Category: Pendidikan

Hafalan Al-Qur’an Melalui Metode Talaqi Di MI An-Najiyah Bandung

BAB I

PENDAHULUAN

 A.      Latar Belakang

Al-Qur’an adalah wahyu Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw melalui perantara malaikat Jibril sebagai pedoman dan petunjuk bagi seluruh umat manusia. Tidak ada keraguan di dalamnya dan petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa. Sehingga tidak akan tersesat selama berpegang teguh kepada al kitab ini sebagaimana sabda Rasulullah saw.

“Aku tinggalkan untuk kalian dua perkara. Kalian tidak akan sesat selama berpegangan dengannya, yaitu Kitabullah (Al Qur’an) dan sunnah Rasulullah Saw.” (HR. Muslim)[1]

Barangsiapa yang berpedoman dan mengamalkan isi Al Qur’an maka Allah akan meninggikan derajatnya, tapi barangsiapa yang tidak beriman kepada Al Qur’an maka Allah akan menghinakannya dan merendahkan derajatnya. Sabda Rasulullah Saw.:

“Sesungguhnya Allah, dengan kitab ini (Al Qur’an) meninggikan derajat kaum-kaum dan menjatuhkan derajat kaum yang lain.” (HR. Muslim)[2]

Kitab ini juga sebagai sarana umat muslim untuk berdialog dengan Allah Swt., sebagaimana disabdakan Nabi Muhammad Saw.:

“Apabila seorang ingin berdialog dengan Robbnya maka hendaklah dia membaca Al Qur’an.” (HR. Ad-Dailami dan Al-Baihaqi)[3]

Untuk bisa membaca dan mempelajari Al-Quran tentunya diperlukan cara atau metode yang baik. Pada saat ini telah banyak metode atau cara membaca, mempelajari dan menghafal Al-qur’an salah satu diantaranya yang pernah digunakan oleh Rasulullah Saw. untuk mengajarkan Al-Quran kepada para sahabat jaman dulu adalah dengan metode talaqqi.

Metode talaqqi banyak digunakan juga oleh para pengajar pada jaman sekarang ini, sebagaimana yang diterapkan di MI An-Najiyah Bandung. Untuk mempelajari lebih lengkap tentang metode ini akan dibahas pada bab berikutnya.

B.      Perumusan masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, permasalahan yang akan dibahas pada makalah ini antara lain:

  1. Bagaimana implementasi hafalan Al-Quran di MI An-Najiyah Bandung
  2. Bagaimana penerapan metode talaqqi di MI An-Najiyah Bandung
  3. Bagaimana kompetensi guru pengajar Al-Quran di MI An-Najiyah Bandung

C.    Tujuan penelitian

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui:

  1. Implementasi hafalan Al-Quran di MI An-Najiyah Bandung
  2. Penerapan metode talaqqi di MI An-Najiyah Bandung
  3. Kompetensi guru pengajar Al-Quran di MI An-Najiyah Bandung

D.      Pengumpulan Data

Dalam menyusun makalah ini, peneliti mengumpulkan data dengan metode wawancara dengan santri dan guru yang mengajar, melakukan observasi untuk melihat langsung kegiatan hafalan Al-Quran di MI An-Najiyah Bandung. Selain itu peneliti mengkaji dari berbagai pustaka baik buku maupun internet yang berhubungan dengan materi yang diteliti.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A.     Pemahaman Al-Quran

Al-Quran merupakan petunjuk dan pedoman hidup bagi umat manusia terutama umat Islam, merupakan mu’jizat terbesar yang diturunkan Allah Swt kepada Nabi Muhammad Saw. yang di dalamnya terkandung petunjuk yang berkaitan dengan akidah, akhlak, muamalah, syari’ah, sejarah dan lain sebagainya. Oleh karena itu, kita sebagai umat muslim dituntut untuk bisa mempelajari dan memahami hal-hal yang terkandung di dalamnya.

Keutamaan mempelajari dan memahami Al-Quran sangat banyak, diantaranya Rasulullah Saw. bersabda:

“Orang yang pandai membaca Al Qur’an akan bersama malaikat yang mulia lagi berbakti, dan yang membaca tetapi sulit dan terbata-bata maka dia mendapat dua pahala. (HR. Bukhari dan Muslim)[4]

Dari hadis  tersebut dapat diambil pemahaman bahwa kemulyaan orang yang membaca Al-Quran itu seperti para malaikat dalam hal tinggi derajatnya dan mulia kedudukannya. Kemudian orang yang sulit dan terbata-bata dalam membaca dan mempelajarinya akan mendapatkan dua pahala yaitu satu dari bacaannya dan satu lagi dari usahanya.

Dalam hadis lain juga Rasulullah Saw. menjelaskan:

“Barangsiapa membaca satu huruf dari Al Qur’an maka baginya satu pahala dan satu pahala diganjar sepuluh kali lipat.” (HR. Tirmidzi) [5]

Al-Quran bukan sekedar harus dipelajari, tetapi Al-Quran juga harus diajarkan kepada orang lain yang belum mampu untuk membaca dan mempelajari Al-Quran, Sabda Rasulullah Saw.:

“Sebaik-baik kamu ialah yang mempelajari Al Qur’an dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari)[6]

Suatu metode sangat di butuhkan di dalam menekuni segala disipilin ilmu, sehingga dalam masalah yang terkait dengan menghafal Al-Qur’an juga perlu adanya metodologi menghafalkannya, agar para penghafal bisa menyelesaikan hafalan dengan waktu yang cepat atau sesuai dengan target dan bisa terbentuk suatu hafalan yang bagus, tentunya hal ini bisa terwujud dengan kedisiplinan dan komitmen seseorang dengan waktu dan konsep yang telah ada.

Barang siapa yang mempelajari dan memahami Al-quran, maka akan diberikan rahmat oleh Allah Swt. Dengan dipermudah dalam mempelajari dan memahaminya. Sebagaimana firman Allah Swt. Dalam surat Al-Qomar ayat 17, 22, 32 dan 40

وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْآنَ لِلِذِّكْرِ فَهَلْ مِنْ مُدَّكِرٍ.

Artinya: Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al Qur’an untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran?

Menghafal Al-Qur’an adalah marhalah setelah mampu membaca dan perlu kita sadari bersama bahwa tingkatan menghafal adalah belum finish, walau kadang ada fenomena yang muncul di sebagian masyarakat kita bahwa kalau sudah hafal Al-Qur’an berarti sudah segalanya, dengan hanya bisa hafal belumlah cukup, karena kita tidak hanya di tuntuk sekedar bisa membaca dan hafal Al-Qur’an, tetapi lebih dari pada itu kita dituntut juga untuk bisa memahami dan mengamalkan isinya dalam kehidupan ini. Namun demikian peran menghafal Al-Qur’an sangat penting untuk menjadi motivasi menuju pada tahapan-tahapan berikutnya.

B.      Metode Talaqqi dalam menghafal Al-Quran

Talaqqi berasal daripada kalimah laqia yang berarti berjumpa. Yang dimaksudkan berjumpa adalah bertemu antara murid dengan guru.[7] Talaqqi adalah model pembelajaran pertama yang dicontohkan Rasulullah bersama Para Sahabat Beliau.[8]

Talaqqi adalah salah satu metode untuk mengetahui sesuatu atau bisa di katakan talaqqi merupakan salah satu metode pembelajaran zaman dulu yang ada hingga saat ini. Talaqqi adalah salah satu metode mengajar peninggalan Nabi Muhammad SAW yang terus menerus dilakukan oleh orang-orang setelah Nabi SAW, para sahabat, tabi’in, hingga para ulama bahkan pada zaman sekarang terutama untuk daerah Arab seperti Mekkah, Madinah dan Mesir.

Sudah menjadi hal yang Masyhur di kalangan mahasiswa Al- Azhar Mesir terutama tentang cara belajar dengan cara talaqqi, yaitu cara pertemuan guru dan murid secara face to face, dari situ para mahasiswa mengambil pelajaran di samping belajar di universitas masing-masing. Disini kita tidak  membahas lebih dalam tentang apa itu talaqqi tetapi kita akan sejenak memutar ulang tentang sejarah pengajaran Rasulullah kepada sahabat yang banyak beliau melalui melalui metode talaqqi.

Di lihat dari sistem mengajarnya,maka ada dua macam kategori talaqqi. Pertama, seorang guru membaca atau menyampaikan ilmunya di depan murid-muridnya sedang para murid menyimaknya, yang mungkin di akhiri dengan pertanyaan-pertanyaan. Kedua, murid membaca di depan guru lalu guru membenarkan jika ada kesalahan dalam bacaan murid. Di zaman Nabi sendiri talaqqi kedua hanya bisa digunakan dalam membaca Al-Quran, yaitu para sahabat membaca Al-Quran didepan Nabi SAW lalu Nabi mendengarkan dan membenarkannya jika ada kesalahan karena pada waktu itu belum ada bacaan dan para sahabat hanya fokus pada menghafal Al-Quran dan belum mengerti membaca dan menulis, sedangkan dalam metode pembelajaran, Nabi SAW lebih menggunakan metode talaqqi yang pertama, yaitu Nabi SAW menyampaikan didepan para sahabat sedang para sahabat mendengarkannya.[9]

Ada beberapa kelebihan dari metode talaqqi, yang dalam hal ini sudah dilalui oleh Rasulullah SAW dalam mendidik sahabatnya. Kita akan bahas beberapa point penting  tentang kelebihan talaqqi yang tentunya berdasarkan apa yang terjadi di zaman Rasulullah.[10]

  1. Talaqqi  memudahkan pengajar mengawasi murid dan membimbing mereka secara langsung. Dari Abdullah ibnu Mas’ud Ra berkata : “Lelaki dari golongan kami apabila mempelajari sepuluh ayat maka tidak akan melewatinya sampai dia mengetahui maknanya dan mengamalkannya. Dan dari Abu abdirrahman assilmi : “ Menceritakan kepada kami orang-orang yang membacakan kepada kami Al- Quran bahwasanya mereka membaca Al-Quran bersama Nabi SAW dan apabila mereka mempelajari sepuluh ayat maka tidak melewatinya sampai mereka mengamalkan apa yang ada didalamnya.

Dari sini kita bisa melihat salah satu kelebihan dari talaqqi, Rasulullah dalam mengajari para sahabat, beliau mengajarkan Al- Quran dengan cara pertemuan secara langsung dan menyampaikannya pada hari-hari tertentu, dan Rasulullah sangat teliti tentang perkembangan sahabat melalui pertemuan itu. Berbeda dengan cara belajar sekarang seperti melalui media internet, yang seorang guru tidak secara langsung bertemu murid, sehingga guru hanya mentitik beratkan pada tugas dan IQ murid, dan selebihnya guru tidak mengetahui tentang kepribadian murid-muridnya, tetapi Islam terutama cara mengajar Rasulullah berbeda, karna Rasulullah mengerti bahwa karakter itu penting di samping ilmu yang tinggi.

Kita juga tidak boleh melupakan bahwa Al-Quran juga di sampaikan kepada Nabi yang salah satunya melalui jalur talaqqi dari Malaikat Jibril, bahkan setiap tahun Nabi mengulang hafalan Al-Quran yang telah di turunkan kepada beliau di depan Malaikat Jibril.

