Ibnu Rusyd

 Ibnu Rusyd (Ibnu Rushdi, Ibnu Rusyid, 1126Marrakesh, Maroko, 10 Desember 1198) dalam bahasa Arab ابن رشد dan dalam bahasa Latin Averroes, adalah seorang filsuf dari Spanyol (Andalusia).

Ikhtisar

Abu Walid Muhammad bin Rusyd lahir di Kordoba (Spanyol) pada tahun 520 Hijriah (1128 Masehi). Ayah dan kakek Ibnu Rusyd adalah hakim-hakim terkenal pada masanya. Ibnu Rusyd kecil sendiri adalah seorang anak yang mempunyai banyak minat dan talenta. Dia mendalami banyak ilmu, seperti kedokteran, hukum, matematika, dan filsafat. Ibnu Rusyd mendalami filsafat dari Abu Ja’far Harun dan Ibnu Baja.

Ibnu Rusyd adalah seorang jenius yang berasal dari Andalusia dengan pengetahuan ensiklopedik. Masa hidupnya sebagian besar diberikan untuk mengabdi sebagai “Kadi” (hakim) dan fisikawan. Di dunia barat, Ibnu Rusyd dikenal sebagai Averroes dan komentator terbesar atas filsafat Aristoteles yang memengaruhi filsafat Kristen di abad pertengahan, termasuk pemikir semacam St. Thomas Aquinas. Banyak orang mendatangi Ibnu Rusyd untuk mengkonsultasikan masalah kedokteran dan masalah hukum.

Pemikiran Ibnu Rusyd

Karya-karya Ibnu Rusyd meliputi bidang filsafat, kedokteran dan fikih dalam bentuk karangan, ulasan, essai dan resume. Hampir semua karya-karya Ibnu Rusyd diterjemahkan ke dalam bahasa Latin dan Ibrani (Yahudi) sehingga kemungkinan besar karya-karya aslinya sudah tidak ada.

Filsafat Ibnu Rusyd ada dua, yaitu filsafat Ibnu Rusyd seperti yang dipahami oleh orang Eropa pada abad pertengahan; dan filsafat Ibnu Rusyd tentang akidah dan sikap keberagamaannya.

Karya

- Bidayat Al-Mujtahid (kitab ilmu fiqih)

- Kulliyaat fi At-Tib (buku kedokteran)

Ceramah Aqiqah

Assalamualaikum wr. Wb.

Hadirin jamaah rahimakumullah,

Hari ini kita berkumpul di tempat yang mulia ini dalam rangka menghadiri tasyakur bi ni’mah (aqiah) atas kelahiran anak kedua dari pasangan yang bahagia Bpk. Irfan Rasyidi dan Ibu Siti Hasanah. Kelahiran anak ini merupakan anugrah yang sangat indah yang diberikan oleh Allah swt. Yang sudah sepantasnya harus disyukuri. Banyak diantara kita yang merindukan mempunyai anak sudah bertahun-tahun berumah tangga, sudah berusaha kesana-kemari, tapi jika Allah belum menghendaki maka belum tercapai harapan itu.

Setelah kelahiran anak, dianjurkan bagi orangtua atau wali dan orang di sekitamya

melakukan hal-hal berikut:

  1.       Menyampaikan kabar gembira dan ucapan selamat atas kelahiran.
  2.       Menyerukan adzan di telinga bayi.
  3.       Tahnik (Mengolesi langit-langit mulut).
  4.       Memberi nama.
  5.       Aqiqah.
  6.       Mencukur rambut bayi dan bersedekah perak seberat timbangannya.
  7.       Khitan.

Aqiqah secara lughot (bahasa) adalah rambut yang tumbuh di kepala bayi. sedangkan secara istilah adalah binatang yang di sembelih pada hari ketujuh setelah kelahiran anak. bagi orang tua yang mampu,di sunnahkan mengerjakan aqiqah yaitu menyembelih dua kambing untuk anak laki-laki dan satu kambing untuk anak perempuan.

وَعَنْ سَمُرَةَ رضي الله عنه أَنَّ رَسُولَ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ: ( كُلُّ غُلَامٍ مُرْتَهَنٌ بِعَقِيقَتِهِ, تُذْبَحُ عَنْهُ يَوْمَ سَابِعِهِ, وَيُحْلَقُ, وَيُسَمَّى ) رَوَاهُ اَلْخَمْسَةُ, وَصَحَّحَهُ اَلتِّرْمِذِيّ

Dari Samurah Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Setiap anak tergadaikan dengan aqiqahnya; ia disembelih hari ketujuh (dari kelahirannya), dicukur, dan diberi nama.” Riwayat Ahmad dan Imam Empat. Hadits shahih menurut Tirmidzi.

عَنِ اِبْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا; ( أَنَّ اَلنَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم عَقَّ عَنْ اَلْحَسَنِ وَالْحُسَيْنِ كَبْشًا كَبْشًا )  رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ, وَصَحَّحَهُ اِبْنُ خُزَيْمَةَ, وَابْنُ اَلْجَارُودِ, وَعَبْدُ اَلْحَقّ ِ لَكِنْ رَجَّحَ أَبُو حَاتِمٍ إِرْسَالَه ُ

وَأَخْرَجَ اِبْنُ حِبَّانَ مِنْ حَدِيثِ أَنَسٍ نَحْوَه ُ

Dari Ibnu Abbas Radliyallaahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam beraqiqah untuk Hasan dan Husein masing-masing seekor kambing kibas. Riwayat Abu Dawud. Hadits shahih menurut Ibnu Khuzaimah, Ibnu al-Jarud, dan Abdul Haq, namun Abu Hatim lebih menilainya hadits mursal.

Ibnu Hibban juga meriwayatkan hadits serupa dari Anas.

Di antara sunnah aqiqah adalah bersedekah perak seberat timbangan rambut bayi yang dicukur. Ini adalah pendapat mayoritas ulama. Mereka berdalil dengan perintahnya Rasulullah صلى الله عليه وسلم kepada Fathimah untuk melakukan hal tersebut ketika melakukan aqiqah untuk Al Hasan dan Al Husain. Hadits ini adalah hadits hasan karena banyaknya jalur periwayatan hadits ini.

Mencukur rambut bayi dapat memperkuat kepala, membuka pori-pori di samping memperkuat indera penglihatan, pendengaran dan penciuman.

Disunnahkan memberi nama yang baik pada bayi karena ada hadis.” sesungguhnya di hari kiamat kalian akan di panggil dengan nama kalian dan nama ayah-ayah kalian,maka perbaguslah nama kalian ”.

Diantara hikmah aqiqah adalah :

  1.       sebagai ungkapan rasa syukur dengan telah dianugerahkannya anak dan karunia kepada kita, yang merupakan nikmat yang telah diberikan Allah SWT.
  2.       Sebagai wasilah (perantara) untuk memohon kepada Allah agar anak yang baru lahir itu dijaga dan dibimbing kepada jalan yang diridhoi-Nya.
  3.       Sebagai sarana mempererat dan menguatkan ta;i silahturahmi baik diantara keluarga, tetangga, saudara maupun bagi kerabat dan juga sahabat.

Sebagai sarana menjalin ikatan sosial, antara lain dengan fakir miskin dan anak
yatim.

Aqiqah

1. Pengertian Aqiqah. Aqiqah secara lughot (bahasa) adalah rambut yang tumbuh di kepala bayi. sedangkan secara istilah adalah binatang yang di sembelih pada hari ketujuh setelah kelahiran anak. bagi orang tua yang mampu,di sunnahkan mengerjakan aqiqah yaitu menyembelih dua kambing untuk anak laki-laki dan satu kambing untuk anak perempuan.

Adapun untuk khuntsa (wandu : jawa), maka menyembelih dua kambing,menurut qoul mu’tamad (qoul yang bisa di jadikan pedoman). Hikmah dibalik syari’at aqiqah adalah menunjukkan kebahagian dan mengungkapkan rasa syukur atas kelahiran anak sekaligus mengenalkan nasab (garis keturunan) yaitu dengan memberikan nama pada anak tersebut.

 

2. Hukum dan waktu aqiqah.

Dalam hadis yang diriwayatkan oleh imam ahmad dan imam empat di sebutkan ; sesungguhnya rosululloh bersabda,” setiap anak itu di gadai kan dengan aqiqahnya, pada hari ketujuh kelahirannya aqiqah disembelih ,rambutnya di cukur dan diberi nama ”.

Bagi orang tua atau orang yang menanggung nafkahnya,apabila mampu maka disunnahkan menyembelih kambing sebagai ungkapan rasa syukur kepada alloh. Begitu pentingnya nilai aqiqah, sampai imam ahmad bin hanbal berkata : orang tua yang mampu ber-aqiqah tetapi tidak melaksanakannya, maka pada hari kiamat, dia tidak berhak mendapat syafa’at dari anak tersebut.

Waktu aqiqah adalah sejak kelahiran anak,yang lebih utama adalah hari ketujuh dan tidak ada batas akhir untuk menjalankan aqiqah. Sehingga apabila anak yang dilahirkan sudah meninggal atau sudah dewasa,tetap di sunnahkan melakukan aqiqah,akan tetapi jika anak tersebut sudah dewasa,di sunnahkan menjalankan aqiqah untuk dirinya sendiri.

Hukum asal aqiqah adalah sunnah,kecuali jika di nadzar kan maka hukumnya menjadi wajib seperti halnya qurban. Orang yang ber aqiqah dan orang yang di tanggung nafkahnya,boleh makan daging aqiqah sunnah dan tidak boleh makan daging aqiqah wajib. Waktu yang afdhol menyembelih aqiqah adalah ketika terbitnya matahari,dan yang lebih afdhol yaitu ketika mencukur rambut bayi tersebut.

 

Tentang menyembelih hewan ternak (aqiqah) untuk anak
“Dari Ibnu Abbas r.a., sesungguhnya rasulullah s.a.w. mengaqiqahkan (cucunya) Hasan dan Husein dengan masing-masing dua kambing” HR. Abu Dawud
==============================================

“Dari Aisyah r.a., sesungguhnya rasulullah s.a.w. memerintahkan kepada para sahabat untuk mengaqiqahkan anak laki-lakinya dengan dua kambing yang besar dan anak perempuan satu kambing” HR. al-Tirmidzi, dan menurutnya hadis ini shahih.
==============================================

“Dari Amr bin Syu’aib, dari bapaknya, dari kakeknya, radhiallahu anhum, ketika ditanya tentang aqiqah, rasulullah s.a.w. menjawab: Allah SWT tidak menyukai kata aqiqah (seakan beliau tidak suka menyebut istilah tersebut), beliau melanjutkan: siapa yang mempunyai anak dan ingin mendapatkan pahala, maka lakukanlah (aqiqah tersebut), bagi anak laki-laki dua ekor kambing dan bagi anak perempuan satu ekor kambing” HR. Abu Dawud

 

3. Syarat binatang aqiqah.

Jenis binatang yang di gunakan untuk aqiqah adalah kambing,tetapi bisa juga dengan sapi atau onta badanah ( jenis onta ) seperti halnya hewan qurban. Hewan yang digunakan beraqiqah disyaratkan sudah tanggal gigi depannya ( poel : jawa ), sehat dan tidak cacat yang bisa mengurangi daging atau menyebabkan kurus yaitu :

A. tidak buta sebelah dengan parah.

B. tidak pincang dengan parah.

C. tidak sakit parah.

D. tidak sangat kurus.

E. tidak gila.

F. tidak kudisan.

G. tidak terputus total atau terpotong sebagian anggota tubuhnya.

Dalam hadis yang diriwayatkan Aisyah R.A disebutkan,” rosululloh menyuruh kami untuk beraqiqah bagi anak laki-laki dengan dua kambing serta bagi anak perempuan dengan satu kambing ”.

Artinya,batas minimal sempurna aqiqah untuk anak perempuan adalah satu kambing dan untuk anak laki-laki adalah dua kambing. Tetapi jika hanya untuk mendapatkan aslus sunnah,maka cukup satu kambing saja bagi anak laki-laki,karena rosululloh mengerjakan aqiqah untuk sayyidina husein dengan satu kambing gibas dan untuk sayyidina hasan dengan satu kambing gibas juga.

 

4. Tata cara aqiqah.

Agar makna dan nilai yang terkandung dalam walimah aqiqah sempurna,maka perlu diperhatikan beberapa aturan dan sunnah-sunnahnya :

A. walimah aqiqah dan pemberian nama sebaiknya dilaksanakan pada hari ketujuh sejak hari kelahiran anak,namun aqiqah tetap sunnah dilakukan pada waktu sebelum atau sesudahnya hari ketujuh.

B. pada saat menyembelih hewan aqiqah,sunnah membaca doa,” bismillahi wallohu abar,allohumma hadza minka wa ilaika,allohumma hadzihi aqiqotu…..( disebutkan nama anak yang di aqiqahi ).

C. hewan aqiqah dipotong persendiannya,tidak dengan memecahkan atau memutus tulangnya.

D. dagingnya dimasak dengan rasa manis,kecuali kaki kanannya. untuk kaki kanannya disodaqohkan kepada kabilah ( bidan atau orang yang membantu persalinan ).

E. daging yang sudah dimasak,disodaqohkan kepada faqir miskin yang muslim dan hendaknya makanan itu diantarkan kepada mereka,tidak dengan mengundang mereka. juga tidak diperbolehkan menjual daging aqiqah,bahkan kulitnya saja tidak boleh walaupun aqiqahnya adalah aqiqah sunnah.

F. memotong rambut anak yang di aqiqahi.

G. bersodaqoh emas atau perak sesuai dengan beratnya rambut yang di potong.

H. membacakan adzan di telinga kanan dan iqomah di telinga kiri.

I. menyuapi ( nyeta’i : jawa ) mulutnya dengan kurma kering yang sudah di haluskan ( dikunyah ),jika tidak ada kurma kering,maka dengan kurma basah,jika tidak ada,maka dengan makanan apa saja yang manis.

J. membaca doa aqiqah, ” bismillahirrohmanirrohim,allohumma robbi inna hadzihi aqiqotu….( sebutkan nama anak yang di aqiqahi ),dammuha bi dammihi wa lahmuha bi lahmihi wa adzmuha bi adzmihi wa jilduha bi jildihi wa sya’ruha bi sya’rihi,allohumma ij’alha fida’a….( sebutkan nama anak yang di aqiqahi ) minan nar ”.

K. membaca doa pada waktu pemberian nama terhadap bayi,” bismillahirrohmanirrohim,allohumma inna nas’aluka salamatan fid dunya wad dini waz ziyadata wal barokata fil ilmi warzuqil marzuqin,allohumma qod ‘allamta adamal asma’a kullaha wa qod amarona nabiyyuka muhammadun shollallohu alaihi wa sallam bi ihsaniha faha nahnu nusamma hadzal walada bismi yunasibu hadzal balada….( sebutkan nama anak ), ilahi asbahna ala fithrotil islami wa ala kalimatil ikhlasi wa alad dini nabiyyina muhammadin shollallohu alaihi wa sallam wa ala millati abina ibrohima hanifam musliman wa maa kana minal musyrikin,allohumma inna nas’aluka lisanan dzakiron wa qolban syakiron wa badanan shobiron wa zaujatan tu’inuna fid dunya wal akhiroh wa na’udzu bika ya robbana min waladi yakunu alaina sayyidan wa min imro’atin tusyayyibuna qobla waqtil masyib wa min mali yakunu adzaban lana wa wabalan alaina wa min jaarin in ro’aa minna hasanatan katamaha wa in ro’aa minna sayyiatan afsyaha taqobbal minna aqiqotana,robbana bi rohmatika yaa arhamarrohimin ”.

