Tagged: gaya belajar

PROBLEMATIKA SARANA DAN PRASARANA PENDIDIKAN

BAB I

PENDAHULUAN

 A. Latar Belakang.

Saat ini Indonesia sebagai salah satu negeri kaum muslimin terbesar telah dilanda berbagai keterpurukan, yang diantara penyebab keterpurukan tersebut terjadi karena penyelenggaraan sistem pendidikan nasionalnya. Dalam UU No.20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) Pasal 3 disebutkan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

1 Berangkat dari uraian di atas maka dapat difahami bahwa secara formal sistem pendidikan indonesia diarahkan pada tercapainya cita-cita pendidikan yang ideal dalam rangka mewujudkan peradaban bangsa Indonesia yang bermartabat.

Namun demikian, sesungguhnya sistem pendidikan indonesia saat ini tengah berjalan di atas rel kehidupan ‘sekulerisme’ yaitu suatu pandangan hidup yang memisahkan peranan agama dalam pengaturan urusan-urusan kehidupan secara menyeluruh, termasuk dalam penyelenggaran sistem pendidikan. Meskipun, pemerintah dalam hal ini berupaya mengaburkan realitas (sekulerisme pendidikan) yang ada sebagaimana terungkap dalam UU No.20/2003 tentang Sisdiknas pasal 4 ayat 1 yang menyebutkan, “Pendidikan nasional bertujuan membentuk manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak dan berbudi mulia, sehat, berilmu, cakap, serta menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggungjawab terhadap kesejahteraan masyarakat dan tanah air.”

Perlu difahami bahwa sekularisme bukanlah pandangan hidup yang tidak mengakui adanya Tuhan. Melainkan, meyakini adanya Tuhan sebatas sebagai pencipta saja, dan peranan-Nya dalam pengaturan kehidupan manusia tidak boleh dominan. Sehingga manusia sendirilah yang dianggap lebih berhak untuk mendominasi berbagai pengaturan kehidupannya sekaligus memarjinalkan peranan Tuhan. Penyelenggaraan sistem pendidikan nasional berjalan dengan penuh dinamika, Sedangkan berkembangnya dinamika sosial sebagai bentuk aksi-reaksi masyarakat terhadap keberlangsungan berbagai bidang kehidupan (politik, ekonomi, sosial-budaya, bahkan ideologi) ditengah-tengah mereka juga turut mempengaruhi dinamika pendidikan, karena berbagai bidang kehidupan tersebut realitasnya merupakan subsistem yang saling mempengaruhi satu sama lain dalam suatu sistem yang lebih besar yaitu sistem pemerintahan. Pendidikan merupakan salah satu subsistem yang sentral, sehingga senantiasa perlu mendapatkan perhatian dan perbaikan dalam menjaga kontinuitas proses kehidupan dalam berbagai aspek di tengah-tengah masyarakat (negara) tersebut (input-proses-output). Demikian, dalam upaya untuk memperbaiki sistem pendidikan nasional ternyata memerlukan adanya perbaikan pula dalam aspek sistemik (regulasi) serta meningkatnya kontrol sosial dari masyarakat.

B. Rumusan Masalah.

Berdasarkan latar belakang di atas maka penulis dapat merumuskan dan membatasi masalah sebagai berikut:

1. Apakah problem-problem pendidikan di Indonesia ?

2. Bagaimanakah upaya-upaya mengatasi problem pendidikan di Indonesia ?

C. Tujuan Pembahasan. Pada akhirnya makalah ini akan di presentasikan dan didiskusikan.

1. Untuk mengetahui apa saja problem pendidikan di Indonesia. 2. Untuk mengetahui sejauh mana problem itu dapat di atasi.

BAB II

PEMBAHASAN

A.Pemetaan Masalah Pendidikan.

Dalam memetakan masalah pendidikan maka perlu diperhatikan realitas pendidikan itu sendiri yaitu pendidikan sebagai sebuah sub-sistem yang sekaligus juga merupakan suatu sistem yang kompleks. Gambaran pendidikan sebagai sebuah sub-sistem adalah kenyataan bahwa pendidikan merupakan salah satu aspek kehidupan yang berjalan dengan dipengaruhi oleh berbagai aspek eksternal yang saling terkait satu sama lain. Aspek politik, ekonomi, sosial-budaya, pertahanan-keamanan, bahkan ideologi sangat erat pengaruhnya terhadap keberlangsungan penyelenggaraan pendidikan, begitupun sebaliknya. Sedangkan pendidikan sebagai suatu sistem yang kompleks menunjukan bahwa pendidikan di dalamnya terdiri dari berbagai perangkat yang saling mempengaruhi secara internal, sehingga dalam rangkaian input-proses-output pendidikan.Sedangkan pengajaran merupakan usaha mengembangkan kapasitas intelektual dan berbagai keterampilan fisik.3 Berbagai perangkat yang mempengaruhinya tersebut perlu mendapatkan jaminan kualitas yang layak oleh berbagai stakeholder yang terkait. Problematika pendidikan sebagai proses sebuah sistem yang komplek. Sebagai salah satu sub-sistem di dalam sistem negara/ pemerintahan, maka keterkaitan pendidikan dengan sub-sistem lainnya diantaranya ditunjukan sebagai berikut: Pertama, berlangsungnya sistem ekonomi kapitalis di tengah-tengah kehidupan telah membentuk paradigma pemerintah terhadap penyelenggaraan pendidikan sebagai bentuk pelayanan negara kepada rakyatnya yang harus disertai dengan adanya sejumlah pengorbanan ekonomis (biaya) oleh rakyat kepada negara. Pendidikan dijadikan sebagai jasa komoditas, yang dapat diakses oleh masyarakat (para pemilik modal) yang memiliki dana dalam jumlah besar saja. Hal ini dapat dilihat dalam UU Sisdiknas No.20/2003 Pasal 53 tentang Badan Hukum Pendidikan bahwa (1) Penyelenggara dan/atau satuan pendidikan formal yang didirikan oleh Pemerintah atau masyarakat berbentuk badan hukum pendidikan. (2) Badan hukum pendidikan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) berfungsi memberikan pelayanan pendidikan kepada peserta didik. (3) Badan hukum pendidikan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) berprinsip nirlaba dan dapat mengelola dana secara mandiri untuk memajukan satuan pendidikan. Sedangkan dalam pasal 54 disebutkan pula (1) Peran serta masyarakat dalam pendidikan meliputi peran serta perseorangan, kelompok, keluarga, organisasi profesi, pengusaha, dan organisasi kemasyarakatan dalam penyelenggaraan dan pengendalian mutu pelayanan pendidikan. (2) Masyarakat dapat berperan serta sebagai sumber, pelaksana, dan pengguna hasil pendidikan. Berdasarkan pasal-pasal di atas, terlihat bahwa tanggung jawab penyelenggaraan pendidikan nasional saat ini akan dialihkan dari negara kepada masyarakat dengan mekanisme BHP (lihat RUU BHP dan PP tentang SNP No.19/2005) yaitu adanya mekanisme Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) pada tingkat SD-SMA dan Otonomi Pendidikan pada tingkat Perguruan Tinggi. Seperti halnya perusahaan, sekolah dibebaskan mencari modal untuk diinvestasikan dalam operasional pendidikan. Koordinator LSM Education Network for Justice (ENJ), Yanti Mukhtar (Republika, 10/5/2005) menilai bahwa dengan privatisasi pendidikan berarti Pemerintah telah melegitimasi komersialisasi pendidikan dengan menyerahkan tanggung jawab penyelenggaraan pendidikan ke pasar. Dengan begitu, nantinya sekolah memiliki otonomi untuk menentukan sendiri biaya penyelenggaraan pendidikan. Sekolah tentu saja akan mematok biaya setinggi-tingginya untuk meningkatkan dan mempertahankan mutu. Akibatnya, akses rakyat yang kurang mampu untuk menikmati pendidikan berkualitas akan terbatasi dan masyarakat semakin terkotak-kotak berdasarkan status sosial, antara yang kaya dan miskin. 1. Pemerataan Pendidikan. a. Gerakan wajib belajar 9 tahun merupakan gerakan pendidikan nasional yang dicanangkan oleh pemerintahan Suharto pada tanggal 2 Mei 1994 dengan target tuntas pada tahun 2005, namun kemudian karena terjadi krisis pada tahun 1997-1999 maka program ini diperpanjang hingga 2008/2009. Sasaran program ini berdasarkan Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) dalam PP No.7/2005 adalah dengan target Angka Partisipasi Kasar (APK) 94% (APK= perbandingan antara jumlah siswa pada jenjang pendidikan tertentu dengan jumlah penduduk kelompok usia tertentu) yaitu meningkatnya siswa SLTP dari 3,67 juta orang pada tahun 2004/2005 menjadi 4,04 juta orang pada tahun 2009. b..Berkaitan dengan pencapaian APK dan APM, hingga tahun 2003 secara nasional ketercapaiannya ternyata masih rendah, (Pusat Data dan Informasi Depdiknas,2003). c. Kondisi ini sebenarnya belum menunjukan bahwa pemerintah telah berhasil dalam menyelesaikan problematika aksesibilitas pendidikan secara tuntas. Berdasarkan hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2004, menunjukkan bahwa angka partisipasi sekolah anak usia 7-12 tahun adalah 96,77 persen, usia 13-15 tahun mencapai 83,49 persen, dan anak umur 16-18 tahun 53,48 persen. Hasil riset UNDP 2004, yang kemudian dipublikasikan dalam Laporan Indeks Pembangunan Manusia Tahun 2006, juga memperlihatkan gejala serupa. Rasio partisipasi pendidikan rata-rata hanya mencapai 68,4 persen. Bahkan, masih ada sekitar 9,6 persen penduduk berusia 15 tahun ke atas yang buta huruf.) 2.Kerusakan Sarana dan Prasarana Sarana dan prasarana pendidikan merupakan salah satu faktor utama yang mempengaruhi keberhasilan penyelenggaraan pendidikan. Dengan adanya kerusakan sarana dan prasarana ruang kelas dalam jumlah yang banyak, maka bagaimana mungkin proses pendidikan dapat berlangsung secara efektif ? 3.Kekurangan jumlah guru Guru sebagai pilar penunjang terselenggarannya suatu sistem pendidikan, merupakan salah satu komponen strategis yang juga perlu mendapatkan perhatian oleh negara. Misalnya dalam hal penempatan guru, bahwa hingga sekarang ini jumlah guru dirasakan oleh masyarakat maupun pemerintah sendiri masih sangat kurang, kurangnya jumlah guru ini jelas merupakan persoalan serius karena guru adalah ujung tombak pendidikan. Kekurangan tersebut membuat beban guru semakin bertumpuk sehingga sangat berpotensi mengakibatkan menurunnya kualitas pendidikan. Sementara itu, siapa pun mungkin akan setuju mengatakan bahwa pendidikan adalah salah satu fondasi dalam membangun bangsa. Kualitas sumber daya manusia bergantung pada proses pendidikan yang dilaluinya. Jika proses itu berjalan buruk, jangan harap kualitas yang dihasilkan akan baik. Dengan kata lain, teruslah bermimpi menjadi bangsa besar jika pendidikan tidak menjadi prioritas dalam proses pembangunan (Pikiran Rakyat, 06/10/2002) 4.Kinerja dan kesejahteraan guru belum Optimal Kesejahteraan guru merupakan aspek penting yang harus diperhatikan oleh pemerintah dalam menunjang terciptanya kinerja yang semakin membaik di kalangan pendidik. Berdasarkan UU No.14/2005 tentang Guru dan Dosen, pasal 14 sampai dengan 16 menyebutkan tentang Hak dan Kewajiban diantaranya, bahwa hak guru dalam memperoleh penghasilan adalah di atas kebutuhan hidup minimum dan jaminan kesejahteraan sosial, mendapatkan promosi dan penghargaan, berbagai fasilitas untuk meningkatkan kompetensi, berbagai tunjangan seperti tunjangan profesi, fungsional, tunjangan khusus bagi guru di daerah khusus, serta berbagai macam tambahan kesejahteraan. Undang-undang tersebut memang sedikit membawa angin segar bagi kesejahteraan masyarakat pendidik, namun dalam realisasinya ternyata tidak semanis redaksinya,rendahnya kesejahteraan guru mempunyai peran dalam membuat rendahnya kualitas pendidikan Indonesia. 5.Proses Pembelajaran yang Konvensional Dalam hal pelaksanaan proses pembelajaran, selama ini sekolah-sekolah menyelenggarakan pendidikan dengan segala keterbatasan yang ada. Hal ini dipengaruhi oleh ketersediaan sarana-prasarana, ketersediaan dana, serta kemampuan guru untuk mengembangkan model pembelajaran yang efektif. Menurut Nurhadi,dan dkk (2004; 1) salah satu aspek penting yang harus dilakukan dalam kontek pembaharuan pendidikan adalah pembaharuan dalam efektivitas metode pembelajaran disamping pembaharuan kurikulum dan kwalitas pembelajaran. 4 Dalam PP No 19/2005 tentang standar nasional pendidikan disebutkan dalam pasal 19 sampai dengan 22 tentang standar proses pendidikan, bahwa proses pembelajaran pada satuan pendidikan diselenggarakan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik. Adanya keteladanan pendidik, adanya perencanaan, pelaksanaan, penilaian, dan pengawasan yang efektif dan efisien dalam proses pembelajaran. Berdasarkan standar yang ditetapkan di atas, maka proses pembelajaran yang dilakukan antara peserta didik dengan pendidik seharusnya harus meninggalkan cara-cara dan model yang konvensional sehingga dapat mencapai tujuan pembelajaran secara efektif dan efisien. Kenyataan saat ini, banyak diantara pendidik yang masih melaksanakan proses pembelajaran secara konvensional bahkan diantaranya belum menguasai teknologi informasi seperti komputer dan internet. 6.Jumlah dan Kwalitas buku yang belum memadai. Ketersediaan buku yang berkualitas merupakan salah satu prasarana pendidikan yang sangat penting dibutuhkan dalam menunjang keberhasilan proses pendidikan. Sebagaimana dalam PP No 19/2005 tentang SNP dalam pasal 42 tentang Standar Sarana dan Prasarana disebutkan bahwa setiap satuan pendidikan wajib memiliki sarana yang meliputi perabot, peralatan pendidikan, media pendidikan, buku dan sumber belajar lainnya, bahan habis pakai, serta perlengkapan lain yang diperlukan untuk menunjang proses pembelajaran yang teratur dan berkelanjutan (ayat 1). B. Pengelolaan. 1.Penyeleenggaraan Otonomi Pendidikan Pemerintah telah menetapkan kebijakan otonomi pendidikan, sebagaimana mengacu pada UU No.20/2003 tentang Sisdiknas dalam pasal 53 tentang Badan Hukum Pendidikan yang menyebutkan: (1) Penyelenggara dan/atau satuan pendidikan formal yang didirikan oleh Pemerintah atau masyarakat berbentuk badan hukum pendidikan. (2) Badan hukum pendidikan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) berfungsi memberikan pelayanan pendidikan kepada peserta didik. (3) Badan hukum pendidikan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) berprinsip nirlaba dan dapat mengelola dana secara mandiri untuk memajukan satuan pendidikan. (4) Ketentuan tentang badan hukum pendidikan diatur dengan Undang-undang tersendiri. Berdasarkan pasal di atas maka penyelenggaraan pendidikan tidak lagi menjadi tanggung jawab negara melainkan diserahkan kepada lembaga pendidikan itu sendiri. 2.Keterbatasan Anggaran. Ketersediaan anggaran yang memadai dalam penyelenggaran pendidikan sangat mempengaruhi keberlangsungan penyelenggaraan tersebut. Ketentuan anggaran pendidikan tertuang dalam UU No.20/2003 tentang Sisdiknas dalam pasal 49 tentang Pengalokasian Dana Pendidikan yang menyatakan bahwa Dana pendidikan selain gaji pendidik dan biaya pendidikan kedinasan dialokasikan minimal 20% dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) pada sektor pendidikan dan minimal 20% dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) (ayat 1). 3.Mutu SDM Pengelola Pendidikan Sumber daya pengelola pendidikan bukan hanya seorang guru atau kepala sekolah, melainkan semua sumber daya yang secara langsung terlibat dalam pengelolaan suatu satuan pendidikan. Rendahnya mutu dari SDM pengelola pendidikan secara praktis tentu dapat menghambat keberlangsungan proses pendidikan yang berkualitas, sehingga adaptasi dan sinkronisasi terhadap berbagai program peningkatan kualitas pendidikan juga akan berjalan lamban karena tidak tersedianya tenaga pendidik yang kurang professional.5 Dalam kaitannya dengan regulasi pengelolaan pendidikan bahwa pengelolaan satuan pendidikan dasar dan menengah menerapkan pola Manajemen Berbasis Sekolah, sedangkan untuk satuan pendidikan tinggi menerapkan pola Otonomi Perguruan Tinggi. Standar pengelolaan oleh satuan pendidikan diantaranya satuan pendidikan harus memiliki pedoman yang mengatur tentang : kurikulum tingkat satuan pendidikan dan silabus; kalender pendidikan/akademik; struktur organisasi; pembagian tugas diantara pendidik; pembagian tugas diantara tenaga kependidikan; peraturan akademik; tata tertib satuan pendidikan; kode etik hubungan; biaya operasional satuan pendidikan. Bagi individu kemampuan untuk belajar secara terus menerus akan memberikan kontribusi terhadap pengembangan kwalitas hidupnya.Sedangkan bagi masyarakat, belajar mempunyai peran yang penting dalam mentransmisikan budaya dan pengetahuan dari generasi kegenerasi.6 Kemudian standar pengelolaan oleh pemerintah daerah (pasal 59) meliputi penyusunan rencana kerja pendidikan dengan memprioritaskan: wajib belajar; peningkatan angka partisipasi pendidikan untuk jenjang pendidikan menengah; penuntasan pemberantasan buta aksara; penjaminan mutu pada satuan pendidikan; peningkatan status guru sebagai profesi; akreditasi pendidikan; peningkatan relevansi pendidikan terhadap kebutuhan masyarakat; dan pemenuhan standar pelayanan minimal (SPM) bidang pendidikan. C. Relevansi Pendidikan. 1.Belum menghasilkan Life Skil Dalam kaitannya dengan life skill yang dihasilkan oleh peserta didik setelah menempuh suatu proses pendidikan, maka berdasarkan PP No.19/2005 sebagaimana dalam pasal 13 bahwa:1) kurikulum untuk SMP/MTs/ SMPLB atau bentuk lain yang sederajat, SMA/MA/SMALB atau bentuk lain yang sederajat, SMK/MAK atau bentuk lain yang sederajat dapat memasukan pendidikan kecakapan hidup. 2) pendidikan kecakapan hidup yang dimaksud meliputi kecakapan sosial, kecakapan akademik, dan kecakapan vokasional. Selain itu ditetapkan pula standar kompetensi lulusan, dalam pasal 26 ditetapkan sebagai berikut: 1). Standar kompetensi lulusan pada jenjang pendidikan dasar bertujuan untuk meletakan dasar kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan untuk hidup mandiri, dan mengikuti pendidikan lebih lanjut. 2). Standar kompetensi lulusan pada jenjang pendidikan menengah umum bertujuan untuk meningkatkan kecerdasan, pengetahuan, akhlak mulia, serta keterampilan hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut. 3). Standar kompetensi lulusan pada satuan pendidikan menengah kejuruan bertujuan untuk meningkatkan kecerdasan, pengetahuan kepribadianm akhlak mulia, serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut sesuai dengan kejuruannya. 4). Standar kompetensi lulusan pada jenjang pendidikan tinggi bertujuan untuk mempersiapkan peserta didik menjadi anggota masyarakat yang berakhlak mulia, memiliki pengetahuan, keterampilan, kemandirian, dan sikap untuk menemukan, mengembangkan, serta menerapkan ilmu, teknologi dan seni yang bermanfaat bagi kemanusiaan. 2.Belum berbasis Masyarakat Struktur kurikulum yang ditetapkan berdasarkan UU No.20/2003 dalam Pasal 36 tentang Kurikulum menyebutkan: (1) Pengembangan kurikulum dilakukan dengan mengacu pada standar nasional pendidikan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional. (2) Kurikulum pada semua jenjang dan jenis pendidikan dikembangkan dengan prinsip diversifikasi sesuai dengan satuan pendidikan, potensi daerah, dan peserta didik. (3) Kurikulum disusun sesuai dengan jenjang pendidikan dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan memperhatikan: a. peningkatan iman dan takwa; b. peningkatan akhlak mulia; c. peningkatan potensi, kecerdasan, dan minat peserta didik; d. keragaman potensi daerah dan lingkungan; e. tuntutan pembangunan daerah dan nasional; f. tuntutan dunia kerja; g. perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni; h. agama; i. dinamika perkembangan global; dan j. persatuan nasional dan nilai-nilai kebangsaan. (4) Ketentuan mengenai pengembangan kurikulum sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), ayat (2), dan ayat (3) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. 3.Belum Optimal Kemitraan dengan dunia Usaha dan Industri Berkaitan dengan peranan masyarakat dalam pendidikan dalam UU No.20/2005 Sisdiknas pasal 54 tentang Peran Serta Masyarakat Dalam Pendidikan menyebutkan : (1) Peran serta masyarakat dalam pendidikan meliputi peran serta perseorangan, kelompok, keluarga, organisasi profesi, pengusaha, dan organisasi kemasyarakatan dalam penyelenggaraan dan pengendalian mutu pelayanan pendidikan. (2) Masyarakat dapat berperan serta sebagai sumber, pelaksana, dan pengguna hasil pendidikan. (3) Ketentua mengenai peran serta masyarakat sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah.

BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan.

Berdasarkan penjelasan dan uraian di atas dapatlah di tarik sebuah kesimpulan bahwa sistim pendidikan di Indonesia mengalami masalah atau problem antara lain:

1) Keterbatasan aksesibilitas dan daya tampung,

2) Kerusakan sarana dan prasarana,

3) Kekurangan tenaga guru,

4) Kinerja dan kesejahteraan guru yang belum optimal,

5) Proses pembelajaran yang konvensional,

6) Jumlah dan kualitas buku yang belum memadai,

7) Otonomi pendidikan.

