SISTEM EVALUASI

SISTEM EVALUASI

Hasil belajar dan proses belajar tidak hanya dinilai oleh tes, baik melalui bentuk tes uraian maupun tes objektif, tetapi juga dapat dinilai oleh alat-alat nontes atau bukan tes. Alat-alat bukan tes yang sering digunakan antara lain ialah kuesioner/angket dan wawancara, skala (skala penilaian, skala sikap, skala minat), observasi atau pengamatan, studi kasus, dan sosiometri.

Kelebihan nontes dari tes adalah sifatnya lebih komprehensif, artinya dapat digunakan untuk menilai berbagai aspek dari individu sehingga tidak hanya untuk menilai aspek kognitif, tetapi juga aspek afektif dan psikomotoris.

Penggunaan nontes untuk menilai hasil dan proses belajar masih sangat terbatas jika dibandingkan dengan penggunaan tes dalam menilai hasil dan proses belajar. Para guru di sekolah pada umumnya lebih banyak menggunakan tes daripada bukan tes mengingat alatnya mudah dibuat, penggunaannya lebih praktis, dan yang dinilai terbatas pada aspek kognitif berdasarkan hasil-hasil yang diperoleh siswa setelah menyelesaikan pengalaman belajarnya.

Berikut ini kami akan coba membahas tentang salah satu alat penilaian bukan tes yang pada umumnya digunakan untuk menilai aspek kognitif seperti pendapat atau pandangan seseorang serta harapan dan aspirasinya disamping aspek afektif dan perilaku individu yaitu wawancara dan angket.

A. Wawancara

  1. 1. Pengertian wawancara

Berikut ini akan kami paparkan beberapa pendapat pakar pendidikan tentang pengertian wawancara, diantaranya:

“Wawancara adalah salah satu teknik pengumpulan dan pencatatan data, informasi dan atau pendapat yang dilakukan melalui percakapan dan tanya jawab, baik langsung maupun tidak langsung.” (Zainal Arifin, 1990:54)

“Wawancara atau interview adalah suatu metode atau cara yang digunakan untuk mendapatkan jawaban dari responden dengan jalan tanya jawab sepihak.” (Suharsimi Arikunto, 1997:27)

“Wawancara adalah cara menghimpun bahan-bahan keterangan yang dilaksanakan dengan melakukan tanya jawab lisan secara sepihak, berhadapan muka, dan dengan arah serta tujuan yang telah ditentukan.”

Dari ketiga pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa wawancara adalah alat penilaian yang berisikan serangkaian pertanyaan untuk mendapatkan jawaban dari responden (siswa) dengan jalan tanya jawab sepihak.

  1. 2. Jenis wawancara

a)      Wawancara terpimpin (guided interview) yang juga sering dikenal dengan istilah wawancara terstruktur (structured interview) atau wawancara sistematis.

Dalam wawancara terpimpin, evaluator melakukan tanya jawab lisan dengan pihak-pihak yang diperlukan. Misalnya wawancara dengan peserta didik, wawancara dengan orang tua atau wali murid dan lain-lain; dalam rangka menghimpun bahan-bahan keterangan untuk menilai peserta didiknya.

Wawancara ini sudah dipersiapkan secara matang, yaitu berpegang pada panduan wawancara.

b)      Wawancara tidak terpimpin (un-guided interview) yang sering dikenal dengan istilah wawancara sederhana (simple interview) atau wawancara tidak sistematis atau juga wawancara bebas.

Dalam wawancara bebas, pewawancara selaku evaluator mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada peserta didik atau orang tuanya tanpa dikendalikan oleh pedoman tertentu. (Anas Sudijono, 2003:82-83).

3.  Keunggulan / manfaat dari wawancara

a)      Kelebihan wawancara ialah bisa kontak langsung dengan siswa sehingga dapat mengungkapkan jawaban secara lebih bebas dan mendalam.

b)      Menjalin hubungan yang lebih erat antara pendidik dan peserta didik, karena melalui wawancara siswa bebas mengemukakan pendapatnya.

c)      Wawancara bisa direkam sehingga jawaban siswa bisa dicatat secara lengkap.

d)     Melalui wawancara data bisa diperoleh dalam bentuk kualitatif dan kuantitatif. Pertanyaan yang tidak jelas dapat diulang dan dijelaskan lagi. Sebaliknya, jawaban yang belum jelas bisa diminta lagi dengan lebih terarah dan lebih bermakna asal tidak mempengaruhi atau mengarahkan jawaban siswa.

4.Kelemahan wawancara

a)      Jika jumlah responden cukup besar, maka akan banyak menghabiskan waktu, tenaga, dan biaya.

b)      Adakalanya terjadi wawancara yang berlarut-larut tanpa arah, sehingga data kurang dapat memenuhi apa yang diharapkan.

c)      Sering timbul sikap yang kurang baik dari responden dan sikap “over action” dari pewawancara, sehingga terjadi prasangka hasil yang diperoleh tidak objektif. Karena itu diperlukan adaptasi diri antara pewawancara dengan responden.

