KERJASAMA DI BIDANG PENDIDIKAN, SAINS DAN TEKNOLOGI SEBAGAI PILAR PENYANGGAH PERSAHABATAN INDONESIA – JEPANG DI ABAD KE-21*

KERJASAMA DI BIDANG  PENDIDIKAN, SAINS DAN TEKNOLOGI
SEBAGAI  PILAR PENYANGGAH
PERSAHABATAN INDONESIA – JEPANG DI ABAD KE-21*

Oleh : Prof Dr. Ir. Zuhal  M.Sc. EE**

“Pada abad ke-21 yang penuh dengan tantangan maupun kesempatan baru ini, marilah kita maju bersama sebagai mitra yang sederajat, berterus-terang dan terbuka”***

(Yunichiro Koizumi & Yutaka Iimura)

Pendahuluan

Ungkapan di atas tentu bukan sekedar ekspresi retorik dari seorang Yunichiro Koizumi atau ekspresi pribadi Yutaka Iimura, namun dapat dimaknai sebagai cermin sikap masyarakat dan pemerintah Jepang terhadap negara-negara anggota ASEAN umumnya dan Indonesia khususnya. Terkandung pula dalam ungkapan PM Jepang dan Dubes Jepang untuk RI tersebut akan perlunya memaknai persahabatan dalam bentuk aksi-aksi konkrit, bersinergi dan saling menguntungkan, baik dalam hubungan antara pemerintah dengan pemerintah, antara pemerintah dengan masyarakat, atau antara masyarakat dengan masyarakat dari kedua negara (Indonesia-Jepang) di masa-masa mendatang.
Lebih lanjut, sesungguhnya ungkapan tersebut akan lebih bermakna bila kita sebagai bangsa (baca:  warga negara Indonesia) mensikapi pesan yang tersirat dari kedua petinggi Jepang itu secara positif, “terbuka dan berterus terang”, lantas mengubur “trauma sejarah” yang pernah mewarnai hubungan Indonesia-Jepang di masa pra- kemerdekaan lalu. Karena inisiatif untuk menjadikan Indonesia sebagai “mitra yang sederajat” dapat dipandang sebagai rasa hormat, penghargaan dan pengakuan masyarakat dan pemerintah Jepang akan eksitensi Republik Indonesia di tengah pergaulan dunia internasional dewasa ini.
Atas dasar itu pula, kita patut menyambut baik segala bentuk inisiatif yang telah diupayakan selama ini oleh pihak pemerintah dan masyarakat Jepang dalam rangka mempererat hubungan kedua belah pihak, termasuk diantaranya program The Japan Fondation Lecture Series yang diselenggarakan secara berkala sejak tahun fiskal 2002/2003. Program semacam ini, setidaknya akan membuahkan manfaat bagi pertukaran informasi dalam berbagai bidang terkait dengan perkembangan Indonesia-Jepang, bahkan kita berharap kegiatan yang digagas oleh Japan Fondation ini dapat menjadi entry point untuk meningkatkan kerjasama dalam berbagai program lanjutan yang lebih nyata nantinya. Kerjasama tersebut terutama terkait dengan program peningkatan mutu pendidikan sains dan teknologi Indonesia, yang sekaligus dapat dijadikan sebagai pilar penyanggah persahabatan Indonesia-Jepang di abad ke-21 ini
Dasar,Posisi dan Problematika Pendidikan di Indonesia
Pendidikan sudah dipahami sebagai salah satu hak mendasar manusia oleh Dekralasi Umum mengenai Hak Asasi Manusia, atau dalam berbagai konvensi internasional, dan dalam konstitusi 1945 pun diamanatkan secara tegas pada pasal 31, bahwa (i) setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan; (ii) setiap warga negara wajib mengikuti pendidikan dasar dan pemerintah wajib membiayainya; dan (iii) negara memprioritaskan anggaran pendidikan sekurang-kurangnya dua puluh persen dari anggaran pendapatan dan belanja negara serta dari anggaran pendapatan dan belanja daerah untuk memenuhi kebutuhan penyelenggaraan pendidikan nasional.
Dilihat dari perspektif  Islam “Ilmu” dalam arti yang luas bertilik tolak dari pandangan Al-Quran bahwa:
1.    “Ilmu” hanya berasal dari Tuhan
“Bacalah ……” , …….. “Dia yang mengajar manusia dengan perantaraan pena”
(Qur’an surat 96:1-5)

2.    Dengan Ilmu” manusia berpotensi menjadi khalifah (pemimpin) dimuka bumi “Sesungguhnya aku hendak menjadikan seorang khalifah dimuka bumi”(Qur’an surat 2:30)

