Menangkap hakikat puasa bersama Alquran

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana yang telah diwajibkan atas orang-orang  sebelum kamu supaya kamu bertaqwa. (QS. al-Baqarah ayat 183).

Pertanyaan yang paling banyak diajukan oleh orang khususnya yang berkaitan tentang prihal puasa adalah pergeseran semangat dalam beribadah. Biasanya pada awal-awal bulan Ramadhan masjid-masjid penuh sesak dan bahkan sampai melimpah. Adapun tujuan yang selalu dikemukakan adalah untuk mengikuti shalat tarawih.

Ironisnya, semangat ini tidak pernah bertahan lama dan semakin ke ujung Ramadhan maka semakin menciut pula jumlah orang-orang yang datang ke masjid. Hal ini menggambarkan tentang cepatnya rasa jenuh dalam mengabdikan diri kepada Tuhan karena hanya terobsesi dengan janji-janji Tuhan, padahal janji tersebut tidak datang dengan sendirinya kecuali dengan memenuhi syarat terlebih dahulu.

Di dalam Alquran dengan tegas disebutkan “sempurnakanlah janjimu kepada-Ku dan setelah itu akan Kusempurnakan pula janji-Ku kepadamu”. Statement ini menunjukkan bahwa janji yang dikemukakan oleh Tuhan tidak akan turun dengan sendirinya kecuali jika manusia memenuhi janjinya terlebih dahulu.

Salah satu janji Tuhan adalah mengabulkan doa orang-orang yang mengerjakan ibadah puasa. Janji ini tidak berlaku secara otomatis kecuali jika manusia memenuhi janjinya terlebih dahulu,  yaitu menjadikan dirinya sebagai orang-orang yang memiliki iman. Jika janji ini telah dipenuhi oleh manusia maka secara otomatis pula Tuhan akan memenuhi janji-Nya.

Memaknai Iman Sebagai Syarat Puasa
Menarik sekali ketika Allah hanya mengajak orang-orang yang beriman (allazina amanu) untuk mengerjakan ibadah puasa. Ajakan yang secara khusus ini menunjukkan bahwa hakikat puasa hanya dapat ditangkap oleh orang-orang yang beriman. Oleh karena itu, panggilan yang ditujukan kepada kelompok tertentu ini  dapat dipahami sebagai prasyarat untuk mendapatkan tujuan puasa yaitu taqwa.

Adapun orang-orang yang tidak beriman tidak diajak oleh Tuhan mengerjakan puasa karena mereka tidak akan mampu menangkap hakikat puasa. Hal ini sudah disinyalir oleh Rasulullah dalam salah satu makna haditsnya yaitu “berapa banyak orang-orang yang mengerjakan ibadah puasa tetapi tidak mendapatkan nilai apa-apa kecuali hanya sekadar lapar dan haus saja”.

Salah satu indikator tentang keberadaan iman ini dapat dilihat dari sikap (respon) ketika menghadapi datangnya Ramadhan. Bila puasa tahun ini diprediksi jatuh pada tanggal 1 Agustus maka orang-orang yang beriman merasakan bahwa tanggal tersebut terlalu lama. Sekiranya bisa ditawar maka mereka menginginkan jauh hari sebelum tanggal tersebut karena mereka sudah lama sekali merindukan kehadiran bulan Ramadhan.Sebaliknya berbeda halnya dengan orang-orang yang tidak beriman dimana tanggal tersebut terlalu cepat datangnya. Sekiranya bisa ditawar maka mereka ingin agar tanggal tersebut ditangguhkan karena merasakan bahwa puasa Ramadhan pada tahun yang lalu belum hilang keletihannya dan tiba-tiba sudah datang bulan Ramadhan tahun berikutnya.

Kedua sikap yang sangat kontras ini sudah pasti dipengaruhi oleh nilai-nilai iman yang terdapat di dalam hati. Orang-orang yang beriman menganggap bahwa puasa adalah suatu kebutuhan bagi mereka, sedangkan orang-orang yang tidak beriman maka mereka menganggap bahwa puasa adalah merupakan beban yang seharusnya dihindarkan. Oleh karena itu, tepat sekali jika Tuhan hanya mengajak orang-orang yang beriman saja untuk melakukannya. Fokus ajakan Tuhan kepada orang-orang yang beriman untuk mengerjakan puasa dapat dipahami dari dua hal.

Pertama, tingkat iman (allazina amanu) harus dicari oleh manusia dengan cara membersihkan dirinya dari berbagai macam dosa dan kesalahan. Pada tingkat ini, manusia harus berupaya secara maksimal untuk memperoleh derajat iman. Oleh karena itu, upaya untuk mendapatkannya harus dilakukan jauh-jauh hari sebelum masuk bulan Ramadhan.
Kedua, dapat dipahami sebagai anugerah dari Tuhan yang diberikan-Nya kepada orang-orang yang ikut ambil bagian dari puasa Ramadhan. Dengan kata lain, siapa saja yang bertekad untuk mengikuti puasa Ramadhan maka secara otomatis Tuhan memberikan predikat iman kepadanya. Oleh karena itu, predikat iman ini harus dijaga dengan baik agar mendapatkan puasa yang berkualitas.

Iman dalam tataran ini tidak hanya sebatas menghafal bahwa Tuhan itu ada demikian juga malaikat, rasul-rasul, kitab-kitab dan hari kemudian. Akan tetapi yang dimaksud dengan iman disini adalah pensucian diri dari berbagai macam dosa dan kesalahan supaya dapat mendekati Tuhan karena pada bulan Ramadhan Tuhan turun mendekati manusia.

Pendekatan yang dilakukan oleh Tuhan ini akan memberikan kontribusi bagi orang-orang yang beriman sehingga segala perintah Tuhan (termasuk puasa Ramadhan) dirasakan sebagai kebutuhan. Berbeda dengan orang-orang yang tidak beriman maka pendekatan yang dilakukan oleh Tuhan tidak akan memberikan kontribusi kepada mereka sehingga setiap perintah Tuhan selalu mereka anggap sebagai beban yang menyulitkan.

Ketika iman dijadikan oleh Tuhan sebagai prasyarat maka janji-janji yang disebutkan-Nya pada bulan puasa Ramadhan hanya didapat jika prasyarat ini sudah dipenuhi dengan baik dan benar. Adapun salah satu janji yang dikemukakan oleh Tuhan adalah memperkenankan segala doa  pada bulan Ramadhan, demikian juga pelipatgandaan pahala amal ibadah dan “bonus” pahala pada malam lailatul qadar.

Sekiranya janji-janji Tuhan ini belum didapatkan oleh orang-orang yang melakukan puasa berarti prasyarat yang ditetapkan oleh Tuhan belum terpenuhi dengan baik. Dengan demikian, yang paling penting dipikirkan oleh manusia ketika menyongsong kehadiran bulan puasa Ramadhan adalah memenuhi prasyarat yang ditetapkan oleh Tuhan bukan dengan melakukan hal-hal yang hanya bersifat tradisi.

Kesimpulan
Keimanan adalah syarat untuk mendapatkan puasa yang berkualitas dan dengan syarat iman inilah yang dapat mengantarkan seseorang untuk meraih tujuan puasa yaitu taqwa. Jika demikian, maka puasa adalah sebagai sarana untuk meraih predikat taqwa karena jenjang ini tidak akan didapat tanpa melalui syarat iman terlebih dahulu.

