NUZUL AL-QUR’AN

OLEH:

ACHMAD KOSWARA

BAB I

PENDAHULUAN

Al-Qur’an sebagai hudan lin naas (petunjuk bagi seluruh umat manusia) dan rahmatan lil ‘aalamiin (Rahmat bagi segenap alam) adalah kitab suci yang diturunkan Allah Swt kepada Rasulullah Muhammad Saw untuk disampaikan kepada umat manusia.

Agama Islam atau agama Tauhid yang kita anut dan juga dianut oleh banyak manusia di hampir seluruh Negara di atas dunia ini, merupakan way of live yang memberikan arahan dan jaminan kebahagiaan hidup bagi para pemeluknya tidak hanya di dunia tapi juga di akhirat nanti. Salah satu hal yang bisa menentramkan hati para pemeluk agama Islam adalah adanya sebuah kitab yang bernama al-Qur’an, kitab ini menjadi esensial bagi umat Islam karena berfungsi memberi petunjuk ke jalan yang sebaik-baiknya. Allah Swt berfirman:

إِنَّ هَذَا الْقُرْءَانَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ

Artinya :

“Sesungguhnya al-Qur’an ini memberi petunjuk menuju jalan yang sebaik-baiknya” (QS.Al-Israa [17] : 9)

Al-Qur’an bagi umat Islam memberikan petunjuk dalam persoalan-persoalan yang berhubungan dengan; Akidah, Syari’ah, dan Akhlak dengan jalan meletakkan dasar-dasar yang merupakan prinsip mengenai permasalahan-permasalahan tersebut. Allah Swt menugaskan Rasul untuk memberikan keterangan yang lengkap mengenai dasar-dasar itu;

وَأَنزَلْنَآ إِلَيْكَ الذِّكْرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَانُزِّلَ إِلَيْهِمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ

Artinya :

“Dan kami telah turunkan kepadamu az-Zikr (Al-Qur’an), untuk kamu terangkan kepada manusia apa-apa yang diturunkan kepada mereka dan agar mereka berpikir” (QS.An-Nahl [16] : 44)

Disamping keterangan yang diberikan oleh Rasulullah Saw, Allah Swt memerintahkan pula kepada umat manusia seluruhnya agar memperhatikan dan mempelajari al-Qur’an, dengan firman-Nya:

أَفَلاَ يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْءَانَ أَمْ عَلَى قُلُوبٍ أَقْفَالُهَآ

“Maka tidakkah mereka menghayati al-Qur’an, ataukah hati mereka sudah terkunci?” (QS.Muhammad [47] : 24)

Mempelajari al-Qur’an adalah kewajiban. Ada beberapa prinsip dasar untuk memahaminya, khusus dari segi hubungan al-Qur’an dengan kehidupan, al-Qur’an dengan ilmu pengetahuan, atau al-Qur’an dengan perkembangan zaman yang begitu pesat ini, dimana seluruh aspek sendi-sendi kehidupan manusia mengalami perubahan yang luar biasa dan al-Qur’an menjadi bagian terpenting untuk menjadi penyeimbangnya.

Al-Qur’an yang ada sekarang ini, tidak diturunkan Alloh Swt secara sekaligus melainkan berangsur-angsur atau melalui tahapan-tahapan yang telah diatur Allah Swt sedemikian rupa kepada seorang Rasul terbaik pilihan-Nya yang telah dipersiapkan secara matang dan sempurna dan diberikan dengan berbagai cara. Mulai cara yang biasa hingga yang terberat yang pernah dirasakan oleh Rasulullah Muhammad Saw.

Sebagai seorang Muslim khususnya dan umat Islam umumnya, sangatlah penting bagi kita untuk mengetahui secara sadar sejarah turunnya al-Qur’an karena pepatah mengatakan “Orang bijak itu adalah orang yang mau belajar dari sejarahnya” mengapa sejarah turunnya al-Qur’an mesti kita ungkap? Jawabannya tentu agar bisa menambah ilmu plus memunculkan keteguhan iman kita kepada kitab Allah Swt dan bisa tetap pada ajaran Islam. Apabila kita tidak mengetahui sejarah, maka bisa jadi kecendrungan mengulangi sejarah masa lalu ketika terjadi pemalsuan al-Qur’an pada masa-masa awal Islam tidak mustahil akan terjadi.

Wacana tentang sejarah al-Qur’an seperti; bagaimana al-Qur’an diturunkan? Bagaimana para Ulama menjaga al-Qur’an dari masa ke masa? Menurut hemat penulis ini perlu diketahui oleh umat Islam. Tidak hanya bagaimana sejarah turunnya al-Qur’an ini? Apa yang bisa kita ambil dari sejarah turunnya al-Qur’an? Dan masih banyak lagi hal-hal lain yang harus kita ketahui tentang al-Qur’an kitab suci yang agung ini.

BAB II

PEMBAHASAN

DEFINISI NUZUL AL-QUR’AN DAN AL-QUR’AN

Nuzulul Qur’an yang secara harfiah berarti turunnya Al Qur’an (kitab suci agama Islam) sedangkan menurut istilah adalah penurunan wahyu Allah pertama kepada Nabi dan Rasul terakhir yakni Nabi Muhammad SAW.
Al-Qur’an (ejaan KBBI: Alquran, dalam bahasa Arab قُرْآن) adalah kitab suci agama Islam. Umat Islam memercayai bahwa Al-Qur’an merupakan puncak dan penutup wahyu Allah yang diperuntukkan bagi manusia, yang disampaikan kepada Nabi Muhammad SAW melalui perantaraan Malak Jibril.
Ditinjau dari segi kebahasaan (etimologi), Al-Qur’an adalah bentuk masdar dari kata kerja iqro yang berarti bacaan. “Qur’an” menurut pendapat yang paling kuat seperti yang dikemukakan Dr. Subhi Al-Salih, berarti “bacaan”, asal kata “qara’a”. kata al-Qur’an itu berbentuk masdar dengan arti sism maf’ul yaitu “maqru” (dibaca). Karena al-Qur’an bukan saja harus dibaca oleh manusia, tetapi juga karena pada kenyataannya selalu dibaca oleh orang-orang yang mencintainya. Baik pada waktu shalat maupun di luar shalat[1]. Di dalam al-Qur’an sendiri ada pemakaian kata “Qur’an” dalam arti demikian sebagaimana terdapat dalam ayat 17, 18 surat [75] al-Qiyamah :

إِنَّ عَلَيْنَا جَمْعَهُ وَقُرْءَانَهُ  فَإِذَا قَرَأْنَاهُ فَاتَّبِعْ قُرْءَانَهُ

Artinya :

“Sesungguhnya kami akan mengumpulkannya (di dadamu) dan membacakannya. Apabila kami telah selesai membacanya maka ikutilah bacaannya”

 SEJARAH TURUNNYA AL-QUR’AN

Al-Qur’an diturunkan dalam waktu 22 tahun 2 bulan dan 22 hari, yaitu: mulai dari malam 17 Ramadhan tahun 41 dari kelahiran nabi sampai 9 Dzulhijjah Haji wada’ tahun 63 dari kelahiran nabi atau tahun 10 H.[2]

Al-Qur’an diturunkan kepada Rasulullah Muhammad Saw selama hampir 23 tahun[3] secara berangsur-angsur. Penjelasan tentang turunnya secara berangsur-angsur terdapat dalam firman Allah Swt:

وَقُرْءَانًا فَرَقْنَاهُ لِتَقْرَأَهُ عَلَى النَّاسِ عَلَى مُكْثٍ وَنَزَّلْنَاهُ تَنزِيلاً

Artinya :

“Dan Qur’an itu telah kami turunkan dengan berangsur-angsur agar kamu membacakannya perlahan-lahan kepada manusia dan kami menurunkannya bagian-demi bagian” (QS.al-Israa’ [17]:106).

            Maksudnya: kami telah menjadikan turunnya al-Qur’an itu secara berangsur agar kamu membacakannya kepada manusia secara perlahan dan teliti dan kami menurunkannya bagian demi bagian sesuai dengan peristiwa-peristiwa dan kejadian-kejadian.

            Untuk mengkaji bagaimana al-Qur’an turun ada baiknya kita lihat ilustrasi berikut ini :

Proses Nuzul Al Quran

Wahyu pertama yang diturunkan Allah Swt kepada Nabi Muhammad Saw adalah surat Al-Alaq [96] ayat 1 – 5 yang berbunyi:

 

اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ {1} خَلَقَ الإِنسَانَ مِنْ عَلَقٍ {2} اقْرَأْ وَرَبُّكَ اْلأَكْرَمُ {3} الَّذِي عَلَّمَ ابِالْقَلَمِ {4} عَلَّمَ اْلإِنسَانَ مَالَمْ يَعْلَمْ {5}

Artinya :

“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan, Dia Telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam, Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya”.

Menurut riwayat, saat menerima wahyu tersebut Nabi Muhammad Saw sedang berada di Gua Hira’, tiba-tiba terdengarlah suara dari langit, beliau mengadah tampaklah Malak Jibril a.s. Ketika itulah Malak Jibril menyampaikan wahyu Allah kepada beliau yang berbunyi seperti yang telah dijelaskan diatas.

Sesudah wahyu ini Allah Swt menurunkan wahyu berikutnya, yakni surat al-Mudatsir [74] ayat:1-5 :

يَاأَيُّهَا الْمُدَّثِّرُ {1} قُمْ فَأَنذِرْ {2} وَرَبَّكَ فَكَبِّرْ {3} وَثِيَابَكَ فَطَهِّرْ {4} وَالرُّجْزَ فَاهْجُرْ {5}

Artinya :

“Wahai orang yang berkemul (berselimut)! Bangunlah. Lalu berilah peringatan! Dan agungkanlah Tuhanmu, dan bersihkanlah pakaianmu, dan tinggalkanlah segala (perbuatan) yang keji”

Setelah menerima wahyu itu maka Rasulullah kembali ke rumah dalam keadaan gemetar, sehingga minta diselimuti oleh istrinya Siti Khadijah.
Itulah wahyu yang kedua diturunkan olah Allah Swt kepada nabi Muhammad Saw dan itulah pula penobatan beliau sebagai Rasulullah. Atau utusan Allah kepada seluruh umat manusia, untuk menyampaikan risalah-risalahNya.

