Pergeseran Paradigma di Era Globalisasi

Pergeseran Paradigma di Era Globalisasi

Tulisan ini difokuskan pada pergeseran yang mendasar pada berbagai paradigma khususnya dalam dunia pendidikan & pengetahuan di era informasi mendatang. Keberadaan teknologi informasi, jaringan Internet dan percepatan aliran informasi menjadi dasar dari pergeseran tersebut. Kekuatan knowledge menjadi terlihat dengan jelas dengan adanya percepatan transaksi informasi melalui jaringan Internet.

Bayangkan – Alangkah mulianya pekerjaan seorang guru yang mengajar satu juta murid dalam waktu yang bersamaan; betapa cepatnya ilmu pengetahuan tersebar. Bayangkan jika kita dapat dengan mudah berbincang dengan Presiden B.J. Habibie & para menteri pembantu yang menurut kabar telah menggunakan E-mail; alangkah indahnya hidup ini jika aspirasi rakyat banyak dapat dengan cepat mencapai & bahkan berinteraksi langsung dengan pimpinan tertinggi negara tanpa perlu takut di sensor, di ciduk, di culik oleh aparat BKO. Menjadi seorang exportir ke seluruh penjuru dunia yang berpenghasilan US$ menjadi demikian mudah. Bayangkan – batas antar negara hanya berjarak antara ujung jari anda dengan keyboard!

Tampaknya semuanya demikian mudah, tentunya ada prasyarat yang menyebabkan hal-hal yang tampaknya demikian mudah menjadi mungkin. Satu hal yang sangat dominan sekali di dunia informasi adalah bahwa “keberhasilan seseorang / sebuah badan akan sangat ditentukan pada knowledge yang dihasilkan oleh orang / lembaga tersebut”. Jelas bahwa keberhasilan seseorang sama sekali tidak ada kaitan dengan jabatan / kekuasaan orang tersebut; siapa orang tua-nya; bagaimana koneksi dia dengan penguasa, sederhananya di era informasi “orang menggunakan otak bukan otot untuk membeli sembako”.

Sepertinya sederhana & ceria sekali dunia mendatang, KKN menjadi hilang, penculikan & kegiatan represif lainnya tidak ada. Apakah memang benar demikian? Apakah konsekuensi yang harus di tanggung oleh bangsa ini dalam era mendatang ….

Sederhana sekali sebetulnya, hal-hal yang tadinya terpusat pada kekuasaan dan kemapanan tampaknya akan tersebar pada rakyat banyak. Jadi kekuasaan yang tadinya terpusat akan tersebar dipegang langsung oleh rakyat dibantu oleh teknologi informasi yang memungkinkan transfer knowledge dengan cepat. Dengan tersebarnya knowledge & kekuasaan pada rakyat, maka secara simultan uang, kekayaan & kekuatan ekonomi akan berada langsung pada massa yang banyak tidak lagi terpusat pada segelintir penguasa & konglomerat yang menyimpan uangnya di Bank-Bank asing.

Penyebaran kekayaan langsung pada rakyat bukannya tanpa masalah, kompetisi antar anggota masyarakat akan menjadi sangat tajam sekali untuk memenangkan / memperoleh bagian rizki-nya. Disini letak kekuatan knowledge & skill, kompetisi yang sangat tajam akan mendorong berbagai aliansi maupun tekanan pada dunia pendidikan utk membangun SDM berkualitas yang sangat dibutuhkan. Faktor manusia menjadi demikian tinggi – amat sangat dominan & menentukan dalam berbagai sendi kehidupan. Keberhasilan sebuah usaha akan amat sangat tergantung pada kemampuan knowledge & skill SDM yang berada di belakangnya & bukan lagi pada koneksi / KKN.