Catatan. A. Khuntsa adalah orang yang mempunyai dua alat kelamin. khuntsa dibagi menjadi dua :

1. khuntsa musykil. yaitu orang yang mempunyai dua alat kelamin dan berfungsi semuanya. 2. khuntsa ghoiru musykil. yaitu orang yang mempunyai dua alat kelamin dan hanya satu yang berfungsi.

 

B. Nama-nama yang baik.

Disunnahkan memberi nama yang baik pada bayi karena ada hadis.” sesungguhnya di hari kiamat kalian akan di panggil dengan nama kalian dan nama ayah-ayah kalian,maka perbaguslah nama kalian ”.

Dan nama yang paling afdhol adalah abdulloh lalu abdurrohman lalu nama-nama yang berawalan kata ” abdu ” dan yang bersandar pada nama alloh,lalu muhammad,lalu ahmad karena ada hadis,” nama yang paling disukai oleh alloh adalah abdulloh dan abdurrohman ” (HR. Muslim). dan juga hadis,” sebaik-baik nama adalah yang berawalan abdu lalu muhammad ”. Ibnu abbas berkata : ketika hari kiamat akan ada seorang malaikat yang memaggil-manggil,” hendaklah berdiri dari kalian,orang yang bernama muhammad,lalu masuklah ke surga karena kemuliaan rosululoh ”.

Jadi memberi nama dengan nama muhammad itu sunnah. dan tidak di makruhkan menggunakan nama para nabi atau malaikat. diriwayatkan : ketika hari kiamat, alloh mengeluarkan ahli tauhid dari neraka dan yang pertama kali di keluarkan adalah yang namanya menyamai nama nabi ”.

AQIDAH AKHLAK DAN PEMBELAJARAN DI SMK

BAB I

PENDAHULUAN 

Aqidah dan akhlak dalam ajaran islam merupakan pangkal utama dalam menumbuhkan keyakinan manusia kepada Tuahnnya dan mengatur tata kehidupan di dunia, serta sebagai bekal di akhirat kelak. Dalam pembelajaran pada tingkat sekolah, aqidah akhlak merupakan dasar pengetahuan kognitif yang sarat dengan pembentukan dan pengembangan kearah afeksi siswa. Dalam hal ini siswa tidak dijejali pengetahuan belaka, tetapi bagaimana siswa mampu meyakini dan menerapkannya dalam kehidupan.

Menurut Ahmad Tafsir [1] persoalan bangsa ini hanya masalah akhlak sebanarnya, pendidikan di Indonesia kebanyakan hanya berkisar pada pengetahuan kognitif saja (pinter Matematika, IPA, Bahasa Inggris) sedangkan akhlaknya tidak begitu diperhatikan. Memang ada yang memperhatikan tetapi hanya sedikit.

Kemudian dalam kesempatan lain; beliau juga mengemukakan; salah satu ketidak berhasilan pendidikan, karena tujuan yang tidak jelas. [2] Tujuan utama dalam pendidikan agar lebih diarahkan kepada pembentukan akhlak mulia. Apapun materi dan pembelajarannya penanaman akhlak hendaknya menjadi nomor satu. Aqidah yang mengakar menjadi pondasi dan akhlak yang mendasar menjadi prestasi.

Dengan anggapan tersebut penulis berkeyakinan, pembelajaran aqidah akhlak, harus diatur sedemikian rupa untuk dapat menghasilkan produk yang baik. Produk yang baik bukan hanya secara pengatahuan saja akan tetapi secara aplikasi dilapangan juga baik.

Untuk menumbuhkan keyakinan pada setiap siswa, semestinya harus didahului dengan pengetahuan siswa tentang materi yang akan diajarkan. Pertanyaannya adalah, bagaimana siswa yakin akan sesuatu kalau mereka tidak mengetahui tentang sesuatu itu? Dasar pengetahuan inilah yang mesti dipupuk pada benak dan diri siswa, agar tumbuh kesadaran betapa pentingnya keyakinan kepada Allah sebagai Tuhannya. Keasadaran itu akan berimbas pada keteraturan hidup secara individual maupun kelompok. Dengan kata lain keyakinan – melalui akidah – seseorang dapat dibimbing kearah pembentukan akhlaq al-karimah dalam menjalankan roda kehidupan.

Berangkat dari asumsi yang sangat mendasar tersebut, dalam makalah ini penulis masuk ke tataran kajian model pembelajaran akidah akhlak, analitik, kritik dan solusi. Dengan permasalahan; Bagaimana kajian model pembelajaran yang cocok untuk pembelajaran aqidah akhlak di tungkat SMK? Bagimana keberadaan materi, Standar Kompetensi (SK), Kompetensi Dasar (KD) , dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dibuat? Bagaimana solusi yang diberikan untuk kemajuan pada masa yang akan datang. Untuk menjawab semua masalah tersebut akan penulis paparkan dalam keterbatasan makalah ini.

BAB II

AQIDAH AKHLAK DAN PEMBELAJARAN DI SMK

  1. Kajian Model Pembelajaran

Materi dan model pembelajaran dirancang dan disesuaikan dengan perkembangan peserta didik. Mulai dari siswa sekolah dasar sampai dengan siswa sekolah menengah atas harus dapat dibedakan, baik isi atau pendalaman materinya. Dalam hal ini materi Aqidah Akhlak [3] diberikan pada siswa Sekolah Dasar sampai siswa sekolah Menengah Pertama (SMP) dan siswa Sekolah Menengah Atas (SMA) serta siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK).

Dengan keadaan yang demikian maka perlu kiranya materi pembelajaran Aqidah Akhlak dibahas secara lugas, kolaboratif dan menarik serta didesain dalam bentuk yang baik. Memang materi Aqidah Akhlak begitu menarik jika disajikan, namun akan bergantung kepada pembawaan gurunya. Untuk lebih menarik lagi, maka guru diharuskan memiliki rancangan model pembalajaran yang mumpuni dan dapat menarik perhatian seluruh siswa.

Bahkan tidak hanya itu, siswa dibawa kearah pentingnya penguatan aqidah dan pembentukan akhlak yang mulia bagi makhluk sosial seperti manusia. Kemudian para siswa mampu menjauhi hal-hal yang tidak diinginkan seperti; dekademsi moral, pergaulan bebas, perzinahan, prostitusi dan penyakit-penyakit yang menimpa manusia sebagai makhluk yang berbudi luhur. Maka materi pembelajaran Aqidah Akhlak itu tidak sekedar memberikan pengetahuan kognitif saja, akan tetapi lebih mengarah kepada perenungan dan perubahan sikap. Permasalahan yang menimpa manusia pada tataran dekadensi moral, baik bagi dirinya, keluarganya maupun orang lain hendaknya diperbaiki melalui kesadaran yang mendalam ketimbang sekedar pengetahuan kognitif. Siswa akan penuh dengan pertanyaan bagaimana kalau manusia memiliki akhlak yang mulia dan  bagaimana kalau manusia tidak memiliki akhlak yang mulia yang diatur oleh agama.

Kejadian yang diluar batas kewajaran yang menimpa usia dini, remaja dan bahkan orang tua semestinya dapat diminimalisir bahkan dihilangkan dengan pemberian pengetahuan afeksi yang kental dengan nilai keagamaan. Rancangan atau design pembelajaran yang dimaksud penulis, kiranya dapat mengarah kesana – kearah penguatan aqidah dan perbaikan akhlak – dengan harapan siswa menjauhi perbuatan yang merusak moral tersebut.

Kengerian yang menimpa sebagian orang, dalam dekadensi moral telah terbukti dengan data hasil penelitian, yang dikutip oleh  Syamsu Yusuf LN. Hal ini sengaja penulis kemukakan sebagai ‘ibrah betapa pentingnya pembelajaran aqidah akhlak yang dirancang dengan baik untuk mengubah perilaku negative.

Khusus mengenai dekadensi moral dalam kaitannya denga  perzinahan (free sex) dikalangan remaja (di Negara-negara barat), Majalah Time (Pikiran Rakyat, 29 Januari 1995) memberikan tentang gejala aborsi (pengguguran kandungan) sebagai berikut : [4]

No.

Negara

Remaja Yang melakukan Aborsi

1

2

3

4

5

Perancis

Inggris

Kanada

Swedia

Belanda

180 dari 450

175 dari 450

180 dari 450

210 dari 320

50 dari 150

Dadang Hawari (Hikmah, Minggu 2 Oktober 1994) mengemukakan tentang kehidupan remaja Amerika dalam “free sex”, penyakit kelamin dan hamil diluar nikah sebagai berikut : [5]

Free Sex

Sakit Kelamin

Hamil

Prostitusi

7 dari 19 wanita

8 dari 10 pria

2,5 – 5 juta

1 dari 10

125.000

200.000

Di Indonesia beberapa penelitian serupa telah juga dilakukan, yang hasilnya adlah sebagai berikut : [6]

Peneliti

Responden

%

DR. Sarlito WS

Majalah Editor

800 remaja

100 remaja

80

40

Data ini diambil oleh para peneliti sekitar tahun 1994-1995, bagaimana tahun 2010 mungkin harus ada penelitian ulang. Data bisa lebih meningkat dari yang ada. Atau mungkin juga menurun – harus dibuktikan.

Sekali lagi gambaran ini penulis kemukakan untuk menegaskan bahwa pembelajaran Aqidah Akhlak di tingkat Sekolah Menengah hendaknya bukan sekedar pengetahuan kognitif saja, tetapi lebih mengarah kepada aplikasi dan kesadaran individu dan kelompok agar dapat menghindari perbuatan negative.       Pembelajarannya dirancang kedalam model yang menuntut siswa untuk berfikir kreatif positif dengan menekankan kepada psikologi sosial kemasyarakatan. Karena masalah Aqidah Akhlak menyangkut juga masalah individual dan sosial maka, model pembelajaran ini penulis arahkan kepada Model Pembelajaran Kooperatif (Cooperative Larning).

Model Pembelajaran Kooperatif (Cooperative learning) didasari atas falsafah; (1) manusia sebagai makhluk sosial, (2) gotong royong, (3) kerjasama merupakan kebutuhan penting bagi kehidupan manusia. [7] Karena model pembelajaran kooperatif didalamnya terdapat kerja sama, gotong royong sebagai sifat sosial manusia, maka diharapkan ada saling mengisi dan curhat antara satu siswa dengan siswa yang lain, sekalipun masalah pribadi. Tingkat sosial seseorang dapat teruji dengan baik, manakala mampu bekerja sama aktif dalam pembelajaran.

Mendesain model pembelajaran memang tidak semudah yang dibayangkan, “…yang pasti bahwa metode pengajaran adalah sebuah hasil ijtihad yang sifatnya dinamis dan dapat berkembang setiap saat sesuai dengan situasi dan kondisi yang sesungguhnya”. [8]  Namun yang pasti dalam hal ini diperlukan kelihaian guru sebagai pasilitator dalam pembelajaran. Rasa sosial siswa perlu ditumbuh suburkan dengan penuh tanggungjawab.

“Salah satu pengembangan tanggungjawab sosial ini tampak melalui kompetensi dan kepiawaian guru dalam mengelola kelas, membangun tim belajar dalam kelas dan menciptakan suasana pembelajaran bersama yang saling mendukung proses belajar. Guru mesti mampu mempercayai anak didik. Mereka memiliki kemampuan lebih untuk menjadi tutor dari rekan mereka, membuat kelompok belajar dan mendiskusikan bersma-sama persoalan yang dihadapi. Dengan demikian, guru bersama dengan para siswa berusaha mengembangkan tanggungjawab sosial dalam lingkungan akademis disekolah. Sikap terbuka dan dialogis merupakan syarat mutlak bagi pengembangan rasa tanggungjawab sosial ini”. [9]

Model Pembelajaran Kooperatif (cooperative learning) dalam materi Aqidah Akhlak diaharapkan akan mampu menjawab persoalan sosial kemasyarakatan, sekaligus mencegah perlakuan individu yang bersifat negative yang menimpa manusia masa kini.

Selanjutnya apa yang dimaksud dengan pembelajaran kooperatif itu? Yatim Riyanto bahwa; “Pembelajaran kooperatif adalah model pembelajaran yang dirancang untuk membelajarkan kecakapan akademik (academic skill), sekaligus keterampilan sosial (social skill) termasuk interpersonal skill”. [10]

Selanjutnya Abuddin Nata menyebutkan bahwa; “Model pembelajaran cooperative learning adalah model pembalajaran yang terjadi sebagai akibat dari adanya pendekatan pembelajaran yang bersifat kelompok”. [11]

Menurut Kokom Komalasari, yang dikutif dari Slavin (1984) “Pembelajaran kooperatif adalah suatu strategi pembelajaran dimana siswa belajar dan bekerja dalam kelompok-kelompok kecil secara kolaboratif yang anggotanya terdiri dari 2 sampai 5 orang, dengan struktur kelompoknya yang bersifat heterogen. Keberhasilan belajar dari kelompok tergantung pada kemampuan dan aktifitas anggota kelompok, baik secara individual maupun kelompok”. [12]

Model pembelajaran kooperatif ini akan penulis aplikasikan dalam pembelajaran Akhlak. Untuk lebih konkritnya langkah-langkah dalam penerapan model pembelajaran kooperatif adalah berikut ini :

Langkah-langkah pembelajaran kooperatif. [13]

Fase

Tingkah Laku Guru

Fase 1

Menyampaikan tujuan dan motivasi siswa

Guru menyampaikan semua tujuan pelajaran yang ingin dicapai pada pelajaran tersebut dan memotivasi siswa belajar

Fase 2

Menyajikan informasi

Guru menyajikan informasi kepada siswa dengan jalan demonstrasi atau lewat bahan bacaan

Fase 3

Mengorganisasikan siswa kedalam kelompok kooperatif

Guru menjelaskan kepada siswa bagaimana caranya membentuk kelompok belajar dan membantu setiap kelompok agar melakukan transisi secara efisien

Fase 4

Membimbing kelompok bekerja dan belajar

Guru membimbing kelompok-kelompok belajar pada saat mereka mengerjakan tugas

Fase 5

Evaluasi

Guru mengevaluasi hasil belajar tentang materi yang telah dipelajari atau masing-masing kelompok mempresentasikan hasil kerjanya

Fase 6

Memberikan penghargaan

Guru mencari cara-cara untuk menghargai baik upaya maupun hasil belajar individu dan kelompok

Dalam pembelajaran kooperatif, sebenarnya tidak hanya langkah-langkah yang dibicarakan, tetapi ada metode pembantu secara spesipik mengarah kepada pelaksanaan penyajian materi pelajaran. Namun ada yang menyebutnya dengan variasi pembelajaran kooperatif. Untuk sekedar pengetahuan metode pembantu tersebut penulis kemukakan berikut ini : [14]

1.      Student Teams Achievement Division (STAD)

2.      Tim Ahli (Jigsaw)

3.      Investigasi kelompok (Group Investigation)

4.      Think Pair Share (TPS)

5.      Numbered Head Together (NHT)

6.      Team Games Tournament (TGT)

Masih dalam model pembelajaran kooperatif dengan dasar konstruktivism, yaitu; Pembelajaran kontekstual atau Contextual Teaching and Learning yang sering dikenal dengan istilah CTL. CTL merupakan konsep yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata dan mendorong peserta didik membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat. [15]

Selanjutnya Agus menyebutkan, ada 7 komponen pembelajaran kontekstual yaitu konstruktivisme, inkuiri, bertanya (questioning), masyarakat belajar (learning community), pemodelan (modelling), refleksi, dan penilaian autentik.

