FILSAFAT TENTANG ALAM SEMESTA

BAB I
PENDAHULUAN
 

A.           Latar Belakang
Teks-teks keagamaan yang berfungsi sebagai landas dasar kepercayaan beragama jarang mengikutsertakan uraian-uraian filosofis maupun ilmiah tentang penciptaan alam semesta, dan dalam hal ini, Islam tidak terkecuali. Secara tegas al-Quran menerangkan sifat-sifat pencipta alam semesta serta cara penciptaannya, namun keterangan tersebut  tidak secara bulat terarah pada satu macam keterangan saja. Menurut pendapat al-, Asy’ari, penjelasan al-Quran tentang tuhan tidak mengandung keraguan sedikit pun, bahwa Tuhan berada diatas seluruh ciptaan-Nya; Dia adalah satu-satunya tuhan dan Dia tidak bersandar kepada apa pun yang ada di ala mini. Dia berdiri sendiri dan tidak membutuhkan bantuan manusia; Dia dapat saja memusnahkan kita semua dan menggantikan dunia ini dangan sesuatu yang lain tanpa berakibat pada kehancuran diri-Nya sendiri. Dia tidak harus menciptakan dunia, dan sekarang ini, meskipun dunia telah tercipta namun Dia dapat saja melupakan-Nya jika Dia mau berbuat begitu. Kita diberi tahu Tuhan benar-benar menciptakan dunia dan Dialah sumber atau asal-usul langit dan bumi, dan Dia pula membuat malam dan siang, matahari, bulan dan semua planet. Dialah yang mengatur musim semi yang dapat membangkitkan dan menghidupkan kembali alam serta menjadikan kebun-kebun indah adanya. Tuhan merancang alam serta seluruh ciptaan-Nya adalah untuk kepentingan manusia, meskipun Dia tidak harus berbuat seperti, dan apa yang Dia “minta” sebagai tindak-balasannya hanyalah mengerjakan shalat dan menyembah –Nya.[1]
Alam semesta merupakan suatu ruang atau tempat bagi manusia, tumbuh-tumbuhan, hewan, dan benda-benda. Langit sebagai atapnya dan bumi sebagainya lantainya. Jadi, alam semesta atau jagat raya adalah satu ruang yang maha besar, terdapat kehidupan yang biotik dan abiotik.
Manusia sebagai makhluk yang terdiri atas berbagai macam pola dan bentuk tetapi diantara makhluk tersebut. Tuhan menciptakan bermacam-macam makhluk tetapi yang paling istimewa dan sempurna yang membedakan manusia dengan makhluk lainnya adalah akal, agar manusia dapat membedakan baik atau buruknya sesuatu.
B.      Rumusan Masalah
v  Apa saja Penciptaan alam semesta?
v  Berapa Lamanya penciptaan alam semesta?
v  Apa Tujuan penciptaan alam semesta?
v  Isi-isi yang ada pada alam semesta?
C.      Tujuan Penulisan
v  Untuk mengetahui Apa saja Penciptaan alam semesta.
v  Untuk mengetahui Lamanya penciptaan alam semesta.
v  Mengetahui Tujuan penciptaan alam semesta.
v  Mengetahui Isi-isi yang ada pada alam semesta.
BAB II
PEMBAHASAN
ALAM SEMESTA
Menelaah isi Al-Qur’an yang menerangkan kejadian alam semesta. (Yaitu) pada hari kami gulung langit sebagai menggulung lembaran kertas. Sebagaimana kami telah memulai penciptaan pertama, begitulah kami akan menggulungnya.
 Firman Allah swt.
Artinya : Dan Apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka Mengapakah mereka tiada juga beriman? (Q.S. Al-Anbiya : 30)[2]
1.    Penciptaan Alam Semesta
Pertama-tama marilah kita melihat  secara singkat bagaimana masalah yang menyangkut persoalan penciptaan itu timbul. Sebagai contoh, kita ditunjukan oleh al-Quran bahwa penciptaan alam semesta memakan waktu enam hari. Nah, lalu kita ingin tahu apakah ada sesuatu yang telah ada sebelum dunia ini diciptakan.[3] Kita juga mungkin ingin tahu apakah waktu itu dimulai dari hari pertama dari hari keenam itu ataukah waktu itu sudah ada sebelum Tuhan menciptakan alam semesta ini. Jika seseorang secara teliti membaca nash al-Quran itu sendiri, tampaknya tidak terdapat jawaban yang pasti terhadap persoalan-persoalan semacam itu. Ketika membicarakan persoalan penciptaan alam semesta, bahasa yang dipergunakan  disitu juga tidaklah cukup terang untuk dapat sampai pada suatu keterangan yang jelas meyakinkan, baik dalam satu sisi pemahaman yang lainnya.[4]
Secara umum alam semesta itu disebut langit dan bumi serta segala sesuatu yang ada diantara keduanya, semua sarjana kosmolog dari berbagai aliran dan teori sepakat bahwa kejadian alam semesta melalui proses yang panjang. Seperti yang diterangkan dalam Al-Qur’an Surah Fushilat ayat 11 :
Artinya : Kemudian Dia menuju kepada penciptaan langit dan langit itu masih merupakan asap, lalu Dia berkata kepadanya dan kepada bumi: “Datanglah kamu keduanya menurut perintah-Ku dengan suka hati atau terpaksa”. keduanya menjawab: “Kami datang dengan suka hati”. (Q.S. Fushilat : 11)[5]
Pada mulanya langit berupa asap, dengan demikian tidak mustahil apabila bumi dahulunya berasal dari asap atau gas. Beberapa masa langit yang masih berupa asap hingga menjadi benda langit yang sempurna untuk keseluruhan alam semesta dijadikan dalam enam masa, seperti disebutkan dalam Al-Qur’an surah Qaf Ayat 38:
Artinya : Dan Sesungguhnya telah Kami ciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya dalam enam masa, dan Kami sedikitpun tidak ditimpa keletihan. (Q.S.Qaf : 38)[6]
Dan terdapat pula juga dalam surat As-Sajadah Ayat 4 :
Artinya : Allah lah yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy. Tidak ada bagi kamu selain dari padanya seorang penolongpun dan tidak (pula) seorang pemberi syafa’at. Maka Apakah kamu tidak memperhatikan? (Q.S As-Sajadah: 4).[7]
2.    Lamanya Penciptaan Alam Semesta
Tidak ada yang dapat memastikan masa lamanya penciptaan alam semesta. Dalam Al-Qur’an menerangkan enam masa pemprosesan sempurna. Firman Allah SWT :
¨Artinya : Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy untuk mengatur segala urusan. tiada seorangpun yang akan memberi syafa’at kecuali sesudah ada izin-Nya. (Dzat) yang demikian Itulah Allah, Tuhan kamu, Maka sembahlah Dia. Maka Apakah kamu tidak mengambil pelajaran? (Q.S. Yunus : 3)[8]