Dalam hal ini menarik untuk kita simak catatan dari Prof.DR.T.M.Hasbi Ash-Shiddieqy dalam bukunya sejarah dan pengantar ilmu al-Qur’an/tafsir setelah memaparkan pendapat para ahli ilmu berkaitan dua wahyu diatas, sebagai berikut: “Dengan turun ayat tersebut (al-Alaq) jadilah Muhammad Saw sebagai Nabi atau Muhammad mencapai derajat Nubuwah (Kenabian atau memperoleh wahyu dari Allah Swt dengan tidak mendapat tugas menyampaikan kepada ummat). Barulah setelah turun ayat berikutnya (al-Mudatsir) Muhammad Saw mencapai derajat Risalah (Muhammad menjadi Rasulullah)”

Penyampaian al-Qur’an secara keseluruhan memakan waktu kurang lebih 23 tahun. Waktu nabi tinggal di Mekkah (Sebelum Hijriyah) yaitu: 12 tahun 5 bulan 13 hari. Yaitu dari 17 Ramadhan tahun 41 hingga awal Rabiul awaal tahun 54 dari kelahiran nabi. Dan 9 tahun 9 bulan 9 hari waktu Nabi sudah hijrah ke Madinah. Yakni dari permulaan Rabiul awal tahun 54 hingga 9 Dzulhijjah tahun 63 dari kelahiran nabi atau tahun 10 hijriah[4] Wahyu Illahi yang diturunkan sebelum hijrah disebut Surat Makiyyah, surat dan ayatnya pendek-pendek dan gaya bahasanya singkat padat (ijaz), Karena sasaran yang pertama dan utama pada periode Mekkah ini adalah orang-orang Arab asli yang sudah faham benar akan bahasa Arab. Wahyu Illahi yang diturunkan sesudah hijrah disebut surat Madaniyah. Surat dan ayatnya panjang-panjang dan gaya bahasanya panjang lebar dan lebih jelas (ithnab), karena sasarannya bukan hanya orang Arab asli, melainkan juga non Arab dari berbagai bangsa yang telah mulai banyak masuk Islam dan mereka kurang menguasai bahasa Arab.

Proses penyampaian Al Qur’an kepada nabi Muhammad SAW sebagai wahyu ini disampaikan oleh Malak Jibril dalam berbagai cara dan keadaan, diantaranya :

 1. Malak Jibril memasukkan wahyu itu ke dalam hati Nabi Muhammad SAW. tanpa memperlihatkan wujud aslinya. Rasulullah tiba-tiba saja merasakan wahyu itu telah berada di dalam hatinya.

 2. Suatu ketika, Malak Jibril juga pernah menampakkan dirinya sebagai seorang laki-laki dan mengucapkan kata-kata di hadapan Nabi SAW. Itulah salah satu metode lain yang digunakan Malak Jibril untuk menyampaikan Al Qur’an kepada Nabi Muhammad SAW.

 3. Yang selanjutnya, wahyu juga turun kepada Nabi Muhammad saw. Seperti bunyi gemerincing lonceng. Menurut Rasulullah, cara inilah yang paling berat dirasakan, sampai-sampai beliau mencucurkan keringat meskipun wahyu itu turun di musim yang sangat dingin. Kadang-kadang unta beliau terpaksa berhenti dan duduk karena merasa amat berat, bila wahyu itu turun ketika beliau sedang mengendarai unta. Diriwayatkan oleh Zaid bin Tsabit: “Aku adalah penulis wahyu yang diturunkan kepada Rasulullah. Aku lihat Rasulullah ketika turunnya wahyu itu seakan-akan diserang oleh demam yang keras dan keringatnya bercucuran seperti permata. Kemudian setelah selesai turunnya wahyu, barulah beliau kembali seperti biasa”.

 4. Cara yang lain adalah Malak Jibril turun membawa wahyu kepada Nabi Muhammad SAW dengan menampakkan wujudnya yang asli tidak berupa seorang laki-laki seperti keadaan no. c diatas, tetapi benar -benar seperti rupanya yang asli. Hal ini tersebut dalam Al Qur’an surat An-Najm [53] ayat 13 dan 14 :

وَلَقَدْ رَءَاهُ نَزْلَةً أُخْرَى  عِندَ سِدْرَةِ الْمُنْتَهَى

Artinya:

“Dan sesungguhnya Muhammad telah melihatnya pada kali yang lain (kedua). Ketika ia berada di Sidratulmuntaha. ”

 

  1. PENGUMPULAN DAN PERIODE TURUNNYA AL-QUR’AN

Kodifikasi (Pengumpulan) al-Qur’an

Kodifikasi atau pengumpulan Al-Qur’an sudah dimulai sejak zaman Rasulullah SAW, bahkan sejak Al-Qur’an diturunkan. Setiap kali menerima wahyu, Nabi SAW membacakannya dihadapan para sahabat karena ia memang diperintahkan untuk mengajarkan Al-Qur’an kepada mereka. Disamping menyuruh mereka untuk menghafalkan ayat-ayat yang diajarkannya, Nabi SAW juga memerintahkan para sahabat untuk menuliskannya di atas pelepah-pelepah kurma, lempengan-lempengan batu, dan kepingan-kepingan tulang.

Setelah ayat-ayat yang diturunkan cukup satu surat, Nabi SAW memberi nama surat tersebut untuk membedakannya dari yang lain. Nabi SAW juga memberi petunjuk tentang penempatan surat di dalam Al-Qur’an. Penyusunan ayat-ayat dan penempatannya di dalam susunan Al-Qur’an juga dilakukan berdasarkan petunjuk Nabi SAW. Cara pengumpulan Al -Qur’an yang dilakukan di masa Nabi SAW tersebut berlangsung sampai Al-Qur’an sempurna diturunkan dalam masa kurang lebih 22 tahun 2 bulan 22 hari.

Untuk menjaga kemurnian Al-Qur’an, setiap tahun Malak Jibril datang kepada Nabi SAW untuk memeriksa bacaannya. Malak Jibril mengontrol bacaan Nabi SAW dengan cara menyuruhnya mengulangi bacaan ayat-ayat yang telah diwahyukan. Kemudian Nabi SAW sendiri juga melakukan hal yang sama dengan mengontrol bacaan sahabat -sahabatnya. Dengan demikian terpeliharalah Al- Qur’an dari kesalahan dan kekeliruan.

Para Hafidz dan Juru Tulis Al-Qur’an Pada masa Rasulullah SAW sudah banyak sahabat yang menjadi hafidz (penghafal Al-Qur’an), baik hafal sebagian saja atau seluruhnya. Di antara yang menghafal seluruh isinya adalah Abu Bakar as-Siddiq, Umar bin Khattab, Usman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Talhah, Sa’ad, Huzaifah, Abu Hurairah, Abdullah bin Mas’ud, Abdullah bin Umar bin Khatab, Abdullah bin Abbas, Amr bin As, Mu’awiyah bin Abu Sofyan, Abdullah bin Zubair, Aisyah binti Abu Bakar, Hafsah binti Umar, Ummu Salamah, Ubay bin Ka’b, Mu’az bin Jabal, Zaid bin Tsabit, Abu Darda, dan Anas bin Malik.

Adapun sahabat-sahabat yang menjadi juru tulis wahyu antara lain adalah Abu Bakar as-Siddiq, Umar bin Khattab, Usman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Amir bin Fuhairah, Zaid bin Tsabit, Ubay bin Ka’b, Mu’awiyah bin Abu Sofyan, Zubair bin Awwam, Khalid bin Walid, dan Amr bin As. Tulisan ayat-ayat Al- Qur’an yang ditulis oleh mereka disimpan di rumah Rasulullah, mereka juga menulis untuk disimpan sendiri. Saat itu tulisan-tulisan tersebut belum terkumpul dalam satu mushaf seperti yang dijumpai sekarang. Pengumpulan Al-Qur’an menjadi satu mushaf baru dilakukan pada masa kekhalifahan Umar bin Khattab, setelah Rasulullah SAW wafat.

 

  1. Periode Turunnya Al-Qur’an

Periode pertama dinamakan Periode Mekah. Turunnya Al Qur’an pada periode pertama ini terjadi ketika Nabi SAW. bermukim di Mekah (610 – 622 M) sebelum Nabi Muhammad SAW melakukan hijrah. Ayat-ayat yang diturunkan pada masa itu, kemudian disebut dengan ayat-ayat Makiyah, yang berjumlah 4.726 ayat dan terdiri atas 89 surat atau 19/30 dari Al-Qur’an.

 Ciri-ciri ayat Makiyah yaitu:

  1. Surat dan ayat-ayatnya pendek-pendek
  2. Diawali dengan yâ ayyuhan-nâs (wahai manusia)
  3. Kebanyakan mengandung masalah tauhid, iman kepada Allah SWT masalah surga dan neraka, dan masalah-masalah yang menyangkut kehidupan akhirat (ukhrawi) dan juga tentang pembinaan akhlak.
  4. Gaya bahasanya singkat padat (ijaz), karena sasaran yang pertama dan utama adalah orang-orang arab asli yang sudah faham benar dengan bahasa arab.

Periode yang kedua adalah Periode Madinah. Sebuah periode yang terjadi pada masa setelah Nabi Muhammad SAW hijrah ke Madinah (622 –632M). Ayat-ayat yang turun dalam periode ini kemudian dinamakan ayat–ayat Madaniyah, meliputi 1.510 ayat dan mencakup 25 surat atau 11/30 dari Al- Qur’an.