Ramadhan Menyegarkan Kehidupan

Rasa bosan kebiasaannya timbul apabila kita melakukan sesuatu aktiviti secara berulang kali.
Jika rasa bosan ini sudah muncul, maka produktiviti kerja akan semakin menurun dan akhirnya keghairahan untuk menikmati kehidupan menjadi semakin memudar.
Maka, pada ketika itulah manusia memerlukan aktiviti penyegar untuk membangkitkan semula perasaan ghairahnya yang sudah layu.
Islam datang kepada manusia mengajarkan berbagai aktiviti penyegar yang sihat bagi manusia. Oleh kerana itulah banyak ajaran Islam disyari’atkan oleh Allah berada di tengah-tengah kesibukan yang membosankan.
Di antara pengaruh yang diharapkan adalah kemampuan untuk menumbuhkan jiwa yang segar dan semangat hidup kembali menjadi stabil.
Jika kita membuat perkiraan ke atas semua kegiatan ibadah yang diajarkan oleh Islam, maka kita akan dapati bahwa :
  1. Solat lima waktu menjadi wasilah penyegar terhadap kehidupan rutin harian kita.
  2. Solat Jumaat menjadi wasilah penyegar terhadap rutin mingguan.
  3. Bulan Ramadhan adalah wasilah penyegar terhadap rutin tahunan.
Dari perkiraan tersebut, nampak jelas konsep Islam dalam menimbulkan suasana penyegaran yang berbeza jauh dengan konsep lainnya.
Islam tidak mengajarkan proses penyegaran untuk merasakan kerehatan, tetapi mengajak untuk menyibukkan diri dengan aktiviti lain.
Allah swt berfirman :
Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain. Dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap”. (QS Al-Insyirah : 7-8)
Islam memandang bahwa semangat hidup berkait rapat dengan keadaan hati seseorang. Hati orang-orang yang beriman tidak akan pernah berputus asa, sementara orang kafir sangat berpotensi untuk berputus asa.
Dari sini kita faham bahwa ibadah-ibadah yang diajarkan oleh Islam itu akan menumbuhkan semangat waja sehingga hidup menjadi lebih bermakna.
Berbicara tentang Ramadhan, Allah swt telah menjadikan bulan ini sebagai madrasah ruhiyah (sekolah kerohanian) untuk mentarbiyah atau mendidik hamba-hambaNya.
“Telah datang kepada kamu bulan Ramadhan. Bulan keberkatan yang Allah wajibkan puasa di dalamnya. Dalam bulan ini pintu-pintu syurga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, syaitan-syaitan dibelenggu. Di dalamnya ada satu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Barangsiapa yang tidak mendapat kebaikan di dalamnya, maka ia telah luput dari banyak kebaikan.” (HR Ahmad)
Syukur kepada Allah, kita masih dipertemukan dengan bulan yang sangat mulia dan berharga untuk meraih pahala yang tiada batas. Kita semua sangat memerlukan datangnya bulan penyucian diri ini.
Ramadhan datang :
  1. Dengan membawa kebaikan dan keberkatan.
  2. Dengan membawa berita gembira untuk seluruh alam.
  3. Untuk menyuci hati hamba-hamba yang berdosa.
  4. Untuk mengangkat darjat para hamba yang berbakti ke tahap semakin tinggi dari sebelumnya.
Ramadhan adalah bulan yang Allah pilih untuk menjadi saat turunnya kitab dan risalah-Nya.
Ia adalah :
  1. Bulan penghubung antara langit dan bumi.
  2. Saat rahmat tercurah dengan lebat.
  3. Saat maghfirah (keampunan) meluncur bagai air bah.
  4. Saat cahaya terpancar memenuhi segala penjuru.
  5. Saat kebaikan memancar di setiap minit dan detiknya.
Dalam bulan ini, disyariatkan ibadah puasa yang mempunyai banyak sekali keutamaan.
Puasa :
  1. Mempunyai pengaruh yang menakjubkan dalam menjaga anggota tubuh luar dan kekuatan batin di dalamnya.
  2. Menjaga perkara-perkara yang buruk yang boleh mempengaruhi dan merosakkan jiwa.
  3. Meningkatkan jiwa menuju ketinggian akhlak, kehalusan budi, keindahan pekerti, kematangan peribadi, kepekaan rasa dan penghambaan yang seutuhnya kepada Yang Maha Pencipta.
  4. Membebaskan diri dari belitan nafsu yang mengajak kepada perkara-perkara yang rendah nilainya.
  5. Menjadikan jiwanya merdeka dari lilitan nafsu syahwat dan kebinatangan yang berdiri kuat dalam dirinya.
Dengan berpuasa, seorang hamba dapat :
  1. Mempersempitkan laluan syaitan dalam aliran darah.
  2. Mengubah rasa ego menjadi cinta dan kasih sayang.
  3. Mengubah sikap rakus menjadi ridha dan qana’ah.
  4. Menukar sikap liar menjadi sabar, tenang dan terarah.
Maka jadilah kebahagiaan dirinya tidak lagi terbatas pada pemuasan syahwat semata-mata. Tidak sekadar memuaskan keperluan jasmaninya yang tidak pernah ada penghujungnya.
Namun lebih dari itu, dengan berpuasa :
  1. Ia menikmati kenikmatan jiwa yang tiada tara dalam dirinya.
  2. Ia akan merasai ketenangan dan kedamaian jiwa yang luar biasa dan sentiasa bersamanya di manapun ia berada.
Itulah kelazatan iman yang dapat membawanya kepada kebahagiaan abadi sepanjang masa.
Ibnu Abdil Barr berkata :
“Cukuplah pernyataan Allah ‘Ash-Shaumu Li’ – ‘Puasa adalah untukKu’ menjadikan puasa suatu keutamaan dibandingkan dengan ibadah-ibadah lainnya.”
Ibnul Jauzi pernah berkata :
“Puasa itu ada tiga bentuk :
  1. Puasa rohani yaitu dengan tidak banyak berangan-angan.
  2. Puasa akal yaitu dengan menentang hawa nafsu.
  3. Puasa anggota tubuh dengan menahan diri dari makan, minum dan hubungan badan”
Berbagai macam ibadah diajarkan di bulan ini yang akhirnya adalah untuk menyegarkan kembali aktiviti kehidupan di samping menumbuhkan semangat hidup baru.
Mari kita renungkan beberapa perkara berikut :
PERTAMA : WAKTU SAHUR
Di Bulan Ramadhan, Allah swt mengajarkan hambaNya untuk melakukan sahur. Waktu sahur adalah waktu yang sangat mustajab.
Allah swt meletakkan kemuliaan yang sangat besar pada waktu tersebut. Sayang sekali, kebanyakan manusia hanya memanfaatkannya untuk makan sahur tanpa meluangkan waktu untuk bermunajat kepadaNya.
Mengapa mereka melalaikan sabda Rasulullah saw seperti berikut?
“Rabb kita (Allah) swt turun pada setiap malam ke langit dunia, pada sepertiga malam terakhir, lalu berfirman, ”Siapa yang berdoa kepadaKu maka aku akan kabulkan baginya, siapa yang meminta kepadaKu, maka aku beri kepadanya, Siapa yang meminta ampunan maka Aku akan mengampuninya” (HR Bukhari dan Muslim)
Sesungguhnya kita sangat memerlukan waktu-waktu seperti ini untuk :
a. Memohon kebaikan hidup di dunia dan akhirat kepada Allah swt.
b. Memohon keselamatan hati kita.
c. Memohon supaya hidup kita sentiasa bermakna.
KEDUA : SOLAT SUBUH DI MASJID
Ramai manusia yang meninggalkan solat subuh (fajar) dengan berjamaah di masjid. Kita boleh saksikan ketika solat Jumaat, masjid pasti sentiasa penuh tetapi jamaah Subuh tidak pernah mencapai ¼ dari jamaah Jumaat.
Lalu datanglah bulan Ramadhan, untuk menyedarkan bahwa di sana ada solat yang disaksikan oleh para malaikat.
Firman Allah swt :
“Dirikanlah solat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam dan (dirikanlah pula solat) subuh. Sesungguhnya solat subuh itu disaksikan (oleh malaikat)”. (QS Al-Isra’ : 78)
Rasulullah saw menambahkan :
“Berikan khabar gembira kepada orang-orang yang berjalan menuju masjid di kegelapan dengan cahaya yang sempurna pada hari kiamat kelak.” (HR Tirmizi dan Abu Dawud)
Sayangnya betapa ramai kaum muslimin yang meninggalkan solat jamaah subuh di bulan Ramadhan hanya kerana tertidur setelah bersahur. Alangkah ruginya meninggalkan aktiviti yang boleh memupuk semangat dan kesegaran hidup yang hakiki.
KETIGA : BERDOA
Rasulullah saw memberitahu kita bahwa doa orang yang berpuasa akan mendapatkan keutamaan pengabulan dari Allah swt.
Ini sebagaimana disebutkan di dalam hadis Nabi saw :
“Tiga golongan yang doanya tidak akan ditolak, di antaranya adalah orang yang berpuasa sehingga ia berbuka, di dalam riwayat lain dikatakan, orang yang puasa ketika hendak berbuka.” (HR At-Tirmizi dan Ibnu Majah)
Demikian juga Allah swt meletakkan ayat tentang berdoa di antara ayat-ayat yang menjelaskan tentang puasa iaitu ayat 186 surah Al Baqarah :
“Dan apabila hamba-hambaKu bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepadaKu, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepadaKu, agar mereka selalu berada dalam kebenaran”.
Para ulama’ menjelaskan bahwa rahsia perletakan ayat ini adalah untuk mengisyaratkan bahwa doa orang yang berpuasa itu tidak tertolak.
Namun berapa ramai di antara kita yang memperhatikan perkara ini?
Padahal doa inilah intipati ibadah di dalam Islam atau dengan kata lain, doa ini akan memberikan semangat dan kesegaran baru dalam kehidupan seorang muslim.
KEEMPAT : MEMBACA AL QUR’AN
Di bulan Ramadhan, Rasulullah saw memerintahkan untuk memperbanyakkan qira’at al-Qur’an atau membaca Al-Quran kerana bulan ini adalah bulan Al-Qur’an.
“Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeza (antara yang hak dan yang bathil). (QS Al-Baqarah : 185)
Selama bulan Ramadhan ini, hedaklah setiap muslim berusaha untuk mengkhatamkan Al- Qur’an meskipun hanya sekali.
Tentu sahaja membaca di sini bukan sekadar membaca tetapi bacaan yang disertai dengan tafakkur dan tadabbur.
a. Al-Qur’an bagi seorang mukmin adalah panduan hidup.
b. Al-Qur’an juga penawar hati dari segala penyakit jiwa.
Oleh itu membaca Al-Qur’an yang disertai dengan tadabbur akan membuatkan jiwa kita semakin segar dan terarah kehidupannya.
KELIMA : MEMPERBANYAKKAN SEDEKAH
Di bulan Ramadhan, Rasulullah saw memberikan contoh tauladan untuk  memperbanyakkan sedekah.
Sedekah adalah sebuah amal yang menjanjikan pahala yang sangat besar.
Allah swt berfirman;
“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada tiap-tiap tangkai seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang dia kehendaki. dan Allah Maha Luas (kurniaNya) lagi Maha Mengetahui. (QS Al-Baqarah : 261)
Dengan sedekah ini, maka akan :
  1. Terciptalah silaturrahim.
  2. Diperolehi makna ‘ukhuwwah fillah’ .
  3. Terjaga persatuan kaum muslimin.
Memulakan suatu kebiasaan baik adalah sebuah langkah yang berat tetapi Allah swt dan RasulNya saw telah mengajarkan kita untuk memulakan langkah pertama itu di bulan Ramadhan.
Sayang sekali, kebanyakan manusia menganggap bahwa Ramadhanlah hanya satu-satunya waktu untuk melakukan kewajiban ini semua dan bukan sebagai pembuka kepada permulaan amal soleh.
Akibatnya mereka menghentikan semua amal soleh itu setelah selesainya Ramadhan. Inilah yang menjadikan kita sentiasa kembali ke titik permulaan semula.
Ramadhan semestinya dijadikan garis permulaan yang mesti sentiasa diteruskan dengan tindakan selanjutnya dan ditingkatkan, bukan dianggap sebagai suatu musim ibadah seperti musim-musim yang lain, bersemangat ketika tiba dan berhenti ketika ramadhan berakhir.
Ramadhan adalah waktu terapi intensif untuk memperbaiki dan menjernihkan hati. Ibadah puasa, sahur, solat tarawih, berdoa, membaca Al-Quran, infak dan sedekah serta segenap ibadah yang diperintahkan dan disyariatkan didalamnya merupakan rangkaian program pembaikan diri dan masyarakat.
Saat-saat Ramadhan ini juga adalah waktu yang tepat untuk membuktikan kekuatan :
  1. Menahan keinginan dan perasaan.
  2. Kesetiaan dalam ucapan.
  3. Kebenaran dalam sikap.
  4. Ketabahan dalam melaksanakan komitmen yang sudah diputuskan.
Jika kita mampu meneruskan segala amal soleh yang telah dimulai pada bulan Ramadhan, maka selepas dari bulan Ramadhan, kita akan merasakan hidup baru iaitu hidup yang lebih menyegarkan namun jika kita kalah di bulan Ramadhan, maka bersedialah untuk kalah di bulan-bulan selepasnya.
Ya Allah, kurniakanlah kekuatan jiwa kepada kami supaya kami mampu jadikan Ramadhan sebagai medan permulaan kepada kami untuk kami laksanakan amal-amal soleh yang boleh menyegarkan kembali iman dan keyakinan kami kepadaMu sehingga ianya boleh merubah orientasi dan cara hidup kami ke arah yang lebih baik dan menyegarkan.

Ramadhan Tonggak Inspirasi

Marilah kita panjatkan pujian dan syukur kita ke hadhrat Allah swt yang telah memberikan kesempatan kepada kita bertemu kembali dengan bulan yang penuh rahmah, berkah dan maghfirah iaitu bulan Ramadhan.

Bulan ini adalah bulan peluang bagi umat Muhammad saw untuk meningkatkan amal ibadat dan berbagai amal soleh, sekaligus memaksimumkannya untuk meraih pahala yang dilipatgandakan dari amal kebajikan yang sama di bulan yang lain.

Ramadhan, sebagaimana yang disebut oleh Dr.Yusuf Al Qardhawi sebagai madrasah mutamayyizah” (sekolah istimewa) yang dibuka oleh Islam setiap tahun untuk proses pendidikan praktikal bagi menanamkan seagung-agung nilai dan setinggi-tinggi hakikat iaitu la’allakum tattaqun”, (agar kamu bertaqwa).

Semua aktiviti ibadah yang digiatkan di dalamnya merupakan riyadhatu ruh” (latihan ruhani) untuk mencapai tingkatan ubudiyah” tertinggi itu iaitu taqwa.

Inilah sasaran dan kesibukan kita di bulan yang penuh berkah ini, sekaligus inspirasi dalam gerak langkah hidup kita pada sebelas bulan berikutnya.