Ini lah metode Nabi Muhammad SAW dalam mengajar, Nabi Muhammad dengan metode ini lebih leluasa mengawasi perkembangan para sahabat, tidak hanya para sahabat tapi Nabi juga mengajari para shahabiyah tentang agama Islam dengan pertemuan pada hari- hari tertentu, dalam sebuah hadits, dari abu sa’iid berkata : Kaum wanita berkata kepada Nabi SAW : “ Para laki-laki telah mengalahkan kami, maka jadikan lah untuk kami hari darimu, maka Nabi SAW menjanjikan kepada mereka di salah satu hari dimana mereka akan bertemu, lalu Nabi menasehati dan memerintah mereka di hari itu. (HR. Bukhori)

  1. Talaqqi memudahkan pengajar memilih cara yang tepat dalam menyampaikan ilmu, karna dengan bertemu langsung antara guru dan murid, membuat guru lebih mudah mengenali kepribadian murid.
  2. Keberadaan talaqqi merupakan bagian penting dalam penyebaran agama Islam, karna ada bagian yang tidak bisa di miliki oleh metode-metode pengajaran lainnya seperti saling mengerti antara guru dan murid, dll.

Metode itu akan lebih maksimal jika di dukung oleh beberapa hal sebagai berikut:[11]

  1. Niat Ikhlas;
  2. Memiliki cita-cita yang tinggi untuk menjadi penghafal Al-Quran;
  3. Memiliki cinta yang mendalam terhadap Al-Qur’an;
  4. Adanya pembimbing/guru yang menjadi kerektor dalam bacaan dan hafalan;
  5. Adanya kesinambungan di dalam proses menghafal Al-Qur’an (istiqomah);
  6. Harus memiliki kesabaran;
  7. Menggunakan satu mushhaf untuk menghafal Al-Qura’an;
  8. Membiasakan wirid harian dengan Al-Qur’an;
  9. Membiasakan menjaga wudlu sehari-hari;
  10. Membiasakan untuk melaksanakan solat sunat hajat dua roka’at sebelum menghafal Al-Qur’an;
  11. Mengadakan evaluasi hafalan secara intensif;
  12. Membiasakan membaca dengan tartil;
  13. Memperbanyak doa kepada Allah;
  14. Memilih waktu dan tempat/lingkungan yang tepat yang bisa mendukung proses menghafal Al-Qur’an;
  15. Membiasakan untuk sering ikut majlis Al-Qur’an.

Manfaat menghafal Al-Qur’an, disini penulis akan menyebutkan beberapa hal saja, di antarnya:[12]

  1. Mempermudah seseorang untuk memasuki marhalah selanjutnya yaitu memahami isi kandungannya, orang yang hafal Al-Qur’an akan merasa lebih mudah di dalam mengingat-ingat isi kandungannya;
  2. Memudahkan seseorang untuk berdzikir pada Allah, karena orang yang hafal Al-Qur’an tidak terlalu bergantung pada mushaf ketika akan membacanya, sehingga bisa sambil jalan , berbaring dan lain sebagainya dalam membaca Al-Qur’an;
  3. Menambah rasa cinta terhadap Al-Qur’an.

BAB III

KAJIAN EMPIRIS

 

A.        Kondisi Objek Penelitan

  1. Profil Madrasah Ibtidaiyah An-Najiyah Bandung
Nama Madrasah : Madrasah Ibtidaiyah (SD Islam) Plus An-Najiyah
Alamat : Jl. Utsman Bin Affan No. 90 Perumahan Griya Cempaka Arum, Gedebage, Bandung.
Visi : Terwujudnya generasi bermanhaj salaf yang beraqidah lurus berakhlaq mulia dan berwawasan sains dan teknologi.
Misi : Membentuk generasi yang memiliki manhaj yang benar sesuai dengan pemahaman Ahlussunnah wal Jama’ah. Menyelenggarakan sistem pendidikan yang kondusif terhadap pribadi yang beraqidah lurus, berakhlak mulia. Mengembangkan sistem pendidikan yang berorientasi pada terciptanya generasi yang memiliki pemahaman syar’i dan kompetensi di bidang sains dan teknologi.

Pendidikan adalah tahap yang sangat penting dalam rangkaian pembelajaran seorang anak. Pengalaman persekolahan dan pembelajaran yang berkesan, bermakna dan menggembirakan dapat membekali mereka dengan kecakapan, keyakinan diri dan sikap yang positif untuk memasuki tahap pendidikan dasar dalam rangkaian pendidikan sepanjang hayat.

Madrasah Ibtidaiyah (SD Islam) Plus An-Najiyah didirikan untuk berupaya menjadi salah satu lembaga pendidikan yang berkualitas dan mampu memenuhi harapan tersebut. Insya Allah

  1. Target
  • Hafal 1 Juz Al-Qur’an per tahun
  • Hafal dan terbiasa melaksanakan praktek ibadah sehari-hari
  • Menguasai pelajaran sesuai Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP)
  • Trampil menggunakan komputer (MS Windows dan MS Office)
  • Menguasai kosa kata dan percakapan sederhana dalam bahasa arab dan inggris
  • Hafal hadits Arba’in An Nawawy
  1. Kurikulum

Madrasah Ibtidaiyah (SD Islam) Plus An-Najiyah menggunakan kurikulum yang merupakan modifikasi dari 6 (enam) komponen, yaitu ;

  • Diniyah (Agama Islam)
  • Bahasa
  • Perkembangan kognitif
  • Perkembangan Sosio-emosi
  • Perkembangan Fisikal
  • Perkembangan Kreatifitas dan Estetika

B.      Penerapan Metode Talaqqi di MI (SD Islam) Plus An-Najiyah Bandung

1.      Sekilas program tahfidz Al-Quran di Madrasah Ibtidaiyah An-Najiyah

Madrasah Ibtida’iyah (MI) adalah satu jenjang pendidikan di Ma’had An-Najiyah Al-Islami. Salah satu program yang menjadi unggulan pada jenjang ini adalah program Tahfidzul Qur’an. Setiap siswa setidaknya mengikuti 3 kegiatan dalam pembelajaran Tahfidzul Qur’an, yaitu:

  1. Manjil, yaitu hafalan lama yang telah dihafal oleh murid
  2. Sabaq, yaitu hafalan baru yang sedang dihafal oleh murid
  3. Sabqi, yaitu hafalan kemarin yang sudah dihafal oleh murid

Penjelasan dari 3 komponen tersebut adalah disetiap harinya dalam menambah hafalan, maka wajib disertakan pula hafalan kita yang kemarin di setiap talah selesai 1 juz maka wajib mengulanginya ketika memasuki juz berikutnya.

Contoh: pagi ini murid sedang menghafal surat Al-Qolam (sabaq), setelah selesai dilanjutkan dengan mengulang surat Al-Mulk yang kemarin sudah dihafalkan oleh murid (sabqi), kemudian murid harus muraja’ah 1 juz kebelakang yatu juz 30 (manjil), atau bisa juga dengan cara murid menyetor hafalan lama (manjil), kemudian menyetor hafalan kemarin (sabqi), setelah itu baru menyetor hafalan baru (sabaq).

2.     Tata Tertib Pengajaran Tahfidz Qur’an

  1. Mengikhlaskan niat hanya untuk mengharap pahala dari Allah Ta’ala.
  2. Kegiatan dilaksanakan di masjid (untuk Ikhwan) dan ruang kelas/mushalla (untuk Akhwat).
  3. Untuk yang di masjid:

-            Murid datang tepat waktu.

-            Berwudhu kemudian berdo’a sebelum masuk masjid dan shalat dua rakaat dengan tertib.

-            Mengambil mushaf Al-Quran dengan menunaikan adab-adabnya.

-            Berkumpul di halaqahnya masing-masing dan duduk dengan rapih.

-            Tidak diperkenankan membawa sesuatu yang tidak ada kaitannya dengan kegiatan pengajaran tahfidz.

-            Selama pembelajaran berlangsung, murid tidak diperkenankan makan dan minum, bercanda atau mengganggu temannya, bermain-main dan ngobrol.

-            Murid harus menghormati dan mematuhi perintah guru pembimbingnya.

-            Murid tidak diperkenankan meninggalkan halaqahnya tanpa  seizin guru pembimbingnya atau yang menggantikannya.

-            Berdo’alah dengan tenang untuk menutup kegiatan.

-            Sesuai kegiatan, murid harus meletakkan mushaf Al-Qur’an pada tempatnya dengan rapi dan jangan sekali-kali meletakannya di sembarang tempat.

3.     Petunjuk Pembimbing

  1. Pembimbing memegang 1 kelompok tahfizh yang terdiri dari 10 siswa
  2. Pembimbing dan siswa hadir tepat waktu pada jam dan tempat yang telah ditentukan
  3. Waktu maksimal tahfidz 90 menit, setiap siswa mendapatkan giliran membaca dan menyetorkan hafalan, kurang lebih 9 menit.
  4. Pembimbing memberikan tanda dengan pensil pada mushaf siswa apabila terjadi kesalahan.
  5. Pembimbing mencatat kegiatan membaca, hafalan dan perilaku siswa pada buku catatan prestasi qiraah tahfidz dan buku penghubung, pembimbing dan orang tua memberikan paraf pada kolom yang telah disediakan.
  6. Pembimbing mengisi rekap hafalan mingguan siswa sesuai kelompoknya masing-masing, dan mengumpulkan kembali map rekap hafalan mingguan setiap hari Rabu ke koordinator tahfidz.

4.    Kriteria penilaian tahsin/tilawan

  1. Baik (B) : Bacaan lancar sesuai tajwid dan makhroj yang benar, tanpa kesalahan atau minimal 1 kali kesalahan.
  2. Cukup (C) : Bacaan kurang lancar dengan tetap memperhatikan kaidah tajwid dan makhroj yang benar, terjadi 1 -2 kali kesalahan.
  3. Ulang (U) : Bacaan belum lancar tanpa memperhatikan kaidah tajwid dan makhroj yang benar, terjadi lebih dari 3 kesalahan.

5.     Kriteria penilaian tahfidz

  1. Baik (B) : Hafalan lancar sesuai tajwid dan makhroj yang benar, tanpa kesalahan atau minimal 1 kali kesalahan.
  2. Cukup (C) : Hafalan kurang lancar dengan tetap memperhatikan kaidah tajwid dan makhroj yang benar, terjadi 1 -2 kali kesalahan.
  3. Ulang (U) : Hafalan belum lancar tanpa memperhatikan kaidah tajwid dan makhroj yang benar, terjadi lebih dari 3 kesalahan.

MI An-Najiyah mempunyai target dalam menghafal Al-Quran adalah 1 Juz per tahun. Maka untuk mencapai target tersebut MI An-Najiah menggunakan metode talaqqi dalam pembelajaran hafalan Al-Qur’an. Sebagaimana yang telah dibahas pada bab sebelumnya bahwa metode talaqqi adalah suatu metode dimana murid langsung membaca Al-Quran berhadapan dengan gurunya sehingga dapat langsung dikoreksi apabila ada bacaan yang salah.

