Pendidikan Karakter

Secara akademik, pendidikan karakter dimaknai sebagai pendidikan nilai, pendidikan budi pekerrti, pendidikan moral, pendidikan watak, yang tujuannya mengembangkan kemampuan peserta didik untuk memberikan keputusan baik-buruk, memelihara apa yang baik itu, dan mewujudkan kebaikan itu dalam kehidupan sehari-hari dengan sepenuh hati.  Karena itu muatan pendidikan karakter secara psikologis mencakup dimensi moral reasoning, moral feeling, dan moral behaviour (Lickona:1991), atau dalam arti utuh sebagai morality yang mencakup moral judgment and moral behaviour baik yang bersifat prohibition-oriented morality maupun pro-social morality (Piaget, 1967; Kohlberg; 1976; Eisenberg-Berg; 1981). Secara pedagogis, pendidikan karakter seyogyanya dikembangkan dengan menerapkan holistic approach, dengan pengertian bahwa “Effective character education is not adding a program or set of programs. Rather it is a tranformation of the culture and life of the school” (Berkowitz; 2010): Sementara itu Lickona (1992) menegaskan bahw: “In character education, it’s clear we want our children are able to judge what is right, care deeply about what is right, and then do what they believe to be right-even in the face of pressure form without and temptation from within. 

Urgensi dari pelaksanaan komitmen nasional pendidikan karakter, telah dinyatakan pada Sarasehan Nasional Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa  sebagai Kesepakatan Nasional Pengembangan Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa, yang  dibacakan pada akhir khir Sarasehan Tanggal 14 Januari 2010, sebagai berikut. 

  1. “Pendidikan budaya dan karakter bangsa merupakan bagian integral yg tak terpisahkan dari pendidikan nasional secara utuh.
  2. Pendidikan budaya dan karakter bangsa harus dikembangkan secara komprehensif sbg proses pembudayaan.  Oleh karena itu, pendidikan dan kebudayaan secara kelembagaan perlu diwadahi secara utuh.
  3. Pendidikan budaya dan karakter bangsa merupakan tanggung jawab bersama antara pemerintah, masyarakat, sekolah dan orangtua. Oleh karena itu pelaksanaan budaya dan karakter bangsa harus melibatkan keempat unsur tersebut.
  4. Dalam upaya merevitalisasi pendidikan dan budya karakter bangsa diperlukan gerakan nasional guna menggugah semangat kebersamaan dalam pelaksanaan di lapangan.”

Strategi Pengembangan Pendidikan Karakter pada Konteks Makro

  1. Pengembangan nilai/karakter dapat dilihat pada dua latar/domain, yaitu pada latar makro dan latar mikro. Latar makro bersifat nasional yang mencakup keseluruhan konteks perencanaan dan ilmpementasi pengembangan nilai/karakter yang melibatkan seluruh pemangku kepentingan pendidikan nasional. Pada latar makro program pengembangan nilai/karakter dapat digambarkan sebagai berikut.
/KAMPUS
MELALUI ACTIVE LEARNING

Gambar 1. Konteks Makro Pengembangan Karakter Melalui Active Learning

Penjelasan Gambar:

  1. Secara makro pengembangan karakter melalui active learning dapat dibagi dalam tiga tahap, yakni perencanaan,  pelaksanaan, dan evaluasi hasil.
  2. Pada tahap perencanaan dikembangkan perangkat pembelajaran active learning dengan mengimplementasikan pendidikan karakter yang digali, dikristalisasikan, dan dirumuskan dengan menggunakan berbagai sumber, antara lain pertimbangan: (1) filosofis – Agama, Pancasila, UUD 1945, dan UU N0.20 Tahuin 2003 beserta ketentuan perundang-undangan turunannya;(2) pertimbangan teoritis- teori tentang otak, psikologis, nilai dan moral, pendidikan (pedagogi dan andragogi) dan sosial-kultural;  dan (3) pertimbangan empiris berupa pengalaman dan praktek terbaik (best practices) dari antara lain tokoh-tokoh, sekolah unggulan, pesantren, kelompok kultural dll.
  3. Pada tahap implementasi dikembangakan pengalaman belajar (learning experiences) dengan pendekatan active learning dan proses pembelajaran yang bermuara pada pembentukan karakter dalam diri individu peserta didik. Proses ini dilaksanakan melalui proses pembudayaan dan pemberdayaan sebagaimana digariskan sebagai salah satu prinsip penyelenggaraan pendidikan nasional. Proses ini berlangsung dalam tiga pilar pendidikan yakni dalam kampus/sekolah, keluarga, dan masyarakat. Dalam masing-masing pilar pendidikan akan ada dua jenis pengalaman belajar (learning experiences) yang dibangun melalui dua pendekatan yakni intervensi dan habituasi. Dalam intervensi dikembangkan suasana interaksi belajar dan pembelajaran yang sengaja dirancang untuk mencapai tujuan pembentulkan karakter dengan menerapkan kegiatan yang terstruktur (structured learning experiences). Sementara itu dalam habituasi diciptakan situasi dan kondisi (persistence life situation) yang memungkinkan peserta didik di kampus/sekolahnya, di rumahnya, di lingkungan masyarakatnya  membiasakan diri belajar secara aktif dan mandiri seta berprilaku sesuai nilai dan menjadi karakter yang telah diinternalisasi dan dipersonalisai dari dan melalui proses intervensi. Kedua proses tersebut- intervensi dan habituasi harus dikembangkan secara sistemik dan holistik.
  4. Pada tahap evaluasi hasil, dilakukan asesmen yang terintergrasi mencakup penilaian proses dimana active learning terpantau sekaligus untuk perbaikan berkelanjutan yang sengaja dirancang dan dilaksanakan untuk menditeksi  aktualisasi karakter dalam diri peserta didik sebagai indikator bahwa proses pembudayaan dan pemberdayaan karakter melalui active learning itu berhasil dengan baik.