8)Keterbatasan anggaran

9) Mutu SDM Pengelola pendidikan

10) Life skill yang dihasilkan tidak sesuai kebutuhan

11) Pendidikan yang belum berbasis masyarakat dan lingkungan

12) Kemitraan dengan DU/DI

B. Pemechan Masalah Dan Saran.

Untuk menyelasaikan masalah-masalah cabang di atas, diantaranya juga tetap tidak bisa dilepaskan dari penyelesaian masalah mendasar. Sehingga dalam hal ini diantaranya secara garis besar ada dua solusi yaitu: Pertama, solusi sistemik, yakni solusi dengan mengubah sistem-sistem sosial yang berkaitan dengan sistem pendidikan, antara lain: sistem ekonomi, sistem politik, sistem sosial, ideologi, dan lainnya.

Dengan demikian, penerapan ekonomi syari’ah sebagai pengganti ekonomi kapitalis ataupun sosialis akan menyeleraskan paradigma pemerintah dan masyarakat tentang penyelenggaraan pendidikan sebagai salah satu bentuk kewajiban negara kepada rakyatnya dengan tanpa adanya pembebanan biaya yang memberatkan ataupun diskriminasi terhadap masyarakat yang tidak memiliki sumber dana (capital). Penerapan sistem politik islam sebagai pengganti sistem politik sekuler akan memberikan paradigma dan frame politik yang dilakukan oleh penguasa dan masyarakat sebagai bentuk perjuangan untuk menjamin terlaksananya pengaturan berbagai kepentingan ummat oleh penguasa termasuk diantaranya dalam bidang pendidikan. Sehingga bukan malah sebaliknya menyengsarakan ummat dengan memaksa mereka agar melayani penguasa. Penerapan sistem sosial yang islami sebagai pengganti sistem sosial yang hedonis dan permisif akan mampu mengkondisikan masyarakat agar memiliki kesadaran yang tinggi terhadap kewajiban terikat pada hukum-hukum syari’at sehingga peran mereka dalam mensinergiskan pendidikan di sekolah adalah dengan memberikan tauladan tentang aplikasi nilai-nilai pendidikan yang diperoleh siswa di sekolah. Secara keseluruhan perbaikan sistem ini akan dapat terlaksana jika pemerintah menyadari fungsi dan tanggung jawabnya sebagai pemimpin. Rasulullah Saw bersabdaSeorang Imam ialah (laksana) penggembala dan Ia akan dimintai pertanggungjawaban atas gembalaannya (rakyatnya) (HR. Muslim).

Kedua, solusi teknis, yakni solusi untuk menyelesaikan berbagai permasalahan internal dalam penyelenggaraan sistem pendidikan. Diantaranya: Secara tegas, pemerintah harus mempunyai komitmen untuk mengalokasikan dana pendidikan nasional dalam jumlah yang memadai yang diperoleh dari hasil-hasil eksploitasi sumber daya alam yang melimpah yang merupakan milik ummat.

Dengan adanya ketersediaan dana tersebut, maka pemerintahpun dapat menyelesaikan permasalahan aksesibilitas pendidikan dengan memberikan pendidikan gratis kepada seluruh masyarakat usia sekolah dan siapapun yang belum bersekolah baik untuk tingkat pendidikan dasar (SD-SMP) maupun menengah (SLTA), bahkan harus pula berlanjut pada jenjang perguruan tinggi. merekrut jumlah tenaga pendidik sesuai kebutuhan di lapangan disertai dengan adanya jaminan kesejahteraan dan penghargaan untuk mereka. Pembangunan sarana dan prasarana yang layak dan berkualitas untuk menunjang proses belajar-mengajar.

DAFTAR PUSTAKA

1. Muhaimin.Pengembangan Kurikulum Pendidikan Agama Islam,PT Rajagrafindo Persada Hal VII Th 2009.

2..Mulyasa, Menjadi guru Profesional, Bandung, PT Remaja Rosdakarya, Cet 6, Hal 197, Th 2007.

3. Wiji Suwarno,Dasar-dasar Ilmu Pendidikan,Jogjakarta, Ar-Ruzz Media, Hal 23, Th 2006.

4. Ahmad Munjin Nasih dan Lilik Nur Kholidiah,Metode dan Teknik Pembelajaran, Bandung, Cet, 1,Hal 115,Th 2009.

5. Abuddin Nata, Manajemen Pendidikan, Jakarta, Media Group, Cet 4, Hal.2, Th,2010

6. Baharuddin dan Esa Nur Wahyuni, Teori-teori Belajardan Pembelajaran, Jakarta, Ar-Ruzz Media, Hal 47 Th 2010.

 

Sensori Motori Stage (Jean Peaget)

BAB I

PENDAHULUAN

A.        Latar Belakang Masalah

Dalam proses pertumbuhan dan perkembangan, seorang anak melewati berbagai tahap perkembangan yang harus dilaluinya. Tahapan tersebut dapat dibagi ke dalam berbagai kelompok tergantung kepada para ahli yang menyatakan teoeri-teori tersebut. Jean Piaget, merancang model yang mendeskripsikan bagaimana manusia memahami dunianya dengan mengumpulkan dan mengorganisasikan informasi.

Menurut Piaget seperti yang dikutip Woolfolk (2009) perkembangan kognitif dipengaruhi oleh  maturasi (kematangan), aktivitas dan transmisi sosial. Maturasi atau kematangan berkaitan dengan perubahan biologis yang terprogram secara genetik.Aktivitas berkaitan dengan kemampuan untuk menangani lingkungan dan belajar darinya.Transmisi sosial berkaitan dengan interaksi dengan orang-orang di sekitar dan belajar darinya.[1]

Selama penelitian, Piaget semakin yakin akan adanya perbedaan antara proses pemikiran anak dengan orang dewasa. Ia yakin bahwa anak bukan merupakan suatu tiruan (replika) dari orang dewasa. Anak bukan hanya berpikir kurang efisien dari orang dewasa, melainkan berpikir secara berbeda dengan orang dewasa.

Itulah sebabnya mengapa Piaget yakin bahwa ada tahap perkembangan kognitif yang berbeda dari anak sampai menjadi dewasa.Piaget juga mencoba menemukan sebab-musabab perkembangan kognitif.

B.         Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah tersebut , maka penulis dapat merumuskan masalah sebagai berikut:

1.      Biografi Jean Piaget

2.      Bagaimanakah Konsep Teori Perkembangan Kognitif menurut  Jean Piaget?

3.      Bagaimanakah tahap dalam perkembangan sensorimotor?

4.      Bagaimanakah Aplikasi perkembangan sensorimotor dalam  pembelajaran PAI?


 

BAB II

PEMBAHASAN

 

  1. Biografi Jean Piaget

Jean Piaget lahir di Neuchatel, Swiss , yang berbahasa Perancis pada 9 Agustus 1896 dan meninggal 16 September 1980 pada umur 84 tahun. Dia adalah seorang filsuf, ilmuwan, dan psikolog perkembangan Swiss, yang terkenal karena hasil penelitiannya tentang anak-anak dan teori perkembangan kognitifnya.

  1. Konsep Dalam Teori Perkembangan JeanPiaget

Ada beberapa konsep yang perlu dimengerti agar lebih mudah memahami teori perkembangan kognitif atau teori perkembangan Piaget, yaitu;

1)     Intelegensi.

Piaget mengartikan intelegensi secara lebih luas, juga tidak mendefinisikan secara ketat.Ia memberikan definisi umum yang lebih mengungkap orientasi biologis. Menurutnya, intelegensi adalah suatu bentuk ekuilibrium kearah mana semua struktur yang menghasilkan persepsi, kebiasaan, dan mekanisme sensiomotor diarahkan.

2)     Organisasi.

Organisasi adalah suatu tendensi yang umum untuk semua bentuk kehidupan guna mengintegrasikan struktur, baik yang psikis ataupun fisiologis dalam suatu sistem yang lebih tinggi.

3)      Skema.

Skema adalah suatu struktur mental seseorang dimana ia secara intelektual beradaptasi dengan lingkungan sekitarnya. Skema akan beradaptasi dan berubah selama perkembangan kognitif seseorang.

4)     Asimilasi.

Asimilasi adalah proses kognitif dimana seseorang mengintegrasikan persepsi, konsep atau pengalaman baru kedalam skema atau pola yang sudah ada dalam pikirannya.

5)     Akomodasi.

Akomodasi adalah pembentukan skema baru atau mengubah skema lama sehingga cocok dengan rangsangan yang baru, atau memodifikasi skema yang ada sehingga cocok dengan rangsangan yang ada.

6)     Ekuilibrasi.

Ekuilibrasi adalah keseimbangan antara asimilasi dan akomodasi sedangkan diskuilibrasi adalah keadaan dimana tidak seimbangnya antara proses asimilasi dan akomodasi, ekuilibrasi dapat membuat seseorang menyatukan pengalaman luar dengan struktur dalamnya.[2]

  1. Tahap Perkembangan Kognitif

Istilah “cognitive”  berasal dari kata cognition yang pandangannya knowing, berarti mengetahui. Dalam arti luas, cognition ialah perolehan, penataan, dan penggunaan pengetahuan ( Neisser, 1976). Dalam pandangan selanjutnya istilah kognitif  menjadi popular sebagai salah satu domain atau wilayah ranah psikologis manusia yang meliputi setiap prilaku mental  yang berhubungan dengan pemahaman, pertimbangan, pengolahan informasi, pemecahan masalah, kesengajaan dan keyakinan. Ranah kejiwaan  yang berpusat di otak ini juga berhubungan dengan konasi (kehendak) dan afeksi (perasaan) yang bertalian dengan ranah Rasa ( Chaplin, 1972).[3]

Menurut Piaget, tahap perkembangan intelektual anak secara kronologis terjadi 4 tahap. Urutan tahap-tahap ini tetap bagi setiap orang, akan tetapi usia kronologis memasuki setiap tahap bervariasi pada setiap anak.

Keempat tahap dimaksud adalah sebagai berikut:

1)     Sensori-Motorik (O-2 Tahun)

2)     Pra-Operasional (2-7 Tahun)

3)     Operasional Konkret (7-11 Tahun)

4)     Operasional Formal (11-15 Tahun)

Dari beberapa tahap perkembangan kognitif tersebut maka dalam makalah ini penulis hanya membatasi pada bahasan Sensorimotor saja. Karena tahap perkembangan selanjutnya akan di bahas oleh pemakalah yang lain.

Tahap sensorimotor : umur 0–2 tahun.

(Ciri pokok perkembangan nya, anak mengalami dunianya melalui gerak dan inderanya serta mempelajari permanensi obyek).Tahap ini disebut tahap sensorimotor oleh Piaget.Pada tahap sensorimotor, intelegensi anak lebih didasarkan pada tindakan inderawi anak terhadapt lingkungannya, seperti melihat, meraba, menjamak, mendengar, membau dan lain-lain.

Pada tahap sensorimotor, gagasan anak mengenai suatu benda berkembang dari periode “belum mempunyai gagasan” menjadi “ sudah mempunyai gagasan”. Gagasan mengenai benda sangat berkaitan dengan konsep anak tentang ruang dan waktu yang juga belum terakomodasi dengan baik.Struktur ruang dan waktu belum jelas dan masih terpotong-potong, belum dapat disistematisir dan diurutkan dengan logis.

Menurut Piaget, mekanisme perkembangan sensorimotor ini menggunakan proses asimilasi dan akomodasi. Tahap-tahap perkembangan kognitif anak dikembangkan dengan perlahan-lahan melalui proses asimilasi dan akomodasi terhadap skema-skema anak karena adanya masukan, rangsangan, atau kontak dengan pengalaman dan situasi yang baru.

Piaget membagi tahap sensorimotor dalam enam periode, yaitu:

Periode 1 : Refleks (umur 0 – 1 bulan)

Periode paling awal tahap sensorimotor adalah periode refleks.Ini berkembang sejak bayi lahir sampai sekitar berumur 1 bulan.Pada periode ini anak sudah ada rasa, dan sentuhan. Contohnya jika bayi pipis dan BAB

Periode 2 : Kebiasaan (umur 1 – 4 bulan)

Pada periode perkembangan ini, bayi mulai membentuk kebiasan-kebiasaan dibuat dengan mencoba-coba dan mengulang-ngulang suatu tindakan.Refleks-refleks yang dibuat diasimilasikan dengan skema yang telah dimiliki dan menjadi semacam kebiasaan, terlebih dari refleks tersebut mengasilkan sesuatu. Pada periode ini, seorang bayi mulai membedakan benda-benda di dekatnya, Ia mulai mengatakan diferensiasi akan macam-macam benda yang dipegangnya. Pada periode ini pula, koordinasi tindakan bayi mulai berkembang dengan penggunaan mata dan telinga.Bayi mulai mengikuti benda yang bergerak dengan matanya.Ia juga mulai menggerakkan kepala kesumber suara yang ia dengar. Suara dan penglihatan bekerja bersama.

Periode 3 : Reproduksi kejadian yang menarik (umur 4 – 8 bulan)

Pada periode ini, seorang bayi mulai menjamah dan memanipulasi objek apapun yang ada di sekitarnya (Piaget dan Inhelder 1969).Tingkah laku bayi semakin berorientasi pada objek dan kejadian di luar tubuhnya sendiri.Ia menunjukkan koordinasi antara penglihatan dan rasa jamah. Pada periode ini, seorang bayi juga menciptakan kembali kejadian-kejadian yang menarik baginya.Ia mencoba menghadirkan dan mengulang kembali peristiwa yang menyenangkan diri (reaksi sirkuler sekunder). Piaget mengamati bahwa bila seorang anak dihadapkan pada sebuah benda yang dikenal, seringkali hanya menunjukkan reaksi singkat dan tidak mau memperhatikan agak lama. Oleh Piaget, ini diartikan sebagai suatu “pengertiaan” akan arti benda itu seakan ia mengetahuinya.

Contoh Menggunakan jari-jarinya untuk memasukkan makanan kedalam mulutnya, mengenali namanya dan mengoceh saat bermain

Periode 4 : Koordinasi Skemata (umur 8 – 12 bulan)

Pada periode ini, seorang bayi mulai membedakan antara sarana dan hasil tindakannya.Ia sudah mulai menggunakan sarana untuk mencapai suatu hasil. Sarana-sarana yang digunakan untuk mencapai tujuan atau hasil diperoleh dari koordinasi skema-skema yang telah ia ketahui.

Contohnya ia dapat menuangkan air dari sebuah wadah yang ada ditangannya, menirukan suara binatang yang kita buat dan membalas lambaian tangan

Periode 5 : Eksperimen (umur 12 – 18 bulan)

Pada perode ini mulainya anak memperkembangkan cara-cara baru untuk mencapai tujuan dengan cara mencoba-coba (eksperimen) bila dihadapkan pada suatu persoalan yang tidak dipecahkan dengan skema yang ada, anak akan mulai mecoba-coba dengan Trial and Error untuk menemukan cara yang baru guna memecahkan persoalan tersebut atau dengan kata lain ia mencoba mengembangkan skema yang baru. Pada periode ini, anak lebih mengamati benda-benda disekitarnya dan mengamati bagaimana benda-benda di sekitarnya bertingkah laku Menurut Piaget, tingkah anak ini menjadi intelegensi sewaktu ia menemukan kemampuan untuk memecahkan persoalan yang baru. Pada periode ini pula, konsep anak akan benda mulai maju dan lengkap. Tentang keruangan anak mulai mempertimbangkan organisasi perpindahan benda-benda secara menyeluruh bila benda-benda itu dapat dilihat secara serentak.

Contoh: Menyortir dan menyusun Balok berdasarkan ukuran dan warna.

Periode Refresentasi (umur 18 – 24 bulan)

Periode ini adalah periode terakhir pada tahap intelegensi sensorimotor.Seorang anak sudah mulai dapat menemukan cara-cara baru yang tidak hanya berdasarkan rabaan fisis dan eksternal, tetap juga dengan koordinasi internal dalam gambarannya. Pada periode ini, anak berpindah dari periode intelegensi sensori motor ke intelegensi refresentatif. Secara mental, seorang anak mulai dapat menggambarkan suatu benda dan kejadian, dan dapat menyelesaikan suatu persoalan dengan gambaran tersebut.Konsep benda pada tahap ini sudah maju, refresentasi ini membiarkan anak untuk mencari dan menemukan objek-objek yang tersembunyi. Sedangkan konsep keruangan, anak mulai sadar akan gerakan suatu benda sehingga dapat mencarinya secara masuk akal bila benda itu tidak kelihatan lagi.

Contoh: Bermain pasir, Petak umpet

Karakteristik anak yang berada pada tahap ini adalah sebagai berikut:

a)     Berfikir melalui perbuatan (gerak)

b)     Perkembangan fisik yang dapat diamati adalah gerak-gerak refleks sampai ia dapat berjalan dan bicara.

c)      Belajar mengkoordinasi akal dan geraknya.

d)     Cenderung intuitif egosentris, tidak rasional dan tidak logis.[4]

Coba bayangkan, sejak umur 0-2 tahun saja anak sudah ’sepintar’ itu.Apalagijika Ia diberikan stimulasi yang sangat baik dari orang tuanya (dan juga orang-orang disekitarnya) hingga ia berusia lebih besar lagi.[5]

  1. Aplikasi perkembangan sensorimotor pada pembelajaran PAI

Pada tahap sensorimotor Pendidikan Agama  sudah dapat diajarkan pada anak, ia lebih banyak bersama dan berinteraksi dilingkungan keluarga terutama orang tuanya, oleh karena itu setiap orang tua hendaknya menyadari bahwa pendidikan agama  bukanlah sekedar mengajarkan pengetahuan agama dan melatih keterampilan anak dalam melaksanakan ibadah, karena agama menyangkut manusia seutuhnya.

Agar agama itu tumbuh dalam jiwa anak dan dapat difahami natinya, maka harus ditanamkan semenjak kelahiran bayi , Seperti memperdengarkan adzan dan iqamah saat kelahiran anak. Kemudian anak pada umumnya mulai pandai berbicara  pada umur 2 tahun, meskipun pada dasarnya bayi yang berumur 1 tahun pun sudah dapat diajak berinteraksi dengan bahasa isyarat. Oleh karena itu, dianjurkan ketika anak mulai panadai bercakap, diajarkan kata-kata yang baik dan benar, sebagaimana dalam suatu riwayat al-hakim bahwa Rasulullah SAW bersabda yang artinya “ Bacakanlah pada anak-anakmu kalimat pertama dengan “laailaahaillallaah”. kemudian membiasakan membaca hamdalah, makan dengan tangan kanan dan sebagainya. Karena pada tahap ini anak mengandalkan reflex bawaannya untuk mengeksplorasi dunianya. Dengan membiasakan membaca hamdalah dan sebagainya diharapkan ketika dewasa nanti sang anak akan selalu melakukannya karena sudah menjadi kebiasaan  sejak kecil.[6]

BAB III

KESIMPULAN

 

Ada beberapa konsep yang perlu dimengerti agar lebih mudah memahami teori perkembangan kognitif atau teori perkembangan Piaget, yaitu; Intelegensi, Organisasi, skema,Asimilasi, Akomodasi,  Ekuilibrasi.

Istilah “cognitive”  berasal dari kata cognition yang pandangannya knowing, berarti mengetahui. Dalam arti luas, cognition ialah perolehan, penataan, dan penggunaan pengetahuan ( Neisser, 1976). Dalam pandangan selanjutnya istilah kognitif  menjadi popular sebagai salah satu domain atau wilayah ranah psikologis manusia yang meliputi setiap prilaku mental  yang berhubungan dengan pemahaman, pertimbangan, pengolahan informasi, pemecahan masalah, kesengajaan dan keyakinan. Ranah kejiwaan  yang berpusat di otak ini juga berhubungan dengan konasi (kehendak) dan afeksi (perasaan) yang bertalian dengan ranah Rasa ( Chaplin, 1972).

Menurut Piaget, tahap perkembangan intelektual anak secara kronologis terjadi 4 tahap. Urutan tahap-tahap ini tetap bagi setiap orang, akan tetapi usia kronologis memasuki setiap tahap bervariasi pada setiap anak. Keempat tahap dimaksud adalah sebagai berikut:

1)     Sensori-Motorik (O-2 Tahun)

2)     Pra-Operasional (2-7 Tahun)

3)     Operasional Konkret (7-11 Tahun)

4)     Operasional Formal (11-15 Tahun).

DAFTAR PUSTAKA

  1. Arif Armai, Ilmu dan Metodologi Pendidikan Islam, Jakarta Ciputat Pers. 2002
  2. Hergenhahn BR dan Matthew Olson, Theories of Learning 7th Ed. Jakarta: Kencana. 2008
  3. Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan dengan pendekatan baru, remaja Rosdakarya, Bandung . 2013
  4. Papalia, Diane et.al, Human development (Psikologi perkembangan). Jakarta: Kencana. 2008
  5. http://bkpemula.wordpress.com/2012/11/14/
  6. http://pai-umy.blogspot.com/2011/05/pakar-psikologi-swiss-terkenal-yaitu.html

 


[1]Anita Woolfolk. 2009, Educational Psychology. Edisi Bahasa Indonesia. (Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

[2] Paul Suparno, 2001.Teori Perkembangan Kognitif Jean Piaget. Yogyakarta: Penerbit Kanisius

[3] Muhibbin Syah, 2013 Psikologi Pendidikan dengan pendekatan baru, remaja Rosdakarya, Bandung

[4]Papalia, Diane et.al. 2008. Human development (Psikologi perkembangan). Jakarta: Kencana

[5]Hergenhahn BR dan Matthew Olson. 2008. Theories of Learning 7th Ed. Jakarta: Kencana.

[6] Arif Armai, 2002. Ilmu dan Metodologi Pendidikan Islam, Jakarta Ciputat Pers.