5.Pedoman umum pelaksanaan wawancara

Sebelum melaksanakan wawancara perlu dirancang pedoman wawancara. Pedoman ini disusun dengan menempuh langkah-langkah sebagai berikut:

a)      Tentukan tujuan yang ingin dicapai dari wawancara. Misalnya untuk mengetahui pemahaman bahan pengajaran (hasil belajar) atau mengetahui pendapat siswa mengenai kemampuan mengajar yang dilakukan guru (proses belajar mengajar).

b)      Berdasarkan tujuan diatas tentukan aspek-aspek yang akan diungkap dari wawancara tersebut. Aspek-aspek tersebut dijadikan dasar dalam menyusun materi pertanyaan wawancara.

c)      Tentukan bentuk pertanyaan yang akan digunakan, yakni bentuk berstruktur ataukah bentuk terbuka.

d)     Buatlah pertanyaan wawancara sesuai dengan analisis butir (c) diatas, yakni membuat pertanyaan berstruktur dan atau yang bebas. Pertanyaan jangan terlalu banyak, cukup yang pokok-pokoknya saja.

e)      Ada baiknya apabila dibuat pula pedoman mengolah dan menafsirkan hasil wawancara, baik pedoman untuk wawancara berstruktur maupun untuk wawancara bebas.

  1. B. Angket

1. Pengertian angket

“Angket atau kuesioner adalah sebuah daftar pertanyaan yang harus diisi oleh orang yang akan diukur (responden). Dengan angket ini orang dapat diketahui tentang keadaan/data diri, pengalaman, pengetahuan sikap atau pendapatnya dan lain-lain.” (Suharsimi Arikunto, 1997:24)

“Angket termasuk alat untuk mengumpulkan dan mencatatkan data atau informasi tentang sikap dan pemahaman dalam hubungan kausal.” (Zainal Arifin, 1990:62)

Dari dua pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa angket adalah alat penilaian yang mirip dengan wawancara dan berisikan serangkaian pertanyaan atau pernyataan tertulis yang harus dijawab, namun jawaban dari responden (siswa) dilakukan secara tertulis.

  1. 2. Jenis angket

Tentang jenis angket, dapat ditinjau dari beberapa segi.

Ditinjau dari segi siapa yang menjawab, maka ada:

a)      Angket langsung

Dikatakan langsung karena angket tersebut dikirimkan dan diisi langsung oleh responden yang dimintai jawaban tentang dirinya.

b)      Angket tidak langsung

Yaitu angket yang dikirimkan dan diisi oleh bukan responden yang diminta keterangannya. Angket tidak langsung biasanya digunakan untuk mencari informasi tentang bawahan, anak, saudara, tetangga dan sebagainya.

Dan ditinjau dari segi cara menjawabnya maka dibedakan menjadi:

a)      Angket tertutup

Angket tertutup adalah angket yang disusun dengan menyediakan pilihan jawaban lengkap sehingga pengisi hanya tinggal memberi tanda pada jawaban yang dipilih.

b)      Angket terbuka

Angket terbuka adalah angket yang disusun sedemikian rupa sehingga para pengisi bebas mengemukakan pendapatnya. Angket terbuka juga digunakan untuk meminta pendapat seseorang.

  1. 3. Kelebihan dan kelemahan angket

Sebagai alat penilaian angket mempunyai kelebihan sebagai berikut:

a)      Praktis, dalam arti hemat waktu, biaya, dan tenaga.

b)      Siswa atau responden yang menjadi sasaran penilaian dapat menjawab lebih bebas & leluasa.

Sedangkan kelemahannya adalah:

a)      Pertanyaan yang kurang jelas tidak bisa dijelaskan lebih lanjut.

b)      Data yang diperoleh kadang-kadang tidak objekif & valid.

c)      Sifatnya kaku, karena responden hanya menjawab berdasarkan jawaban yang ada.

d)     Kadang-kadang angket yang disebar tidak semuanya kembali.