3.     Dengan “Ilmu” manusia dapat mengenal Tuhan
“Dan mereka memikirkan penciptaan langit dan bumi seraya berkata —Tuhan tidaklah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia” (Qur’an surat 3: 191)
Dengan demikian konsep “Ilmu” dalam perspektif Islam bukan semata-mata merupakan produk akal manusia, tetapi merupakan prinsip yang memiliki asal usul ke Tuhan.  Islam memandang “Ilmu” sebagai kesatuan utuh yang bersifat holistik, suatu pendekatan yang mengaitkan dunia nyata dengan aspek nilai-nilai spritual.
Sejalan dengan pandangan itu Pancasila sebagai idiologi negara dan bangsa Indonesia meletakkan aspek ke-Tuhanan Yang Maha Esa sebagai sila pertamanya.  Oleh karena itu pendidikan di Indonesia dipahami sebagai usaha untuk membangun sumber daya manusia seutuhnya (spritual material), yang tidak memisahkan penguasaan ilmu pengetahuan dari nilai etika ( yang diturunkan dari nilai-nilai absolut keagamaan).
Akan tetapi, pada kenyataannya kondisi dunia pendidikan di Indonesia saat ini sangat memprihatinkan. Berdasarkan data yang disajikan dalam “Human Development Report 2000”, pendidikan di Indonesia berada di tingkat 109 dari 174 negara yang diteliti profil pendidikanya oleh UNICEF. Ini berarti bahwa Indonesia berada dalam “Medium Human Development” atau berada di “peringkat tengah” dalam hal pengembangan sumber daya manusianya. Indikasi lain ketertinggalan Indonesia, dapat pula diukur berdasarkan kriteria Technology Achievement Index yang membagi negara-negara di dunia  menjadi empat kelompok. Pertama, kelompok Technology Inovator Countries yang beranggotakan 18 negara, di mana AS, Jepang dan negara-negara Eropa Barat berada di dalam kelompok ini. Kedua, kelompok Technology Implementor Countries yang tercakup kumpulan negara-negara yang meskipun baru bisa memproduksi barang atau inovasi, tapi sudah bisa menerapkan teknologi-teknologi tinggi dalam segi-segi kegiatannya. Malaysia yang pada tahun 1970-an banyak mengirim mahasiswanya ke Institut Teknologi Bandung masuk dalam kelompok ini. Sementara Indonesia, tergolong di kelompok ketiga, yakni Technology Adaptor Countries. Kumpulan negara-negara yang baru bisa mengadopsi teknologi sedikit-sedikit tapi belum sampai pada tahap implementasi luas. Ironisnya, Indonesia menduduki peringkat ke 60 dari 63 negara yang masuk dalam kelompok ini. Itu berarti bahwa tidak tertutup kemungkinan Indonesia akan tergeser ke dalam kategori kelompok keempat, yakni Marginalized Countries.
Alokasi anggaran pendidikan di-Indonesia belum memperlihatkan peningkatan signifikan bila dibanding dengan negara-negara Asia lainnya. Malaysia sejak tahun 1980-an sudah menganggarkan 15,9%, Philipina 14,2% dan Korea 17,9% untuk anggaran pendidikan mereka. Angka tersebut relatif besar bila dibanding dengan Indonesia yang pada tahun yang sama hanya menyediakan 7,9% seperti dilansir dalam World Development Report 1984. Jadi dapat dimaklumi kalau Profesor Toshiko Kinosita (Guru Besar Universitas Waseda Jepang) mengatakan bahwa sumber daya manusia Indonesia masih sangat lemah untuk mendukung perkembangan industri dan ekonomi.
Masalah lain yang dihadapi juga nampak pada jenis pilihan dan  kualitas dunia pendidikan. Untuk dunia pendidikan tinggi misalnya,  dari 77 Perguruan Tinggi Negeri (PTN) dengan jumlah mahasiswa sekitar 850.000 dan jumlah dosen/staf pengajar lebih dari 45.000, sebagian besar kini sedang mengalami perubahan mendasar terutama dalam menghadapi kesiapan otonomi kampus yang lebih luas di samping mengantisipasi kecenderungan berkurangnya subsidi pemerintah. Hal tersebut membawa pengaruh terhadap cara–cara pengelolaan/manajemen PTN, terutama dalam hal mencari pola–pola baru untuk memperoleh sumber pendanaan selain tuition fee, seperti usaha memperbesar jumlah kontrak–kontrak riset dengan pihak industri. Di samping itu saat ini terdapat sekitar 1200 Perguruan Tinggi Swasta (PTS) dengan 1.400.000 mahasiswa dan sekitar 110.000 tenaga dosen yang sebagian diantaranya berasal dari PTN berstatus sebagai staf pengajar tidak tetap (part time lecturer).
Dari sekitar 1277 Perguruan Tinggi Negeri/Swasta hanya ada satu institut pertanian, yakni IPB padahal pembangunan selama ini menekankan sektor pertanian yang tangguh untuk mendukung sektor industri maju dalam rangka mewujudkan swa-sembada pangan. Sementara diketahui bahwa itu sulit tercapai dengan baik tanpa kemampuan dan ketrampilan teknologi pertanian yang diukur dari kecilnya porsi pendidikan pada teknologi pertanian. Atau kenyataan bahwa dewasa ini baru terdapat 3 institut teknologi, yakni ITB, ITS, dan ITI, akan membuat Indonesia kesulitan mengejar teknologi maju dan kompetitif terhadap bangsa-bangsa lain. Itu pun jumlah mahasiswanya relatif kecil. Di negara-negara maju, seperti di Australia, hampir di setiap kota yang berpenduduk di atas 400.000 orang memiliki sebuah institut teknologi. Di kota-kota besar seperti Sydney dan Melbourne, memiliki institut teknologi yang jumlah mahasiswanya mencapai 30.000-an orang.
Selanjutnya, adalah menarik untuk memperhatikan fakta bahwa seperti diperlihatkan pada gambar 1 di bawah ini, sebagian besar jumlah mahasiswa yang terdaftar di PTN dan PTS itu memilih bidang-bidang studi non-sains/non-teknik. Hal ini tentunya tidak kondusif bagi kondisi Indonesia sebagai negara yang sedang dalam tahap pembangunan (developing).