Konsep Pendidikan Ibnu Qayyim Al Jauziyah

KONSEP MENDIDIK ANAK SECARA ISLAMI
Biografi Ibnu Qayyim Al-Jauziyah

Riwayat Hidup Ibnu Qayyim Al-Jauziyah
Orang yang terkenal dengan nama Ibnu Qayyim Al-Jauziyah sebenarnya bernama Muhammad bin Abu Bakar bin Ayyub bin Saad bin Huraiz az-Zar’I ad-Dimasyqi Abu Abdullah Syamsuddin. Ayahnya pendiri kampung al-jauziyah dan kepala madrasah al-jauziyah serta guru di sekolah ash-Shadriyah. Dia dilahirkan di Damaskus tahun 691 H/ 1292 M dan berasal dari sebuah keluarga terhormat yang berilmu dan berharta. Ayahnya seorang guru Yang juga mengajar Ibnu Qayyim dan mempengaruhinya. Ibnu Qayyim adalah salah seorang tokoh reformis Islam.
Para ulama mengakuinya sebagai orang yang kaya dan berilmu. Dia berminat pada bidang hadits dan seluruh ilmu hadits, fiqih, syariat, ilmu kalam, tasawwuf, bahasa Arab, dan nahwu. Ibnu Qayyim merupakan murid Ibnu Taimiyah yang sangat menyayangi dan selalu bersama sang guru, mendukung pendapat-pendapatnya, meskipun kadang-kadang mendebat beberapa pendapatnya. Dialah juga orang yang mengajarkan buku-buku karangan Ibnu Taimiyah dan menyebarkan ilmunya.[1]

A. Pemikiran Ibnu Qayyim Al-Jauziyah Tentang Pendidikan Anak Usia Dini
Pemikiran Ibnu Qayyim Al-Jauziyah tentang pendidikan anak terutama mengenai anak usia dini. Konsep pendidikan anak yang dikemukakan Ibnu Qayyim secara umum tertuang dalam karyanya Tuhfatul Maudud bi ahkamil Maulud. Dalam buku ini Ibnu Qayyim al-Jauziyah mengemukakan konsep pendidikan anak yang muaranya diatur oleh tuntunan al-Quran dan Sunnah. Ibnu Qayyim juga menyoroti pentingnya proses perkembangan anak dari waktu ke waktu dan ia akan memberikan periodisasi pendidikan anak usia prasekolah. Keseluruhan konsep pendidikan anak usia dini perspektif Ibnu Qayyim al-Jauziyah ini dapat dikemukakan sebagai berikut.

Kegiatan pendidikan yang dilaksanakan dalam keluarga, tidak bisa dilepaskan dari pendidikan sebelumnya yakni dalam kandungan atau sebelum lahir (prenatal), sekitar saat kelahiran (perinatal), saat baru kelahiran (neonatal), setelah kelahiran (postnatal), termasuk pendidikan anak usia dini yang saat ini dilakukan oleh peneliti itu sendiri. Dengan demikian bila dikaitkan dengan pendidikan anak usia dini merupakan serangkaian yang masih ada keterkaitannya pendidikan sebelumnya. Sehingga dapat terwujudnya generasi yang unggul, dan pendidikan itu memang merupakan sebuah kebutuhan dalam kehidupan manusia.

Kita tahu bahwa kehidupan keluarga, baik di kota – kota besar maupun di desa, berubah dengan semakin kompleksnya, terutama permasalahan yang timbul mengenai pengasuhan anak usia dini. Orang tua yang sibuk bekerja di luar rumah meninggalkan anaknya yang diasuh oleh pembantu atau orang yang dekat dengan keluarga tersebut. Ibu – ibu yang tadinya mengasuh anak di rumah terpaksa harus bekerja untuk mendapatkan tambahan pendapatan. Maka, hubungan orang tua dan anak pun menjadi renggang.

Komunikasi antara anak – anak dan orang tua menjadi terbatas, yaitu ketika pulang kerja. Anak-anak tumbuh dan berkembang sesuai dengan lingkungan. Kondisi semacam ini, jika tidak terkontrol oleh orang tua, dapat menyebabkan pertumbuhan anak tidak berjalan secara optimal. Berangkat dari kondisi inilah, kehadiran pendidikan anak usia dini (PAUD) sangatlah penting, tentunya dengan memperhatikan potensi anak dan bakat-bakatnya, maka tujuan pendidikan anak dapat diarahkan sesuai dengan kemampuan untuk mencapainya.

Dalam konteks pendidikan anak usia dini, tanggung jawab orang tua mendidik anak dengan sabar dan seksama, serta mengetahui kondisi kebutuhan penyiapan pendidik yang mampu mengasuh dan membimbing anak usia sejak lahir sampai 6 tahun merupakan suatu keharusan. Hal ini dikatakan oleh Ali RA dalam kitabnya Ibnu Qayyim Al-Jauziyah

قال على رضي اللة عنه: علموهم و أدبوهم, وقال الحسن: مروهم طاعة اللة و علموهم الخير. [2]

Imam Ali R.A. berkata : “Ajari dan didiklah anak-anakmu, sedangkan Hasan berkata: ajaklah mereka untuk taat pada Allah dan ajarilah mereka tentang kebaikan.

و فى المسند,و سنن ابى داود, من حديث عمرو بن شعيب عن ابيه, عن جده قال: قال الرسول اللة صلى اللة عليه وسلم: مروا ابناءكم بالصلاة لسبع, واضربوهم عليها لعشر, وفزقوا بينهم فى المضاجع, ففى هذا الحديث ثلاثة امرهم بها, و ضربهم عليها و التفريق بينهم في المضاجع.[3]

Di dalam Musnad sunan Abu Dawud tentang hadis Amr bin syuaib dari ayahnya dari kakeknya . Rasul SAW bersabda : perintahlah anak-anakmu untuk melaksanakan shalat pada usia 7 tahun , pukullah mereka jika mereka membangkang untuk shalat pada usia 10 tahun dan pisahlah tempat tidur mereka . di dalam hadis ini terdapat 3 tata karma dalam memerintah anak : 1. Memerintah mereka untuk shalat, 2. Memukul mereka jika membangkang 3. Dan memisah tempat tidur mereka.

Penjelasan diatas bahwa pentingnya adab dan akhlak bagi anak didik menurut Ibnu Qayyim karena dengan adab dan akhlak yang baiklah adalah sebuah hubungan orang tua dengan anak dapat terjalin dengan baik dan kondusif, yang pada gilirannya dapat menciptakan kelancaran komunikasi dan interaksi yang harmonis bagi keduanya.

B. Karakteristik Pendidikan Anak Usia Dini Dalam Pandangan Ibnu Qayyim Al-Jauziyah
Dalam pandangan Ibnu Qayyim Al-Jauziyah diantara metode yang paling tepat dalam mendidik anak usia dini adalah melalui pembiasaan dan suri tauladan. Orang tua dapat melatih dan membiasakan anak-anak untuk dapat bangun akhir malam, dan melakukan shalat malam. Karena dengan pembiasaan tersebut akan bermanfaat bagi si anak kemudian hari, paling tidak, anak-anak akan menghargai bahwa waktu yang baik untuk urusan spiritualnya.

Di antara pandangannya tentang pendidikan anak, Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam kitabnya yang khusus mengenai anak, Tuhfat al-Maudûd bi Ahkâm al-Maulûd, mengatakan:
ومما يحتاج اليه الطفل غاية الإحتجاج الاعتناء بأمر خلقه، فإنه ينشأ عما عوده المربي فى صغره منحر، وغضب ولجاج وعجلة وخفة مع هواه، وطيش وحدة وجشع, فيسعب عليه في كبره تلا في ذلك، وتصير في هذه الأخلاق صفاة وهيئات راسخة، وله تخرز منها غاية التخرز فصحته ولا بد يوما، ولهذا تجد اكثر الناس منحرفة أخلاقهم وذلك من قبل التربية التى نشأ عليها[4].
Anak kecil di masa kanak-kanaknya sangat membutuhkan seseorang yang membina dan membentuk akhlaknya, karena ia akan tumbuh dan berkembang sesuai dengan apa yang menjadi kebiasaan (yang ditanamkan oleh para pendidik). Jika seorang anak selalu dibiasakan dengan sifat pemarah dan keras kepala, tidak sabar dan selalu tergesa-gesa, menurut hawa nafsu, gegabah dan rakus, maka semua sifat itu akan sulit diubah di masa dewasanya. Maka jika seorang anak dibentengi, dijaga dan dilarang melakukan semua bentuk keburukan tersebut, niscaya ia akan benar-benar terhindar dari sifat-sifat buruk itu. Oleh karena itu, jika ditemukan seorang dewasa yang berakhlak buruk dan melakukan penyimpangan, maka dipastikan akibat kesalahan pendidikan di masa kecilnya dahulu. Di samping itu Ibn Qayyim al-Jawziyyah menegaskan bahwa:
وكذلك يجب أن يجتنب الصبي إذا عقل: مجالس اللهو والباطل والغناء والفواخش والبدع ومنلطق السوء، فإنه إذا علق بسمعه، عسر عليه مفارقته فى الكبر، وعز على وليه استنقاذه منه، فتغير العوائد من اصعب الأمور، يحتاج صاحبه إلى استجداد طبيعة ثانية، والخروج عن حكم الطبيعة عسر جدا[5].
Anak yang masih kecil seharusnya dijauhkan dari lingkungan hura-hura, kebatilan, tempat hiburan, mendengarkan suara keji, dan jorok, bid’ah, dan pembicaraan kotor. Sebab jika sudah menjadi kebiasaan dan menjadi pecandu berat dalam menyaksikan dan mendengarkan hal-hal tersebut, pada saat usia remaja (dewasa) akan sulit untuk dibebaskan dari kebiasaan tersebut. Merubah kebiasaan dan perilaku merupakan perkara yang paling sulit untuk dilakukan.
Anak-anak akan berkembang dan tumbuh paling baik dalam ketertiban dan keteraturan serta jauh dari hal-hal yang tidak baik. Mereka akan lebih bahagia kalau mereka mengetahui apa yang diharapkan, berupa yang baik dan indah, walaupun dalam kenyataannya anak-anak tanpa kompromi akan menelan semua yang dilihat dan didengarnya sekalipun buruk. Di sinilah peran orang tua dan pendidik untuk merencanakan dan menciptakan suasana yang kondusif untuk tumbuh kembang anak-anak ke arah yang baik.
Selanjutnya Ibn Qayyim menegaskan:
ويجنبه الكسل والبطالة والدعة والراحة، بل ياخذه باضدادها ولا يريحه إلا بما يجم نفسه وبدنه للسهل, فإن الكسل والبطالة عواقب سوء ومغبة ندم، وللجد والتعب عواقب حميدة[6]
Bahwa seorang anak hendaknya dijauhkan dari sifat malas, santai dan tidak mempunyai aktifitas positif, tetapi justru harus dibiasakan bekerja keras, sportif dan -

melakukan berbagai kesibukan. Karena pada dasarnya orang yang paling bahagia adalah mereka yang dapat bekerja dan melakukan aktifitas-aktifitas positif dan kontributif, sehingga membiasakan anak dengan keseriusan dan kesungguhan belajar dan beraktifitas akan berdampak positif pada pola hidupnya di kemudian hari.
Menurut Ibn Qayyim al-Jawziyyah, tanggung jawab tarbiyah (pendidikan) anak itu berada di pundak orang tua dan pendidik (murabbi) apalagi ketika anak masih dalam masa awal pertumbuhan. Mereka sangat membutuhkan pembina yang selalu mengarahkan akhlak dan perilakunya, karena anak-anak pada masa itu sangat tidak mampu untuk membina diri mereka sendiri, sehingga mereka membutuhkan seorang qudwah yang menjadi panutan untuk diri anak dalam sikap dan perilakunya.
Dari beberapa pandangan Ibn Qayyim tersebut di atas, jelaslah bahwa anak-anak adalah sosok yang harus diakui eksistensinya sebagai obyek dan subyek pendidikan. Dengan demikian, ia harus mendapatkan pendidikan yang baik dengan cara mengarahkan, membimbing dan menumbuh-kembangkan potensi-potensi positif yang dimilikinya untuk persiapan di kehidupannya yang akan datang. Orang yang paling bertanggung jawab ini adalah orang tuanya., sebab kebanyakan kerusakan pada anak diakibatkan oleh orang tua yang mengabaikan hak-hak anak dan tidak mengajari mereka kewajiban agama dan Sunnah serta potensi-potensi yang dimilikinya.
C. Fase Perkembangan Anak menurut Ibn Qayyim al-Jawziyyah
• Fase Perkembangan Anak Sebelum Lahir (Periode Pranatal)
Periode Pranatal merupakan periode pertama dalam rentang kehidupan manusia dan merupakan periode paling singkat dari seluruh periode perkembangan manusia, namun dalam banyak hal merupakan periode yang sangat penting dalam keseluruhan tahap perkembangan, karena memberi dasar bagi perkembangan selanjutnya.
a) Masa Sebelum Hamil (Masa Prakonsepsi)
Islam memandang bahwa proses pendidikan harus dimulai sejak anak masih dalam kandungan bahkan sejak calon suami memilih calon istri yang di kemudian hari menjadi orang tua dari anak. Karena, sifat-sifat fisik maupun psikis (kepribadian) orang tua dapat diturunkan secara genetik kepada anaknya. Hal ini diisyaratkan oleh Rasulullah Saw. dalam sabdanya:
تخيروا لنطفكم فإن العرق دساس.
“Pilihlah tempat menanam nuthfahmu (istri), karena pengaruh keturunan itu sangat kuat.” (HR. Abû Dâwud)
Yang dimaksud pendidikan pada periode sebelum kehamilan adalah sebelum melakukan aktifitas jima’ kedua orang telah menjabarkan harapan-harapan dan kegiatan jima’ merupakan bagian dari konsep-konsep pendidikan yang pertama kali diletakkan sebagai pondasi untuk membangun kepribadian seorang anak didik. Uraian ini difahami dari penafsiran Ibn Qayyim atas firman Allah yang berbunyi:
… فالان باشروهن وابتغوا ما كتب الله لكم[7]
Ibn Qayyim memberikan penafsiran ayat tersebut sebagai berikut:
لما حفف الله عن الامة بإباحة الجماع ليلة الصيام الى طلوع الفجر أرشدهم سبحانه وتعالى الى ان يطلبوا رضاه فى مثل هذا اللذة ولا يباشروهن بحكم مجرد الشهوة بل يبتغوا بها ما كتب الله لهم من الاجر. والولد يخرج من اصلابهم يعبد الله ولا يشرك به شيئا.
Dari penafsiran tersebut tergambar bahwa salah satu tujuan yang paling penting dalam sebuah pernikahan adalah hadirnya seorang anak.

b) Masa Setelah Kelahiran
Sejak anak baru terlahir ke dunia, pokok-pokok pendidikan mulai diberikan secara tepat, yaitu:
• Penyambutan yang hangat akan kelahirannya
• Mengadzankan di telinga anak

• Fase Perkembangan Anak Sejak Lahir Hingga Usia Dua Tahun
Konsep Islam dalam pendidikan kepada anak yang baru lahir di antaranya dikemukakan oleh Ibn Qayyim al-Jawziyyah, yaitu:
• Mentahniq (meletakkan kurma dan menggosok-gosokkan ke langit-langit bayi dengan jari telunjuk)
• Melaksanakan Aqiqah
• Membedong
• Mencukur rambut
• Pemberian nama yang baik
• Menyusui, dan
• Menyapih anak

Fase Perkembangan Anak Sejak Usia Dua Tahun Hingga Mumayyiz (5 s/d 7 Tahun)
Ibn Qayyim memandang bahwa anak-anak di awal masa pertumbuhan dan perkembangannya harus segera diberikan pendidikan melalui arahan, bimbingan dan pembinaan semaksimal mungkin sehingga mereka dapat tumbuh dan berkembang sebagai anak-anak yang shaleh, memiliki kepribadian yang baik.
Menurut fuqaha, seorang anak disebut mumayyiz ketika ia berumur antara 5 sampai dengan 7 tahun dan tidak jauh berbeda menurut pendapat Ibn Qayyim. Pendidikan pada masa ini dalam bentuk nasehat-nasehat yang arti dan tujuannya kepada pemeliharaan keutuhan pribadi anak, jangan meusak pendengarannya dengan kata-kata yang tidak pantas, sifat-sifat sosialnya, membatasi aktifitasnya.
• Fase Perkembangan Anak Menjelang Puber (9 s/d 10 Tahun)
Pada usia ini perkembangan akal semakin matang. Anak juga semakin kuat secara fisik dan semakin mampu melakukan ibadah serta semakin faham, oleh karena itu, ia boleh dipukul jika meninggalkan shalat sebagaimana diperintah Nabi Saw. Selain itu, ketika berusia sepuluh tahun, kondisi anak itu berbeda. Ia lebih mengenal dan lebih memahami. Oleh karena itu menurut Ibn Qayyim, pada usia tersebut, para ulama fiqh mewajibkan mereka untuk beriman.

• Fase Perkembangan Anak Masa Puber (12 s/d 15 atau 16 Tahun)
Masa ini merupakan masa detik-detik menunggu datangnya waktu ihtilam (masa baligh). Pertumbuhan fisik jasmani berlangsung secara cepat, lebih cepat dari perkembangan jiwanya. Oleh karena cepatnya pertumbuhan fisik yang tidak diimbangi dengan pertumbuhan jiwanya, ia membutuhkan bantuan dan perhatian lebih.
• Fase Perkembangan Anak Masa Baligh (15 atau 16 Tahun)
Menurut Ibn Qayyim masa baligh adalah masa ihtilam pada setiap anak dan setiap anak tidak sama waktunya mulai usia 12 tahun sampai dengan 15 tahun.
Pada masa inilah anak sudah mempunyai tanggung jawab sendiri dalam kaitannya dengan syari’at agama. Maka pendidikan pada usia ini lebih ditekankan pada pemberian tanggung jawab.

KESIMPULAN
Ibn Qayyim al-Jawziyyah merupakan tokoh pendidikan Islam dan sekaligus seorang psikologis. Pemikirannya tentang psikologi perkembangan dan pendidikan anak memberikan kontribusi yang sangat besar bagi khazanah pendidikan Islam.
Pokok utama pemikirannya tentang psikologi dan pendidikan anak berangkat dari konsep praktis mendidik dan membesarkan anak yang didasarkan pada dua hal: pertama, bahwa anak-anak, dengan kebutuhannya yang khas, berhak mendapat perhatian dan perawatan khusus, kedua, bahwa cara bayi dan anak-anak diperlakukan mempunyai pengaruh yang panjang terhadap sifat fisik maupun psikologis mereka.

DAFTAR PUSTAKA
Dr. Abdullah Nasih Ulwan, 1996. Pendidikan Anak dalam Islam. Pustaka Amani, Jilid I Jakarta.
Hasan Langgulung, 1988. Asas-Asas Pendidikan Islam, Pustaka Al-Husna, Jakarta.
Muhammad Suwaid, 2004. Mendidik Anak Bersama Nabi, Pustaka Arofah, Solo
Muhammad Utsmān Najāti, Dr., Jiwa dalam Pandangan Para Filosof Muslim, terj. Gazi Saloom, S.Psi., judul asli Ad-Dirāsā an-Nafsāniyyah ‘inda al-‘ulamā’ al-Muslimin (Bandung: Pustaka Hidayah, cet.I, 2002)
Qayyim, Ibnu Al-Jauziyah, Tuhfa al-Maudud bi Ahkam al-Maulud, Ditahkikkan oleh Abdul Qadir al-Arnauth, Damaskus: Maktabah Dār al-Bayān, 1391

________________________________________
[1] Muhammad Utsmān Najāti, Dr., Jiwa dalam Pandangan Para Filosof Muslim, terj. Gazi
Saloom, S. Psi., judul asli Ad-Dirāsā an-Nafsāniyyah ‘inda al-‘ulamā’ al-Muslimin
(Bandung: Pustaka Hidayah, cet.I, 2002), hlm. 357-358

[2] Ibnu Qayyim Al-Jauziyah,Tuhfa al-Maudud bi Ahkam al-Maulud , hlm. 188
[3] ibid, hal 188

[4] Ibnu Qayyim Al-Jauziyah,Tuhfa al-Maudud bi Ahkam al-Maulud , hlm.200
[5] ibid, hal 210

[6] ibid, hal 230

[7] ibid, hal 270

Pendidikan Karakter

Secara akademik, pendidikan karakter dimaknai sebagai pendidikan nilai, pendidikan budi pekerrti, pendidikan moral, pendidikan watak, yang tujuannya mengembangkan kemampuan peserta didik untuk memberikan keputusan baik-buruk, memelihara apa yang baik itu, dan mewujudkan kebaikan itu dalam kehidupan sehari-hari dengan sepenuh hati.  Karena itu muatan pendidikan karakter secara psikologis mencakup dimensi moral reasoning, moral feeling, dan moral behaviour (Lickona:1991), atau dalam arti utuh sebagai morality yang mencakup moral judgment and moral behaviour baik yang bersifat prohibition-oriented morality maupun pro-social morality (Piaget, 1967; Kohlberg; 1976; Eisenberg-Berg; 1981). Secara pedagogis, pendidikan karakter seyogyanya dikembangkan dengan menerapkan holistic approach, dengan pengertian bahwa “Effective character education is not adding a program or set of programs. Rather it is a tranformation of the culture and life of the school” (Berkowitz; 2010): Sementara itu Lickona (1992) menegaskan bahw: “In character education, it’s clear we want our children are able to judge what is right, care deeply about what is right, and then do what they believe to be right-even in the face of pressure form without and temptation from within. 

Urgensi dari pelaksanaan komitmen nasional pendidikan karakter, telah dinyatakan pada Sarasehan Nasional Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa  sebagai Kesepakatan Nasional Pengembangan Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa, yang  dibacakan pada akhir khir Sarasehan Tanggal 14 Januari 2010, sebagai berikut. 

  1. “Pendidikan budaya dan karakter bangsa merupakan bagian integral yg tak terpisahkan dari pendidikan nasional secara utuh.
  2. Pendidikan budaya dan karakter bangsa harus dikembangkan secara komprehensif sbg proses pembudayaan.  Oleh karena itu, pendidikan dan kebudayaan secara kelembagaan perlu diwadahi secara utuh.
  3. Pendidikan budaya dan karakter bangsa merupakan tanggung jawab bersama antara pemerintah, masyarakat, sekolah dan orangtua. Oleh karena itu pelaksanaan budaya dan karakter bangsa harus melibatkan keempat unsur tersebut.
  4. Dalam upaya merevitalisasi pendidikan dan budya karakter bangsa diperlukan gerakan nasional guna menggugah semangat kebersamaan dalam pelaksanaan di lapangan.”

