sistem pentahapan. Sehingga peserta didik tidak mengalami kesulitan dalam memahami ilmu yang diberikan. Melalui metode pentahapan ini, peserta didik lebih dapat memahami materi yang disampaikan secara maksimal daripada langsung tanpa sebuah pentahapan. Beliau menyampaikan secara bertahap (sedikit demi sedikit) hingga semua materi yang beliau ajarkan dapat diterima dan dipahami dengan mudah dan lebih kuat dalam ingatan peserta didik.

Rasulullah sangat memperhatikan urut-urutan pentahapan dalam penyampaian bahan materi. Pada materi dasar, beliau ajarkan pada penyampaian pada tahap awal. Setelah tersampaikan, beliau menyampaikan materi yang berikutnya, yang sesuai dengan urutan-urutan materi yang akan diberikan oleh beliau. Bila peserta didik belum paham akan sebuah materi maka Rasulullah tidak melanjutkan ke materi berikutnya sebelum materi itu sudah peserta kuasai.

Diantara ilmu-ilmu pengetahuan yang disampaikan pada setiap tahapan, beliau memerhatikan kesinambungan antar materi pada tahap sebelumnya ke tahap berikutnya. Sehingga ada hubungannya antara materi yang sebelumnya dengan materi yang sesudahnya. Hal tersebut menjadi tidak membingungkan peserta didik dalam memahami materi yang sangat banyak dari Rasulullah.

Agar materi-materi yang telah diberikan tidak cepat hilang dari ingatan para peserta didik, Nabi Muhammad saw sering kali mengulang-ulang materi-materi yang sudah beliau sampaikan. Hal tersebut sangat berguna untuk membantu agar tetap dapat mengingat dan mengulang kembali apa-apa yang telah diberikan. Karena pentingnya materi-materi yang diajarkan oleh Nabi Muhammad saw tersebut, maka beliau sering mengulang-ulang materi yang telah disampaikan agar peserta didik beliau tidak lupa dan senantiasa dapat memahami materi-materi yang diberikan oleh beliau.

 

3. Metode Tanya-Jawab dan Diskusi

Metode ini diterapkan oleh Nabi Muhammad saw dalam rangka memberikan kesan perhatian kepada peserta didik, memberikan motivasi, dan mengetahui potensi akal peserta didik untuk dapat menjelaskan lagi apa yang telah peserta didik ketahui. Dan metode ini dapat dijadikan sebagai tolok ukur akan pemahaman yang dikuasai peserta didik terhadap materi-materi yang telah diberikan oleh Rasulullah (menyelami sejauh mana tingkat kecerdasan dan pemahaman peserta didik).

Nabi Muhammad saw selalu membuka lebar atas pengajuan pertanyaan dari peserta didik beliau dan Rasulullah senantiasa memberikan jawaban kepada peserta didik beliau secara proposional (ringkas) atas pertanyaan-pertnyaan yang peserta didik ajukan. Terkadang pula Rasulullah memberikan jawaban kepada peserta didik secara panjang lebar. Hal ini beliau lakukan bila hal tersebut dianggap penting, agar peserta didik beliau dapat mengetahui beberapa penjelasan tambahan atas jawaban dari pertanyaan peserta didik, dimana jawaban tambahan tersebut sangat berhubungan dengan jawaban yang ditanyakan dan sangat bermanfaat bagi peserta didik beliau.

Metode tanya jawab berusaha menghubungkan pemikiran seseorang dengan orang lain, serta mempunyai manfaat bagi pelaku dan pendengarnya, melalui dialog, perasaan dan emosi pembaca akan terbangkitkan, jika topik pembicaraan disajikan bersifat realistik dan manusiawi. (an-Nahlawi, t.t.: 205)

Dalam beberapa kesempatan, Nabi Muhammad saw tak jarang melontarkan kepada peserta didik beliau yang lain untuk menjawab pertanyaan atas pertanyaan salah seorang peserta didik beliau. Hal ini beliau lakukan untuk melatih peserta didik beliau dalam menjawab beberapa masalah keilmuan. Dan yang diharapkan oleh beliau adalah peserta didik ikut mengungkapkan pandangan dan argumennya untuk menyelesaikan masalah-masalah ilmu pengetahuan. Setelah itu, barulah beliau menjelaskannya secara lebih detail dan sensitive, supaya penjelasan tersebut lebih kuat tertanam pada pemahaman dan ingatan peserta didik beliau.

