TUJUAN PENDIDIKAN ISLAM

TUJUAN PENDIDIKAN ISLAM

Pendidikan merupakan pembelajaran tentang kehidupan manusia di dalam beragam fungsi dan kebutuhan. Dalam pembelajaran terkandung upaya pemenuhan fungsi-fungsi sosial, ekonomi dan politik, serta beragam kebutuhan materiel dan spiritual lainnya agar ia bisa tumbuh sebagai manusia normal dan sehat. Kemampuan seseorang untuk bisa hidup sebagai warga negara, komunitas keagamaan atau etnis, hingga ketetanggaan dan kampung, memerlukan sebuah aksi pembelajaran. Demikian pula kemampuan memenuhi kebutuhan biologis berkeluarga dan makan-minum dengan bekerja. Tetapi bukan hanya itu fungsi pendidikan. Fungsi lain adalah pengembangan potensi-potensi yang ada pada individu-individu supaya dapat dipergunakan olehnya sendiri dan seterusnya oleh masyarakatnya untuk menghadapi tantangan-tantangan dalam kehidupan yang selalu berubah.

Berbicara tentang tujuan pendidikan, kita tak dapat memisahkannya dengan tujuan hidup , yaitu tujuan hidup manusia. Sebab pendidikan hanyalah suatu alat yang digunakan oleh manusia untuk memelihara kelanjutan hidupnya (survival), baik sebagai individu maupun sebagai masyarakat. Manusia, dalam usahanya memelihara kelanjutan hidupnya mewariskan berbagai nilai budaya dari suatu generasi ke generasi berikutnya. Dengan demikian masyarakatnya bisa hidup terus. Oleh karena tujuan pendidikan itu harus berpangkal pada tujuan hidup, lalu apakah tujuan hidup ini?

Dalam menjawab pertanyaan tersebut, para filosof berbeda pendapat. Orang-orang Sparta, salah satu kerajaan Yunani lama berpendapat bahwa tujuan hidup adalah untuk berbakti kepada negara, untuk memperkuat negara. Dan pengertian kuat menurut mereka adalah kekuatan fisik. Oleh sebab itu tujuan pendidikan sparta adalah sejajar dengan tujuan hidup mereka, yaitu memperkuat, memperindah dan memperteguh jasmani. Maka mereka ciptakan berbagai macam olahraga yang sampai sekarang masih dipraktekkan di mana-mana. Sebaliknya orang Athena, juga salah satu kerajaan Yunani lama, berpendapat bahwa tujuan hidup adalah mencari kebenaran.

Mazhab-mazhab pendidikan Eropa Barat dan Amerika sesudah Descartes (1596-1650 M) mengambil dari kedua mazhab Yunani lama tersebut. Semua mazhab-mazhab itu, beranggapan bahwa dunia inilah tujuan hidup, di sinilah kita bermula dan di sinilah kita berakhir. Dari anggapan ini, mereka ada yang mengingkari adanya Tuhan, hari akhirat dan lain-lain, seperti para filosof Marxist, ada juga yang tidak begitu yakin akan ada atau tidak adanya Tuhan dan hari akhirat, seperti Kant, golongan rasionalis, eksistensialis dan lain-lain. Persis seperti ayat al-Quran berikut ini yang menggambarkan orang-orang dahriyyun (naturalis)

وَقَالُوْا مَا هِيَ إِلاَّ حَيَاتُنَا الدُّنْيَا نَمُوْتُ وَنَحْيَا وَمَا يُهْلِكُنَا إِلاَّ الدّهْرُ وَمَا لَهُمْ بِذلِكَ مِنْ عِلْمٍ إِنْ هُمْ إِلاَّ يَظُنُّوْنَ  {الجاثية  : 24}

Artinya :

”Dan mereka berkata: “Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup dan tidak ada yang membinasakan kita selain masa”, dan mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang itu, mereka tidak lain hanyalah menduga-duga saja.”

Islam memberi jawaban yang tegas dalam hal ini, seperti firman Allah dalam Q.S. Al-Dzariyat : 56, yang artinya :”Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku”. Menyembah atau “ibadah” dalam pengertiannya yang luas berarti mengembangkan sifat-sifat Tuhan pada diri manusia menurut petunjuk Allah. Misalnya Allah memerintah manusia untuk melaksanakan sholat (salah satu ibadah formal) kepada-Nya, dengan berbuat demikian manusia menjadi suci, dari segi rohani, pikiran dan jasmani. Dalam melaksanakan sholat, maka seseorang harus suci dari hadas besar dan hadas kecil, juga tidak boleh sholat pura-pura atau karena riya. Selain itu roh kita menjadi suci sebab kita terhindar dari perbuatan jahat dan munkar. Jadi dengan melaksanakan salah satu perintah-Nya tersebut, maka manusia menjadi suci dari segala sesuatu, jadi ia mengembangkan pada dirinya salah satu sifat Allah, yaitu Maha Suci (Al-Quddus). Begitu juga dengan ibadah-ibadah lainnya seperti zakat, puasa, haji dan syahadat, kalau diikuti pula dengan ibadah-ibadah tidak formal lainnya seperti berdagang, berumah tangga, menuntut ilmu yang semuanya menurut syarat-syarat yang ditentukan oleh syari’at tentulah sifat-sifat Tuhan yang banyak itu berkembang pada diri manusia dan ia semakin mendekati kesempurnaan.

