Tausiyah Ramadhan Hasan Al Banna

Saya memandang bahwa perlu kita mengingatkan tentang masaalah Ramadhan, kerana kita sekarang berada di ambang pintu Ramadhan dan hampir menyibukkan diri dalam kewajiban-kewajiban kita di dalamnya.
Ramadhan adalah bulan :
  1. Barakah.
  2. Rahmat.
  3. Kebahagiaan.
Betapa perlunya manusia merenung sejenak untuk bersiap-siap menyambutnya disebabkan oleh kebaikan-kebaikan yang dikandungnya.
Ia merupakan bulan yang dihormati di masa jahiliah dan ketika Islam datang, ia semakin dihormati dan dimuliakan.
Di bulan ini, Allah swt menurunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia. Betapa perlunya kita menenangkan dan menyedarkan jiwa tentang hak Ramadhan sebelum menemuinya.
Ikhwan sekalian :
Bulan Ramadhan adalah bulan :
  1. Permohonan.
  2. Munajat.
  3. Hidayah.
  4. Petunjuk kebenaran.
Hendaklah orang yang berpuasa menggembeling diri di dalamnya dan menjauhkannya dari urusan dunia, agar kemanusiaannya meningkat dan bersambung dengan Rabbnya.
Banyak hadits yang menarik manusia agar memperhatikan :
  1. Keutamaan bulan ini.
  2. Ketinggian kedudukannya.
  3. Kemuliaan hari-harinya.
  4. Besarnya nilai taubat di dalamnya.
sehingga ianya akan memacu kaum muslimin untuk menyiapkan diri menemuinya serta menyedari bahwa perniagaan di dalamnya pasti mendatangkan keuntungan.
Waktu-waktu yang akan berlalu di dalamnya sangat berharga dan kesempatan yang ada merupakan kesempatan emas.
“Wahai pencari kejahatan berhentilah dan wahai pencari kebaikan kemarilah!”
Hendaklah kaum muslimin mengingatkan diri mereka dengan sabda Nabi saw :“Tiada hari yang menyinsing fajar padanya kecuali berseru, ‘Hai anak Adam, aku adalah makhluk baru yang menyaksikan amal perbuatanmu. Maka ambillah bekalan dariku, kerana aku tidak akan kembali sehingga ke hari kiamat.”

Ikhwan sekalian :
Allah swt menjadikan bulan Ramadhan sebagai bulan yang agung di samping memberikan keistimewaan yang banyak sekali kepadanya serta menjadikannya sebagai salah satu fasa kehidupan yang paling berharga dan salah satu stesen perjalanan di atas jalan hidup yang lurus.
Pada bulan itu, seorang muslim mencurahkan sebahagian besar perhatiannya kepada :
  1. Allah.
  2. Akhirat.
  3. Peningkatan ruhani.
Ia adalah :
  1. Bulan ruhani.
  2. Bulan kebersihan jiwa.
  3. Bulan munajat.
  4. Bulan yang mempunyai keistimewaan.
  5. Waktu untuk menghadap kepada Allah.
  6. Waktu untuk memohon pertolongan dari Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar.
  7. Waktu untuk menjalin hubungan dengan Al-Mala’ul A’la.
“(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeza (antara yang haq dan yang batil). Oleh kerana itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjukNya yang diberikan kepada kamu, supaya kamu bersyukur.” (QS Al-Baqarah : 185)
Ada suatu tarikan atau perhatian yang indah dan kenikmatan yang luar biasa, iaitu dihubungkannya kandungan ayat ini dengan ayat yang lain.
“Dan apabila hamba-hambaKu bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang mendoa apabila ia berdoa kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah) Ku dan hendaklah mereka beriman kepadaKu, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (QS Al-Baqarah : 186)
Kemudian ayat ini diteruskan lagi dengan ayat lain:
“Dihalalkan bagi kamu pada malam hari puasa bercampur dengan isteri-isteri kamu; mereka itu adalah pakaian bagi kamu dan kamu pun adalah pakaian bagi mereka.” (QS Al-Baqarah : 187)
Ayat yang mulia ini datang di sela-sela hukum-hukum tentang puasa.
“ Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu.” (QS Al-Baqarah : 183)Kemudian,