Atas dasar itu, saran pokok dalam penyusunan program pembelajaran berbasis kontekstual adalah sebagai beriku : [16]

  1. Nyatakan kegiatan utama pembelajarannya, yaitu sebuah pernyataan kegiatan siswa yang merupakan gabungan antara kompetensi dasar, materi pokok, dan indikator pencapaian hasil belajar
  2. Nyatakan tujuan umum pembelajarannya
  3. Rincilah media untuk mendukung kegiatan itu
  4. Buatlah scenario tahap demi tahap kegiatan siswa
  5. Nyatakan authentic assesment-nya yaitu dengan data apa siswa dapat diamati partisipasinya dalam pembelajaran.

Model CTL ini penulis aplikasikan dalam materi pembelajaran aqidah. Sebab untuk sebuah keyakinan dan kesadaran diri, siswa dituntut untuk menyaksikan data yang nyata dihadapannya. Misalkan dengan dengan adanya pahala berupa kebaikan dalam hidup yang diperoleh selama ini. Atau dengan bentuk ujian yang Allah berikan kepada dirinya. Seperti sakit, kekuarangan rizki, kemiskinan, dan lain-lain.

  1. Analisis Dan Kritik

Pembelajaran Aqidah Akhlaq di tingkat SMK ini penulis akan menyajikan empat hal yang kiranya perlu dianalisa. Empat hal tersebut antara lain : SK-KD , silabus, RPP dan materi pelajaran aqidah-akhlak SMK dari kelas X sampai kelas XII.

1.      Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar mata pelajaran Aqidah-Akhlak tingkat SMK  [17]

Kelas X, Semester 1

STANDAR KOMPETENSI

KOMPETENSI DASAR

3.       Keimanan kepada Allah melalui pemahaman sifat-sifatNya dalam Asmaul Husna 3.1  Menyebutkan 10 sifat Allah  dalam Asmaul  Husna

3.2  Menjelaskan arti  10 sifat Allah dalam Asmaul  Husna

3.3  Menampilkan perilaku yang mencerminkan keimanan terhadap 10 sifat Allah dalam Asmaul  Husna4.    Membiasakan perilaku terpuji4.1   Menyebutkan pengertian perilaku  husnuzhan.

4.2   Menyebutkan contoh-contoh  perilaku husnuzhan terhadap Allah, diri sendiri dan sesama manusia

4.3  Membiasakan perilaku husnuzhan dalam kehidupan sehari-hari

Kelas X, Semester 2

STANDAR KOMPETENSI

KOMPETENSI DASAR

8. Meningkatkan keimanan kepada Malaikat. 8.1  Menjelaskan tanda-tanda beriman kepada Malaikat

8.2  Menampilkan contoh-contoh perilaku beriman kepada Malaikat

8.3  Menampilkan perilaku sebagai cerminan beriman kepada Malaikat dalam kehidupan sehari-hari9.    Membiasakan perilaku terpuji9.1   Menjelaskan pengertian adab dalam berpakaian, berhias, perjalanan, bertamu dan atau menerima tamu.

9.2   Menampilkan contoh-contoh adab dalam berpakaian, berhias, perjalanan, bertamu atau menerima tamu.

9.3  Mempraktikkan adab dalam berpakaian, berhias, perjalanan, bertamu dan atau menerima tamu dalam kehidupan sehari-hari10.   Menghindari perilaku tercela10.1Menjelaskan pengertian hasud riya dan aniaya.

10.2Menampilkan contoh-contoh perilaku hasud riya dan aniaya.

10.3Menghindari perilaku hasud    riya dan aniaya dalam kehidupan sehari-hari

Kelas XI, Semester 1

STANDAR KOMPETENSI

KOMPETENSI DASAR

3. Meningkatkan keimanan kepada Rasul-

rasul Allah.3.1  Menjelaskan tanda-tanda beriman kepada Rasul-rasul Allah

3.2  Menunjukkan contoh-contoh perilaku beriman kepada Rasul-rasul Allah

3.3. Menampilkan perilaku yang mencerminkan  keimanan kepada Rasul-rasul Allah dalam kehidupan sehari-hari9.       Membiasakan berperilaku terpuji4.1  Menjelaskan pengertian  taubat dan raja`.

4.2  Menampilkan contoh-contoh perilaku taubat dan raja`.

4.3  Membiasakan perilaku bertaubat dan  raja` dalam kehidupan sehari hari

Kelas XI Semester 2

STANDAR KOMPETENSI

KOMPETENSI DASAR

           8. Meningkatkan keimanan kepada Kitab-

kitab Allah.8.1   Menampilkan perilaku yang mencerminkan keimanan terhadap Kitab-kitab Allah

8.2   Menerapkan hikmah beriman kepada Kitab-kitab  Allah9.       Membiasakan perilaku terpuji9.1   Menjelaskan pengertian dan maksud  menghargai karya orang lain.

9.2   Menampilkan contoh  perilaku menghargai karya orang lain.

9.3   Membiasakan perilaku menghargai karya orang lain dalam kehidupan sehari-hari10.   Menghindari perilaku tercela10.1Menjelaskan pengertian Dosa besar.

10.2Menyebutkan contoh perbuatan dosa besar.

10.3Menghindari perbuatan dosa besar dalam kehidupan sehari-hari

Kelas XII, Semester 1

STANDAR KOMPETENSI

KOMPETENSI DASAR

3. Meningkatkan keimanan kepada hari akhir. 3.1   Menampilkan perilaku yang mencerminkan keimanan terhadap Hari Akhir

3.2   Menerapkan hikmah beriman kepada Hari Akhir

4. Membiasakan perilaku terpuji4.1   Menjelaskan pengertian adil, ridha, dan amal shaleh

4.2.  Menampilkan contoh perilaku adil, ridha, dan amal shaleh

4.3   Membiasakan perilaku adil, ridha, dan amal shaleh dalam kehidupan sehari-hari

Kelas XII Semester 2

STANDAR KOMPETENSI

KOMPETENSI DASAR   

        8. Meningkatkan keimanan kepada Qadha’ dan Qadar. 8.1   Menjelaskan tanda-tanda keimanan kepada qadha’ dan qadar

8.2   Menerapkan hikmah beriman kepada qadha’ dan qadar9.       Membiasakan perilaku terpuji9.1   Menjelaskan pengertian dan maksud persatuan dan kerukunan.

9.2   Menampilkan contoh perilaku  persatuan dan kerukunan.

9.3   Membiasakan perilaku persatuan dan kerukunan dalam kehidupan sehari-hari10.   Menghindari perilaku tercela10.1 Menjelaskan pengertian  isyrof, tabzir, ghibah, dan fitnah.

10.2 Menjelaskan contoh  perilaku  isyrof, tabzir, ghibah, dan fitnah.

10.3 Menghindari perilaku isyraf, tabzir, ghibah, dan fitnah dalam kehidupan sehari-hari

Berdasarkan analisa penulis bahwa materi pembelajaran di SMK dengan yang ada di SMA tidak jauh berbeda, baik dari kedalaman materi atau dari SK dan KD yang disediakan dalam kurikulum. Pembahasannya tidak mencerminkan perbedaan yang mendasar didunia SMA pada umumnya dengan dunia kerja yang diperuntukkan untuk siswa SMK. Meskipun secara kasar, apa yang dilakukan siswa SMA bisa juga dilakukan oleh siswa SMK. Begitupun sebaliknya.

SK dan KD untuk aqidah tetap saja membahas rukun iman yang enam. Sebenarnya materi ini telah dibahas juga pada tingkat SMP dengan runutan yang sama yaitu

1.      Pada semester I pembahasan Iman kepada Alloh

2.      Pada semester II pembahasan Iman kepada Malaikat Alloh

3.      Pada semester III pembahasan Iman kepada Kitab Alloh

4.      Pada semester IV pembahasan Iman kepada Rasul Alloh

5.      Pada semester V pembahasan Iman kepada Hari Kiamat Alloh

6.      Pada semester VI pembahasan Iman kepada Qodla dan Qadar Alloh

Urutan rukun iman itu penulis kemukakan sesuai dengan yang tertera dalam al-Qur’an dan hadits Nabi SAW.

Urutan dalam al-Qur’an adalah : [18]

Rasul telah beriman kepada Al Quran yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (mereka mengatakan): “Kami tidak membeda-bedakan antara seseorangpun (dengan yang lain) dari rasul-rasul-Nya”, dan mereka mengatakan: “Kami dengar dan Kami taat.” (mereka berdoa): “Ampunilah Kami Ya Tuhan Kami dan kepada Engkaulah tempat kembali.” (QS. Al-Baqarah : 285)

Urutan dalam al-Hadits adalah : [19]

كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يوم بارزا للناس فأتاه رجل فقال: يا رسول الله! ما الإيمان؟ قال “أن تؤمن بالله وملائكته وكتابه ولقائه ورسله وتؤمن بالبعث الآخر”

Adalah Rasulullah SAW. ketika suatu hari beliau keluar untuk menemui manusia, maka datang seorang laki-laki menemui Rasulullah SAW., laki-laki itu berkata; ya Rasulullah, apakah iman itu? Rasul berkata: Engkau beriman kepada Allah, Malaikat-Nya, Kitab-kitabnya, dan bertemu dengan Rasulnya, dan engkau beriman kepada hari kebangkitan (Hari Akhir) (HR. Muslim)

Sedangkan dalam SK-KD untuk tingkat SMK urutannya adalah :

  1. Meningkatkan keimanan kepada Alloh
  2. Meningkatkan keimanan kepada Malaikat semester II
  3. Meningkatkan keimanan kepada Rasul-rasul Allah semester III
  4. Meningkatkan keimanan kepada Kitab-kitab Alloh semester IV
  5. Meningkatkan keimanan kepada Hari Akhir semester V
  6. Meningkatkan keimanan kepada Qadla dan qadar Alloh semester VI

Terdapat penempatan urutan yang kurang tepat dalam materi aqidah, yaitu nomor empat (meningkatkan keimanan kepada Rasul) ditempatkan pada nomor tiga. Sedangkan nomor tiga (meningkatkan keimanan kepada kitab Allah) ditempatkan pada nomor empat. Kalau menurut hadits diatas seharusnya disesuaikan dengan urutan yang ada dalam al-Qur’an dan al-Hadits.

Sedangkan SK-KD untuk materi perilaku terpuji ada pengulangan pada semester dua tiap tingkatan kelas. Jadi pada semester I satu kali dan semester II satu kali. Untuk perilaku tercela hanya satu kali pada setiap semester II untuk masing-masing tingkatan kelas. Mungkin perimbangannya adalah lebih mengutamakan perilaku terpuji ketimbang membahas perilaku tercela.

  1. Silabus dan RPP

Secara prinsip penulis tidak terlalu mempermasalahkan penulisan silabus dan RPP. Karena menurut pendapat penulis seluruh silabus dan RPP adalah baik asal sesuai dengan ketentuan yang berlaku dalam pembuatannya. Oleh karenanya penulis cenderung memberikan contoh dan solusi pembuatan silabus dan RPP yang dianggap sedikit lebih mendekati aturan yang ditentukan dan disesuaikan dengan model yang dibuat. Aturan ini juga sesuai dengan Permendiknas nomor 41 tahun 2006.

  1. Solusi dan Aplikasi Model dalam RPP

Menyangkut masalah materi, hendaknya ada kerunutan pembahasan yang kontinu antara isi dengan penjelasan. Pembahasan materi pada tingkat SMK hendaknya diaplikasikan kedunia kerja. SMK merupakan sekolah kejuruan, yang sejak semester pertama sudah dipersiapkan kearah dunia kerja. Memang setiap guru yang mengajar pada SMK sudah barang tentu akan selalu mengidentikan SMK dengan dunika kerja, namun ada baiknya setiap penulis buku yang digunakan di SMK juga harus membantu kearah dunia kerja.

Kalau pembahasan kedalaman materi sama dengan SMA, penulis kira tidak ada yang aneh dari materi tersebut. Tetapi coba kita lihat tulisan pada buku daras SMK judulnya jelas “Memahami Pendidikan Agama Islam SMK untuk kelas X, Semester 1 dan 2 Semua bidang keahlian”. Pada buku daras SMA judulnya jelas ““Memahami Pendidikan Agama Islam SMA untuk kelas X, Semester 1 dan 2”. [20] Akhirnya pada gilirannya membeli buku untuk pelajaran PAI di SMA sama saja akan terpakai di SMK. Padahal yang diinginkan adalah bagaimana meramu materi di dunia SMK yang seluruh siswanya akan terjung langsung kedalam dunia kerja.

Menyangkut solusi dan aplikasi RPP kedalam model pembelajaran yang dirancang, akan lebih mengacu pada peraturan pemerintah nomor 41 tahun 2006. Sebagaimana disebutkan di atas bahwa penulis akan menggunakan model pembelajaran kooperatif dalam materi akhlaq. Sedangkan dalam materi aqidah akan digunakan model pembelajaran konstekstual.

Untuk lebih jelasnya penulis sajikan RPP yang disesuaikan dengan Permen Nomor 41 tahun 2006, dan model pembelajaran yang dikaji.

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

Mata Pelajaran              : PAI (Pendidikan Agama Islam)

Bidang                          : Akhlak

Kelas/ Semester           : XII / I

Waktu                            : 2 x 45

Standar Kompetensi    : 4.Membiasakan perilaku terpuji

Kompetensi dasar        :4.2 Menampilkan contoh perilaku adil, rida

                                            dan amal saleh

Indikator              :  1. Menampilkan contoh perilaku adil

                                2. Menampilkan contoh perilaku rida

3. Menampilkan contoh perilaku amal saleh

A.   Tujuan Pembelajaran

Melalui diskusi informasi peserta didik diharapkan:

* Dapat menampilkan berbagai macam contoh prilaku adil

* Dapat menampilkan berbagai macam contoh perilaku rida

* Dapat menampilkan berbagai macam contoh perilaku amal saleh

B.   Materi Pokok

      Menampilkan contoh perilaku adil, rida dan amal saleh

1.    Adil

Salah satu contoh dari  prilaku adil yaitu seorang pengauasa yang adil senantiasa melaksanakan tugas sesuai dengan fungsi dan           kedudukannya.

2. Rido

Salah satu contoh dari  prilaku rida yaitu ketika seseorang divonis           penyakit yang tidak bisa disembuhkan menurut dokter. Tetapi ia           menghadapinya dengan penuh keridaan, dan yakin bahwa Allah            menciptakan suatu penyakit pasti dengan obatnya, hanya saja           obatnya itu belum diketahui oleh karena keterbatasan ilmu manusia.

