PEMIKIRAN PENDIDIKAN ISLAM MUHAMMAD ABDUH

A. Prolog
            Muhammad Abduh adalah tokoh pembaharu yang tidak asing lagi, dunia Islam dan Barat mengakuinya, bahkan sering dijadikan rujukan dalam pembahasan ke-Islaman. Ia dilahirkan dalam situasi, dimana dunia Barat gencar-gencarnya melakukan kegiatan ekspansi ke daerah-daerah Islam, termasuk Mesir.
            Pada masa Muhammad Abduh itu, ada dua golongan ekstrim: mempertahan tradisi Arab-Islam; dan mengadakan pembaharuan yang murni merujuk pada Barat, sehingga nyaris melupakan nilai-nilai Timur dan Islam. Hal tersebut, termasuk di bidang pendidikan.
            Muhammad Abduh dilahirkan dalam situasi dan kondisi seperti di atas, sehingga ia termotivasi untuk ikut memberikan respons dan mengadakan perbaikan di pelbagai bidang, terutama pendidikan. Di bidang pendidikan, al-Azharlah yang menjadi target utama Muhammad Abduh.
            Pendidikan bagi Muhammad Abduh sangatlah penting. Sampai-sampai ia memosisikan gurunya lebih “mulia” dari orang tuanya. Beliau pernah berucap, “Orang tuaku memberikan aku dua orang teman (saudara) hidup: Ali dan Mahrus. Sedangkan guruku Jamaluddin al-Afghani memberikan “teman” hidup: Muhammad Saw., Ibrahim, Musa, Isa, para wali, dan orang-orang suci.”[1]
            Dalam makalah yang sangat sederhana ini, penulis mencoba memaparkan dan menganalisa apa yang penulis baca tentang Muhammad Abduh dan Pendidikan. Pembahasan makalah ini meliputi biografi singkat Muhammad Abduh; konsep pendidikan Muhammad Abduh, yang meliputi: tujuan pendidikan Islam; dan kurikulum pendidikan Islam.
            Dengan penuh sadar, penulis mengakui banyak terdapat kekurangan dalam makalah ini. Sebab itu, penulis sangat mengharapkan kritikan yang konstruktif, masukan dan sumbangan informasi yang berargumentasi dan bereferensi, sehingga perbaikan makalah ini layak untuk dinikmati oleh banyak orang.
B. Biografi Muhammad Abduh
            Nama lengkapnya adalah Muhammad Abduh Hasan Khairullah. Ia dilahirkan di sebuah kampung bernama Mahallat Nasr, Syubra Khit, provinsi Al-Bahirah, Mesir pada tahun 1849 M./1266 H.[2] Ayahnya berasal dari Turki yang telah lama tinggal di Mesir, sedangkan ibunya adalah orang Arab, yang menurut riwayat, silsilah ibunya sampai pada Umar bin Khattab. Muhammad Abduh tumbuh besar di lingkungan keluarga, yang bapaknya sendiri tidak pernah mengenyam pendidikan formal, namun memiliki jiwa keagamaan yang teguh dan taat.[3]
            Awal pendidikan Muhammad Abduh dimulai dengan membaca dan menulis, menghafal Alquran, pada saat itu beliau berumur tujuh tahun.[4]Kemudian ia ke sekolah al-Ahmadi di daerah Thanta, pada tahun 1862 M., untuk mendalammi ilmu tajwid.[5]
            Namun, karena metode pengajaran yang diterapkan oleh gurunya dianggapnya tidak sesuai, ia menyatakan bahwa guru-gurunya tersebut cenderung memaksakan murid-muridnya dengan kebiasaan menghafal istilah-istilah yang tidak dipahami oleh sang murid. Karena ia merasa tidak puas dengan metode pendidikan seperti ini, ia pun meninggalkan Thanta dan kembali lagi ke kampungnya dengan tekat tidak mau lagi belajar.[6]