Strategi Pengembangan Budaya dan Karakter pada Konteks Mikro

  1. Pada konteks mikro pengembangan karakter berlangsung dalam konteks suatu satuan pendidikan (sekolah/Perguruan Tinggi) secara holistik (the whole school/university reform). Perguruan Tinggi/Sekolah sebagai leading sector, berupaya memanfaatkan dan memberdayakan semua lingkungan belajar yang ada untuk menginisiasi, memperbaiki, menguatkan, dan menyempurnakan secara terus menerus proses pendidikan karakter. Program pengembangan karakter pada latar mikro dapat digambarkan sebagai berikut.
Mata Kuliah

INSTITUSI

Gambar 2. Konteks Mikro Pengembangan Nilai/Karakter

Penjelasan Gambar.

  1. Secara mikro pengembangan nilai/karakter dapat dibagi dalam empat pilar, yakni kegiatan belajar-mengajar di kelas, kegiatan keseharian dalam bentuk budaya sekolah (school culture) yang diperguruan tinggi dikenal sebagai academic athmosphere; kegiatan ko-kurikuler  dan/atau ekstra kurikuler, serta kegiatan keseharian di rumah, dan dalam masyarakat.
  2. Dalam kegiatan belajar-mengajar di kelas pengembangan nilai/karakter dilaksanakan dengan menggunakan pendekatan terintegrasi dalam semua mata kuliah/pelajaran (embeded approach).
  3. Dalam lingkungan kampus/sekolah dikondisikan agar lingkungan fisik dan academic athmosphere sosial-kultural memungkinkan para peserta didik bersama dengan sivitas akademik lainnya terbiasa membangun kegiatan keseharian di kampus yang mencerminkan perwujudan nilai/karakter.
  4. Dalam kegiatan ko-kurikuler, yakni kegiatan belajar di luar kelas yang terkait langsung pada suatu materi dari suatu mata kuliah/pelajaran, atau kegiatan ekstra kurikuler, yakni kegiatan kampus/sekolah yang bersifat umum dan tidak terkait langsung pada suatu mata pelajaran, seperti palang merah, pecinta alam, dan lain-lain  perlu dikembangkan proses pembiasaan dan penguatan (reinforcement) dalam rangka pengembangan nilai/karakter.
  5. Di lingkungan keluarga dan masyarakat diupayakan agar terjadi proses penguatan dari orang tua/wali serta tokoh-tokoh masyarakat terhadap prilaku berkarakter mulia yang dikembangkan di kampus/sekolah menjadi kegiatan keseharian di rumah dan di lingkungan masyarakat masing-masing.

STRATEGI PENDIDIKAN KARAKTER MELALUI ACTIVE LEARNING

 

Pada dasarnya strategi yang dipakai adalah dengan Intervensi dan habituasi untuk, kampus/sekolah, keluarga, masyarakat. Intervensi dapat dilakukan dengan berbagai strategi pembelajaran active learning, seperti kooperatif learning, pembelajaran berdasarkan masalah, simulasi, inkuiri, dan lain-lain,  sedangkan habituasi dilakukan dengan pendemonstrasian berbagai contoh teladan sebagai langkah awal pembiasaan, penguatan dalam berbagai bentuk, penataan lingkungan belajar yang menyentuh dan membangitkan karakter.