Ciri-ciri ayat Madaniyah:

  1. Ayat-ayatnya panjang
  2. Diawali dengan yâ ayyuhalladzîna âmanû (wahai orang -orang yang beriman)
  3. Kebanyakan tentang norma/hukum-hukum agama (syariat), orang-orang yang berhijrah (muhajirin) dan kaum penolong (anshar), kaum munafik, serta ahli kitab
  4. Gaya bahasanya panjang lebar dan jelas (ithnab), karena sasarannya bukan hanya orang arab, melainkan juga non arab dari berbagai bangsa yang telah mulai banyak masuk islam.

Adapun ayat yang terakhir turun kepada Nabi Muhammad SAW, terdapat perbedaan pendapat dikalangan ulama. Manna Al-Qathan menyebutkan ada 9 pendapat namun berdasarkan pendapat yang mu’tabar sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Nasa’i dari Ibnu Abas dan Said bin Jubair adalah surat al-Baqarah [2] ayat 281 sebagai berikut :

وَاتَّقُوا يَوْمًا تُرْجَعُونَ فِيهِ إِلَى اللهِ ثُمَّ تُوَفَّى كُلُّ نَفْسٍ مَّاكَسَبَتْ وَهُمْ لاَيُظْلَمُونَ

Artinya:

Dan peliharalah dirimu dari (azab yang terjadi pada) hari yang pada waktu itu kamu semua dikembalikan kepada Allah. Kemudian masing-masing diri diberi balasan yang Sempurna terhadap apa yang Telah dikerjakannya, sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya (dirugikan).

 Adapun mengenai surat al-Maidah [5] ayat 3, yaitu:

 الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ اْلإِسْلاَمَ دِينًا

Artinya:

Pada hari ini telah kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu

Ayat tersebut turun pada tanggal 9 Dzulhijjah tahun 10 hijriyah, bertepatan dengan bulan Maret 632 M, yaitu ketika Nabi sedang melaksanakan wukuf di padang Arafah, waktu beliau melaksanakan haji. Ibadah haji ini bagi beliau disebut dengan Haji Wada, karena merupakan ibadah haji yang penghabisan. Ayat ini pada lahirnya menunjukan kesempurnaan kewajiban dan hukum tetapi bukan merupakan ayat yang terakhir turun, karena setelah menerima ayat tersebut Rasulullah masih hidup selama 81 hari.

Mengomentari perbedaan pendapat ini Qadi Abu Bakar Al-Baqilani dalam kitab Al-intishar menyebutkan bahwa pendapat-pendapat tersebut sama sekali tidak disandarkan kepada Nabi, tetapi lebih cenderung sebagai hasil ijtihad masing-masing. Mungkin masing-masing memberitahukan mengenai apa yang terakhir kali didengarnya dari Nabi, lalu dikiranya ayat itulah yang terakhir diturunkan.

  1. HIKMAH DI TURUNKANNYA AL-QUR’AN

 Al Qur’an diturunkan secara berangsur-angsur bukanlah tanpa sebab, tetapi merupakan perhitungan Allah Swt untuk ditafakuri umat manusia, adapun dari berbagai literature yang penulis baca, kiranya dapat diambil beberapa hikmah yang bisa kita jadikan bahan bahan perenungan sebagai penguat keimanan kita, diantaranya :

 1. Untuk meneguhkan hati Nabi dalam melaksanakan tugasnya, karena banyak sekali hambatan dan tantangan yang dihadapi Nabi dalam mengemban tugas tersebut. Juga untuk menghibur beliau pada saat menghadapi kesulitan, kesedihan atau perlawanan dari orang kafir. Setiap kali Nabi sedih (sesuai dengan fitrahnya sebagai manusia), ayat-ayat penghiburpun datang berulang kali sehingga beliau berketetapan hati untuk melanjutkan dakwah dan merasa tentram dengan pertolongan Allah. Dengan hikmah yang demikian Allah menjawab pertanyaan orang-orang kafir musyrikin yang telah menayakan mengapa Al Qur’an tidak diturunkan sekaligus. sebagaimana tersebut dalam Al Qur’an surat Al Furqaan [25] ayat ke 32, yaitu:

 وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لَوْلاَ نُزِّلَ عَلَيْهِ الْقُرْءَانُ جُمْلَةً وَاحِدَةً كَذَلِكَ لِنُثَبِّتَ بِهِ فُؤَادَكَ وَرَتَّلْنَاهُ تَرْتِيلاً

Artinya :

Berkatalah orang-orang yang kafir: “Mengapa Al Quran itu tidak diturunkan kepadanya sekali turun saja?”; demikianlah supaya kami perkuat hatimu dengannya dan kami membacanya secara tartil (teratur dan benar).

 2. Agar lebih mudah difahami dan dilaksanakan. Sebab memahami dan melaksanakan tuntutan Al-Qur’an secara berangsur-angsur akan lebih mudah, sebaliknya orang tidak akan melaksanakan suruhan, dan larangan sekiranya suruhan dan larangan itu diturunkan sekaligus banyak.

 3. Di antara ayat-ayat itu (dalam arti tertentu) ada yang nasikh (Penghapusan) dan ada yang mansukh (dihapus), sesuai dengan permasalahan pada waktu itu. Ini tidak dapat dilakukan sekiranya Al Qur’an diturunkan sekaligus.

  1. Turunnya sesuatu ayat sesuai dengan peristiwa-peristiwa yang terjadi akan lebih mengesankan dan lebih berpengaruh di hati.
  1. Memudahkan Nabi dalam penghafalan. Mendiktekannya kepada para penulis wahyu dan mengajarkannya kepada umatnya.
  1. Di antara ayat-ayat ada yang merupakan jawaban dari pada pertanyaan-pertanyaan yang diajukan kepada Nabi atau penolakan suatu pendapat yang berkembang atau perbuatan yang dilakukan ada keselarasan dengan peristiwa yang terjadi, sehingga ajaran Al-Qur’an lebih berkesan dan berpengaruh dalam jiwa yang menerimanya .
  1. Untuk memberi kesempatan sebaik-baiknya kepada umat Islam untuk meninggalkan sikap mental dan tradisi sebelum Islam yang negatif secara berangsur-angsur, dengan menghayati dan melaksanakan ajaran Al-Qur’an dan ajaran Nabi. Sekiranya ayat-ayat Al-Qur’an (terutama yang menyangkut hukum) diturunkan sekaligus tentu akan mendapatkan perlawanan hebat.
  1. Sebagai bukti nyata bahwa Al-Qur’an diturunkan dari sisi Yang Maha Bijaksana, sebagaimana firmannya dalam surat Hud [11] ayat 1 :

الر كِتَابٌ أُحْكِمَتْ ءايَاتُهُ ثُمَّ فُصِّلَتْ مِن لَّدُنْ حَكِيمٍ خَبِيرٍ

Artinya:

Alif laam raa, (Inilah) suatu Kitab yang ayat-ayatNya disusun dengan rapi serta dijelaskan secara terperinci, yang diturunkan dari sisi (Allah) yang Maha Bijaksana lagi Maha tahu.

 

BAB III

PENUTUP

 

Al Qur’an ialah kalam Allah SWT yang merupakan mukjizat yang diturunkan (diwahyukan) kepada Nabi Muhammad dan yang ditulis di mushaf dan diriwayatkan dengan mutawatir serta membacanya adalah ibadah. Dari sejarah diturunkannya Al-Qur’an, dapat diambil kesimpulan bahwa Al-Quran mempunyai tiga tujuan pokok :

  1. Petunjuk akidah dan kepercayaan yang harus dianut oleh manusia yang tersimpul dalam keimanan akan keesaan Tuhan dan kepercayaan akan kepastian adanya hari pembalasan.
  2. Petunjuk mengenai akhlak yang murni dengan jalan menerangkan norma-norma keagamaan dan susila yang harus diikuti oleh manusia dalam kehidupannya secara individual atau kolektif.
  3. Petunjuk mengenal syariat dan hukum dengan jalan menerangkan dasar-dasar hukum yang harus diikuti oleh manusia dalam hubungannya dengan Tuhan dan sesamanya. Atau dengan kata lain yang lebih singkat, “Al-Quran adalah petunjuk bagi seluruh manusia ke jalan yang harus ditempuh demi kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat.”

Pokok ajaran dalam isi kandungan Al-Quran yaitu:

  1. Tauhid – Keimanan terhadap Allah SWT
  2. Ibadah – Pengabdian terhadap Allah SWT
  3. Akhlak – Sikap dan perilaku terhadap Allah SWT, sesama manusia dan makhluk lain
  4. Hukum – Mengatur manusia
  5. Hubungan Masyarakat – Mengatur tata cara kehidupan manusia
  6. Janji Dan Ancaman – Reward dan punishment bagi manusia
  7. Sejarah – Teledan dari kejadian di masa lampau

Keistimewaan dan keutamaan Al-Quran dibandingkan dengan kitab lain yaitu:

  1. Memberi petunjuk lengkap disertai hukumnya untuk kesejahteraan manusia segala zaman, tempat dan bangsa.
  2. Susunan ayat yang mengagumkan dan mempengaruhi jiwa pendengarnya.
  3. Dapat digunakan sebagai dasar pedoman kehidupan manusia.
  4. Menghilangkan ketidak bebasan berfikir yang melemahkan daya upaya dan kreatifitas manusia (memutus rantai taqlid).
  5. Memberi penjelasan ilmu pengetahuan untuk merangsang perkembangannya.
  6. Memuliakan akal sebagai dasar memahami urusan manusia dan hukum-hukumNya.
  7. Menghilangkan perbedaan antar manusia dari sisi kelas dan fisik serta membedakan manusia hanya dari takwanya kepada Allah SWT.

Penting bagi kita untuk mengetahui sejarah turunnya Al Qur`an, agar menambah keteguhan iman kita kepada kitab Allah SWT dan tetap pada Ajaran Islam. Apabila kita tidak mengetahui sejarah, maka kecenderungan akan mengulangi sejarah seperti masa lalu ketika terjadinya pemalsuan al -Qur’an pada masa-masa awal Islam.