 

 

4. Metode Alat Peraga dan Eksperimen

Metode pengajaran Rasulullah ini adalah dengan cara mendemonstrasikan sesuatu (alat peraga) oleh beliau ketika hendak mengajarkan sesuatu. Dalam metode ini, cara yang beliau terapkan adalah dengan menunjukkan atau mendemonstrasikan sesuatu yang menjadi objek pembahasan ke hadapan peserta didik beliau. Dengan metode ini, dapat menarik perhatian peserta didik untuk lebih tergugah dalam memperhatikan apa yang sedang beliau ajarkan. Dan metode ini dapat lebih mempermudah peserta didik untuk memahami materi-materi yang sedang diajarkan oleh beliau.

Metode demonstrasi dimaksudkan sebagai suatu kegiatan memperlihatkan suatu gerakan atau proses kerja sesuatu. Pekerjaannya dapat saja dilakukan oleh pendidik atau peserta didik yang diminta mempraktekkan sesuatu pekerjaan. Metode demonstrasi bertujuan agar pesan yang disampaikan dapat dikerjakan dengan baik dan benar. Metode demonstrasi dapat dipergunakan dalam organisasi pelajaran yang bertujuan memudahkan informasi dari model (model hidup, model simbolik, deskripsi verbal) kepada peserta didik sebagai pengamat.

Dalam penerapan metode ini, Rasulullah terkadang menggunakan alat-alat atau benda-benda yang ada di lingkungan sekitar, dan terkadang pula beliau memanfaatkan anggota-anggota tubuh beliau.

Nabi Muhammad saw mengajarkan kepada peserta didik beliau tentang suatu kaedah yang besar yaitu tentang ilmu pengetahuan, dan menanamkan metode umum dalam penelitian ilmiah dalam bidang ilmu pengetahuan. Hal tersebut merupakan hasil perubahan dan pengalaman, pengamatan dan penelitian. Oleh karena itu, diperlukan metode eksperimen untuk mendapatkan hakekat ilmu pengetahuan.

Untuk menguatkan kaedah ini dan mengajarkannya serta agar senantiasa terekam kuat dalam ingatan peserta didik, Nabi Muhammad saw membimbing peserta didik beliau untuk melakukan suatu percobaan dan pengamatan, bukan hanya sekedar menyampaikan teori.

 

5. Metode Situasional dan Kondisional

Ketika memberikan pengajaran kepada peserta didik, Rasulullah senantiasa memperhatikan waktu dan kondisi yang tepat, disesuaikan dengan waktu dan kondisi yang tepat bagi peserta didik beliau. Hal ini bermanfaat agar peserta didik tidak merasakan sebuah rasa kejenuhan. Bila timbul rasa kejenuhan maka kelangsungan proses belajar mengajar menjadi tidak maksimal, bahkan menjadi sia-sia. Oleh karena itu, perlu diantisipasi akan munculnya rasa kejenuhan tersebut.

Rasulullah senantiasa memanfaatkan kesempatan (momentum) yang sesuai atas hal yang hendak beliau ajarkan. Beliau berusaha memadukan antara kesesuaian momentum dan ilmu pengetahuan yang hendak diajarkan secara kondusif, dengan harapan agar lebih jelas dalam memberikan sebuah kepahaman keilmuan.

Dalam sudut pandang keseragaman kemampuan peserta didik dalam memahami suatu transfer ilmu pengetahuan, Nabi Muhammad saw sangat memperhatikan kondisi kompetensi yang dimiliki oleh masing-masing peserta didik dalam setiap aktivitas pengajaran. Beliau senantiasa memberikan pengajaran kepada peserta didik beliau sesuai dengan kadar pemahaman peserta didik. Beliau tidak mengajarkan kepada peserta didik pemula sesuatu hal yang beliau ajarkan kepada peserta didik senior. Beliau juga tidak mengucilkan peserta didik yang masih junior terhadap peserta didik yang sudah senior.

 

6. Metode Membangkitkan Perhatian, Pujian dan Hukuman, dan Nasehat dan Motivasi, serta Hadiah

Dalam membangkitkan perhatian peserta didik, Rasulullah menggunakan beberapa cara yaitu dengann cara mengulangi penjelasan dan menunda jawaban, memanggil peserta didik, memegang tangan atau bahu peserta ddidik, dan merubah posisi. Hal ini dimaksudkan agar perhatian peserta didik menjadi bertambah, serta demi mengarahkan pendengaran penglihatan, dan hati peserta didik agar secara fisik dan psikologis lebih siap dan lebih memperhatikan apa yang beliau ajarkan.

Ketika didapati ada peserta didik beliau yang menampilkan sikap atau berbuatan yang tak semestinya ia lakukan, maka dengan segera Rasulullah memperingatkannya. Namun bila sikap dan berbuatan tersebut sudah terlampau batas kewajaran (keterlaluan) maka Rasulullah pun mulai menampakkan kemarahannya. Kemarahan disini bukanlah luapan emosi yang tak terkendali, namun adalah sebuah sikap yang berupa jalan untuk mendidik atau mengarahkan ke jalan yang benar.