INSPIRASI PUASA
Di bulan Ramadhan kita menahan diri dari lapar dan dahaga serta syahwat di siang hari kerana Allah.
Ini adalah inspirasi tentang pentingnya tazkiyah an-nafs” (pembersihan jiwa) dengan :a.       Mematuhi perintah-perintahNya.

b.      Menjauhi segala laranganNya.
c.       Melatih diri untuk menyempurnakan ibadah kepada Allah semata-mata.
 Jika kita mahu, boleh sahaja kita makan, minum dan bersama isteri kita di bulan ini dan tiada seorang pun yang mengetahuinya, namun kita tetap meninggalkan semua itu semata-mata kerana Allah swt.

Puasa Ramadhan juga memberi inspirasi kepada kita tentang kesederhanaan dan menjauhi sifat israf” (berlebih-lebihan) dalam makan dan minum sebagaimana yang diperintahkan oleh Allah swt :

 “…Makan dan minumlah dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (QS Al-A’raaf : 31)

Puasa menanamkan ajaran Islam yang mensejajarkan tuntutan jasmani dengan tuntutan rohani dan mencegah agar jangan sampai unsur yang satu itu mengalahkan unsur yang lain.

Puasa mendidik supaya jangan sampai manusia menjadi hamba perutnya di mana :

1.      Hidup di dunia ini sekadar untuk makan dan minum.

2.      Siang malam hanya sibuk memasukkan berbagai macam makanan dan minuman ke dalam perutnya.
Selain itu, puasa juga memberi inspirasi kepada kita tentang pentingnya :
a.       Menahan diri dari makanan dan minuman yang haram.
b.      Melatih jiwa agar mampu menahan diri dari nafsu serakah, tamak dan rakus.
c.       Melatih diri untuk menjaga pola hidup bersih.
 Pola hidup bersih ini meliputi :

1.      Bersih hati dan batin dari kemusyrikan dan kemaksiatan.

2.      Bersih dari harta yang haram seperti riba (wang bunga), rasuah, manipulasi dan mencuri.
3.      Bersih zahir dan lingkungan dari berbagai macam kotoran.
  “Wahai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; Kerana Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu.” (QS Al-Baqarah : 168)

INSPIRASI TILAWAH AL-QUR’AN

Ramadhan adalah bulan diturunkannya Al-Qur’an,

 “…bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeza (antara yang hak dan yang bathil).” (QS Al-Baqarah : 185)

dan di bulan ini malaikat Jibril turun untuk memuraja’ah (mendengar dan mengecek) bacaan Al-Qur’an dari Rasulullah.
Imam Az-Zuhri pernah berkata :
“Apabila datang Ramadhan, maka kegiatan utama kita (selain puasa) ialah membaca Al-Qur’an”.
Ramadhan mengingatkan kita tentang wajibnya menjadikan Al-Qur’an sebagai :

a.       Sahabat karib.

b.      Kawan bicara.
c.       Guru.
 Kita mesti membacanya dan jangan sampai hari berlalu tanpa menjalin hubungan dengan Al-Qur’an.

Demikianlah salafus soleh mencontohkannya kepada kita. Mereka begitu mencurahkan waktunya untuk Al-Qur’an sehingga Rasulullah saw pernah turun tangan untuk melarang mereka berlebih-lebihan di dalam membacanya.

Perkara ini disebutkan dalam sebuah hadits di mana Nabi saw menyuruh Abdullah bin Amru bin ‘Ash untuk mengkhatamkan Al-Qur’an cukup sekali dalam sebulan, sekali dalam 20 hari, atau sekali dalam seminggu, tidak boleh kurang dari seminggu,

“Kerana sesungguhnya isterimu mempunyai hak yang mesti kau tunaikan, tamumu mempunyai hak yang mesti kau tunaikan, dan jasadmu mempunyai hak yang mesti kau tunaikan…” (HR Bukhari dan Muslim)

Utsman bin Affan memiliki kebiasaan mengkhatamkan Al-Qur’an dalam seminggu, ia membuka:

1.      Malam Jum’at dengan membaca Al-Baqarah sampai Al-Maidah.
2.      Malam Sabtu surah Al-An’am sampai surah Hud.
3.      Malam Ahad surah Yusuf sampai Maryam.
4.      Malam Isnin surah Thaha sampai Al-Qashash.
5.      Malam Selasa surah Al-Ankabut sampai Shad.
6.      Malam Khamis ia mengkhatamkannya.

Manakala di bulan Ramadhan ia mengkhatamkannya setiap hari.

Rasulullah saw bersabda tentang orang yang gemar membaca Al-Qur’an secara rutin.

“Di antara hamba-hamba Allah yang paling dicintai oleh Allah adalah ‘Al-Hallul Murtahil’ (orang yang singgah dan pergi).”

Para sahabat bertanya : “Siapakah ‘Al-Hallul Murtahil’ itu wahai Rasulullah?”

Baginda saw bersabda : “Orang yang mengkhatamkan Al-Qur’an lalu memulainya lagi dan orang yang memulai membaca Al-Qur’an kemudian mengkhatamkannya. Demikianlah, ia terus berada dalam keadaan singgah dan pergi bersama kitab Allah tabaraka wa ta’ala”.

Umar bin Abdul Aziz apabila disibukkan oleh urusan kaum muslimin, beliau mengambil mushaf dan membacanya walaupun hanya dua atau tiga ayat.

Beliau berkata :

“Agar saya tidak termasuk mereka yang menjadikan Al-Qur’an sebagai sesuatu yang ditinggalkan.”

Semua ini tentu sahaja dilakukan dengan tetap memperhatikan tajwid dan intipati asas diturunkannya Al-Qur’an untuk ditadabbur, difahami dan diamalkan.

 “Ini adalah sebuah Kitab yang kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatNya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai fikiran. (QS Shad : 29)

Dengan tilawah Al-Qur’an kita berharap dapat menumbuhkan ciri-ciri “Ummatun Qa’imah”, golongan yang berlaku lurus, seperti Abdullah bin Salam, seorang Yahudi yang kemudian diberi limpahan nikmat iman oleh Allah swt.

 “Mereka itu tidak sama; di antara ahli Kitab itu ada golongan yang berlaku lurus, mereka membaca ayat-ayat Allah pada beberapa waktu di malam hari, sedang mereka juga bersujud (solat).” (QS Ali Imran : 113)

IINSPIRASI QIYAM RAMADHAN

Ibadah yang sangat ditekankan oleh Rasulullah saw malam Ramadhan adalah “Qiyam Ramadhan” atau yang biasa dikenali dengan solat tarawih.

Rasulullah saw bersabda :

“Barangsiapa yang melakukan qiyam dengan penuh iman dan perhitungan, maka diampuni dosanya yang telah lalu”. (Muttafaqun ‘alaih)

Qiyam Ramadhan memberi inspirasi kepada kita tentang pentingnya taqarrub’ dan komunikasi intensif dengan Allah swt. Sebulan lamanya kita dilatih melaksanakannya agar selepas Ramadhan kita akan terbiasa melaksanakan qiyamullail.

Dari Jabir ra, ia barkata :

“Aku mendengar Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya pada malam hari itu benar-benar ada saat yang seorang muslim dapat menepatinya untuk memohon kepada Allah suatu kebaikan dunia dan akhirat, pasti Allah akan memberikannya (mengabulkannya); dan itu setiap malam.” (HR Muslim dan Ahmad)

Qiyamullail adalah wasilah berkomunikasi seorang hamba dengan Rabbnya. Seorang hamba merasa lazat di kala munajat dengan Penciptanya.
Ia :

a.       Berdoa.
b.      Beristighfar.
c.       Bertasbih memuji  Penciptanya.

Manakala, Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, sesuai dengan janjinya, akan mencintai hamba yang mendekatkan diri kepadanya. Jika Allah swt mencintai seorang hamba, maka Ia akan mempermudahkan semua aspek kehidupan hambaNya. Hambanya itu akan dekat dengan Rabbnya, diampuni dosanya, dihormati oleh sesama insan dan menjadi penghuni syurga yang disediakan untuknya.

INSPIRASI ZAKAT, INFAQ DAN SEDEKAH

Rasulullah saw adalah orang yang paling pemurah dan di bulan Ramadhan Baginda lebih pemurah lagi. Kebaikan Rasulullah saw di bulan Ramadhan melebihi angin yang berhembus keranaa begitu cepat dan banyaknya dalam bersedekah.

Dalam sebuah hadits disebutkan,

“Sebaik-baik sedekah iaitu sedekah di bulan Ramadhan” (HR Al-Baihaqi, Al-Khatib dan At-Tirmizi)

Salah satu bentuk sedekah yang dianjurkan adalah memberikan ifthar’ (santapan buka puasa).

Ini sepertimana sabda Nabi saw :

“Barangsiapa yang memberi ‘ifthar’ kepada orang-orang yang berpuasa, maka ia mendapat pahala senilai pahala orang yang berpuasa itu, tanpa mengurangi pahala orang yang puasa tersebut”. (HR Ahmad, Tirmizi dan Ibnu Majah)

Di akhir bulan Ramadhan, kaum muslimin menunaikan zakat fitrah yang bertujuan untuk menyucikan orang yang melaksanakan puasa dan untuk membantu fakir miskin.

Zakat, infaq dan sedekah memberi inspirasi kepada kita agar sentiasa memiliki semangat kebersamaan dan kepedulian kepada sesama umat Islam.

Selain dalam rangka mematuhi perintah Allah, zakat juga memiliki hikmah :

1.      Menumbuhkan sikap menolong yang lemah.
2.      Mewujudkan sikap meratakan nikmat harta.
3.      Membersihkan jiwa kikir.
4.      Mewujudkan persaudaraan.

Ini semua tidak semestinya dilakukan dalam bulan Ramadhan sahaja, tetapi juga di bulan-bulan lainnya.

INSPIRASI I’TIKAF

I’tikaf adalah puncak ibadah Ramadhan kerana pada hakikatnya inti ibadah Ramadhan adalah usaha menahan diri (imsak) dari makan dan minum dan segala sesuatu yang membatalkannya di siang hari dengan harapan dapat menahan diri dari segala yang diharamkan Allah.

Sementara i’tikaf pula bukan hanya menahan diri dari makan dan minum, tetapi juga menahan diri untuk :

a.       Tetap tinggal di masjid.
b.      Taqarrub kepada Allah.
c.       Menjauhkan diri dari segala aktiviti keduniaan.

Itulah sunnah yang sentiasa dilakukan oleh Rasulullah saw pada bulan Ramadhan, sepertimana yang disebutkan dalam sebuah hadits :

“Adalah (Nabi saw) beri’tikaf pada sepuluh hari terakhir dalam bulan Ramadhan sehingga Allah ‘azza wa jalla mewafatkan baginda, kemudian isteri-isteri baginda beri’tikaf sesudah itu.” (HR Bukhari dan Muslim)

Selama melakukan i’tikaf, seseorang tidak boleh bersetubuh dengan isteri, kerana hal itu boleh membatalkan i’tikaf.

Ini sesuai dengan ketentuan Al-Qur’an :

 “…Janganlah kamu bercampur dengan isteri-isterimu ketika kamu sedang i’tikaf di dalam masjid…” (QS Al-Baqarah : 187)

Tempat i’tikaf mestilah di dalam masjid dan tidak boleh di surau, mushalla, rumah atau tempat-tempat lain.
Selama i’tikaf, tidak boleh keluar dari masjid kecuali untuk keperluan-keperluan sangat mendesak seperti qadha hajat, mandi, berubat atau makan.