3. Amal saleh

Dilihat dari bentuknya contoh amal saleh ada dua macam, yaitu amal batiniah dan  amal lahiriah.

a.    Contoh amal batiniah

-       Beriman, yaitu meyakini dengan sepenuh hati akan keesaan Allah SWT, para malaikat, kitab-kitab Allah, hari akhir, serta qada dan qadar.

-       Bersabar, yaitu kuat dan tenang hati dalam menghadapi segala          Cobaan.

-       Berniat, yaitu mementukan maksud atau tujuan dilakukannya       Suatu perbuatan.

-       Bertawakal, yaitu berserah diri kepada kehendak Allah SWT.

-       Ikhlas, yaitu ketulusan hati untuk menerima segala ketetapan        Allah SWT.

b.    Contoh amal lahiriah

- Contoh amaliah lahiriah yang berupa ucapan:

1. nasihat menasihati yang baik

2. Ucapan yang baik

3. Membaca al-Qur’an

- ­Amal lahiriah yang berupa perbuatan

1. Mendirikan Shalat dan menunaikan Zakat

2.Tolong menolong dalam kebaikan

3. Berjual beli yang halal

C.   Strategi dan Metode Pembelajaran

Model                    : Cooperatif Learning/Contruktivisme

Strategi                  : Tipe =JIGSAW

Pendekatan           : Ketrampilan proses

Metode                  : Diskusi – informasi

D.   Kegiatan Pembelajaran

Fase

Kegiatan

Waktu

I

TATAP MUKA

Pendahuluan

Apersepsi:

Pengertian adil, rida , dan amal saleh.

Motivasi :

Buatlah masing-masing contoh dari pengertian adil, rida, dan amal saleh.

Guru menyampaikan tujuan pembelajaran.

5’

II

Kegiatan inti

Eksplorasi

Pembentukan kelompok Heterogen dalam prestasi, gender, etnis, dan agama.

Setiap anggota kelompok diberi tugas yang berbeda (nomor berbeda) sesuai kesepakatan dalam kelompok

Setiap anggota kelompok diberi materi yang berbeda sesuai penugasan dalam kelompoknya.

10’

III

IV

V

Elaborasi

Dalam diskusi kelompok yang dituntun dengan woksheet Anggota kelompok yang berasal dari kelompok yang berbeda tetapi memiliki no. yang sama akan berkumpul menjadi lelompok baru (kelompok ahli/ekspert)

Pembentukan kelompok ekspert.

Diskusi dalam kelompok ekspert dengan pembahasan :

Kelompok ekspert 1 :  Contoh perilaku adil.

Kelompok ekspert 2 :  Contoh perilaku rida.

Kelompok ekspert 3 :  Contoh perilaku amal saleh batiniah.

Kelompok ekspert 4 :  Contoh Perilaku amal saleh lahiriah.

Guru  berkeliling memberi bimbingan pada setiap kelompok ahli.

Setelah selesai berdiskusi dalam tim ahli anggota kelompok kembali pada kelompok asal sambil membawa materi hasil diskusi.

Dalam kelompok kecil/kelompok asal tiap anggota kelompok menjelaskan materi hasil diskusi dalam tim ahli secara bergantian.

Guru memberikan bimbingan pada tiap kelompok.

Konfirmasi

Tiap kelompok mempresentasikan hasil diskusi kelompok kecil secara bergantian dengan bimbingan pendidik.

Guru memotivasi setiap anggota kelompok agar mau berbicara dan berperan aktif.

20’

  15’

15’

 Penutup

Guru memberikan penguatan-penguatan pada materi yang dibahas.

Guru dan peserta didik membuat kesimpulan.

Guru memberikan refleksi

Guru memberikan Kuis.

Penugasan Terstruktur (PT)

Memberikan tugas membiasakan berperilaku adil, rida, dan amal saleh dalam kehidupan sehari-hari.

Menunjukan contoh kegiatan adil, rida, amal saleh, yang suka dilakukan dalam kehidupan sehari-hari oleh siswa.

25’

E.    Penilaian Authentic Assessment

Jenis Penlaian :

  • Penilaian kognitif (terlampir)
  • Penilaian afektif

F.    Alat / Bahan / Sumber belajar

  • Al-Qur’an dan terjemahn
  • A. Wahid Sy., “Memahami Pendidikan Agama Islam SMK untuk kelas XII, Semester 1 dan 2 Semua bidang keahlian” (Bandung: Armico. 2007)
  • Khuslan Haudhi dan Abdurrohim Sa’id, Integrasi budi pekerti dalam pendidikan Agama Islam 3 Untuk kelas XII SMA, (Solo: Tiga Serangkai Pustaka Mandiri.2007)

Lembar kerja siswa

Menampilkan contoh perilaku adil, rida, dan amal saleh

                                    Mata pelaajaran          : PAI

Kelas/semester          : XII/I

Waktu                         : 2 X 45 menit

Petunjuk Belajar :

a)    Baca secara cermat sebelum anda mengerjakan tugas

b)    Bekerja secara kelompok

berkumpullah anda sesuai dengan nomor pada kelompok untuk

membahas materi 1,2, 3, dan 4.

Kelompok ekspert 1   :  Contoh perilaku adil.

Kelompok ekspert 2   :  Contoh perilaku rida.

Kelompok ekspert 3   :  Contoh perilaku amal saleh batiniah

Kelompok ekspert 4   :  Contoh perilaku amal saleh lahiriah

c)    Setelah selesai diskusi pada tim ekspert kembali pada kelompok asal untuk mendiskusikan materi dalam tim ekspert

d)  Konsultasikan pada Guru  bila anda mengalami kesulitan

e)  Bacalah buku dan literatur sebanyak-banyaknya untuk

memperdalam pemahaman siswa

Kompetensi Dasar yang akan dicapai:

4.2. Menampilkan perilaku adil, rida, dan amal saleh.

Informasi

Contoh amal saleh ada dua macam yaitu amal batiniah dan amal Lahiriah

Langkah kerja

Pembelajaran bisa dilakukan/dikerjakan di dalam kelas atau perpustakaan.

- Tim ekspert 1

Pelajari dan telaah mengenai berbagai contoh perilaku adil kemudian jawab pertanyaan berikut:

  1. prilaku yang bagai mana yang mencerminkan contoh perilaku adil?
  2. Buatlah beberapa contoh prilaku tersebut!

- Tim ekspert 2

Pelajari dan telaah mengenai berbagai contoh perilaku rida  kemudian jawab pertanyaan berikut:

  1. Perilaku yang bagai mana yang mencerminkan contoh perilaku rida?
  2. Buatlah beberapa contoh perilaku tersebut?

- Tim ekspert 3

Pelajari dan telaah mengenai berbagai macam contoh perilaku amal saleh batiniah kemudian jawab pertanyaan berikut:

  1. Perilaku yang bagai mana yang mencerminkan contoh perilaku amal saleh batiniah?
  2. Butlah beberapa  contoh perilaku tersebut!

- Tim ekspert 4

Pelajari dan telaah mengenai berbagai macam contoh perilaku amal saleh lahiriah kemudian jawab pertanyaan berikut

  1. Perilaku yang bagai mana yang mencerminkan contoh perilaku amal saleh lahiriah?
  2. Butlah beberapa contoh perilaku tersebut!

Langkah kerja

-       Bekerjalah dalam tim ekspert sesuai dengan nomornya

-       Diskusikan materi yang dipelajari dalam kelompok ekspert dan jawab pertanyaan yang diberikan

-       Kembali ke kelompok asal sambil membawa/mempresentasikan hasil diskusi dalam kelompok ekspert

-       Kerjakan soal yang disediakan dalam kelompok

-       Diskusikan dalam kelompok secara keseluruhan

-       Kumpulkan hasil jawaban

Soal kuis

  1. Seorang hakim memutuskan putusan bukan berdasarkan keputusan yang benar akan tetapi berat sebelah dikarnakan adanya uang pelicin. sikap tersebut bertentangan dengan akhlak terpuji apa?
  2. Ketika ditimpa musibah sebagai  seorang muslim kita harus bersikap bagaimana?
  3. Dilihat dari bentuknya, Ada berapa macam amal saleh itu?


PENILAIAN/AUTENTIC ASESSMENT

A.    Kognitif

No

Nama

No Soal

Skor

Ket

1

2

3

4

5

Ket : Aspek yang dinilai                                                   Skor

1.    Siswa dapat memberikan contoh perilaku adil       :  25

2.    Siswa dapat memberikan contoh perilaku rida       :  25

3.    Siswa dapat memberikan contoh perilaku amal

Saleh  batiniah                                             :  25

4.    Siswa dapat memberikan contoh perilaku amal

Saleh lahiriah                                                       :  25

Jumlah              :100

B.    Afektif

No

Nama Siswa

Aspek Afektif yang dinilai

Jumlah

Kerja-sama

Membaca  referensi

Menghargai pendapat org lain

Semangat/ motivasi

Minat

Mengetahui                                                     Bandung,  Januari 2010

Kepala Sekolah                                               Guru Mata Pelajaran PAI

Asep Gema Nurohmat, SH., MM                   Drs.  S  A  L  I  M  I

NIP. 19640616 200701 1 004                    NIP. 19660517 200501 1 001

Rencana Pelaksanaan Pembelajaran

(RPP)

Nomor                                                 :  03

Status sekolah/Satuan pendidikan      : SMK Karya Budi

Bidang                                                            : Akidah

Mata Pelajaran                                    : Pendidikan Agama Islam (PAI)

Kelas/Semester                                    : XII/I

Pertemuan ke                                      : 5

Alokasi Waktu                                    : 2×45 menit (1×pertemuan)

Standar Kompetensi   : 3. Meningkatkan keimanan kepada hari akhir

Kompetensi Dasar       : 3.1 Menampilkan perilaku yang mencerminkan keimanan

kepada hari akhir

Indikator                     : 1. Menjelaskan pengertian iman kepada hari akhir

2. Menjelaskan perbedaan antara kiamat sugra dan

kiamat kubra

3. Menjelaskan hari kiamat menurut teori alam

4. Menjelaskan fase-fase kehidupan setelah hari

kiamat

5. Menjelaskan tentang surga dan neraka

I. Tujuan Pembelajaran

Melalui pembelajaran langsung dengan pengamatan kepada visualisasi slide diharapkan siswa dapat :

  1. Menjelaskan pengertian iman kepada hari akhir
  2. Menjelaskan perbedaan antara kiamat sugra dan kiamat kubra
  3. Menjelaskan hari kiamat menurut teori alam
  4. Menjelaskan fase-fase kehidupan setelah hari kiamat

II. Materi Pembelajaran

  1. Pengertian Hari Akhir

Iman Kepada Hari Akhir: mempercayai bahwa seluruh alam semesta ini dan segala isinya pada suatu saat nanti akan mengalami kehancuran dan mengakui bahwa setelah kehidupan di dunia ini ada kehidupan yang kekal abadi.

Hari Akhir disebut juga dengan Hari Kiamat.

o  Kiamat terbagi dua; kiamat sugra dan kiamat kubra.

o  Kiamat sugra adalah kiamat kecil, yaitu berakhirnya kehidupan masing-  masing makhluk.

o  Kiamat kubra adalah kiamat besar, yaitu musnahnya alam semseta serta segala isinya secara serempak atau berakhirnya seluruh kehidupan mahkluk alam ini secara  serempak.

  1. Tanda-Tanda Kiamat

Tanda-tanda Hari Kiamat diterangkan dalam hadits Rasulullah saw yang diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah, al-Bukhari, Muslim, al-Tirmidzi sbb:

No.

Tanda-Tanda Kecil

No.

Tanda-Tanda Besar

1.

Budak dikawini oleh tuannya

1.

Matahari terbut dari barat

2.

Ilmu agama dianggap sudah tidak penting

2.

Munculnya binatang ajaib yang bisa berbicara

3.

Tersebarnya perzinahan krn memperoleh izin dari penguasa

3.

Rusaknya Ka’bah

4.

Minuman keras merajalela

4.

Lenyapnya al-Qur’an

5.

Jumlah wanita lebih banyak daripada laki-laki (50:1)

5.

Seluruh manusia menjadi kafir

6.

Ada dua golongan besar yang saling membunuh, tetapi sama mengaku dirinya memperjuangkan agama Islam

6.

Keluarnya bangsa Ya’juz Ma’juz. Ya’juz Ma’juz adalah kaum yang gemar membuat kerusakan di muka bumi. Menurut Hamka, YM adalah segala gerak yang telah dan hendak merusak dunia ini, dan bisa ditafsirkan sebagai pikiran jahat, maksud buruk, dan ideologi yang menyesatkan yang dianut oleh sebagian manusia.

7.

Lahirnya dajjal (tukang dusta)

8.

Banyak terjadi gempa bumi

9.

Fitnah muncul di mana-mana

10.

Pembunuhan merajalela

11.

Banyak manusia yang menginginkan dirinya mati
  1. Kiamat menurut Teori Ala

1)  Menurut Ilmu Geologi; bumi ini terdiri dari semacam gas panas (nebula) yang karakternya berkembang dan mendesak keluar. Suatu saat tekanan itu akan lebih kuat sehingga terjadi gempa dan letusan gunung. Jika tekanan atmosfir dari luar makin kuat maka bumi akan hancur dan isinya berhamburan.

2)      Menurut Ilmu Astronomi; planet-planet beredar di angkasa mengelilingi matahari. Peredaran itu tidak berbenturan satu sama lain karena adanya daya tarik menarik yang seimbang. Daya tersebut tidak selamnya seimbang, daya itu makin lama makin habis. Seandainya tidak ada keseimbangan lagi,bumi akan meluncur dengan kekuatan yang dahsyat menumbruk matahari. Hancurlah bumi itu.

3)      Menurut Ilmu Fisika; matahari diperkirakan 150 x 106 KM jauhnya dari bumi. Sinar matahari akan sampai ke bumi dalam waktu 8 menit 20 detik. Para ahli fisika menghitung energi matahari yang dipancarkan = 5,7 x 1027 kalori per menit dan mampu menyala selama 50 milyar tahun. Waktu menyala matahari juga terbatas, dan pada suatu hari nanti matahari tidak akan bersinar lagi.

  1. Kehidupan Setelah Hari Kiamat

1.      Yaumu al-Ba’ats (hari Kebangkitan dari Kubur), yaitu bangkitnya seluruh manusia dari kuburnya

2.      Yaumu al-Hasyr (harti Berkumpulnya Manusia), manusia digiring ke suatu tempat lapang yang bernama Mahsyar.

3.      Yaumu al-Hisab (hari Perhitungan) dan Yaumu al-Mizan (hari Penimbangan); setelah manusia berkumpul di padang Mahsyar, manusia akan dihisab, dihitung, dan ditimbang amal perbuatannya.

4.      Yaumu al-Jaza’ atau Yaumu al-Fashl; setelah dihisab, manusia diberi balasan atas amalnya dan diputuskan.

5.      Surga dan neraka; setelah mendapat Keputusan dari Allah di mana tempat mereka selanjutnya, manusia segera dibawa ke surga atau neraka.