Mendidik dengan Targhib dan Tarhib, kata targhib berasal dari kata kerja ragghaba yang berarti; menyenangi, menyukai dan mencintai, kemudian kata itu diubah menjadi kata benda targhib yang mengandung makna “:suatu harapan untuk memperoleh kesenangan, kecintaan, dan kebahagiaan. Semua itu dimunculkan dalam bentuk janji-janji berupa keindahan dan kebahagiaan yang dapat merangsang atau mendorong seseorang sehingga timbul harapan dan semangat untuk memperolehnya. Metode pengajaran ini memberikan dorongan (motivasi) kepada peserta didik melakukan sesuatu kebajikan. Dalam memberikan motivasi, beliau senantiasa mengupayakan secara optimal dan totalitas agar motivasi tersebut dapat terealisasi secara maksimal. Secara psikologi, cara itu akan menimbulkan daya tarik yang kuat untuk menggapainya. Sedangkan istilah tarhib berasal dari kata rahhaba yang berarti; menakut nakuti atau mengancam. Lalu kata itu diubah menjadi kata benda tarhib yang berarti; ancaman hukuman. Dalam memberikan ancaman, beliu senantiasa mengupayakan agar peingatan atau ancaman terebut senantiasa diindahkan dan menjadikan peserta didik terhindar dari perbuatan yang tak berguna.

Dengan berdalil pada Al-Qur’an dan Al-hadits, bahwa setiap insan yang mencari ilmu (belajar) akan mendapatkan balasan yang berlipat-lipat dari Allah swt dan mendapatkan kedudukan yang mulia. Hal ini dapat menjadi motivasi bagi pesrta didik untuk senantiasa giat dalam menuntut ilmu (belajar).

 

 

Penutup

 

Islam memandang bahwa segala fenomena alam ini adalah hasil ciptaan Allah dan sekaligus tunduk kepada hukum-hukum-Nya, oleh karena itu manusia harus dididik agar mampu menghayati dan mengamalkan nilai-nilai dalam hukum Allah tersebut. Tanpa nilai-nilai moral agama, kehidupannya akan menyimpang dari fitrah Allah yang mengandung nilai Islam yaitu doktrin Islam itu sendiri yang harus dijadikan dasar dari proses pendidikan yang berlangsung sepanjang hayat. Jadi dengan demikian pola dasar yang membentuk dan mewarnai sistem pendidikan Islam adalah pemikiran konseptual yang berorientasi kepada nilai-nilai keimanan, nilai-nilai kemanusiaan, serta nilai-nilai moral (akhlak) yang secara terpadu membentuk dan mewarnai tujuan pendidikan Islam.

Dengan kepribadian yang pantas untuk dijadikan teladan dan penerapan metode belajar yang memadai, Rasulullah mampu menciptakan generasi dan lingkungan yang bernuansa penuh keilmuan, akhlak yang mulia, dan ber-Islami. Sehingga tercipta tujuan pendidikan yang dapat berpengaruh positif pada lingkungan sekitar.

 

 

 

Daftar Pustaka

 

1. ‘Abdul Fattah Abu Ghuddah.2009.40 Metode Pendidikan dan Pengajaran               Rasulullah.Bandung:Irsyad Baitus Salam

2. Muhammad Fathi.2007.Metode Nabi dalam Mendidik dan Mengajar.Jakarta   Timur:Pustaka Al-Kautsar

3. Muh. Joko Susilo. (Metode Pendidikan Rasulullah SAW)

4. Muh. Joko Susilo. (Menelusuri Pemikiran Tokoh Pendidikan Islam Indonesia)

5. M. Ustman Najati.2002.Belajar EQ dan SQ dari Sunnah Nabi.Jakarta Selatan:Hikmah

6. Muhammad Jameel Zeeno.Resep Menjadi Pendidik Sukses.

7. Muhammad Wahyuni Nafis.2006.9 Jalan untuk Cerdas Emosi dan Cerdas Spiritual.Jakarta:Hikmah

8. Yunahar Ilyas.Rasulullah SAW Sebagai Teladan Kehidupan.

9. http://www.indoforum.org/showthread.php?t=42744

10. http://meyori30.wordpress.com/2008/07/26/akhlak-nabi-muhammad-saw/

11. file:///E:/metode%20pendidikan%20ISlam_files/metode%20pendidikan%20ISlam.htm

12. file:///L:/Metode-pendidikan-islam%20_%20Pendidik%20Muslim_files/HADIS-HADIS%20TENTANG%20METODE%20PENDIDIKAN%20%C2%AB%20Abu%20Aqil%20di%20Langsa.htm