Perkara ini dijelaskan dalam hadits berikut :

Dari ‘Aisyah ra, ia berkata :

“Ketika I’tikaf Rasulullah saw pernah mengeluarkan kepalanya dari dalam masjid kepada saya, lalu saya sikat rambutnya. Baginda tidak masuk ke dalam rumah, kecuali ada keperluan.” (HR Bukhari dan Muslim)

Ibadah yang penting ini sering dianggap berat oleh kaum muslimin sehingga ramai yang tidak melakukannya.

Imam Az-Zuhri berkata :

“Aneh benar keadaan orang Islam, mereka meninggalkan i’tikaf, padahal Rasulullah tidak pernah meninggalkannya sejak baginda datang ke Madinah sehingga baginda wafat”.

I’tikaf memberi inspirasi kepada kita untuk membasmi virus al-wahn di dalam jiwa.

Kita teringat hadits Nabi saw :

“Hampir datang masanya bangsa-bangsa mengerumuni kamu sebagaimana mengerumuni makanan di atas meja makan.” Ada yang bertanya: “Apakah saat itu kita sedikit?” Baginda menjawab: “Justeru ketika itu kamu  banyak, tetapi laksana buih di lautan. Allah telah mencabut rasa takut dalam dada musuh-musuh kamu terhadap kamu, sedangkan Allah telah melemparkan ke dalam hati kamu penyakit Al Wahn,” Ada yang bertanya: “Apakah Al Wahn?” Baginda menjawab: “Cinta dunia dan takut mati!” (HR Ibnu Majah)

I’tikaf mengingatkan kita tentang ubudiyah’ dan pengagungan Allah Rabbul ‘Alamin. Dengan melaksanakannya, manusia membuktikan bahwa dirinya bukan hamba dunia dan bukan pengagung dunia.

Memang demikianlah semestinya sikap seorang hamba yang beriman kerana Rasulullah saw bersabda:

“Apabila umatku mengagungkan dunia, maka dicabutlah kehebatan Islam darinya. Kemudian apabila meninggalkan amar ma’ruf nahi munkar, terdindinglah keberkatan wahyu”. (HR Tirmizi)

Marilah kita bangkitkan semangat beribadah di bulan Ramadhan ini dengan landasan iman dan kita jadikan puasa, tilawah Al-Qur’an, qiyam Ramadhan, zakat, infaq, sedekah, i’tikaf dan ibadah-ibadah lainnya sebagai riyadhatu ruh’ (latihan ruhani) dalam meniti tingkatan ketaqwaan serta jangan biarkan Ramadhan berlalu tanpa kita menanamkan inspirasi bagi kehidupan kita.

Ya Allah, jadikanlah amal-amal ibadah yang kami lakukan di bulan Ramadhan ini sebagai inspirasi untuk kami pertingkatkan lagi di bulan-bulan yang lain. Berilah kekuatan semangat untuk kami gandakan aktiviti ibadah melalui latihan ruhani bagi mencapai tingkatan ubudiyah yang paling tinggi iaitu ketaqwaan.

Puasa Yang Menggugurkan Dosa

Puasa adalah ibadah yang istimewa di sisi Allah swt, bahkan dalam hadits qudsi dijelaskan bahwa ibadah puasa itu hanya untuk Allah swt dan Dia sendiri yang akan membalasnya secara langsung.

Dalam rangka mencapai ketaqwaan sebagai tujuan berpuasa, ada baiknya sesekali kita melakukan perenungan yang mendalam terhadap niat dan perilaku kita.

Niat bukan hanya sekadar kemahuan tetapi ianya adalah :

a.       Sebuah komitmen.
b.      Sebuah aqad yang mengilhamkan kepada seluruh relung jiwa yang melahirkan kesungguhan (jihad).
c.       Sebuah tekad dan nyalaan api yang tidak pernah padam.

Niat merupakan dorongan yang maha kuat dan sebuah motivasi untuk mewujudkan seluruh harapan dalam bentuk tindakan.

Kualiti pekerjaan seseorang sangat ditentukan oleh kualiti niatnya dan begitulah pula dengan puasa.

Kita diminta untuk memasang niat berpuasa iaitu sebuah dorongan dan nyalaan api untuk melaksanakan puasa dalam ertikata yang utuh, iaitu ibadah yang bersifat individu dan sekaligus melibatkan sosial.

Ianya bersifat individu kerana puasa merupakan bentuk pencerahan batin (Tarbiyatul Qalbi). Hati yang telah cerah akan berkelipan dengan cahaya (nur) sehingga dia mengetahui secara jelas (kerana diterangi cahaya), mana yang hak dan mana yang batil.

Puasa akan melahirkan kejujuran, amanah dan menumbuhkan semangat perkhidmatan yang sangat tinggi.

Penghambaan dirinya kepada Allah yang dinyatakan minimumnya 17 kali setiap hari (iyyaka na’budu) diterjemahkannya dalam bentuk perilaku yang nyata dengan cara menunjukkan sikap perkhidmatan yang bertanggungjawab.

Ini semua bermula dari niat yang disertai dengan ilmu dan arah yang benar.

Nabi saw bersabda :

“Barangsiapa yang berpuasa dengan iman dan (ihtisab) mengharapkan ganjaran pahala, akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (Muttafaqun alaih)
Dari hadis di atas, nampaklah bahwa iman merupakan asas dipasangnya niat yang disertai dengan ‘ihtisab’ sebagai proses penelitian bahkan menguji diri sendiri sehingga kualiti niat berpuasa akan melahirkan dua perkara besar yang akan merubah sikap hidupnya.

PERTAMA :

Niat berpuasa kerana rasa cinta dan rindu yang teramat sangat untuk menghadirkan wajah Allah sehingga mereka hanya memalingkan seluruh harapan dan tindakannya untuk sentiasa berpihak di jalan Allah (Al Shirath Al Mustaqiim).

KEDUA :

Mereka mewujudkan niatnya tersebut dalam bentuk sikap hidup sederhana bahkan melatih untuk hidup dengan penuh kekurangan, sebagaimana doa Rasulullah saw :
“… Ya Allah, jadikanlah aku kenyang sehari dan lapar sehari agar pada saat perut kenyang, aku mahu bersyukur dan ketika lapar, aku menjadi orang yang sabar.” 

Kita juga dapat memahami dari hadith di atas bahwa janji untuk mendapat keampunan hanyalah bagi siapa sahaja yang melaksanakan puasa dengan “imanan wahtisaban” iaitu :

  1. Iman.
  2. Niat mengharapkan ganjaran pahala.
Maksudnya adalah setiap orang hendaklah mempersiapkan dirinya dengan beriman dan berharap atau memohon pahala dari Allah swt dan ridhaNya dalam melaksanakan amal-amal soleh di bulan Ramadhan.Allah swt ketika memulakan perintahNya sentiasa menggunakan ungkapan “ya ayyuhalladzina amanu”, sepertimana dalam firman Allah swt :

“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan ke atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan ke atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa”. (QS Al-Baqarah :183)
Dalam ayat-ayat Al-Qur’an, setiap kali Allah swt menyebutkan perintah tentang kewajiban (baik suruhan atau larangan) secara khusus, pasti akan mendahulukan perkataan “Iman” sementara jika berkaitan dengan perintah ibadah secara umum akan mendahulukan kata “An-Naas”.
Ini adalah kerana perkataan ‘iman’ boleh ditafsirkan sebagai :

Persiapan seorang hamba untuk melaksanakan kewajiban dan menjauhi larangan tersebut, sekalipun perintah tersebut berat dan memerlukan tenaga dan harta seperti puasa, solat, zakat dan haji.
Namun, jika kewajiban itu dalam bentuk umum seperti perintah beribadah kepada Allah swt dan untuk menjelaskan bahwa tugas utama kewujudan manusia di dunia ini adalah untuk beribadah kepada Allah swt dan tunduk kepadaNya, maka seringkali ianya dimulai dengan seruan “ya ayyuhannaas” seperti firman Allah swt :“Wahai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertaqwa”. (QS Al-Baqarah : 21)

Dan firman Allah swt lagi :“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi diri kepadaKu”. (QS Az-Zariyaat : 56)
Oleh kerana itulah, setiap orang yang beriman hendaklah meletakkan setiap langkah dan aktivitinya dengan “iman” dan “ihtisab” kerana dengan kedua perkara tersebut niscaya segala langkah dan aktiviti serta ibadahnya akan diterima dan mendapat pahala dari Allah swt serta ganjaran yang berlipat kali ganda.

Banyak lagi ayat-ayat lain yang menyebutkan bahwa segala perbuatan yang berlandaskan iman maka akan diterima oleh Allah swt dan diberi ganjaran yang lebih baik.

Sementara itu, segala perbuatan yang tidak berlandasakan iman, maka tidak akan bermanfaat di sisi Allah swt walau sebaik apapun dan sebesar manapun perbuatan yang dilakukannya, ibarat fatamorgana yang ternampak dari kejauhan seperti air, namun ketika di hampiri, ianya kosong dan tiada apa-apa.

Allah swt berfirman :

“Dan orang-orang kafir amal-amal mereka adalah laksana fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi bila didatanginya air itu dia tidak mendapatinya sesuatu apapun. dan didapatinya (ketetapan) Allah swt di sisinya, lalu Allah swt memberikan kepadanya perhitungan amal-amal dengan cukup dan Allah swt adalah sangat cepat perhitungan Nya”. (QS An-Nuur : 39)
PERTAMA : Dengan ‘iman’, ia akan memunculkan keikhlasan dalam beramal.

KEDUA : Dengan ‘ihtisab’, ia akan memunculkan penyerahan diri kepada Allah swt atas
segala perbuatan dan berharap kepada Allah swt Maha Pemberi pahala, ganjaran dan
ridha untuk memberikan balasan yang setimpal dan berlipat kali ganda.

Betapa besarnya pengaruh iman di mana walau sekecil manapun perbuatannya akan menjadi besar di sisi Allah swt dan yakin bahwa Allah swt akan melipat gandakan pahala di atas segala perbuatannya, apalagi puasa yang merupakan amal yang tidak dapat diketahui oleh sesiapapun kecuali dirinya dan Allah swt.

Oleh kerananyalah, Allah swt memberikan ganjaran khusus kepada orang yang melaksanakan ibadah puasa kerana ‘iman’ dan ‘ihtisab’.Dalam hadits lain disebutkan:

“Barangsiapa yang melakukan qiyam pada lailatul qadr, dengan penuh iman dan mengharapkan ganjaran Allah swt maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR Bukhari)

“Barangsiapa yang beri’tikaf kerana iman dan mengharapkan ganjaran Allah swt, maka di ampunilah segala dosanya yang telah lalu.” (HR Ad-Dailami)
Puasa di bulan Ramadhan merupakan perisai bagi orang-orang yang berjalan menuju Allah swt.

Dalam bulan Ramadhan, ramai umat Islam melaksanakan amalan soleh atau ibadah seperti puasa, solat tarawih, tadarus, bahkan ada pula yang menghidupkan malam-malam Ramadhan dengan mendirikan solat malam yang diiringi dengan zikir dan i’tikaf.