            Tahun 1866, ia pergi ke Kairo untuk belajar di Al-Azhar.[7] Kondisi di sana pada saat itu dalam kondisi mundur dan jumud, karena memang, lembaga pendidikan agama pada saat itu, termasuk Al-Azhar sendiri, belum bisa menerima ide pembaharuan. Bahkan menurut Ahmad Amin, kondisi Al-Azhar ketika itu menganggap bahwa segala sesuatu yang berlawanan dengan kebiasaan merupakan suatu kekafiran. Membaca buku-buku geografi, ilmu alam, atau filsafat adalah haram. Bahkan lebih dari itu, memakai sepatu pun dianggap merupakan suatu yang tabu.[8]
            Sayyid Qutub mengambarkan situasi dan kondisi masyarakat tempat Muhammad Abduh hidup sebagai masyarakat yang kaku, beku, menutup rapat-rapat pintu ijtihad serta mengabaikan peranan akal dalam memahami syari’at. Sementara, di Eroa khususnya, kehidupan masyarakat sangat mendewakan akal, terlebihs etelah penemuan-penemuan ilmiah yang sangat mengagumkan ketika itu. Kondisi demikian, pada dekade berikutnya memberikan dampak kepada dunia Timur, termasuk Mesir, terutama semenjak ekspansi Napoleon berlangsung.[9]
            Melihat realita ini, membuat Muhammad Abduh gerah, dan pada akhirnya memotivasi untuk melakukan pembaharuan di pelbagai lini kehidupan, termasuk pendidikan yang menjadi target utamanya. Beliau pernah menyatakan bahwa pendidikan adalah segala sesuatu, atas fondasinya terbangun segala sesuatu, semuanya hilang karena kehilangan ilmu, semuanya ada karena adanya ilmu.[10]
            Ketika Jamaluddin al-Afghani datang ke Mesir pada tahun 1871 M. Muhammad Abduh giat belajar dan mendengar segala ide pembaharan darinya.[11] Semenjak itu Muhammad Abduh bekerja sama dengan Afghani untuk mengada pembaharuan terhadap Islam melalui majalah al-Urwah al-Wutsqa.
            Puncak karir Muhammad Abduh dalam pembaharuannya, terutama di bidang pendidikan adalah ketika ia ditugaskan menjadi seorang mufti pertama Mesir. Posisi ini diperolehnya pada 03 Juni 1899 M.[12]
            Pada jam lima sore, tanggal 11 Juli 1905 M., di Aleksanderia, beliau meninggal dunia. Pada saat itu usianya 57 tahun, meninggalkan tiga orang putri,[13] ratusan atau bahkan ribuan murid, dan meninggalkan banyak buah pikir yang dapat membawa perobahan dunia Islam ke arah yang lebih baik. Jasadnya telah pergi, namun selamanya ia akan tetap hidup, dikenang orang banyak.
C. Konsep Pendidikan Muhammad Abduh
            Kontak kebudayaan antara Mesir dan kebudayaan yang dibawa oleh Napoleon Bonaparte menimbulkan kesadaraan umat Islam bahwa mereka telah tertinggal jauh dari Eropa. Kesadaran ini menimbulkan pelbagai pergerakan pembaharuan dari kalangan umat Islam, salah satu pelopornya adalah Muhammad Ali Pasya.[14]
            Setelah Muhammad Ali menjadi penguasa tunggal di Mesir, ia tidak mengalami kesukaran dalam merealisasikan konsep pembaharuannya, terutama di bidang pendidikan. Sebagai penguasa Mesir, ia mengirim orang-orang Mesir untuk menuntut ilmu ke Eropa, terutama ke Paris. Sementara di Kairo sendiri, didirikan sekolah-sekolah modern, seperti sekolah meliter, teknik, kedokteran, apoteker, pertanian, dll.[15] Sekolah-sekolah yang didirikan Muhammad Ali ini berorentasi pada pendidikan Barat, dan jauh dari ruh Islam, karena mengenyampingkan pendidikan Islam.
            Sementara di al-Azhar, sebagai benteng pendidikan ke-Islaman, terus bersikeras pada corak tradisionalnya. Realitas ini menyebabkan adanya dualisme pendidikan di Mesir.