“Dihalalkan bagi kamu pada malam hari puasa bercampur dengan isteri-isteri kamu.” (QS Al Baqarah : 187)
Dengan serasi dan sempurna, ayat ini berhubungan dengan ayat puasa. Kemudian di antara keduanya Allah swt mendatangkan ayat lain.
“Dan apabila hamba-hambaKu bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang mendoa apabila ia berdoa kepada-Ku.” (QS Al-Baqarah : 186)
Hakikat agung yang terkandung di dalamnya adalah bahwa Allah swt mendorong kita untuk bermunajat dan memohon kepadaNya pada saat jiwa dalam keadaan paling dekat kepada RabbNya.
“Agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (QS Al-Baqarah : 186)
Ikhwan sekalian :
Hendaklah kamu benar-benar berusaha agar tidak ada waktu yang berlalu tanpa amal soleh. Jika kamu lalai, hendaklah segera menyedari kelalaian kamu.
Suatu ketika Hanzhalah ra menemui Abu Bakar Ash-Shiddiq ra dan berkata :
“Abu Bakar, saya melihat keadaanku sebagaimana keadaan orang-orang munafik.”
Abu Bakar menjawab, “Mengapa?”
Hanzhalah berkata : “Bukankah ketika bersama Rasulullah saw, ruh kita menjadi lembut dan jiwa kita meningkat, tetapi setelah kita meninggalkan beliau, keadaan menjadi berubah-ubah?”
Maka Abu Bakar berkata : “Marilah kita pergi kepada Rasulullah saw.”
Nabi saw bersabda, “Andaikata keadaanmu sebagaimana ketika di hadapanku, niscaya para malaikat akan menjabat tanganmu; Tetapi, sewaktu-waktu.”
Jadi, usaha rawatan terhadap kelengahan dan kelalaian adalah :
  1. Mengingati akan kesalahan.
  2. Introspeksi diri.
  3. Sentiasa menjalin hubungan dengan Allah swt.
“Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa bila mereka ditimpa was-was dari syaitan, mereka ingat kepada Allah, maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya.” (QS Al A’raf : 201)
Apabila syaitan berhasil menimpakan kelalaian pada hati kita dan menjauhkan kita dari sebahagian kebaikan, maka hendaklah kita :
  1. Lebih bersikap serius dalam perjalanan.
  2. Mengerahkan daya dan usaha.
  3. Menumpukan perhatian dalam menghadap kepada Allah swt.
“Dan Dialah yang menerima taubat dari hamba-hambaNya.” (QS Asy-Syura : 25)
Hendaklah manusia melakukan persiapan dengan :
  1. Sentiasa bertaubat.
  2. Memohon ampun.
  3. Meninjau lembaran-lembaran masa lalu.
Apabila kita mendapatkan kebaikan, kita memuji Allah dan apabila kita mendapatkan keburukan, kita meninggalkannya seraya bertaubat kepadaNya.
“Wahai pencari keburukan, berhentilah!”
Jika dalam sehari, Rasulullah saw bertaubat seratus (100) kali sedangkan sebagaimana kita tahu, Allah telah mengampuni segala dosa baginda yang lalu mahupun yang akan datang.
Maka :
Bagaimana pendapat kita tentang orang yang diliputi oleh perbuatan maksiat dari segala penjuru serta tenggelam dalam kesenangan dan syahwatnya?
Oleh yang demikian, kewajiban kita adalah memperbanyakkan istighfar apalagi jika kita berada dalam bulan yang suci.
Kita menghadap kepada Allah dengan keimanan sempurna dan keikhlasan yang tulus seraya memohon agar Dia memberi kita kemampuan untuk menempuh sebab-sebab.
“Wahai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murniya, mudah-mudahan Tuhan kamu akan menutupi kesalahan-kesalahan kamu dan memasukkan kamu ke dalam syurga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai.” (QS At Tahrim : 8)
Taubat yang murni dan ubudiyah yang tulus dengan kembali kepada Allah swt adalah salah satu sebab kebahagiaan sempurna pada hari kiamat dan jalan untuk menyertai Nabi saw.
“Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, iaitu nabi-nabi, para shiddiqin, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang yang soleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya. (QS An-Nisa’ : 69)
Maka, mulai sekarang, hendaklah kita bersungguh-sungguh menyucikan diri dari kotoran-kotoran dosa dan maksiat kerana kita semua akan menghadapi kedatangan bulan Ramadhan.
Kurniaan Allah swt di bulan Ramadhan lebih luas daripada di waktu lainnya. Maka, persiapkanlah diri kita semua untuk menghadapi kewajiban agung ini.
Nabi saw bersabda :“ Barangsiapa telah didatangi bulan Ramadhan, tetapi tidak mendapatkan ampunan dari Allah, maka Allah tidak akan memberikan ampunan kepadanya.”
Orang yang celaka adalah yang dihalangi dari rahmat Allah swt pada bulan Ramadhan.