Strategi Pengembangan Pendidikan Karakter pada Konteks Makro

  1. Pengembangan nilai/karakter dapat dilihat pada dua latar/domain, yaitu pada latar makro dan latar mikro. Latar makro bersifat nasional yang mencakup keseluruhan konteks perencanaan dan ilmpementasi pengembangan nilai/karakter yang melibatkan seluruh pemangku kepentingan pendidikan nasional. Pada latar makro program pengembangan nilai/karakter dapat digambarkan sebagai berikut.
/KAMPUS
MELALUI ACTIVE LEARNING

Gambar 1. Konteks Makro Pengembangan Karakter Melalui Active Learning

Penjelasan Gambar:

  1. Secara makro pengembangan karakter melalui active learning dapat dibagi dalam tiga tahap, yakni perencanaan,  pelaksanaan, dan evaluasi hasil.
  2. Pada tahap perencanaan dikembangkan perangkat pembelajaran active learning dengan mengimplementasikan pendidikan karakter yang digali, dikristalisasikan, dan dirumuskan dengan menggunakan berbagai sumber, antara lain pertimbangan: (1) filosofis – Agama, Pancasila, UUD 1945, dan UU N0.20 Tahuin 2003 beserta ketentuan perundang-undangan turunannya;(2) pertimbangan teoritis- teori tentang otak, psikologis, nilai dan moral, pendidikan (pedagogi dan andragogi) dan sosial-kultural;  dan (3) pertimbangan empiris berupa pengalaman dan praktek terbaik (best practices) dari antara lain tokoh-tokoh, sekolah unggulan, pesantren, kelompok kultural dll.
  3. Pada tahap implementasi dikembangakan pengalaman belajar (learning experiences) dengan pendekatan active learning dan proses pembelajaran yang bermuara pada pembentukan karakter dalam diri individu peserta didik. Proses ini dilaksanakan melalui proses pembudayaan dan pemberdayaan sebagaimana digariskan sebagai salah satu prinsip penyelenggaraan pendidikan nasional. Proses ini berlangsung dalam tiga pilar pendidikan yakni dalam kampus/sekolah, keluarga, dan masyarakat. Dalam masing-masing pilar pendidikan akan ada dua jenis pengalaman belajar (learning experiences) yang dibangun melalui dua pendekatan yakni intervensi dan habituasi. Dalam intervensi dikembangkan suasana interaksi belajar dan pembelajaran yang sengaja dirancang untuk mencapai tujuan pembentulkan karakter dengan menerapkan kegiatan yang terstruktur (structured learning experiences). Sementara itu dalam habituasi diciptakan situasi dan kondisi (persistence life situation) yang memungkinkan peserta didik di kampus/sekolahnya, di rumahnya, di lingkungan masyarakatnya  membiasakan diri belajar secara aktif dan mandiri seta berprilaku sesuai nilai dan menjadi karakter yang telah diinternalisasi dan dipersonalisai dari dan melalui proses intervensi. Kedua proses tersebut- intervensi dan habituasi harus dikembangkan secara sistemik dan holistik.
  4. Pada tahap evaluasi hasil, dilakukan asesmen yang terintergrasi mencakup penilaian proses dimana active learning terpantau sekaligus untuk perbaikan berkelanjutan yang sengaja dirancang dan dilaksanakan untuk menditeksi  aktualisasi karakter dalam diri peserta didik sebagai indikator bahwa proses pembudayaan dan pemberdayaan karakter melalui active learning itu berhasil dengan baik.

Strategi Pengembangan Budaya dan Karakter pada Konteks Mikro

  1. Pada konteks mikro pengembangan karakter berlangsung dalam konteks suatu satuan pendidikan (sekolah/Perguruan Tinggi) secara holistik (the whole school/university reform). Perguruan Tinggi/Sekolah sebagai leading sector, berupaya memanfaatkan dan memberdayakan semua lingkungan belajar yang ada untuk menginisiasi, memperbaiki, menguatkan, dan menyempurnakan secara terus menerus proses pendidikan karakter. Program pengembangan karakter pada latar mikro dapat digambarkan sebagai berikut.
Mata Kuliah

INSTITUSI

Gambar 2. Konteks Mikro Pengembangan Nilai/Karakter

Penjelasan Gambar.

  1. Secara mikro pengembangan nilai/karakter dapat dibagi dalam empat pilar, yakni kegiatan belajar-mengajar di kelas, kegiatan keseharian dalam bentuk budaya sekolah (school culture) yang diperguruan tinggi dikenal sebagai academic athmosphere; kegiatan ko-kurikuler  dan/atau ekstra kurikuler, serta kegiatan keseharian di rumah, dan dalam masyarakat.
  2. Dalam kegiatan belajar-mengajar di kelas pengembangan nilai/karakter dilaksanakan dengan menggunakan pendekatan terintegrasi dalam semua mata kuliah/pelajaran (embeded approach).
  3. Dalam lingkungan kampus/sekolah dikondisikan agar lingkungan fisik dan academic athmosphere sosial-kultural memungkinkan para peserta didik bersama dengan sivitas akademik lainnya terbiasa membangun kegiatan keseharian di kampus yang mencerminkan perwujudan nilai/karakter.
  4. Dalam kegiatan ko-kurikuler, yakni kegiatan belajar di luar kelas yang terkait langsung pada suatu materi dari suatu mata kuliah/pelajaran, atau kegiatan ekstra kurikuler, yakni kegiatan kampus/sekolah yang bersifat umum dan tidak terkait langsung pada suatu mata pelajaran, seperti palang merah, pecinta alam, dan lain-lain  perlu dikembangkan proses pembiasaan dan penguatan (reinforcement) dalam rangka pengembangan nilai/karakter.
  5. Di lingkungan keluarga dan masyarakat diupayakan agar terjadi proses penguatan dari orang tua/wali serta tokoh-tokoh masyarakat terhadap prilaku berkarakter mulia yang dikembangkan di kampus/sekolah menjadi kegiatan keseharian di rumah dan di lingkungan masyarakat masing-masing.

STRATEGI PENDIDIKAN KARAKTER MELALUI ACTIVE LEARNING

 

Pada dasarnya strategi yang dipakai adalah dengan Intervensi dan habituasi untuk, kampus/sekolah, keluarga, masyarakat. Intervensi dapat dilakukan dengan berbagai strategi pembelajaran active learning, seperti kooperatif learning, pembelajaran berdasarkan masalah, simulasi, inkuiri, dan lain-lain,  sedangkan habituasi dilakukan dengan pendemonstrasian berbagai contoh teladan sebagai langkah awal pembiasaan, penguatan dalam berbagai bentuk, penataan lingkungan belajar yang menyentuh dan membangitkan karakter.

Prinsip dan Pendekatan dan Program Pengembangan Pendidikan Karakter Melalui Active Learning di UNY

Secara prinsipil, pengembangan karakter tidak dimasukkan sebagai mata kuliah atau pokok bahasan tetapi terintegrasi kedalam mata kuliah, pengembangan diri dan academic athmosphere. Oleh karena itu dosen dengan dukungan program studi perlu mengintegrasikan nilai-nilai yang dikembangkan dalam pendidikan budaya dan karakter bangsa ke dalam kurikulum  (silabus dan RPP) yang sudah ada.  Prinsip pembelajaran active learning yang digunakan dalam pengembangan pendidikan karakter mengusahakan agar mahasiswa mengenal dan menerima nilai-nilai karakter sebagai milik mereka dan bertanggung jawab atas keputusan yang diambilnya melalui tahapan mengenal pilihan, menilai pilihan, menentukan pendirian, dan selanjutnya menjadikan suatu nilai sesuai dengan keyakinan diri. Dengan prinsip ini mahasiswa belajar melalui proses berpikir, bersikap, dan berbuat. Ketiga proses ini dimaksudkan untuk mengembangkan kemampuan mahasiswa dalam melakukan kegiatan sosial dan mendorong peserta didik untuk melihat diri sendiri sebagai makhluk sosial.

Strategi rollout TOT Pembelajaran Aktif dengan muatan pendidikan karakter untuk Perguruan Tinggi (ALFHE), di UNY direncanakan meliputi : a) Pelatihan Pembelajaran Aktif di Sekolah (ALIS) dan Kunjungan Sekolah, b) Pelatihan Pembelajaran Aktif di Perguruan Tinggi (ALIHE), c) Kegiatan Pelaksanaan ALIS dan Pendampingan,  d) Kegiatan Penilaian Dokumen Portofolio hasil penerapan pembelajaran aktif di kelas dan umpan balik mahasiswa. (2) Pelaksanaan roll-out Program Paket TOT ALFHE. Roll-out yang dimaksud adalah pengimplementasian seluruh paket TOT ALFHE di perguruan tinggi, dengan ketentuan pelatihan dilakukan untuk  minimal peserta 40 orang staf pengajar dengan menggunakan materi pelatihan yang sama dengan materi yang diberikan oleh DBE2 dan dilaksanakan dengan strategi pelatihan aktif.

Beberapa prinsip yang dikembangkan dalam mengimplementasikan pendidikan karakter melalui active learning di UNY, adalah:

  1. Nilai tidak diajarkan tapi dikembangkan (value is neither cought nor taught, it is learned) (Hermann, 1972) mengandung makna bahwa materi nilai-nilai dan karakter  yang dalam hal ini tertuang dalam visi UNY (bernurani, cendikia, dan mandiri) bukanlah bahan ajar biasa. Tidak semata-mata dapat ditangkap sendiri atau diajarkan, tetapi lebih jauh diinternalisasi melalui proses belajar. Artinya, nilai-nilai tersebut tidak dijadikan mata kuliah atau pokok bahasan yang dikemukakan seperti halnya ketika mengajarkan suatu konsep, teori, prosedur, atau pun fakta seperti dalam mata kuliah MKDU (agama, dan kewarganegaraan, kewiraan, dll.). Materi pelajaran biasa digunakan sebagai bahan atau media untuk mengembangkan nilai-nilai karakter bangsa. Oleh karena itu dosen tidak perlu mengubah pokok bahasan yang sudah ada tetapi menggunakan materi pokok bahasan itu untuk mengembangkan nilai-nilai karakter. Juga, dosen tidak harus mengembangkan proses belajar khusus untuk mengembangkan nilai. Dengan active learning maka  satu aktivitas belajar dapat didesain dan digunakan untuk mengembangkan kemampuan dalam ranah kognitif, afektif dan psikomotor yang didalamnya mengandung muatan karakter.  Konsekuensi dari prinsip ini nilai-nilai karakter tidak ditanyakan dalam ujian. Walaupun demikian, mahasiswa perlu mengetahui pengertian dari suatu nilai yang sedang mereka tumbuhkan pada diri mereka. Mereka tidak boleh berada dalam posisi tidak tahu dan tidak paham makna nilai terebut.
  2. Proses pendidikan dilakukan peserta didik secara aktif dan menyenangkan. Prinsip ini menyatakan bahwa proses pendidikan nilai-nilai karakter bangsa dilakukan oleh mahasiswa bukan oleh dosen. Dosen menerapkan prinsip ”tut wuri handayani” dalam setiap perilaku yang ditunjukkan mahasiswanya. Prinsip ini juga menyatakan bahwa proses pendidikan dilakukan dalam suasana belajar yang menimbulkan rasa senang dan tidak indoktrinatif. Diawali dengan perkenalan terhadap pengertian nilai yang dikembangkan maka dosen menuntun mahasiswa agar secara aktif  (tanpa mengatakan  kepada mahasiswa bahwa mereka harus aktif tapi dosen merencanakan kegiatan belajar yang menyebabkan peserta didik aktif merumuskan pertanyaan, mencari sumber informasi dan mengumpulkan informasi dari sumber, mengolah informasi yang sudah dimiliki, merekonstruksi data/fakta/nilai, menyajikan hasil rekonstruksi/proses pengembangan nilai) menumbuhkan nilai-nilai karakter pada diri mereka melalui berbagai kegiatan belajar yang terjadi di kelas pembelajaran, lingkungan kampus, dan tugas-tugas di luar kampus.

KESIMPULAN

Penjabaran visi UNY melalui implementasi pembelajaran pendidikan karakter menggunakan pendekatan active learning, dilakukan melalui berbagai kegiatan di kelas pembelajaran, lingkungan kampus, tugas-tugas di luar kampus, dan masyarakat. Di kelas pembelajaran dilaksanakan melalui proses belajar setiap pokok bahasan atau kegiatan yang dirancang khusus. Setiap kegiatan belajar mengembangkan kemampuan dalam ranah kognitif, afektif, dan psikomotor. Oleh karena itu tidak selalu diperlukan kegiatan belajar khusus untuk mengembangkan nilai-nilai karakter sebagai penjabaran visi tersebut. Meski pun demikian, untuk pengembangan nilai-nilai tertentu seperti kerja keras, jujur, toleransi, disiplin, mandiri, semangat kebangsaan, cinta tanah air, dan gemar membaca dapat dikembangkan melalui kegiatan belajar yang biasa dilakukan dosen. Untuk pegembangan beberapa nilai lain seperti peduli sosial, peduli lingkungan, rasa ingin tahu, dan kreatif memerlukan upaya pengkondisian sehingga mahasiswa memiliki kesempatan untuk memunculkan perilaku yang menunjukkan nilai tersebut.

Di kampus melalui berbagai kegiatan yang diikuti seluruh mahasiswa, dosen dan sivitas akademik lainnya, direncanakan sejak awal tahun pelajaran, dan dimasukkan ke kalender akademik dan yang dilakukan sehari-hari sebagai bagian dari academic atmosphere. Di luar kampus melalui kegiatan ekstra kurikuler dan kegiatan lain yang diikuti oleh seluruh/sebagian mahasiswa, dirancang sejak awal tahun pelajaran, dan dimasukkan ke dalam kalender akademik. Misalnya kunjungan ke tempat-tempat yang menumbuhkan rasa cinta terhadap  tanah air, menumbuhkan semangat kebangsaan, melakukan pengabdian masyarakat untuk menumbuhkan kepedulian dan kesetiakawanan sosial seperti membantu mereka yang tertimpa musibah banjir, memperbaiki atau membersihkan tempat-tempat umum, membantu membersihkan/mengatur barang di tempat ibadah tertentu.

 

REFERENSI

 

Berkowitz, M.W. (2002). The science of character education. In W. Damon (Ed.), Bringing in a new era in character education (pp. 43-63). Stanford CA: Hoover Institution Press

Direktorat PSMP (2010). Pendidikan Karakter Untuk Sekolah Menengah Pertama. Kementerian Pendidikan Nasional Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah

Eisenberg-Berg, N., & Neal, C.( 1981). The effects of person of the protagonist and costs of helping on children’s moral judgement. Personality and Social Psychology Bulletin, 7, 17-23.

Kohlberg, L..(1976). “Moral Stages and Moralization. The Cognitive-Developmental Approach.” Moral Development and Behavior: Theory, Research and Social Issues. Thomas Lickona (ed) News York: Holt, Rinehart, Winston

Lickona, T. (1991). Educating for character: How our schools can teach respect

and responsibility. New York: Bantam Books.

Piaget, J. (1967/1971). Biology and knowledge: An essay on the relation between

organic regulations and cognitive processes. Chicago: University of Chicago Press.

Tim DBE2 (2010). Active Learning for Higher Education (ALFHE). USAID Jakarta

Metode Pendidian dan Pengajaran Nabi Muhammad saw dalam Proses Belajar Mengajar

 Oleh:
Marlin Daniarto

Pengamat Pendidikan

Abstrak : Nabi Muhammad saw adalah sosok pribadi yang agung dan mulia, dalam mendidik dan mengajar peserta didik, beliau lebih mengedepankan rasa kasih sayang, dan mempermudah setiap pembahasan yang ada. Dan Nabi Muhammad saw adalah seoarang teladan bagi peserta didiknya. Metode-metode belajar yang beliau terapkan disesuaikan dengan kondisi dan situasi, serta keadaan jiwa peserta didik, sehingga materi-materi yang beliau sampaikan dapat diterima dengan baik oleh peserta didik. Nabi Muhammad saw tidak memisahkan antara ilmu pengetahuan dengan ilmu agama, tetapi beliau mengolaborasikannya, sehingga tercipta generasi yang berilmu dan berakhlak mulia yang menjadi tujuan pendidikan Islam.