Kemudian di siang harinya melaksanakan ibadah puasa dengan menahan makan, minum dan hubungan antara suami dan isteri.

Bahkan tidak sedikit pula orang yang mengambil kesempatan di bulan Ramadhan untuk melaksanakan berbagai kegiatan ibadah ritual mahupun sosial, kerana berdasarkan pada beberapa firman Allah swt dan hadits yang masyhur tentang keistimewaan bulan Ramadhan.

Bulan Ramadhan juga merupakan bulan yang penuh dengan :

  1. Rahmat.
  2. Keampunan (maghfirah).
  3. Jaminan seorang hamba terlepas dari siksa neraka.
Bahkan ianya dilengkapi pula pada sepuluh akhir Ramadhan dengan ‘Lailatul Qadr’, iaitu malam yang lebih istimewa dari seribu bulan.Di dalam salah satu hadits dijelaskan tentang anjuran untuk mengisi kegiatan bulan Ramadhan, antara lain :

  1. Puasa.
  2. Menghidupkan malam-malam Ramadhan.
  3. Sedekah.
Dari tiga perkara ini, berkembang dan bersemaraknya kegiatan-kegiatan ibadah di bulan Ramadhan.Kegiatan mengisi aktiviti pada malam-malam Ramadhan boleh dilakukan dengan mendirikan :

  1. Solat tarawih berjamaah.
  2. Tadarus Al Qur’an.
  3. Solat malam.
  4. Zikir.
  5. I’tikaf.
Namun yang perlu diingatkan di sini adalah untuk menghidupkan bulan Ramadhan dengan “iman” dan “ihtisab” kepada Allah swt sebagai landasan agar diterima segala amal ibadahnya dan diberikan pahala yang setimpal dari ibadah dan amal yang dilakukannya.

Jika kita meneliti sejarah, niscaya kita akan dapati bahwa para ‘Assabiqqun Al Awwalun’ menjadikan sikap hidup sederhana (wara’) sebagai hiasan perilaku hidup mereka.

Pada suatu ketika Umar bin Al Khattab ditanya,

“Kenapa engkau makan gandum yang kasar dan berpakaian sangat sederhana. Dan engkau hanya minum air kosong setiap hari, padahal engkau adalah Al Farouk-Pemimpin umat yang besar?”

Umar bin Al Khattab menjawab :

“Aku menjadi pemimpin ini dipilih oleh rakyat, di antara mereka masih ramai yang hidup sangat sederhana bahkan dalam keadaan miskin. Tidak patut seorang yang dipilih rakyat, makan dan minum serta berpakaian melebihi rakyatnya!” 
Sesungguhnya puasa telah melahirkan peribadi-peribadi yang berakhlak mulia dan secara khususnya ia telah melahirkan para pemimpin masa lalu yang hidup dengan penuh sederhana bahkan dalam keadaan kekurangan kerana mereka sangat menjaga diri (iffah) agar tidak diperhambakan oleh dunia yang memukau.

Ya Allah, terimalah puasa kami dan amal-amal kami di bulan Ramadhan yang mulia ini. Kurniakanlah keimanan yang teguh di dalam hati kami dan harapan untuk mendapatkan ganjaran pahala yang besar dariMu dari amalan-amalan yang kami laksanakan di bulan yang mulia ini serta gugurkanlah dosa-dosa kami yang telah lalu hasil dari puasa yang kami lakukan dengan ‘iman’ dan ‘ihtisab’.

Taujih Ramadhan Hasan Al Banna

Ramadhan adalah bulan perasaan dan ruhani serta saat yang paling baik untuk menghadapkan diri kita kepada Allah swt.
Sejauh yang saya ingat, ketika bulan Ramadhan menjelang, sebahagian Salafus Soleh mengucapkan selamat tinggal kepada sebahagian yang lain sehingga mereka berjumpa semula dalam solat ‘Id.
Yang mereka rasakan adalah ini bulan ibadah, bulan untuk melaksanakan puasa dan qiyam (solat malam) dan kami ingin menyendiri hanya dengan Tuhan kami.Saya ingin agar waktu yang ada di bulan Ramadhan ini kita gunakan untuk melaksanakan hasil dari kajian-kajian terhadap keutamaan bulan tersebut. Apalagi, ramai di antara ikhwan yang melaksanakan solat tarawih dan memanjangkannya sehingga mengkhatamkan Al-Qur’an satu kali di bulan Ramadhan.

Ini merupakan cara mengkhatamkan yang cukup indah di mana Jibril biasa membacakan dan mendengarkan bacaan Al-Qur’an dari Nabi saw sekali dalam setahun.
Nabi saw mempunyai sifat dermawan dan sifat dermawan baginda ini paling menonjol terlihat pada bulan Ramadhan ketika Jibril membacakan dan mendengarkan bacaan Al-Qur’an baginda. Baginda lebih dermawan dan pemurah dibandingkan dengan angin yang berhembus.
Kebiasaan membacakan dan mendengarkan bacaan Al-Qur’an ini terus berlangsung sehingga pada tahun ketika Rasulullah saw diberi pilihan untuk menghadap kepada ‘Ar-Rafiq Al-A’la’, maka ketika itu Jibril membacakan dan mendengarkan bacaan Al-Qur’an baginda dua kali. Ini merupakan isyarat bagi Nabi saw bahwa tahun itu merupakan tahun terakhir baginda hidup di dunia.Ikhwan sekalian, Ramadhan adalah bulan Al-Qur’an dan Rasulullah saw pernah bersabda mengenainya :

“Puasa dan Al-Qur’an itu akan memberikan syafaat kepada hamba di hari kiamat. Puasa akan berkata, “Ya Rabbi, aku telah menghalanginya dari makan dan syahwat, maka perkenankanlah aku memberikan syafa’at untuknya.” Sedangkan Al-Qur’an akan berkata, “Ya Rabbi, aku telah menghalanginya dari tidur di malam hari, maka perkenankan aku memberikan syafaat untuknya.” Maka Allah memperkenankan keduanya memberikan syafaat. (HR Ahmad dan Daruquthni) 
Wahai Ikhwan, dalam diri saya terdetik satu pemikiran yang ingin saya bicarakan. Oleh kerana kita berada di pintu masuk bulan Puasa, maka hendaklah pembicaraan dan renungan kita berkaitan dengan tema bulan Ramadhan.
Ikhwan sekalian, kita telah berbicara panjang lebar tentang sentuhan perasaan cinta dan persaudaraan yang dengannya Allah telah menyatukan hati kita, yang salah satu kesannya yang paling terasa adalah terwujudnya pertemuan ini kerana Allah.
Apabila kita tidak akan berjumpa dalam masa empat minggu atau lebih, maka bukan bermakna bara perasaan ini terus padam atau hilang. Kita tidak seharusnya melupakan prinsip-prinsip luhur tentang kemuliaan dan persaudaraan kerana Allah yang telah dibangun oleh hati dan perasaan kita dalam majlis yang baik ini.
Saya ingin kamu semua tahu bahwa dahaganya akan pertemuan ini akan dipuaskan oleh mata air yang lebih utama, lebih lengkap, dan lebih tinggi, iaitu hubungan dengan Allah swt yang merupakan cita-cita terbaik seorang mukmin bagi dirinya, di dunia mahupun akhirat.Oleh kerana itu, Ikhwan sekalian, hendaklah kamu semua berusaha agar hati kamu menyatu dengan Allah swt pada malam-malam bulan yang mulia ini.Sesungguhnya puasa adalah ibadah yang dikhususkan oleh Allah swt bagi diriNya sendiri.

“Semua amalan anak Adam adalah untuknya, kecuali puasa, la adalah untukKu dan Aku akan memberikan balasannya.” (HR Bukhari & Muslim) Ini, wahai saudaraku, mengisyaratkan bahwa setiap amal yang dilaksanakan oleh manusia mengandungi manfaat lahiriah yang boleh dilihat dan di dalamnya terkandung seumpama bahagian untuk diri kita.

1.      Kadang-kadang jiwa seseorang terbiasa dengan solat sehingga ia ingin melaksanakan banyak solat sebagai bahagian bagi dirinya.
2.      Kadang-kadang ia terbiasa dengan zikir, sehingga ia ingin banyak berzikir kepada Allah sebagai bahagian bagi dirinya.
3.      Kadang-kadang ia terbiasa dengan menangis kerana takut kepada Allah, maka ia ingin banyak menangis kerana Allah sebagai bahagian bagi dirinya.
Adapun puasa, wahai saudaraku, di dalamnya tidak terkandung apa pun selain larangan. Ia perlu melepaskan diri dari berbagai keinginan terhadap apa yang menjadi bahagian dirinya.
Apabila kita terhalang untuk berjumpa antara satu sama lain, maka kita akan banyak berbahagia kerana bermunajat kepada Allah swt dan berdiri di hadapanNya, khususnya ketika melaksanakan solat tarawih.
Ikhwan sekalian, hendaklah kita sentiasa ingat bahwa kita semua berpuasa kerana melaksanakan perintah Allah swt. Maka berusahalah bersungguh-sungguh untuk bersama dengan Tuhan kita dengan hati kita pada bulan mulia ini.
Ikhwan sekalian, Ramadhan adalah bulan keutamaan dan ia mempunyai kedudukan yang agung di sisi Allah swt.
Perkara ini telah dinyatakan dalam kitabNya :
“(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeza (antara yang haq dan yang batil).” (QS Al-Baqarah : 185) 

Wahai saudaraku, pada akhir ayat ini kita mendapati :
“Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.” (QS Al-Baqarah : 185) 
Puasa adalah kemanfaatan yang tidak mengandungi bahaya. Dengan penyempurnaan puasa ini, Allah swt akan memberikan hidayah kepada hambaNya.
Jika Allah memberikan taufiq kepada kita untuk menyempurnakan ibadah puasa ini dalam rangka menaati Allah, maka ia adalah hidayah dan hadiah yang patut disyukuri dan selayaknya Allah dibesarkan di atas kurniaan hidayah tersebut.
“Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjukNya yang diberikan kepada kamu, supaya kamu bersyukur.” (QS Al-Baqarah : 185) 

Kemudian, lihatlah wahai saudaraku, kesan dari semua ini.
“Dan apabila hamba-hambaKu bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah) bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang mendoa apabila ia berdoa kepadaKu, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah)Ku dan hendaklah mereka beriman kepadaKu, agar mereka sentiasa berada dalam kebenaran.” (QS Al-Baqarah : 186)Wahai saudaraku, di sini kita melihat bahwa Allah Yang Maha Benar meletakkan ayat ini di tempat ini untuk menunjukkan bahwa Dia swt paling dekat kepada hambaNya adalah pada bulan mulia ini.

Allah swt telah menjadikan bulan Ramadhan sebagai bulan istimewa. Mengenai perkara ini, terdapat beberapa ayat dan hadits.