Prinsip dan Pendekatan dan Program Pengembangan Pendidikan Karakter Melalui Active Learning di UNY

Secara prinsipil, pengembangan karakter tidak dimasukkan sebagai mata kuliah atau pokok bahasan tetapi terintegrasi kedalam mata kuliah, pengembangan diri dan academic athmosphere. Oleh karena itu dosen dengan dukungan program studi perlu mengintegrasikan nilai-nilai yang dikembangkan dalam pendidikan budaya dan karakter bangsa ke dalam kurikulum  (silabus dan RPP) yang sudah ada.  Prinsip pembelajaran active learning yang digunakan dalam pengembangan pendidikan karakter mengusahakan agar mahasiswa mengenal dan menerima nilai-nilai karakter sebagai milik mereka dan bertanggung jawab atas keputusan yang diambilnya melalui tahapan mengenal pilihan, menilai pilihan, menentukan pendirian, dan selanjutnya menjadikan suatu nilai sesuai dengan keyakinan diri. Dengan prinsip ini mahasiswa belajar melalui proses berpikir, bersikap, dan berbuat. Ketiga proses ini dimaksudkan untuk mengembangkan kemampuan mahasiswa dalam melakukan kegiatan sosial dan mendorong peserta didik untuk melihat diri sendiri sebagai makhluk sosial.

Strategi rollout TOT Pembelajaran Aktif dengan muatan pendidikan karakter untuk Perguruan Tinggi (ALFHE), di UNY direncanakan meliputi : a) Pelatihan Pembelajaran Aktif di Sekolah (ALIS) dan Kunjungan Sekolah, b) Pelatihan Pembelajaran Aktif di Perguruan Tinggi (ALIHE), c) Kegiatan Pelaksanaan ALIS dan Pendampingan,  d) Kegiatan Penilaian Dokumen Portofolio hasil penerapan pembelajaran aktif di kelas dan umpan balik mahasiswa. (2) Pelaksanaan roll-out Program Paket TOT ALFHE. Roll-out yang dimaksud adalah pengimplementasian seluruh paket TOT ALFHE di perguruan tinggi, dengan ketentuan pelatihan dilakukan untuk  minimal peserta 40 orang staf pengajar dengan menggunakan materi pelatihan yang sama dengan materi yang diberikan oleh DBE2 dan dilaksanakan dengan strategi pelatihan aktif.

Beberapa prinsip yang dikembangkan dalam mengimplementasikan pendidikan karakter melalui active learning di UNY, adalah:

  1. Nilai tidak diajarkan tapi dikembangkan (value is neither cought nor taught, it is learned) (Hermann, 1972) mengandung makna bahwa materi nilai-nilai dan karakter  yang dalam hal ini tertuang dalam visi UNY (bernurani, cendikia, dan mandiri) bukanlah bahan ajar biasa. Tidak semata-mata dapat ditangkap sendiri atau diajarkan, tetapi lebih jauh diinternalisasi melalui proses belajar. Artinya, nilai-nilai tersebut tidak dijadikan mata kuliah atau pokok bahasan yang dikemukakan seperti halnya ketika mengajarkan suatu konsep, teori, prosedur, atau pun fakta seperti dalam mata kuliah MKDU (agama, dan kewarganegaraan, kewiraan, dll.). Materi pelajaran biasa digunakan sebagai bahan atau media untuk mengembangkan nilai-nilai karakter bangsa. Oleh karena itu dosen tidak perlu mengubah pokok bahasan yang sudah ada tetapi menggunakan materi pokok bahasan itu untuk mengembangkan nilai-nilai karakter. Juga, dosen tidak harus mengembangkan proses belajar khusus untuk mengembangkan nilai. Dengan active learning maka  satu aktivitas belajar dapat didesain dan digunakan untuk mengembangkan kemampuan dalam ranah kognitif, afektif dan psikomotor yang didalamnya mengandung muatan karakter.  Konsekuensi dari prinsip ini nilai-nilai karakter tidak ditanyakan dalam ujian. Walaupun demikian, mahasiswa perlu mengetahui pengertian dari suatu nilai yang sedang mereka tumbuhkan pada diri mereka. Mereka tidak boleh berada dalam posisi tidak tahu dan tidak paham makna nilai terebut.
  2. Proses pendidikan dilakukan peserta didik secara aktif dan menyenangkan. Prinsip ini menyatakan bahwa proses pendidikan nilai-nilai karakter bangsa dilakukan oleh mahasiswa bukan oleh dosen. Dosen menerapkan prinsip ”tut wuri handayani” dalam setiap perilaku yang ditunjukkan mahasiswanya. Prinsip ini juga menyatakan bahwa proses pendidikan dilakukan dalam suasana belajar yang menimbulkan rasa senang dan tidak indoktrinatif. Diawali dengan perkenalan terhadap pengertian nilai yang dikembangkan maka dosen menuntun mahasiswa agar secara aktif  (tanpa mengatakan  kepada mahasiswa bahwa mereka harus aktif tapi dosen merencanakan kegiatan belajar yang menyebabkan peserta didik aktif merumuskan pertanyaan, mencari sumber informasi dan mengumpulkan informasi dari sumber, mengolah informasi yang sudah dimiliki, merekonstruksi data/fakta/nilai, menyajikan hasil rekonstruksi/proses pengembangan nilai) menumbuhkan nilai-nilai karakter pada diri mereka melalui berbagai kegiatan belajar yang terjadi di kelas pembelajaran, lingkungan kampus, dan tugas-tugas di luar kampus.