Pemalsuan terhadap Al-Quran bukan tidak mungkin terjadi lagi, mengingat bebasnya dan maraknya ajaran-ajaran yang menyimpang. Wacana tentang sejarah Al-Quran yang telah di jelaskan dalam makalah ini, seperti bagaimana Al-Qur’an diturunkan, apa yang dapat kita ambil pelajaran dari sejarah turunnya Al -Qur’an, dan apa hikmah dari diturunkannya Al-Qur’an tersebut haruslah di pahami oleh kita semua agar Al-Qur’an ini terpelihara dengan baik.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Manna Khaliil al-Qattan, Studi Ilmu-ilmu Qur’an: Litera AntarNusa, 2004.

T.M. Hasbi Ash-Shiddieqy, Sejarah dan pengantar ilmu al-Qur’an/Tafsir: Bandung : Bulan bintang – 1980

Abdul Aziz, Qur’an – Hadis, Semarang : CV. Wicaksana, 1994.

Quraish Shihab, Membumikan Al Qur’an “Fungsi dan Peranan Wahyu dalam Kehidupan Masyarakat, Bandung : Mizan, 1996.

Hidayah Hayati, Sejarah Turunnya Al Qur’an, artikel diambil dari

http://hidayahhayati.blogspot.com/2010/01/sejarah-turunnya-al-quran.html,2010.

Rosihon Anwar, Ulumul Qur’an untuk IAIN, STAIN, PTAIS: Bandung, 2000

[1] Quraish Shihab, Membumikan Al Qur’an “Fungsi dan Peranan Wahyu dalam Kehidupan Masyarakat, Bandung : Mizan, 1996. hlm. 37.

[2] Hudhari Bik, Tarikh At-Tasyri’ al-Islami, Terj. Muhammad Zuhri, Rajamurah al-Qanaah 1980, hlm. 5-6.

[3] Sebagian ulama memperkirakan lamanya al-Qur’an dituurunkan itu duapuluh tahun. Sebagian yang lain memperkirakannya selama duapuluh lima tahun. Hal itu dikarenakan perbedaan mereka dalam memperkirakan lamanya rasulullah Saw tinggal di Mekkah setelah ia diutus Allah Swt: Apakah tigabelas tahun atau sepuluh tahun atau limabelas tahun? Namun mereka sepakat bahwa ia tinggal di Madinah sesudah hijrah itu selama sepuluh tahun. Yang benar adalah pendapat pertama. Lihat al-Itqaan, jilid 1, hlm: 39.

[4] Prof.DR.T.M.Hasbi Ash-Shiddieqy, Sejarah dan pengantar ilmu al-qur’an/Tafsir, Bulan bintang 1980, hlm. 65-66.

PENGERTIAN DAN FUNGSI AL QUR’AN

oleh :

ELA SUHAELA

BAB I

PENDAHULUAN

Bacalah dengan nama Tuhanmu. ”Inilah kalimat pertama Al-Quran yang diwahyukan kepada Muhammad. Kalimat itu diwahyukan kepadanya pada saat dia menyendiri dan melakukan perenungan di sebuah gua di luar kota Makkah pada 610 M. saat itu dia berusia empat puluh tahun; dia dikenal bukan sebagai penyair atau ahli beretorika sebagaimana umumnya tokoh-tokoh sezaman atau pernah melibatkan diri dalam permbahasan tentang agama. Dia merasakan pengalaman hidup-mati saat menerima wahyu luar biasa ini, saat didekati oleh sesosok malaikat yang memerintahkannya: ”bacalah!” ketika dia menjelaskan bahwa dia tidak bisa membaca, sang malaikat mendekapnya dengan kuat dan mengulangi perintah itu sebanyak dua kali. Setelah itu, barulah malaikat itu membacakan kepadanya dua baris aya pertama al-Quran di mana konsep”membaca”,”belajar/memahami”dan”pena”disebutkan sebanyak enam kali (QS. Al’alaq [96]: 1-5).

Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan, dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah, yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam[1], dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.

Al-Quran tidak dimulai secara kronologis seperti halnya Kitab Perjanjian Lama, atau secara genealogis seperti Kitab Perjanjian Baru, tetapi-sebagaimana sering dikemukakakan oleh para penulis Muslim modern pemerhati masalah pendidikan-berbicara langsung soal membaca, mengajar, memahami dan menulis.[2] Bagian awal al-Quran juga tidak menyerupai bagian awal karya-karya sastra Arab yang pernah dikenal sebelumnya. Kecuali setelah turunnya wahyu pertama di gua Hira, Muhammad tidak dikanal orang sebagai pernah menyusun sepotong syair atau menyampaikan sepenggal pidato. Al Qur’an justru menggunakan kernyataan ini untuk menyangkal pendapat orang-orang kafir:

Katakanlah :”Jikalau Allah menghendaki, niscaya aku tidak akan membacakannya kepadamu, dan Allah tidak (pula) memberitahukannya kepadamu. Sesungguhnya aku telah tinggal bersamamu beberapa lama sebelumnya[3]. Maka, apakah kamu tidak memikirkannya? (QS. Yunus [10]:16).”

Dan kamu tidak pernah membaca sebuah kitab sebelumnya (al-Quran) sesuatu kitabpun, dan tidak (pernah) menulis suatu Kitab dengan tangan kananmu. Andaikata (kamu pernah membaca atau menulis), benar-benar ragulah orang yang mengingkari(mu). Sebenarnya al-Quran itu adalah ayat-ayat yang nyata di dalam dada orang-orang yang diberi ilmu. Dan tidak ada yang mengingkari ayat-ayat Kami kecuali orang-orang yang zalim. (QS. Al ankabut [29]:48)”

BAB II

PENGERTIAN DAN FUNGSI AL-QURAN

(Etimologi,Terminology, Keberadaan dan Kedudukan Al-Qur’an serta

Pokok-Pokok Kandungannya)

  1. Pengertian Al- Qur’an

Al-Qur’an adalah wahyu dan mu’jizat terbesar yang diberikan Allah kepada Rasullullah, SWT. Al-Qur’an mempunyai dua pengertian yaitu arti menurut bahasa adalah bacaan atau yang dibaca kata Al-Qur’an  (                 ) adalah bentuk masdar dari fi’il qoro’a (               )  yang diartikan dengan isim maf’ul, yaitu                     (yang dibaca /bacaan).

Pengertian diatas dapat ditemui dalam (QS Al Qiyaamah [75]:17-18)

Sesungguhnya atas tanggungan kamilah mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya. Apabila Kami telah selesai membacakannya Maka ikutilah bacaannya itu.”

Sedangkan pengertian yang kedua adalah pengertian menurut syar’i (istilah) ialah nama untuk kalamullah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW, yang ditulis dalam bentuk mushaf.

Secara lengkap Dr. Bakri Syaikh Anin mengartikan Al-Qur’an adalah kalam Allah sebagai mu’jizat yang diturunkan kepada penutup para Nabi dan rasul (Nabi Muhammad S.A.W) dengan perantaraan Al-Amin (Jibril as.), ditulis dalam mashahif, terpelihara dalam dada manusia, disampaikan secara mutawatir, bacaannya diberi nilai ibadah dimulai dengan surah Al-Fatihah, dan diakhiri dengan surah An-Nas[4].

  1. Secara harfiah Al-Quran adalah bacaan yang sempurna. Ini adalah sebuah nama pilihan dari Allah yang sangat tepat, tidak ada satupun bacaan yang sempurna sejak manusia mengenalnya sampai hari Kiamat. Nama Al-Quran merupakan kitab Allah yang Maha Sempurna.

Tidak ada satu kitab apapun, yang dapat dihapal kecuali Al-Quran sekalipun oleh orang buta, bahkan sampai hapal 30 zuz.

Dalam menjalani hidup ini ketika kita ingin sempurna sebagai manusia, maka tidak ada pilihan lain kecuali kita harus membaca, memahami Al- Quran, karena Al-Quran adalah kitab yang paling sempurna. Sudah sejauhmaanakah kita mencintai Allah dan Al-Quran?

Tanda cinta itu adalah : sering membaca suratnya (Al Qur’an), senang bertemu (Allah), selalu ingat”Dzikrullah”, ta’at , berani berkorban.

Sudahkah mengatakan cinta kepada Allah, dengan konsep”Tanda Cinta”diatas? pertolongan Allah akan datang kepada umat nya ketika menggunakan akal dan kalbu, piker dan dzikir, Iman dan ilmu, seperti yang dikatakan oleh M. Quraish Shihab (Wawasan Al-Quran)”Akal tanpa kalbu menjadikan manusia seperti rabat, pikir tanpa dzikir menjadikan manusia seperti setan, Iman tanpa Ilmu bagaikan pelita ditangan bayi, sedangkan ilmu tanpa iman bagaikan pelita ditangan pencuri“[5].

  1. Nama lain dari Al-Qur’an adalah Al-Kitab atau Kitabullah, Kitabullah ini dijelaskan dalam ( Al Baqarah [2]:2)

Kitab (Al-Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa.”

Al-furqon (pembeda) antara yang hak dan yang bathil, ini dijelaskan dalam (QS. Al-Furqon [25]:1)

Maha suci Allah yang telah menurunkan Al Furqaan (Al Quran) kepada hamba-Nya, agar Dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam.

  1. Al-Quran diistilahkan pula dengan nama Adz-dzikr (Peringatan), yaitu peringatan untuk orang- orang yang beriman. (QS. An-Nahl [16]:44)

Keterangan-keterangan (mukjizat) dan kitab-kitab. dan Kami turunkan kepadamu Al Quran, agar kamu menerangkan pada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka[6] dan supaya mereka memikirkan.”

Al-Quran Al-Karim adalah kitab yang oleh Rasulullah SAW, dikatakan sebagai ”Ma’dubatullah“/Hidangan ilahi. Hidangan ini tentunya bukan sembarang  hidangan, hidangan ini membantu manusia untuk memperdalam pemahaman dan penghayatan tentang Islam dan merupakan pelita bagi umat Islam dalam menghadapi berbagai persoalan hidup.