Adalah wajib untuk mengingatkan diri kita tentang keutamaan bulan ini dan mempersiapkannya untuk beramal di dalamnya.
Ramadhan telah mendorong amal yang banyak dan kewajiban yang luhur seperti puasa, solat, zikir serta membaca kitab Allah yang boleh membersihkan jiwa dan menghidupkan hati.
Rasul saw membaca dan mempelajari Al-Qur’an di hadapan Jibril pada bulan Ramadhan, sekali manakala pada tahun terakhir kerasulan, baginda membacanya dua kali.
Dakwah kita semua adalah dakwah Al-Qur’an, sedangkan kita sekalian mengatakan :
“Al-Qur’an adalah pedoman hidup kami.”
Maka, bulan Ramadhan adalah dakwah kita. Perbanyakkanlah membaca Al-Qur’an dan renungkan kandungannya, kerana kita akan mendapatkan kenikmatan baru padanya ketika membaca walaupun berulang sekalipun seseorang itu hafizh (penghafal) Al-Qur’an.
Kita akan merasakan pengaruh yang menakjubkan jika membacanya dengan penghayatan makna.
Jangan berusaha memahaminya dengan mendalami perkara-perkara yang pelik-pelik dan kajian yang canggih tetapi, bacalah sebagaimana para sahabat Rasulullah saw membacanya.
  1. Barangsiapa membacanya seperti ini, maka untuk setiap huruf yang dibacanya ia mendapat sepuluh (10) kebaikan dan Allah melipatgandakan pahala bagi siapa yang dikehendakiNya.
  1. Barangsiapa yang mendengarkan satu ayat dari kitab Allah, maka ia akan mendapatkan cahaya dan petunjuk pada hari kiamat.
Ketahuilah bahwa bulan Ramadhan merupakan bulan sedekah dan kezuhudan terhadap material dan oleh kerana itu, banyakkanlah menyantuni fakir miskin.
Rasulullah saw adalah manusia yang paling dermawan dan kedermawanan baginda paling besar terlihat pada bulan Ramadhan.
Berusahalah agar kita mempunyai amalan yang tidak kita tinggalkan selama bulan Ramadhan.
Bersemangatlah dalam melaksanakan solat tarawih. Kita melaksanakannya dengan membaca seluruh Al-Qur’an, lapan rakaat.
Solat tarawih merupakan salah satu sunnah muaakadah serta syiar dan kekhususan bulan Ramadhan. Ia adalah wadah tempat hati seorang muslim berhubungan dengan Tuhannya.
Nabi saw didatangi oleh Jibril pada bulan Ramadhan lantas membacakan Al-Qur’an di hadapannya.
Oleh kerana Ramadhan adalah puasa di siang hari sekaligus sesuai untuk menjadi bulan untuk bangun di malam hari sedangkan malam sangat sesuai untuk dilaksanakan solat.
Jumlah rakaat dalam solat tarawih adalah lapan (8), itulah yang dilaksanakan oleh Rasulullah saw. Namun, boleh pula dua puluh (20) rakaat, iaitu sebagaimana yang dilaksanakan oleh Umar ra. Ada pula yang melaksanakan tiga puluh enam (36) rakaat dan ini sebagaimana yang dilaksanakan oleh penduduk Madinah. Masing-masing mempunyai asas dari sunnah.Tujuan perlaksanaan solat tarawih adalah menjalin interaksi dengan Allah dan Kitabullah. Disunnahkan untuk memanjangkan solat tarawih ini.