Kata Kunci: Pendidikan dan pengajaran Nabi
Pendahuluan
Perubahan keadaan manusia dan dunia yang telah diwujudkan oleh Nabi Muhammad saw menjadi objek studi dan penelitian dari para cendekiawan dan para pakar yang memiliki perhatian khusus dalam membangun peradaban dan sejarah bangsa-bangsa sepanjang masa. Mereka bukan hanya dari orang-orang Islam yang memang sedari awal telah menyadari pentingnya mengkaji pribadi sukses dan mulia sang Nabinya, tetapi juga berasal dari para pemeluk agama lain dari semua jenis aliran pemikiran dan kewarganegaraan di muka bumi. Mereka mengakui bahwa capain dari pendidikan dan pengajaran Nabi Muhammad saw merupakan fakta perubahan terbesar yang dicapai dalam sejarah peradaban manusia.
Dengan melihat keberhasilan Nabi Muhammad saw sebagai seorang pendidik dan pengajar yang sukses, seharusnya umat Muslim khususnya umat Muslim di Indonesia dapat menjadikan Nabi Muhammad saw sebagai guru besar dalam membangun kualitas pendidikan. Sehingga dengan berpedoman pada ajaran Nabi Muhammad saw yang telah terbukti hasil gemilangnya dalam kancah pendidikan, diharapkan dapat melahirkan sebuah generasi yang berilmu, berintelektual dan berakhlak, dan bermoral Islami.
Dengan melihat kenyataan pada kondisi pendidikan di Indonesia baik dari segi sistem pendidikan, kualitas para pendidik, proses belajar mengajar, dan hasil dari proses pendidikan itu sendiri masih banyak menimbulkan masalah. Misalnya masih banyak guru yang kurang profesional dalam mendidik dan mengajar, tidak meratanya pendidikan, tujuan pendidikan yang lebih mementingkan kecerdasan rasio, dan lain sebagainya. Sehingga perlu dikaji ulang tentang proses pelaksanaan pendidikan tersebut agar tercapai tujuan pendidikan itu.
Dengan sarana dan prasarana yang seadanya, dibandingkan dengan keadaan sekarang ini, dan kondisi lingkungan yang kurang mendukung, Nabi Muhammad saw dapat menciptakan generasi yang berilmu dan berakhlak, yang mampu membangun peradaban yang gemilang. Lalu, bagaimanakah Nabi Muhammad saw dapat menjadi pembuka gerbang menuju cahaya kejayaan dan meninggalkan masa-masa Jahiliyah (kebodohan)?
Sekali lagi, marilah kita menengok keberhasilan Nabi Muhammad saw dalam menciptakan generasi-generasi yang berkualitas baik dari segi keilmuan dan kualitas akhlak, dimana hal tersebut adalah yang menjadi tujuan utama pendidikan.
Pembahasan
A. Kepribadian Nabi Muhammad saw
Nabi Muhammad saw, dalam melaksanakan tugasnya selaku utusan Allah dan sebagai pimpinan bangsa, beliau tidak hanya berada di depan untuk memberikan contoh, namun juga di tengah untuk memberikan semangat dan dari belakang untuk memberikan dorongan. Itu semua merupakan keteladanan Rasulullah untuk kita ikuti dan kita aplikasikan dalam setiap segi kehidupan.
Dalam Surat Al-Anbiya’ ayat 107 Allah SWT menegaskan bahwa kedatangan Nabi Muhammad saw sebagai Rasulullah adalah rahmat bagi seluruh alam. “Dan tiadalah Kami mengutus engkau, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.”(Q.S. Al-Anbiya’ 21:107). Kedatangan Nabi adalah rahmat bagi umat manusia, hewan, tumbuh-tumbuhan, dan makhluk-makhluk lainnya. Rasulullah membawa ajaran tentang persamaan, persatuan dan kemuliaan umat manusia, bagaimana tatacara hubungan manusia sesama manusia, hubungan sesama pemeluk agama, dan hubungan antar agama. Rasulullah mengajarkan tentang persaudaraan, perdamaian, keadilan, tolong-menolong, tata hidup berkeluarga, bertetangga, dan bermasyarakat, dan lain sebagainya. Rasulullah melarang manusia berbuat sewenang-wenang, sekalipun terhadap binatang. Rasulullah juga mengajarkan kepada umat manusia untuk memanfaatkan lingkungan hidup dan menjaga kelestariannya. Dalam peperangan sekalipun, tentatara Islam dilarang merusak tanaman-tanaman dan tumbuh-tumbuhan.
Akhlak Rasulullah dapat sertifikat langsung dari Allah SWT. “Sesungguhnya engkau benar-benar memiliki akhlak yang agung.” (Q.S.Al-Qalam 68:4). Tatkala ‘Aisyah ra, isteri Nabi, ditanya bagaimana akhlak Nabi, beliau menjawab:”Akhlak Nabi adalah Al Qur’an”. Rasulullahpun menjelaskan bahwa kedatangannya adalah untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.(H.R. Baihaqi). Dalam hadits lain Rasulullah menyatakan: “Seorang mukmin menjadi mulia karena agamanya, mempunyai kepribadian karena akalnya, dan menjadi terhormat karena akhlaknya.” (HR.Hakim). Malah Rasulullah mengatakan: “Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya.”(HR.Tirmidzi). Akhlak utama dan mulia itu adalah akhlak Rasulullah saw. Ahmad Muhammad Al-Hufi telah menulis sebuah buku tentang bagaimana akhlak Nabi. Karena tidak semuanya bisa diungkap, Al-Hufi menamai bukunya dengan Min Akhlaq an-,abi (Sebagian dari Akhlak Nabi). Di antara akhlak Nabi yang diuraikan oleh Al-Hufi adalah berani, pemurah, adil, iffah, benar, amanah, sabar, lapang hati, pemaaf, kasih sayang, mengutamakan perdamaian, zuhud, malu, rendah hati, musyawarah, lemah lembut, jujur, tidak suka mencari-cari cacat orang lain, sabar, tidak angkuh, santun, tidak mudah mabuk pujian, kebaikan pergaulan, dan cinta bekerja. Dan beliau selalu berusaha melupakan hal-hal yang tidak berkenan di hatinya dan tidak pernah berputus asa dalam berusaha. Salah satu karekter Rasulullah yang paling menonjol adalah kemenangan atau keberhasilan tidak menjadikan beliau bangga. Tentu, semua akhlak Rasulullah tersebut menjadi tauladan bagi kehidupan kita.
B. Metode pendidikan dan pengajaran Nabi Muhammad saw dalam proses belajar mengajar
Salah satu faktor penting dalam sistem pendidikan adalah metode pendidikan yang dipergunakan oleh seorang pendidik dalam menyampaikan (mentransfer) ilmu pengetahuan kepada peserta didik. Perlu ditekankan dalam hal ini, bahwa tidak ada satu pun metode yang paling tepat untuk diterapkan dalam sebuah proses belajar mengajar karena sebuah metode pendidikan dan pengajaran bergantung pada situasi dan kondisi dari proses belajar mengajar tersebut. Sehingga terkadang seorang pendidik harus menerapkan sebuah metode pendidikan dan pengajaran tertentu pada situasi dan kondisi tertentu, dan menggunakan sebuah metode yang lain dalam situasi dan kondisi yang lain pula. Namun, tak jarang pula terjadi atau sangat dibutuhkan kolaborasi (gabungan) dari beberapa metode untuk diterapkan bersama dalam proses belajar mengajar.
Sebaik apapun tujuan pendidikan, jika tidak didukung oleh metode yang tepat, tujuan tersebut sangat sulit untuk dapat tercapai dengan baik. Sebuah metode akan mempengaruhi sampai tidaknya suatu informasi secara lengkap atau tidak. Bahkan sering disebutkan cara atau metode kadang lebih penting daripada materi itu sendiri. Oleh sebab itu pemilihan metode pendidikan harus dilakukan secara cermat, disesuaikan dengan berbagai faktor terkait, sehingga hasil pendidikan dapat memuaskan. (Anwar, 2003: 42)
Beberapa hal yang harus ada dalam metode pendidikan, yaitu:
1. Melaksanakan aktivitas pembelajaran dengan penuh kesadaran dan tanggungjawab
2. Aktivitas tersebut memiliki cara yang baik dan tujuan tertentu
3. Tujuan harus dicapai secara efektif
Agar proses pembelajaran tidak menyimpang dari tujuan pendidikan Islam, seorang pendidik dalam meggunakan metodenya harus berpegang kepada prinsip-prinsip yang mampu mengarahkan dan kepada tujuan tersebut. Dengan berpegang kepada prinsip-prinsip tersebut, seorang pendidik diharapkan mampu menerapkan metode yang tepat dan cocok sesuai dengan kebutuhannya.
Dengan berlandaskan kepada ayat-ayat Al-Qur’an dan Al-Hadits, M. Arifin menetapkan sembilan prinsip yang harus dipedomani dalam menggunakan metode pendidikan Islam, kesembilan prinsip tersebut adalah prinsip memberikan suasana kegembiraan, prinsip memberikan layanan dengan lemah lembut, prinsip kebermaknaan, prinsip prasyarat, prinsip komunikasi terbuka, prinsip pemberian pengetahuan baru, prinsip memberikan model prilaku yang baik, prinsip pengamalan secara aktif, dan prinsip kasih saying.
Dalam pindidikan dan pengajaran Nabi Muhammad saw, sehingga menghasilkan generasi yang memiliki kecerdasan rasio, kecerdasan fisik, kecerdasan emosi, dan kecerdasan spiritual, tak lepas dari metode-metode yang diterapkan beliau pada proses belajar mengajar. Berikut adalah tujuh metode yang merupakan rangkuman dari berbagai macam metode pendidikan dan pembelajaran yang diterapakan oleh Nabi Muhammad sawvdalam proses belajar mengajar.
1. Metode Keteladanan
Menurut Harun, salah satu tokoh pendidikan Islam Indonesia, kualitas para pendidik Islam setidaknya memiliki empat kriteria sebagai seorang pendidik, diantaranya:
a. Sanggup member contoh keteladanan yang baik
b. Menguasai ilmu-ilmu pengetahuan
c. Menguasai pengetahuan tentang agama
d. Menguasai pengetahuan umum
Sebagai seorang guru (pendidik dan pengajar) harus dapat memberikan keteladanan yang baik kepada peserta didiknya. Dalam tercapainya kualitas yang baik dalam pengajaran harus didasarkan pada akhlak dan tingkah laku dari seorang guru. Dasar kaedah ini adalah bahwa pengajaran yang dilakukan melalui keteladanan yang didapatkan oleh peserta didik dari gurunya lebih baik dari pada sekadar menyampaikan pemikiran melalui lisan kepada peserta didiknya. Begitu pula bila seorang guru yang hanya memberikan nasehat-nasehat berupa akhlak yang mulia, tetapi tingkah laku guru tersebut sangat berlawan dengan yang disampaikannya, dapat menimbulkan kegagalan dalam memberikan keteladanan terhadap peserta didik. Sehingga untuk dapat dijadikan sebagai sebuah keteladan, seorang guru harus dapat memberikan pemikiran-pemikiran berupa nasehat-nasehat akhlak serta mampu untuk mengaplikasikannya pada kepribadiannya.
Melirik pada kata-kata berikut, “Nabi Muhammad saw sebagai seorang pribadi adalah contoh terbaik bagaimana Al-Qur’an berjalan, bagaimana Al-Qur’an hidup dan dihidupkan dalam kehidupan keseharian” diharapkan seorang pendidik dan pengajar mencontoh dari pribadi agung, Nabi Muhammad saw, yang merupakan cerminan akhlak dari Al-Qur’an yang mulia. Sehingga setiap peserta didik memeiliki sosok teladan yang baik dan pantas untuk ditiru, yaitu gurunya sendiri, yang akan lebih terkesan (menyentuh jiwa) pada jiwa peserta didik.
Dalam setiap penyampain materi-materi ilmu pengetahuan perlu dihiasi dengan nilai-nilai akhlak. Dengan seorang guru yang menjadi teladan bagi peserta didiknya dan perhatian seorang guru dalam mendidik ahklak peserta didiknya maka generasi yang terbentuk yaitu selain menguasai bidang-bidang tertentu dalam ilmu pengetahuan, memiliki nilai-nilai akhlak (moralitas yang baik) pula.
Perlu untuk ditekankan bahwa belajar dan mengajar dalam kaca mata Rasulullah adalah mengubah prilaku dan mendidik jiwa dan kepribadian manusia. Sehingga peserta didik memilki tingkat kecerdasan emosi yang tinggi.
Sebagai seorang guru (pendidik dan pengajar) untuk menstransfer ilmu-ilmu pengetahuan, sepatutnya memiliki modal dasar yaitu berupa ilmu pengetahuan yang akan diajarkan kepada peserta didik. Hal ini adalah sebuah poin yang amat penting dalam kelancaran sebuah proses belajar mengajar dan merupakan salah satu faktor yang menentukan tercapainya tujuan pendidikan itu. Bila seorang guru tidak menguasai bahan yang akan diajarkan, tidak mempunyai pemahaman tentang sebuah ilmu pengetahuan, maka dikawatirkan akan terjadi pembodohan (kesalahan pentransferan ilmu pengetahuan) kepada peserta didik. Efeknya, peserta didik mendapat ilmu pengetahuan yang salah (tidak sesuai dengan fakta atau kebenaran).
Bahwasnya Nabi Muhammad saw mengecam pada seseorang yang memberikan atau memberitakan sesuatau yang tidak benar, yang tidak secara pasti ia ketahui tentang kebenarannya. Oleh karena pentingnya faktor ini, maka diaharapkan, bahkan diharuskan setiap guru untuk mempelajari (belajar) ilmu-ilmu pengetahuan yang kelak akan ditransfer (diajarkan) kepada peserta didik. Sehingga terciptalah generasi yang berilmu yang akan tetap mewariskan dan terus mengembangkan ilmu pengetahuan pada setiap generasi. Sehingga terbentuk generasi yang memiliki tingkat kecerdasan rasio yang tinggi.
Ilmu agama adalah sebuah kebutuhan bagi setiap individu. Agama Islam ditujukan pada setiap insan, mengenalkan kepadanya siapa Tuhan mereka, apa hakekat hidup mereka, apa dosa dan pahala itu, dan lain sebagainya. Dengan dimilikinya (memahami) ilmu agama maka akan terciptalah ketenangan batin pada diri seorang pribadi tersebut. Sehingga ilmu agama tidak dapat dipisahkan dari setiap penyampaian ilmu pengetahuan. Jadi seorang guru harus paham terhadap ilmu agama Islam. Sehingga diharapkan akan dapat memberikan efek positif terhadap peserta didik yang berupa pengetahuan ilmu agama yang dapat diaplikasikan dengan amal berbuatan yang baik dan benar. Dalam hal ini, maka diharapkan tercipta generasi yang memiliki kecerdasan spiritual yang tinggi.
Pada zaman sekarang, dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan tekhnologi, sangat cepat dalam pencarian dan penyebaran informasi, sehingga sebuah informasi itu dapat diakses oleh siapaun dengan cepat dan mudah. Oleh sebab itu, maka seorang guru harus senantiasa menambah wawasannya dengan senantiasa menguasai dan menambah wawasan tentang ilmu pengetahuan dan tekhnologi.
Jadi, menjadi seorang guru adalah seseorang yang menjadi keteladanan bagi setiap peserta didiknya, baik dari segi akhlaknya dan keilmuannya.
2. Metode Pentahapan dan Pengulangan
Dalam menyampaikan ilmu-ilmu pengetahuan kepada peserta didik, Nabi Muhammad saw tidak serta merta langsung memberikan semua bahan materi yang ada. Namun, beliau memberikan (menstransfer) ilmu tersebut melalui sistem pentahapan. Sehingga peserta didik tidak mengalami kesulitan dalam memahami ilmu yang diberikan. Melalui metode pentahapan ini, peserta didik lebih dapat memahami materi yang disampaikan secara maksimal daripada langsung tanpa sebuah pentahapan. Beliau menyampaikan secara bertahap (sedikit demi sedikit) hingga semua materi yang beliau ajarkan dapat diterima dan dipahami dengan mudah dan lebih kuat dalam ingatan peserta didik.
Rasulullah sangat memperhatikan urut-urutan pentahapan dalam penyampaian bahan materi. Pada materi dasar, beliau ajarkan pada penyampaian pada tahap awal. Setelah tersampaikan, beliau menyampaikan materi yang berikutnya, yang sesuai dengan urutan-urutan materi yang akan diberikan oleh beliau. Bila peserta didik belum paham akan sebuah materi maka Rasulullah tidak melanjutkan ke materi berikutnya sebelum materi itu sudah peserta kuasai.
Diantara ilmu-ilmu pengetahuan yang disampaikan pada setiap tahapan, beliau memerhatikan kesinambungan antar materi pada tahap sebelumnya ke tahap berikutnya. Sehingga ada hubungannya antara materi yang sebelumnya dengan materi yang sesudahnya. Hal tersebut menjadi tidak membingungkan peserta didik dalam memahami materi yang sangat banyak dari Rasulullah.
Agar materi-materi yang telah diberikan tidak cepat hilang dari ingatan para peserta didik, Nabi Muhammad saw sering kali mengulang-ulang materi-materi yang sudah beliau sampaikan. Hal tersebut sangat berguna untuk membantu agar tetap dapat mengingat dan mengulang kembali apa-apa yang telah diberikan. Karena pentingnya materi-materi yang diajarkan oleh Nabi Muhammad saw tersebut, maka beliau sering mengulang-ulang materi yang telah disampaikan agar peserta didik beliau tidak lupa dan senantiasa dapat memahami materi-materi yang diberikan oleh beliau.
3. Metode Tanya-Jawab dan Diskusi
Metode ini diterapkan oleh Nabi Muhammad saw dalam rangka memberikan kesan perhatian kepada peserta didik, memberikan motivasi, dan mengetahui potensi akal peserta didik untuk dapat menjelaskan lagi apa yang telah peserta didik ketahui. Dan metode ini dapat dijadikan sebagai tolok ukur akan pemahaman yang dikuasai peserta didik terhadap materi-materi yang telah diberikan oleh Rasulullah (menyelami sejauh mana tingkat kecerdasan dan pemahaman peserta didik).
Nabi Muhammad saw selalu membuka lebar atas pengajuan pertanyaan dari peserta didik beliau dan Rasulullah senantiasa memberikan jawaban kepada peserta didik beliau secara proposional (ringkas) atas pertanyaan-pertnyaan yang peserta didik ajukan. Terkadang pula Rasulullah memberikan jawaban kepada peserta didik secara panjang lebar. Hal ini beliau lakukan bila hal tersebut dianggap penting, agar peserta didik beliau dapat mengetahui beberapa penjelasan tambahan atas jawaban dari pertanyaan peserta didik, dimana jawaban tambahan tersebut sangat berhubungan dengan jawaban yang ditanyakan dan sangat bermanfaat bagi peserta didik beliau.
Metode tanya jawab berusaha menghubungkan pemikiran seseorang dengan orang lain, serta mempunyai manfaat bagi pelaku dan pendengarnya, melalui dialog, perasaan dan emosi pembaca akan terbangkitkan, jika topik pembicaraan disajikan bersifat realistik dan manusiawi. (an-Nahlawi, t.t.: 205)
Dalam beberapa kesempatan, Nabi Muhammad saw tak jarang melontarkan kepada peserta didik beliau yang lain untuk menjawab pertanyaan atas pertanyaan salah seorang peserta didik beliau. Hal ini beliau lakukan untuk melatih peserta didik beliau dalam menjawab beberapa masalah keilmuan. Dan yang diharapkan oleh beliau adalah peserta didik ikut mengungkapkan pandangan dan argumennya untuk menyelesaikan masalah-masalah ilmu pengetahuan. Setelah itu, barulah beliau menjelaskannya secara lebih detail dan sensitive, supaya penjelasan tersebut lebih kuat tertanam pada pemahaman dan ingatan peserta didik beliau.
4. Metode Alat Peraga dan Eksperimen
Metode pengajaran Rasulullah ini adalah dengan cara mendemonstrasikan sesuatu (alat peraga) oleh beliau ketika hendak mengajarkan sesuatu. Dalam metode ini, cara yang beliau terapkan adalah dengan menunjukkan atau mendemonstrasikan sesuatu yang menjadi objek pembahasan ke hadapan peserta didik beliau. Dengan metode ini, dapat menarik perhatian peserta didik untuk lebih tergugah dalam memperhatikan apa yang sedang beliau ajarkan. Dan metode ini dapat lebih mempermudah peserta didik untuk memahami materi-materi yang sedang diajarkan oleh beliau.
Metode demonstrasi dimaksudkan sebagai suatu kegiatan memperlihatkan suatu gerakan atau proses kerja sesuatu. Pekerjaannya dapat saja dilakukan oleh pendidik atau peserta didik yang diminta mempraktekkan sesuatu pekerjaan. Metode demonstrasi bertujuan agar pesan yang disampaikan dapat dikerjakan dengan baik dan benar. Metode demonstrasi dapat dipergunakan dalam organisasi pelajaran yang bertujuan memudahkan informasi dari model (model hidup, model simbolik, deskripsi verbal) kepada peserta didik sebagai pengamat.
Dalam penerapan metode ini, Rasulullah terkadang menggunakan alat-alat atau benda-benda yang ada di lingkungan sekitar, dan terkadang pula beliau memanfaatkan anggota-anggota tubuh beliau.
Nabi Muhammad saw mengajarkan kepada peserta didik beliau tentang suatu kaedah yang besar yaitu tentang ilmu pengetahuan, dan menanamkan metode umum dalam penelitian ilmiah dalam bidang ilmu pengetahuan. Hal tersebut merupakan hasil perubahan dan pengalaman, pengamatan dan penelitian. Oleh karena itu, diperlukan metode eksperimen untuk mendapatkan hakekat ilmu pengetahuan.
Untuk menguatkan kaedah ini dan mengajarkannya serta agar senantiasa terekam kuat dalam ingatan peserta didik, Nabi Muhammad saw membimbing peserta didik beliau untuk melakukan suatu percobaan dan pengamatan, bukan hanya sekedar menyampaikan teori.
5. Metode Situasional dan Kondisional
Ketika memberikan pengajaran kepada peserta didik, Rasulullah senantiasa memperhatikan waktu dan kondisi yang tepat, disesuaikan dengan waktu dan kondisi yang tepat bagi peserta didik beliau. Hal ini bermanfaat agar peserta didik tidak merasakan sebuah rasa kejenuhan. Bila timbul rasa kejenuhan maka kelangsungan proses belajar mengajar menjadi tidak maksimal, bahkan menjadi sia-sia. Oleh karena itu, perlu diantisipasi akan munculnya rasa kejenuhan tersebut.
Rasulullah senantiasa memanfaatkan kesempatan (momentum) yang sesuai atas hal yang hendak beliau ajarkan. Beliau berusaha memadukan antara kesesuaian momentum dan ilmu pengetahuan yang hendak diajarkan secara kondusif, dengan harapan agar lebih jelas dalam memberikan sebuah kepahaman keilmuan.
Dalam sudut pandang keseragaman kemampuan peserta didik dalam memahami suatu transfer ilmu pengetahuan, Nabi Muhammad saw sangat memperhatikan kondisi kompetensi yang dimiliki oleh masing-masing peserta didik dalam setiap aktivitas pengajaran. Beliau senantiasa memberikan pengajaran kepada peserta didik beliau sesuai dengan kadar pemahaman peserta didik. Beliau tidak mengajarkan kepada peserta didik pemula sesuatu hal yang beliau ajarkan kepada peserta didik senior. Beliau juga tidak mengucilkan peserta didik yang masih junior terhadap peserta didik yang sudah senior.
6. Metode Membangkitkan Perhatian, Pujian dan Hukuman, dan Nasehat dan Motivasi, serta Hadiah
Dalam membangkitkan perhatian peserta didik, Rasulullah menggunakan beberapa cara yaitu dengann cara mengulangi penjelasan dan menunda jawaban, memanggil peserta didik, memegang tangan atau bahu peserta ddidik, dan merubah posisi. Hal ini dimaksudkan agar perhatian peserta didik menjadi bertambah, serta demi mengarahkan pendengaran penglihatan, dan hati peserta didik agar secara fisik dan psikologis lebih siap dan lebih memperhatikan apa yang beliau ajarkan.
Ketika didapati ada peserta didik beliau yang menampilkan sikap atau berbuatan yang tak semestinya ia lakukan, maka dengan segera Rasulullah memperingatkannya. Namun bila sikap dan berbuatan tersebut sudah terlampau batas kewajaran (keterlaluan) maka Rasulullah pun mulai menampakkan kemarahannya. Kemarahan disini bukanlah luapan emosi yang tak terkendali, namun adalah sebuah sikap yang berupa jalan untuk mendidik atau mengarahkan ke jalan yang benar.
Mendidik dengan Targhib dan Tarhib, kata targhib berasal dari kata kerja ragghaba yang berarti; menyenangi, menyukai dan mencintai, kemudian kata itu diubah menjadi kata benda targhib yang mengandung makna “:suatu harapan untuk memperoleh kesenangan, kecintaan, dan kebahagiaan. Semua itu dimunculkan dalam bentuk janji-janji berupa keindahan dan kebahagiaan yang dapat merangsang atau mendorong seseorang sehingga timbul harapan dan semangat untuk memperolehnya. Metode pengajaran ini memberikan dorongan (motivasi) kepada peserta didik melakukan sesuatu kebajikan. Dalam memberikan motivasi, beliau senantiasa mengupayakan secara optimal dan totalitas agar motivasi tersebut dapat terealisasi secara maksimal. Secara psikologi, cara itu akan menimbulkan daya tarik yang kuat untuk menggapainya. Sedangkan istilah tarhib berasal dari kata rahhaba yang berarti; menakut nakuti atau mengancam. Lalu kata itu diubah menjadi kata benda tarhib yang berarti; ancaman hukuman. Dalam memberikan ancaman, beliu senantiasa mengupayakan agar peingatan atau ancaman terebut senantiasa diindahkan dan menjadikan peserta didik terhindar dari perbuatan yang tak berguna.
Dengan berdalil pada Al-Qur’an dan Al-hadits, bahwa setiap insan yang mencari ilmu (belajar) akan mendapatkan balasan yang berlipat-lipat dari Allah swt dan mendapatkan kedudukan yang mulia. Hal ini dapat menjadi motivasi bagi pesrta didik untuk senantiasa giat dalam menuntut ilmu (belajar).
Penutup
Islam memandang bahwa segala fenomena alam ini adalah hasil ciptaan Allah dan sekaligus tunduk kepada hukum-hukum-Nya, oleh karena itu manusia harus dididik agar mampu menghayati dan mengamalkan nilai-nilai dalam hukum Allah tersebut. Tanpa nilai-nilai moral agama, kehidupannya akan menyimpang dari fitrah Allah yang mengandung nilai Islam yaitu doktrin Islam itu sendiri yang harus dijadikan dasar dari proses pendidikan yang berlangsung sepanjang hayat. Jadi dengan demikian pola dasar yang membentuk dan mewarnai sistem pendidikan Islam adalah pemikiran konseptual yang berorientasi kepada nilai-nilai keimanan, nilai-nilai kemanusiaan, serta nilai-nilai moral (akhlak) yang secara terpadu membentuk dan mewarnai tujuan pendidikan Islam.
Dengan kepribadian yang pantas untuk dijadikan teladan dan penerapan metode belajar yang memadai, Rasulullah mampu menciptakan generasi dan lingkungan yang bernuansa penuh keilmuan, akhlak yang mulia, dan ber-Islami. Sehingga tercipta tujuan pendidikan yang dapat berpengaruh positif pada lingkungan sekitar.
Daftar Pustaka
1. ‘Abdul Fattah Abu Ghuddah.2009.40 Metode Pendidikan dan Pengajaran               Rasulullah.Bandung:Irsyad Baitus Salam
2. Muhammad Fathi.2007.Metode Nabi dalam Mendidik dan Mengajar.Jakarta   Timur:Pustaka Al-Kautsar
3. Muh. Joko Susilo. (Metode Pendidikan Rasulullah SAW)
4. Muh. Joko Susilo. (Menelusuri Pemikiran Tokoh Pendidikan Islam Indonesia)
5. M. Ustman Najati.2002.Belajar EQ dan SQ dari Sunnah Nabi.Jakarta Selatan:Hikmah
6. Muhammad Jameel Zeeno.Resep Menjadi Pendidik Sukses.
7. Muhammad Wahyuni Nafis.2006.9 Jalan untuk Cerdas Emosi dan Cerdas Spiritual.Jakarta:Hikmah
8. Yunahar Ilyas.Rasulullah SAW Sebagai Teladan Kehidupan.
11. file:///E:/metode%20pendidikan%20ISlam_files/metode%20pendidikan%20ISlam.htm
12. file:///L:/Metode-pendidikan-islam%20_%20Pendidik%20Muslim_files/HADIS-HADIS%20TENTANG%20METODE%20PENDIDIKAN%20%C2%AB%20Abu%20Aqil%20di%20Langsa.htm

Kurikulum 2013 Ditelanjangi di ITB

Suasana diskusi terbuka kurikulum 2013 di Balai Pertemuan Ilmiah Institut Teknologi Bandung, Rabu (13/3/2013).