Al-Quran merupakan mu’jizat terbesar yang masih ada sampai saat ini, bahkan sampai hari qiamat. Allah menantang manusia dan jin untuk membuatnya  seperti yang difirmankan dalam (QS. Al-Isra [17]:88).

“Katakanlah: ”Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa Al Quran ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengan Dia, Sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain”.

Bahasanya begitu mempesona, redaksinya begitu teliti, dan mutiara pesan-pesannya yang demikian agung, membuat kita  yang membacanya begitu kagum, walaupun sebagian nalar mereka menolaknya, tetapi mereka tidak bisa memungkirinya akan keindahan bahasanya.

Fungsi Al-Quran adalah sebagai ”Hudan” ditujukan kepada seluruh umat manusia yang memfungsikan Al-Qur’an sebagai Hudan dengan baik hanyal orang yang bertaqwa, seperti firman Allah (QS. Al-Baqarah [2]:1-2)

Alif laam miin[7]. Kitab[8] (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa[9].”

Banyak masyarakat dewasa ini mengagumi Al-Quran tetapi hanya sebatas dalam pesona bacaan, ketika dilantunkan dengan suara merdu. Jadi seolah-olah kitab suci ini dituturunkan untuk dibaca, bahkan anehnya orang yang membacanya dengan suara merdu diberi hadiah (MTQ) tetapi orang yang menerangkan bahkan orang yang mengamalkan Al-Quran dibenci, dicaci bahkan adapula yang masuk jeruji besi.

Al-Quran menjelaskan bahwa di hari kemudian nanti, Rasulullah SAW akan mengadu kepada Allah SWT dan beliau berkata, Q.S Al-Furqan 25:30

Berkatalah Rasul: ”Ya Tuhanku, Sesungguhnya kaumku menjadikan Al Quran itu sesuatu yang tidak diacuhkan”.

Menurut Ibnu Al Qoyim banyak hal yang dicakup oleh kata           __________  (Mahjura), antara lain :

  1. Tidak tekun mendengarkannya.
  2. Tidak mengindahkan halal dan haramnya walaupun dipercaya dan dibaca
  3. Tidak menjadikan rujukan dalam menetapkan hukum menyangkut ushuludin (prinsip-prinsip ajaran agama) dan rinciannya
  4. Tidak berupaya memelihara dan memahami apa yang dikehendaki oleh Allah yang menurunkannya
  5. Tidak menjadikan sebagai obat bagi semua penyakit kejiwaan[10]

 

  1. Kedudukan Al-Quran
  2. Sebagai pelajaran dan penerangan. Firman Allah SWT, ”Al-Quran itu tidak lain adalah pelajaran dan kitab yang memberi penerangan” (QS. Yaa-siin: 69)

Kami tidak mengajarkan syair kepadanya (Muhammad) dan bersyair itu tidaklah layak baginya. Al Quran itu tidak lain hanyalah pelajaran dan kitab yang memberi penerangan.

  1. Sebagai pembenar kitab-kitab suci sebelumnya, yakni Taurat,Zabur, dan Injil. Firman Allah SWT,” dan apa yang telah kami wahyukan kepada mu (Muhammad) adalah kitab (Al-Quran) itulah yang benar, membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya” S Al- Fathir:31

Dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu Yaitu Al kitab (Al Quran) Itulah yang benar, dengan membenarkan Kitab-Kitab yang sebelumnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha mengetahui lagi Maha melihat (keadaan) hamba-hamba-Nya.

  1. Sebagai pembimbing yang lurus. Firman Allah SWT. ”Segala puji bagi Allah yang telah menurunkan kepada hamba-Nya Al-Quran dan Dia tidak mengadakan pembengkokan (penyimpangan) didalamna, melainkan sebagai bimbingan yang lurus (QS. Al-Kahfi : 1-2)

Segala puji bagi Allah yang telah menurunkan kepada hamba-Nya Al kitab (Al-Quran) dan Dia tidak Mengadakan kebengkokan di dalamnya; Sebagai bimbingan yang lurus, untuk memperingatkan siksaan yang sangat pedih dari sisi Allah dan memberi berita gembira kepada orang-orang yang beriman, yang mengerjakan amal saleh, bahwa mereka akan mendapat pembalasan yang baik.”

  1. Sebagai pedoman bagi manusia, petunjuk dan rahmat bagi yang meyakininya. Firman Allah SWT”Al-Quran ini adalah pedoman bagi manusia, petunjuk dan rahmat bagi kaum yang meyakininya” (QS. Al-Jatsiyah: 20)

Al Quran ini adalah pedoman bagi manusia, petunjuk dan rahmat bagi kaum yang meyakini.

 

  1. Isi Pokok Al Qur’an

Setiap muslim tenu menyadari, bahwa Al Qur’an  adalah Kitab Suci yang merupakan pedoman hidup, dan dasar setiap langkah hidup. Al Qur’an bukan sekedar mengatur hubungan manusia dengan Rabb-nya, tetapi juga mengatur hubungan manusia dengan manusia dan alam sekitarnya. Pendeknya, Al Qur’an mengatur dan memimpin semua segi kehidupan manusia demi kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat. Perhatikan firman Allah.

dan Tiadalah binatang-binatang yang ada di bumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan umat (juga) seperti kamu. Tiadalah Kami alpakan sesuatupun dalam Al-Kitab[11], kemudian kepada Tuhanlah mereka dihimpunkan.

 Al Qur’an sebagai sumber hukum tidak semua syariatnya mesti dijelaskan dengan mendetail. Hal ini karena selain Al Qur’an masih ada sumber hukum yang kedua, yakni Al Hadits yang merupakan penjelasan Al Qur’an. Selain itu, manusia juga diberi kesempatan dan dituntut untuk berijtihad dengan menggunakan aklanya dalam rangka mengatur hidupnya di dunia ini sesuai dengan perkembangan situasi zaman. Itulah fleksiilitas ajaran Islam sebagai ajaran yang bersifat universal dan abadi. Namun demikian, perlu diingat bahwa setiap gerak langkah manusia senantiasa harus tetap memegang dua sumber hukum utama tersebut agar selamat dan tak tersesat.

Nabi Muhammad bersabda :

“Kutinggalkan untuk kamu dua perkara, tidaklah kamu akan tersesat selama-lamanya, selama kamu masih berpegang kepada keduanya, yaitu Kitabullah (Al Qur’an) dan Sunnah Rasul-Nya.” (Al Hadits)

Seseorang dikatakan berpegang teguh kepada Al Qur’an dan Al Hadits, apabila dia mengimani dan mengamalkan apa yang menjadi ajaran keduanya. Inilah yang menunjukkan setiap muslim dituntut untuk tidak hanya sekedar membaca Al Qur’an dengan fasih. Lebih dari itu dia harus memahami, menghayati, dan mengamalkan isinya dalam perilaku hidupnya. Pada langkah selanjutnya dia wajib menyebarluaskan kepada orang lain sebagai tugas kemanusiaan yang tinggi, yaitu berdakwah.

Al Qur’an mecakup dan menyempurnakan pokok-pokok ajaran dari kitab-kitab Allah S.W.T., yang terdahulu (Taurat, Injil dan Zabur) sebagian ulama mengatakan bahwa Al Qur’an mengandung 3 pokok ajaran yaitu (a) Keimanan; (b) akhlak dan Budi Pekerti; dan (c) aturan hidup sehari-hari antar manusia. Sebagian ulama yang lain berpendapat bahwa Al Qur’an berisi dua peraturan pokok (a) Peraturan yang mengatur hubungan manusia dengan Allah SWT., (b) Peraturan yang mengatur hubungan manusia dengan sesamanya dan dengan alam sekitar[12].

Kelengkapan dan kesempurnaan isi Al Qur’an ini diakui juga oleh para pakar Barat diantaranya oleh Edward Gibbon. Seorang ahli sejarah Inggris (1737-1794) ini mengatakan : “Al Qur’an sebuah kitab agama, yang membahas tentang masalah-masalah kemajuan, kenegaraan, perniagaan, peradilan dan undang-undang, kemiliteran dalam Islam.” Isi Al Qur’an sangat lengkap mulai dari urusan ibadah, ketauhidan, sampai soal pekerjaan sehari-hari, mulai dari masalah sehari-hari sampai masalah jasmani, mulai dari pembicaraan tentang hak-hak dan kewajiban segalanya umat sampai kepada pembicaraan tentang akhlak dan perangai serta hukum siksa di dunia?, karena itu umat besar perbedaan antara Al Qur’an dengan Bibel.

Bibel tidak mengandung aturan yang bertahan dengan keduniaan yang ada hanyalah cerita-verita unutk kesucian diri. Bibel tidak dapat mendekati Al Qur’an, karena Al Qur’an itu tidak hanya menerangkan amalan keagamaan tetapi juga mengupas asas-asas politik kenegaraan. Al Qur’an lah yang menjadi sumber peraturan negara, sumber undang-undang dasar, memutuskan suatu perkara yang berhubungan dengan kehartaan maupun kejiwaan[13].

Al Quran memiliki 3 Aspek[14] : (1) Aqidah; (2) Syariah; dan (3) Akhlak. Pencapaian ketiga tujuan pokok ini di usahakan oleh Al Qur’an melalui empat cara perintah melalui empat cara;

  1. Perintah memperhatikan alam raya
  2. Perintah mengamati pertumbuhan dan perkembangan manusia;
  3. Kisah-kisah; dan
  4. Janji serta ancaman duniawi dan ukhrowi[15].

Sedangkan munurut Quraish Syihab, mengatakan ada aspek yang ada di dalam Al Qur’an :

  1. Ketelitian dan keindahan dan redaksinya
  2. Syariat-syariat islam.
  3. Pemberitaan hal gaib masa lalu dan masa datang yang di ungkapkannya.