KESIMPULAN

Penjabaran visi UNY melalui implementasi pembelajaran pendidikan karakter menggunakan pendekatan active learning, dilakukan melalui berbagai kegiatan di kelas pembelajaran, lingkungan kampus, tugas-tugas di luar kampus, dan masyarakat. Di kelas pembelajaran dilaksanakan melalui proses belajar setiap pokok bahasan atau kegiatan yang dirancang khusus. Setiap kegiatan belajar mengembangkan kemampuan dalam ranah kognitif, afektif, dan psikomotor. Oleh karena itu tidak selalu diperlukan kegiatan belajar khusus untuk mengembangkan nilai-nilai karakter sebagai penjabaran visi tersebut. Meski pun demikian, untuk pengembangan nilai-nilai tertentu seperti kerja keras, jujur, toleransi, disiplin, mandiri, semangat kebangsaan, cinta tanah air, dan gemar membaca dapat dikembangkan melalui kegiatan belajar yang biasa dilakukan dosen. Untuk pegembangan beberapa nilai lain seperti peduli sosial, peduli lingkungan, rasa ingin tahu, dan kreatif memerlukan upaya pengkondisian sehingga mahasiswa memiliki kesempatan untuk memunculkan perilaku yang menunjukkan nilai tersebut.

Di kampus melalui berbagai kegiatan yang diikuti seluruh mahasiswa, dosen dan sivitas akademik lainnya, direncanakan sejak awal tahun pelajaran, dan dimasukkan ke kalender akademik dan yang dilakukan sehari-hari sebagai bagian dari academic atmosphere. Di luar kampus melalui kegiatan ekstra kurikuler dan kegiatan lain yang diikuti oleh seluruh/sebagian mahasiswa, dirancang sejak awal tahun pelajaran, dan dimasukkan ke dalam kalender akademik. Misalnya kunjungan ke tempat-tempat yang menumbuhkan rasa cinta terhadap  tanah air, menumbuhkan semangat kebangsaan, melakukan pengabdian masyarakat untuk menumbuhkan kepedulian dan kesetiakawanan sosial seperti membantu mereka yang tertimpa musibah banjir, memperbaiki atau membersihkan tempat-tempat umum, membantu membersihkan/mengatur barang di tempat ibadah tertentu.

 

REFERENSI

 

Berkowitz, M.W. (2002). The science of character education. In W. Damon (Ed.), Bringing in a new era in character education (pp. 43-63). Stanford CA: Hoover Institution Press

Direktorat PSMP (2010). Pendidikan Karakter Untuk Sekolah Menengah Pertama. Kementerian Pendidikan Nasional Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah

Eisenberg-Berg, N., & Neal, C.( 1981). The effects of person of the protagonist and costs of helping on children’s moral judgement. Personality and Social Psychology Bulletin, 7, 17-23.

Kohlberg, L..(1976). “Moral Stages and Moralization. The Cognitive-Developmental Approach.” Moral Development and Behavior: Theory, Research and Social Issues. Thomas Lickona (ed) News York: Holt, Rinehart, Winston

Lickona, T. (1991). Educating for character: How our schools can teach respect

and responsibility. New York: Bantam Books.

Piaget, J. (1967/1971). Biology and knowledge: An essay on the relation between

organic regulations and cognitive processes. Chicago: University of Chicago Press.

Tim DBE2 (2010). Active Learning for Higher Education (ALFHE). USAID Jakarta

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s