BANDUNG, KOMPAS.com – Sebuah diskusi terbuka yang digelar oleh majelis guru besar Institut Teknologi Bandung khusus membahas mengenai rencana pemberlakuan kurikulum 2013 oleh pemerintah, Rabu (13/3/2013). Disana, substansi kurikulum dipaparkan untuk ditunjukkan kelemahan pada substansi, redaksional maupun filosofinya.

Diskusi berlangsung di Balai Pertemuan Ilmiah ITB, dihadiri oleh Ketua MGB ITB, Harijono Tjokronegoro, profesor emeritus Universitas Negeri Jakarta, Henry Alex Rudolf Tilaar, guru besar ilmu matematika ITB, Iwan Pranoto, serta guru besar ITB Imam Buchori Zainuddin. Diskusi dilangsungkan dalam dua sesi dengan sesi tanya jawab di antaranya.

Imam Buchori mengungkapkan bahwa kurikulum 2013 memiliki pertentangan makna, bahkan dalam penjelasannya itu sendiri. Alasan untuk mengubah kurikulum lebih didorong oleh masalah yang dihadapi generasi muda seperti perkelahian pelajar, narkoba, korupsi, maupun plagiarisme, sedangkan hal itu tidak terkait langsung dengan kurikulum.

Kompetensi yang diharapkan oleh kurikulum 2013 adalah siswa yang mampu berkomunikasi, berpikir jernih dan kritis, mempertimbangkan segi moral suatu masalah, maupun menjadi warga negara yang efektif.

“Tidak ada yang menyebut tentang pentingnya kemampuan untuk menemukan atau inovasi, kemampuan mencipta, berfikir sinergis, maupun kemampuan melihat peluang,” kata Imam.

Proses pembelajaran berpusat pada peserta didik atau student centered active learning juga dikritk Imam. Meski konsep tersebut sudah benar, penjabaran selanjutnya ternyata bertolak belakang. Misalnya siswa sudah dibebani tuntutan berbagai macam kompetensi. Pemerintah yang memiliki kendali dalam menyusun dan melaksanakan kurikulum justru bertentangan dengan azas meritokrasi atau mendasarkan diri pada potensi peserta didik.

Dari segi redaksional, Imam justru menemukan banyak kejanggalan dalam logika berbahasa di dalam dokumen kurikulum. Dia menemukan kalimat mengenai pertimbangan dalam pengembangan kurikulum yakni “Perlunya merumuskan kurikulum yang dapat menunjukkan pentingnya pengetahuan dan memastikan bahwa peserta didik akan peka atas kebutuhannya untuk berpengetahuan dan pengembangannya. Untuk itu kurikulum perlu disusun dengan menggunakan pendekatan sains sebagai ciri utama proses pembelajaran dan penilaian dalam pembentukan kompetensi.”

“Komentar saya, kalimatnya rasional, antisipatif, dan menginspirasi. Tapi bila didalami dalam implementasi kurikulumnya banyak yang bertentangan,” kata Imam.

Terkait kompetensi inti dan kompetensi dasar, Imam banyak menemui penggabungan unsur agama dengan sains yang seharusnya tidak perlu dilakukan. Dia menyebut contoh untuk kelas X mata pelajaran Bahasa Indonesia, kompetensi intinya adalah menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang dianutnya. Dalam kompetensi dasar poin pertama adalah mensyukuri anugerah Tuhan akan keberadaan bahasa Indonesia dan menggunakannya sesuai dengan kaidah dan konteks untuk mempersatukan bangsa.

Contoh-contoh lainnya juga diungkapkan oleh Iwan Pranoto. Dalam mata pelajaran Kimia untuk kelas X, dia mendapati kalimat penjelasan kompetensi dasar yakni “menyadari keteraturan dan kompleksitas konfigurasi elektron dalam atom sebagai wujud kebesaran Tuhan YME.”

“Bila dicampur adukkan dengan Tuhan, naskah kurikulum seolah tidak bisa didebat karena nilainya menjadi suci,” ujar Iwan.

Tilaar bahkan menyebut bahwa penyusunan kurikulum 2013 ternyata tidak tercantum dalam penjabaran rencana strategis pendidikan dasar 2009-2014. Untuk itu, dia meminta agar rencana pemberlakuan kurikulum ditunda dulu sampai betul-betul matang.

Sumber: http://edukasi.kompas.com

METODE PEMBELAJARAN; KAJIAN TAFSIR TARBAWI

METODE PEMBELAJARAN DAN PENGAJARAN
DALAM SURAT AL-QUR’AN
( Kajian Surat Al-Maidah Ayat 67 dan An-Nahl ayat 125 )

Disusun Oleh : Ibrohim1*

A. PENDAHULUAN
Metode merupakan hal yang sangat penting dalam proses belajar mengajar di lembaga pendidikan. Apabila proses pendidikan tidak menggunakan metode yang tepat maka akan sulit untuk mendapatkan tujuan pembelajaran yang diharapkan. Sinyalemen ini seluruh pendidik sudah maklum, namun masih saja di lapangan penggunaan metode mengajar ini banyak menemukan kendala.
Kendala penggunaan metode yang tepat dalam mengajar banyak dipengaruhi oleh beberapa faktor ; keterampilan guru belum memadai, kurangnya sarana dan prasarana, kondisi lingkungan pendidikan dan kebijakan lembaga pendidikan yang belum menguntungkan pelaksanaan kegiatan belajar mengajar yang variatif.
Apa yang ditemukan oleh Ahmad Tafsir (1992 : 131) mengenai kekurangtepatan penggunaan metode ini patut menjadi renungan. Beliau mengatakan pertama, banyak siswa tidak serius, main-main ketika mengikuti suatu meteri pelajaran, kedua gejala tersebut diikuti oleh masalah kedua yaitu tingkat penguasaan materi yang rendah, dan ketiga para siswa pada akhirnya akan menganggap remeh mata pelajaran tertentu1.
Kenyataan ini menunjukan betapa pentingnya metode dalam proses belajar mengajar. Tetapi betapapun baiknya suatu metode tetapi bila tidak diringi dengan kemampuan guru dalam menyampaikan maka metode tinggalah metode. Ini berarti faktor guru juga ikut menentukan dalam keberhasilan proses kegiatan belajar mengajar. Sepertinya kedua hal ini saling terkait. Metode yang baik tidak akan mencapai tujuan bila guru tidak lihai menyampaikannya. Begitu juga sebaliknya metode yang kurang baik dan konvensional akan berhasil dengan sukses, bila disampaikan oleh guru yang kharismatik dan berkepribadian, sehingga peserta didik mampu mengamalkan apa yang disampaikannya tersebut.
Al-Quran sebagai kitab suci umat Islam di dalamnya memuat berbagai informasi tentang seluruh kehidupan yang berkaitan dengan manusia. Karena memang Al-Qur’an diturunkan untuk umat manusia, sebagai sumber pedoman, sumber inspirasi dan sumber ilmu pengatahuan. Salah satunya adalah hal yang berkaitan dengan pendidikan.
B. PEMBELAJARAN DAN PENGAJARAN DALAM PRESFEKTIF AL-QUR’AN
Metode pembelajaran dan mengajar dalam Islam tidak terlepas dari sumber pokok ajaran yaitu Al-Qur’an. Al-Qur’an sebagai tuntunan dan pedoman bagi umat telah memberikan garis-garis besar mengenai pendidikan terutama tentang metode pembelajaran dan metode mengajar. Di bawah ini dikemukakan beberapa ayat Al-Qur’an yang berkaitan dengan metode pembelajaran dan mengajar dalam presfektif Al-Qur’an terutama dalam Surat Al-Maidah ayat 67 dan Surat An-Nahl ayat 125.
1. Surat Al-Maidah ayat 67

يَاأَيُّهَا الرَّسُولُ بَلِّغْ مَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ وَإِنْ لَمْ تَفْعَلْ فَمَا بَلَّغْتَ رِسَالَتَهُ وَاللَّهُ يَعْصِمُكَ مِنَ النَّاسِ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْكَافِرِينَ  (67)

a. Mufrodat

يَاأَيُّهَا الرَّسُولُ = Hai Rasul
بَلِّغْ = sampaikanlah
مَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ = apa yang di turunkan kepadamu
مِنْ رَبِّكَ = dari Tuhanmu.
وَإِنْ لَمْ تَفْعَلْ = Dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu)
فَمَا بَلَّغْتَ = kamu tidak menyampaikan
رِسَالَتَه ُ    =                            amanat-Nya
وَاللَّهُ يَعْصِمُكَ   =    Allah memelihara kamu
مِنَ النَّاسِ = dari (gangguan) manusia.
إِنَّ اللَّهَ = .        Sesungguhnya Allah
لَا يَهْدِي =  tidak memberi petunjuk
الْقَوْمَ الْكَافِرِينَ = kepada orang-orang yang kafir

b. Artinya
“Hai Rasul, sampaikanlah apa yang di turunkan kepadamu dari Tuhanmu. Dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan amanat-Nya. Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir” 2.

b. Asbabun Nuzul
Ada beberapa riwayat dengan turunnya surat Al-Maidah ayat 67 ini diantaranya:
“Dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa Rasulallah Saw pernah bersabda : “Sesungguhnya Allah telah mengutusku dengan risalah kerasulan. Hal tersebut menyesakkan dadaku karena aku tahu bahwa orang-orang akan mendustakan risalahku. Allah memerintahkan kepadaku, untuk menyampaikannya dan kalau tidak, Allah akan menyiksaku”. Maka turunlah ayat ini ( S.5 : 67) yang mempertegas perintah penyampaian risalah disertai jaminan akan keselamatannya3.
Dalam riwayat yang lain dikemukakan bahwa Siti Aisyah menyatakan bahwa nabi SAW biasanya dijaga oleh para pengawalnya sampai turun ayat “wallahu ya’shimuka minnannas’ (S.5 : 67) Setelah ayat itu turun Rasulullah menampakan dirinya dari kubbah sambil berkata ; “wahai saudar-saudaraku pulanglah kalian, Allah telah menjamin keselamatanku dalam menyebarkan dakwah ini. Sesungguhnya malam seperti ini baik untuk tidur di tempat tidur masing-masing. 4

c. Pembahasan
Tersirat dalam Surat Al-Maidah ini mengandung makna bahwa menyampaikan risalah itu merupakan perintah Tuhan. Allah memerintahkan Nabi untuk menyampaikan risalah kenabian kepada umatnya jika tidak maka nabi termasuk orang yang tidak menyampaikan amanat. Peringatan Allah kepada nabi mengakibatkan beliau sangat ketakutan sehingga dada nabi terasa sesak, saking beratnya tugas ini.
Kata-kata “baligh” dalam bahasa Arab itu merupakan pernyataan yang sangat jelas apalagi bentuknya fi’il “amr”. Dalam tafsir Al-Jalalin lafadz “baligh” terselip kandunganجميع (seluruhnya)5. Berarti nabi harus menyampaikan secara keseluruhan yang telah diterima dari Allah SWT. Tidak boleh ada yang disembunyikan sedikitpun dari Nabi (ولا تكتم شيئا منه ) 6. Dalam Tafsir Ibnu Katsir juga dijelaskan bahwa makna “baligh” dalam surat Al-Maidah merupakan fiil amr yang terkandung makna untuk menyampaikan seluruh yang diterima dari Allah SWT. Ibnu Katsir menulis :

يقول تعالى مخاطبا عبده ورسوله محمدا – صلى الله عليه وسلم – باسم الرساله وآمرا له بإبلاغ جميع ما أرسله الله به7

(Allah berkata pada hamba dan rasulnya yaitu Muhammad SAW dengan konteks kerisalahan dan memerintahkan untuk menyampaikan seluruh yang datang dari Allah)
Bagi nabi tugas ini sangat berat karena merupakan tanggung jawab dunia akherat. Saking beratnya perintah ini, dalam peristiwa “haji wada”, nabi sekali lagi menegaskan tentang tugas beliau yang telah dipikulkan padanya. Ini artinya sebuah perintah harus dipertangggungjawabkan. Bagi seorang guru pada akhir tugas pembelajaran harus ada pertanggungjawaban sehingga diketahui oleh public atau masyarakat umum. Kisah ini diceritakan sangat indah oleh Ibnu Katisr dalam menafsirkan Surat Al-Maidah ayat 67 ini. Beliau menguraikan :

قال الزهري من الله الرسالة وعلى الرسول البلاغ وعلينا التسليم وقد شهدت له أمته بإبلاغ الرسالة وأداء الأمانة واستنطقهم بذلك فى أعظم المحافل في خطبته يوم حجة الوداع وقد كان هناك من أصحابه نحو من أربعين ألفا كما ثبت في صحيح مسلم عن جابر بن عبد الله أن رسول الله – صلى الله عليه وسلم – قال في خطبته يومئذ:”ياأيها الناس إنكم مسئولون عني فما أنتم قائلون؟ قالوا نشهد أنك قد بلغت وأديت ونصحت فجعل يرفع أصبعه إلى السماء منكسها إليهم ويقول اللهم هل بلغت 8

Pada awalnya Nabi merasa takut untuk menyampaikan risalah kenabian. Namun karena ada dukungan lansung dari Allah maka keberanian itu muncul. Dukungan dari Allah sebgai pihak pemberi wewenang menimbulkan semangat dan etos dakwah nabi dalam menyampaikan risalah. Nabi tidak sendirian, di belakangnya ada semangat “Agung”, ada pemberi motivasi yang sempurna yaitu Allah SWT. Begitu pun dalam proses pembelajaran harus ada keberanian, tidak ragu-ragu dalam menyampaikan materi. Sebab penyampaian materi sebagai pewarisan nilai merupakan amanat agung yang harus diberikan. Bukankah nabi berpesan ; “yang hadir hendaknya menyampaikan kepada yang tidak hadir” . Sehingga Allah berfirman sebagai penegasan dukungan keselamatan :
وَاللَّهُ يَعْصِمُكَ مِنَ النَّاسِ = Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia
Imam AL-Qurtubi memperjelas dalam konteks kerisalahan nabi sebagai rasul. Beliau mengungkapkan sebab rasul tidak berani menyampaikan risalah kenabian secara terang-terangan. Beliau menulis dalam tafsirnya :
قيل: معناه أظهر التبليغ; لأنه كان في أول الإسلام يخفيه خوفا من المشركين, ثم أمر بإظهاره في هذه الآية, وأعلمه الله أنه يعصمه من الناس. 9
Arti “baligh” menurut Imam Al-Qurtubi lebih menampakan pada proses penyampaian amanah kapada masyarakat. Karena di awal penyebaran agama Islam nabi khawatir kepada orang-orang musyrik Makkah. Kemudian Allah memerintahkan untuk menampakan kerisalahan tersebut dengan diturunkannya ayat ini. Dan Allah memberitahu kepada nabi bahwa Allah akan menjaga keselamatannya. Bahkan bila nabi tidak menyampaikan ayat, menyembunyikan risalah dan amanat tersebut maka nabi dikatakan sebagai orang yang “kadzab”, berdusta. 10

Dalam Al-Qur’an banyak memuat istilah-istilah komunikasi sebagai salah satu metode pembelajaran. Istilah-istilah tersebut adalah ; Qaulan sadidan (QS 4 : 9), Qaulan maysuran (QS 17 : 28), Qaulan Layinan (QS 20 : 44), Qaulan kriman (QS 17 : 23), Qaulan Mau’rufan ( QS 4 : 5 ) dan istilah ” Qaulan Balighon” ( Qs 4 : 63 ) 11
Kata Qaulan Balighan di dalam Al-qur’an terdapat pada surat An-Nisaa ayat 63. Ayat ini mengisyaratkan mengenai prinsip-prinsip komunikasi sebagai sarana pembelajaran dan menyampaikan amanah. Ayat tersebut adalah :
أُولَئِكَ الَّذِينَ يَعْلَمُ اللَّهُ مَا فِي قُلُوبِهِمْ فَأَعْرِضْ عَنْهُمْ وَعِظْهُمْ وَقُلْ لَهُمْ فِي أَنْفُسِهِمْ قَوْلًا بَلِيغًا(63)
Artinya : Mereka itu adalah orang-orang yang Allah mengetahui apa yang di dalam hati mereka. Karena itu berpalinglah kamu dari mereka, dan berilah mereka pelajaran, dan katakanlah kepada mereka perkataan yang berbekas pada jiwa mereka12.

Kata “Baligh” dalam bahasa Arab atinya sampai, mengenai sasaran, atau mencapai tujuan. Bila dikaitkan dengan qawl (ucapan), kata balig berarti fasih, jelas maknanya, terang, tepat mengungkapkan apa yang dikehendaki. Karena itu prinsip qaulan balighan dapat diterjemahkan sebgai prinsip komunikasi yang effektif. Komunikasi yang efektif dan efisien dapat diperoleh bila memperhatikan pertama, bila dalam pembelajaran menyesuaikan pembicaranya dengan sifat khalayak. Istilah Al-Quran “fii anfusihiim”, artinya penyampaian dengan “bahasa” masyarakat setempat. Hal yang kedua agar komunikasi dalam proses pembelajaran dapat diterima peserta didik manakala komunikator menyentuh otak atau akal juga hatinya sekaligus13.
Tidak jarang di sela khotbahnya nabi berhenti untuk bertanya atau memberi kesempatan yang hadir untuk bertanya, terjadilah dialog. Khutbah nabi pendek tetapi padat penuh makna sehingga menyentuh dalam setiap sanubari pendengarnya.
2. Surat An-Nahl ayat 125

ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِين

a. Mufrodat

ادْعُ = Serulah (manusia)
إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ = kepada jalan Tuhanmu
بِالْحِكْمَةِ = dengan hikmah
وَالْمَوْعِظَةالْحَسَنَةِ = dan pelajaran yang baik
وَجَادِلْهُمْ = bantahlah mereka
بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ = dengan cara yang baik
إِنَّ رَبَّكَ = Sesungguhnya Tuhanmu
هُوَ أَعْلَمُ = Dialah yang lebih mengetahui
بِمَنْ ضَلَّ = tentang siapa yang tersesat
عَنْ سَبِيلِهِ = dari jalan-Nya
وَهُوَ أَعْلَمُ = Dialah yang lebih mengetahui
بِالْمُهْتَدِينَ = orang-orang yang mendapat petunjuk.

b. Artinya
“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.”

c. Makna Jumal
Makna umum dari ayat ini bahwa nabi diperintahkan untuk mengajak kepada umat manusia dengan cara-cara yang telah menjadi tuntunan Al-Qur’an yaitu dengan cara Al-hikmah, Mauidhoh Hasanah, dan Mujadalah. Dengan cara ini nabi sebagai rasul telah berhasil mengajak umatnya dengan penuh kesadaran. Ketiga metode ini telah mengilhami berbagai metode penyebaran Islam maupun dalam konteks pendidikan.
Proses serta metode pembelajaran dan pengajaran yang berorientasi filsafat lebah (An-Nahl) berarti membangun suatu sistem yang kuat dengan “jaring-jaring” (networking) yang menyebar ke segala penjuru. Analogi ini bisa menyeluruh ke peserta didik, guru, kepala sekolah, wali murid, komite sekolah dan instasi lain yang terkait. Sehingga menjadi komponen pendidikan yang utuh, menjadi satu sistem yang tidak bisa dipisahkan satu dengan yang lain.