Ayat ini menjelaskan bahwa alam semesta secara keseluruhan diciptakan dalam enam masa, langit dan bumi tercipta dalam enam masa termasuk apa-apa yang ada diantara keduanya, sebab tanpa itu bumi ini tidak berfungsi sebagaimana mestinya.[9]
Menurut Heraclitus menyatakan, “You can not step twice into the same river; for the fresh waters are ever flowing upon you” (engkau tidak dapat terjun ke sungai yang sama dua kali karena air sungai itu selalu mengalir). Alam semesta ini selalu dalam keadaan berubah; sesuatu yang dingin berubah jadi panas, yang panas berubah menjadi dingin.[10]
Segala yang ada dinamai: “Alam”. Ala mini 2 macam: Pertama dinamakan Alam nyata, yaitu semua alam yang ditangkap panca indra manusia, yaitu semua alam yang terdiri dari benda, baik benda padat, benda cair atau benda gas. Kedua ialah Alam Gaib, yaitu Alam yang tak dapat ditangkap dengan panca indra manusia, alam yang bukan terdiri dari benda.[11]
3.    Tujuan Penciptaan Alam Semesta
Semua mahluk memuliakan dan memuji Yang Maha Pencipta dengan cara-cara mereka sendiri. Mereka memenuhi tugas-tugasnya dengan senang dan bergairah. Sebagai contoh, matahari, yang tanpa terjatuh bahkan satu detik pun, bergerak mengitari garis edar, yang sudah digariskan untuknya. Sungai-sungai dengan antusias mengalir ke dalam laut-laut. Binatang-binatang, di bawah perintah dari manusia, melayaninya dengan satu ketaatan yang mutlak. Di samping itu, jika alam semesta tidak diciptakan, kelanggengan kesempurnaan dan kecantikan dari nama-nama dan sifat-sifat Allah SWT tidak akan pernah diketahui, karena hal tersebut hanya akan dapat diketahui oleh Allah (SWT) sendiri. Dengan menyatakan kecantikan-kecantikan rohani dari nama-nama dan sifat-sifat-Nya, Allah Yang Maha Kuasa, di samping memandang Kecantikan dan Kesempurnaan-Nya sendiri atas karya-karya-Nya sendiri, Dia juga memberi sebagian untuk diketahui para malaikat, manusia, dan jin, yang hal itu merupakan kehormatan dan anugerah yang besar bagi makhluk-Nya.[12]
Pertanyaan tentang “apakah perlu untuk menciptakan mahluk atau tidak?”, Allah (SWT) membuat pilihan Ketuhanan-Nya untuk menciptakan, dan pilihan ini sudah menjadi satu kemurahan yang besar untuk semua makhluk.
Justru yang tak dapat masuk akal jika Allah swt tidak menciptakan semesta, karena pada ayat-Nya Allah swt, Dia menyebut sifat diri-Nya dengan sifat Shamad — ”Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu.” [13]
4.    Isi-isi yang ada pada alam semesta
Artinya: (3)Dia yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, Adakah kamu Lihat sesuatu yang tidak seimbang? (4)kemudian pandanglah sekali lagi niscaya penglihatanmu akan kembali kepadamu dengan tidak menemukan sesuatu cacat dan penglihatanmu itupun dalam Keadaan payah. (Q.S Al Mulk: 3-4)[14]
Di alam semesta, miliaran bintang dan galaksi yang tak terhitung jumlahnya bergerak dalam orbit yang terpisah. Meskipun demikian, semuanya berada dalam keserasian. Bintang, planet, dan bulan beredar pada sumbunya masing-masing dan dalam sistem yang ditempatinya masing-masing. Terkadang galaksi yang terdiri atas 200-300 miliar bintang bergerak melalui satu sama lain. Selama masa peralihan dalam beberapa contoh yang sangat terkenal yang diamati oleh para astronom, tidak terjadi tabrakan yang menyebabkan kekacauan pada keteraturan alam semesta.[15]
Di seluruh alam semesta, besarnya kecepatan benda-benda langit ini sangat sulit dipahami bila dibandingkan dengan standar bumi. Jarak di ruang angkasa sangatlah besar bila bandingkan dengan pengukuran yang dilakukan di bumi. Dengan ukuran raksasa yang hanya mampu digambarkan dalam angka saja oleh ahli matematika, bintang dan planet yang bermassa miliaran atau triliunan ton, galaksi, dan gugus galaksi bergerak di ruang angkasa dengan kecepatan yang sangat tinggi.
Kecepatan orbital bumi mengitari matahari kurang-lebih enam kali lebih cepat dari peluru, yakni 108.000 km/jam. (Andaikan kita mampu membuat kendaraan yang dapat bergerak secepat ini, kendaraan ini dapat mengitari bumi dalam waktu 22 menit.) Namun, angka-angka ini baru mengenai bumi saja. Tata surya bahkan lebih menakjubkan lagi. Kecepatan tata surya mencapai tingkat di luar batas logika manusia. Di alam semesta, meningkatnya ukuran suatu tata surya diikuti oleh meningkatnya kecepatan. Tata surya beredar mengitari pusat galaksi dengan kecepatan 720.000 km/jam. Kecepatan Bima Sakti sendiri, yang terdiri atas 200 miliar bintang, adalah 950.000 km/jam di ruang angkasa.[16]
Kecepatan yang luar biasa ini menunjukkan bahwa hidup kita berada di ujung tanduk. Biasanya, pada suatu sistem yang sangat rumit, kecelakaan besar sangat sering terjadi. Namun, seperti diungkapkan Allah dalam ayat di atas, sistem ini tidak memiliki “cacat” atau “tidak seimbang”. Alam semesta, seperti juga segala sesuatu yang ada di dalamnya, tidak dibiarkan “sendiri” dan sistem ini bekerja sesuai dengan keseimbangan yang telah ditentukan Allah.
Artinya: “Dia Pencipta langit dan bumi. Bagaimana Dia mempunyai anak padahal Dia tidak mempunyai isteri. Dia menciptakan segala sesuatu; dan Dia mengetahui segala sesuatu. (Yang memiliki sifat-sifat yang) demikian itu ialah Allah Tuhan kamu; tidak ada Tuhan selain Dia; Pencipta segala sesuatu, maka sembahlah Dia; dan Dia adalah Pemelihara segala sesuatu. Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala yang kelihatan; dan Dialah Yang Maha Halus lagi Maha Mengetahui. Sesungguhnya telah datang dari Tuhanmu bukti-bukti yang terang; maka barangsiapa melihat (kebenaran itu), maka (manfaatnya) bagi dirinya sendiri; dan barangsiapa buta (tidak melihat kebenaran itu), maka kemudharatannya kembali kepadanya.” (QS. AlAn’am: 101-104)[17]