  1. Fungsi Iman Kepada Harti Akhir

1.      Mendorong untuk beramal shaleh

2.      Harapan mendapatkan keadilan hakiki akan menjadi kenyataan

3.      Pandangan hidup menjadi optimis

4.      Bertindak dengan penuh tangggung jawab.

III. Strategi dan Metode Pembelajaran

Model                    : Contekstual Teaching Learning

Strategi                  : Visualisasi slide

Pendekatan           : Ketrampilan tindakan, sikap, dan resitasi

Metode                  : Diskusi – informasi

IV. Kegiatan Pembelajaran  

      Langkah-Langkah:

1.      Kegiatan Pendahuluan (±10 menit)

a.    Guru mengkondisikan siswa untuk belajar, kesiapan diri, kerapian pakaian, tataletak kursi dan alat-alat tulis

b.    Guru memberi salam dan memulai pelajaran dengan mengucapkan basmalah dan berdoa bersama.

c.    Mengontrol kehadiran siswa dengan menanyakan yang tidak hadir dengan alasannya

d.   Mengkondisikan siswa untuk belajar dengan pendekatan individual ketika menerapkan pembelajaran kontekstual

e.    Melakukan appersepsi; Bagaimana keadaan kalian setelah meyakini etos kerja berdasaarkan QS. Al-Mujadilah : 11 didunia ini untuk membekali diri di akhirat kelak?

f.     Memancing pikiran siswa tentang tujuan hidup didunia dan keyakinan diri akan adanya hari kiamat sesuai indikator pencapaian

g.    Guru menjelaskan secara singkat materi yang akan dipelajari dengan kompetensi dasarnya.

h.    Guru menjelaskan secara singkat langkah-langkah pembelajaran yang akan dilaksanakan.

  1. Kegiatan Inti (±70 menit)

a)      Guru memberikan informasi, bahwa hari ini akan melaksanakan diskusi kelompok seputar materi meningkatkan keimanan kepada hari akhir (pengertian iman kepada hari akhir, perbedaan antara kiamat sugra dan kubra, hari kiamat menurut teori, fase kehidupan setelah hari kiamat)

b)       Guru memberikan arahan cara-cara membentuk kelompok diskusi; terdiri dari 4-5 orang, dipilih secara acak (heterogen), duduk dalam meja kelompok masing-masing

c)   Guru menyodorkan materi pada masing-masing kelompok untuk didiskusikan dari mulai (bagaimana orang yang tidak yakin akan kiamat?, dan bagaimana kalau kiamat itu benar-benar ada?)

d)       Masing-masing kelompok melaksanakan diskusinya seputar hari akhir dengan bimbingan guru

e)        Guru mempasilitasi kelompok yang mendpat kesulitan dalam diskusi

f)         Guru memeriksa hasil diskusi kelompok siswa

g)        Masing-masing kelompok mempresentasikan hasil diskusinya dengan durasi waktu 5 menit, yang kemudian dinilai dan dievaluasi oleh guru secara kelompok

h) Guru memberikan penghargaan kepada kelompok terbaik dalam diskusi, dengan mengapresiakannya melalui aplous (tepuk tangan) dan penilaian kulitatif terbaik

3. Kegiatan Akhir (± 10 menit)

a.       Guru menyimpulkan materi pembelajran dari hasil diskusi siswa

b.      Mengadakan post tes untuk menilai keberhasilan belajar dalam diskusi siswa

c.       Guru menutup pelajaran dengan membaca doa, hamdallah, dan mengucapkan salam.

V. Penilaian

a.    Tes tulis dilakukan dengan menggunakan latihan pada buku Integrasi Budi Pekerti dalam Pendidikan Agama Islam 3 halaman 34–36. (soal terlampir)

b.    Tes Sikap

No.

Indikator ke

Pernyataan

SS

S

TS

STS

1.

 1

dari KD

1

Orang yang tidak mempercayai akan adanya hari akhir biasanya tidak takut berbuat dosa, seolah-olah dunia tidak akan berakhir.

2.

2

dari KD

1

Kiamat sugra adalah kiamat besar seperti kematian dan kiamat kubra adalah kiamat kecil seperti hancurnya bumi ini.

3.

3

dari KD

          1

Tanda-tanda kiamat telah muncul saat ini, seperti adanya tsunami dan gempa bumi

4.

4

dari KD

          1

Setelah mati manusia akan dibangkitkan kembali untuk menjalani kehidupan berikutnya.

5.

 5

dari KD

          1

Orang yang tidak suka beribadah kepada Allah dan dzalim terhadap diri dan orang lain adalah orang yang tidak percaya akan adanya hari pembalasan, surga, dan neraka

6.

 1

dari KD

          2

Seorang yang beriman kepada hari akhir senantiasa menjadi pendorong bagi mukmin yang lain untuk mengerjakan perbuatan baik dan menjauhi larangan-larangan Allah SWT.

7.

 2

dari KD

2

Tanda-tanda orang yang beriman kepada hari akhir adalah orang yang suka berzina dan mabuk-mabukan.

8.

 3

dari KD

2

Orang yang percaya/beriman pada hari akhir akan hati-hati dalam bertindak.

Keterangan:

SS = Sangat setuju

S = Setuju

TS = Tidak setuju

STS = Sangat tidak setuju

c.    Teknik Penilaian/Penskoran

1)      Untuk penilaian tes sikap; Soal no.1 sampai no.8 diberi skor 5, maka 5×8=40

2)      Untuk penilaian soal latihan yang terdapat dalam buku Integrasi Budi Pekerti dalam Pendidikan Agama Islam 3 hal :34-36 dengan ketentuan: Soal no.1 sampai 20  diberi skor 3, maka 3×20=60

3)      Maka skor keseluruhan untuk tes skala sikap dan tes tulis skor maksimalnya adalah =100

Skorperolehan siswa

Nilai     =                                                   X 10

Skor ideal

VI. Sumber/Bahan/Alat

1.      Al-Qur’an dan terjemahnya

2.      Buku Integrasi Budi Pekerti dalam Pendidikan Agama Islam 3 milik  pemerintah kabupaten Bandung , terbitan Tiga Serangkai tahun 2007

3.      Buku akidah akhlak

4.      Ensiklopedi Islam

5.      laptop, infokus, video dan slide untuk visualisasi

6.      lembaran tes sikap

VII. Evaluasi dan perbaikan            

…………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………… ………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………

Catatan: (Kepala Sekolah/Pengawas/Observer)

…………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………

…………………………………………………………………………………

Mengetahui                                                      Bandung, 17 Agustus 2010

Kepala Sekolah                                                            Guru Mata Pelajaran PAI

            Asep Gema Nurohmat, SH., MM                   Drs.  S  A  L  I  M  I              

NIP. 19640616 200701 1 004                        NIP. 19660517 200501 1 001

BAB III

PENUTUP

A.    Simpulan

Dari uraian diatas penulis dapat menyimpulkan bahwa guru harus mampu membuat desain pembelajaran dengan baik sesuai dengan kebutuhan siswa. Tidak semua materi yang disajikan dapat cocok dengan seluruh desin pembalajaran. Materi pembelajaran aqidah akhlaq hendaknya diberikan bukan sekedar pengetahuan belaka, tetapi harus lebih menitik beratkan kepada aplikasi dalam kehidupan nyata. Salah satu model yang dapat menyajikan pembelajaran aqidah akhlaq dengan terurai adalah Model Pembelajaran Kooperatif dan model pembelajaran Contextual Learning and Teaching (CTL). Pada penyajiannya siswa dituntut untuk mengkaji secara mendalam tentang manfaat aqidah akhlaq dan bahaya akibat ketidak yakinannya serta dekadensi moral yang keluar dari koridoe akhlak al-karimah. Kemudian materi yang dibahas akan terasa lebih baik dari segi kemajuannya ketimbang model pembelajaran konvensional atau tradisional.

B.     Saran

Perlu pembahasan yang lebih jelas dan luas dari model pembelajaran kooperatif dan Contextual Learning and Teaching (CTL). Praktek dilapangan sangat dianjurkan untuk mengetahui data outentik tentang keberhasilan dan kelemahan model pembelajaran kooperatif dan CTL, baik dari segi nilai akademik (prestasi siswa) maupun dari kecakapan hidup (life skill). Setiap guru hendaknya membuat model pembelajaran yang baik. Namun bukan hanya model yang baik saja, tetapi sangat dibutuhkan  kepiawaian dalam menyajikannya.

DAFTAR PUSTAKA

Abuzar, Afrizal. 2006. Silabus Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam SMA-SMK Depdiknas: Dirjendikdasmen.

Al-Qur’an dan terjemahnya pada Qur’an Inn-World

Haludhi, Khuslan. dan abdurrohim Sa’id, 2007. Memahami Pendidikan Agama Islam SMA untuk kelas X, Semester 1 dan 2,  Bandung: Armico.

Koesoema A, Doni. 2009. Pendidik Karakter di Zaman Kabalinger Jakarta: Gramedia Widiasarana Indonesia.

Komalasari, Kokom. 2010. Pembelajaran Kontekstual Konsep dan aplikasi. Bandung: Refika Aditama.

Muslim, Al-Imam. Shahih Muslim, Kumpulan hadits Shahih, Syarah Al-Minhaj Al-Nawawi

Nata, Abuddin. 2009. Perspektif Islam Tentang Strategi Pembelajaran Jakarta: Kencana Prenada Media Group.

Riyanto, Yatim. 2009. Paradigma Baru Pembelajaran, Sebagai Referensi Bagi Pendidik Dalam Implementasi Pembelajaran Yang Efektif dan Berkualitas. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.

Silabus Pendidikan Agama Islam untuk SMA dan SMK KTSP tahun 2006

Suprijono, Agus. 2010. Cooperative Learning Teori dan Aplikasi PAIKEM, Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Tafsir, Ahmad. Pada Perkuliahan Filsafat Pendidikan Islami, Sabtu, 20 Maret 2010 dan Sabtu, 27 Maret 2010di kelas PAI – K – B, program Pascasarjana Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung, tahun akademik 2009-2010

Trianto, 2010. Mendesain Model Pembelajaran Inovatif – Progresif  Jakarta: Kencana Prenada Media Group.

Wahid Sy, A.2007. Memahami Pendidikan Agama Islam SMK untuk kelas X, Semester 1 dan 2 Semua bidang keahlian, Bandung: Armico.

Yusuf LN., Syamsu. 2003. Psikologi Belajar Agama (Persepektif Pendidikan Agama Islam). Bandung: Pustaka Bani Quraisy.


[1] Ahmad Tafsir, Pada Perkuliahan Filsafat Pendidikan Islami, Sabtu, 20 Maret 2010 di kelas PAI – K – B, program Pascasarjana Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung, tahun akademik 2009-2010

[2] Ahmad Tafsir, Pada Perkuliahan Filsafat Pendidikan Islami, Sabtu, 27 Maret 2010 di kelas PAI – K – B, program Pascasarjana Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung, tahun akademik  2009-2010

[3] Afrizal Abuzar, Silabus Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam SMA-SMK (Depdiknas: Dirjendikdasmen. 2006), 53

[4] Syamsu Yusuf LN, Psikologi Belajar Agama (Persepektif Pendidikan Agama Islam) (Bandung: Pustaka Bani Quraisy. 2003), 3

[5] Syamsu Yusuf LN, Psikologi Belajar Agama, 3

[6] Syamsu Yusuf LN, Psikologi Belajar Agama, 4

[7] Yatim Riyanto, Paradigma Baru Pembelajaran, Sebagai Referensi Bagi Pendidik Dalam Implementasi Pembelajaran Yang Efektif dan Berkualitas, (Jakarta: Kencana Prenada Media Group. 2009) ed.1 cet.1, 269

[8] Abuddin Nata, Perspektif Islam Tentang Strategi Pembelajaran (Jakarta: Kencana Prenada Media Group. 2009) cet. Ke 1, 198

[9] Doni Koesoema A, Pendidik Karakter di Zaman Kabalinger (Jakarta: Gramedia Widiasarana Indonesia. 2009), 159

[10] Yatim Riyanto, Paradigma Baru Pembelajaran, 271

[11] Abuddin Nata, Perspektif Islam Tentang  Strategi Pembelajaran, 257

[12] Kokom Komalasari, Pembelajaran Kontekstual Konsep dan aplikasi (Bandung: Refika Aditama. 2010) cet. Ke 1, 62

[13] Trianto, Mendesain Model Pembelajaran Inovatif – Progresif (Jakarta: Kencana Prenada Media Group. 2010) cet. Ke 3, 66 – 67. Fase ini dapat dibaca juga pada buku Agus Suprijono, Cooperative Learning Teori dan Aplikasi PAIKEM, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar. 2010) cet. Ke III, 65

[14] Variasi metode pembelajaran kooperaif ini dapat dibaca secara lengkap pada: (Kokom Komalasari, 2010. Hlm. 62-69), (Trianto, 2010. Hlm. 67-83), (Agus Suprijono, 2009. Hlm. 89-101),

[15] Agus Suprijono, Cooperative Learning Teori dan Aplikasi PAIKEM, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar. 2010) cet. Ke III, 79-80

[16] Yatim Riyanto, Paradigma Baru Pembelajaran, 179-180

[17] Silabus Pendidikan Agama Islam untuk SMA dan SMK KTSP tahun 2006

[18] Al-Qur’an dan terjemahnya pada Qur’an Inn-World, QS. Al-Baqarah : 285

[19] Al-Imam Muslim, Shahih Muslim, Kumpulan hadits Shahih, Syarah Al-Minhaj Al-Nawawi, hadits ke 5

[20] A. Wahid Sy, “Memahami Pendidikan Agama Islam SMK untuk kelas X, Semester 1 dan 2 Semua bidang keahlian” (Bandung: Armico. 2007) hal judul. Dan “Memahami Pendidikan Agama Islam SMA untuk kelas X, Semester 1 dan 2” (Bandung: Armico. 2007) hal. Judul

AL-GHAZALI

As-Syech abu Hamid Muhammad bin Muhammad Al-Ghozali atau lebih dikenal dengan sebutan Iman Al-Ghozali seorang tokoh besar dalam sejarah Islam, Beliau adalah pengarang kitab Ihya’Ulumudin. Suatu hari Beliau mengajukan Enam pertanyaan pada saat berkumpul dengan murid-muridnya.
Pertanyaan Pertama :

Imam Ghazali : “Apakah yang paling dekat dengan diri kita di dunia ini“?
murid-muridnya ada yang menjawab :

“Orang tua”

“Guru”
“Teman”
“Kaum kerabat”

Imam Ghazali : “Semua jawaban itu benar. Tetapi yang paling dekat dengan kita ialah MATI. Sebab itu janji Allah bahwa setiap yang bernyawa pasti akan mati.”

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ۗ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ۖ فَمَن زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ ۗ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ

Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayaka (Ali Imran 185)
Allah SWT berfirman:

وَاللَّهُ يُحْيِي وَيُمِيتُ

Allah menghidupkan dan mematikan (QS Ali Imran [3]: 156).
Allah SWT berfirman:

وَمَا كَانَ لِنَفْسٍ أَنْ تَمُوتَ إِلا بِإِذْنِ اللَّهِ كِتَابًا مُؤَجَّلا

Sesuatu yang bernyawa tidak akan mati melainkan dengan izin Allah sebagai ketetapan yang telah ditentukan waktunya (QS Ali Imran [3]: 145).