Untuk pembelajaran Al-Quran di MI An-Najiah dilaksanakan empat hari dalam seminggu yaitu hari Senin, Selasa, Kamis dan Jumat masing-masing selama 2 jam pelajaran kali 45 menit yaitu dari jam 07.50 – 09.20 WIB. Selain itu ada kegiatan kelasikal yaitu seluruh murid dengan dibimbing oleh seorang guru bersama-sama menghafal Al-Quran dan mengulang hafalan sebelumnya yang dilaksanakan pada hari Senin jam 15.30 WIB.[13]

Target harian menghafal Al-Quran sebanyak tiga baris, ini berarti dalam satu minggu kurang lebih satu halaman, dan dalam jangka satu bulan murid harus mampu menghafal 2,5 halaman atau lebih, maka tidak menutup kemungkinan dalam satu tahun ada murid yang bisa menghafal Al-Quran lebih dari satu juz.[14]

Dari hasil wawancara dengan salah satu murid MI An-Najiyah kelas VI yang  bernama Ghazi Fahri, dia sudah hafal Al-Quran sebanyak 4 juz dalam jangka waktu lima setengah tahun, yaitu dari sejak kelas 1 MI sampai pertengahan kelas VI MI, menurut dia ada juga temannya yang sudah menghafal 8 juz.

Dalam kegiatan bimbingan Al-Quran di MI (SD Islam) Plus An-Najiyah dari kelas III – VI dibagi kedalam beberapa halaqah, yaitu 8 halaqah putra yang bertempat di masjid dan 9 halaqah putri yang bertempat di ruang kelas, setiap kelompok halaqah terdiri dari maksimal 10 orang murid dengan 1 orang guru pembimbing.

C.     Kompetensi Guru Pembimbing

Berikut bio data pendamping Al-Quran di MI (SD Islam) Plus An-Najiyah Bandung:

Nama                           : Agung Hidayatullah

TTL                             : Semarang, 7 September 1982

Alamat                        : Blok M3 No 110 Komp. Cempaka Arum,

Gedebage Bandung

Jabatan                        : Guru Pembelajaran Al-Quran

Pendidikan Formal      : S1 UNISBA Tahun 2004

Pendidikan Khusus     : Al Imarat selama 2 tahun 2004-2005

IUA (International University Africa) Sudan selama 1 tahun

No. HP                        : 081802132539

Untuk peningkatan kompetensi pengajar Al-Quran di MI (SD Islam) Plus An-Najiyah diadakan pelatihan setiap hari Sabtu jam 15.30 – 17.00 Wib, dengan instruktur dari TARQI materinya bimbingan pembelajaran Al-quran metode Imam Syafi’i.

DAFTAR PUSTAKA

 

http://www.anneahira.com, diakses pada hari Jumat  tanggal 15 November 2013,          jam 09.00

http://shibghatulla.blogspot.com, diakses pada hari Jumat  tanggal 15 November 2013, jam 09.00

http://akademiilmuanzaman.wordpress.com, diakses pada hari Jumat tanggal 15 November 2013, jam 09.00

http://jundumuhammad.wordpress.com, diakses pada hari Jumat tanggal 15 November 2013, jam 09.00

Kementerian Agama RI. 2010. Al-Quran dan Terjemahnya. Jakarta : PT. Tehazed

Muhammad Faiz Almath. 1100 Hadits Terpilih (Sinar Ajaran Muhammad) – Gema Insani Press


[1] 1100 Hadits Terpilih (Sinar Ajaran Muhammad) – Dr. Muhammad Faiz Almath – Gema Insani Press

[2] Ibid.

[3] Ibid

[4] Ibid.

[5] Ibid.

[6] Ibid.

[10] Ibid.

[12] Ibid.

[13] Hasil wawancara dengan Ust. Agung, salah satu penanggung jawab dan pengajar Al-Quran di MI An-Najiyah pada hari Jumat, 15 November 2013 jam 09.00 WIB

[14] Ibid.

Asal-Usul Lambang Burung Garuda

Apa lambang Negara Republik Indonesia? Ya Burung Garuda. Mengapa Negara kita menggunakan lambang Negara seperti itu? Sejak kapan menggunakan lambang Negara tersebut? Apa saja arti dari Lambang Negara RI itu?

Burung garuda berdekatan dengan burung elang Rajawali. Burung ini terdapat dalam lukisan di candi-candi Dieng yang dilukiskan sebagai manusia berparuh dan bersayap, lalu di candi Prambanan, dan Panataran berbentuk menyerupai raksasa, berparuh, bercakar dan berambut panjang.

Beberapa kerajaan di pulau jawa menggunakan Garuda sebagai materai/stempel kerajaan, seperti yang disimpan di Musium Nasional, adalah stempel milik kerajaan Erlangga.

Burung Garuda ditetapkan sebagai lambang Negara RI sejak diresmikan penggunaannya pada 11 Februari 1950, dan dituangkan dalam Peraturan Pemerintah no 66 tahun 1951. Penggagasnya adalah Sultan Abdurrahman Hamid Alkadrie II atau dikenal dengan Sultan Hamid II, yang saat itu sebagai Mentri Negara Republik Indonesia Serikat (RIS).

Pencipta Lambang Negara Burung Garuda Pancasila

Garuda itu adalah seekor burung yang hidup dalam dunia khayalan, terutama dalam pewayangan. Garuda dianggap mulia karena memiliki kekuatan dan kecantikan parasnya. Sehingga banyak yang menggunakannya dalam berbagai kegiatan yang dianggapnya menunjukkan sebuah power dan tentunya kebebasan karena garuda bebas bisa terbang ke mana saja.

Cerita garuda bisa jadi lambang negara adalah benar kalau itu ada pengaruh sultan hamid II yang cenderung, dulunya memihak belanda (ingat dia ketua BFO – Perserikatan negara2 non-RI setelah agresi militer belanda 1). Namun setelah dia diangkat menjadi salah satu pejabat negara, sebagai wakil yang memiliki pengaruh di Indonesia bagian Timur, beliau ikut sebuah sayembara yang dikeluarkan Presiden Soekarno untuk menemukan sosok lambang negara RI yang selama 5 tahun tanpa lambang.

Ketika menjelang HUT RI ke 60, di SCTV ada cerita seorang yang meneliti tentang asal-usul lambang negara kita. Penelitian ini adalah thesis S2 di UGM. Dari sekian gambar yang masuk, dipilihlah burung garuda ini (peserta harus menyematkan 5 pilar/sila yang dikenal sebagai Pancasila). Dari gambar burung purba sampai garuda diperlihatkan dalam siaran tersebut. Karena memang mencari jawaban tanya selama ini, siapa yang menggagas lambang RI?, banyak yang bilang Moh. Yamin, namun ternyata usulan Moh. Yamin, ditolak Presiden Soekarno. Penasaran ini terjawab sudah, karena di buku jarang banget yang dibahas, sama sebelum tahun 2000-an, bila mencari siapa yang menggagas nama Indonesia.

Sultan Hamid II

Sepanjang orang Indonesia, siapa tak kenal burung garuda berkalung perisai yang merangkum lima sila Pancasila? Tapi orang Indonesia mana sajakah yang tahu, siapa pembuat lambang negara itu dulu?

Dia adalah Sultan Hamid II, yang terlahir dengan nama Syarif Abdul Hamid Alkadrie, putra sulung sultan Pontianak, Sultan Syarif Muhammad Alkadrie Lahir di Pontianak tanggal 12 Juli 1913. Dalam tubuhnya mengalir darah Indonesia-Arab walau pernah diurus ibu asuh berkebangsaan Inggris. Istri beliau seorang perempuan Belanda yang kemudian melahirkan dua anak,kedua anaknya sekarang di Negeri Belanda.

Syarif menempuh pendidikan ELS di Sukabumi, Pontianak, Yogyakarta, dan Bandung. HBS di Bandung satu tahun, THS Bandung tidak tamat, kemudian KMA di Breda, Negeri Belanda hingga tamat dan meraih pangkat letnan pada kesatuan tentara Hindia Belanda.

Ketika Jepang mengalahkan Belanda dan sekutunya, pada 10 Maret 1942, ia tertawan dan dibebaskan ketika Jepang menyerah kepada Sekutu dan mendapat kenaikan pangkat menjadi kolonel. Ketika ayahnya mangkat akibat agresi Jepang, pada 29 Oktober 1945 dia diangkat menjadi sultan Pontianak menggantikan ayahnya dengan gelar Sultan Hamid II.

Dalam perjuangan federalisme, Sultan Hamid II memperoleh jabatan penting sebagai wakil daerah istimewa Kalbar dan selalu turut dalam perundingan-perundingan Malino, Denpasar, BFO, BFC, IJC dan KMB di Indonesia dan Belanda.

Sultan Hamid II kemudian memperoleh jabatan Ajudant in Buitenfgewone Dienst bij HN Koningin der Nederlanden, yakni sebuah pangkat tertinggi sebagai asisten ratu Kerajaan Belanda dan orang Indonesia pertama yang memperoleh pangkat tertinggi dalam kemiliteran.

Pada 21-22 Desember 1949, beberapa hari setelah diangkat menjadi Menteri Negara Zonder Porto Folio, Westerling yang telah melakukan makar di Tanah Air menawarkan “over commando” kepadanya, namun dia menolak tegas. Karena tahu Westerling adalah gembong APRA.

Selanjutnya dia berangkat ke Negeri Belanda, dan pada 2 Januari 1950, sepulangnya dari Negeri Kincir itu dia merasa kecewa atas pengiriman pasukan TNI ke Kalbar karena tidak mengikutsertakan anak buahnya dari KNIL.

Pada saat yang hampir bersamaan, terjadi peristiwa yang menggegerkan, Westerling menyerbu Bandung pada 23 Januari 1950. Sultan Hamid II tidak setuju dengan tindakan anak buahnya itu, Westerling sempat marah.

Sewaktu Republik Indonesia Serikat dibentuk, dia diangkat menjadi Menteri Negara Zonder Porto Folio dan selama jabatan menteri negara itu ditugaskan Presiden Soekarno merencanakan, merancang dan merumuskan gambar lambang negara.

Dari transkrip rekaman dialog Sultan Hamid II dengan Masagung (1974) sewaktu penyerahan file dokumen proses perancangan lambang negara, disebutkan “ide perisai Pancasila” muncul saat Sultan Hamid II sedang merancang lambang negara. Dia teringat ucapan Presiden Soekarno, bahwa hendaknya lambang negara mencerminkan pandangan hidup bangsa, dasar negara Indonesia, di mana sila-sila dari dasar negara, yaitu Pancasila divisualisasikan dalam lambang negara.

Tanggal 10 Januari 1950 dibentuk Panitia Teknis dengan nama Panitia Lencana Negara di bawah koordinator Menteri Negara Zonder Porto Folio Sultan Hamid II dengan susunan panitia teknis M Yamin sebagai ketua, Ki Hajar Dewantoro, MA Pellaupessy, Moh Natsir, dan RM Ng Purbatjaraka sebagai anggota. Panitia ini bertugas menyeleksi usulan rancangan lambang negara untuk dipilih dan diajukan kepada pemerintah.

Merujuk keterangan Bung Hatta dalam buku “Bung Hatta Menjawab” untuk melaksanakan Keputusan Sidang Kabinet tersebut Menteri Priyono melaksanakan sayembara. Terpilih dua rancangan lambang negara terbaik, yaitu karya Sultan Hamid II dan karya M Yamin. Pada proses selanjutnya yang diterima pemerintah dan DPR adalah rancangan Sultan Hamid II. Karya M Yamin ditolak karena menyertakan sinar-sinar matahari dan menampakkan pengaruh Jepang.