Nabi saw bersabda :
“Jika bulan Ramadhan datang, pintu-pintu syurga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, syaitan-syaitan dibelenggu, kemudian seorang penyeru berseru, “Wahai pencari kebaikan, kemarilah! Wahai pencari kejahatan, berhentilah!” (HR Thabrani) 
Wahai saudaraku, pintu-pintu syurga dibuka, kerana itu manusia berbondong-bondong melaksanakan ketaatan, ibadah dan taubat sehingga jumlah pelakunya banyak. Syaitan-syaitan dibelenggu, kerana itu manusia akan beralih kepada kebaikan, sehingga syaitan tidak mampu berbuat apa-apa.
Hari-hari dan malam-malam Ramadhan merupakan masa-masa kemuliaan yang diberikan oleh Al-Haq swt, agar orang-orang yang berbuat baik menambah kebaikannya dan orang-orang yang berbuat jahat mencari kurnia Allah swt sehingga Allah mengampuni mereka dan menjadikan mereka hamba-hamba yang dicintai dan didekatkan kepada Allah.
Keutamaan dan keistimewaan paling besar bulan ini adalah bahwa Allah swt telah memilihnya menjadi waktu turunnya Al-Qur’an. Inilah keistimewaan yang dimiliki oleh bulan Ramadhan.
Oleh kerana itu, Allah swt menjadikannya istimewa dengan menyebutkannya dalam kitabNya.
“(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Qur’an.” (QS Al-Baqarah : 185) 
Ada ikatan hakikat dan fizikal antara turunnya Al-Qur’an dengan bulan Ramadhan.
Ikatan ini adalah selain bahwa Allah telah menurunkan Al-Qur’an di bulan Ramadhan, maka di bulan ini pula Dia mewajibkan puasa kerana puasa ertinya menahan diri dari hawa nafsu dan syahwat.
Ini merupakan kemenangan hakikat kerohanian ke atas hakikat kebendaan dalam diri manusia.
Ini bererti, bahwa  :
“Jiwa, ruh dan pemikiran manusia pada bulan Ramadhan akan menghindari tuntutan-tuntutan jasmani.”
Dalam keadaan seperti ini, ruh manusia berada di puncak kejernihannya kerana ia tidak disibukkan oleh syahwat dan hawa nafsu. Ketika itu ia dalam keadaan paling bersedia untuk memahami dan menerima ilmu dari Allah swt. Oleh kerana itu, bagi Allah, membaca Al-Qur’an merupakan ibadah paling utama pada bulan Ramadhan yang mulia.
Pada kesempatan ini, Ikhwan sekalian, saya akan meringkaskan untuk kamu, semua pandangan-pandangan saya tentang kitab Allah swt dalam kalimat-kalimat ringkas.
Wahai Ikhwan yang mulia, tujuan-tujuan asasi dalam kitab Allah swt dan prinsip-prinsip utama yang menjadi landasan bagi petunjuk Al-Qur’an ada tiga :PERTAMA : PERBAIKAN AQIDAH

Kamu mendapati bahwa Al-Qur’anul Karim banyak menjelaskan masalah aqidah dan menarik perhatian kepada apa yang seharusnya tertanam sungguh-sungguh di dalam jiwa seorang mukmin agar ia dapat mengambil manfaatnya di dunia dan di akhirat.
Keyakinan bahwa Allah swt adalah Yang Maha Esa, Yang Maha Kuasa, Yang menyandang seluruh sifat kesempurnaan dan bersih dari seluruh kekurangan. Kemudian keyakinan kepada hari akhirat agar setiap jiwa dihisab tentang apa sahaja yang telah dikerjakan dan ditinggalkannya.
Saudaraku, jika kamu mengumpulkan ayat-ayat mengenai aqidah dalam Al-Qur’an, niscaya kamu mendapati bahwa keseluruhannya mencapai lebih dari sepertiga Al-Qur’an.
Allah swt berfirman dalam surah Al-Baqarah :
“Wahai manusia, beribadahlah kepada Rabb kamu yang telah menciptakan kamu dan orang-orang yang sebelum kamu, agar kamu bertaqwa. Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagi kamu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezeki untuk kamu; kerana itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah padahal kamu mengetahui.” (QS Al-Baqarah : 21-22) 

Wahai saudaraku, setiap kali membaca surah ini, kamu mendapati kandungannya ini terbentang di hadapan kamu.
Allah swt juga berfirman dalam surah Al-Mukminun :
“Katakanlah, ‘Kepunyaan siapakah bumi ini, dan semua yang ada padanya, jika kamu mengetahui?’ Mereka akan menjawab, ‘Kepunyaan Allah.’ Katakanlah, ‘Maka apakah kamu tidak ingat?’Katakanlah, ‘Siapakah Yang Empunya langit yang tujuh dan Yang Empunya ‘Arasy yang besar?’ Mereka akan menjawab, ‘Kepunyaan Allah.’ Katakanlah, ‘Maka apakah kamu tidak bertaqwa?’Katakanlah, ‘Siapakah yang di tanganNya berada kekuasaan atas segala sesuatu sedang Dia melindungi, tetapi tidak ada yang dapat dilindungi dari (azab)Nya, jika kamu mengetahui?’ Mereka akan menjawab, ‘Kepunyaan Allah.’ Katakanlah, ‘(Kalau demikian), maka dari jalan manakah kamu ditipu?’Sebenarnya Kami telah membawa kebenaran kepada mereka, dan sesungguhnya mereka benar-benar orang yang berdusta.” (QS Al-Mukminun : 84-90)Allah swt juga berfirman dalam surah yang sama :

“Apabila sangkakala ditiup maka tidaklah ada lagi pertalian nasab di antara mereka pada hari itu dan tidak pula mereka saling bertanya. Barangsiapa yang berat timbangan (kebaikannya) maka mereka itulah orang-orang yang dapat keberuntungan.Dan barangsiapa yang ringan timbangan (kebaikannya), maka mereka itulah orang-orang yang merugikan dirinya sendiri, mereka kekal di dalam neraka Jahanam.” (QS Al-Mukminun : 101-103)Allah swt juga berfirman :

“Apabila bumi digoncangkan dengan goncangan yang dahsyat. Dan bumi telah mengeluarkan beban-beban berat (yang dikandung)nya. Dan manusia bertanya, ‘Mengapa bumi (jadi begini)?’Pada hari itu bumi menceritakan beritanya. Kerana sesungguhnya Tuhanmu telah memerintahkan (yang demikian itu) kepadanya. Pada hari itu manusia keluar dari kuburnya dalam keadaan yang bermacam-macam, supaya diperlihatkan kepada mereka (balasan) pekerjaan mereka. Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan seberat zarah pun, niscaya dia akan melihat (balasan) nya pula.” (QS Al-Zalzalah : 1-8)Allah swt berfirman :

“Hari Kiamat. Apakah hari Kiamat itu?Tahukah kamu apakah hari Kiamat itu? (QS Al-Qaari’ah : 1-3) 

Dalam surah lain, Allah swt berfirman :
“Bermegah-megahan telah melalaikan kamu sehingga kamu masuk ke dalam kubur. Janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatan kamu itu). Dan janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui.(QS At-Takatsur : 1-4) 

Wahai saudaraku, ayat-ayat ini menjelaskan hari akhirat dengan penjelasan cukup terang yang mampu melunakkan hati yang keras.KEDUA : PENGATURAN IBADAH

Kita juga membaca firman Allah swt mengenai ibadah.
“Dan dirikanlah solat dan tunaikanlah zakat.” (QS Al-Baqarah : 43) 
“…diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu.” (QS Al-Baqarah : 183)
“…mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, iaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah.” (QS Ali Imran : 97) 
“Maka aku katakan kepada mereka, ‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun.” (QS Nuh : 10) 

Dan banyak lagi ayat-ayat lain mengenai ibadah.KETIGA : PENGATURAN AKHLAK

Mengenai pengaturan akhlak, wahai saudaraku, kamu dapat membaca firman Allah swt :
“Dan demi jiwa serta penyempurnaan (ciptaan)nya. Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketaqwaannya.” (QS Asy-Syams : 7-8) 
“…Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum, sehingga mereka mengubah keadaan yang ada dalam diri mereka sendiri.” (QS Ar-Ra’d : 11) 
“Adakah orang yang mengetahui bahwasanya apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu itu benar sama dengan orang yang buta? Hanyalah orang-orang yang berakal sahaja yang dapat mengambil pelajaran.(Iaitu) orang-orang yang memenuhi janji Allah dan tidak merosak perjanjian. Dan orang-orang yang sabar kerana mencari ridha Tuhannya, mendirikan solat, dan menaf kahkan sebahagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka, secara sembunyi atau terang-terangan serta menolak kejahatan dengan kebaikan; orang-orang itulah yang mendapat tempat kesudahan (yang baik). (Iaitu) syurga ‘Adn yang mereka masuk ke dalamnya bersama-sama dengan orang-orang yang soleh dari bapa-bapanya, isteri-isterinya dan anak cucunya, sedang malaikat-malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu.(Sambil mengucapkan), ‘Salamun ‘alaikum bima shabartum (keselamatan atasmu berkat kesabaranmu),’ maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu.” (QS Ar-Ra’d : 19-24) 
Wahai saudaraku, kamu mendapati bahwa akhlak-akhlak mulia bertebaran dalam kitab Allah swt dan bahwa ancaman bagi akhlak-akhlak tercela sangatlah keras.
“Dan orang-orang yang memutuskan apa-apa yang Allah perintahkan supaya dihubungkan dan mengadakan kerosakan di bumi, orang-orang itulah yang memperolehi kutukan dan bagi mereka tempat kediaman yang buruk (Jahanam).” (QS Ar-Rad : 25) 

Inilah peraturan-peraturan tersebut.
Ikhwan sekalian, sebenarnya, peraturan-peraturan itu lebih tinggi daripada yang dikenali oleh manusia kerana di dalamnya terkandung semua yang dikehendaki manusia untuk mengatur urusan masyarakat.
Ketika mengupas sekelompok ayat, maka kamu akan mendapati makna-makna ini jelas dan terang.
Seperempat juz yang dimulai dengan
“Mereka bertanya kepadamu tentang arak dan judi.” (QS Al-Baqarah : 219)mengandungi lebih dari dua puluh lima hukum amali tentang :

a.       Arak.
b.      Judi.
c.       Anak-anak yatim.
d.      Perkahwinan laki-laki dan wanita-wanita musyrik.
e.       Haid.
f.       Sumpah.
g.      Ila’.
h.      Talak.
i.        Ruju’.
j.        Khulu’.
k.      Nafkah.
dan hukum-hukum lainnya yang banyak sekali di mana kamu boleh dapatkan dalam seperempat juz sahaja. Ini adalah kerana surah Al-Baqarah datang untuk mengatur masyarakat Islam di Madinah.
Ikhwan tercinta, hendaklah kamu semua menjalin hubungan dengan kitab Allah. Bermunajatlah kepada Tuhan dengan kitab Allah. Hendaklah masing-masing dari kita memperhatikan prinsip-prinsip asas yang telah saya sebutkan ini kerana itu akan memberikan manfaat yang banyak kepada kamu, wahai saudaraku. InsyaAllah kamu akan mendapatkan manfaat darinya.
Akhir sekali Ikhwan sekalian, hendaklah kamu semua menjadikan bulan ini sebagai bulan ibadah untuk mendekatkan diri kepada Allah dan melaksanakan tradisi yang dilakukan oleh salafus-soleh radhiyallahu ‘anhum.
Ya Allah, bukakanlah pintu-pintu hati kami untuk menerima segala keutamaan dan keberkatan Ramadhan sebagaimana Engkau buka pintu-pintu syurga untuk menerima hamba-hambaMu yang mendekatkan diri mereka kepadaMu di bulan yang mulia ini. Tutupkanlah hati kami dari mengikuti segala kehendak nafsu dan syahwat sebagaimana Engkau tutup pintu-pintu neraka bagi menghindarkan diri kami dari terpalit dengan dosa dan noda yang akan menjerumuskan kami ke dalamnya.