            Muhammad Abduh yang berada dalam kondisi dan situasi seperti itu, tidak tinggal diam. Ide untuk menyelaraskan atau memperkecil dualisme pendidikan ini pun meuncul.
Gibb melalui Modern Trends in Islam menjelaskan bahwa ada empat agenda pembaruan, terutama di bidang pendidikan, menurut Muhammad Abduh:[16]
1.      Purifikasi. Pemurnian ajaran Islam mendapat perhatian serius dari Muhammad Abduh berkaitan dengan munculnya bid’ah dan khurafatyang masuk dalam kehidupan beragama umat Islam.
2.      Reformasi. Muhammad Abduh, dalam mereformasi pendidikan tinggi Islam terkonsentrasi pada universitas almamaternya, al-Azhar. Ia menyatakan bahwa kewajiban belajar itu tidak hanya mempelajari buku-buku klasik berbahasa Arab yang berisi dogma ilmu agama untuk membela Islam. Akan tetapi, kewajiban belajar juga terletak pada mempelajari sains-sains modern, serta sejarah dan agama Eropa, agar diketahui sebab-sebab kemajuan yang telah mereka capai.
Nurchalish Majid menjelaskan bahwa usaha awal reformasi Muhammad Abduh adalah memperjuangkan mata kuliah filsafat agar diajarkan di Al-Azhar. Dengan belajar filsafat, semangat intelektualisme Islam yang hilang diharapkan dapat hidup kembali.
3.      Pembelaan Islam. Muhammad Abduh, melalui Risalah Tauhid-nya tetap mempertahankan jati diri Islam. Usahanya untuk menghilangkan unsur-unsur asing merupakan bukti bahwa ia tetap yakin dengan kemandirian Islam. Abduh, terlihat tidak pernah menaruh perhatian pada paham-paham ateis atau anti agama yang marak di Eropa. Ia lebih tertarik untuk memperhatikan serangan-serangan terhadap Islam dari sudut keilmuan.
4.      Reformulasi. Agenda ini dilaksanakan Abduh dengan membuka kembali pintu ijtihad. Karena menurutnya, kemunduran umat Islam disebabkan dua faktor: eksternal dan internal, yakni kejumudan umat Islam sendiri. Abduh dengan refomulasinya menegaskan bahwa Islam telah membangkitkan akal pikiran manusia dari tidur panjangnya, sebenarnya manusia tercipta dalam keadaan tidak terkekang, termasuk dalam hal berpikir.
Untuk membahas konsep pendidikan Muhammad Abduh ini, setidaknya ada dua hal yang harus diungkap: tujuan dan kurikulum pendidikan menurut Muhammad Abduh.
1. Tujuan Pendidikan Islam
            Dalam memberdayakan pendidikan Islam, Muhammad Abduh menetapkan tujuan pendidikan Islam yang dirumuskannya yakni; mendidik akal dan jiwa serta menyampaikannya kepada batas-batas kemungkinan seseorang dapat mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat.[17]
            Dari rumusan tujuan pendidikan tersebut, dapat dipahami bahwa yang ingin dicapai oleh Muhammad Abduh adalah tujuan yang mencakup aspek kognitif (akal) dan aspek afektif (spritual). Jadi adanya keseimbangan antara akal dan spritual.
            Pendidikan akal ditujukan sebagai alat untuk menanamkan kebiasaan berfikir dan dapat membedakan yang baik dan yang buruk; antara membawa kemaslahatan dan kemudaratan. Dengan hal ini, Muhammad Abduh berharap kemandekan berfikir yang melanda umat Islam pada saat itu dapat terkikis.
            Bagi Muhammad Abduh, perbuatan manusia bertolak dari konklusi bahwa manusia adalah makhluk yang bebas memilih perbuatan. Dalam Risalah Tauhid-nya, ia menjelaskan bahwa yang mendukung suatu perbuatan manusia adalah akal, kemauan dan daya.[18]
            Penggabungan dengan tujuan spiritual (afektif), diharapkan dapat melahirkan generasi baru yang berintelektual tinggi, berpikir kritis, tetapi juga memiliki akhlak yang mulia dan berjiwa bersih. Sehingga sikap-sikap yang mencerminkan kerendahan moral dapat terhapuskan.