Registered Students in State and Private
Higher Educations by Field of Sciences (1998)

Gambar 1

Mengacu pada kondisi obyektif mengenai problematika yang terjadi dalam dunia pendidikan di Republik ini, kiranya perlu ada pembenahan orientasi dan bentuk pendidikan yang bersifat jangka panjang dan tepat sasaran dengan mempertimbangkan kecenderungan serta tuntutan dunia sains dan teknologi. Dengan kata lain, dibutuhkan suatu paradigma baru pembangunan bangsa, dengan mengacu atau “belajar” dari kemajuan yang telah dicapai negara-negara maju, termasuk dengan Jepang. Seperti yang pernah ditempuh Singapura melalui strategi “Learn From Japan”, atau Malaysia dengan “Look East Policy”.

Pendidikan, Sains dan Teknologi bagi Kemajuan Jepang
Bagaimana atau mengapa dengan Jepang? Hampir selalu menjadi pertanyaan menarik dan mengundang pembicaraan luas tentang mengapa Jepang, yang dilucuti koloninya dan hancur karena Perang Dunia II, mampu bangkit dan mengukuhkan dirinya sebagai super power ekonomi. Bahkan tidak lebih dari 40 tahun kemudian, Jepang kembali muncul sebagai penantang utama terhadap negara-negara Barat, termasuk Amerika Serikat, khususnya di bidang  ekonomi dan teknologi.
Kemajuan Jepang adalah demikian pesatnya, sehingga seorang ekonom Amerika, Herman Khan, bekas Direktur “Hudson Research Institute” di New York pada awal tahun 1980-an sudah memprediksikan bahwa the 21st Ceuntry will likely become the Japanese Century. Atau setidaknya, abad ke-21 akan menjadi abad Amerika-Jepang, di mana Amerika akan memegang peranan utama di bidang militer, sementara di pihak lain Jepang tampil sebagai kekuatan ekonomi yang tak tertandingi.
Studi tentang Jepang beberapa dekade terakhir memang meningkat pesat. Tak terkecuali bagi sarjana Amerika, seperti karya Prof. Ezra Vogel yang berjudul “Japan As Number One. Lessons for America”. Atau buku yang berjudul “The Japanese Challenge: The Success and Failure of Economic Success” yang ditulis Thomas Pepper bersama Herman Khan-untuk menyebut sekedar contoh. Bahkan Alvin Toffler, penulis  buku The Third Wave juga pernah mengupas tentang rahasia dibalik kesuksesan Jepang dengan judul “Japan’s Secret: Face Future Without Fear”, yang dimuat dalam Japan Times, 28 Februari 1981.
Sebenarnya banyak faktor yang dapat diungkap, ada yang menyebut bahwa keuletan, etos kerja, sikap disiplin bangsa Jepang dan kemampuannya menangkap tanda-tanda zaman dinilai sebagai salah satu faktor tersendiri. Namun pada kesempatan ini, adalah penting untuk mengupas kembali faktor-faktor pendorong yang pernah dikemukakan oleh Arifin Bey, seorang  ilmuan dan praktisi yang bertahun-tahun tinggal di negeri Sakura dan banyak menulis tentang Jepang. Faktor-faktor pendorong tersebut  pertama,  perhatian besar yang diberikan pada pendidikan; dan kedua, terdapatnya suatu scientific spirit yang menyeluruh dalam kehidupan masyarakat Jepang
Terkait dengan faktor pertama, seperti banyak dibahas oleh pemerhati Jepang, kebangkitan Jepang berurat-berakar pada Reformasi Meiji lebih dari se-abad lalu yang telah memberi perhatian istimewa pada dunia pendidikan. Bahkan jauh sebelumnya sektor pendidikan sudah mendapat perhatian yang tinggi. Dalam beberapa catatan sejarah disebutkan bahwa sekalipun pada masa pra-Meiji belum ditemukan suatu sistem pendidikan formal, Jepang telah mempunyai sekitar 50.000 ‘terakoya’ (sekolah-sekolah yang diadakan di salah satu ruang tempat ibadah atau seperti model pendidikan ‘pondok pesantren’ yang ada di negeri ini) yang didirikan khusus untuk rakyat biasa. Sementara bagi kalangan Samurai terdapat sedikitnya 300 buah sekolah-sekolah, dan tidak kurang dari 1000 sekolah-sekolah berbagai jenis lainnya dapat dimasuki baik oleh kalangan Samurai maupun rakyat biasa.