Kebutuhan akan knowledge menjadi sedemikian besar sehingga pendidikan & knowledge menjadi salah satu komoditi unggulan yang sangat diminati oleh banyak orang. Pengaturan secara terpusat dari sebuah sistem pendidikan akan gagal, kompetisi akan mendorong terbentuknya berbagai bentuk aliran pendidikan (formal, informal, terakreditasi, tersertifikasi, diakui, disamakan, diacuhkan, dibiarkan) dengan tujuan yang sangat sederhana yaitu memberikan layanan knowledge bagi rakyat. Dengan tinggi-nya kebutuhan / demand di rakyat utk memperoleh pendidikan / knowledge dengan kapasitas bangku yang sangat terbatas maka tekanan pada kemapanan sistem pendidikan akan sangat terasa.

Keberadaan teknologi informasi / internet, akan menambah tekanan yang ada menjadi tekanan & tantangan yang sangat luar biasa bagi sistem pendidikan di Indonesia saat ini. Knowledge dapat diperoleh dengan mudah melalui berbagai Web sites, diskusi di mailing list, chat melalui IRC. Pada sisi ekstrim, knowledge tidak lagi terpusat pada guru / dosen, tidak lagi diperlukan sekolah, tidak lagi diperlukan perguruan tinggi. Knowledge bisa diperoleh langsung dari rakyat banyak. Disini pola pengajaran yang selama ini di anut akan memperoleh tantangan yang sangat besar dari keberadaan knowledge yang demikian banyak yang terbuka bagi para siswa. Konsep learning based menjadi sangat dominan dimana guru / dosen akan lebih banyak menjadi fasilitator. Siswa / mahasiswa akan lebih cenderung menjadi lebih pandai dari gurunya – disini terjadi generation lap (kebalikan dari generation gap). Konsep distributed knowledge yang bertumpu pada teknologi informasi akan berjalan nyata utk akhirnya membentuk sebuah collective wisdom dari masyarakat. Kekuatan kumpulan masyarakat pandai bertumpu pada teknologi informasi akan mengungguli pikiran seorang professor sendirian.

Proses recognition / pengakuan akan dilakukan langsung oleh masyarakat, sertifikasi keahlian dilakukan langsung oleh masyarakat profesional. Bahkan sertifikasi global seperti MCP, MCSE, MCT dari Microsoft nilainya jauh lebih tinggi daripada ijasah ITB sekalipun utk mencari pekerjaan di dunia komputer. Pengakuan keahlian seseorang akan dilakukan oleh masyarakat profesional dari hasil / karya yang dia hasilkan bukan oleh dunia pendidikan tersebut. Jelas bahwa masyarakat (society) yang akan melakukan audit / sertifikasi pada seseorang utk menyatakan bahwa orang tersebut betul-betul ahli dalam bidangnya.

Tekanan pada dunia pendidikan sangat jelas, jadi mengapa kita perlu mempersulit berdirinya sekolah? Mengapa kita perlu mempertahankan ujian negara bagi lulusan PTS? Mengapa DEPDIKBUD perlu membentuk BAN PT utk mengakreditasi? Mengapa tidak kita serahkan pada mekanisme masyarakat profesional dalam sebagian proses pendidikan yang ada? Semua pergeseran paradigma ini merupakan tantangan & tekanan yang sangat nyata-nyata bagi DEPDIKBUD dalam era informasi mendatang.

Belum lagi jika kita memperhatikan sistem kenegaraan, keberadaan sistem informasi yang demikian cepat bukan hanya akan membuat sebuah negara menjadi lebih demokratis & transparan, akan tetapi mungkin suatu saat nanti kekuasaan betul-betul berada di tangan rakyat – tanpa perlu lagi ada sistem perwakilan, sistem kepartaian, sistem pemilu – mungkin konsep collective wisdom dapat menggantikan fungsi MPR – barangkali?

Mudah-mudahan tulisan ini dapat memberikan sedikit wawasan & pola pandang yang lain khususnya dalam menyiapkan diri kita semua dalam menyongsong kompetisi global di era informasi mendatang.

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s