Tausiyah Ramadhan Hasan Al Banna

Saya memandang bahwa perlu kita mengingatkan tentang masaalah Ramadhan, kerana kita sekarang berada di ambang pintu Ramadhan dan hampir menyibukkan diri dalam kewajiban-kewajiban kita di dalamnya.
Ramadhan adalah bulan :
  1. Barakah.
  2. Rahmat.
  3. Kebahagiaan.
Betapa perlunya manusia merenung sejenak untuk bersiap-siap menyambutnya disebabkan oleh kebaikan-kebaikan yang dikandungnya.
Ia merupakan bulan yang dihormati di masa jahiliah dan ketika Islam datang, ia semakin dihormati dan dimuliakan.
Di bulan ini, Allah swt menurunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia. Betapa perlunya kita menenangkan dan menyedarkan jiwa tentang hak Ramadhan sebelum menemuinya.
Ikhwan sekalian :
Bulan Ramadhan adalah bulan :
  1. Permohonan.
  2. Munajat.
  3. Hidayah.
  4. Petunjuk kebenaran.
Hendaklah orang yang berpuasa menggembeling diri di dalamnya dan menjauhkannya dari urusan dunia, agar kemanusiaannya meningkat dan bersambung dengan Rabbnya.
Banyak hadits yang menarik manusia agar memperhatikan :
  1. Keutamaan bulan ini.
  2. Ketinggian kedudukannya.
  3. Kemuliaan hari-harinya.
  4. Besarnya nilai taubat di dalamnya.
sehingga ianya akan memacu kaum muslimin untuk menyiapkan diri menemuinya serta menyedari bahwa perniagaan di dalamnya pasti mendatangkan keuntungan.
Waktu-waktu yang akan berlalu di dalamnya sangat berharga dan kesempatan yang ada merupakan kesempatan emas.
“Wahai pencari kejahatan berhentilah dan wahai pencari kebaikan kemarilah!”
Hendaklah kaum muslimin mengingatkan diri mereka dengan sabda Nabi saw :“Tiada hari yang menyinsing fajar padanya kecuali berseru, ‘Hai anak Adam, aku adalah makhluk baru yang menyaksikan amal perbuatanmu. Maka ambillah bekalan dariku, kerana aku tidak akan kembali sehingga ke hari kiamat.”

Ikhwan sekalian :
Allah swt menjadikan bulan Ramadhan sebagai bulan yang agung di samping memberikan keistimewaan yang banyak sekali kepadanya serta menjadikannya sebagai salah satu fasa kehidupan yang paling berharga dan salah satu stesen perjalanan di atas jalan hidup yang lurus.
Pada bulan itu, seorang muslim mencurahkan sebahagian besar perhatiannya kepada :
  1. Allah.
  2. Akhirat.
  3. Peningkatan ruhani.
Ia adalah :
  1. Bulan ruhani.
  2. Bulan kebersihan jiwa.
  3. Bulan munajat.
  4. Bulan yang mempunyai keistimewaan.
  5. Waktu untuk menghadap kepada Allah.
  6. Waktu untuk memohon pertolongan dari Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar.
  7. Waktu untuk menjalin hubungan dengan Al-Mala’ul A’la.
“(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeza (antara yang haq dan yang batil). Oleh kerana itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjukNya yang diberikan kepada kamu, supaya kamu bersyukur.” (QS Al-Baqarah : 185)
Ada suatu tarikan atau perhatian yang indah dan kenikmatan yang luar biasa, iaitu dihubungkannya kandungan ayat ini dengan ayat yang lain.
“Dan apabila hamba-hambaKu bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang mendoa apabila ia berdoa kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah) Ku dan hendaklah mereka beriman kepadaKu, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (QS Al-Baqarah : 186)
Kemudian ayat ini diteruskan lagi dengan ayat lain:
“Dihalalkan bagi kamu pada malam hari puasa bercampur dengan isteri-isteri kamu; mereka itu adalah pakaian bagi kamu dan kamu pun adalah pakaian bagi mereka.” (QS Al-Baqarah : 187)
Ayat yang mulia ini datang di sela-sela hukum-hukum tentang puasa.
“ Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu.” (QS Al-Baqarah : 183)Kemudian,

“Dihalalkan bagi kamu pada malam hari puasa bercampur dengan isteri-isteri kamu.” (QS Al Baqarah : 187)
Dengan serasi dan sempurna, ayat ini berhubungan dengan ayat puasa. Kemudian di antara keduanya Allah swt mendatangkan ayat lain.
“Dan apabila hamba-hambaKu bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang mendoa apabila ia berdoa kepada-Ku.” (QS Al-Baqarah : 186)
Hakikat agung yang terkandung di dalamnya adalah bahwa Allah swt mendorong kita untuk bermunajat dan memohon kepadaNya pada saat jiwa dalam keadaan paling dekat kepada RabbNya.
“Agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (QS Al-Baqarah : 186)
Ikhwan sekalian :
Hendaklah kamu benar-benar berusaha agar tidak ada waktu yang berlalu tanpa amal soleh. Jika kamu lalai, hendaklah segera menyedari kelalaian kamu.
Suatu ketika Hanzhalah ra menemui Abu Bakar Ash-Shiddiq ra dan berkata :
“Abu Bakar, saya melihat keadaanku sebagaimana keadaan orang-orang munafik.”
Abu Bakar menjawab, “Mengapa?”
Hanzhalah berkata : “Bukankah ketika bersama Rasulullah saw, ruh kita menjadi lembut dan jiwa kita meningkat, tetapi setelah kita meninggalkan beliau, keadaan menjadi berubah-ubah?”
Maka Abu Bakar berkata : “Marilah kita pergi kepada Rasulullah saw.”
Nabi saw bersabda, “Andaikata keadaanmu sebagaimana ketika di hadapanku, niscaya para malaikat akan menjabat tanganmu; Tetapi, sewaktu-waktu.”
Jadi, usaha rawatan terhadap kelengahan dan kelalaian adalah :
  1. Mengingati akan kesalahan.
  2. Introspeksi diri.
  3. Sentiasa menjalin hubungan dengan Allah swt.
“Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa bila mereka ditimpa was-was dari syaitan, mereka ingat kepada Allah, maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya.” (QS Al A’raf : 201)
Apabila syaitan berhasil menimpakan kelalaian pada hati kita dan menjauhkan kita dari sebahagian kebaikan, maka hendaklah kita :
  1. Lebih bersikap serius dalam perjalanan.
  2. Mengerahkan daya dan usaha.
  3. Menumpukan perhatian dalam menghadap kepada Allah swt.
“Dan Dialah yang menerima taubat dari hamba-hambaNya.” (QS Asy-Syura : 25)
Hendaklah manusia melakukan persiapan dengan :
  1. Sentiasa bertaubat.
  2. Memohon ampun.
  3. Meninjau lembaran-lembaran masa lalu.
Apabila kita mendapatkan kebaikan, kita memuji Allah dan apabila kita mendapatkan keburukan, kita meninggalkannya seraya bertaubat kepadaNya.
“Wahai pencari keburukan, berhentilah!”
Jika dalam sehari, Rasulullah saw bertaubat seratus (100) kali sedangkan sebagaimana kita tahu, Allah telah mengampuni segala dosa baginda yang lalu mahupun yang akan datang.
Maka :
Bagaimana pendapat kita tentang orang yang diliputi oleh perbuatan maksiat dari segala penjuru serta tenggelam dalam kesenangan dan syahwatnya?
Oleh yang demikian, kewajiban kita adalah memperbanyakkan istighfar apalagi jika kita berada dalam bulan yang suci.
Kita menghadap kepada Allah dengan keimanan sempurna dan keikhlasan yang tulus seraya memohon agar Dia memberi kita kemampuan untuk menempuh sebab-sebab.
“Wahai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murniya, mudah-mudahan Tuhan kamu akan menutupi kesalahan-kesalahan kamu dan memasukkan kamu ke dalam syurga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai.” (QS At Tahrim : 8)
Taubat yang murni dan ubudiyah yang tulus dengan kembali kepada Allah swt adalah salah satu sebab kebahagiaan sempurna pada hari kiamat dan jalan untuk menyertai Nabi saw.
“Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, iaitu nabi-nabi, para shiddiqin, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang yang soleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya. (QS An-Nisa’ : 69)
Maka, mulai sekarang, hendaklah kita bersungguh-sungguh menyucikan diri dari kotoran-kotoran dosa dan maksiat kerana kita semua akan menghadapi kedatangan bulan Ramadhan.
Kurniaan Allah swt di bulan Ramadhan lebih luas daripada di waktu lainnya. Maka, persiapkanlah diri kita semua untuk menghadapi kewajiban agung ini.
Nabi saw bersabda :“ Barangsiapa telah didatangi bulan Ramadhan, tetapi tidak mendapatkan ampunan dari Allah, maka Allah tidak akan memberikan ampunan kepadanya.”
Orang yang celaka adalah yang dihalangi dari rahmat Allah swt pada bulan Ramadhan.

Adalah wajib untuk mengingatkan diri kita tentang keutamaan bulan ini dan mempersiapkannya untuk beramal di dalamnya.
Ramadhan telah mendorong amal yang banyak dan kewajiban yang luhur seperti puasa, solat, zikir serta membaca kitab Allah yang boleh membersihkan jiwa dan menghidupkan hati.
Rasul saw membaca dan mempelajari Al-Qur’an di hadapan Jibril pada bulan Ramadhan, sekali manakala pada tahun terakhir kerasulan, baginda membacanya dua kali.
Dakwah kita semua adalah dakwah Al-Qur’an, sedangkan kita sekalian mengatakan :
“Al-Qur’an adalah pedoman hidup kami.”
Maka, bulan Ramadhan adalah dakwah kita. Perbanyakkanlah membaca Al-Qur’an dan renungkan kandungannya, kerana kita akan mendapatkan kenikmatan baru padanya ketika membaca walaupun berulang sekalipun seseorang itu hafizh (penghafal) Al-Qur’an.
Kita akan merasakan pengaruh yang menakjubkan jika membacanya dengan penghayatan makna.
Jangan berusaha memahaminya dengan mendalami perkara-perkara yang pelik-pelik dan kajian yang canggih tetapi, bacalah sebagaimana para sahabat Rasulullah saw membacanya.
  1. Barangsiapa membacanya seperti ini, maka untuk setiap huruf yang dibacanya ia mendapat sepuluh (10) kebaikan dan Allah melipatgandakan pahala bagi siapa yang dikehendakiNya.
  1. Barangsiapa yang mendengarkan satu ayat dari kitab Allah, maka ia akan mendapatkan cahaya dan petunjuk pada hari kiamat.
Ketahuilah bahwa bulan Ramadhan merupakan bulan sedekah dan kezuhudan terhadap material dan oleh kerana itu, banyakkanlah menyantuni fakir miskin.
Rasulullah saw adalah manusia yang paling dermawan dan kedermawanan baginda paling besar terlihat pada bulan Ramadhan.
Berusahalah agar kita mempunyai amalan yang tidak kita tinggalkan selama bulan Ramadhan.
Bersemangatlah dalam melaksanakan solat tarawih. Kita melaksanakannya dengan membaca seluruh Al-Qur’an, lapan rakaat.
Solat tarawih merupakan salah satu sunnah muaakadah serta syiar dan kekhususan bulan Ramadhan. Ia adalah wadah tempat hati seorang muslim berhubungan dengan Tuhannya.
Nabi saw didatangi oleh Jibril pada bulan Ramadhan lantas membacakan Al-Qur’an di hadapannya.
Oleh kerana Ramadhan adalah puasa di siang hari sekaligus sesuai untuk menjadi bulan untuk bangun di malam hari sedangkan malam sangat sesuai untuk dilaksanakan solat.
Jumlah rakaat dalam solat tarawih adalah lapan (8), itulah yang dilaksanakan oleh Rasulullah saw. Namun, boleh pula dua puluh (20) rakaat, iaitu sebagaimana yang dilaksanakan oleh Umar ra. Ada pula yang melaksanakan tiga puluh enam (36) rakaat dan ini sebagaimana yang dilaksanakan oleh penduduk Madinah. Masing-masing mempunyai asas dari sunnah.Tujuan perlaksanaan solat tarawih adalah menjalin interaksi dengan Allah dan Kitabullah. Disunnahkan untuk memanjangkan solat tarawih ini.