Rumusan tujuan pendidikan pada hakikatnya merupakan rumusan filsafat atau pemikiran yang mendalam tentang pendidikan. Seseorang baru dapat merumuskan suatu tujuan kegiatan jika ia memahami secara benar filsafat yang mendasarinya. Rumusan tujuan ini selanjutnya akan menentukan aspek kurikulum, metode, guru dan lainnya yang berkaitan dengan pendidikan.

Ibnu Taimiyah berpendapat bahwa tujuan pendidikan Islam dapat dibagi kepada tiga bagian berikut ini :

A. Tujuan Individual

Pada bagian ini tujuan pendidikan diarahkan pada terbentuknya pribadi muslim yang baik, yaitu seseorang yang berpikir, merasa dan bekerja pada berbagai lapangan kehidupan pada setiap waktu sejalan dengan apa yang diperintah Al-Qur’an dan As-Sunnah. Orang semacam ini hidup sejalan dengan akidah Islamiyahnya, serta mati dalam keadaan beragama Islam.

Seseorang yang menuntut ilmu hendaknya berupaya untuk memahami tujuan perintah dan larangan serta segala ucapan yang datang dari rasul. Selanjutnya jika hati seseorang telah meyakini bahwa apa yang dijalaninya itu sebagai yang dikehendaki rasul, maka janganlah berpaling kepada jalan yang lain.

Pribadi muslim yang baik adalah orang yang sempurna kepribadiannya, yaitu yang lurus jalan pikiran serta jiwanya, bersih keyakinannya, kuat jiwanya, sanggup melaksanakan segala perintah agama dengan jelas dan sempurna.

B. Tujuan Sosial

Pada dasarnya manusia itu memiliki dua sisi kehidupan, yaitu sisi kehidupan individual yang berhubungan dengan beriman kepada Allah dan sisi kehidupan sosial yang berhubungan dengan masyarakat, tempat manusia itu hidup. Oleh karena itu, Pendidikan juga harus diarahkan pada terciptanya masyarakat yang baik yang sejalan dengan ketentuan Al-Qur’an dan As-Sunnah.

Seseorang hendaknya menjadi ahli As-Sunnah, yaitu orang yang mengikuti Al-Qur’an dan As-Sunnah, tunduk kepada kebenaran (al-haqq) dan kasih sayang pada orang lain. Orang yang membaca Al-Qur’an, giat dalam shalat dan puasa, tetapi membiarkan dan membuat kaum muslimin lainnya bergelimang dalam dosa dan melakukan perbuatan yang bertentangan dengan agama, saling mendustai dan sebagainya adalah seorang yang  ahli bid’ah.

Pada tujuan sosial ini, pendidikan diarahkan agar dapat melahirkan manusia-manusia yang dapat hidup bersama dengan orang lain, saling membantu, menasehati, mengatasi masalah, dan seterusnya.

C. Tujuan Da’wah Islamiyah

Allah SWT telah mengutus para rasul sebagai pemberi kabar gembira dan memberi peringatan, sehingga segenap manusia hanya mengikuti Allah dan Rasul-Nya saja. Sementara manusia juga memikul beban mengajak manusia lainnya kepada jalan yang baik dan mencegah berbuat buruk. Hal ini sejalan dengan firman Allah yang berbunyi :

كُنْتُمْ خَيْرُ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُوْنَ بِاللهِ……..  {ال- عمران : 110}

Artinya :

“Kamu adalah ummat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah.”

Abu Hurairah mengatakan bahwa kehadiran manusia yang datang kepada manusia yang lain dengan dakwah adalah berupaya melepaskan belenggu dari rantai kebodohan sehingga mereka itu dapat masuk surga. Orang semacam itu rela mengorbankan harta dan jiwanya dalam berjuang untuk kemanfaatan manusia. Orang seperti inilah yang termasuk ummat yang baik. Makhluk itu tak ubahnya bagaikan keluarga Allah, mereka berusaha mencintai Allah dengan jalan memberikan sesuatu yang bermanfaat bagi makhluk-Nya itu.

Untuk mencapai tujuan pendidikan tahap ketiga ini dapat dilakukan dengan dua cara. Pertama dengan menyebar-luaskan ilmu dan ma’rifat yang didatangkan Al-Qur’an al-Karim sebagaimana hal itu dilakukan kaum salaf. Kedua dengan cara berjihad yang sungguh-sungguh sehingga kalimat Allah yang demikian tinggi itu dapat berdiri tegak.