d. Pembahasan
Pada awalnya ayat ini berkaitan dengan dakwah Rasulullah SAW. Kalimat yang digunakan adalah fiil amr “ud’u” (asal kata dari da’a-yad’u-da’watan) yang artinya mengajak, menyeru, memanggil14. Dalam kajian ilmu dakwah maka ada prinsip-prinsip dalam menggunakan metode dakwah yang meliputi hikmah, maudhoh hasanah, mujadalah. Metode ini menyebar menjadi prinsip dari berbagai system, berbagai metode termasuk komunikasi juga pendidikan. Seluruh dakwah, komunikasi dan pendidikan biasanya merujuk dan bersumber pada ayat ini sebagai prinsip dasar sehingga terkenal menjadi sebuah “metode”.
Secara etimologi metode berasal dari bahasa Greeka, yaitu “Metha” artinya melalui atau melewati dan “Hodos” artinya jalan atau cara15.Dalam kajian keislaman metode berarti juga “Thoriqoh”16, yang berarti langkah-langkah strategis yang dipersiapkan untuk melakukan suatu pekerjaan. Dengan demikian metode mengajar dapat diartikan sebagai cara yang digunakan oleh guru dalam membelajarkan peserta didik saat berlangsungnya proses pembelajaran.
Adapun secara terminologi, para ahli pendidikan mendefinisikan metode sebagai berikut : 1). Hasan Langgulung mendefinisikan bahwa metode adalah cara atau jalan yang harus dilalui untuk mencapai tujuan pendidikan. 2). Abd. Al – Rahman Ghunaimah mendefinisikan bahwa metode adalah cara-cara yang praktis dalam mencapai tujuan pengajaran. 3). Ahmad Tafsir mendefinisikan metode mangajar adalah cara yang paling tepat dan cepat dalam mengajarkan mata pelajaran17
Ada beberapa landasan dasar dalam menentukan metode yang tepat dalam mengajar diantaranya diulas oleh Abu Ahmadi, beliau mengatakan bahwa landasan untuk pemilihan metode ialah : 1). Sesuai dengan tujuan pengajaran agama. 2). Sesuai dengan jenis-jenis kegiatan. 3). Menarik perhatian murid.4). Maksud metodenya harus dipahami siswa. 5). Sesuai dengan kecakapan guru agama yang bersangkutan18.
Dalam tafsir Al-Maroghi dijelaskan bahwa Nabi Muhammad SAW dianjurkan untu meniru Nabi Ibrohim yang memiliki sifat-sifat mulia, yang telah mencapai puncak derajat ketinggian martabat dalam menyampaikan risalanya19. Allah berfirman :
ثُمَّ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ أَنِ اتَّبِعْ مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ
Kemudian Kami wahyukan kepadamu (Muhammad): “Ikutilah agama Ibrahim seorang yang hanif.” dan bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan.
Dalam surat An-Nahl (lebah) ayat 125 ini, terdapat tiga prinsip dalam implementasi metode penyampaian (dakwah, pembelajaran, pengajaran, komunikasi dan sebagainya) yaitu ;
1. Al-Hikmah
Dalam bahasa Arab Al-hikmah artinya ilmu, keadilan, falsafah, kebijaksanaan, dan uraian yang benar20. Al-hikmah berarti mengajak kepada jalan Allah dengan cara keadilan dan kebijaksanaan, selalu mempertimbangkan berbagai faktor dalam proses belajar mengajar, baik faktor subjek, obyek, sarana, media dan lingkungan pengajaran. Pertimbangan pemilihan metode dengan memperhatikan audiens atau peserta didik diperlukan kearifan agar tujuan pembelajaran tercapai dengan maksimal.
Imam Al-Qurtubi menafsirkan Al-hikmah dengan “kalimat yang lemah lembut”. Beliau menulis dalam tafsirnya :
وأمره أن يدعو إلى دين الله وشرعه بتلطف ولين دون مخاشنة وتعنيف, وهكذا ينبغي أن يوعظ المسلمون إلى يوم القيامة 21
Nabi diperintahkan untuk mengajak umat manusia kepada “dienullah” dan syariatnya dengan lemah lembut tidak dengan sikap bermusuhan. Hal ini berlaku kepada kaum muslimin seterusnya sebagai pedoman untuk berdakwah dan seluruh aspek penyampaian termasuk di dalamnya proses pembelajaran dan pengajaran. Hal ini diinspirasikan dari ayat Al-Qur’an dengan kalimat “qaulan layinan”. Allah berfirman :
فَقُولَا لَهُ قَوْلًا لَيِّنًا لَعَلَّهُ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَى(44
“Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut”.
Proses belajar mengajar dapat berjalan dengan baik dan lancar manakala ada interaksi yang kondusif antara guru dan peserta didik. Komunikasi yang arif dan bijaksana memberikan kesan mendalam kepada para siswa sehingga “teacher oriented” akan berubah menjadi “student oriented”. Guru yang bijaksana akan selalu memberikan peluang dan kesempatan kapada siswanya untuk berkembang.
Al-Hikmah dalam tafsir At-Tobari adalah menyampaikan sesuatu yang telah diwahyukan kepada nabi. Ath-Thobari menguraikan :
22يقول بوحى الله الذى يوحيه اليك, وكتابه الذى نزله عليك  بالحكمة )
Hal ini hampir senada dengan Mustafa Al-Maroghi bahwa Al-Hikmah cenderung diartikan sebagai sesuatu yang diwahyukan. 23 Demikian pula dalam tafsir Al-Jalalain Al-hikmah diartikan dengan Al-Qura’nul kariem sebagai sesuatu yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad SAW. An-Naisaburi menegaskan bahwa yang dimaksud Al-hikmah adalah tanda atau metode yang mengandung argumentasi yang kuat (Qoth’i) sehingga bermanfaat bagi keyakinan. Beliau menulis :
(بالحكمة ) اشارة الى استعمال الحجج القطعية المفيدة لليقين24
Nampak dengan gamblang sebenarnya yang dimaksud dengan penyampaian wahyu dengan hikmah ini yaitu penyampaian dengan lemah lembut tetapi juga tegas dengan mengunakan alasan-dalil dan argumentasi yang kuat sehingga dengan proses ini para peserta didik memiliki keyakinan dan kemantapan dalam menerima materi pelajaran. Materi pembelajaran bermanfaat dan berharga bagi dirinya, merasa memperoleh ilmu yang berkesan dan selalu teringat sampai masa yang akan datang.
2. Mauidzah Hasanah
Maudzah hasanah terdiri dari dua kata “al-Maudzah dan Hasanah”. Al-mauidzah dalam tinjauan etimologi berarti “pitutur, wejangan, pengajaran, pendidikan, sedangkan hasanah berarti baik. Bila dua kata ini digabungkan bermakna pengajaran yang baik. Ibnu Katsir menafsiri Al-mauidzah hasanah sebagai pemberian peringatan kepada manusia, mencegah dan menjauhi larangan sehingga dengan proses ini mereka akan mengingat kepada Allah. Ibnu Katsir menulis sebagai berikut :
والموعظة الحسنة أي بما فيه من الزواجر والوقائع بالناس ذكرهم بها ليحذروا بأس الله تعالى25
At-Thobari mengartikan mauidzah hasanah dengan “Al-ibr al-jamilah” yaitu perumpamaan yang indah bersal dari kitab Allah sebagai hujjah, argumentasi dalam proses penyampaian.26 Pengajaran yang baik mengandung nilai-nilai kebermanfaatan bagi kehidupan para siswa. Mauidzah hasanah sebagai prinsip dasar melekat pada setiap da’i (guru, ustadz, mubaligh) sehingga penyampaian kepada para siswa lebih berkesan. Siswa tidak merasa digurui walaupun sebenarnya sedang terjadi penstranferan nilai.
Al-Imam Jalaludin Asy-Syuyuti dan Jalaludin Mahali mengidentikan kata “Al-Mauidah” itu dengan kalimat مواعظه أو القول الرقيق artinya perkataan yang lembut27. Pengajaran yang baik berarti disampaikan melalui perkataan yang lembut diikuti dengan perilaku hasanah sehinga kalimat tersebut bermakna lemah lembut baik lagi baik.
Dengan melalui prinsip maudzoh hasanah dapat memberikan pendidikan yang menyentuh, meresap dalam kalbu. Ada banyak pertimbangan (multi approach) agar penyampaian materi bisa diterima oleh peserta didik diantaranya : a).Pendekatan Relegius, yang menekankan bahwa manusia adalah makhluk relegius dengan bakat-bakat keagamaan. Metode pendidikan Islam harus merujuk pada sumber ajaran Islam yaitu Al-Qur’an dan Al-Hadits, b). Dasar Biologis, pertumbuhan jasmani memegang peranan yang sangat penting dalam proses pendidikan, c).Dasar Psikologis, metode pendidikan Islam bisa effektif dan efesien bila didasarkan pada perkembangan psikis meliputi motivasi, emosi, minat, sikap, keinginan, kesediaan, bakat-bakat dan kecakapan akal intelektual, d). Dasar Sosiologis, pendekatan social interaksi antar siswa, guru dengan siswa sehingga memberikan dampak positif bagi keduanya.
3. Mujadalah
Kata mujadalah berasal dari kata “jadala” yang makna awalnya percekcokan dan perdebatan28. Kalimat “jadala” ini banyak terdapat dalam Al-Qur’an diantaranya dalam surat Al-Kahhfi ayat 54 وَكَانَ الْإِنْسَانُ أَكْثَرَ شَيْءٍ جَدَلً)), dalam surat Az-Zukhruf ayat : 56, (َقَالُوا أَآلِهَتُنَا خَيْرٌ أَمْ هُوَ مَا ضَرَبُوهُ لَكَ إِلَّا جَدَلًا بَلْ هُمْ قَوْمٌ خَصِمُونَ). Kalimat “jadala” dengan berbagai variasinya juga bertebaran dalam Al-Qur’an, seperti pada surat (2:197), (4:107,109), (6:25, 121), ( 7 : 71), ( 11:32,74), (13:13), (18:54,56(, (22:8,68), (29:46), (31;20), (40 :4,5,32,56,69), 24:35), (43:58), (58:1). Bahkan ada surat yang bernama “Al-Mujaadilah” ( perempuan-perempuan yang mengadakan gugatan)
Mujadalah dalam konteks dakwah dan pendidikan diartikan dengan dialog atau diskusi sebagai kata “ameliorative” berbantah-bantahan. Mujadalah berarti menggunakan metode diskusi ilmiyah yang baik dengan cara lemah lembut serta diiringi dengan wajah penuh persahabatan sedangkan hasilnya diserahkan kepada Allah SWT29.
Hal senada juga disampaikan oleh Ibnu Katsir dalam tafsirmya bahwa mujadalah ini adalah cara penyampaian melalui diskusi dengan wajah yang baik kalimat lemah lembut dalam berbicara, seperti firman Allah :
“ولا تجادلوا أهل الكتاب إلا بالتي هي أحسن إلا الذين ظلموا منهم” الآية
فأمره تعالى بلين الجانب كما أمر به موسى وهارون عليهما السلام حين بعثهما إلى فرعون في قوله “فقولا له قولا لينا لعله يتذكر أو يخشى30″.
Metode penyampaian ini dicontohkan oleh Nabi Musa dan Nabi Harun ketika berdialog-diskusi dan berbantahan dengan Fir’aun. Sedangkan hasil akhirnya dikembalikan kepada Allah SWT. Sebab hanya Allahlah yang mengetahui orang tersebut mendapat petunjuk atau tidak.
Metode diskusi yaitu cara penyampaian bahan pelajaran dengan memberikan kesempatan kepada siswa untuk membicarakan, menganalisa guna mengumpulkan pendapat, membuat kesimpulan atau menyusun berbagai alternative pemecahan masalah. Dalam kajian metode mengajar disebut metode “hiwar” (dialog). Diskusi memberikan peluang sebesar-besarnya kepada para siswa untuk mengeksplor pengetahuan yang dimilikinya kemudian dipadukan dengan pendapat siswa lain. Satu sisi mendewasakan pemikiran, menghormati pendapat orang lain, sadar bahwa ada pandapat di luar pendapatnya dan disisi lain siswa merasa dihargai sebagai individu yang memiliki potensi, kemampuan dan bakat bawaannya.
An-Naisaburi memberikan ilustrasi bahwa mujadalah itu adalah sebuah metode “أي بالطريقة”. Diskusi (mujadalah) tidak akan memperoleh tujuan apabila tidak memperhatikan metode diskusi yang benar, yang hak sehingga diskusi jadi “bathal” tidak didengarkan oleh mustami’in31.
Metode mujadalah lebih menekankan kepada pemberian dalil, argumentasi dan alasan yang kuat. Para siswa berusaha untuk menggali potensi yang dimilikinya untuk mencari alasan-alasan yang mendasar dan ilmiyah dalam setiap argumen diskusinya. Para guru hanya bertindak sebagai motivator, stimulator, fasilitator atau sebagai instruktur. Sistem ini lebih cenderung ke “Student Centre” yang menekankan aspek penghargaan terhadap perbedaan individu para peserta didik (individual differencies) bukan “Teacher Centre”.
C. PENUTUP
Al-Quran sebagai sumber segala sumber pedoman menjadikannya inspirator yang sangat kental dalam setiap gerak pemikiran umat Islam. Dalam berbagai bidang masyarakat muslim yang relegius akan selalu merujuk kepada wahyu sebagai firman Tuhan yang disampaikan melaluinya nabi-NYA.
Pendidikan merupakan salah satu sendi dalam beragama. Ajaran Islam bisa bertahan sampai saat ini salah satunya karena ada proses pendidikan disamping dakwah tentunya. Islam berkambang dan hidup mencapai masa keemasan (Islam Kalsik) karena ada tradsisi ilmiyah, tradisi intelektual dengan semangat mengamban amanat suci menyebarkan ajaran Islam ke penjuru dunia. Para da’i yang menyebar ke seluruh penjuru dunia tersebut menggunakan Al-Qur’an sebagai pedoman baik dari segi orientasi, tujuan, cara atau metode penyampaian, media dan alat bahkan materi yang terkandung dalam penyampaiannya pun diambil dari Al-Quran.
Dalam surat Al-Maidah ayat 67 mengandung unsur perintah untuk menyebarkan agama Islam sebagai pedoman hidup. Ayat inilah yang memberikan motivasi kepada nabi untuk menyampaikan risalah kenabian. Ada ungkapan “Sampaikan ajaran Islam ini walaupun satu ayat”. ( بلغوا عنى ولو اية). Walaupun pada awalnya nabi merasa khawatir kepada kaum musyrikin Makkah namun karena ada dorongan dan perintah Tuhan (dan Tuhan telah memberikan jaminan keselamatan) maka nabi dengan keberanian menyampaikan risalah kenabian tersebut kepada umatnya.
Dalam menyampaikan risalah tersebut Nabi Muhammad SAW memperoleh pedoman yang sangat berharga yaitu berupa prinsip-prinsip dasar dalam metode menyampaikan materi ajaran Islam yang tercantum dalam surat An-Nahl ayat 125. Ayat ini memuat tentang prisnsip-prinsip berdakwah ( mengajar, mendidik ) yang terdiri dari Al-Hikmah (arif-bijaksana bersumber dari Al-Qur’an), Maudzoh Hasanah (perkataan yang baik, lemah lembut) dan Mujadalah (diskusi, dialog bila perlu berdebat ).
Prinsip dasar ini berkembang menjadi beberapa inspirasi dalam konteks kekinian baik dalam bidang dakwah, komunikasi, public relition, pendidikan dan hal-hal lain yang berhubungan dengan interaksi sesama manusia. Pendidikan sebagai salah satu bagian dari dakwah yaitu mengajak manusia dalam hal kebaikan dan mencegah keburukan tidak terlepas dari penggunaan beberapa prinsip tersebut di atas. Sehingga peserta didik bisa mendapatkan ilmu serta terjadi perubahan tingkah laku yang diharapkan dari setiap proses kegiatan belajar mengajar.

FOOTNOTE

*Mahasiswa program Pascasarjana STAIN Cirebon konsentrasi Psikologi Pendidikan Islam , Tinggal di Indramayu
1.Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan Dalam Perspektif Islam, ( Bandung : Remaja Rosda Karya, 1992), hlm. 131
2. Untuk memudahkan penerjemahan dan standarisasi pemahaman lihat dan bandingkan dengan Departemen Agama RI, Al-Qur’an Dan Terjemahnya ;Dengan Transliterasi, ( Semarang : Karya Toha puta, tt), hlm. 221-222
3. K.H.Qamaruddin Shaleh DKK, Asbabun Nuzul ; Latar Belakang Historis Turunnya Ayat-Ayat Al-Qur’an, ( Bandung : CV. Diponegoro , 1992), hal.189
4.Ibid. Untuk lebih jelasnya, baca lebih jauh Asbabun Nuzul Surat Al-Maidah ini dalam halaman 189–191. Di sini banyak riwayat yang menjelaskan sebab-sebab turunnya ayat ini dengan berbagai versinya. Termasuk cerita ketika nabi sedang istirahat berteduh di bawah pohon, pedang beliau digantungkan di pohon. Maka datanglah seorang laki-laki dan mengambil pedang tersebut sambil berkata : Siapa yang menghalangi Engkau dariku wahai Muhammad ?. Nabi bersabda : Allah yang akan melindungiku dari godaanmu. Ketika pedang itu diletakannya kembali maka turunlah ayat ini ( S.5 : 67 ) yang menegaskan jaminan keselamatan jiwa Rasulullah dari tangan usil manusia.
5.Al-Imamul Jalalain, Tafsir Al-Quranul Adzim, ( Indonesia, Maktabah Dar ihya al-kutub al-arabiyah, tt), hlm. 104. Kitab tafsir ini terkenal dengan nama tafsir “Jalalain”, artinya dua Jalal. Yang dimaksud dengan dua Jalal adalah nama tokoh ilmuwan Islam dalam bidang tafsir yaitu Jalaluddin Muhammad Ibn Ahmad Mahalli dan Jalaluddin Abdurahaman ibn Abi bakr Asy-Syuyuti. Di pesantren kitab tafsir ini menjadi salah satu kitab tafsir wajib yang harus dipelajari bagi setiap santri ( menjadi kontens kurikullumnya pesantren)
6. Ibid.
7.Ibnu Katsir, Tafsir Ibnu Katstir ( CD. Holly Qur,an ).
8.Ibid.,Pertanggungjawaban nabi disampaikan ketika nabi menjalankan ibadah haji (terkenal dengan haji wada’ karena haji itu adalah haji terakhir nabi; haji perpisahan). Disaksikan sekitar 40 ribu orang. Beliau berkata ; Wahai manusia….dst. Inti dari pertanggungjawaban nabi adalah tentang amanat kerisalahan yang dibebankan Allah kepadanya. Para sahabat (manusia) menjawab : Kami bersaksi bahwa Engkau telah menyampaikan risalah, menjalankan amanah. Beliau mengangkat kedua tangannya ke atas langit sambil berdoa (simbol kesaksian) “Allahuma hal Balagta…..Kemudian Beliau berpesan bahwa yang hadir untuk menyampaikan kepada yang tidak hadir sebagai kesinambungan proses risalah kenabian.
9.Nama Aslinya adalah Abu Abdullah Muhammad Ibn Ahmad Anshori Al-Qurtubi. Terkenal dengan sebutan Imam Al-Qurtubi, Al-Jami’ul Ahkam Al-Qur’an, ( Bairut-Libanon : Darulkutub al-ilmiyah, 1413 H/1993 M), hlm. 131
10.Ibid. من حدثك أن محمدا صلى الله عليه وسلم كتم شيئا من الوحى فقد كذب; والله تعالى يقول: “يا أيها الرسول بلغ ما أنزل إليك من ربك وإن لم تفعل فما بلغت رسالته” وقبح الله الروافض حيث قالوا: إنه صلى الله عليه وسلم كتم شيئا مما أوحى إليه كان بالناس حاجة إليه.
11. Jalaludin Rahmat, Islam Aktual, ( Bandunng : Mizan, 1992 ), hlm. 77.
12. Bandingkan dengan terjemahan Al-Qur’an Departemen Agma RI., Op., Cit. hlm. 163
13.Jalaudin Rahmat Op., Cit., hlm. 78
14.Faisal Ismail, Dakwah pembangunan ; Metodologi Dakwah, ( Yogyakarta : Penerbit Prop. DIY, 1992), hlm. 199
15.Abu Ahmadi, Metodik Pengajaran (Bandung : Pustaka Setia, 1985), hlm. 9
16.Ramayulis, Pendidikan Agama Islaam ( Jakarta : Kalam Mulia, 2006), hlm. 184
17.Ibid., hlm. 184-185
18.Abu Ahmadi., Op Cit., hal 104
19.Ahmad Mustofa Al-Maroghi, Tafsir Al-Maroghi, (terjemah), ( Semarang : Toha Putra, 1987), hlm. 289
20. Husen Al-Habsy, Kamus Arab Lengkap, ( Bangil : YAPPI, 1989), hlm. 64
21.Imam Al-Qurtubi., Loc.,Cit,.
22.Ja’far Muhmaad ibn Jarir Ath-Thobarii, Tafsir Ath-Thobari ; Jami’ul BAyan Ta’wilul Qur’an, ( Bairut-Libanon : Darul kutubul Ilmiuah, 1996), hlm. 663.
23. Al-Mustofa Al-Maroghi, Loc.Cit,
24. An-Naisaburi, Tafsir Ghoroibil Qur’an wa roghoibil Furqon, ( Bairut-Libanon : Darul kutubul Ilmiuah, 1996), hlm. 316
25. Ibnu Katisr., Loc., Cit.
26. Ath-Thobari, Loc. Ci.
27. Jalaludin Asy-Syuyuti daan Jalaluddin Mahalli, Loc., Cit.
28. Husen Al-HAbsyi., Op.Cit., hlm. 43
29. Imam Al-Baidhowi, Tafsir Al-Baidhowi ; Anwarul Tanzil wa Asrarul Ta’wil ( Bairut-Libanon : Darul Kutub Al-Ilmiyah, 1408 H/1988M), hlm. 571. Nama lengkap Al-Imam Al-Baidwowi adalah NAshiruddin Abi said Ibn Umar Muhammad ASy-yaeroji Al-Baidhowi
30. Ibnu Katsir., Loc.,Cit.
31. An-NAisaburi, Loc., Cit.

Sumber: brohimnaw.wordpress.com

Kurikulum 2013

Kurikulum 2013

Oleh Mohammad Nuh

KOMPAS.com - Dalam beberapa bulan terakhir, harian Kompas memuat tulisan dari mereka yang pro ataupun kontra terhadap rencana implementasi Kurikulum 2013. Saya menyampaikan ucapan terima kasih dan penghargaan yang tinggi atas berbagai pandangan tersebut.

Saya berkesimpulan, mereka yang mempertanyakan Kurikulum 2013 adalah karena ada perbedaan cara pandang atau belum memahami secara utuh konsep kurikulum berbasis kompetensi yang menjadi dasar Kurikulum 2013. Secara falsafati, pendidikan adalah proses panjang dan berkelanjutan untuk mentransformasikan peserta didik menjadi manusia yang sesuai dengan tujuan penciptaannya, yaitu bermanfaat bagi dirinya, bagi sesama, bagi alam semesta, beserta segenap isi dan peradabannya.

Dalam UU Sisdiknas, menjadi bermanfaat itu dirumuskan dalam indikator strategis, seperti beriman-bertakwa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Dalam memenuhi kebutuhan kompetensi abad ke-21, UU Sisdiknas juga memberikan arahan yang jelas bahwa tujuan pendidikan harus dicapai salah satunya melalui penerapan kurikulum berbasis kompetensi. Kompetensi lulusan program pendidikan harus mencakup tiga kompetensi, yakni sikap, pengetahuan, dan keterampilan, sehingga yang dihasilkan adalah manusia seutuhnya. Dengan demikian, tujuan pendidikan nasional perlu dijabarkan menjadi himpunan kompetensi dalam tiga ranah kompetensi (sikap, pengetahuan, dan keterampilan). Di dalamnya terdapat sejumlah kompetensi yang harus dimiliki seseorang agar dapat menjadi orang beriman dan bertakwa, berilmu, dan seterusnya.

Mengingat pendidikan idealnya proses sepanjang hayat, maka lulusan atau keluaran dari suatu proses pendidikan tertentu harus dipastikan memiliki kompetensi yang diperlukan untuk melanjutkan pendidikannya secara mandiri sehingga esensi tujuan pendidikan tercapai.