مَا تَسْبِقُ مِنْ أُمَّةٍ أَجَلَهَا وَمَا يَسْتَأْخِرُونَ

Tidak ada suatu umat pun yang dapat mendahului ajalnya dan tidak pula dapat memundurkannya (QS al-Hijr [15]: 5; al-Mu’minun [23]: 43)
Allah SWT menegaskan:

قُلْ إِنَّ الْمَوْتَ الَّذِي تَفِرُّونَ مِنْهُ فَإِنَّهُ مُلاقِيكُمْ

Katakanlah, “Sesungguhnya kematian yang kalian lari darinya tetp akan menemui kalian.” (QS al-Jumu’ah [62]: 8).
Allah SWT juga menegaskan:

أَيْنَمَا تَكُونُوا يُدْرِكُكُمُ الْمَوْتُ وَلَوْ كُنْتُمْ فِي بُرُوجٍ مُشَيَّدَةٍ

Di mana saja kalian berada, kematian akan menjumpai kalian kendati kalian berada dalam benteng yang tinggi lagi kokoh (QS an-Nisa’[4]: 78).
Pertanyaan Kedua :

Imam Ghazali : “Apa yang paling jauh dari kita di dunia ini?”

murid-muridnya yang menjawab :

“Bulan”
“Matahari”
“Bintang-bintang”
Iman Ghazali “Semua jawaban itu benar. Tetapi yang paling benar adalah MASA LALU. Bagaimana pun kita, apa pun kendaraan kita, tetap kita tidak akan dapat kembali ke masa yang lalu. Oleh sebab itu kita harus menjaga hari ini, hari esok dan hari-hari yang akan datang dengan perbuatan yang sesuai dengan ajaran Agama”.
“Barang siapa yang keadaan amalnya hari ini lebih jelek dari hari kemarin, maka ia terlaknat. Barang siapa yang hari ini sama dengan hari kemarin, maka ia termasuk orang yang merugi. Dan barang siapa yang hari ini lebih baik dari hari kemarin, maka ia termasuk orang yang beruntung.” (HR. Bukhari)
Pertanyaan Ketiga:

Iman Ghazali : “Apa yang paling besar di dunia ini?”

murid-muridnya yang menjawab

“Gunung”
“Matahari”
“Bumi”
Imam Ghazali : “Semua jawaban itu benar, tapi yang besar sekali adalah HAWA NAFSU. Maka kita harus hati-hati dengan nafsu kita, jangan sampai nafsu kita membawa ke neraka.”

وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِّنَ الْجِنِّ وَالْإِنسِ ۖ لَهُمْ قُلُوبٌ لَّا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَّا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لَّا يَسْمَعُونَ بِهَا ۚ أُولَـٰئِكَ كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ ۚ أُولَـٰئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ

Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahannam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakan untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Meraka itulah orang-orang yang lalai. (QS.Al A’Raf: 179).

 

أَفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَٰهَهُ هَوَاهُ وَأَضَلَّهُ اللَّهُ عَلَىٰ عِلْمٍ وَخَتَمَ عَلَىٰ سَمْعِهِ وَقَلْبِهِ وَجَعَلَ عَلَىٰ بَصَرِهِ غِشَاوَةً فَمَنْ يَهْدِيهِ مِنْ بَعْدِ اللَّهِ ۚ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ

“Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya ? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah . Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran ?” (QS. Al-Jaathiya : 23)

أَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَٰهَهُ هَوَاهُ أَفَأَنْتَ تَكُونُ عَلَيْهِ وَكِيلًا أَمْ تَحْسَبُ أَنَّ أَكْثَرَهُمْ يَسْمَعُونَ أَوْ يَعْقِلُونَ ۚ إِنْ هُمْ إِلَّا كَالْأَنْعَامِ ۖ بَلْ هُمْ أَضَلُّ سَبِيلًا

“Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya. Maka apakah kamu dapat menjadikan pemelihara atasnya ?

Atau apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami. Mereka itu tak lain hanyalah seperti binatang ternak bahkan lebih sesat jalannya.” (QS. Al-Furqaan : 43-44)

وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ الَّذِي آتَيْنَاهُ آيَاتِنَا فَانْسَلَخَ مِنْهَا فَأَتْبَعَهُ الشَّيْطَانُ فَكَانَ مِنَ الْغَاوِينَ
وَلَوْ شِئْنَا لَرَفَعْنَاهُ بِهَا وَلَٰكِنَّهُ أَخْلَدَ إِلَى الْأَرْضِ وَاتَّبَعَ هَوَاهُ ۚ فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ الْكَلْبِ إِنْ تَحْمِلْ عَلَيْهِ يَلْهَثْ أَوْ تَتْرُكْهُ يَلْهَثْ ۚ ذَٰلِكَ مَثَلُ الْقَوْمِ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا ۚ فَاقْصُصِ الْقَصَصَ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ

“Dan bacakanlah kepada mereka berita orang yang telah Kami berikan kepadanya ayat-ayat kami kemudian dia melepaskan diri daripada ayat-ayat itu lalu dia diikuti oleh setan maka jadilah dia termasuk orang-orang yang sesat.

Dan kalau Kami menghendaki sesungguhnya kami tinggikan dengan ayat-ayat itu tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah maka perumpamaannya seperti anjing jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya. Demikian itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka ceritakanlah kisah-kisah itu agar mereka berpikir. Amat buruklah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan kepada diri mereka sendirilah mereka berbuat zhalim.” (QS. Al-A’raaf : 175-176)

Pertanyaan Keempat:

IMAM GHAZALI : “Apa yang paling berat di dunia?”

murid-muridnya menjawab

“Baja”
“Besi”
“Gajah”
Imam Ghazali : “Semua itu benar, tapi yang paling berat adalah MEMEGANG  AMANAH.

إِنَّا عَرَضْنَا الْأَمَانَةَ عَلَى السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَالْجِبَالِ فَأَبَيْنَ أَن يَحْمِلْنَهَا وَأَشْفَقْنَ مِنْهَا وَحَمَلَهَا الْإِنسَانُ ۖ إِنَّهُ كَانَ ظَلُومًا جَهُولًا

Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh, (QS.Al Ahzab: 72)

Tumbuh-tumbuhan, binatang, gunung, dan malaikat semua tidak mampu ketika Allah SWT meminta mereka menjadi khalifah pemimpin di dunia ini. Tetapi manusia dengan sombongnya berebut-rebut menyanggupi permintaan Allah SWT sehingga banyak manusia masuk ke neraka kerana gagal memegang amanah.”
Pertanyaan Kelima:

Imam Ghazali : “Apa yang paling ringan di dunia ini?”

murid-muridnya ada yang menjawab

“Kapas”
“Angin”
“Debu”
“Daun-daun”
Imam Ghazali : “Semua jawaban kamu itu benar, tapi yang paling ringan sekali di dunia ini adalah MENINGGALKAN SHALAT. Gara-gara pekerjaan kita atau urusan dunia, kita tinggalkan shalat “

padahal Rasulullah menegaskan dalam sabda beliau :


“(Perbedaan) antara hamba dan kemusyrikan itu adalah meninggalkan sholat.” (HR Muslim dalam kitab Shohihnya nomor 82 dari hadits Jabir).

Pertanyaan Keenam:

Imam Ghazali : “Apa yang paling tajam sekali di dunia ini? “

Murid- Murid dengan serentak menjawab : “Pedang”

Imam Ghazali : “Itu benar, tapi yang paling tajam sekali di dunia ini adalah LIDAH MANUSIA. Karena melalui lidah, manusia dengan mudahnya menyakiti hati dan melukai perasaan saudaranya sendiri. ”Diriwayatkan oleh Bukhari dalam kitab Shahihnya hadits no.10 dari Abdullah bin Umar Radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

“Artinya : Seorang muslim adalah seseorang yang orang muslim lainnya selamat dari ganguan lisan dan tangannya”
Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam kitab Shahihnya hadits no. 6474 dari Sahl bin Sa’id bahwa Rasulullah bersabda.
“Artinya : Barangsiapa bisa memberikan jaminan kepadaku (untuk menjaga) apa yang ada di antara dua janggutnya dan dua kakinya, maka kuberikan kepadanya jaminan masuk surga”

Yang dimaksud dengan apa yang ada di antara dua janggutnya adalah mulut, sedangkan apa yang ada di antara kedua kakinya adalah kemaluan.
Al-Bukhari dalam kitab Shahihnya no. 6475 dan Muslim dalam kitab Shahihnya no. 74 meriwayatkan hadits dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah bersabda.
“Artinya : Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaknya dia berkata yang baik atau diam”.

Hafalan Al-Qur’an Melalui Metode Talaqi Di MI An-Najiyah Bandung

BAB I

PENDAHULUAN

 A.      Latar Belakang

Al-Qur’an adalah wahyu Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw melalui perantara malaikat Jibril sebagai pedoman dan petunjuk bagi seluruh umat manusia. Tidak ada keraguan di dalamnya dan petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa. Sehingga tidak akan tersesat selama berpegang teguh kepada al kitab ini sebagaimana sabda Rasulullah saw.

“Aku tinggalkan untuk kalian dua perkara. Kalian tidak akan sesat selama berpegangan dengannya, yaitu Kitabullah (Al Qur’an) dan sunnah Rasulullah Saw.” (HR. Muslim)[1]

Barangsiapa yang berpedoman dan mengamalkan isi Al Qur’an maka Allah akan meninggikan derajatnya, tapi barangsiapa yang tidak beriman kepada Al Qur’an maka Allah akan menghinakannya dan merendahkan derajatnya. Sabda Rasulullah Saw.:

“Sesungguhnya Allah, dengan kitab ini (Al Qur’an) meninggikan derajat kaum-kaum dan menjatuhkan derajat kaum yang lain.” (HR. Muslim)[2]

Kitab ini juga sebagai sarana umat muslim untuk berdialog dengan Allah Swt., sebagaimana disabdakan Nabi Muhammad Saw.:

“Apabila seorang ingin berdialog dengan Robbnya maka hendaklah dia membaca Al Qur’an.” (HR. Ad-Dailami dan Al-Baihaqi)[3]

Untuk bisa membaca dan mempelajari Al-Quran tentunya diperlukan cara atau metode yang baik. Pada saat ini telah banyak metode atau cara membaca, mempelajari dan menghafal Al-qur’an salah satu diantaranya yang pernah digunakan oleh Rasulullah Saw. untuk mengajarkan Al-Quran kepada para sahabat jaman dulu adalah dengan metode talaqqi.

Metode talaqqi banyak digunakan juga oleh para pengajar pada jaman sekarang ini, sebagaimana yang diterapkan di MI An-Najiyah Bandung. Untuk mempelajari lebih lengkap tentang metode ini akan dibahas pada bab berikutnya.

B.      Perumusan masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, permasalahan yang akan dibahas pada makalah ini antara lain:

  1. Bagaimana implementasi hafalan Al-Quran di MI An-Najiyah Bandung
  2. Bagaimana penerapan metode talaqqi di MI An-Najiyah Bandung
  3. Bagaimana kompetensi guru pengajar Al-Quran di MI An-Najiyah Bandung

C.    Tujuan penelitian

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui:

  1. Implementasi hafalan Al-Quran di MI An-Najiyah Bandung
  2. Penerapan metode talaqqi di MI An-Najiyah Bandung
  3. Kompetensi guru pengajar Al-Quran di MI An-Najiyah Bandung

D.      Pengumpulan Data

Dalam menyusun makalah ini, peneliti mengumpulkan data dengan metode wawancara dengan santri dan guru yang mengajar, melakukan observasi untuk melihat langsung kegiatan hafalan Al-Quran di MI An-Najiyah Bandung. Selain itu peneliti mengkaji dari berbagai pustaka baik buku maupun internet yang berhubungan dengan materi yang diteliti.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A.     Pemahaman Al-Quran

Al-Quran merupakan petunjuk dan pedoman hidup bagi umat manusia terutama umat Islam, merupakan mu’jizat terbesar yang diturunkan Allah Swt kepada Nabi Muhammad Saw. yang di dalamnya terkandung petunjuk yang berkaitan dengan akidah, akhlak, muamalah, syari’ah, sejarah dan lain sebagainya. Oleh karena itu, kita sebagai umat muslim dituntut untuk bisa mempelajari dan memahami hal-hal yang terkandung di dalamnya.

Keutamaan mempelajari dan memahami Al-Quran sangat banyak, diantaranya Rasulullah Saw. bersabda:

“Orang yang pandai membaca Al Qur’an akan bersama malaikat yang mulia lagi berbakti, dan yang membaca tetapi sulit dan terbata-bata maka dia mendapat dua pahala. (HR. Bukhari dan Muslim)[4]

Dari hadis  tersebut dapat diambil pemahaman bahwa kemulyaan orang yang membaca Al-Quran itu seperti para malaikat dalam hal tinggi derajatnya dan mulia kedudukannya. Kemudian orang yang sulit dan terbata-bata dalam membaca dan mempelajarinya akan mendapatkan dua pahala yaitu satu dari bacaannya dan satu lagi dari usahanya.

Dalam hadis lain juga Rasulullah Saw. menjelaskan:

“Barangsiapa membaca satu huruf dari Al Qur’an maka baginya satu pahala dan satu pahala diganjar sepuluh kali lipat.” (HR. Tirmidzi) [5]

Al-Quran bukan sekedar harus dipelajari, tetapi Al-Quran juga harus diajarkan kepada orang lain yang belum mampu untuk membaca dan mempelajari Al-Quran, Sabda Rasulullah Saw.:

“Sebaik-baik kamu ialah yang mempelajari Al Qur’an dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari)[6]

Suatu metode sangat di butuhkan di dalam menekuni segala disipilin ilmu, sehingga dalam masalah yang terkait dengan menghafal Al-Qur’an juga perlu adanya metodologi menghafalkannya, agar para penghafal bisa menyelesaikan hafalan dengan waktu yang cepat atau sesuai dengan target dan bisa terbentuk suatu hafalan yang bagus, tentunya hal ini bisa terwujud dengan kedisiplinan dan komitmen seseorang dengan waktu dan konsep yang telah ada.

Barang siapa yang mempelajari dan memahami Al-quran, maka akan diberikan rahmat oleh Allah Swt. Dengan dipermudah dalam mempelajari dan memahaminya. Sebagaimana firman Allah Swt. Dalam surat Al-Qomar ayat 17, 22, 32 dan 40

وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْآنَ لِلِذِّكْرِ فَهَلْ مِنْ مُدَّكِرٍ.

Artinya: Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al Qur’an untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran?

Menghafal Al-Qur’an adalah marhalah setelah mampu membaca dan perlu kita sadari bersama bahwa tingkatan menghafal adalah belum finish, walau kadang ada fenomena yang muncul di sebagian masyarakat kita bahwa kalau sudah hafal Al-Qur’an berarti sudah segalanya, dengan hanya bisa hafal belumlah cukup, karena kita tidak hanya di tuntuk sekedar bisa membaca dan hafal Al-Qur’an, tetapi lebih dari pada itu kita dituntut juga untuk bisa memahami dan mengamalkan isinya dalam kehidupan ini. Namun demikian peran menghafal Al-Qur’an sangat penting untuk menjadi motivasi menuju pada tahapan-tahapan berikutnya.

