Apa Hakikat dan Kegunaan Ilmu ?

Salah satu sendi masyarakat modern adalah ilmu dan tekhnologi. Kaum ilmuwan tidak boleh picik dan menganggap ilmu dan tekhnologi itu alpha dan omega dari segala-galanya, masih terdapat banyak lagi sendi-sendi lain yang menyangga peradaban manusia yang baik. Demikian juga masih terdapat kebenaran-kebenaran lain di samping kebenaran keilmuan yang melengkapi harkat kemanusiaan yang hakiki. Namun bila kaum ilmuwan ‘konsekuen’ dengan pandangan hidupnya, baik secara intelektual maupun secara moral, maka salah satu penyangga masyarakat modern itu akan berdiri dengan kokoh.

Alkisah….

Suatu hari PLATO (427-347 S.M.) mendapat pertanyaan dari seorang muridnya : “Apakah sebenarnya kegunaan dari pelajaran matematika yang telah kau berikan selama ini…?”. Merasa sangat tersinggung dengan pertanyaan ini, filsuf besar ini langsung memecat serta mengeluarkan murid tersebut dari sekolah.

 

Pada waktu itu, memang pengetahuan-pengetahuan, termasuk juga ilmu, semuanya belum mempunyai kegunaan praktis, melainkan estetis. Artinya, seperti kita sedang belajar main piano atau membaca sajak cinta saja, maka pengetahuan semacam ini lebih ditujukan kepada kepuasan jiwa, dan sama sekali bukan sebagai konsep untuk memecahkan suatu masalah. Bahkan sampai sekarang pun gejala ini masih sangat terlihat jelas dan menonjol, di mana orang-orang mempelajari berbagai pengetahuan ilmiah bukanlah sebagai teori yang mempunyai fungsi dan kegunaan praktis, melainkan hanya sekedar upaya untuk memperkaya jiwa.

Sambil minum teh serta makanan ringan (snack) lainnya, mereka berdebat tentang masalah nuklir sampai pedagang kaki lima, sekedar untuk mengasah ketajaman berpikir mereka dan mendapatkan kepuasan jiwa. Seperti layaknya olahragawan dalam seni raga orhiba, misalnya, mereka sampai merem-melek setelah kepenatan latihan sebagai ungkapan rasa kepuasan jiwa mereka.

Ilmu merupakan sekedar pengetahuan yang harus dihafal, agar bisa dikemukakan ketika berdebat. Makin hafal lantas makin hebat…!

Pengetahuan yang dikuasai harus mencakup bidang-bidang yang amat luas, agar tiap masalah yang muncul, kita bisa ikut menyambut. Makin banyak makin yahut…!

Kemampuan mengutip teori-teori ilmiah yang bersifat estetik ini, lalu berkembang menjadi status sosial. Seperti segelintir masyarakat golongan menengah, yang memaksa anak-anaknya untuk belajar main piano atau organ. (“Gengsi doong…!” Katanya !). Padahal anak ingusan itu masih lebih senang berkubang lumpur, bermain karet, bermain boneka, dsb…, ketimbang disuruh memijiti tuts.


Penempatan dan penerapan ilmu pada zaman Yunani Kuno itu, disebabkan filsafat (kefilsafatan) mereka yang memandang rendah terhadap pekerjaan yang bersifat praktis, yang pada waktu itu lazimnya dikerjakan oleh para Budak Belian (Hamba Sahaya).

Adalah hal yang kurang pada tempatnya kalau kaum yang merdeka hanya selalu memikirkan masalah yang tidak sesuai dengan status sosial mereka. Bukankah pekerjaan praktis yang selalu memeras tenaga adalah predikat kaum hamba sahaya ? Hmmm… Sebenarnya pendapat/opini semacam ini bukanlah sesuatu yang tabu, Teman ! Sebab, zaman sekarang pun masih banyak orang-orang yang berpendapat seperti itu.

Atau bahkan, “Anakku, jangan mau jadi masinis atau pekerja tekhnik ya…! Jadi pegawai negeri saja, enak lho…!!!” (…begitu katanya!).

Nah, persepsi yang salah seperti inilah yang sebenarnya menyebabkan kurang berkembangnya kebudayaan menghafal dalam sistem pendidikan kita. Ilmu tidak lagi memiliki fungsi sebagai pengetahuan yang diterapkan dalam masalah kita sehari-hari, melainkan sekedar dikenal dan dikonsumsi (dinikmati). Seperti halnya lagu Ebiet G. Ade, sajak Sutardji, atau bahkan lagu Virgiawan Listanto alias Iwan Fals.

Sekarang ini, bukan lagi hal yang mustahil apabila kita menemukan dalam sebuah lomba deklamasi, mungkin ada salah seorang peserta yang setelah mengangguk kepada dewan juri, dan kemudian spontan memekik : “H-u-k-u-u-u-m  B-o-y-l-e…!” (dengan intonasi selangit).

Sajak Sutardji, lagu Ebiet atau Iwan Fals, masing-masing fungsinya memang bersifat estetik, yang  kalau kita konsumsikan dengan baik, bisa memberikan kenikmatan bathiniah. Jiwa kita tergetar, terharu, dan tersentuh oleh komunikasi artistik, menyibakkan dunia makna yang tak terjangkau kasat mata. Jiwa kita bertambah kaya, persepsi kita bertambah dewasa, yang selanjutnya akan mengubah sikap dan kelakuan kita.