Setelah rancangan terpilih, dialog intensif antara perancang (Sultan Hamid II), Presiden RIS Soekarno dan Perdana Menteri Mohammad Hatta, terus dilakukan untuk keperluan penyempurnaan rancangan itu. Terjadi kesepakatan mereka bertiga, mengganti pita yang dicengkeram Garuda, yang semula adalah pita merah putih menjadi pita putih dengan menambahkan semboyan “Bhineka Tunggal Ika”.

Tanggal 8 Februari 1950, rancangan final lambang negara yang dibuat Menteri Negara RIS, Sultan Hamid II diajukan kepada Presiden Soekarno. Rancangan final lambang negara tersebut mendapat masukan dari Partai Masyumi untuk dipertimbangkan, karena adanya keberatan terhadap gambar burung garuda dengan tangan dan bahu manusia yang memegang perisai dan dianggap bersifat mitologis.

Sultan Hamid II kembali mengajukan rancangan gambar lambang negara yang telah disempurnakan berdasarkan aspirasi yang berkembang, sehingga tercipta bentuk Rajawali Garuda Pancasila. Disingkat Garuda Pancasila. Presiden Soekarno kemudian menyerahkan rancangan tersebut kepada Kabinet RIS melalui Moh Hatta sebagai perdana menteri.

AG Pringgodigdo dalam bukunya “Sekitar Pancasila” terbitan Dep Hankam, Pusat Sejarah ABRI menyebutkan, rancangan lambang negara karya Sultan Hamid II akhirnya diresmikan pemakaiannya dalam Sidang Kabinet RIS. Ketika itu gambar bentuk kepala Rajawali Garuda Pancasila masih “Gundul” dan “tidak berjambul” seperti bentuk sekarang ini.

Inilah karya kebangsaan anak-anak negeri yang diramu dari berbagai aspirasi dan kemudian dirancang oleh seorang anak bangsa, Sultan Hamid II Menteri Negara RIS. Presiden Soekarno kemudian memperkenalkan untuk pertama kalinya lambang negara itu kepada khalayak umum di Hotel Des Indes Jakarta pada 15 Februari 1950.

Penyempurnaan kembali lambang negara itu terus diupayakan. Kepala burung Rajawali Garuda Pancasila yang “Gundul” menjadi “berjambul” dilakukan. Bentuk cakar kaki yang mencengkram pita dari semula menghadap ke belakang menjadi menghadap ke depan juga diperbaiki, atas masukan Presiden Soekarno.

Tanggal 20 Maret 1940, bentuk final gambar lambang negara yang telah diperbaiki mendapat disposisi Presiden Soekarno, yang kemudian memerintahkan pelukis istana, Dullah, untuk melukis kembali rancangan tersebut sesuai bentuk final rancangan Menteri Negara RIS Sultan Hamid II yang dipergunakan secara resmi sampai saat ini.

Untuk terakhir kalinya, Sultan Hamid II menyelesaikan penyempurnaan bentuk final gambar lambang negara, yaitu dengan menambah skala ukuran dan tata warna gambar lambang negara di mana lukisan otentiknya diserahkan kepada H Masagung, Yayasan Idayu Jakarta pada 18 Juli 1974. Sedangkan Lambang Negara yang ada disposisi Presiden Soekarno dan foto gambar lambang negara yang diserahkan ke Presiden Soekarno pada awal Februari 1950 masih tetap disimpan oleh Kraton Kadriyah Pontianak.

Sultan Hamid II wafat pada 30 Maret 1978 di Jakarta dan dimakamkan di pemakaman Keluarga Kesultanan Pontianak di Batulayang.

sumber

Evaluasi Pembelajaran

1. Pengertian Evaluasi Pembelajaran
Secara harfiah kata evaluasi berasal dari bahasa Inggris evaluation, dalam bahasa Arab:al-Taqdir / Penilaian. Menurut istilah evaluasi berarti kegiatan yang terencana untuk mengetahui keadaan suatu objek dengan menggunakan instrument dan hasilnya dibandingkan dengan tolak ukur tertentu guna memperoleh kesimpulan. Evaluasi pendidikan dan pengajaran adalah proses kegiatan untuk mendapatkan informasi data mengenai hasil belajar mengajar yang dialami siswa dan mengolah atau menafsirkannya menjadi nilai berupa data kualitatif atau kuantitatif sesuai dengan standar tertentu. Menurut Suharsimi Arikunto (2004 : 1) evaluasi adalah kegiatan untuk mengumpulkan informasi tentang bekerjanya sesuatu, yang selanjutnya informasi tersebut digunakan untuk menentukan alternatif yang tepat dalam mengambil keputusan. Fungsi utama evaluasi dalam hal ini adalah menyediakan informasi-informasi yang berguna bagi pihak decision maker untuk menentukan kebijakan yang akan diambil berdasarkan evaluasi yang telah dilakukan.
Menurut Worthen dan Sanders (1979 : 1) evaluasi adalah mencari sesuatu yang berharga (worth). Sesuatu yang berharga tersebut dapat berupa informasi tentang suatu program, produksi serta alternatif prosedur tertentu. Karenanya evaluasi bukan merupakan hal baru dalam kehidupan manusia sebab hal tersebut senantiasa mengiringi kehidupan seseorang. Seorang manusia yang telah mengerjakan suatu hal, pasti akan menilai apakah yang dilakukannya tersebut telah sesuai dengan keinginannya semula.
Sedangkan menurut Viviane dan Gilbert de Lansheere (1984) menyatakan bahwa evaluasi adalah proses penentuan apakah materi dan metode pembelajaran telah sesuai dengan tujuan yang diharapkan. Penentuannya bisa dilakukan salah satunya dengan cara pemberian tes kepada pembelajar. Terlihat disana bahwa acuan tes adalah tujuan pembelajaran.
Pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Pembelajaran merupakan bantuan yang diberikan pendidik agar dapat terjadi proses pemerolehan ilmu dan pengetahuan, penguasaan kemahiran dan tabiat, serta pembentukan sikap dan kepercayaan pada peserta didik. Dengan kata lain, pembelajaran adalah proses untuk membantu peserta didik agar dapat belajar dengan baik.
Pembelajaran juga merupakan proses komunikatif-interaktif antara sumber belajar, guru, dan siswa yaitu saling bertukar informasi. “Pembelajaran adalah suatu kombinasi yang tersusun meliputi unsur-unsur manusiawi, material, fasilitas, perlengkapan dan prosedur yang saling mempengaruhi mencapai tujuan pembelajaran “.(Oemar Hamalik,1995:57) Menurut Standar Proses pada Permendiknas Nomor 41 Tahun 2007, tujuan pembelajaran menggambarkan proses dan hasil belajara yang diharapkan dicapai oleh peserta didik sesuai dengan kompetensi dasar. Ini berarti kemampuan yang dirumuskan dalam tujuan pembelajaran mencakup kemampuan yang akan dicapai siswa selama proses belajar dan hasil akhir belajar pada suatu KD.
Menurut Erman (2003:2) menyatakan bahwa evaluasi pembelajaran juga dapat diartikan sebagai penentuan kesesuaian antara tampilan siswa dengan tujuan pembelajaran. Dalam hal ini yang dievaluasi adalah karakteristik siswa dengan menggunakan suatu tolak ukur tertentu. Karakteristik-karakteristik tersebut dalam ruang lingkup kegiatan belajar-mengajar adalah tampilan siswa dalam bidang kognitif (pengetahuan dan intelektual), afektif (sikap, minat, dan motivasi), dan psikomotor (ketrampilan, gerak, dan tindakan). Tampilan tersebut dapat dievaluasi secara lisan, tertulis, mapupun perbuatan.
Dengan demikian mengevaluasi di sini adalah menentukan apakah tampilan siswa telah sesuai dengan tujuan instruksional yang telah dirumuskan atau belum. Apabila lebih lanjut kita kaji pengertian evaluasi dalam pembelajaran, maka akan diperoleh pengertian yang tidak jauh berbeda dengan pengertian evaluasi secara umum. Pengertian evaluasi pembelajaran adalah proses untuk menentukan nilai pembelajaran yang dilaksanakan, dengan melalui kegiatan pengukuran dan penilaian pembelajaran. Pengukuran yang dimaksud di sini adalah proses membandingkan tingkat keberhasilan pembelajaran dengan ukuran keberhasilan pembelajaran yang telah ditentukan secara kuantitatif, sedangkan penilaian yang dimaksud di sini adalah proses pembuatan keputusan nilai keberhasilan pembelajaran secara kualitatif.

2. Evaluasi Pembelajaran Menurut KTSP
KTSP adalah kurikulum operasional yang disusun dan dilaksanakan oleh masing-masing satuan pendidikan. Adapun landasan dalam KTSP adalah UU No.20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, PP No. 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, Permendiknas No. 22/2006 tentang Standar Isi, Permendiknas No. 23/2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan, Permendiknas No. 24/2006 dan No. 6/2007 tentang pelaksanaan Permendiknas No. 22 dan 23/2006.
a. Acuan Operasional KTSP
• Peningkatan iman dan takwa serta akhlak mulia
• Peningkatan potensi, kecerdasan, dan minat sesuai dengan tingkat perkembangan dan kemampuan peserta didik
• Keragaman potensi dan karakteristik daerah dan lingkungan
• Tuntutan pembangunan daerah dan nasional
• Tuntutan dunia kerja
• Perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni
Berikut di bawah ini alur pelaksanaan evaluasi dalam KTSP, sebagai berikut:

b. Prinsip-prinsip Penilaian
Sebagaimana yang dikutip dalam http://www.scribd.com/doc/4163440/Sistem-Penilaian-KTSP prinsip-prinsip penilaian dalam KTSP sebagai berikut:
a. Valid
Penililalian Berbasis Kelas (PBK) harus mengukur obyek yang seharusnya diukur dengan menggunakan jenis alat ukur yang tepat atau sahih (valid). Ada kesesuaian antara alat ukur dengan fungsi pengukuran dan sasaran pengukuran. Apabila alat ukur tidak memiliki kesahihan yang dapat dipertanggungjawabkan, maka data yang masuk salah sehingga kesimpulan yang ditarik juga besar kemungkinan menjadi salah.
b. Adil dan Objektif
PBK harus mempertimbangkan rasa keadilan dan obyektivitas siswa, tanpa membeda-bedakan jenis kelamin, latar belakang budaya, dan berbagai hal yang memberikan kontribusi pada pembelajaran. Sebab ketidakadilan dalam penilaian, dapat menyebabkan menurunnya motivasi belajar siswa, karena merasa dianaktirikan.
c. Terbuka
PBK hendaknya dilakukan secara terbuka bagi berbagai kalangan (stakeholders) baik langsung maupun tidak langsung, sehingga keputusan tentang keberhasilan siswa jelas bagi pihak-pihak yang berkepentingan, tanpa ada rekayasa atau sembunyi-sembunyi yang dapat merugikan semua pihak.
d. Bermakna
PBK diharapkan mempunyai makna yang signifikan bagi semua pihak. Untuk itu, PBK hendaknya mudah dipahami dan dapat ditindaklanjuti oleh pihak-pihak yang berkepentingan. Hasil penilaian hendaknya mencerminkan gambaran yang utuh tentang prestasi siswa yang mengandung informasi keunggulan dan kelemahan, minat dan tingkat penguasaan siswa dalam pencapaian kompetensi yang telah ditetapkan.
e. Menyeluruh
PBK harus dilakukan secara menyeluruh, yang mencakup aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik serta berdasarkan pada strategi dan prosedur penilaian dengan berbagai bukti hasil belajar siswa yang dapat dipertanggungjawabkan kepada semua pihak.
f. Berkesinambungan
PBK harus dilakukan secara terus-menerus atau berkesinambungan dari waktu ke waktu, untuk mengetahui secara menyeluruh perkembangan siswa, sehingga kegiatan dan unjuk kerja siswa dapat dipantau melalui penilaian.
c. Tujuan Evaluasi KTSP
Tujuan khususnya, antara lain agar peserta Evaluasi KTSP dapat: (a) memahami dan menerapkan kebijakan umum pengembangan pendidikan lanjutan pertama termasuk implikasi PP 19 tahun 2005; (b) meningkatkan pemahaman dan keterampilan tentang konsep dasar KBK dan pengembangan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP); (c) meningkatkan pemahaman tentang kebijakan pengembangan kurikulum dalam rangka implementasi Standar Isi dan Standar Kompetensi Lulusan berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional 22, 23 dan 24 tahun 2006; (d) meningkatkan pemahaman dan keterampilan dalam mengembangkan Penilaian Berbasis Kelas, ketuntasan belajar, model rapor, dan evaluasi program; (e) meningkatkan pemahaman dan keterampilan dalam merancang pengembangan Mulok dan Pengembangan Diri; (f) meningkatkan pemahaman peserta tentang pengembangan model pembelajaran IPA dan IPS terpadu; (g) meningkatkan pemahaman peserta dalam mengembangkan Pembelajaran Kontekstual dan Pendidikan Teknologi Dasar; (h) meningkatkan pemahaman peserta tentang konsep manajemen dan jaringan kurukulum, serta supervisi kurikulum; (i) mengimplementasikan kurikulum yang berlaku dalam kegiatan belajar mengajar yang efektif; dan (j) mengkomunikasikan hasil Evaluasi KTSP kepada teman sejawat di daerah.