Pada masa Reformasi Meiji, perhatian pada bidang ilmu pengetahuan tidak kalah besarnya. Di bawah panji ‘fukuko kyoohei’ atau ‘negara yang makmur dan pertahanan yang kuat’, pemerintah Jepang segera mendirikan Kementerian Pendidikan pada tahun 1817. Kemudian disusul dengan merancang suatu program pendidikan yang bersifat nasional dan berlaku di semua distrik. Ketika itu Jepang dibagi ke dalam 6 distrik, dan ditetapkan bahwa di setiap distrik terdapat 1 universitas yang didukung oleh 32 sekolah menengah, sedangkan tiap-tiap sekolah menengah membawahi 210 sekolah rakyat.
Lahirnya Universitas Tokyo pada tahun 1877 merupakan puncak piramida sistem pendidikan modern Jepang, yang muncul sebagai gabungan tiga sekolah shogun yang diwarisi dari masa Tokugawa–sebuah akademi Kong Fu Tse (kemudian dihapuskan), Fakultas Kedokteran dan Fakultas Pengetahuan Asing.
Lembaga pendidikan tinggi swasta paling tua dan ternama adalah Keio dan Waseda. Universitas Keio tumbuh dari sebuah akademi yang didirikan sebelum restorasi Meiji oleh Fukugawa, seorang tokoh yang sangat menguasai dan mempopulerkan ilmu pengetahuan barat. Sedangkan Universitas Waseda didirikan pada tahun 1882 oleh Okuma, kemudian pada peralihan abad ke 20 lahir pula universitas swasta lainnya seperti Meiji, Nihon dan Chuo.
Dalam perkembangan selanjutnya terlihat bahwa pada tahun 1980-an, 96% dari rakyat Jepang sudah menamatkan sekolah menengah atas dan sekitar 40 % melanjutkan ke universitas. Pada tahun 2002, berdasarkan laporan dalam Japan Almanac 2003 jumlah universitas sudah mencapai 686 (terdiri dari 184 nasional/public dan 512 private) dengan jumlah mahasiswa 2.786.078 dan didukung tenaga dosen sebesar 156.048.
Sementara itu, perlu pula dicatat bahwa perhatian Jepang terhadap dunia pendidikan tersebut terkait oleh faktor ‘scientific spirit’ yang merata hampir di semua masyarakat Jepang. Sebuah semangat yang terkait dengan nilai keagamaan yang dianut sebagian besar masyarakat Jepang, yakni ‘kagaku shinkoo’ atau ‘agama sains’. Kecenderungan terhadap besarnya pengaruh ‘scientific spirit’ ini pun kemudian terlihat pada minat baca masyarakat terhadap bidang sains dan teknologi yang terus mengalami peningkatan.
Budaya sains dan teknologi yang mengakar pada masyarakat Jepang ini kemudian diperteguh oleh pilihan kebijakan yang tepat dari pemerintahnya. Setelah kalah dalam Perang Dunia II, Kaisar Jepang langsung mendata berapa jumlah sekolah dan guru yang tersisa. Lalu memutuskan bahwa prioritas pembangunan pendidikan adalah prioritas yang utama dibanding dengan bidang-bidang lainnya. Pada tahun 1958 Jepang juga mencanangkan pembebasan dari ketergantungan impor dan menjadi negara mandiri dalam memproduksi dengan berbasis sains dan teknologi. Bersamaan dengan itu sosialisasi dan pendidikan sains dan teknologi pada masyarakatnya mulai gencar ditanamkan.
Pada tahun itu pula mulai diterapkan pendidikan iptek sejak dini lewat pendidikan formal dari tingkat SD hingga perguruan tinggi. Semangat untuk meneliti bahkan mulai pula ditanamkan sejak SD dengan memanfaatkan musim libur panjang bagi murid-muridnya untuk melakukan sebuah penelitian bertema bebas sebagai pekerjaan rumah. Pada tingkat SLTP-SLTA, para guru ilmu alam dituntut menyerahkan proposal penelitian yang bisa dilaksanakan secara kolektif satu kelas.
Peran perguruan tinggi menjadi sangat strategis, di universitas Jepang berkumpul sepertiga dari keseluruhan jumlah tenaga peneliti yang berjumlah total 730.000 orang, dan sekitar 20% dari dana penelitian yang dianggarkan negara (sekitar 3.2 trilyun yen) dialokasikan untuk pengembangan riset dan penelitian di universitas. Karena itu, di samping sebagai lembaga pendidikan yang menyuplai tenaga spesialis, universitas juga berfungsi sebagai lembaga riset. Universitas juga dituntut melayani masyarakat dalam mengakses informasi dan kerjasama dengan pihak industri yang melahirkan sinergi dalam pengembangan sains dan teknologi. Riset dilakukan di universitas, sedang aplikasi dan komersialisanya dilakukan pihak industri.
Kerjasama Universitas untuk Pengembangan Riset dan Teknologi