Dari uraian di atas, dapat kita simpulkan bahwa tujuan pendidikan Islam ialah menumbuh-kembangkan pribadi anak sesuai dengan nilai-nilai Islam yang benar. Oleh karena itu, berbicara pendidikan Islam, baik makna maupun tujuannya haruslah mengacu pada penanaman nilai-nilai Islam dan tidak dibenarkan melupakan etika sosial atau moralitas sosial. Penanaman nilai-nilai ini juga dalam rangka menuai kesempurnaan hidup (keberhasilan hidup (hasanah) di dunia bagi anak didik yang kemudian akan mampu membuahkan kebaikan (hasanah) di akhirat kelak).

Wallahu A’lam.

Mengapa krisis ekonomi yang melanda negeri kita berkembang menjadi krisis moral bahkan krisis kemanusiaan? Eratkah kaitannya dengan dunia pendidikan di negeri kita? jelaskan !

Jawab :

Krisis moral berkaitan dengan kegagalan suatu sistem pendidikan, termasuk kegagalan pendidikan Islam, baik di lingkungan sekolah, masyarakat ataupun keluarga. Selama ini praktek pendidikan hanya menyentuh wilayah teori dan doktrin moral, tanpa keterlibatan murid dan guru dalam peristiwa yang melatarbelakangi sebuah teori dan doktrin moral. Teori iptek dan moralitas atau akhlak hanya menjadi bahan kajian, bukan sebagai wahana pembelajaran tentang kelahiran sebuah teori dan nilai moral yang membuka ruang bagi keterlibatan kesadaran murid dan guru di dalamnya. Pendidikan atau sekolah, seperti kegiatan belajar mengajar, diberi makna terbatas sebagai “ transfer ilmu dan nilai” bukan sebagai belajar hidup dan belajar ilmu”.

Model dan praktek pendidikan seperti ini menyebabkan anak-anak tidak memilki pengalaman memperoleh nilai dan iptek seperti yang dialami para guru mereka sebelumnya. Akibatnya pendidikan gagal berfungsi sebagai wahana anak-anak untuk bisa belajar hidup dengan segala persoalan yang ada di dalamnya.

Jelaskan apa tujuan pendidikan Islam ?

Jawab :

Rumusan tujuan pendidikan pada hakikatnya merupakan rumusan filsafat atau pemikiran yang mendalam tentang pendidikan. Seseorang baru dapat merumuskan suatu tujuan kegiatan jika ia memahami secara benar filsafat yang mendasarinya. Rumusan tujuan ini selanjutnya akan menentukan aspek kurikulum, metode, guru dan lainnya yang berkaitan dengan pendidikan.

Berbicara tentang tujuan pendidikan, kita tak dapat memisahkannya dengan tujuan hidup, yaitu tujuan hidup manusia. Dalam hal ini para filosof berbeda pendapat. Misalnya orang-orang Sparta, salah satu kerajaan Yunani lama berpendapat bahwa tujuan hidup adalah untuk berbakti kepada negara, untuk memperkuat negara. Dan pengertian kuat menurut mereka adalah kekuatan fisik. Oleh sebab itu tujuan pendidikan sparta adalah sejajar dengan tujuan hidup mereka, yaitu memperkuat, memperindah dan memperteguh jasmani. Maka mereka ciptakan berbagai macam olahraga yang sampai sekarang masih dipraktekkan di mana-mana. Berbeda dengan orang Athena, juga salah satu kerajaan Yunani lama, berpendapat bahwa tujuan hidup adalah mencari kebenaran.

Islam memberi jawaban yang tegas dalam hal ini, seperti firman Allah dalam Q.S. Al-Dzariyat : 56, yaitu :

Menyembah atau “ibadah” dalam pengertiannya yang luas berarti mengembangkan sifat-sifat Tuhan pada diri manusia menurut petunjuk Allah. Misalnya Allah memerintah manusia untuk melaksanakan sholat (salah satu ibadah formal) kepada-Nya, dengan berbuat demikian manusia menjadi suci, dari segi rohani, pikiran dan jasmani. Jadi ia mengembangkan pada dirinya salah satu sifat Allah, yaitu Maha Suci (Al-Quddus). Begitu juga dengan ibadah-ibadah lainnya seperti zakat, puasa, haji dan syahadat, kalau diikuti pula dengan ibadah-ibadah tidak formal lainnya seperti berdagang, berumah tangga, menuntut ilmu yang semuanya menurut syarat-syarat yang ditentukan oleh syari’at tentulah sifat-sifat Tuhan yang banyak itu berkembang pada diri manusia dan ia semakin mendekati kesempurnaan.

Kesimpulannya, tujuan pendidikan Islam ialah menumbuh kembangkan pribadi anak didik sesuai dengan nilai-nilai Islam yang benar dalam rangka menuai kesempurnaan hidup, yaitu kebaikan (hasanah) di dunia yang kemudian akan mampu membuahkan kebaikan  di akhirat kelak.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s