3. Evaluasi Pembelajaran PAI Menurut KTSP
Penilaian berbasis kelas harus memperlihatkan tiga ranah yaitu: pengetahuan (kognitif), sikap (afektif), dan keterampilan (psikomotorik) Ketiga ranah ini sebaikanya dinilai proposional sesuai dengan sifat mata pelajaran yang bersangkutan. Sebagai contoh pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam (Al-Quran, Aqidah-Akhlaq, fiqh, dan tarikh) penilaiannya harus menyeluruh pada segenap aspek kognitif, afektif dan psikomotorik,dengan mempertimbangkan tingkat perkembangan siswa serta bobot setiap aspek dari setiap materi. Misalnya kognitif meliputi seluruh mata pelajaran, aspek afektif sangat dominan pada materi pembelajaran akhlak, PPkn, seni. Aspek psikomotorik sangat dominan pada mata pelajaran fiqh, membaca Al Quran, olahraga, dan sejenisnya. Begitu juga halnya dengan mata pelajaran yang lain, pada dasarnya ketiga aspek tersebut harus dinilai.
Penilaiannya tidak saja merupakan kegiatan tes formal, melainkan juga:
1) Perhatian terhadap siswa ketika duduk, berbicara, dan bersikap pada waktu belajar atau berkomunikasi dengan guru dan sesama teman;
2) Pengamatan ketika siswa berada di ruang kelas, di tempat ibadah dan ketika mereka bermain;
3) Mengamati siswa membaca Al-Qur an dengan tartil (pada setiap awal jam pelajaran selama 5 – 10 menit)
Oleh karena itu menurut penulis dalam KTSP siswa sangat diberikan kesempatan untuk mampu mengembangkan potensi yang dimiliki oleh siswa tersebut ataupun dengan kata lain siswa itu sebagai pusat pembelajar.

DAFTAR PUSTAKA
Anas Sudijono. 1995. Pengantar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2009/09/17/indikator-pencapaian-kompetensi-dan-tujuan-pembelajaran-dalam-ktsp/

http://dokumens.multiply.com/journal/item/34

http://evaluasipendidikan.blogspot.com/2008/03/evaluasi-program-sebuah-pengantar.html

http://franciscusti.blogspot.com/2008/06/pembelajaran-merupakan-proses.html

http://gurulia.wordpress.com/2009/03/25/pengertian-pembelajaran/

http://gurupkn.wordpress.com/2008/01/17/evaluasi-pembelajaran/

http://ktiptk.blogspirit.com/archive/2009/01/26/evaluasi-pembelajaran.html

http://pelangi-pendidikan.blogspot.com/2007/07/evaluasi-ktsp.html

http://www.apfi-pppsi.com/cadence21/pedagog21-3.htm

http://www.slideshare.net/NASuprawoto/pedoman-penyusunan-ktsp-presentation

http://id.wikipedia.org/wiki/Pembelajaran

http://id.wikipedia.org/wiki/Kurikulum_Tingkat_Satuan_Pendidikan

Jangan Paksa Diri demi Kurikulum 2013

  • Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Mohammad Nuh mengikuti rapat kerja dengan Komisi X di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (30/5/2013). Rapat membahas perubahan anggaran kurikulum 2013 yang akan diimplementasikan pada pertengahan Juli mendatang. | KOMPAS/HENDRA A SETYAWAN

BANDUNG, KOMPAS.com — Sekolah atau daerah tidak boleh memaksakan pelaksanaan Kurikulum 2013 secara mandiri tahun ini jika justru membebani murid atau orangtua murid, terutama dalam hal pengadaan buku. Sebelum mandiri, guru perlu dilatih dulu. Buku pun sudah harus tersedia gratis.

Hal itu ditegaskan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Mohammad Nuh seusai menghadiri grand launching Universitas Telkom, Sabtu (31/8), di Bandung, Jawa Barat. ”Tidak boleh membebani murid. Itu sangat dilarang,” ujarnya.

Sebelum memutuskan melaksanakan Kurikulum 2013 secara mandiri, sekolah yang tak termasuk sasaran pelaksana tahun ini diimbau menyiapkan diri secara matang untuk tahun depan. Jika masih ingin melaksanakan mandiri, Nuh menegaskan ada dua syarat utama: guru harus dilatih dan buku tersedia gratis.

”Kalau dua syarat ini tak dapat dipenuhi, jangan dipaksakan. Saya menyambut baik ada niatan ikut melaksanakan kurikulum. Mau saja lumayan,” katanya.

Sebelumnya, saat rapat kerja Implementasi Kurikulum 2013 di SMAN Husni Thamrin Jakarta, Sabtu pagi, Kepala Dinas Pendidikan DKI Jakarta Taufik Yudi Mulyanto mengatakan, DKI Jakarta secara resmi telah membatalkan rencana pelaksanaan Kurikulum 2013 secara mandiri khusus di jenjang SD dan SMP. Untuk SMA, rencana pelaksanaan mandiri tetap berjalan. Kebijakan ini sudah dipublikasikan ke sekolah-sekolah.

Alasan pembatalan, ujar Taufik, semata masalah alokasi anggaran pengadaan buku. Ia khawatir dana bantuan operasional sekolah (BOS) tak mencukupi sehingga dikhawatirkan sekolah memungut biaya dari murid. Dana tak cukup untuk membiayai pelatihan guru dan pengadaan buku. Rencana pengadaan buku secara digital juga tidak efektif karena hanya 50 persen sekolah yang memiliki infrastruktur teknologi informasi yang baik.

”Ini untuk mengantisipasi pungutan yang bisa dilakukan sekolah. Larangan ini tidak berlaku untuk SMA karena BOS untuk SMA lebih besar, Rp 1 juta per tahun,” kata Taufik.

Menurut Nuh, tak masalah jika ada daerah atau sekolah yang kemudian membatalkan kesanggupannya untuk implementasi mandiri. Untuk kasus DKI Jakarta, pemerintah setempat sudah menyatakan tak sanggup karena Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) tak mencukupi jika digunakan untuk pelatihan guru dan pengadaan buku.

”Tidak apa-apa kalau tidak bisa. Yang penting tetap menyiapkan diri untuk penerapan tahun depan, seperti melatih guru. Ini jalan yang dipilih DKI Jakarta. Masih banyak yang bisa jalan mandiri, seperti Kutai, Kalimantan Timur, dan sekolah swasta,” kata Nuh.
Tanggung bersama

Pada tahap pertama tahun ini, pelaksanaan Kurikulum 2013 dilakukan bertahap dan terbatas di sekitar 6.400 sekolah. Namun, mulai tahun depan semua sekolah harus menyelenggarakan Kurikulum 2013. Skema pembiayaannya dibahas di DPR.

Ada tiga pilihan skema pembayaran. Pertama, semua biaya didanai Kemdikbud. Kedua, kombinasi anggaran Kemdikbud dengan sebagian dana transfer daerah yang setiap tahun sekitar Rp 10 triliun. Ketiga, memanfaatkan kombinasi pusat, dana alokasi khusus, dan BOS. Atau keempat, memanfaatkan APBD masing-masing daerah.

”Yang jelas, pemerintah pusat tak akan lepas tangan. Pelatihan guru tetap dilakukan pusat. Yang kira-kira bisa dibagi dengan daerah itu bagian pengadaan buku,” kata Nuh. (LUK)

Masalah Pendidikan di Indonesia

Pendidikan memiliki tugas untuk menyiapkan sumber daya manusia untuk pembangunan dari suatu bangsa tersebut. Setiap langkah dalam pembangunan selalu diupayakan beriringan dengan tuntutan kamajuan zaman. Perkembangan zaman yang selalu selalu berubah dan memunculkan berbagai permasalahan baru yang sebelumnya tidak pernah kita pikirkan sebelumnya.
Indonesia adalah negara memiliki beraneka ragam dalam kebudayanya dan Indonesia juga dikenal sebagai negara yang kaya raya akan sumberdaya alamnya, namun untuk sumber daya manusianya dalam hal pendidikan masih sangat rendah. Hal tersebut telah diakui oleh banyak orang di dunia, bahkan oleh warga masyarakat Indonesia itu sendiri. Pendidikan yang ada di Indonesia merupakan salah satu negara yang kurang maju di dunia di di bidang pendidikan ini.
Hal tersebut di karenakan adanya masalah pendidikan di Indonesia yang belum dapat ditangani dengan tuntas. Adapaun masalah pendidikan di Indonesia ialah :
1. Rendahnya sarana dan prasarana
Telah kita ketahui sebelumnya dari berita-berita baik di media massa cetak atau pun elektronik, bahwa sudah banyak berita tentang sekolah-sekolah yang roboh, atau sekolah yang telah rusak karena bangunanya sudah usang, lapuk dan keropos yang sudah tidak layak namun tidak memperoleh bantuan dari pemerintah setempat. Ini merupakan salah satu bukti bahwa betapa rendahnya sarana dan prasarana yang di miliki oleh Indonesia.
2. Kurangnya pemerataan pendidikan di Indonesia
Bagi sebagian orang khususnya orang-orang yang tinggal di kota besar, pendidikan merupakan hal yang biasa saja, namun jika kita tengok ke daerah-daerah terpencil dan tempat-tempat kumuh, pendidikan merupakan suatu hal yang mewah dan sangat di dambakan. Hal tersebut di karenakan Negara lebih memfokuskan pendidikan di wilayah-wilayah pokok yang lebih potensial. Hal tersesebutlah yang membuat pemerataan pendidikan yang ada di Indonesia menjadi kurang.
3. Mahalnya biaya pendidikan
Mahalnya biaya pendidikan mulai dari tingkat dasar sampai perguruan tinggi adalah masalah yang paling utama dalam pendidikan yang ada di Indonesia. Hal inilah yang membuat banyak anak-anak yang putus sekolah di kalangan masyarakat Indonesia yang kurang mampu.