Dalam konteks hubungan bilateral Indonesia Jepang, masing-masing negara sesungguhnya memiliki potensi yang membuat keduanya saling membutuhkan. Bagi Jepang, letak geostrategis mendudukan Indonesia sebagai prioritas utama dalam kalkulasi politik luar negeri Jepang. Indonesia pun merupakan pemasok penting berbagai mineral strategis, semisal minyak bumi, gas alam, bauksit dan tembaga yang sangat vital bagi kelangsungan hidup industri dan ekonomi Jepang. Selain itu potensi penduduk Indonesia yang mencapai 200-an juta jiwa jelas akan menjadi pasaran yang potensial bagi produk-produk Jepang. Dan struktur demografi Indonesia yang memiliki mayoritas penduduk berusia muda dengan sendirinya sesuai dengan kebijakan penanaman modal Jepang yang dalam kurung waktu tertentu didorong oleh keinginan mendapat tenaga kerja murah.
Dari  perspektif Indonesia, sesuai dengan posisinya sebagai negara berkembang,  di samping mengharapkan berbagai sumberdaya finansial (terlebih setelah berakhirnya kontrak dengan IMF), kebutuhan meningkatkan mutu sumber daya manusia yang dimiliki  untuk mengejar kertetinggalan di bidang pengembangan sains dan teknologi merupakan sesuatu yang sangat mendesak. Kebutuhan itu sesungguhnya dapat diperoleh dengan memperteguh kerjasama dengan Jepang.
Dalam konteks kerjasama di bidang pengembangan sains dan teknologi, sebenarnya tidak ditemukan kendala karena terdapat kesamaan kultur ilmiah diantara keduanya.  Misalnya, dalam Tradisi keilmuan bangsa Jepang yang mereguk semangat dari ide-ide budaya ketimuran (khususnya Cina),  terlihat suatu kesatuan yang utuh antara aspek-aspek Spiritual, Ilmu dan Teknologi. Sumber kesatuan ini bisa dilacak kepada teks-teks suci pokok dalam tradisi Taoisme dan Kong Fu Tse; seperti dalam Daode-Jing (The Way and Its Value) dan I-Jing (The Books of Change). Jika Daode-Jing memandang alam pada prinsipnya dari sisi metafisis, pembahasan dalam I-Jing lebih bersifat prinsip-prinsip ilmiah yang lebih detail tentang bagaimana alam bekerja dan berjalan.
Sejalan dengan pandangan itu Al-Qur’an, kitab suci agama Islam dan juga kitab-kitab suci agama Samawi yang lain, yang dianut oleh sebagian besar bangsa Indonesia, mendasarkan falsafah ilmu pengetahuannya pada suatu pandangan yang sama-sama bersifat holistic, yang bersumber pada ajaran spiritual dan falsafat fenomena alam yang lengkap. Pandangan holistic ini, sangat berbeda dari kultur ilmiah barat yang semata-mata bertumpuk pada permasalahan material dan dunia fisik belaka.
Persamaan kultur ilmiah yang melekat pada kedua bangsa ini akan mempermudah dan memperlancar dialog kebudayaan dan kerjasama diantara kedua bangsa khususnya kerjasama ilmiah antara universitas-universitas Jepang dan Indonesia. Di abad ke-21 ini, kompetisi global dengan ciri-ciri perkembangan teknologi yang sangat cepat serta siklus perubahan produksi yang semakin pendek, telah memaksa setiap bangsa untuk terus-menerus mengejar penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi baru, guna mempertahankan kemakmuran dan kelangsungan hidup jangka panjangnya.
Itulah pula yang membedakan abad 21 ini dengan masa tiga abad terakhir di mana kemakmuran suatu negara ditentukan oleh sumberdaya alam atau sumber daya modalnya. Dewasa ini, menurut Lester Thurow dari MIT, kemakmuran suatu negara ditentukan terutama oleh brainpower and imagination, invention and the organization of new technologies. Dengan kata lain “knowledge” akan merupakan basis baru bagi kesejahteraan suatu bangsa.