  1. 4. Petunjuk teknis penyusunan angket

Petunjuk teknis dalam membuat angket adalah sebagai berikut:

a)      Mulai dengan pengantar yang isinya permohonan mengisi angket sambil dijelaskan maksud dan tujuannya.

b)      Jelaskan petunjuk atau cara mengisinya supaya tidak salah. Kalau perlu diberikan contoh.

c)      Mulai dengan pertanyaan untuk mengungkapkan identitas responden. Dalam identitas ini sebaiknya tidak diminta mengisi nama. Identitas cukup mengungkapkan jenis kelamin, usia, pendidikan, pekerjaan, pengalaman, dan lain-lain yang ada kaitannya dengan tujuan angket.

d)     Isi pertanyaan sebaiknya dibuat beberapa kategori atau bagian sesuai dengan variabel yang diungkapkan sehingga mudah mengolahnya.

e)      Rumusan pertanyaan dibuat singkat, tetapi jelas sehingga tidak membingungkan dan salah mengakibatkan penafsiran.

f)       Hubungan antara pertanyaan yang satu dengan pertanyaan yang lain harus dijaga sehingga tampak logikanya dalam satu rangkaian yang sistematis. Hindari penggolongan pertanyaan terhadap indikator atau persoalan yang sama.

g)      Usahakan kemungkinan agar jawaban, kalimat, atau rumusannya tidak lebih panjang daripada pertanyaan.

h)      Angket yang terlalu banyak atau terlalu panjang akan melelahkan dan membosankan responden sehingga pengisiannya tidak objektif lagi.

i)        Ada baiknya angket diakhiri dengan tanda tangan si pengisi untuk menjamin keabsahan jawabannya.

  1. III. KESIMPULAN

  1. wawancara adalah alat penilaian yang berisikan serangkaian pertanyaan untuk mendapatkan jawaban dari responden (siswa) dengan jalan tanya jawab sepihak.
  1. Jenis wawancara

a)      Wawancara terpimpin (guided interview)

b)      Wawancara tidak terpimpin (un-guided interview)

  1. Keunggulan / manfaat dari wawancara

a)      Bisa kontak langsung dengan siswa (responden).

b)      Menjalin hubungan yang lebih erat antara pendidik dan peserta didik, atau    antara pewawancara dengan responden.

c)      Wawancara bisa direkam sehingga jawaban responden bisa dicatat secara lengkap

d)     Melalui wawancara data bisa diperoleh dalam bentuk kualitatif dan kuantitatif.

  1. Kelemahan wawancara:

a)      Boros di dalam waktu dan tenaga.

b)      Membutuhkan keahlian tertentu, dan.

c)      Jika terjadi prasangka hasil yang diperoleh tidak objektif.

  1. Langkah-langkah pelaksanaan wawancara:

a)      Tujuan yang ingin dicapai

b)      Aspek yang akan diungkap

c)      Bentuk pertanyaan

d)     Membuat butir pertanyaan, dan

e)      Membuat pedoman pengolahan dan penafsiran hasil wawancara

  1. Angket adalah alat penilaian yang mirip dengan wawancara dan berisikan serangkaian pertanyaan atau pernyataan tertulis yang harus dijawab, namun jawaban dari responden (siswa) dilakukan secara tertulis.
  1. Jenis angket ditinjau dari segi siapa yang menjawab, maka ada:

a)      Angket langsung

b)      Angket tidak langsung

Dan ditinjau dari segi cara menjawabnya maka dibedakan menjadi:

a)      Angket tertutup

b)      Angket terbuka

  1. Sebagai alat penilaian angket mempunyai kelebihan sebagai berikut:

a)      Praktis, dalam arti hemat waktu, biaya, dan tenaga.

b)      Siswa atau responden yang menjadi sasaran penilaian dapat menjawab lebih bebas & leluasa.

Sedangkan kelemahannya adalah:

a)      Pertanyaan yang kurang jelas tidak bisa dijelaskan lebih lanjut.

b)      Data yang diperoleh kadang-kadang tidak objekif & tidak valid.

c)      Sifatnya kaku, karena responden hanya menjawab berdasarkan jawaban yang ada.

d)     Kadang-kadang angket yang disebar tidak semuanya kembali.

  1. Petunjuk teknis dalam membuat angket adalah sebagai berikut:

a)      Mulai dengan pengantar yang isinya permohonan mengisi angket

b)      Jelaskan petunjuk atau cara mengisinya

c)      Mulai dengan pertanyaan untuk mengungkapkan identitas responden.

d)     Isi pertanyaan sebaiknya dibuat beberapa kategori

e)      Rumusan pertanyaan dibuat singkat,

f)       Hubungan antara pertanyaan yang satu dengan pertanyaan yang lain harus dijaga

g)      jawaban, kalimat, atau rumusannya tidak lebih panjang daripada pertanyaan.

h)      angket diakhiri dengan tanda tangan si pengisi untuk menjamin keabsahan jawabannya.

DAFTAR PUSTAKA

  1. Anas Sudijono, Pengantar Evaluasi Pendidikan, Raja Grafindo, Jakarta, 2003.
  2. Nana Sudjana, Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar, Remaja Rosdakarya, Bandung, 2001.
  3. Suharsimi Arikunto, Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan, Bumi Aksara, Jakarta, 1997.
  4. Zainal Arifin, Evaluasi Instruksional, Remaja Rosdakarya, Bandung, 1990.

2 comments

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s