            Menurut Abduh, apabila kedua aspek tersebut dididik dan dikembangkan, dalam arti akal dicerdaskan dan jiwa dididik dengan akhlak agama, maka umat Islam akan bangkit dan dapat berpacu serta dapat mengimbangi bangsa-bangsa yang telah maju kebudayaannya.
2. Kurikulum Pendidikan Islam
            Untuk mewujudkan tujuan pendidikan di atas, maka Abduh membentuk seperangkat kurikulum sejak dari tingkat dasar sampai tingkat atas:[19]
  1. Tingkat Sekolah Dasar
Abduh beranggapan bahwa dasar pembentukan jiwa agama hendaknya dimulai dari usia dini, yakni masa kanak-kanak. Oleh sebab itu, mata pelajaran agama dijadikan sebagai inti semua mata pelajaran. Pandangan ini mengacu pada anggapan bahwa ajaran agama Islam merupakan dasar pembentukan jiwa dan pribadi muslim. Dengan memiliki jiwa kepribadian muslim, manusia, khususnya rakyat Mesir pada waktu itu, akan memiliki jiwa kebersamaan dan nasionalisme untuk dapat membangkitkan sikap hidup yang lebih baik, sekaligus dapat meraih kemajuan.
  1. Tingkat Atas
Dalam hal ini, upaya yang dilakukan Abduh adalah dengan mendirikan sekolah menengah pemerintah untuk menghasilkan ahli dalam pelbagai lapangan, seperti administrasi, meliter, kesehatan, perindustrian, dll. Melalui lembaga pendidikan ini, Abduh merasa perlu memasukkan materi pelajaran agama, sejarah Islam, dan kebudayaan Islam. Di madrasah-madrasah yang berada dalam naungan Al-Azhar, Muhammad Abduh memasukkan pelajaran mantik, falsafah, dan tauhid. Sebelum itu, Al-Azhar menganggap pelajaran falsafah dan mantik adalah pelajaran yang haram diajarkan dan dipelajari. Sedangkan di rumahnya, ia mengajarkan buku Tahdzib al-Akhlak karya Ibnu Miskawaih, dan buku sejarah peradaban Eropa yang telah diterjemahkan dalam bahasa Arab, dengan judul at-Tuhfat al-Adabiyah fi Tarikh Tamaddun al-Mamalik al-Arabiah.[20]
  1. Universitas Al-Azhar
Kurikulum perguruan tinggi di Al-Azhar disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat pada saat itu. Dalam hal ini, Abduh memasukkan mata kuliah ilmu filsafat, ilmu logika, dan ilmu pengetahuan modern ke dalam kurikulum Al-Azhar. Hal ini dilakukannya agar output Al-Azhar dapat menjadi ulama modern, yang sesuai dengan zaman dan kondisi mereka hidup.
Di Al-Azhar, dalam melakukan perubahan ini, Muhammad Abduh merasa sendirian, tidak ada orang yang sudi membatunya untuk menerapkan perubahan ini. Namun bagi Abduh, ia hanya berusaha, soal diterima atau tidak itu urusan lain. Ia pernah berucap, “Aku sudah memberikan bibit yang baik untuk Al-Azhar, kalau ia tumbuh, berbuah, dan dapat dinikmati oleh akal dan spirit, maka Al-Azhar akan kekal dengan corak yang baru. Tetapi, kalau tidak demikian, maka Al-Azhar hanya bisa menunggu keputusan akhir dari Allah SWT.”[21]
            Soal metode yang digagas oleh Muhammad Abduh dalam pembalajaran adalah metode diskusi. Walaupun ia tidak menjelaskan hal ini dengan jelas, namun dari praktik yang ia lakukan menjurus pada metode diskusi. Apalagi, ia mengkritik keras praktik metode pembelajaran hafalan tanpa pengertian yang dalam, sebagaimana yang kerap dipraktikkan pada saat itu. Ia menekankan pentingnya pemberian pengertian dalam setiap pelajaran yang diberikan. Ia memperingatkan para pendidik untuk tidak mengajar murid dengan metode menghafal, karena metode demikian hanya akan merusak daya nalar, seperti yang dialaminya ketika belajar di sekolah formasi di Masjid Ahmadi di Thanta.[22]
            Diantara konsentrasi pembaharuan pendidikan Muhammad Abduh juga adalah tentang pendidikan perempuan. Menurutnya, perempuan memiliki hak yang sama dengan laki-laki dalam menerima layanan pendidikan. Dalam mengangkat harkat martabat perempuan, munurunya ada beberapa hal yang harus diperjuangkan: pembelajaran buat perempuan; mempersempit talak; dan pelarangan poligami.[23] Semua pemikiran Muhammad Abduh tentang perempuan tertuang dan dikembangkan dalam Tahrir al-Mar’ah karya muridnya, Qosim Amin.