Karena keterbatasan sumber daya dan tenaga ahli yang tersedia, suatu negara tidak lagi dapat hanya mengandalkan kemampuannya sendiri. (exclusive in house activities), namun perlu memperoleh penguasaan “knowledge” dan teknologi dari sumber-sumber eksternal. Universitas merupakan suatu potensi yang unik, karena kemampuannya bukan saja untuk memperoleh penguasaan ilmu, namun juga sekaligus dapat menghasilkan “human capital” sebagai struktur dasar dalam pengembangan sains dan teknologi. Dalam kaitan inilah kerjasama universitas antara Indonesia dan Jepang dapat memainkan peranan yang saling menguntungkan (win-win).
Indonesia dengan kekayaan sumber alam hayati (biodiversity) maupun non-hayati (energi dan mineral), namun masih belum cukup kuat dalam infrastruktur IPTEK-nya memerlukan kerjasama dengan universitas-universitas di Jepang yang mempunyai banyak tenaga ahli peneliti dengan dilengkapi segala fasilitas laboratorium canggih. Di lain pihak dengan keragaman hayati, sumber daya energi dan mineral yang dimilikinya, serta potensi dan posisi Indonesia sebagai negara maritime (maritime continents), para peneliti Jepang dapat memperluas cakupan kegiatan risetnya.
Pada pertengahan bulan Oktober 2004 yang lalu, dengan dipimpin oleh Rektor Universitas Indonesia, 15 tenaga ahli Indonesia (Guru Besar, dosen dan peneliti) menghadiri Indonesia-Japan Joint Scientific Symposium 2004 (IJJSS04) yang diselenggarakan oleh Universitas Chiba. Pada simposium tersebut, saya selaku mantan Menteri Riset dan Teknologi, mendapat kehormatan membawakan makalah kunci berjudul “The Role of Universities in the National Research Strategic Policy”. Disamping itu 74 makalah ilmiah telah dipresentasikan oleh ahli-ahli peneliti Jepang dan Indonesia, meliputi topik-topik ilmiah mutakhir dalam berbagai bidang seperti: (i) Remote Sensing; (ii) Circuit System and Computers; (iii) Image Processing; (iv) Medical Engineering; (v) Network Technology; (vii) Vision & Human Function; (viii) Telecomunication; dan (ix) Device & Material Science
Kerjasama universitas dalam pengembangan sains dan teknologi seperti yang telah dilaksanakan antara Universitas Indonesia dan Universitas Chiba tersebut di atas dapat dijadikan “model” untuk mengembangkan kemampuan riset kedua belah pihak. Pendekatan seperti ini sangat penting dalam membantu kebijakan pemerintah untuk mempercepat proses pembentukan universitas-universitas di Indonesia menjadi “research university”.
Menurut Standar International, suatu universitas dapat dikategorikan sebagai “research university” bila memenuhi kriteria:
1.    Mempunyai cukup tenaga pengajar dan peneliti yang bergelar S2 dan S3 (M.Sc & Phd)
2.    Mempunyai akses kepada sumber-sumber literatur ilmu pengetahuan seperti internet, journal, dan perpustakaan.
3.    Mempunyai kemampuan untuk melaksanakan “research contract” yang menghasilkan paten-paten.
4.    Mampu menghasilkan sekurang-kurangnya 50 Phd per-tahun.
5.    Menghasilkan karya ilmiah / papers dengan Standar International.
Mengacu pada kriteria “research university” di atas, sepertinya universitas-universitas di Indonesia masih tertinggal jauh dari universitas-universitas di banyak negara maju.  Asumsi tersebut dapat diukur dari kemampuan menulis di Jurnal Internasional yang menurut Scientific American, Indonesia hanya mencapai 0,012% dari jumlah publikasi internasional, sedangkan kreatifitas untuk berinovasi dalam bentuk hak paten belum dapat mencapai syarat minimum WTO sebesar 33%.  Sementara itu, banyak universitas yang hanya memiliki akses terbatas ke berbagai jurnal ilmiah internasional serta bentuk informasi sains dan teknologi lainnya, sebagai akibat belum memadainya fasilitas penunjang. Setidaknya itu tercermin dari angka pemakai telepon yang saat ini baru mencapai 3% teledensity (3 telepon /100 orang) seperti terlihat pada gambar 2.
Densitas telepon di Indonesia per 1000 Penduduk