Sebuah karya Multatuli, yakni Max Havelaar, begitu menyentuh nurani bangsa Belanda, yang membuahkan perubahan sikap terhadap penindasan dan penjajahan, yang seperti kita ketahui dalam sejarah, membuahkan perubahan terhadap kebijaksanaan politik. Meskipun patut dicatat bahwa perubahan sikap dan kelakuan itu tidak selalu menggembirakan.

Atau seperti lagu Sombre Di Manche dan novel Werther karya Goethe, misalnya, pernah menyebabkan orang-orang muda sepi dan patah hati, hingga melakukan bunuh diri… Hmmm….

Kiranya bahwa sajak atau nyanyian adalah fungsional bagi kehidupan kita, dan hal ini tidak perlu diragukan lagi, namun terdapat fungsi dan kegunaan yang berbeda antara kedua ungkapan seni tersebut dengan teori keilmuan. Seperti perbedaan antara Hukum Boyle dengan lagu Ebiet G. Ade.

Lagu Ebiet, misalnya, mengungkapkan masalah urbanisasi : “terkapar di tengah kota, berbekal tinggal sehelai sarung, namun malu balik ke desa…!” Lagu ini, mungkin menyadarkan kita kepada permasalahan-permasalahan yang merasuk ini, berkumandang dan menggelitik nurani, yang membuahkan perubahan sikap dan mungkin perilaku kita terhadap urbanisasi. Namun yang jelas, kita tidak pernah bisa memecahkan masalah urbanisasi hanya dengan menyanyi.

Lalu bagaimana…?

Ya, tentu kita harus melakukan tindakan-tindakan kongkrit dong…! Tidak dengan membentuk “Vocal Group”, namun melakukan serangkaian tindakan-tindakan yang konsepsional berdasarkan pengetahuan-pengetahuan yang terandalkan.

Nah, untuk sementara Ebiet keluar panggung, sekarang giliran ilmuwan Ahli Urban masuk. Bukan menjinjing guitar, melainkan mengepit textbook.

Buku-buku teks ilmuwan ini, tidak jauh berbeda dengan buku-buku primbon seorang peramal (tukang ramal), yang dipergunakan untuk konsultasi dalam memecahkan masalah-masalah praktis. Ya, paling pun berbeda adalah ruang lingkupnya :

“Mbah, bagaimana ya ramalan kehiduan cucunda setelah PILKADA nanti ?”

Atau, “Prof, bagaimana ramalan situasi minyak bumi kita menjelang tahun 2020 nanti ?”

Eh, bahkan, seperti konsultasi dengan dokter, kita bukan hanya sekedar didiagnosis, namun juga diberi pemecahan-pemecahan praktis.

“Cucuku, agar ramalan yang suram ini segera lenyap, maka minumlah air putih ini tiga kali sehari, setelah membakar kemenyan…!”  (misalnya).

Atau, “Agar sumur minyak Indonesia pada tahun 2020 nanti tidak dijadikan kubangan kerbau, maka sejak dini kita harus mengembangkan kompor dengan energi nuklir…!”  (misalnya).

Jadi, buku-buku tebal ilmuwan pada hakikatnya sama saja dengan buku-buku primbon tukang ramal, yakni menjelaskan, meramalkan, dan mengontrol. Namun dalam hal ini, tentu saja yang berbeda adalah asas-asas dan prosedurnya.

Menjelaskan-meramalkan-mengontrol inflasi, kita mempergunakan asas dan prosedur keilmuan. Sedangkan menjelaskan-meramalkan-mengontrol telapak tangan, kita mempergunakan asas dan prosedur perklinikan.

Nah, dengan demikian, kita tidak usah heran kalau dalam memecahkan masalah-masalah kehidupan, orang tidak selalu datang berkonsultasi kepada ilmuwan, melainkan kepada tukang ramal. Keduanya memang melakukan fungsi dan kegunaan yang sama, meskipun dengan asas dan prosedur yang berbeda. Pilihan diantara keduanya memang sangat tergantung kepada kepercayaan kita masing-masing. Artinya, dalam memecahkan masalah-masalah kehidupan, apakah kita mempercayai asas dan prosedur keilmuan atau perklinikan.

Tingkat kepercayaan seseorang dan masyarakat memang berbeda-beda : kepercayaan seseorang tergantung kepada pendidikannya (baik formal maupun non-formal), sedangkan kepercayaan masyarakat tergantung kepada kebudayaannya (baik tradisional maupun mutakhir).

Lalu bagaimana tingkat professional ilmuwan yang tidak bisa menjelaskan-meramalkan-dan-mengontrol masalah-masalah kehidupan kehidupan, melainkan sekedar menghafal ?

Mungkin bisa membantu musisi menciptakan syair lagu-lagunya dalam rangka memasyarakatkan ilmu pengetahuan dan mengilmiahkan masyarakat !
Musik ? Ilmuwan ?

“….Humor mengajarkan toleransi. Dan seorang humoris, dengan senyum di bibirnya, sambil menghela nafas, kemungkinan besar akan mengangkat bahu daripada harus memaki-maki….”
(W. Somerset Maugham dalam The Summing Up)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s