Secara kuantitatif, persoalan keimanan menempati bagian terbesar Al Qur’an. Persoalan moral datang berikutnya, disusul ritual, dan kemudian aturan-aturan hukum. Jadi, Al Qur’an seluruhnya berisi kurang lebih 6200 ayat. Dari jumlah itu, hanya 100 ayat yang membahas persoalan peribadatan. Urusan-urusan pribadi mengambil tujuh puluh ayat, hukum perdata tujuh puluh, hukum pidana tiga puluh, persoalan peradilan dan kesaksian dua puluh ayat[16].

Al Qur’an berbeda dengan buku acuan hukum yang membahas setiap subjek dalam bab terpisah. Sebaliknya Al Qur’an mungkin saja membahas persoalan keimanan, moral, ritual dan peraturan hukum secara sekaligus dalam satu surah yang sama. Ini memberikan kepada ajaran-ajarannya kekuatan dan daya persuasi yang lebih besar, karena semuanya dilandasi oleh keimanan kepada Allah dan keimanan kepada hari akhirat. Dengan demikian, ajaran hukum memiliki nilai sakral di dunia ini maupun di akhirat kelak.

Isi Al Qur’an terbagi ke dalam surah, atau bagian, yang secara konvensional diterjemahkan ke dalam bahasa inggris menjadi “chapter” (bab). Ini merupakan penerjemahkan yang tak membantu, mengingat sebuah surah bisa saja berisi tidak lebih  dari satu baris. Misalnya Surah 108 dan Surah 112. Sementara itu Surah 2, adalah surat terpanjang dalam Al Qur’an yang menempati 40 halaman Al Qur’an. Setiap surah berisikan sejumlah ayat yang dalam  bahasa Arab dikenal sebagai âyah (tanda kekuasaan dari Allah). Semuanya ada 114 surah. Kecuali Surat 9, semuanya dimulai dengan “penyebutan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang”. Beberapa surat berisi ayat-ayat Madaniyah dan Makkiyah sekaligus. Bagian judul setiap surah umumnya memuat nomor urut, nama, penggolongan ke dalam kelompok surat Madaniyah, Makkiyah atau campuran, dan ayat mana saja yang termasuk ke dalam kedua periode itu. Urutan ayat dalam setiap surah ditetapkan oleh Nabi, yang diyakini bertindak atas petunjuk langsung dari Malaikat pembawa wahyu. Sarjana-sarjana Barat dan bahkan sebagian sarjana Muslim pada masa-masa lampau-berpadangan bahwa orang-orang yang melakukan kompilasi atas ayat Al Qur’an setelah wafatnya Nabi itulah yang menetapkan urutan surah berdasarkan perbedaan panjangnya. Namun, bukti terkuat menunjukkan bahwa semua ini dilakukan oleh Nabi selama bertahun-tahun membacanya menurut urutan yang berlaku sekarang ini. Para sahabat, yang meneladani Nabi dan isi kandungan Al Qur’an tidak mungkin mengubah segala sesuatu yang mereka peroleh dari Nabi, demikian pula firman Allah yang tidak boleh diubah dengan cara apapun[17].

BAB III

KESIMPULAN

Al Qur’an menurut bahasa.             -                -             , sedangkan menurut istilah kitab Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad melalui malaikat Jibril yang diturunkan secara berangsur-angsur selama 23 tahun.

Kedudukan Al Quran adalah sebagai pelajaran dan penerangan, sebagai pembenar kitab-kitab suci sebelumnya, sebagai pembimbing yang lurus, dan sebagai pedoman bagi manusia.

Adapun isi pokok Al Qur’an adalah masalah akidah, akhlak, syariat, hukum yang mengatur hubungan manusia dengan tuhannya dan manusia dengan sesama serta alam sekitar. Membicarakan hal-hal yang gaib serta kejadian masa yang lalu dan yang akan datang.

Intinya adalah semua masalah yang mengatur kehidupan manusia makluk Allah lainnya semuanya diatur dan di bahas secara global didalam Al Qur’an.

BAB IV

PENUTUP

Demikian yang dapat kami paparkan mengenai materi yang menjadi pokok bahasan dalam makalah ini, tentunya masih banyak kekurangan dan kelemahannya, karena terbatasnya pengetahuan dan kurangnya rujukan atau referensi yang ada hubungannya dengan judul makalah ini.

Penulis banyak berharap para pembaca yang budiman memberikan kritik dan saran yang membangun kepada penulis demi sempurnanya makalah ini dan penulisan makalah di kesempatan- kesempatan berikutnya.

Semoga makalah ini berguna bagi penulis pada khususnya juga para pembaca yang budiman pada umumnya.

DAFTAR PUSTAKA

  1. Quraisy Shihab, Prof. Dr., Wawasan Al Quran

______________________, Membumikan Al Quran

______________________, Lentera Hati

______________________, Tafsir Al Misbah

  1. Maisna, Prof. Dr. Ma., Al Qur’an Hadits

Syamsul Rijal Hamid, Buku Pintar Agama Islam

Choiruddin Hadhiri, Mu’jizat Al Qur’an

  1. Abdul Halim, Memahami Al Qur’an

Mahmud Saltut, Al Qur’an Nur Karim

Amin Bakri Syaikh. Dr. At Ta’biat Al Fanny Dar Al Syura Bairut 1980

Syamsudin Adz D Zahabi 75 Dosa Besar Cetakan III

A Concise History of Islamic Legislation (dalam bahasa Arab) oleh A. Khallaf, Kuwait: 1968 hlm. 28-29.

Muhammad al-Zifzaf, al-Ta’rif bi’l-qur’an wa’l’hadits, Kuwait: 1979, hlm. 99-105.

[1] Maksudnya: Allah mengajar manusia dengan perantaraan tulis baca.

[2] Misalnya S. Quthb, Fi zhilal al-Qur’an, Kairo: 1985, vol 6, hlm. 399.

[3] Maksudnya: sebelum Al Quran diturunkan.

[4] Amin,Bakri  Syaikh, Dr. At-Ta’biat Al-Fanny fi Al Qu’ran, Dar Al-Syuruq, Beirut, 1980

[5] Quraisy Shihab Mu’jizat Al Qur’an

[6] Yakni: perintah-perintah, larangan-larangan, aturan dan lain-lain yang terdapat dalam Al Quran.

[7] Ialah huruf-huruf abjad yang terletak pada permulaan sebagian dari surat-surat Al Quran seperti: Alif laam miim, Alif laam raa, Alif laam miim shaad dan sebagainya. diantara Ahli-ahli tafsir ada yang menyerahkan pengertiannya kepada Allah karena dipandang Termasuk ayat-ayat mutasyaabihaat, dan ada pula yang menafsirkannya. golongan yang menafsirkannya ada yang memandangnya sebagai nama surat, dan ada pula yang berpendapat bahwa huruf-huruf abjad itu gunanya untuk menarik perhatian Para Pendengar supaya memperhatikan Al Quran itu, dan untuk mengisyaratkan bahwa Al Quran itu diturunkan dari Allah dalam bahasa Arab yang tersusun dari huruf-huruf abjad. kalau mereka tidak percaya bahwa Al Quran diturunkan dari Allah dan hanya buatan Muhammad s.a.w. semata-mata, Maka cobalah mereka buat semacam Al Quran itu.

[8] Tuhan menamakan Al Quran dengan Al kitab yang di sini berarti yang ditulis, sebagai isyarat bahwa Al Quran diperintahkan untuk ditulis.

[9] Takwa Yaitu memelihara diri dari siksaan Allah dengan mengikuti segala perintah-perintah-Nya; dan menjauhi segala larangan-larangan-Nya; tidak cukup diartikan dengan takut saja

[10] M.Quraisy Shihab Tafsir  Al Misbah

[11] Sebahagian mufassirin menafsirkan Al-Kitab itu dengan Lauhul mahfudz dengan arti bahwa nasib semua makhluk itu sudah dituliskan (ditetapkan) dalam Lauhul mahfudz. dan ada pula yang menafsirkannya dengan Al-Quran dengan arti: dalam Al-Quran itu telah ada pokok-pokok agama, norma-norma, hukum-hukum, hikmah-hikmah dan pimpinan untuk kebahagiaan manusia di dunia dan akhirat, dan kebahagiaan makhluk pada umumnya.

[12] Syamsudin Adz D Zahabi 75 Dosa Besar Cetakan III

[13] Zakaria Hasyim “Pendapat Cendikiawan dan Filosof Barat tentang IslamZakaria Hasyim “Pendapat Cendikiawan dan Filosof Barat tentang Islam

[14] Menurut Mahmud Saltut

[15] Quraish Syihab : membumikan Al Qur’an

[16] A Concise History of Islamic Legislation (dalam bahasa Arab) oleh A. Khallaf, Kuwait: 1968 hl. 28-29.

[17] Muhammad al-Zifzaf, al-Ta’rif bi’l-qur’an wa’l’hadits, Kuwait: 1979, hlm. 99-105.

Guru, Pahlawan Dalam Menggapai Cita

mcdens13:

Peran guru dalam pendidikan sangat penting, karena guru akan menentukan kualitas pendidikan bagi peserta didik. penghargaan terhadap guru haruslah ditingkatkan, kesejahteraan guru haruslah diperhatikan, karena dengan adanya mereka kita menjadi tahu apa yang sebelumnya kita tidak tahu, menjadi berharga yang sebelumnya kita bukan apa-apa.

Originally posted on evRina shinOda:

Dua puluh dua tahun yang lalu aku adalah seorang siswa yang duduk di bangku sekolah dasar (SD). Ingatan ku masih segar tak kala mengingat jasa seorang guru yang telah membuat ku menjadi seorang yang optimis dan bersemangat dalam  belajar, seorang guru dengan imbalan yang tak terlalu besar dibandingkan jasanya telah mampu membawa anak-anak kecil meraih cita. Dialah guru ku, pahlawan ku.