Gambar 2

Adapun pengguna internet saat ini baru sebesar 4 juta orang, meskipun secara potensial akan berkembang menjadi 61 juta. Hal tersebut disebabkan karena adanya kendala aksesibilitas jaringan yang hanya terbatas pada kota-kota besar dan belum mencapai daerah pedesaan.
Dalam hubungan tersebut terjalinnya interaksi dengan berbagai institusi khususnya kerjasama antara Universitas di Indonesia dan Jepang menjadi sangat penting untuk ditingkatkan. Dalam jangka panjang kerjasama tersebut akan membentuk satu jaringan research yang akan bermanfaat bagi kedua belah pihak, karena pada dasarnya setiap pertukaran difusi teknologi dan sumber daya antara kedua negara dapat meningkatkan pengembangan sains dan teknologi dan sekaligus mempercepat terobosan guna mendapatkan produk-produk baru.
Strategi Pengembangan Sains Dan Teknologi
Dari kenyataan-kenyataan seperti diuraikan di atas, jelas kiranya “model” kerjasama seperti yang telah dilaksanakan antara Universitas Indonesia dan Universitas Chiba sangat bermanfaat dalam mengembangkan kemampuan riset, pertukaran ahli, maupun peluang untuk mengirim para mahasiswa ke Jepang dalam bidang-bidang studi yang relevan. Selain itu kerja sama ini dapat mempercepat dan memperkokoh peran universitas-universitas di Indonesia menuju Research University, sehingga bersama lembaga-lembaga penelitian lainnya mampu melaksanakan program-program riset dan pengembangan (R&D), yang mengacu kepada 6 kerangka bidang-bidang prioritas yang telah ditetapkan, yaitu:
1.    Agriculture (Food Production)
2.    Energy
3.    Maritime-Earth Science-Aerospace
4.    Biotechnology (Health, Industry, Environment)
5.    Information Technology & Microelectronic
6.    Manufacture
Selanjutnya agar relevan dengan kebutuhan pembangunan dan sesuai dengan keunggulan komparatif yang dimilikinya, strategi pengembangan sains dan teknologi perlu diarahkan menjadi tiga kategori pokok sebagai berikut:
1.    Basic Need Technology, dengan tujuan untuk menyediakan kebutuhan dasar seperti obat-obatan, air bersih, bahan makan pokok dan energi yang ramah lingkungan.
2.    Comparative Advantage Technology, dengan tujuan untuk membangun kemampuan teknologi berbasis keunggulan komparatif Indonesia seperti teknologi untuk memanfaatkan dan memperkaya produk-produk keragaman hayati (biodiversity) dan produk-produk maritim seperti perikanan, serta pemanfaatan posisi geografis Indonesia sebagai Negara maritime (maritime continents).
3.    Competitive Advantage Technology, dengan tujuan untuk memanfaatkan the latest state of the art technology yang akan mengubah keunggulan komparatif kita menjadi keunggulan kompetitif untuk bersaing dalam kancah globalisasi.
Strategi seperti tersebut diatas diperlukan dalam rangka membentuk struktur industri yang berbasis pengetahuan (knowledge based economy) seperti terlihat pada gambar 3.
Structure of the Indonesian
Techno-Industrial Dev.

Knowledge-based industry
Agro Industry & Basic Manufacturing Industry
Natural res-
based industry
Transport-
tation
Communication
(Basic Need)
(Competitive Advantage)
(Comperative Advantage)

Gambar 3

Globalisasi telah mendorong timbulnya kegiatan ekonomi dengan produk-produk bermuatan padat-ilmu (knowledge intensive). Aktivitas perekonomian berbasis knowledge tersebut meliputi aspek-aspek desain, teknik prosessing, kendali mutu, termasuk juga aspek manajemen dan organisasinya. Perusahaan-perusahaan bersaing bukan hanya melalui harga (price), namun terutama melalui kemampuan mereka melahirkan inovasi-inovasi baru. Dampak perkembangan-perkembangan itu, membuat pasar global menjadi transparan yang dihubungkan melalui jaringan-jaringan on-line internet. Perdagangan antara negara berbasis internet terus makin berkembang memasuki abad ke-21.
Sudah menjadi kesepakatan global bahwa sains dan teknologi merupakan mesin masyarakat untuk pembangunan ekonomi suatu bangsa. Untuk itu, Indonesia hendaknya berupaya menerapkan paradigma baru pembangunan bangsa yaitu paradigma tekno-ekonomi (technoeconomy paradigm). Paradigma baru ini melahirkan apa yang dikenal sebagai Ekonomi Berbasis Pengetahuan (Knowledge Based Economy) yang selanjutnya disingkat dengan KBE.
Beberapa negara tetangga dan negara maju seperti Jepang saat ini sedang menggalakkan pendekatan KBE ini dalam rangka meningkatkan produktivitas dan daya saing sebagai konsekuensi logis dari pemanfaatan sains dan teknologi untuk peningkatan profit dan pertumbuhan ekonomi. Beberapa waktu lalu The World Bank menggarisbawahi bahwa negara-negara berkembang perlu memperhatikan dan memfasilitasi lifelong learning dalam era global knowledge based economy. Hal ini merupakan tantangan bagi negara-negara berkembang seperti Indonesia untuk mampu bertahan dalam dunia yang semakin kompetitif.