Epilog
            Izinkan penulis memberikan kesipulan dalam makalah ini, bahwa Muhammad Abduh adalah sosok pembaharu Islam abad 19/20 yang mengusung rasionalitas dalam beragama.
            Abduh ingin menghilang kejumudan dalam pendidikan dengan tujuan pendidikan, mendidik akal dan jiwa serta menyampaikannya kepada batas-batas kemungkinan seseorang dapat mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat.
            Dengan mengkonsentrasikan pada akal dan jiwa, Abduh berharap adanya keseimbangan dalam hidup dan mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat. Di samping hidup berwibawa dengan akal yang cerdas, umat Islam juga berperilaku baik yang sesuai dengan ajaran syari’at.
            Untuk mencapai tujuan demikian, maka ia menggagas kurikulum berbasis sains dan falsafah yang banyak menggunakan akal, dan tanpa meninggalkan pelajaran-pelajaran yang bersifat agamis.
            Metode yang digunakan dalam pembelajaran ini, lebih terkonsentrasi pada metode diskusi. Karena diharapkan murid dapat menganalisa informasi yang didapat. Ia sangat tidak suka dengan motede hafalah tanpa makna, walau informasi banyak didapat, namun tetap saja tidak bermanfaat, karena sang murid tidak paham dengan apa yang dihafalnya.
            Dalam hal pendidikan juga, Muhammad Abduh banyak menghabiskan energi untuk mengangkat martabat perempuan, hal ini tentu saja via pendidikan. Karena baginya, pendidikan adalah segala-segalanya. Apalagi perempuan adalah guru pertama bagi umat manusia, sebelum ia mengenal dunia sekolah formal dan masyarakat. Bagaimana bisa menjadi guru, sedangkan ia sama sekali tidak pernah mengenyam pendidikan? Dari sini, hal ini menjadi sangat urgen bagi Abduh.
BIBLIOGRAFI
Abduh, Muhammad. Risalah at-Tauhid, dalam Muhammad Imarah. al-A’mal al-Kamilah
li al-Imam asy-Syaikh Muhammad Abduh, jil. III. Cairo: Dar Syuruq, 1993.
Imarah, Muhammad (ed.). al-A’mal al-Kamilah li al-Imam asy-Syaikh Muhammad
Abduh, jil. I. Cairo: Dar Syuruq, 1993.
Nasution, Harun. Muhammad Abduh dan Teologi Rasional Muktazilah. Jakarta:
Universitas Indonesia, 1987.
Nizar, Samsul (ed.). Sejarah Pendidikan Islam. Jakarta: Kencana, 2008.
Ramayulis dan Samsul Nizar. Ensiklopedi Tokoh Pendidikan Islam: Mengenal Tokoh
Pendidikan Islam di Dunia Islam dan Indonesia. Jakarta: Quantum Teaching,
2005.
Ar-Rahim, Abd al-Ghaffar Abd. al-Imam Muhammad Abduh wa Manhajatuhu fi at-
Tafsir. Kairo: Dar al-Anshar, tt.
Suwinto dan Fauzan. Sejarah Pemikiran Para Tokoh Pendidikan. Bandung: Anggkasa,
2003.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s