Perencanaan pembelajaran

Dalam usaha menciptakan sistem perencanaan, pelaksanaan, dan pengendalian yang baik, proses panjang tersebut dibagi beberapa jenjang, berdasarkan perkembangan dan kebutuhan peserta didik. Setiap jenjang dirancang memiliki proses sesuai perkembangan dan kebutuhan peserta didik sehingga ketidakseimbangan antara input yang diberikan dan kapasitas pemrosesan dapat diminimalkan. Sebagai konsekuensi dari penjenjangan ini, tujuan pendidikan harus dibagi-bagi menjadi tujuan antara. Pada dasarnya, kurikulum merupakan perencanaan pembelajaran yang dirancang berdasarkan tujuan antara di atas. Proses perancangannya diawali dengan menentukan kompetensi lulusan (standar kompetensi lulusan). Hasilnya, kurikulum jenjang satuan pendidikan.

Dalam teori manajemen, sebagai sistem perencanaan pembelajaran yang baik, kurikulum harus mencakup empat hal. Pertama, hasil akhir pendidikan yang harus dicapai peserta didik (keluaran), dan dirumuskan sebagai kompetensi lulusan. Kedua, kandungan materi yang harus diajarkan kepada, dan dipelajari oleh peserta didik (masukan/standar isi), dalam usaha membentuk kompetensi lulusan yang diinginkan. Ketiga, pelaksanaan pembelajaran (proses, termasuk metodologi pembelajaran sebagai bagian dari standar proses) supaya ketiga kompetensi yang diinginkan terbentuk pada diri peserta didik. Keempat, penilaian kesesuaian proses dan ketercapaian tujuan pembelajaran sedini mungkin untuk memastikan bahwa masukan, proses, dan keluaran tersebut sesuai dengan rencana.

Dengan konsep kurikulum berbasis kompetensi, tak tepat jika ada yang menyampaikan bahwa pemerintah salah sasaran saat merencanakan perubahan kurikulum karena yang perlu diperbaiki sebenarnya metodologi pembelajaran, bukan kurikulum (Mohammad Abduhzen, ”Urgensi Kurikulum 2013”, Kompas 21/2 dan ”Implementasi Pendidikan”, Kompas 6/3). Hal ini menunjukkan belum dipahaminya secara utuh bahwa kurikulum berbasis kompetensi mencakup metodologi pembelajaran. Tanpa metodologi pembelajaran yang sesuai, tak akan terbentuk kompetensi yang diharapkan. Sebagai contoh, dalam Kurikulum 2013, kompetensi lulusan dalam ranah keterampilan untuk SD dirumuskan sebagai ”memiliki (melalui mengamati, menanya, mencoba, mengolah, menyaji, menalar, mencipta) kemampuan pikir dan tindak yang produktif dan kreatif, dalam ranah konkret dan abstrak, sesuai yang ditugaskan kepadanya.”

Kompetensi semacam ini tak akan tercapai bila pengertian kurikulum diartikan sempit, tak termasuk metodologi pembelajaran. Proses pembentukan kompetensi itu sudah dirumuskan dengan baik melalui kajian para peneliti, dan akhirnya diterima luas sebagai suatu taksonomi. Pemikiran pengembangan Kurikulum 2013 seperti diuraikan di atas dikembangkan atas dasar taksonomi-taksonomi yang diterima secara luas, kajian KBK 2004 dan KTSP 2006, dan tantangan abad ke-21 serta penyiapan Generasi 2045. Dengan demikian, tidaklah tepat apa yang disampaikan Elin Driana, ”Gawat Darurat Pendidikan” (Kompas, 14/12/2012) yang mengharapkan sebelum Kurikulum 2013 disahkan, baiknya dilakukan evaluasi terhadap kurikulum sebelumnya.

Mengatakan tak ada masalah dengan kurikulum saat ini adalah kurang tepat. Sebagai contoh, hasil pembandingan antara materi TIMSS 2011 dan materi kurikulum saat ini, untuk mata pelajaran Matematika dan IPA, menunjukkan, kurang dari 70 persen materi TIMSS yang telah diajarkan sampai dengan kelas VIII SMP. Belum lagi rumusan kompetensi yang belum sesuai tuntutan UU dan praktik terbaik di dunia, ketidaksesuaian materi mata pelajaran dan tumpang tindih yang tak diperlukan pada beberapa materi mata pelajaran, kecepatan pembelajaran yang tak selaras antarmata pelajaran, dangkalnya materi, proses, dan penilaian pembelajaran, sehingga peserta didik kurang dilatih bernalar dan berpikir.

Kompetensi inti

Kompetensi lulusan jenjang satuan pendidikan pun masih memerlukan rencana pendidikan yang panjang untuk pencapaiannya. Sekali lagi, teori manajemen mengajarkan, untuk memudahkan proses perencanaan dan pengendaliannya, pencapaian jangka panjang perlu dibagi-bagi jadi beberapa tahap sesuai jenjang kelas di mana kurikulum tersebut diterapkan.

Sejalan dengan UU, kompetensi inti ibarat anak tangga yang harus ditapak peserta didik untuk sampai pada kompetensi lulusan jenjang satuan pendidikan. Kompetensi inti meningkat seiring meningkatnya usia peserta didik yang dinyatakan dengan meningkatnya kelas.

Melalui kompetensi inti, sebagai anak tangga menuju ke kompetensi lulusan, integrasi vertikal antarkompetensi dasar dapat dijamin, dan peningkatan kemampuan peserta dari kelas ke kelas dapat direncanakan. Sebagai anak tangga menuju ke kompetensi lulusan multidimensi, kompetensi inti juga multidimensi. Untuk kemudahan operasionalnya, kompetensi lulusan pada ranah sikap dipecah menjadi dua, yaitu sikap spiritual terkait tujuan membentuk peserta didik yang beriman dan bertakwa, dan kompetensi sikap sosial terkait tujuan membentuk peserta didik yang berakhlak mulia, mandiri, demokratis, dan bertanggung jawab.

Kompetensi inti bukan untuk diajarkan, melainkan untuk dibentuk melalui pembelajaran mata pelajaran-mata pelajaran yang relevan. Setiap mata pelajaran harus tunduk pada kompetensi inti yang telah dirumuskan. Dengan kata lain, semua mata pelajaran yang diajarkan dan dipelajari pada kelas tersebut harus berkontribusi terhadap pembentukan kompetensi inti.

Ibaratnya, kompetensi inti merupakan pengikat kompetensi-kompetensi yang harus dihasilkan dengan mempelajari setiap mata pelajaran. Di sini kompetensi inti berperan sebagai integrator horizontal antarmata pelajaran. Dengan pengertian ini, kompetensi inti adalah bebas dari mata pelajaran karena tidak mewakili mata pelajaran tertentu. Kompetensi inti merupakan kebutuhan kompetensi peserta didik, sedangkan mata pelajaran adalah pasokan kompetensi dasar yang akan diserap peserta didik melalui proses pembelajaran yang tepat menjadi kompetensi inti. Bila pengertian kompetensi inti telah dipahami dengan baik, tentunya tidak akan ada kritikan bahwa Kurikulum 2013 adalah salah dengan alasan pada ”Kompetensi Inti Bahasa Indonesia” tidak terdapat kompetensi yang mencerminkan kompetensi Bahasa Indonesia karena memang tak ada yang namanya kompetensi inti Bahasa Indonesia, sebagaimana dipertanyakan Acep Iwan Saidi, ”Petisi untuk Wapres” (Kompas, 2/3).

Dalam mendukung kompetensi inti, capaian pembelajaran mata pelajaran diuraikan menjadi kompetensi dasar-kompetensi dasar yang dikelompokkan menjadi empat. Ini sesuai dengan rumusan kompetensi inti yang didukungnya, yaitu dalam kelompok kompetensi sikap spiritual, kompetensi sikap sosial, kompetensi pengetahuan, dan kompetensi keterampilan.

Uraian kompetensi dasar sedetail ini adalah untuk memastikan capaian pembelajaran tidak berhenti sampai pengetahuan saja, melainkan harus berlanjut ke keterampilan, dan bermuara pada sikap. Kompetensi dasar dalam kelompok kompetensi inti sikap bukanlah untuk peserta didik karena kompetensi ini tidak diajarkan, tidak dihapalkan, tidak diujikan, tapi sebagai pegangan bagi pendidik, bahwa dalam mengajarkan mata pelajaran tersebut ada pesan-pesan sosial dan spiritual yang terkandung dalam materinya.

Apabila konsep pembentukan kompetensi ini dipahami dapat mengurangi, bahkan menghilangkan, kegelisahan yang disampaikan L Wilardjo dalam ”Yang Indah dan yang Absurd” (Kompas, 22/2).

Kedudukan bahasa

Uraian rumusan kompetensi seperti itu masih belum cukup untuk dapat digunakan, terutama saat merancang kurikulum SD (jenjang sekolah paling rendah), tempat peserta didik mulai diperkenalkan banyak kompetensi untuk dikuasai. Pada saat memulainya pun, peserta didik SD masih belum terlatih berpikir abstrak. Dalam kondisi seperti inilah, maka terlebih dulu perlu dibentuk suatu saluran yang menghubungkan sumber-sumber kompetensi, yang sebagian besarnya abstrak, kepada peserta didik yang masih mulai belajar berpikir abstrak. Di sini peran bahasa menjadi dominan, yaitu sebagai saluran mengantarkan kandungan materi dari semua sumber kompetensi kepada peserta didik.

Usaha membentuk saluran sempurna (perfect channels dalam teknologi komunikasi) dapat dilakukan dengan menempatkan bahasa sebagai penghela mata pelajaran-mata pelajaran lain. Dengan kata lain, kandungan materi mata pelajaran lain dijadikan sebagai konteks dalam penggunaan jenis teks yang sesuai dalam pelajaran Bahasa Indonesia. Melalui pembelajaran tematik integratif dan perumusan kompetensi inti, sebagai pengikat semua kompetensi dasar, pemaduan ini akan dapat dengan mudah direalisasikan.

Dengan cara ini pula, pembelajaran Bahasa Indonesia dapat dibuat menjadi kontekstual, sesuatu yang hilang pada model pembelajaran Bahasa Indonesia saat ini, sehingga pembelajaran Bahasa Indonesia kurang diminati pendidik dan peserta didik. Melalui pembelajaran Bahasa Indonesia yang kontekstual, peserta didik sekaligus dilatih menyajikan bermacam kompetensi dasar secara logis dan sistematis. Mengatakan kompetensi dasar Bahasa Indonesia SD, yang memuat penyusunan teks untuk menjelaskan pemahaman peserta didik, terhadap ilmu pengetahuan alam sebagai mengada-ada (Acep Iwan Saidi, ”Petisi untuk Wapres”), sama saja dengan melupakan fungsi bahasa sebagai pembawa kandungan ilmu pengetahuan.

Kurikulum 2013 adalah kurikulum berbasis kompetensi yang pernah digagas dalam Rintisan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) 2004, tetapi belum terselesaikan karena desakan untuk segera mengimplementasikan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan 2006. Rumusannya berdasarkan sudut pandang yang berbeda dengan kurikulum berbasis materi sehingga sangat dimungkinkan terjadi perbedaan persepsi tentang bagaimana kurikulum seharusnya dirancang. Perbedaan ini menyebabkan munculnya berbagai kritik dari yang terbiasa menggunakan kurikulum berbasis materi. Untuk itu, ada baiknya memahami lebih dahulu konstruksi kompetensi dalam kurikulum sesuai koridor yang telah digariskan UU Sisdiknas sebelum mengkritik.

Mohammad Nuh Mendikbud RI

Sumber: http://edukasi.kompas.com

Pendidikan Vs Perombakan Kurikulum

Oleh Hafid Abbas

KOMPAS.com - Dalam satu dekade terakhir, dunia pendidikan di Tanah Air seakan terus terbelenggu dalam dilema.

Pada masa Kabinet Indonesia Bersatu Pertama 2004-2009, Wapres Jusuf Kalla gigih melaksanakan pengendalian mutu pendidikan dengan pemberlakuan standar ujian nasional. Tidak ada toleransi kelulusan bagi mereka yang tidak melewati standar minimum dari sejumlah mata pelajaran yang diujikan, Akibatnya, masyarakat seakan mengalami sentakan sosial ketika melihat ada sekolah yang tidak satu pun siswanya lulus karena kelaziman sebelumnya secara nasional kelulusan selalu di kisaran 100 persen atau mendekati 100 persen.

Alasan Kalla ketika itu sangat sederhana. Jika sekolah selalu meluluskan siswanya 100 persen, siswa merasa tidak perlu belajar, guru tidak termotivasi mengajar sungguh-sungguh, dan orangtua tidak merasa perlu ikut bertanggung jawab atas mutu pendidikan. Cara ini, menurut Kalla, adalah mekanisme peningkatan mutu pendidikan yang paling murah dan mudah dilaksanakan. Dengan demikian, pendidikan kita menjadi tanggung jawab semua pihak (siswa, masyarakat, dan pemerintah) menuju pencapaian mutu yang lebih tinggi. Selanjutnya, bangsa kita tak lagi akan menjadi kuli dari Malaysia.

Sewaktu menjabat sebagai Menko Kesra pada 2003, Kalla menemukan tingkat kesukaran ujian akhir jenjang SD di Malaysia untuk Bahasa Inggris relatif sebanding dengan kesukaran ujian akhir jenjang SLTA di Indonesia. Tingkat kesukaran IPA dan Matematika jenjang SLTP relatif sama dengan jenjang SLTA. Sementara standar kelulusan nasional Malaysia dengan tingkat kesukaran tersebut pada 2003 adalah 6, sedangkan Indonesia 3. Jika tiap tahun standar kelulusan dinaikkan 0,5, berarti mutu pendidikan Indonesia tertinggal 9-12 tahun dari Malaysia.

Dengan standar kelulusan itu, dapat dipastikan terdapat peningkatan mutu pendidikan kita secara bertahap dan pada waktunya Indonesia akan berada pada posisi yang sejajar dan bahkan mengungguli Malaysia.

Kini, keadaannya kembali lagi ke tingkat kelulusan yang mendekati 100 persen. Pada tahun ajaran 2010, untuk jenjang SMA/MA, misalnya, tingkat kelulusan peserta ujian nasional mencapai 99,22 persen. Tingkat kelulusan di jenjang SLTP dan SMK juga relatif sama. Akibatnya, ujian nasional tidak lagi menjadi sarana yang memotivasi siswa, orangtua, dan guru untuk meningkatkan mutu pendidikan.

Kebijakan yang telah diletakkan Kalla terkesan ditinggalkan begitu saja oleh kabinet baru. Masyarakat seakan disuguhkan satu tontonan drama kekuasaan. Betapa pun kebesaran dan manfaat yang telah diletakkan masa lalu seakan tidak lagi mendapat tempat karena peletaknya tidak lagi di kekuasaan.

Dilema pendidikan

Dalam artikel di Kompas, 27 Agustus 2012, Wapres Boediono dengan tegas menyebutkan, sampai saat ini kita belum punya konsepsi yang jelas mengenai substansi pendidikan. Karena tak ada konsepsi yang jelas, timbullah kecenderungan untuk memasukkan apa saja yang dianggap penting ke dalam kurikulum. Akibatnya, terjadilah beban berlebihan pada anak didik. Bahan yang diajarkan terasa ”berat”, tetapi tak jelas apakah anak mendapatkan apa yang seharusnya diperoleh dari pendidikannya.

Akibat dari kerisauan Wapres itu, tiba-tiba timbullah proyek perombakan kurikulum yang terkesan dipaksakan. Kurikulum 2013 hasil perombakan kurikulum sebelumnya harus segera diberlakukan meski masyarakat luas belum melihat hasil satu penelitian ilmiah yang menyatakan bahwa mutu pendidikan kita terus merosot karena kesalahan kurikulum. Apakah tidak ada faktor lain yang lebih dominan dari kurikulum? Misalnya, sebagaimana telah diungkapkan Mendikbud Mohammad Nuh sendiri di hadapan Komisi X DPR pada 21 Maret 2011, terdapat 88,8 persen sekolah di Indonesia—SD hingga SMA/SMK—belum melewati mutu standar pelayanan minimal. Lalu, mengapa bukan itu yang dibenahi lebih dahulu?

Perubahan kurikulum dadakan ini cermin ketiadaan kerangka besar arah pembenahan pendidikan nasional. Di tengah berbagai keterbatasan yang ada, keliru besar bila pembenahan pendidikan di semua jenjang, jenis, dan jalur—baik di pusat maupun di tiap kabupaten/kota—dilakukan secara parsial dan tidak menyentuh sistem karena tanpa didasari hasil pengkajian ilmiah.

Dalam era Orde Baru, misalnya, di berbagai periode kabinet, sejak periode Mashuri, Soemantri Brodjonegoro, Syarief Thayeb, Daoed Joesoef, Nugroho Notosusanto, Fuad Hassan, Wardiman Djojonegoro, Wiranto Arismunandar, hingga kabinet era Reformasi, betapa banyak gagasan inovatif dan strategis. Namun, gagasan-gagasan itu terkesan bersifat temporer, terlaksana sebatas masa jabatan menteri yang bersangkutan. Betapa banyak dana yang telah dihabiskan, tetapi akhirnya upaya tersebut tidak cukup terlihat dampaknya bagi pembenahan masalah pendidikan. Lihatlah, misalnya, pengembangan Sekolah Pembangunan, proyek CBSA, pengajaran Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa, dan pengembangan link and match.

Bahkan, jika kita membuka lembaran masa lalu, terlihat betapa lebih seabad silam visi besar pendidikan sudah dirumuskan Boedi Oetomo pada 1908. Angkatan ini sudah mengungkapkan dalam anggaran dasarnya yang dirumuskan pada Pasal 3: (1) usaha pendidikan dalam arti seluas-luasnya; (2) peningkatan pertanian, peternakan, dan perdagangan; (3) kemajuan teknik dan kerajinan; (4) menghidupkan kembali kesenian pribumi dan tradisi; (5) menjunjung tinggi cita-cita kemanusiaan; dan (6) hal-hal yang bisa membantu meningkatkan kesejahteraan bangsa. Dalam pembahasan program juga telah dibahas pembangunan perpustakaan rakyat dan pendidikan untuk perempuan.

Sungguh begitu banyak pemikiran dan langkah besar yang telah dilakukan para pendahulu kita, tetapi hilang begitu saja, tidak diteruskan penerusnya. Jika kita selalu mengedepankan egoisme sektoral dan kepentingan politik pencitraan, kita akan selalu berada dalam cengkeraman dilema.

Proyek dan pencitraan

Tidak tertutup kemungkinan apa yang telah dilakukan periode Mohammad Nuh akan diabaikan menteri berikutnya. Akibatnya, kita tidak akan pernah mencapai prestasi besar. Tembok China adalah salah satu wujud mahakarya peradaban umat manusia karena, meski mulai dibangun sebelum periode Dinasti Qin pada 722 SM, dinasti mana pun pada era kekuasaan berikutnya terus memelihara dan meneruskan hingga kini.

Modus perubahan kurikulum lebih terkesan sebagai ikhtiar dadakan karena tidak didahului persiapan yang lebih matang. Memang, perombakan kurikulum pilihan paling aman. Sebab, jika ikhtiar dadakan itu keliru, kekeliruan itu baru akan terungkap 10-20 tahun kemudian. Lagi pula, jika terdapat perubahan satu lembar kurikulum, dimungkinkan dilahirkan begitu banyak proyek baru yang dapat menyerap anggaran sekian triliun rupiah.

Semoga pendidikan kita tidak terus-menerus terbelenggu dalam dilema dan berjalan di tempat. Sudah waktunya kenegarawanan lebih dikedepankan dari sekadar pencitraan sesaat.

Hafid Abbas Guru Besar Universitas Negeri Jakarta

Sumber: http://edukasi.kompas.com

Bermasalah, Tunjangan Ditarik Pusat

Jakarta, kompas – Tunjangan guru Rp 7,3 triliun bagi 629.044 guru mulai tahun ini disalurkan oleh pemerintah pusat. Tahun lalu, penyaluran tunjangan Rp 5,7 triliun bagi 610.685 guru melalui dana dekonsentrasi pemerintah provinsi banyak mengalami keterlambatan dan jumlahnya kurang dari 12 bulan.

”Uang ditransfer tepat waktu ke daerah, tetapi masih terlambat sampai di guru. Kalaupun tak terlambat, jumlahnya kurang. Sekarang ditarik pusat seperti mekanisme dana BOS,” ujar Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Mohammad Nuh, seusai rapat kerja dengan Komisi X DPR tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara 2013, Kamis (7/2) malam, di Jakarta.

Dari alokasi Rp 7,3 triliun, mayoritas untuk tunjangan fungsional guru non-PNS daerah atau guru swasta yang belum dapat tunjangan profesi karena belum lulus sertifikasi. Sebanyak 321.000 guru menerima tunjangan fungsional itu tahun ini. Jumlah itu turun dari tahun sebanyak 339.573 guru, karena banyak guru swasta lolos sertifikasi.

Tunjangan guru meliputi tunjangan fungsional non-PNS, tunjangan profesi, tunjangan khusus bagi guru di daerah terpencil dan tertinggal, serta tunjangan kualifikasi bagi guru yang melanjutkan studi ke diploma IV atau strata 1.

Selama ini, tunjangan guru disalurkan pemerintah pusat melalui dua cara: transfer ke kabupaten/kota dan transfer melalui Kemdikbud lalu ditransfer lagi ke provinsi (dana dekonsentrasi). ”Karena provinsi terlambat dan tak utuh, pusat jadi punya utang ke guru dan harus melunasi semua tunjangan yang belum sampai,” kata Nuh.

Pada raker itu, anggota komisi X DPR, Reni Marlinawati, mengingatkan pemerintah untuk mengawasi penyaluran tunjangan guru lebih ketat agar tidak ada kebocoran.

Hal senada dikemukakan anggota Komisi X, Herlini Amran, yang meminta Kemdikbud mengungkapkan data daerah yang selama ini menghambat penyaluran tunjangan guru. Ia juga meminta bukti nyata yang menunjukkan bahwa 610.000 guru telah memperoleh tunjangan guru yang menjadi haknya.

”Aduan keterlambatan pembayaran tunjangan guru masih terjadi sampai Desember 2012,” ujarnya. (LUK).

Sumber: http://edukasi.kompas.com