SDN Bojonggede 02 Tahun 2012

Sekolah itu terletak beberapa kilometer dari tempat tinggal ku, SDN Bojonggede 02 itulah nama sekolah ku. Aku mengenyam pendidikan dasar di sana sejak tahun 1990 hingga 1996. Dengan berjalan kaki kurang lebih 30-45 menit (tergantung kecepatan berjalan) aku dan teman-teman mampu mencapai sekolah yang dipisahkan oleh sebuah sungai dengan jalan raya itu. Sekolah ku bukanlah sekolah favorit, itu terlihat dari infrastruktur sekolah yang sangat minim kualitasnya bila dibandingkan dengan sekolah lainnya. Sekolah ku terdiri dari dua buah bangunan yang tegak lurus satu sama lain…

View original 2.117 more words

Mengolah Sampah: Mengubah Masalah Menjadi Sumberdaya

mcdens13:

Betapa banyak masalah yang harus kita selesaikan bersama, salah satu masalah yang perlu penangan tepat adalah masalah sampah, hampir disetiap daerah di Indonesia menghadapi masalah yang sama. kesadaran masyarakat untuk mencintai lingkungan sangat diperlukan untuk mengatasi masalah ini. membuang sampah ke tempat yang sudah ditentukan itu akan membantu mengurangi dampak negatif sampah, selain itu penggunaan produk yang ramah dan aman bagi lingkungan bisa kita lakukan untuk mengatasi masalah ini.

Originally posted on evRina shinOda:

Beberapa bulan yang lalu saya pernah mengikuti petugas irigasi yang bernama Pak Oji. Beliau meminta saya mengikutinya untuk menjadi saksi betapa berat pekerjaannya dalam menjaga lingkungan di sekitar pengairan. Sayapun menyanggupi permintaannya. Pak Oji mulai menyusuri jaringan irigasi desa yang nantinya akan berujung pada jaringan irigasi usaha tani. Pada awalnya saya merasa pekerjaan Pak Oji ini wajar saja karena para petani dikelompoknya sudah membayar jasa yang dilakukan Pak Oji tiap bulannya. Tetapi setelah hampir setengah perjalanan sayapun terkejut melihat tumpukan sampah yang dibuang begitu saja oleh warga kearah jaringan irigasi. Bahkan sampai ada yang membuat jalur seperti konveyer agar sampah dapat meluncur dengan bebas menuju aliran irigasi. Rupanya hal inilah yang selama ini dikeluhkan oleh Pak Oji. Beliau sudah pernah menyampaikan hal tersebut kepada pihak yang terkait di sekitar lingkungan itu namun belum ada tindak lanjut hingga saat ini.

Kegiatan Pak Oji Membersihkan Jaringan Irigasi Desa

Kegiatan Pak Oji Membersihkan Jaringan Irigasi Desa

Senada dengan apa yang…

View original 2.576 more words

Ibnu Rusyd

 Ibnu Rusyd (Ibnu Rushdi, Ibnu Rusyid, 1126Marrakesh, Maroko, 10 Desember 1198) dalam bahasa Arab ابن رشد dan dalam bahasa Latin Averroes, adalah seorang filsuf dari Spanyol (Andalusia).

Ikhtisar

Abu Walid Muhammad bin Rusyd lahir di Kordoba (Spanyol) pada tahun 520 Hijriah (1128 Masehi). Ayah dan kakek Ibnu Rusyd adalah hakim-hakim terkenal pada masanya. Ibnu Rusyd kecil sendiri adalah seorang anak yang mempunyai banyak minat dan talenta. Dia mendalami banyak ilmu, seperti kedokteran, hukum, matematika, dan filsafat. Ibnu Rusyd mendalami filsafat dari Abu Ja’far Harun dan Ibnu Baja.

Ibnu Rusyd adalah seorang jenius yang berasal dari Andalusia dengan pengetahuan ensiklopedik. Masa hidupnya sebagian besar diberikan untuk mengabdi sebagai “Kadi” (hakim) dan fisikawan. Di dunia barat, Ibnu Rusyd dikenal sebagai Averroes dan komentator terbesar atas filsafat Aristoteles yang memengaruhi filsafat Kristen di abad pertengahan, termasuk pemikir semacam St. Thomas Aquinas. Banyak orang mendatangi Ibnu Rusyd untuk mengkonsultasikan masalah kedokteran dan masalah hukum.

Pemikiran Ibnu Rusyd

Karya-karya Ibnu Rusyd meliputi bidang filsafat, kedokteran dan fikih dalam bentuk karangan, ulasan, essai dan resume. Hampir semua karya-karya Ibnu Rusyd diterjemahkan ke dalam bahasa Latin dan Ibrani (Yahudi) sehingga kemungkinan besar karya-karya aslinya sudah tidak ada.

Filsafat Ibnu Rusyd ada dua, yaitu filsafat Ibnu Rusyd seperti yang dipahami oleh orang Eropa pada abad pertengahan; dan filsafat Ibnu Rusyd tentang akidah dan sikap keberagamaannya.

Karya

- Bidayat Al-Mujtahid (kitab ilmu fiqih)

- Kulliyaat fi At-Tib (buku kedokteran)

Ceramah Aqiqah

Assalamualaikum wr. Wb.

Hadirin jamaah rahimakumullah,

Hari ini kita berkumpul di tempat yang mulia ini dalam rangka menghadiri tasyakur bi ni’mah (aqiah) atas kelahiran anak kedua dari pasangan yang bahagia Bpk. Irfan Rasyidi dan Ibu Siti Hasanah. Kelahiran anak ini merupakan anugrah yang sangat indah yang diberikan oleh Allah swt. Yang sudah sepantasnya harus disyukuri. Banyak diantara kita yang merindukan mempunyai anak sudah bertahun-tahun berumah tangga, sudah berusaha kesana-kemari, tapi jika Allah belum menghendaki maka belum tercapai harapan itu.

Setelah kelahiran anak, dianjurkan bagi orangtua atau wali dan orang di sekitamya

melakukan hal-hal berikut:

  1.       Menyampaikan kabar gembira dan ucapan selamat atas kelahiran.
  2.       Menyerukan adzan di telinga bayi.
  3.       Tahnik (Mengolesi langit-langit mulut).
  4.       Memberi nama.
  5.       Aqiqah.
  6.       Mencukur rambut bayi dan bersedekah perak seberat timbangannya.
  7.       Khitan.

Aqiqah secara lughot (bahasa) adalah rambut yang tumbuh di kepala bayi. sedangkan secara istilah adalah binatang yang di sembelih pada hari ketujuh setelah kelahiran anak. bagi orang tua yang mampu,di sunnahkan mengerjakan aqiqah yaitu menyembelih dua kambing untuk anak laki-laki dan satu kambing untuk anak perempuan.

وَعَنْ سَمُرَةَ رضي الله عنه أَنَّ رَسُولَ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ: ( كُلُّ غُلَامٍ مُرْتَهَنٌ بِعَقِيقَتِهِ, تُذْبَحُ عَنْهُ يَوْمَ سَابِعِهِ, وَيُحْلَقُ, وَيُسَمَّى ) رَوَاهُ اَلْخَمْسَةُ, وَصَحَّحَهُ اَلتِّرْمِذِيّ

Dari Samurah Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Setiap anak tergadaikan dengan aqiqahnya; ia disembelih hari ketujuh (dari kelahirannya), dicukur, dan diberi nama.” Riwayat Ahmad dan Imam Empat. Hadits shahih menurut Tirmidzi.

عَنِ اِبْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا; ( أَنَّ اَلنَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم عَقَّ عَنْ اَلْحَسَنِ وَالْحُسَيْنِ كَبْشًا كَبْشًا )  رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ, وَصَحَّحَهُ اِبْنُ خُزَيْمَةَ, وَابْنُ اَلْجَارُودِ, وَعَبْدُ اَلْحَقّ ِ لَكِنْ رَجَّحَ أَبُو حَاتِمٍ إِرْسَالَه ُ

وَأَخْرَجَ اِبْنُ حِبَّانَ مِنْ حَدِيثِ أَنَسٍ نَحْوَه ُ

Dari Ibnu Abbas Radliyallaahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam beraqiqah untuk Hasan dan Husein masing-masing seekor kambing kibas. Riwayat Abu Dawud. Hadits shahih menurut Ibnu Khuzaimah, Ibnu al-Jarud, dan Abdul Haq, namun Abu Hatim lebih menilainya hadits mursal.

Ibnu Hibban juga meriwayatkan hadits serupa dari Anas.

Di antara sunnah aqiqah adalah bersedekah perak seberat timbangan rambut bayi yang dicukur. Ini adalah pendapat mayoritas ulama. Mereka berdalil dengan perintahnya Rasulullah صلى الله عليه وسلم kepada Fathimah untuk melakukan hal tersebut ketika melakukan aqiqah untuk Al Hasan dan Al Husain. Hadits ini adalah hadits hasan karena banyaknya jalur periwayatan hadits ini.

Mencukur rambut bayi dapat memperkuat kepala, membuka pori-pori di samping memperkuat indera penglihatan, pendengaran dan penciuman.

Disunnahkan memberi nama yang baik pada bayi karena ada hadis.” sesungguhnya di hari kiamat kalian akan di panggil dengan nama kalian dan nama ayah-ayah kalian,maka perbaguslah nama kalian ”.

Diantara hikmah aqiqah adalah :

  1.       sebagai ungkapan rasa syukur dengan telah dianugerahkannya anak dan karunia kepada kita, yang merupakan nikmat yang telah diberikan Allah SWT.
  2.       Sebagai wasilah (perantara) untuk memohon kepada Allah agar anak yang baru lahir itu dijaga dan dibimbing kepada jalan yang diridhoi-Nya.
  3.       Sebagai sarana mempererat dan menguatkan ta;i silahturahmi baik diantara keluarga, tetangga, saudara maupun bagi kerabat dan juga sahabat.

Sebagai sarana menjalin ikatan sosial, antara lain dengan fakir miskin dan anak
yatim.

Aqiqah

1. Pengertian Aqiqah. Aqiqah secara lughot (bahasa) adalah rambut yang tumbuh di kepala bayi. sedangkan secara istilah adalah binatang yang di sembelih pada hari ketujuh setelah kelahiran anak. bagi orang tua yang mampu,di sunnahkan mengerjakan aqiqah yaitu menyembelih dua kambing untuk anak laki-laki dan satu kambing untuk anak perempuan.