Solat tarawih tidak dimaksudkan untuk memperbanyakkan rakaat semata-mata sebagaimana yang dilakukan oleh kebanyakan orang sambil melaksanakannya secara tergesa-gesa sehingga menjadikannya cacat, sementara mereka lupa bahwa solat tarawih tiada lain melainkan untuk menikmati kitabullah dan inilah rahsia di dalamnya.
Jika ada pertentangan antara kedua perkara itu, maka mencukupkan dengan lapan (8) rakaat panjang lebih baik daripada dua puluh (20) rakaat dengan tergesa-gesa.
Diriwayatkan dari Abu Bakar ra yang berkata :
“Kami meninggalkan solat tarawih agar orang-orang yang berpuasa boleh segera makan sahur, lantaran khuatir terbitnya fajar.”Mereka biasa :

  1. Membaca seluruh surah Al-Baqarah.
  2. Bersandar di atas tongkat kerana lamanya berdiri dan membaca.
Sehingga mereka dapat menikmati kitab Allah.
Yang dikehendaki dalam pelaksanaan solat ini adalah :
  1. Perhatian terhadap asas pensyariatannya.
  2. Perlaksanaannya sebaik mungkin.
  3. Pemanfaatan kesempatan untuk mendengar bacaan Al-Qur’an.
Adapun acara ‘ritual’ yang dilakukan oleh sebahagian umat Islam sehingga menimbulkan suara kuat di masjid seperti solawat dan kalimat la ilaha illallah wahdahu la syarikalah…’ dan sebagainya yang mereka baca dengan suara keras, itu sama sekali bukan termasuk dalam ajaran agama.
Menghadapi keadaan ini, seorang pendakwah mestilah berlaku lemah lembut dalam dakwah dan menggunakan kebijaksanaan dalam memberikan bimbingan tanpa kekerasan.
“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik.” (QS An Nahl : 125)
Jika kita mempunyai kekuatan, maka kita boleh memaksa mereka, tetapi jika tidak, maka kita mestilah mengajak mereka dengan lemah lembut.
“Dan tidak lain kewajiban rasul itu melainkan menyampaikan (amanat Allah) dengan terang.” (QS An Nur : 54)
Tidak perlu menciptakan persengketaan antara seorang muslim dengan saudara muslim lainnya.
Menjaga persatuan adalah kewajiban sedangkan solat tarawih adalah sunnah. Menjaga kewajiban itu lebih utama daripada menjaga sunnah.
Para pendakwah dan pembimbing berkewajiban untuk mengarahkan terhadap para pemimpin mereka untuk memperbaiki keadaan ini dengan bijaksana. Hendaklah kita semua sentiasa menjaga perlaksanaan sesuatu yang lebih sempurna dan lebih baik.Di bulan Ramadhan, kita juga menanti malam-malam yang mulia, saat kebaikan tercurah. Malam ketujuh belas (17) adalah malam bersejarah iaitu saat turunnya Al Qur’an pertama kali.