 Gunung Mencegah Gempa Bumi
Dia menciptakan langit tanpa tiang yang kamu melihatnya dan Dia meletakkan gunung-gunung (di permukaan) bumi supaya bumi itu tidak menggoyangkan kamu; dan memperkembangbiakkan padanya segala macam
                                                                    [18] jenis binatang.” (QS. Luqman:10)
Firman Allah swt.
Artinya: “Bukankah Kami telah menjadikan bumi itu sebagai hamparan dan gunung-gunung sebagai pasak?” (QS. An-Naba:7)[19]
Informasi yang diperoleh melalui penelitian geologi tentang gunung sangatlah sesuai dengan ayat Al Quran. Salah satu sifat gunung yang paling signifikan adalah kemunculannya pada titik pertemuan lempengan-lempengan bumi, yang saling menekan saat saling mendekat, dan gunung ini “mengikat” lempengan-lempengan tersebut. Dengan sifat tersebut, pegunungan dapat disamakan seperti paku yang menyatukan kayu. Selain itu, tekanan pegunungan pada kerak bumi ternyata mencegah pengaruh aktivitas magma di pusat bumi agar tidak mencapai permukaan bumi, sehingga mencegah
magma menghancurkan kerak bumi.[20]
Air Laut Tidak Saling Bercampur
Artinya: “Dia membiarkan dua lautan mengalir yang keduanya kemudian bertemu, antara keduanya ada batas yang tidak dilampaui oleh masing-masing.”(QS.Ar-Rahman:19-20)[21]
Pada ayat di atas ditekankan bahwa dua badan air bertemu, tetapi tidak saling bercampur akibat adanya batas. Bagaimana ini dapat terjadi? Biasanya, bila air dari dua lautan bertemu, diduga airnya akan saling bercampur dengan suhu dan konsentrasi garam cenderung seimbang. Namun, kenyataan yang terjadi berbeda dengan yang diperkirakan. Misalnya, meskipun Laut Tengah dan Samudra Atlantik, serta Laut Merah dan Samudra Hindia secara fisik saling bertemu, airnya tidak saling bercampur. Ini karena di antara keduanya terdapat batas. Batas ini adalah gaya yang disebut “tegangan permukaan”.[22]
Langit Tujuh Lapis
Artinya: “Allah-lah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi.” (QS. Ath-Thalaq:12)[23]
Dalam Al Quran Allah menyebutkan tujuh surga atau langit. Ketika ditelaah, atmosfer bumi ternyata terbentuk dari tujuh lapisan. Di atmosfer terdapat suatu bidang yang memisahkan lapisan dengan lapisan. Berdasarkan Encyclopedia Americana (9/188), lapisan-lapisan yang berikut ini bertumpukan, bergantung pada suhu.
·         Lapisan pertama TROPOSFER: Lapisan ini mencapai ketebalan 8 km di kutub dan 17 km di khatulistiwa, dan mengandung sejumlah besar awan. Setiap kilometer suhu turun sebesar 6,5°C, bergantung pada ketinggian. Pada salah satu bagian yang disebut tropopause, yang dilintasi arus udara yang bergerak cepat, suhu tetap konstan pada –57°C.
·         Lapisan kedua STRATOSFER: Lapisan ini mencapai ketinggian 50 km. Di sini sinar ultraviolet diserap, sehingga panas dilepaskan dan suhu mencapai 0°C. Selama penyerapan ini, dibentuklah lapisan ozon
Yang penting bagi kehidupan
·         Lapisan ketiga MESOSFER: Lapisan ini mencapai ketinggian 85 km. Di sini suhu turun hingga –100°C.
·         Lapisan keempat TERMOSFER: Peningkatan suhu berlangsung lebih lambat
·         Lapisan kelima IONOSFER: Gas pada lapisan ini berbentuk ion. Komunikasi di bumi menjadi mungkin karena gelombang radio dipantulkan kembali oleh ionosfer
·         Lapisan keenam EKSOSFER: Karena berada di antara 500 dan 1000 km, karakteristik lapisan ini berubah sesuai aktivitas matahari.
·         Lapisan ketujuh MAGNETOSFER: Di sinilah letak medan magnet bumi. Penampilannya seperti suatu bidang besar yang kosong. Partikel subatom yang bermuatan energi tertahan pada suatu daerah yang disebut sabuk radiasi Van Allen.[24]
BAB III
PENUTUP
·           KESIMPULAN
Allah menciptakan alam semesta ini bukan untukNya, tetapi untuk seluruh makhluk yang diberi hidup dan kehidupan. Sebagai pencipta dan sekaligus pemilik, Allah mempunyai kewenangan dan kekuasaan untuk melestarikan dan menghancurkannya tanpa diminta pertanggungjawaban oleh siapapun. Namun begitu, Allah telah mengamanatkan alam seisinya dengan makhlukNya yang patut diberi amanat itu, yaitu MANUSIA. Dan oleh karenanya manusia adalah makhluk Allah yang dibekali dua potensi yang sangat mendasar, yaitu kekuatan fisi dan kekuatan rasio, disamping emosi dan intuisi. Ini berarti, bahwa alam seisinya ini adalah amanat Allah yang kelak akan minta pertanggung jawaban dari seluruh manusia yang selama hidupnya di dunia ini pasti terlibat dalam amanat itu.
Alam semesta adalah media pendidikan sekaligus sebagai sarana yang digunakan oleh menusia untuk melangsungkan proses pendidikan. Didalam alam semesta ini manusia tidak dapat hidup dan “mandiri” dengan sesungguhnya. Karena antara  manusia dan alam semesta saling membutuhkan dan saling melengkapi antara satu dengan yang lainnya. Dimana alam semesta ini butuh manusia untuk merawat dan memeliharanya sedangkan manusia butuh alam semesta sebagai sarana berinteraksi dengan manusia lainnya.
·           SARAN
Saya selaku pembuat makalah sangat mengharapkan kritik dan saran para pembaca makalah saya, agar dalam pembuatan makalah selanjutnya dapat lebih baik lagi.
DAFTAR PUSTAKA
Leaman Oliver. 1989. Pengantar Filsafat Islam. Jakarta: Rajawali Pers. Hal 33
Tafsir Ahmad, 1990. Filsafat umum. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. Hal 49
Salam Burhanudin. 1988. Filsafat manusia (antropologi metafisika). Jakarta: Bina Aksara. Hal 149