Solat tarawih tidak dimaksudkan untuk memperbanyakkan rakaat semata-mata sebagaimana yang dilakukan oleh kebanyakan orang sambil melaksanakannya secara tergesa-gesa sehingga menjadikannya cacat, sementara mereka lupa bahwa solat tarawih tiada lain melainkan untuk menikmati kitabullah dan inilah rahsia di dalamnya.
Jika ada pertentangan antara kedua perkara itu, maka mencukupkan dengan lapan (8) rakaat panjang lebih baik daripada dua puluh (20) rakaat dengan tergesa-gesa.
Diriwayatkan dari Abu Bakar ra yang berkata :
“Kami meninggalkan solat tarawih agar orang-orang yang berpuasa boleh segera makan sahur, lantaran khuatir terbitnya fajar.”Mereka biasa :

  1. Membaca seluruh surah Al-Baqarah.
  2. Bersandar di atas tongkat kerana lamanya berdiri dan membaca.
Sehingga mereka dapat menikmati kitab Allah.
Yang dikehendaki dalam pelaksanaan solat ini adalah :
  1. Perhatian terhadap asas pensyariatannya.
  2. Perlaksanaannya sebaik mungkin.
  3. Pemanfaatan kesempatan untuk mendengar bacaan Al-Qur’an.
Adapun acara ‘ritual’ yang dilakukan oleh sebahagian umat Islam sehingga menimbulkan suara kuat di masjid seperti solawat dan kalimat la ilaha illallah wahdahu la syarikalah…’ dan sebagainya yang mereka baca dengan suara keras, itu sama sekali bukan termasuk dalam ajaran agama.
Menghadapi keadaan ini, seorang pendakwah mestilah berlaku lemah lembut dalam dakwah dan menggunakan kebijaksanaan dalam memberikan bimbingan tanpa kekerasan.
“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik.” (QS An Nahl : 125)
Jika kita mempunyai kekuatan, maka kita boleh memaksa mereka, tetapi jika tidak, maka kita mestilah mengajak mereka dengan lemah lembut.
“Dan tidak lain kewajiban rasul itu melainkan menyampaikan (amanat Allah) dengan terang.” (QS An Nur : 54)
Tidak perlu menciptakan persengketaan antara seorang muslim dengan saudara muslim lainnya.
Menjaga persatuan adalah kewajiban sedangkan solat tarawih adalah sunnah. Menjaga kewajiban itu lebih utama daripada menjaga sunnah.
Para pendakwah dan pembimbing berkewajiban untuk mengarahkan terhadap para pemimpin mereka untuk memperbaiki keadaan ini dengan bijaksana. Hendaklah kita semua sentiasa menjaga perlaksanaan sesuatu yang lebih sempurna dan lebih baik.Di bulan Ramadhan, kita juga menanti malam-malam yang mulia, saat kebaikan tercurah. Malam ketujuh belas (17) adalah malam bersejarah iaitu saat turunnya Al Qur’an pertama kali.

Begitu pula pada siangnya ketika pertolongan Allah datang secara nyata dalam perang Badar, ketika dua pasukan saling berhadapan.
Sesungguhnya telah ada tanda bagi kamu pada dua golongan yang telah bertemu (bertempur). Segolongan berperang di jalan Allah dan (segolongan) vang lain kafir yang dengan mata kepala melihat (seakan-akan) orang-orang muslimin dua kali jumlah mereka. Allah menguatkan dengan bantuanNya siapa yang dikehendakiNya. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat pelajaran bagi orang- orang yang mempunyai mata hati.” (QS Ali Imran : 13)
Lailatul Qadr jatuh pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan. Bahkan sepuluh malam ini merupakan malam-malam tajalli’.
Oleh itu hendaklah saudara :
  1. Menggembeling jiwa di dalamnya.
  2. Membersihkannya dari urusan-urusan dunia.
  3. Menghadaplah kepada Allah dengan solat, munajat dan terus-menerus berdoa.
kerana Allah swt menyukai orang yang terus-menerus berdoa.
Barangsiapa memiliki waktu lapang, hendaklah beri’tikaf dan tidak keluar dari masjid kecuali untuk keperluan yang mendesak, kerana i’tikaf adalah sunnah Rasulullah saw dan dilaksanakan pula oleh orang-orang soleh.
Adapun bagi yang mempunyai kesibukan, setidak-tidaknya usahakan supaya beri’tikaf di malam hari.
Jika sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan tiba, baginda saw sebagaimana yang disebutkan di dalam hadits :
  1. Menguatkan sarung.
  2. Melaksanakan qiyamul lail.
  3. Membangunkan isteri-isteri baginda.
Ketahuilah bahwa interaksi yang dikehendaki di bulan Ramadhan adalah interaksi dalam ketaatan kepada Allah dan bukan dalam permainan.
Namun yang dilakukan manusia justeru adalah sebaliknya iaitu mereka menjadikan Ramadhan sebagai bulan kelalaian dan permainan.
Di antara mereka ada yang menghabiskan waktu-waktu di bulan Ramadhan di kelab-kelab, tempat-tempat hiburan dan kopitiam-kopitiam.
Di antara mereka ada juga yang mendatangi seorang faqih di satu ruangan untuk membaca Kitabullah di dalamnya lalu setelah itu mereka meninggalkannya ke ruangan lain untuk berbincang-bincang semahunya dan tidak mendengarkan ataupun mentadabbur ayat Al-Qur’an.Suatu ketika Ibnu Masud ra berlalu di hadapan sekelompok orang yang berada di tepi jalan. Ia berkata kepada mereka :

“Para sahabat Muhammad saw biasa saling berkunjung kerana Allah.”
Mereka menjawab :
“Motif kami keluar dari rumah tidak lain adalah saling berkunjung kerana Allah.”
Ia berkata kepada mereka :
“Bergembiralah, kerana aku pernah mendengar Rasulullah saw bersabda :
“Kamu semua tetap dalam keadaan baik, selama mana masih saling mengunjungi.”

Oleh yang demikian, wahai saudaraku sekalian :
Hendaklah kita semua menjadikan bulan Ramadhan sebagai bulan :
  1. Ibadah untuk mendekatkan diri kepada Allah swt.
  2. Melaksanakan tradisi yang dilakukan oleh salafus-soleh radhiyallahu ‘anhum.
Semoga Allah swt melimpahkan solawat dan salam kepada Sayyidina Muhammad saw dan juga kepada segenap keluarga dan sahabat baginda.
Ya Allah, sesungguhnya Ramadhan yang kami cintai dan rindui sudah berada di ambang pintu. Kami tetap menunggu dan menantikan ketibaan tamu yang agung ini. Campakkanlah rasa gembira dan senang hati ke dalam lubuk hati kami untuk kami menyambut kedatangan tamu yang penuh barakah ini sehingga kami mampu mengisi hari-hari dan malam-malamnya dengan bertaubat, beribadah, berzikir, membaca Al Qur’an, mentadabbur ayat-ayatnya, berdoa, memberi makan fakir miskin, melaksanakan kebajikan terhadap sesama insan sehingga Engkau ridha dan menerima segala amal-amal kami di sepanjang bulan yang mulia itu.

Kemendikbud: tindak kepala sekolah lakukan pungutan

Pewarta: Derizon Yazid

Padang (ANTARA News) – Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) melarang sekolah melakukan pungutan kepada orang tua siswa karena biaya operasional sekolah telah ada. Jika ada pungutan terlarang maka dinas pendidikan setempat diminta menindak kepala sekolah yang melakukannya.

“Sekolah di Indonesia jangan ada lagi melakukan pungutan kepada orang tua siswa,” kata Wakil Mendikbud, Musliar Kasim, di Padang, Selasa. Saat ini merupakan masa pendaftaran murid baru di sekolah-sekolah mulai dari SD hingga SMA.

Menurut dia, kalau ada orang tua siswa merasa sarana dan prasarana sekolah tidak mencukupi, maka pungutan diperbolehkan dengan musyawarah dengan orang tua siswa.

“Jika berdasarkan hasil musyawarah para orang tua siswa mau melengkapi kekurangan sarana dan prasarana sekolah, maka sah saja untuk melakukan pungutan,” ujar dia.

Kemendikbud meminta seluruh dinas pendidikan di Indonesia untuk melakukan pengawasan terhadap sekolah yang melakukan pungutan kepada orang tua siswa menjelang tahun ajaran baru 2013-2014.

“Jika ditemukan adanya pungutan, maka dinas pendidikan agar melakukan tindakan kepada sekolah yang melakukan pungutan tersebut,” katanya.

Hal ini sesuai dengan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 60 Tahun 2011 tentang Larangan Pungutan Biaya Pendidikan pada sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Pertama.

Dia mengatakan, Kemendikbud berharap pemerintah daerah melalui dinas terkait untuk memperketat pengawasan dan mempersiapkan sanksi administrasi yang menimbulkan efek jera kepada sekolah yang melakukan pungutan kepada orang tua siswa.

“Pengawasan dan tindakan merupakan kewenangan kabupaten/kota di Indonesia terkait otonomi daerah,” kata dia.

Menurut dia, sekarang ini pemerintah memberikan bantuan dana untuk kompensasi kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bagi siswa miskin.

Berdasarkan data, sekitar 13,5 juta siswa miskin di Indonesia akan menerima bantuan danauntuk kompensasi kenaikan BBM.

“Angka tersebut naik lebih dari dua kali lipat dari tahun sebelumnya yang hanya sekitar 5,9 juta pelajar,” kata dia.

Besarnya bantuan yang berikan kepada siswa jenjang pendidikan SD menerima sebesar Rp450 per tahun, Rp750 ribu untuk siswa SMP/MTS, dan Rp1 Juta untuk SMA/SMK/MA.