Adapun untuk khuntsa (wandu : jawa), maka menyembelih dua kambing,menurut qoul mu’tamad (qoul yang bisa di jadikan pedoman). Hikmah dibalik syari’at aqiqah adalah menunjukkan kebahagian dan mengungkapkan rasa syukur atas kelahiran anak sekaligus mengenalkan nasab (garis keturunan) yaitu dengan memberikan nama pada anak tersebut.

 

2. Hukum dan waktu aqiqah.

Dalam hadis yang diriwayatkan oleh imam ahmad dan imam empat di sebutkan ; sesungguhnya rosululloh bersabda,” setiap anak itu di gadai kan dengan aqiqahnya, pada hari ketujuh kelahirannya aqiqah disembelih ,rambutnya di cukur dan diberi nama ”.

Bagi orang tua atau orang yang menanggung nafkahnya,apabila mampu maka disunnahkan menyembelih kambing sebagai ungkapan rasa syukur kepada alloh. Begitu pentingnya nilai aqiqah, sampai imam ahmad bin hanbal berkata : orang tua yang mampu ber-aqiqah tetapi tidak melaksanakannya, maka pada hari kiamat, dia tidak berhak mendapat syafa’at dari anak tersebut.

Waktu aqiqah adalah sejak kelahiran anak,yang lebih utama adalah hari ketujuh dan tidak ada batas akhir untuk menjalankan aqiqah. Sehingga apabila anak yang dilahirkan sudah meninggal atau sudah dewasa,tetap di sunnahkan melakukan aqiqah,akan tetapi jika anak tersebut sudah dewasa,di sunnahkan menjalankan aqiqah untuk dirinya sendiri.

Hukum asal aqiqah adalah sunnah,kecuali jika di nadzar kan maka hukumnya menjadi wajib seperti halnya qurban. Orang yang ber aqiqah dan orang yang di tanggung nafkahnya,boleh makan daging aqiqah sunnah dan tidak boleh makan daging aqiqah wajib. Waktu yang afdhol menyembelih aqiqah adalah ketika terbitnya matahari,dan yang lebih afdhol yaitu ketika mencukur rambut bayi tersebut.

 

Tentang menyembelih hewan ternak (aqiqah) untuk anak
“Dari Ibnu Abbas r.a., sesungguhnya rasulullah s.a.w. mengaqiqahkan (cucunya) Hasan dan Husein dengan masing-masing dua kambing” HR. Abu Dawud
==============================================

“Dari Aisyah r.a., sesungguhnya rasulullah s.a.w. memerintahkan kepada para sahabat untuk mengaqiqahkan anak laki-lakinya dengan dua kambing yang besar dan anak perempuan satu kambing” HR. al-Tirmidzi, dan menurutnya hadis ini shahih.
==============================================

“Dari Amr bin Syu’aib, dari bapaknya, dari kakeknya, radhiallahu anhum, ketika ditanya tentang aqiqah, rasulullah s.a.w. menjawab: Allah SWT tidak menyukai kata aqiqah (seakan beliau tidak suka menyebut istilah tersebut), beliau melanjutkan: siapa yang mempunyai anak dan ingin mendapatkan pahala, maka lakukanlah (aqiqah tersebut), bagi anak laki-laki dua ekor kambing dan bagi anak perempuan satu ekor kambing” HR. Abu Dawud

 

3. Syarat binatang aqiqah.

Jenis binatang yang di gunakan untuk aqiqah adalah kambing,tetapi bisa juga dengan sapi atau onta badanah ( jenis onta ) seperti halnya hewan qurban. Hewan yang digunakan beraqiqah disyaratkan sudah tanggal gigi depannya ( poel : jawa ), sehat dan tidak cacat yang bisa mengurangi daging atau menyebabkan kurus yaitu :

A. tidak buta sebelah dengan parah.

B. tidak pincang dengan parah.

C. tidak sakit parah.

D. tidak sangat kurus.

E. tidak gila.

F. tidak kudisan.

G. tidak terputus total atau terpotong sebagian anggota tubuhnya.

Dalam hadis yang diriwayatkan Aisyah R.A disebutkan,” rosululloh menyuruh kami untuk beraqiqah bagi anak laki-laki dengan dua kambing serta bagi anak perempuan dengan satu kambing ”.

Artinya,batas minimal sempurna aqiqah untuk anak perempuan adalah satu kambing dan untuk anak laki-laki adalah dua kambing. Tetapi jika hanya untuk mendapatkan aslus sunnah,maka cukup satu kambing saja bagi anak laki-laki,karena rosululloh mengerjakan aqiqah untuk sayyidina husein dengan satu kambing gibas dan untuk sayyidina hasan dengan satu kambing gibas juga.

 

4. Tata cara aqiqah.

Agar makna dan nilai yang terkandung dalam walimah aqiqah sempurna,maka perlu diperhatikan beberapa aturan dan sunnah-sunnahnya :

A. walimah aqiqah dan pemberian nama sebaiknya dilaksanakan pada hari ketujuh sejak hari kelahiran anak,namun aqiqah tetap sunnah dilakukan pada waktu sebelum atau sesudahnya hari ketujuh.

B. pada saat menyembelih hewan aqiqah,sunnah membaca doa,” bismillahi wallohu abar,allohumma hadza minka wa ilaika,allohumma hadzihi aqiqotu…..( disebutkan nama anak yang di aqiqahi ).

C. hewan aqiqah dipotong persendiannya,tidak dengan memecahkan atau memutus tulangnya.

D. dagingnya dimasak dengan rasa manis,kecuali kaki kanannya. untuk kaki kanannya disodaqohkan kepada kabilah ( bidan atau orang yang membantu persalinan ).

E. daging yang sudah dimasak,disodaqohkan kepada faqir miskin yang muslim dan hendaknya makanan itu diantarkan kepada mereka,tidak dengan mengundang mereka. juga tidak diperbolehkan menjual daging aqiqah,bahkan kulitnya saja tidak boleh walaupun aqiqahnya adalah aqiqah sunnah.

F. memotong rambut anak yang di aqiqahi.

G. bersodaqoh emas atau perak sesuai dengan beratnya rambut yang di potong.

H. membacakan adzan di telinga kanan dan iqomah di telinga kiri.

I. menyuapi ( nyeta’i : jawa ) mulutnya dengan kurma kering yang sudah di haluskan ( dikunyah ),jika tidak ada kurma kering,maka dengan kurma basah,jika tidak ada,maka dengan makanan apa saja yang manis.

J. membaca doa aqiqah, ” bismillahirrohmanirrohim,allohumma robbi inna hadzihi aqiqotu….( sebutkan nama anak yang di aqiqahi ),dammuha bi dammihi wa lahmuha bi lahmihi wa adzmuha bi adzmihi wa jilduha bi jildihi wa sya’ruha bi sya’rihi,allohumma ij’alha fida’a….( sebutkan nama anak yang di aqiqahi ) minan nar ”.

K. membaca doa pada waktu pemberian nama terhadap bayi,” bismillahirrohmanirrohim,allohumma inna nas’aluka salamatan fid dunya wad dini waz ziyadata wal barokata fil ilmi warzuqil marzuqin,allohumma qod ‘allamta adamal asma’a kullaha wa qod amarona nabiyyuka muhammadun shollallohu alaihi wa sallam bi ihsaniha faha nahnu nusamma hadzal walada bismi yunasibu hadzal balada….( sebutkan nama anak ), ilahi asbahna ala fithrotil islami wa ala kalimatil ikhlasi wa alad dini nabiyyina muhammadin shollallohu alaihi wa sallam wa ala millati abina ibrohima hanifam musliman wa maa kana minal musyrikin,allohumma inna nas’aluka lisanan dzakiron wa qolban syakiron wa badanan shobiron wa zaujatan tu’inuna fid dunya wal akhiroh wa na’udzu bika ya robbana min waladi yakunu alaina sayyidan wa min imro’atin tusyayyibuna qobla waqtil masyib wa min mali yakunu adzaban lana wa wabalan alaina wa min jaarin in ro’aa minna hasanatan katamaha wa in ro’aa minna sayyiatan afsyaha taqobbal minna aqiqotana,robbana bi rohmatika yaa arhamarrohimin ”.

Catatan. A. Khuntsa adalah orang yang mempunyai dua alat kelamin. khuntsa dibagi menjadi dua :

1. khuntsa musykil. yaitu orang yang mempunyai dua alat kelamin dan berfungsi semuanya. 2. khuntsa ghoiru musykil. yaitu orang yang mempunyai dua alat kelamin dan hanya satu yang berfungsi.

 

B. Nama-nama yang baik.

Disunnahkan memberi nama yang baik pada bayi karena ada hadis.” sesungguhnya di hari kiamat kalian akan di panggil dengan nama kalian dan nama ayah-ayah kalian,maka perbaguslah nama kalian ”.

Dan nama yang paling afdhol adalah abdulloh lalu abdurrohman lalu nama-nama yang berawalan kata ” abdu ” dan yang bersandar pada nama alloh,lalu muhammad,lalu ahmad karena ada hadis,” nama yang paling disukai oleh alloh adalah abdulloh dan abdurrohman ” (HR. Muslim). dan juga hadis,” sebaik-baik nama adalah yang berawalan abdu lalu muhammad ”. Ibnu abbas berkata : ketika hari kiamat akan ada seorang malaikat yang memaggil-manggil,” hendaklah berdiri dari kalian,orang yang bernama muhammad,lalu masuklah ke surga karena kemuliaan rosululoh ”.

Jadi memberi nama dengan nama muhammad itu sunnah. dan tidak di makruhkan menggunakan nama para nabi atau malaikat. diriwayatkan : ketika hari kiamat, alloh mengeluarkan ahli tauhid dari neraka dan yang pertama kali di keluarkan adalah yang namanya menyamai nama nabi ”.