[1] Leaman Oliver. Pengantar Filsafat Islam. Jakarta: Rajawali Pers. 1989. Hal 33
[2] Quran in word ver 1.3. Mohamad Taufik. Q.S. Al-Anbiya : 30
[5] Quran in word ver 1.3. Mohamad Taufik. Q.S. Fushilat : 11
[6]Quran in word ver 1.3. Mohamad Taufik. Q.S.Qaf : 38
[7]Quran in word ver 1.3. Mohamad Taufik. Q.S As-Sajadah: 4
[8] Quran in word ver 1.3. Mohamad Taufik. Q.S. Yunus : 3
[10] Tafsir Ahmad. Filsafat umum. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. 1990. Hal 49
[11] Salam Burhanudin. Filsafat manusia (antropologi metafisika). Jakarta: Bina Aksara. 1988. Hal 149
[14]Quran in word ver 1.3. Mohamad Taufik. Q.S Al Mulk: 3-4
[17] Quran in word ver 1.3. Mohamad Taufik. QS. AlAn’am: 101-104
[18] Quran in word ver 1.3. Mohamad Taufik. QS. Luqman:10
[19] Quran in word ver 1.3. Mohamad Taufik. QS. An-Naba: 7
[21] Quran in word ver 1.3. Mohamad Taufik. QS.Ar-Rahman:19-20
[23] Quran in word ver 1.3. Mohamad Taufik. QS. Ath-Thalaq:12