Hakikat Puasa

dontHakekat puasa dalam pandangan Rasyid Ridha adalah sebagaimana berikut ini:

1. Tarbiyah al-iradah (pendidikan keinginan)

Keinginan atau kemauan merupakan fitrah manusia. Tapi acapkali kemauan atau keinginan yang dimiliki manusia tidak selamanya baik dan tidak pula selamanya buruk. Karena itu puasa dapat mendidik atau membimbing kemauan manusia baik yang positif maupun yang negatif. Dengan puasa, kemauan positif akan terus termotifasi untuk labih berkembang dan meningkat. Adapun kemauan negatif, puasa akan membimbing dan mengarahkan agar kemauan tersebut tidak terlaksana.

Adapun yang menyebabkan kamauan seseorang ada yang positif dan yang negatif, sesuai yang diungkapkan oleh Imam Al-Gazali bahwa di dalam diri manusia terdapat sifat-sifat sebagaimana berikut ini:

  1. Sifat Rububiyah, yaitu sifat yang mendorong untuk selalu berbuat baik.
  2. Sifat Syaithoniyah, inilah sifat yang mendorong seseorang untuk berbuat kesalahan dan kejahatan.
  3. Sifat Bahimiyah (kehewanan), sesuai dengan istilah yang diberikan pada manusia sebagai mahluk biologis.
  4. Sifat Subuiyah, yaitu sifat kejam dan kezaliman yang terdapat dalam diri manusia.

2. Thariqat al-malaikat

Malaikat merupakan makhluk suci, yang selalu taat dan patuh terhadap segala perintah Allah. Begitupun orang yang puasa ketaatannya merupakan suatu bukti bahwa jiwanya tidak dikuasai oleh hawa nafsunya. Juga, orang puasa akan mengalami iklim kesucian laksana seorang bayi yang baru lahir, jiwanya terbebas dari setiap dosa dan kesalahan.

3. Tarbiyat al-ilahiyyat (pendidikan ketuhanan)

Puasa merupakan sistem pendidikan Allah SWT dalam rangka mendidik atau membimbing manusia. Sistem pendidikan ini mengandung dua fungsi yaitu:

  1. Sebagai sistem yang pasti untuk mendidik manusia supaya menjadi hamba tuhan yang taat dan patuh.
  2. Sebagai suatu sistem yang dapat mendidik sifat rubbubiyyah (ketuhanan) manusia untuk dapat berbuat adil, sabar, pemaaf dan perbuatan baik lainnya.

4. Tazkiyat annafsi (penyucian jiwa)

Hakekat puasa yang keempat ini diungkapkan oleh Ibnu Qayim al Jauzi. Puasa dapat menjadi sarana untuk membersihkan berbagai sifat buruk yang terdapat dalam jiwa manusia. Adakalanya jiwa manusia akan kotor bahkan sampai berkarat terbungkus oleh noda dan sikap keburukan yang terdapat didalamnya. Maka wajar kalau puasa dapat menjadi penyuci jiwa.