B.      Metode Talaqqi dalam menghafal Al-Quran

Talaqqi berasal daripada kalimah laqia yang berarti berjumpa. Yang dimaksudkan berjumpa adalah bertemu antara murid dengan guru.[7] Talaqqi adalah model pembelajaran pertama yang dicontohkan Rasulullah bersama Para Sahabat Beliau.[8]

Talaqqi adalah salah satu metode untuk mengetahui sesuatu atau bisa di katakan talaqqi merupakan salah satu metode pembelajaran zaman dulu yang ada hingga saat ini. Talaqqi adalah salah satu metode mengajar peninggalan Nabi Muhammad SAW yang terus menerus dilakukan oleh orang-orang setelah Nabi SAW, para sahabat, tabi’in, hingga para ulama bahkan pada zaman sekarang terutama untuk daerah Arab seperti Mekkah, Madinah dan Mesir.

Sudah menjadi hal yang Masyhur di kalangan mahasiswa Al- Azhar Mesir terutama tentang cara belajar dengan cara talaqqi, yaitu cara pertemuan guru dan murid secara face to face, dari situ para mahasiswa mengambil pelajaran di samping belajar di universitas masing-masing. Disini kita tidak  membahas lebih dalam tentang apa itu talaqqi tetapi kita akan sejenak memutar ulang tentang sejarah pengajaran Rasulullah kepada sahabat yang banyak beliau melalui melalui metode talaqqi.

Di lihat dari sistem mengajarnya,maka ada dua macam kategori talaqqi. Pertama, seorang guru membaca atau menyampaikan ilmunya di depan murid-muridnya sedang para murid menyimaknya, yang mungkin di akhiri dengan pertanyaan-pertanyaan. Kedua, murid membaca di depan guru lalu guru membenarkan jika ada kesalahan dalam bacaan murid. Di zaman Nabi sendiri talaqqi kedua hanya bisa digunakan dalam membaca Al-Quran, yaitu para sahabat membaca Al-Quran didepan Nabi SAW lalu Nabi mendengarkan dan membenarkannya jika ada kesalahan karena pada waktu itu belum ada bacaan dan para sahabat hanya fokus pada menghafal Al-Quran dan belum mengerti membaca dan menulis, sedangkan dalam metode pembelajaran, Nabi SAW lebih menggunakan metode talaqqi yang pertama, yaitu Nabi SAW menyampaikan didepan para sahabat sedang para sahabat mendengarkannya.[9]

Ada beberapa kelebihan dari metode talaqqi, yang dalam hal ini sudah dilalui oleh Rasulullah SAW dalam mendidik sahabatnya. Kita akan bahas beberapa point penting  tentang kelebihan talaqqi yang tentunya berdasarkan apa yang terjadi di zaman Rasulullah.[10]

  1. Talaqqi  memudahkan pengajar mengawasi murid dan membimbing mereka secara langsung. Dari Abdullah ibnu Mas’ud Ra berkata : “Lelaki dari golongan kami apabila mempelajari sepuluh ayat maka tidak akan melewatinya sampai dia mengetahui maknanya dan mengamalkannya. Dan dari Abu abdirrahman assilmi : “ Menceritakan kepada kami orang-orang yang membacakan kepada kami Al- Quran bahwasanya mereka membaca Al-Quran bersama Nabi SAW dan apabila mereka mempelajari sepuluh ayat maka tidak melewatinya sampai mereka mengamalkan apa yang ada didalamnya.

Dari sini kita bisa melihat salah satu kelebihan dari talaqqi, Rasulullah dalam mengajari para sahabat, beliau mengajarkan Al- Quran dengan cara pertemuan secara langsung dan menyampaikannya pada hari-hari tertentu, dan Rasulullah sangat teliti tentang perkembangan sahabat melalui pertemuan itu. Berbeda dengan cara belajar sekarang seperti melalui media internet, yang seorang guru tidak secara langsung bertemu murid, sehingga guru hanya mentitik beratkan pada tugas dan IQ murid, dan selebihnya guru tidak mengetahui tentang kepribadian murid-muridnya, tetapi Islam terutama cara mengajar Rasulullah berbeda, karna Rasulullah mengerti bahwa karakter itu penting di samping ilmu yang tinggi.

Kita juga tidak boleh melupakan bahwa Al-Quran juga di sampaikan kepada Nabi yang salah satunya melalui jalur talaqqi dari Malaikat Jibril, bahkan setiap tahun Nabi mengulang hafalan Al-Quran yang telah di turunkan kepada beliau di depan Malaikat Jibril.

Ini lah metode Nabi Muhammad SAW dalam mengajar, Nabi Muhammad dengan metode ini lebih leluasa mengawasi perkembangan para sahabat, tidak hanya para sahabat tapi Nabi juga mengajari para shahabiyah tentang agama Islam dengan pertemuan pada hari- hari tertentu, dalam sebuah hadits, dari abu sa’iid berkata : Kaum wanita berkata kepada Nabi SAW : “ Para laki-laki telah mengalahkan kami, maka jadikan lah untuk kami hari darimu, maka Nabi SAW menjanjikan kepada mereka di salah satu hari dimana mereka akan bertemu, lalu Nabi menasehati dan memerintah mereka di hari itu. (HR. Bukhori)

  1. Talaqqi memudahkan pengajar memilih cara yang tepat dalam menyampaikan ilmu, karna dengan bertemu langsung antara guru dan murid, membuat guru lebih mudah mengenali kepribadian murid.
  2. Keberadaan talaqqi merupakan bagian penting dalam penyebaran agama Islam, karna ada bagian yang tidak bisa di miliki oleh metode-metode pengajaran lainnya seperti saling mengerti antara guru dan murid, dll.

Metode itu akan lebih maksimal jika di dukung oleh beberapa hal sebagai berikut:[11]

  1. Niat Ikhlas;
  2. Memiliki cita-cita yang tinggi untuk menjadi penghafal Al-Quran;
  3. Memiliki cinta yang mendalam terhadap Al-Qur’an;
  4. Adanya pembimbing/guru yang menjadi kerektor dalam bacaan dan hafalan;
  5. Adanya kesinambungan di dalam proses menghafal Al-Qur’an (istiqomah);
  6. Harus memiliki kesabaran;
  7. Menggunakan satu mushhaf untuk menghafal Al-Qura’an;
  8. Membiasakan wirid harian dengan Al-Qur’an;
  9. Membiasakan menjaga wudlu sehari-hari;
  10. Membiasakan untuk melaksanakan solat sunat hajat dua roka’at sebelum menghafal Al-Qur’an;
  11. Mengadakan evaluasi hafalan secara intensif;
  12. Membiasakan membaca dengan tartil;
  13. Memperbanyak doa kepada Allah;
  14. Memilih waktu dan tempat/lingkungan yang tepat yang bisa mendukung proses menghafal Al-Qur’an;
  15. Membiasakan untuk sering ikut majlis Al-Qur’an.

Manfaat menghafal Al-Qur’an, disini penulis akan menyebutkan beberapa hal saja, di antarnya:[12]

  1. Mempermudah seseorang untuk memasuki marhalah selanjutnya yaitu memahami isi kandungannya, orang yang hafal Al-Qur’an akan merasa lebih mudah di dalam mengingat-ingat isi kandungannya;
  2. Memudahkan seseorang untuk berdzikir pada Allah, karena orang yang hafal Al-Qur’an tidak terlalu bergantung pada mushaf ketika akan membacanya, sehingga bisa sambil jalan , berbaring dan lain sebagainya dalam membaca Al-Qur’an;
  3. Menambah rasa cinta terhadap Al-Qur’an.

BAB III

KAJIAN EMPIRIS

 

A.        Kondisi Objek Penelitan

  1. Profil Madrasah Ibtidaiyah An-Najiyah Bandung
Nama Madrasah : Madrasah Ibtidaiyah (SD Islam) Plus An-Najiyah
Alamat : Jl. Utsman Bin Affan No. 90 Perumahan Griya Cempaka Arum, Gedebage, Bandung.
Visi : Terwujudnya generasi bermanhaj salaf yang beraqidah lurus berakhlaq mulia dan berwawasan sains dan teknologi.
Misi : Membentuk generasi yang memiliki manhaj yang benar sesuai dengan pemahaman Ahlussunnah wal Jama’ah. Menyelenggarakan sistem pendidikan yang kondusif terhadap pribadi yang beraqidah lurus, berakhlak mulia. Mengembangkan sistem pendidikan yang berorientasi pada terciptanya generasi yang memiliki pemahaman syar’i dan kompetensi di bidang sains dan teknologi.

Pendidikan adalah tahap yang sangat penting dalam rangkaian pembelajaran seorang anak. Pengalaman persekolahan dan pembelajaran yang berkesan, bermakna dan menggembirakan dapat membekali mereka dengan kecakapan, keyakinan diri dan sikap yang positif untuk memasuki tahap pendidikan dasar dalam rangkaian pendidikan sepanjang hayat.

Madrasah Ibtidaiyah (SD Islam) Plus An-Najiyah didirikan untuk berupaya menjadi salah satu lembaga pendidikan yang berkualitas dan mampu memenuhi harapan tersebut. Insya Allah

  1. Target
  • Hafal 1 Juz Al-Qur’an per tahun
  • Hafal dan terbiasa melaksanakan praktek ibadah sehari-hari
  • Menguasai pelajaran sesuai Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP)
  • Trampil menggunakan komputer (MS Windows dan MS Office)
  • Menguasai kosa kata dan percakapan sederhana dalam bahasa arab dan inggris
  • Hafal hadits Arba’in An Nawawy
  1. Kurikulum

Madrasah Ibtidaiyah (SD Islam) Plus An-Najiyah menggunakan kurikulum yang merupakan modifikasi dari 6 (enam) komponen, yaitu ;

  • Diniyah (Agama Islam)
  • Bahasa
  • Perkembangan kognitif
  • Perkembangan Sosio-emosi
  • Perkembangan Fisikal
  • Perkembangan Kreatifitas dan Estetika

B.      Penerapan Metode Talaqqi di MI (SD Islam) Plus An-Najiyah Bandung

1.      Sekilas program tahfidz Al-Quran di Madrasah Ibtidaiyah An-Najiyah

Madrasah Ibtida’iyah (MI) adalah satu jenjang pendidikan di Ma’had An-Najiyah Al-Islami. Salah satu program yang menjadi unggulan pada jenjang ini adalah program Tahfidzul Qur’an. Setiap siswa setidaknya mengikuti 3 kegiatan dalam pembelajaran Tahfidzul Qur’an, yaitu:

  1. Manjil, yaitu hafalan lama yang telah dihafal oleh murid
  2. Sabaq, yaitu hafalan baru yang sedang dihafal oleh murid
  3. Sabqi, yaitu hafalan kemarin yang sudah dihafal oleh murid

Penjelasan dari 3 komponen tersebut adalah disetiap harinya dalam menambah hafalan, maka wajib disertakan pula hafalan kita yang kemarin di setiap talah selesai 1 juz maka wajib mengulanginya ketika memasuki juz berikutnya.

Contoh: pagi ini murid sedang menghafal surat Al-Qolam (sabaq), setelah selesai dilanjutkan dengan mengulang surat Al-Mulk yang kemarin sudah dihafalkan oleh murid (sabqi), kemudian murid harus muraja’ah 1 juz kebelakang yatu juz 30 (manjil), atau bisa juga dengan cara murid menyetor hafalan lama (manjil), kemudian menyetor hafalan kemarin (sabqi), setelah itu baru menyetor hafalan baru (sabaq).

2.     Tata Tertib Pengajaran Tahfidz Qur’an

  1. Mengikhlaskan niat hanya untuk mengharap pahala dari Allah Ta’ala.
  2. Kegiatan dilaksanakan di masjid (untuk Ikhwan) dan ruang kelas/mushalla (untuk Akhwat).
  3. Untuk yang di masjid:

-            Murid datang tepat waktu.

-            Berwudhu kemudian berdo’a sebelum masuk masjid dan shalat dua rakaat dengan tertib.

-            Mengambil mushaf Al-Quran dengan menunaikan adab-adabnya.

-            Berkumpul di halaqahnya masing-masing dan duduk dengan rapih.

-            Tidak diperkenankan membawa sesuatu yang tidak ada kaitannya dengan kegiatan pengajaran tahfidz.

-            Selama pembelajaran berlangsung, murid tidak diperkenankan makan dan minum, bercanda atau mengganggu temannya, bermain-main dan ngobrol.

-            Murid harus menghormati dan mematuhi perintah guru pembimbingnya.

-            Murid tidak diperkenankan meninggalkan halaqahnya tanpa  seizin guru pembimbingnya atau yang menggantikannya.

-            Berdo’alah dengan tenang untuk menutup kegiatan.

-            Sesuai kegiatan, murid harus meletakkan mushaf Al-Qur’an pada tempatnya dengan rapi dan jangan sekali-kali meletakannya di sembarang tempat.

3.     Petunjuk Pembimbing

  1. Pembimbing memegang 1 kelompok tahfizh yang terdiri dari 10 siswa
  2. Pembimbing dan siswa hadir tepat waktu pada jam dan tempat yang telah ditentukan
  3. Waktu maksimal tahfidz 90 menit, setiap siswa mendapatkan giliran membaca dan menyetorkan hafalan, kurang lebih 9 menit.
  4. Pembimbing memberikan tanda dengan pensil pada mushaf siswa apabila terjadi kesalahan.
  5. Pembimbing mencatat kegiatan membaca, hafalan dan perilaku siswa pada buku catatan prestasi qiraah tahfidz dan buku penghubung, pembimbing dan orang tua memberikan paraf pada kolom yang telah disediakan.
  6. Pembimbing mengisi rekap hafalan mingguan siswa sesuai kelompoknya masing-masing, dan mengumpulkan kembali map rekap hafalan mingguan setiap hari Rabu ke koordinator tahfidz.

4.    Kriteria penilaian tahsin/tilawan

  1. Baik (B) : Bacaan lancar sesuai tajwid dan makhroj yang benar, tanpa kesalahan atau minimal 1 kali kesalahan.
  2. Cukup (C) : Bacaan kurang lancar dengan tetap memperhatikan kaidah tajwid dan makhroj yang benar, terjadi 1 -2 kali kesalahan.
  3. Ulang (U) : Bacaan belum lancar tanpa memperhatikan kaidah tajwid dan makhroj yang benar, terjadi lebih dari 3 kesalahan.

5.     Kriteria penilaian tahfidz

  1. Baik (B) : Hafalan lancar sesuai tajwid dan makhroj yang benar, tanpa kesalahan atau minimal 1 kali kesalahan.
  2. Cukup (C) : Hafalan kurang lancar dengan tetap memperhatikan kaidah tajwid dan makhroj yang benar, terjadi 1 -2 kali kesalahan.
  3. Ulang (U) : Hafalan belum lancar tanpa memperhatikan kaidah tajwid dan makhroj yang benar, terjadi lebih dari 3 kesalahan.

MI An-Najiyah mempunyai target dalam menghafal Al-Quran adalah 1 Juz per tahun. Maka untuk mencapai target tersebut MI An-Najiah menggunakan metode talaqqi dalam pembelajaran hafalan Al-Qur’an. Sebagaimana yang telah dibahas pada bab sebelumnya bahwa metode talaqqi adalah suatu metode dimana murid langsung membaca Al-Quran berhadapan dengan gurunya sehingga dapat langsung dikoreksi apabila ada bacaan yang salah.