[24] http://ahmadazhar.wordpress.com/2009/03/02/isi-alam-semesta/

v\:* {behavior:url(#default#VML);}
o\:* {behavior:url(#default#VML);}
w\:* {behavior:url(#default#VML);}
.shape {behavior:url(#default#VML);}

óOs9urr&ttƒtûïÏ%©!$#(#ÿrãxÿx.¨br&ÏNºuq»yJ¡¡9$#uÚö‘F{$#ur$tFtR%Ÿ2$Z)ø?u‘$yJßg»oYø)tFxÿsù($oYù=yèy_urz`ÏBÏä!$yJø9$#¨@ä.>äóÓx«@cÓyr(Ÿxsùr&tbqãZÏB÷sãƒ

Normal
0

false
false
false

EN-US
X-NONE
AR-SA

MicrosoftInternetExplorer4

/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-qformat:yes;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin-top:0cm;
mso-para-margin-right:0cm;
mso-para-margin-bottom:10.0pt;
mso-para-margin-left:0cm;
line-height:115%;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:11.0pt;
font-family:”Calibri”,”sans-serif”;
mso-ascii-font-family:Calibri;
mso-ascii-theme-font:minor-latin;
mso-hansi-font-family:Calibri;
mso-hansi-theme-font:minor-latin;}

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s