Tokoh Pembaharuan Pendidikan Islam

BAB I

PENDAHULUAN
Sejak pertengahan abad ke-19, telah banyak para kawula muda Indonesia yang belajar di Mekkah dan Madinah, untuk menekuni agama Islam. Di pusat-pusat studi di Timur Tengah, terutama di Mekkah, banyak bertebaran berbagai literatur ke-Islaman. Realitas ini amat memungkinkan bagi mereka yang belajar di sana, untuk mencapai tingkat pengetahuan yang lebih luas serta pandangan yang lebih terbuka mengenai sosok Islam.
Di antara mereka yang berhasil gemilang di dalam mengkaji Islam adalah Syekh Nawawi al Bantani dari Banten Jawa Barat, Syekh Mahfudz Attarmisi dari Pacitan Jawa Timur, serta Syekh Ahmad Chatib Sambas dari Kalimantan. Kesuksesan mereka ini ditandai dengan kedalaman ilmu yang mereka miliki, yang bukan saja diakui oleh masyarakat Tanah Suci Mekkah melainkan juga diakui oleh masyarakat Arab pada umumnya.
Generasi berikutnya yang juga merupakan murid langsung dari mereka itu antara lain.Muhammad Hasyim Asy’ari. Hasyim Asy’ari yang haus akan ilmu pengetahuan, belajar dari pesantren ke pesantren di daerah Jawa, dan terus belajar ke Mekkah kurang lebih 7 tahun. Zamakhsyari Dhofier melukiskan pribadi Hasyim Asy’ari sebagai seorang yang memiliki kedalaman ilmu secara luar biasa, sehingga para kiai di Jawa lebih suka menyebutnya Hadratus Syekh yang berarti “Tuan Guru Besar” melalui tangan Hadratus Syekh inilah lahir ulama-ulama terkemuka di Jawa yang nyaris seluruhnya menjadi pendiri dan pengasuh pesantren di daerahnya masing-masing.
Hasyim Asy’ari adalah seorang kiai yang pemikiran dan sepak terjangnya berpengaruh dari Aceh sampai Maluku, bahkan sampai ke Melayu. Santri-santri ada yang dari Ambon, Sulawesi, Kalimantan, Sumatera dan Aceh, bahkan ada beberapa orang dari Kuala Lumpur. Beliau terkenal orang yang alim dan adil, selalu mencari kebenaran, baik kebenaran dunia maupun kebenaran akhirat. Semasa hidupnya beliau diberi kedudukan sebagai Rais Akbar NU, suatu jabatan yang hanya diberikan kepada Hasyim Asy’ari satu-satunya. Bagi ulama lain yang menjabat jabatan tersebut, tidak lagi menyandang sebutan Rais Akbar melainkan Rais Am. Hal ini karena ulama lain yang menggantikannya merasa lebih rendah dibandingkan Hasyim Asy’ari.
Pemikiran Hasyim Asy’ari dalam bidang Pendidikan lebih banyak ditinjau dari segi etika dalam pendidikan. Etika dalam pendidikan banyak diungkapkan oleh Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumiddin pada Bagian adab kesopanan pelajar dan pengajar. Dalam dunia pendidikan sekarang, banyak disinggung dalam kaitannya dengan prinsip-prinsip pelaksanaan pendidikan. dan para ahli psikologi pendidikan, menyinggungnya dalam kepribadian yang efektif bagi pelajar dan mengajar.
Di antara adab pelajar menurut Al-Ghazali adalah : mendahulukan kesucian batin dari kerendahan budi dan sifat-sifat tercela, jangan menyombongkan diri dan jangan menentang guru, memulai belajar dalam bidang ilmu yang lebih penting, dan menghiasi diri dengan sifat-sifat utama. Sedangkan di antara adab seorang pengajar adalah : memulai pelajaran dengan basmalah, mempunyai rasa belas-kasihan kepada murid-murid dan memperlakukannya sebagai anak sendiri, mengikuti jejak Rasul, mengajar bukan untuk mencari upah tetapi semata-mata karena ibadah pada Allah, mengamalkan sepanjang ilmunya, jangan perkataannya membohongi perbuatannya.
Pemikiran Hasyim Asy’ari sendiri dalam hal ini boleh jadi diwarnai dengan keahliannya dalam bidang hadits, dan pemikirannya dalam bidang tasawuf dan fiqh. Serta didorong pula oleh situasi pendidikan yang ada pada saat itu, yang mulai mengalami perubahan dan perkembangan yang pesat, dari kebiasaan lama (tradisonal) yang sudah mapan ke dalam bentuk baru (modern) akibat pengaruh sistem pendidikan Barat (Imperialis Belanda) yang diterapkan di Indonesia.
BAB II
Hasyim Asy’ari lahir di desa Gedang sekitar dua kilometer sebelah Timur Kabupaten Jombang, Jawa Timur. Pada hari Selasa kliwon, tanggal 24 Dzulhijjah 1287 atau bertepatan tanggal 14 Pebruari 1871 M. Nama lengkapnya adalah Muhammad Hasyim ibn Asy’ari ibn Abd. Al Wahid ibn Abd. Al Halim yang mempunyai gelar Pangeran Bona ibn Abd. Al Rahman Ibn Abd. Al Aziz Abd. Al Fatah ibn Maulana Ushak dari Raden Ain al Yaqin yang disebut dengan Sunan Giri. Dipercaya pula bahwa mereka adalah keturunan raja Muslim Jawa, Jaka Tinggir dan raja Hindu Majapahit, Brawijaya VI. Jadi Hasyim Asy’ari juga dipercaya keturunan dari keluarga bangsawan.
Ibunya, Halimah adalah putri dari kiai Ustman, guru Asy’ari sewaktu mondok di pesantren. Jadi, ayah Hasyim adalah santri pandai yang mondok di kiai Ustman, hingga akhirnya karena kepandaian dan akhlak luhur yang dimiliki, ia diambil menjadi menantu dan dinikahkan dengan Halimah. Sementara kiai Ustman sendiri adalah kiai terkenal dan juga pendiri pesantren Gedang yang didirikannya pada akhir abad ke-19. Hasyim Asy’ari adalah anak ketiga dari sepuluh bersaudara, yaitu Nafiah, Ahmad Saleh, Radiah, Hassan, Anis, Fatanah, Maimunah, Maksum, Nahrawi, dan Adnan.
Dari lingkungan pesantren inilah Hasyim Asy’ari mendapat didikan awal tentang berbagai hal yang berkaitan dengan ke-Islaman. Hingga usia lima tahun, Hasyim mendapat tempaan dan asuhan orangtua dan kakeknya di pesantren Gedang. Mula-mula ia belajar pada ayahnya sendiri, lalu bergabung bersama santri lain untuk memperdalam ilmu agama dan pesantren itu para santri mengamalkan ajaran agama dan belajar berbagai cabang ilmu agama Islam.
Suasana ini tidak diragukan lagi mempengaruhi karakter Hasyim Asy’ari yang sederhana dan rajin belajar. Minat bacanya sangat tinggi, hingga yang dibaca bukan hanya buku-buku pelajaran dengan literatur-leteratur Islam, tetapi juga buku-buku lain dan umum.
Pada tahun 1876, ketika Hasyim Asy’ari berumur 6 tahun, ayahnya mendirikan pesantren di sebelah Selatan Jombang, suatu pengalaman yang di masa mendatang mempengaruhi beliau untuk kemudian mendirikan pesantren sendiri. Dari sini dapat dilihat bahwa kehidupan masa kecilnya di lingkungan pesantren berperan besar dalam pembentukan wataknya yang haus ilmu pengetahuan dan kepeduliannya pada pelaksanaan ajaran-ajaran agama dengan baik.
Menurut penuturan ibunya, tanda kecerdasan dan ketokohan Hasyim Asy’ari sudah tampak saat ia masih berada dalam kandungan. Di samping masa kandung yang lebih lama dari umumnya kandungan, ibunya juga pernah bermimpi melihat bulan jatuh dari langit ke dalam kandungannya. Mimpi tersebut kiranya bukanlah isapan jempol dan kembang tidur belaka, sebab ternyata tercatat dalam sejarah, bahwa pada usianya yang masih sangat muda, 13 tahun, Hasyim Asy’ari sudah berani menjadi guru pengganti (badal) di pesantren untuk mengajar santri-santri yang tidak jarang lebih tua dari umurnya sendiri. Serta di kemudian hari kita saksikan sepak terjang dan perjuangannya di berbagai bidang.
Pada usia muda Hasyim Asy’ari mulai melakukan pengembaraan ke berbagai pesantren di luar daerah Jombang. Pada awalnya, ia menjadi santri di pesantren Wonokojo di Probolinggo, kemudian berpindah ke pesantren Langitan, Tuban. Dari Langitan santri yang cerdas tersebut berpindah lagi ke pesantren Trenggilis, hingga pesantren Kademangan Bangkalan, di Madura sebuah pesantren yang diasuh kyai Khalil. Terakhir sebelum belajar ke Mekkah, ia sempat nyantri dan tinggal lama di pesantren Siwalan Panji, Sidoarjo, di bawah asuhan kiai Ya’qub, sampai akhirnya diambil menantu oleh kiai Ya’qub, dinikahkan dengan anaknya yang bernama Khadijah tahun 1892.
Tidak berapa lama kemudian ia beserta isteri dan mertuanya berangkat haji ke Mekkah yang dilanjutkan dengan belajar di sana. Modal pengetahuan agama selama nyantri di tanah air memudahkan Hasyim memahami pelajaran selama di Mekkah. Akan tetapi setelah isterinya meninggal karena melahirkan, menyebabkannya kembali ke tanah air.
Rasa haus yang tinggi akan ilmu pengetahuan membawa Hasyim Asy’ari berangkat lagi ke tanah suci Mekkah tahun berikutnya. Kali ini ia ditemani saudaranya Anis. Dan ia menetap di sana kurang lebih tujuh tahun dan berguru pada sejumlah ulama, di antaranya Syaikh Ahmad Amin al Aththar, Sayyid Sultan ibn Hasyim, Sayyid Abdullah al Zawawi, Syaikh Shaleh Bafadhal dan Syaikh Sultan Hasyim Dagastani.
Minatnya begitu tinggi terhadap ilmu pengetahuan, terutama ilmu hadits dan tasawuf. Hal ini yang membuat Hasyim di kemudian hari senang mengajarkan hadits dan tasawuf. Pada masa-masa akhir di Mekkah beliau sempat memberikan pengajaran kepada orang lain yang memerlukan bimbingannya, dan ini yang menjadi bekal tersendri yang kemudian hari diteruskan setelah kembali ke tanah air.
Pada tahun 1899/1900 ia kembali ke Indonesia dan mengajar di pesantren ayahnya dan kakeknya, hingga berlangsung beberapa waktu. Masa berikutnya Hasyim menikah lagi dengan putri kiai Ramli dari Kemuning (Kediri) yang bernama Nafiah, setelah sekian lama menduda. Mulai itu beliau diminta membantu mengajar di pesantren mertuanya di Kemuning, baru kemudian mendirikan pesantren sendiri di daerah sekitar Cukir, pesantren Tebuireng di Jombang, pada tanggal 6 Pebruari 1906. Pesantren yang baru didirikan tersebut tidak berapa lama berkembang menjadi pesantren yang terkenal di Nusantara, dan menjadi tempat menggodok kader-kader ulama wilayah Jawa dan sekitarnya.
Sejak masih di pondok, ia telah dipercaya untuk membimbing dan mengajar santri baru. Ketika di Mekkah, ia juga sempat mengajar. Demikian pula ketika kembali ke tanah air, diabdikannya seluruh hidupnya untuk agama dan ilmu. Kehidupannya banyak tersita untuk para santrinya. Ia terkenal dengan disiplin waktu (istiqamah).
Di samping bergerak dalam dunia pendidikan, Hasyim Asy’ari menjadi perintis dan pendiri organisasi kemasyarakatan NU (Nahdhatul Ulama), sekaligus sebagai Rais Akbar. Pada bagian lain, ia juga bersikap konfrontatif terhadap penjajah Belanda. Ia, misalnya menolak menerima penghargaan dari pemerintah Belanda. Bahkan pada saat revolusi fisik, ia menyerukan jihad melawan penjajah dan menolak bekerja sama dengannya. Sementara pada masa penjajahan Jepang, ia sempat ditahan dan diasingkan ke Mojokerta.
Hasyim Asy’ari meninggal pada tanggal 7 Ramadhan 1366 H bertepatan dengan 25 Juli 1947 M di Tebuireng Jombang dalam usia 79 tahun, karena tekanan darah tinggi. Hal ini terjadi setelah beliau mendengar berita dari Jenderal Sudirman dan Bung Tomo bahwa pasukan Belanda di bawah pimpinan Jenderal Spoor telah kembali ke Indonesia dan menang dalam pertempuran di Singosari (Malang) dengan meminta banyak korban dari rakyat biasa. Beliau sangat terkejut dengan peristiwa itu, sehingga terkena serangan stroke yang menyebabkan kematiannya.
BAB III
PEMIKIRAN K.H HASYIM ASY’ARI DALAM BIDANG PENDIDIKAN
Hasyim Asy’ari yang dilahirkan dan dibesarkan dalam lingkungan pesantren, serta banyak menuntut ilmu dan berkecimpung secara langsung di dalamnya, di lingkungan pendidikan agama Islam khususnya. Dan semua yang dialami dan dirasakan beliau selama itu menjadi pengalaman dan mempengaruhi pola pikir dan pandangannya dalam masalah-masalah pendidikan.
Salah satu karya monumental Hasyim Asy’ari yang berbicara tentang pendidikan adalah kitabnya yang berjudul Adab al Alim wa al Muta’allim fima Yahtaj ilah al Muta’alim fi Ahuwal Ta’allum wama Yataqaff al Mu’allim fi Maqamat Ta’limih, namun dalam penulisan ini kami tidak menemukakan kitab aslinya dan akhirnya banyak mengambil dari tulisan Samsul Nizar dalam bukunya Filsafat Pendidikan Islam, dan buku-buku yang lain sebagai penunjang.
Pembahasan terhadap masalah pendidikan lebih beliau tekankan pada masalah etika dalam pendidikan, meski tidak menafikan beberapa aspek pendidikan lainnya. Di antara pemikiran beliau dalam masalah pendidikan adalah:
a. Signifikansi Pendidikan
Beliau menyebutkan bahwa tujuan utama ilmu pengetahan adalah mengamalkan. Hal itu dimaksudkan agar ilmu yang dimiliki menghasilkan manfaat sebagai bekal untuk kehidupan akhirat kelak. Terdapat dua hal yang harus diperhatikan dalam menuntut ilmu, yaitu : pertama, bagi murid hendaknya berniat suci dalam menuntut ilmu, jangan sekali-kali berniat untuk hal-hal duniawi dan jangan melecehkannya atau menyepelikannya. Kedua, bagi guru dalam mengajarkan ilmu hendaknya meluruskan niatnya terlebih dahulu, tidak mengharapkan materi semata. Agaknya pemikiran beliau tentang hal tersebut di atas, dipengaruhi oleh pandangannya akan masalah sufisme (tasawuf), yaitu salah satu persyaratan bagi siapa saja yang mengikuti jalan sufi menurut beliau adalah “niat yang baik dan lurus”.
Belajar menurut Hasyim Asy’ari merupakan ibadah untuk mencari ridha Allah, yang mengantarkan manusia untuk memperoleh kebahagiaan dunia dan akhirat. Karenanya belajar harus diniatkan untuk mengembangkan dan melestarikan nilai-nilai Islam, bukan hanya untuk sekedar menghilangkan kebodohan.