Untuk pembelajaran Al-Quran di MI An-Najiah dilaksanakan empat hari dalam seminggu yaitu hari Senin, Selasa, Kamis dan Jumat masing-masing selama 2 jam pelajaran kali 45 menit yaitu dari jam 07.50 – 09.20 WIB. Selain itu ada kegiatan kelasikal yaitu seluruh murid dengan dibimbing oleh seorang guru bersama-sama menghafal Al-Quran dan mengulang hafalan sebelumnya yang dilaksanakan pada hari Senin jam 15.30 WIB.[13]

Target harian menghafal Al-Quran sebanyak tiga baris, ini berarti dalam satu minggu kurang lebih satu halaman, dan dalam jangka satu bulan murid harus mampu menghafal 2,5 halaman atau lebih, maka tidak menutup kemungkinan dalam satu tahun ada murid yang bisa menghafal Al-Quran lebih dari satu juz.[14]

Dari hasil wawancara dengan salah satu murid MI An-Najiyah kelas VI yang  bernama Ghazi Fahri, dia sudah hafal Al-Quran sebanyak 4 juz dalam jangka waktu lima setengah tahun, yaitu dari sejak kelas 1 MI sampai pertengahan kelas VI MI, menurut dia ada juga temannya yang sudah menghafal 8 juz.

Dalam kegiatan bimbingan Al-Quran di MI (SD Islam) Plus An-Najiyah dari kelas III – VI dibagi kedalam beberapa halaqah, yaitu 8 halaqah putra yang bertempat di masjid dan 9 halaqah putri yang bertempat di ruang kelas, setiap kelompok halaqah terdiri dari maksimal 10 orang murid dengan 1 orang guru pembimbing.

C.     Kompetensi Guru Pembimbing

Berikut bio data pendamping Al-Quran di MI (SD Islam) Plus An-Najiyah Bandung:

Nama                           : Agung Hidayatullah

TTL                             : Semarang, 7 September 1982

Alamat                        : Blok M3 No 110 Komp. Cempaka Arum,

Gedebage Bandung

Jabatan                        : Guru Pembelajaran Al-Quran

Pendidikan Formal      : S1 UNISBA Tahun 2004

Pendidikan Khusus     : Al Imarat selama 2 tahun 2004-2005

IUA (International University Africa) Sudan selama 1 tahun

No. HP                        : 081802132539

Untuk peningkatan kompetensi pengajar Al-Quran di MI (SD Islam) Plus An-Najiyah diadakan pelatihan setiap hari Sabtu jam 15.30 – 17.00 Wib, dengan instruktur dari TARQI materinya bimbingan pembelajaran Al-quran metode Imam Syafi’i.

DAFTAR PUSTAKA

 

http://www.anneahira.com, diakses pada hari Jumat  tanggal 15 November 2013,          jam 09.00

http://shibghatulla.blogspot.com, diakses pada hari Jumat  tanggal 15 November 2013, jam 09.00

http://akademiilmuanzaman.wordpress.com, diakses pada hari Jumat tanggal 15 November 2013, jam 09.00

http://jundumuhammad.wordpress.com, diakses pada hari Jumat tanggal 15 November 2013, jam 09.00

Kementerian Agama RI. 2010. Al-Quran dan Terjemahnya. Jakarta : PT. Tehazed

Muhammad Faiz Almath. 1100 Hadits Terpilih (Sinar Ajaran Muhammad) – Gema Insani Press


[1] 1100 Hadits Terpilih (Sinar Ajaran Muhammad) – Dr. Muhammad Faiz Almath – Gema Insani Press

[2] Ibid.

[3] Ibid

[4] Ibid.

[5] Ibid.

[6] Ibid.

[10] Ibid.

[12] Ibid.

[13] Hasil wawancara dengan Ust. Agung, salah satu penanggung jawab dan pengajar Al-Quran di MI An-Najiyah pada hari Jumat, 15 November 2013 jam 09.00 WIB

[14] Ibid.

Asal-Usul Lambang Burung Garuda

Apa lambang Negara Republik Indonesia? Ya Burung Garuda. Mengapa Negara kita menggunakan lambang Negara seperti itu? Sejak kapan menggunakan lambang Negara tersebut? Apa saja arti dari Lambang Negara RI itu?

Burung garuda berdekatan dengan burung elang Rajawali. Burung ini terdapat dalam lukisan di candi-candi Dieng yang dilukiskan sebagai manusia berparuh dan bersayap, lalu di candi Prambanan, dan Panataran berbentuk menyerupai raksasa, berparuh, bercakar dan berambut panjang.

Beberapa kerajaan di pulau jawa menggunakan Garuda sebagai materai/stempel kerajaan, seperti yang disimpan di Musium Nasional, adalah stempel milik kerajaan Erlangga.

Burung Garuda ditetapkan sebagai lambang Negara RI sejak diresmikan penggunaannya pada 11 Februari 1950, dan dituangkan dalam Peraturan Pemerintah no 66 tahun 1951. Penggagasnya adalah Sultan Abdurrahman Hamid Alkadrie II atau dikenal dengan Sultan Hamid II, yang saat itu sebagai Mentri Negara Republik Indonesia Serikat (RIS).

Pencipta Lambang Negara Burung Garuda Pancasila

Garuda itu adalah seekor burung yang hidup dalam dunia khayalan, terutama dalam pewayangan. Garuda dianggap mulia karena memiliki kekuatan dan kecantikan parasnya. Sehingga banyak yang menggunakannya dalam berbagai kegiatan yang dianggapnya menunjukkan sebuah power dan tentunya kebebasan karena garuda bebas bisa terbang ke mana saja.

Cerita garuda bisa jadi lambang negara adalah benar kalau itu ada pengaruh sultan hamid II yang cenderung, dulunya memihak belanda (ingat dia ketua BFO – Perserikatan negara2 non-RI setelah agresi militer belanda 1). Namun setelah dia diangkat menjadi salah satu pejabat negara, sebagai wakil yang memiliki pengaruh di Indonesia bagian Timur, beliau ikut sebuah sayembara yang dikeluarkan Presiden Soekarno untuk menemukan sosok lambang negara RI yang selama 5 tahun tanpa lambang.

Ketika menjelang HUT RI ke 60, di SCTV ada cerita seorang yang meneliti tentang asal-usul lambang negara kita. Penelitian ini adalah thesis S2 di UGM. Dari sekian gambar yang masuk, dipilihlah burung garuda ini (peserta harus menyematkan 5 pilar/sila yang dikenal sebagai Pancasila). Dari gambar burung purba sampai garuda diperlihatkan dalam siaran tersebut. Karena memang mencari jawaban tanya selama ini, siapa yang menggagas lambang RI?, banyak yang bilang Moh. Yamin, namun ternyata usulan Moh. Yamin, ditolak Presiden Soekarno. Penasaran ini terjawab sudah, karena di buku jarang banget yang dibahas, sama sebelum tahun 2000-an, bila mencari siapa yang menggagas nama Indonesia.

Sultan Hamid II

Sepanjang orang Indonesia, siapa tak kenal burung garuda berkalung perisai yang merangkum lima sila Pancasila? Tapi orang Indonesia mana sajakah yang tahu, siapa pembuat lambang negara itu dulu?

Dia adalah Sultan Hamid II, yang terlahir dengan nama Syarif Abdul Hamid Alkadrie, putra sulung sultan Pontianak, Sultan Syarif Muhammad Alkadrie Lahir di Pontianak tanggal 12 Juli 1913. Dalam tubuhnya mengalir darah Indonesia-Arab walau pernah diurus ibu asuh berkebangsaan Inggris. Istri beliau seorang perempuan Belanda yang kemudian melahirkan dua anak,kedua anaknya sekarang di Negeri Belanda.

Syarif menempuh pendidikan ELS di Sukabumi, Pontianak, Yogyakarta, dan Bandung. HBS di Bandung satu tahun, THS Bandung tidak tamat, kemudian KMA di Breda, Negeri Belanda hingga tamat dan meraih pangkat letnan pada kesatuan tentara Hindia Belanda.

Ketika Jepang mengalahkan Belanda dan sekutunya, pada 10 Maret 1942, ia tertawan dan dibebaskan ketika Jepang menyerah kepada Sekutu dan mendapat kenaikan pangkat menjadi kolonel. Ketika ayahnya mangkat akibat agresi Jepang, pada 29 Oktober 1945 dia diangkat menjadi sultan Pontianak menggantikan ayahnya dengan gelar Sultan Hamid II.

Dalam perjuangan federalisme, Sultan Hamid II memperoleh jabatan penting sebagai wakil daerah istimewa Kalbar dan selalu turut dalam perundingan-perundingan Malino, Denpasar, BFO, BFC, IJC dan KMB di Indonesia dan Belanda.

Sultan Hamid II kemudian memperoleh jabatan Ajudant in Buitenfgewone Dienst bij HN Koningin der Nederlanden, yakni sebuah pangkat tertinggi sebagai asisten ratu Kerajaan Belanda dan orang Indonesia pertama yang memperoleh pangkat tertinggi dalam kemiliteran.

Pada 21-22 Desember 1949, beberapa hari setelah diangkat menjadi Menteri Negara Zonder Porto Folio, Westerling yang telah melakukan makar di Tanah Air menawarkan “over commando” kepadanya, namun dia menolak tegas. Karena tahu Westerling adalah gembong APRA.

Selanjutnya dia berangkat ke Negeri Belanda, dan pada 2 Januari 1950, sepulangnya dari Negeri Kincir itu dia merasa kecewa atas pengiriman pasukan TNI ke Kalbar karena tidak mengikutsertakan anak buahnya dari KNIL.

Pada saat yang hampir bersamaan, terjadi peristiwa yang menggegerkan, Westerling menyerbu Bandung pada 23 Januari 1950. Sultan Hamid II tidak setuju dengan tindakan anak buahnya itu, Westerling sempat marah.

Sewaktu Republik Indonesia Serikat dibentuk, dia diangkat menjadi Menteri Negara Zonder Porto Folio dan selama jabatan menteri negara itu ditugaskan Presiden Soekarno merencanakan, merancang dan merumuskan gambar lambang negara.

Dari transkrip rekaman dialog Sultan Hamid II dengan Masagung (1974) sewaktu penyerahan file dokumen proses perancangan lambang negara, disebutkan “ide perisai Pancasila” muncul saat Sultan Hamid II sedang merancang lambang negara. Dia teringat ucapan Presiden Soekarno, bahwa hendaknya lambang negara mencerminkan pandangan hidup bangsa, dasar negara Indonesia, di mana sila-sila dari dasar negara, yaitu Pancasila divisualisasikan dalam lambang negara.

Tanggal 10 Januari 1950 dibentuk Panitia Teknis dengan nama Panitia Lencana Negara di bawah koordinator Menteri Negara Zonder Porto Folio Sultan Hamid II dengan susunan panitia teknis M Yamin sebagai ketua, Ki Hajar Dewantoro, MA Pellaupessy, Moh Natsir, dan RM Ng Purbatjaraka sebagai anggota. Panitia ini bertugas menyeleksi usulan rancangan lambang negara untuk dipilih dan diajukan kepada pemerintah.

Merujuk keterangan Bung Hatta dalam buku “Bung Hatta Menjawab” untuk melaksanakan Keputusan Sidang Kabinet tersebut Menteri Priyono melaksanakan sayembara. Terpilih dua rancangan lambang negara terbaik, yaitu karya Sultan Hamid II dan karya M Yamin. Pada proses selanjutnya yang diterima pemerintah dan DPR adalah rancangan Sultan Hamid II. Karya M Yamin ditolak karena menyertakan sinar-sinar matahari dan menampakkan pengaruh Jepang.

Setelah rancangan terpilih, dialog intensif antara perancang (Sultan Hamid II), Presiden RIS Soekarno dan Perdana Menteri Mohammad Hatta, terus dilakukan untuk keperluan penyempurnaan rancangan itu. Terjadi kesepakatan mereka bertiga, mengganti pita yang dicengkeram Garuda, yang semula adalah pita merah putih menjadi pita putih dengan menambahkan semboyan “Bhineka Tunggal Ika”.

Tanggal 8 Februari 1950, rancangan final lambang negara yang dibuat Menteri Negara RIS, Sultan Hamid II diajukan kepada Presiden Soekarno. Rancangan final lambang negara tersebut mendapat masukan dari Partai Masyumi untuk dipertimbangkan, karena adanya keberatan terhadap gambar burung garuda dengan tangan dan bahu manusia yang memegang perisai dan dianggap bersifat mitologis.

Sultan Hamid II kembali mengajukan rancangan gambar lambang negara yang telah disempurnakan berdasarkan aspirasi yang berkembang, sehingga tercipta bentuk Rajawali Garuda Pancasila. Disingkat Garuda Pancasila. Presiden Soekarno kemudian menyerahkan rancangan tersebut kepada Kabinet RIS melalui Moh Hatta sebagai perdana menteri.

AG Pringgodigdo dalam bukunya “Sekitar Pancasila” terbitan Dep Hankam, Pusat Sejarah ABRI menyebutkan, rancangan lambang negara karya Sultan Hamid II akhirnya diresmikan pemakaiannya dalam Sidang Kabinet RIS. Ketika itu gambar bentuk kepala Rajawali Garuda Pancasila masih “Gundul” dan “tidak berjambul” seperti bentuk sekarang ini.

Inilah karya kebangsaan anak-anak negeri yang diramu dari berbagai aspirasi dan kemudian dirancang oleh seorang anak bangsa, Sultan Hamid II Menteri Negara RIS. Presiden Soekarno kemudian memperkenalkan untuk pertama kalinya lambang negara itu kepada khalayak umum di Hotel Des Indes Jakarta pada 15 Februari 1950.

Penyempurnaan kembali lambang negara itu terus diupayakan. Kepala burung Rajawali Garuda Pancasila yang “Gundul” menjadi “berjambul” dilakukan. Bentuk cakar kaki yang mencengkram pita dari semula menghadap ke belakang menjadi menghadap ke depan juga diperbaiki, atas masukan Presiden Soekarno.

Tanggal 20 Maret 1940, bentuk final gambar lambang negara yang telah diperbaiki mendapat disposisi Presiden Soekarno, yang kemudian memerintahkan pelukis istana, Dullah, untuk melukis kembali rancangan tersebut sesuai bentuk final rancangan Menteri Negara RIS Sultan Hamid II yang dipergunakan secara resmi sampai saat ini.

Untuk terakhir kalinya, Sultan Hamid II menyelesaikan penyempurnaan bentuk final gambar lambang negara, yaitu dengan menambah skala ukuran dan tata warna gambar lambang negara di mana lukisan otentiknya diserahkan kepada H Masagung, Yayasan Idayu Jakarta pada 18 Juli 1974. Sedangkan Lambang Negara yang ada disposisi Presiden Soekarno dan foto gambar lambang negara yang diserahkan ke Presiden Soekarno pada awal Februari 1950 masih tetap disimpan oleh Kraton Kadriyah Pontianak.

Sultan Hamid II wafat pada 30 Maret 1978 di Jakarta dan dimakamkan di pemakaman Keluarga Kesultanan Pontianak di Batulayang.

sumber