Begitu pula pada siangnya ketika pertolongan Allah datang secara nyata dalam perang Badar, ketika dua pasukan saling berhadapan.
Sesungguhnya telah ada tanda bagi kamu pada dua golongan yang telah bertemu (bertempur). Segolongan berperang di jalan Allah dan (segolongan) vang lain kafir yang dengan mata kepala melihat (seakan-akan) orang-orang muslimin dua kali jumlah mereka. Allah menguatkan dengan bantuanNya siapa yang dikehendakiNya. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat pelajaran bagi orang- orang yang mempunyai mata hati.” (QS Ali Imran : 13)
Lailatul Qadr jatuh pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan. Bahkan sepuluh malam ini merupakan malam-malam tajalli’.
Oleh itu hendaklah saudara :
  1. Menggembeling jiwa di dalamnya.
  2. Membersihkannya dari urusan-urusan dunia.
  3. Menghadaplah kepada Allah dengan solat, munajat dan terus-menerus berdoa.
kerana Allah swt menyukai orang yang terus-menerus berdoa.
Barangsiapa memiliki waktu lapang, hendaklah beri’tikaf dan tidak keluar dari masjid kecuali untuk keperluan yang mendesak, kerana i’tikaf adalah sunnah Rasulullah saw dan dilaksanakan pula oleh orang-orang soleh.
Adapun bagi yang mempunyai kesibukan, setidak-tidaknya usahakan supaya beri’tikaf di malam hari.
Jika sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan tiba, baginda saw sebagaimana yang disebutkan di dalam hadits :
  1. Menguatkan sarung.
  2. Melaksanakan qiyamul lail.
  3. Membangunkan isteri-isteri baginda.
Ketahuilah bahwa interaksi yang dikehendaki di bulan Ramadhan adalah interaksi dalam ketaatan kepada Allah dan bukan dalam permainan.
Namun yang dilakukan manusia justeru adalah sebaliknya iaitu mereka menjadikan Ramadhan sebagai bulan kelalaian dan permainan.
Di antara mereka ada yang menghabiskan waktu-waktu di bulan Ramadhan di kelab-kelab, tempat-tempat hiburan dan kopitiam-kopitiam.
Di antara mereka ada juga yang mendatangi seorang faqih di satu ruangan untuk membaca Kitabullah di dalamnya lalu setelah itu mereka meninggalkannya ke ruangan lain untuk berbincang-bincang semahunya dan tidak mendengarkan ataupun mentadabbur ayat Al-Qur’an.Suatu ketika Ibnu Masud ra berlalu di hadapan sekelompok orang yang berada di tepi jalan. Ia berkata kepada mereka :

“Para sahabat Muhammad saw biasa saling berkunjung kerana Allah.”
Mereka menjawab :
“Motif kami keluar dari rumah tidak lain adalah saling berkunjung kerana Allah.”
Ia berkata kepada mereka :
“Bergembiralah, kerana aku pernah mendengar Rasulullah saw bersabda :
“Kamu semua tetap dalam keadaan baik, selama mana masih saling mengunjungi.”

Oleh yang demikian, wahai saudaraku sekalian :
Hendaklah kita semua menjadikan bulan Ramadhan sebagai bulan :
  1. Ibadah untuk mendekatkan diri kepada Allah swt.
  2. Melaksanakan tradisi yang dilakukan oleh salafus-soleh radhiyallahu ‘anhum.
Semoga Allah swt melimpahkan solawat dan salam kepada Sayyidina Muhammad saw dan juga kepada segenap keluarga dan sahabat baginda.
Ya Allah, sesungguhnya Ramadhan yang kami cintai dan rindui sudah berada di ambang pintu. Kami tetap menunggu dan menantikan ketibaan tamu yang agung ini. Campakkanlah rasa gembira dan senang hati ke dalam lubuk hati kami untuk kami menyambut kedatangan tamu yang penuh barakah ini sehingga kami mampu mengisi hari-hari dan malam-malamnya dengan bertaubat, beribadah, berzikir, membaca Al Qur’an, mentadabbur ayat-ayatnya, berdoa, memberi makan fakir miskin, melaksanakan kebajikan terhadap sesama insan sehingga Engkau ridha dan menerima segala amal-amal kami di sepanjang bulan yang mulia itu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s