Harapan dari Dunia Pendidikan

Dilihat dari kepentingan sistem pendidikan dan pengembangan sains dan teknologi untuk menopang penerapan paradigma baru pembangunan bangsa seyogyanya;
Pertama, pemerintah perlu mempertimbangkan adanya regulasi mengenai  pengembangan pendidikan sains dan teknologi bagi masyarakat sejak di usia dini. Pendidikan sains dan teknologi  lewat pendidikan formal dari bangku SD hingga perguruan tinggi seperti ditempuh Jepang dapat dijadikan acuan.
Kedua, dalam hal sosialisasi, pemerintah dapat bekerjasama dengan pengelola media massa, baik cetak maupun elektronik untuk berkontribusi terhadap peningkatan informasi di bidang sains. Di Jepang, The Asahi Shimbun misalnya, merupakan salah satu koran yang selalu memberikan informasi tentang perkembangan sains yang diterbitkan secara popular, atau NHK Education TV (Nippon Housou Kyoku Kyouiku Terebi) adalah stasiun TV milik pemerintah khusus bidang peningkatan pendidikan dan pengetahuan masyarakat Jepang. Selain itu TV swasta lainnya tidak ketinggalan menyajikan acara yang bernuansa ilmiah atau sains dan teknologi.
Ketiga, anggaran untuk  sains dan teknologi  perlu ditingkatkan. Anggaran  tahun 2004 yang hanya 0,05% dari PDB (Rakornas Iptek 2004) relatif kecil dibanding misalnya dengan negara Malaysia yang menganggarkan 0,5% dari PDB untuk mendorong pertumbuhan sains dan teknologi di negeri tersebut..
Keempat, pemerintah Indonesia perlu bersikap IT minded dan sudah waktunya memberikan fasilitas infrastruktur jaringan IT ke semua lembaga pendidikan khususnya pendidikan tinggi. Pemerintah diharapkan dapat membuka jalur dan memberikan hak yang sama bagi semua lembaga pendidikan baik swasta maupun negeri agar peserta didik mereka memiliki akses ke berbagai jurnal ilmiah internasional dan bentuk informasi sains dan teknologi lainnya. Dalam hal ini, keberadaan digital library  merupakan solusi yang sangat membantu karena akan menghilangkan kendala geografis yang selama ini merupakan masalah utama dalam mencari sumber ilmiah.
Kelima,  di atas semua itu,  dukungan dari negara-negara maju, seperti niat baik  dari masyarakat dan pemerintah Jepang selama ini,  sedapat mungkin ditingkatkan dan difasilitasi dengan baik oleh pemerintah Indonesia. Kita tentu berharap kerjasama dapat diperluas dengan melibatkan sebanyak mungkin institusi pendidikan tinggi swasta. Dalam konteks ini, Universitas Al Azhar Indonesia sebagai salah satu lembaga pendidikan dengan potensi yang dimilikinya siap menjadi mitra dalam upaya peningkatan mutu pendidikan, sains dan teknologi di Indonesia, yang pada hakekatnya dapat kian mempererat persahabatan Indonesia-Jepang.

Referensi :

Arifin Bey, “Peranan Jepang dalam Pasca Abad Amerika”, Antarkarya, Jakarta. (1990)
Etzkowit. Et.al: “The Future of the University and the University of Future”, Research Policy 29, (2000)
Kusnanto Anggoro., Dinamika Ekonomi dan Politik Hubungan ASEAN-Jepang, Centre For Strategic And International Studies (CSIS), Jakarta, (1987)
Osman Bakar, “Islam and Civilizational Dialogue” (1997)
Reischauer, Edwin O., Japan Past and Present, Charles E. Tutle Company, Ins., Tokyo, (1964).
Reischouer,  Edwin O., “The Japanese”, (1980).
Sekido Mamoru, The Asahi Shimbun Japan Almanac, 2003, Toppan Printing Co., Tokyo, (2002)
Tiedemann, Arthur E., Modern Japan: A Brief History, Revised Edition, USA., (1962)
Zuhal, “Visi IPTEK Memasuki Milenium III”, U.I Press, (2000).
Zuhal, “The Role of University Collaboration in the National Research Strategy Policy”, Chiba Univ., (Oct 2004)

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s