Pendidikan hendaknya mampu menghantarkan umat manusia menuju kemaslahatan, menuju kebahagiaan dunia dan akhirat. Pendidikan hendaknya mampu mengembangkan serta melestarikan nilai-nilai kebajikan dan norma-norma Islam kepada generasi penerus umat, dan penerus bangsa. Umat Islam harus maju dan jangan mau dibodohi oleh orang lain, umat Islam harus berjalan sesuai dengan nilai dan norma-norma Islam.
b. Tugas dan Tanggung Jawab Murid
1). Etika yang harus diperhatikan dalam belajar
- Membersihkan hati dari berbagai gangguan keimanan dan keduniaan
- Membersihkan niat, tidak menunda-nunda kesempatan belajar, bersabar dan qanaah
- Pandai mengatur waktu
- Menyederhanakan makan dan minum
- Berhati-hati (wara’)
- Menghindari kemalasan
- Menyedikitkan waktu tidur selagi tidak merusak kesehatan
- Meninggalkan hal-hal yang kurang berfaedah.
Dalam hal ini terlihat, bahwa Hasyim Asy’ari lebih menekankan kepada pendidikan ruhani atau pendidikan jiwa, meski demikian pendidikan jasmani tetap diperhatikan, khususnya bagaimana mengatur makan, minum, tidur dan sebagainya. Makan dan minum tidak perlu terlalu banyak dan sederhana, seperti anjuran Rasulullah Muhammad saw. Serta jangan banyak tidur, dan jangan suka bermalas-malasan. Banyakkan waktu untuk belajar dan menuntut ilmu pengetahuan, isi hari-hari dan waktu yang ada dengan hal-hal yang bermanfaat.
2). Etika seorang murid terhadap guru
- Hendaknya selalu memperhatikan dan mendengarkan guru
- Memilih guru yang wara’
- Mengikuti jejak guru
- Memuliakan dan memperhatikan hak guru
- Bersabar terdapat kekerasan guru
- Berkunjung pada guru pada tempatnya dan minta izin lebih dulu
- Duduk dengan rapi bila berhadapan dengan guru
- Berbicara dengan sopan dan lembut dengan guru
- Dengarkan segala fatwa guru dan jangan menyela pembicaraannya
- Gunakan anggota kanan bila menyerahkan sesuatu pada guru.
Etika seperti tersebut di atas, masih banyak dijumpai pada pendidikan pesantren sekarang ini, akan tetapi etika seperti itu sangat langka di tengah budaya kosmopolit. Di tengah-tengah pergaulan sekarang, guru dipandang sebagai teman biasa oleh murid-murid, dan tidak malu-malu mereka berbicara lebih nyaring dari gurunya. Terlihat pula pemikiran yang ditawarkan oleh Hasyim Asy’ari lebih maju. Hal ini, misalnya terlihat dalam memilih guru hendaknya yang profesional, memperhatikan hak-hak guru, dan sebagainya.
3). Etika murid terhadap pelajaran
- Memperhatikan ilmu yang bersifat fardhu ‘ain
- Berhati-hati dalam menanggapi ikhtilaf para ulama
- Mendiskusikan dan menyetorkan hasil belajar pada orang yang dipercaya
- Senantiasa menganalisa dan menyimak ilmu
- Bila terdapat hal-hal yang belum dipahami hendaknya ditanyakan
- Pancangkan cita-cita yang tinggi
- Kemanapun pergi dan dimanapun berada jangan lupa membawa catatan
- Pelajari pelajaran yang telah dipelajari dengan continue (istiqamah)
- Tanamkan rasa antusias dalam belajar.
Penjelasan tersebut di atas seakan memperlihatkan akan sistem pendidikan di pesantren yang selama ini terlihat kolot, hanya terjadi komunikasi satu arah, guru satu-satunya sumber pengajaran, dan murid hanya sebagai obyek yang hanya berhak duduk, dengar, catat dan hafal (DDCH) apa yang dikatakan guru. Namun pemikiran yang ditawarkan oleh Hasyim Asy’ari lebih terbuka, inovatif dan progresif. Beliau memberikan kesempatan para santri untuk mengambil dan mengikuti pendapat para ulama, tapi harus hati-hati dalam menanggapi ikhtilaf para ulama.
Hal tersebut senada dengan pemikiran beliau tentang masalah fiqh, beliau meminta umat Islam untuk berhati-hati pada mereka yang mengklaim mampu menjalankan ijtihad, yaitu kaum modernis, yang mengemukakan pendapat mereka tanpa memiliki persayaratan yang cukup untuk berijtihad itu hanya berdasarkan pertimbangan pikiran semata. Beliau percaya taqlid itu diperbolehkan bagi sebagian umat Islam, dan tidak boleh hanya ditujukan pada mereka yang mampu melakukan ijtihad.
c. Tugas Dan Tanggung Jawab Guru
1). Etika seorang guru
- Senantiasa mendekatkan diri pada Allah
- Takut pada Allah, tawadhu’, zuhud dan khusu’
- Bersikap tenang dan senantiasa berhati-hati
- Mengadukan segala persoalan pada Allah
- Tidak menggunakan ilmunya untuk meraih dunia
- Tidak selalu memanjakan anak
- Menghindari tempat-tempat yang kotor dan maksiat
- Mengamalkan sunnah Nabi
- Mengistiqamahkan membaca al- Qur’an
- Bersikap ramah, ceria dan suka menabur salam
- Menumbuhkan semangat untuk menambah ilmu
- Membiasakan diri menulis, mengarang dan meringkas.
Catatan yang menarik dan perlu dikedepankan dalam membahas pemikiran dan pandangan yang ditawarkan oleh Hasyim Asy’ari adalah etika atau statement yang terakhir, dimana guru harus membiasakan diri menulis, mengarang dan meringkas, yang pada masanya jarang sekali dijumpai. Dan hal ini beliau buktikan dengan banyaknya kitab hasil karangan atau tulisan beliau.
Betapa majunya pemikiran Hasyim Asy’ari dibanding tokoh-tokoh lain pada zamannya, bahkan beberapa tahun sesudahnya. Dan pemikiran ini ditumbuh serta diangkat kembali oleh pemikir pendidik zaman sekarang ini, yaitu Harun Nasution, yang mengatakan hendaknya para dosen-dosen di Perguruan Tinggi Islam khususnya agar membiasakan diri untuk menulis.
2). Etika guru dalam mengajar
- Jangan mengajarkan hal-hal yang syubhat
- Mensucikan diri, berpakaian sopan dan memakai wewangian
- Berniat beribadah ketika mengajar, dan memulainya dengan do’a
- Biasakan membaca untuk menambah ilmu
- Menjauhkan diri dari bersenda gurau dan banyak tertawa
- Jangan sekali-kali mengajar dalam keadaan lapar, mengantuk atau marah
- Usahakan tampilan ramah, lemah lembut, dan tidak sombong
- Mendahulukan materi-materi yang penting dan sesuai dengan profesional yang dimiliki
- Menasihati dan menegur dengan baik jika anak didik bandel
- Bersikap terbuka terhadap berbagai persoalan yang ditemukan
- Memberikan kesempatan pada anak didik yang datangnya terlambat dan ulangilah penjelasannya agar tahu apa yang dimaksudkan
- Beri anak kesempatan bertanya terhadap hal-hal yang belum dipahaminya.
Terlihat bahwa apa yang ditawarkan Hasyim Asy’ari lebih bersifat pragmatis, artinya, apa yang ditawarkan beliau berangkat dari praktik yang selama ini dialaminya. Inilah yang memberikan nilai tambah dalam konsep yang dikemukakan oleh Bapak santri ini.
Terlihat juga betapa beliau sangat memperhatikan sifat dan sikap serta penampilan seorang guru. Berpenampilan yang terpuji, bukan saja dengan keramahantamahan, tetapi juga dengan berpakaian yang rapi dan memakai minyak wangi.
Agaknya pemikiran Hasyim Asy’ari juga sangat maju dibandingkan zamannya, ia menawarkan agar guru bersikap terbuka, dan memandang murid sebagai subyek pengajaran bukan hanya sebagai obyek, dengan memberi kesempatan kepada murid-murid bertanya dan menyampaikan berbagai persoalan di hadapan guru.
3). Etika guru bersama murid
- Berniat mendidik dan menyebarkan ilmu
- Menghindari ketidak ikhlasan
- Mempergunakan metode yang mudah dipahami anak
- Memperhatikan kemampuan anak didik
- Tidak memunculkan salah satu peserta didik dan menafikan yang lain
- Bersikap terbuka, lapang dada, arif dan tawadhu’
- Membantu memecahkan masalah-masalah anak didik
- Bila ada anak yang berhalangan hendaknya mencari ihwalnya.
Kalau sebelumnya terlihat warna tasawufnya, khususnya ketika membahas tentang tugas dan tanggung jawab seorang pendidik. Namun kali ini gagasan-gagasan yang dilontarkan beliau berkaitan dengan etika guru bersama murid menunjukkan keprofesionalnya dalam pendidikan. Hal ini dapat dilihat dari rangkuman gagasan yang dilontarkannya tentang kompetensi seorang pendidik, yang utamanya kompetensi profesional.
Hasyim Asy’ari sangat menganjurkan agar seorang pendidik atau guru perlu memiliki kemampuan dalam mengembangkan metode dan memberi motivasi serta latihan-latihan yang bersifat membantu murid-muridnya memahami pelajaran. Selain itu, guru juga harus memahami murid-muridnya secara psikologi, mampu memahami muridnya secara individual dan memecahkan persoalan yang dihadapi murid, mengarahkan murid pada minat yang lebih dicendrungi, serta guru harus bersikap arif.
Jelas pada saat Hasyim Asy’ari melontarkan pemikiran ini, ilmu pendidikan maupun ilmu psikologi pendidikan yang sekarang beredar dan dikaji secara luas belum tersebar, apalagi di kalangan pesantren. Sehingga ke-genuin-an pemikiran beliau patut untuk dikembangkan selaras dengan kemajuan dunia pendidikan.
d. Etika Terhadap Buku, Alat Pelajaran dan Hal-hal Lain Yang Berkaitan Dengannya
Satu hal yang menarik dan terlihat beda dengan materi-materi yang biasa disampaikan dalam ilmu pendidikan umumnya, adalah etika terhadap buku dan alat-alat pendidikan. Kalaupun ada etika untuk itu, namun biasanya hanya bersifat kasuistik dan seringkali tidak tertulis, dan seringkali juga hanya dianggap sebagai aturan yang umum berlaku dan cukup diketahui oleh masing-masing individu. Akan tetapi bagi Hasyim Asy’ari memandang bahwa etika tersebut penting dan perlu diperhatikan. Di antara etika tersebut adalah:
- Menganjurkan untuk mengusahakan agar memiliki buku
- Merelakan dan mengijinkan bila ada kawan meminjam buku pelajaran, sebaliknya bagi peminjam menjaga barang pinjamannya
- Memeriksa dahulu bila membeli dan meminjamnya
- Bila menyalin buku syari’ah hendaknya bersuci dan mengawalnya dengan basmalah, sedangkan bila ilmu retorika atau semacamnya, maka mulailah dengan hamdalah dan shalawat Nabi.
Kembali tampak kejelian dan ketelitian beliau dalam melihat permasalahan dan seluk beluk proses belajar mengajar. Etika khusus yang diterapkan untuk mengawali suatu proses belajar adalah etika terhadap buku yang dijadikan sumber rujukan, apalagi kitab-kitab yang digunakan adalah kitab “kuning” yang mempunyai keistimewaan atau kelebihan tersendiri. Agaknya beliau memakai dasar epistemologis, ilmu adalah Nur Allah, maka bila hendak mempelajarinya orang harus beretika, bersih dan sucikan jiwa. Dengan demikian ilmu yang dipelajari diharapkan bermanfaat dan membawa berkah.
Pemikiran seperti yang dituangkan oleh Hasyim Asy’ari itu patut untuk menjadi perhatian pada masa sekarang ini, apakah itu kitab “kuning” atau tidak, misalnya kitab “kuning” yang sudah diterjemahkan, atau buku-buku sekarang yang dianggap sebagai barang biasa, kaprah dan ada di mana-mana. Namun untuk mendapatkan hasil yang bermanfaat dalam belajar etika semacam di atas perlu diterapkan dan mendapat perhatian.
Demikian sebagian dari pemikiran mengenai pendidikan yang dikemukan oleh Hasyim Asy’ari. Kelihatannya pemikiran tentang pendidikan ini sejalan dengan apa yang sebelumnya telah dikemukakan oleh Imam Ghazali, misalnya saja, Hasyim Asy’ari mengemukakan bahwa tujuan utama pendidikan itu adalah mengamalkannya, dengan maksud agar ilmu yang dimiliki menghasilkan manfaat sebagai bekal untuk kehidupan di akhirat kelak. Imam Ghazali juga mengemukakan bahwa pendidikan pada prosesnya haruslah mengacu kepada pendekatan diri kepada Allah dan kesempurnaan insani. Oleh karena itu tujuan pendidikan menurut al-Ghazali adalah “tercapainya kemampuan insani yang bermuara pada pendekatan diri kepada Allah, dan kesempurnaan insani yang bermuara pada kebahagiaan dunia dan akhirat“.[19]Dan senada pula dengan pendapat Ahmad D.Marimba bahwa, “pendidikan adalah bimbingan atau pimpinan secara sadar oleh si pendidik terhadap perkembangan jasmani dan rohani si terdidik menuju terbentuknya kepribadian yang utama”.
Begitu juga pemikiran Hasyim Asy’ari mengenai niat orang orang yang menuntut ilmu dan yang mengajarkan ilmu, yaitu hendaknya meluruskan niatnya lebih dahulu, tidak meng-harapkan hal-hal duniawi semata, tapi harus niat ibadah untuk mencari ridha Allah. Demikian juga dengan al Ghazali yang berpendapat bahwa tujuan murid menuntut ilmu adalah mendekatkan diri kepada Allah dan mensucikan batinnya serta memperindah dengan sifat-sifat yang utama. Dan janganlah menjadikan ilmu sebagai alat untuk mengumpulkan harta kekayaan, atau untuk mendapatkan kelezatan hidup dan lain sebagainya. Akan tetapi tujuan utama adalah untuk kebahagiaan akhirat. Dan mengenai guru al-Ghazali lebih keras, bahwa guru mengajar tidak boleh digaji.
Mengenai etika seorang murid yang dikemukakan Hasyim Asy’ari sejalan dengan pendapat al-Ghazali yang mengatakan “hendaknya murid mendahulukan kesucian batin dan kerendahan budi dari sifat-sifat tercela… seperti marah, hawa nafsu, dengki, busuk hati, takabur, ujub dan sebagainya”.
Daftar Pustaka
Lathiful Khuluq, Kebangkitan Ulama , Biografi K.H.Hasyim Asy’ari, (Yogyakarta: LKIS, 2000).
Maksum Machfoedz, Kebangkitan Ulama dan Bangkitnya Ulama, (Surabaya: Yayasan Kesatuan Umat, 1982).
Samsul Nizar, Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta: Ciputat Press, 2002).
Pradjata Dirdjosanjoto, Memelihara Umat, Kiai Pesantren-Kiai Langgar di Jawa, (Yogyakarta: UKIS, 1999)